You are on page 1of 37

LAPORAN KASUS

OTITIS MEDIA AKUT
AURIS SINISTRA
Pembimbing :
dr.H.Djoko Prasetyo Adi N., Sp.THT
STATUS PASIEN
• Nama : Tn. S
• Umur : 31 tahun
• Jenis Kelamin : Laki-laki
• Alamat : Pedurungan Semarang
• Pekerjaan : Buruh
• Agama : Islam
• No. CM : 728xxx
Pemeriksaan subjektif

• Autoanamnesis :
Sabtu , 4 Juni 2016 pukul 11.00 WIB di Poli THT RSUD Kota
Semarang
• Keluhan utama :
Keluar cairan pada telinga kiri
Riwayat penyakit sekarang

Pasien datang dengan keluhan keluar cairan pada telinga
sebelah kiri sejak 2 minggu yang lalu. Cairan yang keluar
berupa nanah dan berbau. Pasien mengaku pendengaran pada
telinga sebelah kirinya berkurang dan mengeluh telinganya
berdengung. Selama ini pasien belum pernah berobat. Keluhan
pilek dirasakan satu minggu yang lalu sebelum keluar cairan di
telinga
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Keluhan gatal dan nyeri pada
telinga
riwayat pusing berputar, mual,
dan muntah. Disangkal
Keluhan telinga kanan
Keluhan nyeri di pipi dan dahi
keluhan bersin berulang
Keluhan sakit tenggorokan
Nyeri untuk menelan
suara sengau
benjolan di leher
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

Riwayat penyakit yang sama sebelumnya disangkal
Riwayat ISPA diakui
Riwayat alergi makanan dan obat-obatan disangkal
Riwayat asma disangkal
Riwayat DM disangkal
Riwayat hipertensi disangkal
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA

Riwayat keluarga memiliki keluhan yang serupa disangkal
Riwayat alergi disangkal
Riwayat diabetes melitus disangkal
Riwayat asma disangkal
Riwayat hipertensi disangkal
Riwayat sosial ekonomi

• Pasien bekerja sebagai buruh
• Pasien menggunakan BPJS kesehatan
PEMERIKSAAN OBJEKTIF

Status Present
Vital sign :
Keadaan umum : Baik Nadi : 82 x/ menit
Kesadaran : Compos mentis TD : 120/70 mmHg
Status gizi : Cukup RR : 20 x/ menit
Suhu : 37,6°C
PEMERIKSAAN OBJEKTIF

Kepala : Normocephal
Wajah : Simetris
Leher anterior : tidak ada pembesaran KGB
Leher posterior: tidak ada pembesaran KGB
STATUS LOKALIS
Dekstra Sinistra
Mastoid Oedem (-), Oedem (-),
Nyeri Tekan (-) Nyeri Tekan (-)
Dekstra Sinistra
CAE lapang, Hiperemis (-) lapang, Hiperemis (-)
Serumen (-) Serumen (-)
Sekret (-) Sekret mukopurulen
(+)
Furunkel (-) Furunkel (-)
Jaringan Granulasi (-) Jaringan Granulasi (-)
Benda Asing (-) Benda Asing (-)
Massa Tumor (-) Massa Tumor (-)
STATUS LOKALIS

Membran Tympani Dekstra Sinistra
Bentuk Intak Perforasi (+) sentral
tepi menebal, diameter
1 mm
Warna Putih seperti mutiara Hiperemis
Cone of Light (+) ke arah Jam 5 Negatif (-)
STATUS LOKALIS

Luar Dekstra Sinistra
Bentuk Normal, deformitas (-) Normal, deformitas (-)
Depresi Tulang Hidung Negatif (-) Negatif (-)
Udara pernapasan Ada, tidak simetris Ada, tidak simetris
Inflamasi/Tumor Negatif (-)/ Negatif (-) Negatif (-)/ Negatif (-)
Sinus Paranasal Dekstra Sinistra
Pipi Nyeri tekan (-), Nyeri tekan (-),
Nyeri ketuk (-) Nyeri ketuk (-)
Pangkal Hidung Nyeri tekan (-), Nyeri tekan (-),
Nyeri ketuk (-) Nyeri ketuk (-)
Dahi Nyeri tekan (-), Nyeri tekan (-),
Nyeri ketuk (-) Nyeri ketuk (-)
Dextra Sinistra
Bentuk Normal Normal
PEMERIKSAAN
Sekret (+) seromukus (+) seromukus
HIDUNG
konka
Konka nasi Merah muda Merah muda
media Edema (+) Edema (+)
Konka nasi Merah muda Merah muda
inferior Edema (+) Edema (+)
Meatus

Meatus nasi Mukosa merah muda Mukosa merah muda
media
Meatus nasi Mukosa merah muda Mukosa merah muda
inferior
Septum Deviasi (-) Deviasi (-)
Massa (-) (-)
STATUS LOKALIS
Mukosa buccal : merah muda
Ginggiva : merah muda
Gigi geligi : normal, karies (-), gangren (-)
Uvula : odem (-) hiperemis (-) berada di
tengah (+)
Arcus faring : simetris
Palatum durum dan palatum molle : merah muda
Lidah 2/3 anterior : ulkus (-), stomatitis (-)
TONSIL
Dekstra Sinistra
Ukuran T1 T1
Permukaan Tidak rata Tidak rata
Warna Merah muda Merah muda
Kripte melebar melebar
Detritus (-) (-)
Peritonsil Abses (-) Abses (-)
PEMERIKSAAN PENUNJANG

• Kultur sensitivitas
• Darah rutin
RESUME
Keluhan Otorhea
utama auris sinistra

• Otorrhea
auris sinistra
Riwayat • Pendengaran
Penyakit berkurang
• Otalgia
sekarang
• Tinitus
RESUME
• Riwayat Penyakit
Sama Sebelumnya
Riwayat • Riwayat Asma
Penyakit • Riwayat Alergi Disangkal
Dahulu • Riwayat DM
• Riwayat HT

Riwayat ispa
diakui
RESUME
Status generalis : dalam batas normal
Kepala dan leher : dalam batas
normal
Pemeriksaan Hidung dan sinus paranasal : dalam
batas normal
Objektif Tenggorok : dalam batas normal

Telinga :
AD : dalam batas normal
AS : sekret mukopurulen (+) di CAE
Membran timpani perforasi (+)
sentral tepi menebal diameter 1 mm
DIAGNOSIS BANDING

1. Otitis Media Akut
2. Otitis Media Supuratif Kronik
• DIAGNOSIS PASTI • PROGNOSIS

Otitis Media Akut Auris Dubia ad bonam
Sinistra
PENATALAKSANAAN

• Ear telinga
• Medikamentosa
1. Antibiotik adekuat : oral, topikal
2. Antiinflamasi
• Operatif
1. Timpanoplasti
2. Miringotomi
KOMPLIKASI
Auris sinistra
• Infeksi pada tulang di sekitar telinga tengah (mastoiditis atau petr
ositis)
• Labirintitis (infeksi pada kanalis semisirkuler)
• Peradangan pada selaput otak (meningitis)
• Abses Otak
TINJAUAN PUSTAKA

• Otitis Media adalah peradangan pada sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba
Eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid. Otitis media akut (OMA) adalah
peradangan telinga tengah dengan gejala dan tanda-tanda yang bersifat cepat dan singkat.
Gejala dan tanda klinik lokal atau sistemik dapat terjadi secara lengkap atau sebagian, baik
berupa otalgia, demam, gelisah, mual, muntah, diare, serta otore, apabila telah terjadi
perforasi membran timpani.
KLASIFIKASI
ETIOLOGI

• BAKTERI : Tiga jenis bakteri penyebab otitis media tersering adalah Streptococcus
pneumoniae (40%), diikuti oleh Haemophilus influenzae (25-30%) dan Moraxella catarhalis
(10-15%).Kira-kira 5% kasus dijumpai patogen-patogen yang lain seperti Streptococcus
pyogenes (group A beta-hemolytic), Staphylococcus aureus,dan organisme gram negatif.
(sering pada anak ).
• VIRUS :Virus yang paling sering dijumpai pada anak-anak, yaitu respiratory syncytial virus
(RSV), influenza virus, atau adenovirus (sebanyak 30-40%). Kira-kira 10-15% dijumpai
parainfluenza virus, rhinovirus atau enterovirus.
GEJALA KLINIK

• Bergantung Pada Stadium Penyakit serta umur Pasien
• Pada anak : Nyeri di dalam telinga,suhu tubuh yang
tinggi.biasanya ada riwayat batuk dan pilek
• Pada Dewasa : Nyeri , gangguan pendengaran berupa rasa
penuh di telinga.
STADIUM OMA

• 1.Stadium Oklusi Tuba Eustachius
• 2.Stadium Hiperemis atau Stadium Pre-supurasi
• 3.Stadium Supurasi
• 4.Stadium Perforasi
• 5. Stadium Resolusi
PENGOBATAN

• Stadium Oklusi : Tujuan untuk memuka kembali Tuba eustachius, sehingga tekanan negatif
di telinga hilang . Diberi obat tetes hidun HCL efedrin 0,5% dalam larutan fisiologis untuk
anak , dewasa ) 0,1%
• Stadium presupurasi : Antibiotik minimal 7 hari
• Stadium supurasi : Antibiotik
• Stadium Perforasi : H2O2 3% elama 3-5hri
• Stadium Resoluis : antibiotik
DIAGNOSIS

• kriteria diagnosis OMA harus memenuhi tiga hal berikut, yaitu:
• Penyakitnya muncul secara mendadak dan bersifat akut.
• Ditemukan adanya tanda efusi. Efusi merupakan pengumpulan cairan di telinga tengah. Efusi dibuktika
n dengan adanya salah satu di antara tanda berikut, seperti menggembungnya membran timpani atau
bulging, terbatas atau tidak ada gerakan pada membran timpani, terdapat bayangan cairan di belakang
membran timpani, dan terdapat cairan yang keluar dari telinga.
• Terdapat tanda atau gejala peradangan telinga tengah, yang dibuktikan dengan adanya salah satu di ant
ara tanda berikut, seperti kemerahan atau erythema pada membran timpani, nyeri telinga atau Otalgi
a yang mengganggu tidur dan aktivitas normal.
KOMPLIKASI

• Komplikasi
• Sebelum adanya antibiotik, OMA dapat menimbulkan komplikasi, mulai dari abses subperi
osteal sampai abses otak dan meningitis. Sekarang semua jenis komplikasi tersebut biasany
a didapat pada otitis media supuratif kronik. Mengikut Shambough (2003) dalam Djaafar (
2005), komplikasi OMA terbagi kepada komplikasi intratemporal (perforasi membran tim
pani, mastoiditis akut , paresis nervus fasialis, labirinitis,petrositis), ekstratemporal (abses s
ubperiosteal), dan intracranial (abses otak, trombo flebitis).
PENCEGAHAN

• Pencegahan
• Terdapat beberapa hal yang dapat mencegah terjadinya OMA. Mencegah ISPA pada bayi da
n anak-anak, menangani ISPA dengan pengobatan adekuat, menganjurkan pemberian ASI m
inimal enam bulan, menghindarkan pajanan terhadap lingkungan merokok, dan lain-lain (Ke
rschner, 2007).