You are on page 1of 13

Menganalisa jurnal

DISUSUN OLEH :
IRA DWI PRATIWI (P1337420715015)
FAKTOR RISIKO ASMA DAN PERILAKU PENCEGAHAN BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT
KONTROL PENYAKIT ASMA (Faktor Risiko Asma dan Perilaku Pencegahan Berkaitan dengan Tingkat Asma
Kontrol)
Nursalam *, Laily Hidayati *, Ni Putu Wulan Purnama Sari *
ABSTRAK
Pendahuluan: Gejala asma umumnya persisten pada setiap penderita asma klien, tetapi mereka bisa dikontrol. Kontrol
ini secara langsung mengacu pada tingkat kontrol asma. Ini bisa dipengaruhi oleh faktor-faktor risiko asma dan
perilaku pencegahan untuk eksposur, tetapi korelasi di antara mereka masih belum jelas karena perkembangan asma
belum sepenuhnya dipahami dan sangat kompleks. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan korelasi antara
faktor-faktor risiko asma dan perilaku pencegahan untuk eksposur ke tingkat asma kontrol. Metode: Penelitian ini
menggunakan desain cross-sectional dan melibatkan 41 responden yang diambil secara simple random sampling. Data
dikumpulkan menggunakan kuesioner dan kemudian dianalisis dengan menggunakan Spearman Rho korelasi dengan
tingkat signifikansi ≤0.05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor risiko asma memiliki hubungan dengan
tingkat kontrol asma (p = 0,032), tetapi perilaku preventif terhadap pajanan tidak memiliki korelasi dengan tingkat
kontrol asma (p = 0,095). Analisis: Dapat disimpulkan bahwa tingkat asma kontrol memiliki korelasi dengan faktor
risiko asma. Perilaku preventif tidak memiliki korelasi dengan tingkat kontrol asma dapat disebabkan oleh perbedaan
antara perilaku pencegahan responden dan yang direkomendasikan. Diskusi: Ini mengindikasikan kemungkinan
kesalahan atau ketidaksesuaian dalam perilaku pencegahan terhadap eksposur faktor risiko asma. Namun, perilaku
pencegahan untuk eksposur faktor risiko asma masih diperlukan untuk mengurangi gejala asma.
Kata kunci: faktor risiko asma, perilaku preventif, tingkat asma kontrol.
Artikel penelitian

1. Judul : Faktor risiko asma dan perilaku pencegahan berhubungan dengan tingkat
kontrol penyakit asma (faktor risiko asma dan perilaku pencegahan berkaitan
dengan tingkat asma kontrol)
2. Kata kunci : faktor risiko asma, perilaku preventif, tingkat asma kontrol.
3. Penulis penelitian : Nursalam *, Laily Hidayati *, Ni Putu Wulan Purnama Sari *
4. Tujuan penelitian : untuk menjelaskan korelasi antara faktor-faktor risiko asma
dan perilaku pencegahan untuk eksposur ke tingkat asma kontrol .
5. Desain penelitian : Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dan
melibatkan 41 responden yang diambil secara simple random sampling. Data
dikumpulkan menggunakan kuesioner dan kemudian dianalisis dengan
menggunakan Spearman Rho korelasi dengan tingkat signifikansi ≤0.05.
 Hasil :
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor risiko asma memiliki hubungan dengan
tingkat kontrol asma (p = 0,032), tetapi perilaku preventif terhadap pajanan tidak memiliki
korelasi dengan tingkat kontrol asma (p = 0,095).

Analisis data :
 Dapat disimpulkan bahwa tingkat asma kontrol memiliki korelasi dengan faktor risiko
asma. Perilaku preventif tidak memiliki korelasi dengan tingkat kontrol asma dapat
disebabkan oleh perbedaan antara perilaku pencegahan responden dan yang
direkomendasikan. Ini mengindikasikan kemungkinan kesalahan atau ketidaksesuaian
dalam perilaku pencegahan terhadap eksposur faktor risiko asma. Namun, perilaku
pencegahan untuk eksposur faktor risiko asma masih diperlukan untuk mengurangi gejala
asma.
GASTER, Vol. 8, No. 2 Austus 2011 (783 - 792)
KEEFEKTIFAN PEMBERIAN POSISI SEMI FOWLER TERHADAP PENURUNAN
SESAK NAFAS PADA PASIEN ASMA
DI RUANG RAWAT INAP KELAS III RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA
Refi Safitri, Annisa Andriyani
Prodi S1 Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Aisyiyah Surakarta
Abstrak; Berdasarkan survei Kesehatan Nasional (Surkesnas) tahun 2001 diketahui bahwa penyakit saluran nafas
merupakan penyakit penyebab kematian terbanyak kedua di Indonesia setelah penyakit gangguan pembuluh darah.
Sebanyak antara 1,5 juta sampai 3 juta orang di Indonesia mengidap penyakit asma, dan kurang lebih sepertiga dari kasus
asma diantaranya adalah usia dewasa. Asma merupakan suatu penyakit obstruksi saluran nafas yang memberikan gejala–
gejala batuk, mengi, dan sesak nafas. Masalah utama pada pasien asma yang sering dikeluhkan adalah sesak napas.
Untuk mengurangi sesak nafas yaitu antara lain dengan pengaturan posisi saat istirahat. Posisi yang paling efektif bagi
pasien dengan penyakit kardiopulmonari adalah posisi semi fowler dengan derajat kemiringan 45°, yaitu dengan
menggunakan gaya gravitasi untuk membantu pengembangan paru dan mengurangi tekanan dari abdomen pada
diafragma. Tujuan; Mengetahui keefektifan pemberian posisi semi fowler pada pasien asma guna mengurangi sesak
nafas. Metode; Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah Quasi Eksperiment dengan rancangan One
Group Pre test-Post tets. Hasil; Terbukti ada perbedaan sesak nafas antara sebelum dan sesudah pemberian posisi semi
fowler, dapat penelitian diperoleh hasil T-test sebesar -15,327 dengan p = 0,006. Kesimpulan; Pemberian posisi semi
fowler dapat efektif mengurangi sesak nafas pada pasien asma.
Kata Kunci : Posisi semi fowler, Sesak nafas, Asma.
Jurnal EBN

1. Judul : keefektifan pemberian posisi semi fowler terhadap penurunan sesak nafas pada pasien asma
di ruang rawat inap kelas iii rsud dr. Moewardi surakarta
2. Kata kunci : posisi semi fowler, sesak nafas, asma
3. Penulis penelitian : refi safitri, annisa andriyani
4. Tujuan : mengetahui keefektifan pemberian posisi semi fowler pada pasien asma guna mengurangi
sesak nafas.
5. Desain : desain penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah quasi eksperiment dengan
rancangan one group pre test-post tets
6. Sample : sampel dalam penelitian ini diambil dari pasien asma yang dirawat inap kelas iii rsud dr.
Moewardi surakarta. Total sampelnya adalah 33 orang dari 220 orang populasi, tehnik pengambilan
sampel dengan menggunakan simple random sampling.
Hasil :
Terbukti ada perbedaan sesak nafas antara sebelum dan sesudah pemberian posisi
semi fowler, dapat penelitian diperoleh hasil T-test sebesar -15,327 dengan p =
0,006. hasil penelitian dapat memberikan gambaran tentang efektifitas
penggunaan posisi semi fowler pada pasien asma untuk mengurangi sesak nafas dan
dapat melakukan penelitian lebih lanjut mengenai factor factor yang lain untuk
mengurangi sesak nafas.
Kesimpulan :
Pemberian posisi semi fowler pada pasien asma dapat efektif mengurangi sesak
nafas. Hal ini dapat diketahui melalui sebelum dan sesudah pemberian semi fowler
ada peningkatan pasien sesak nafas berat ke sesak nafas ringan. Pernapasan pada
pasien asma yang mengalami sesak napas sebelum diberikan posisi semi fowler,
termasuk sesak nafas berat karena posisi tidur telentang. Pernapasan pada pasien
asma yang mengalami sesak napas sesudah diberikan posisi semi fowler, termasuk
sesak nafas ringan karena posisi tidur dengan derajat kemiringan 45°.
MEDITATION FOR ASTHMA: SYSTEMATIC REVIEW AND META-ANALYSIS Priyamvada Paudyal1, Christina Jones2, Caroline Grindey1,
Rusha Dawood1, Helen Smith3
1Department of Primary Care and Public Health, Brighton and Sussex Medical School, Brighton, United Kingdom
2Department of Clinical Medicine, Brighton and Sussex Medical School, Brighton, United Kingdom
3Family Medicine and Primary Care, Lee Kong Chian School of Medicine, Singapore Correspondence: Dr Priyamvada Paudyal, Division of Primary
Care and Public Health, Brighton and Sussex Medical School, Mayfield House, BN1 9PH, Tel: +44 (0)1273 644548, Fax: +44 (0)1273 644440, Email:
p.paudyal@bsms.ac.uk
ABSTRACT
Objective: To conduct a comprehensive review and meta-analysis of the effectiveness of meditation on a variety of asthma outcomes.
Methods: We searched MEDLINE, EMBASE, CINAHL, PsycINFO and AMED in June 2016 to identify randomised controlled trials (RCTs)
investigating the effectiveness of meditation in adults with asthma. No restriction was put on language or year of publication. Study quality was
assessed using The Cochrane Risk of Bias Assessment Tool. Meta-analysis was carried out using RevMan 5.3.
Results: Four RCTS involving 201 patients met the inclusion criteria. Quality of studies was inconsistent with only one study reporting adequate
allocation concealment. Disease-specific quality of life was assessed in two trials; a pooled result involving 62 intervention and 65 control participants
indicated a significant improvement in quality of life in the meditation group compared to the control group (SMD 0.40, 95% CI 0.05 to 0.76). A
pooled result from all four studies indicated the uncertain effect of meditation in forced expiratory volume in one second (FEV1) (SMD -0.67, 95% CI -
2.17 to 0.82). Results from the individual trials suggest that meditation may be helpful in reducing perceived stress and the use of short-term rescue
medication.
Conclusion: Our review suggests that there is some evidence that meditation is beneficial in improving quality of life in asthma patients. As two out of
four studies in our review were of poor quality, further trials with better methodological quality are needed to support or refute this finding.
Key words
meditation, mindfulness, asthma, randomised controlled trials, quality of life, lung function
Sistematik Review

1. Judul : Meditasi untuk asma : tinjauan sistematik dan meta-analisis


2. Kata kunci : meditasi, kesadaran, asma, percobaan terkontrol acak, kualitas hidup, fungsi
paru-paru
3. Penulis penelitian : Priyamvada Paudyal, Christina Jones, Caroline Grindey, Rusha
Dawood & Helen Smith
4. Tujuan : Untuk melakukan kajian komprehensif dan meta-analisis efektivitas meditasi
pada berbagai hasil asma
5. Desain : Kami mencari MEDLINE, EMBASE, CINAHL, PsycINFO dan Amed pada Juni
2016 untuk mengidentifikasi percobaan terkontrol acak (RCT) menyelidiki efektivitas
meditasi pada orang dewasa dengan asma. Tidak ada pembatasan mengenakan bahasa
atau tahun publikasi. Kualitas penelitian dinilai menggunakan The Cochrane Risiko Bias
Assessment Tool.
Hasil:
Empat RCT yang melibatkan 201 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Kualitas
studi tidak konsisten dengan hanya satu studi melaporkan penyembunyian alokasi
yang memadai. Kualitas penyakit-spesifik hidup dinilai dalam dua percobaan; hasil
dikumpulkan melibatkan 62 intervensi dan 65 peserta kontrol menunjukkan
peningkatan yang signifikan dalam kualitas hidup dalam kelompok meditasi
dibandingkan dengan kelompok kontrol (SMD 0,40, 95% CI 0,05-0,76). Hasil
dikumpulkan dari semua empat studi menunjukkan efek tidak pasti meditasi volume
ekspirasi paksa dalam 1 s (FEV 1 ) (SMD -0,67, 95% CI -2,17 menjadi 0,82). Hasil
dari uji coba individu menunjukkan bahwa meditasi dapat membantu dalam
mengurangi stres yang dirasakan dan penggunaan obat penyelamatan jangka
pendek.
Kesimpulan:
Review kami menunjukkan bahwa ada beberapa bukti bahwa meditasi adalah
bermanfaat dalam meningkatkan kualitas hidup pada pasien asma. Sebagai dua dari
empat studi di review kami yang berkualitas buruk, percobaan lebih lanjut dengan
kualitas metodologi yang lebih baik diperlukan untuk mendukung atau menyangkal
temuan ini
TERIMA KASIH