You are on page 1of 32

P-TREATMENT

EPILEPSI

Oleh:
Della Oktavia S 1810029005
Riski Ayu Rimadani 1810029013
Herawati Salsabila 1810029022
Mutiara Dini Athirah 1810029029

Pembimbing:
dr. Ika Fikriah, M.Kes
Pengertian Epilepsi

Ekspresi dari disfungsi otak dan ditegakkannya diagnosis ini
mengharuskan dicarinya penyebab, walaupun dua pertiga kasus
idiopatik, jadi penyebabnya tak dapat ditentukan.
Bangkitan epilepsi merupakan fenomena klinis yang berkaitan
dengan letupan listrik atau depolarisasi abnormal dan eksesif, terjadi di
suatu dalam otak yang menyebabkan bangkitan paroksismal.
Etiologi

• Primer Idiopatik; • Sekunder
• Faktor herediter;
• Faktor genetik;
• Kelainan congenital otak:
• Gangguan metabolik;
• Infeksi;
• Trauma;
• Neoplasma otak dan selaputnya
Klasifikasi kejang epilepsy
Menurut Commission of Classification and Terminology of the
International League Against Epilepsy (ILAE)

Epilepsi umum:
• Epilepsi umum primer (yang berarti idiopatik, kriptogenik,
fungsional atau jinak) pada masa anak dan remaja (Mardjono,
2006).
• Epilepsi absens atau petit mal
• Epilepsi absens mioklonik
• Konvulsi (=kejang) tonik klonik umum dan grand mal
• Epilepsi absens yang berkombinasi dengan grand mal.
• Epilepsi umum sekunder (yang berarti simtomatik, lesional, atau
ganas) pada masa bayi, anak, dan remaja (Mardjono, 2006).
• Berbagai jenis epilepsi umum akibat ensefalopatia spesifik
• Berbagai jenis epilepsi umum akibat ensefalopatia non-spesifik:
• Sindrom West.
• Sindrom Lennox-Gastaut.
• Sindrom-sindrom variasi sindrom Lennox-Gastaut
• Epilepsi parsial
• Epilepsi parsial primer (yang berarti idiopatik, kriptogenik, fungsional
atau jinak) pada masa anak berusia lebih dari 10 tahun dan masa remaja:
• Epilepsi motorik parsial primer dengan “spikes” sentro-mid-temporal
• Epilepsi sensomotorik parsial primer dengan “spikes” parietal
• Epilepsi visual parsial primer dengan “spike-wave” oksipital
• Epilepsi parsial sekunder (yang berarti simtomatik, lesional, atau
ganas) pada semua golongan usia, tetapi terutama pada orang
dewasa:
• Epilepsi parsial sekunder dengan simtomatologi yang sederhana
(elementer).
• Epilepsi parsial sekunder dengan simtomatologi yang kompleks.
Diagnosis

• Anamnesis sangat penting dalam menegakkan diagnosis epilepsy.

• Gejala-gejala yang disampaikan oleh orang lain yang menyaksikan
terjadinya serangan epilepsi pada penderita.

• EEG (elektroensefalogram) merupakan pemeriksaan yang mengukur
aktivitas listrik di dalam otak
Pemeriksaan penunjang

1. Laboratorium darah rutin
2. EEG
3. Pemeriksaan foto polos kepala
4. CT Scan kepala
Diagnosis banding

Sinkop, penyakit serebrovaskular, gangguan jantung, gangguan
metabolik, hipotensi postural, keracunan alkohol, obat tidur,
penenang, breath holding spells, psikiatrik (hysteria), narkolepsi,
pavor nokturnus, paralisis tidur, migren
Penatalaksanaan

Tujuan pengobatan adalah menyembuhkan atau
bila tidak mampu menyembuhkan, paling tidak
membatasi gejala-gejala dan mengurangi efek
samping pengobatan.
Beberapa prinsip dasar yang perlu
dipertimbangkan dalam terapi epilepsi :

1. Pada kejang yang sangat jarang dan dapat dihilangkan faktor
pencetusnya, pemberian obat harus dipertimbangkan
2. Pengobatan diberikan setelah diagnosis ditegakkan, ini
berarti pasien mengalami lebih dari dua kali kejang yang
sama
3. Obat yang digunakan disesuaikan dengan jenis kejang
Con’t
4. Sebaiknya menggunakan monoterapi karena dengan cara
ini toksisitas akan berkurang, mempermudah pemantauan
dan menghindari interaksi obat

5. Dosis obat disesuaikan secara individual

6. Evaluasi hasil pengobatan

7. Pengobatan dihentikan setelah kejang hilang selama
minimal 2-3 tahun. Pengobatan dihentikan secara
berangsur dengan menurunkan dosisnya.
Bangkitan Jenis obat

Fokal/parsial :
Sederhana Karbamazepin, fenobarbital, fenitoin

Kompleks Karbamazepin, fenobarbital, fenitoin,
asam valproat
Tonik-klonik umum Karbamazepin, fenobarbital, fenitoin,
asam valproat
Umum :

Tonik-klonik Karbamazepin, fenobarbital, fenitoin,
asam valproat
Mioklonik Klonazepam, asam valproat

Absence/petit mal Klonazepam, asam valproat
KASUS
• Seorang perempuan berumur 20 tahun dibawa oleh
temannya ke IGD karena mengalami keluhan seluruh tubuh
kaku, kedua tangan dan kaki tesentak-sentak yang tejadi
selama kurang lebih 10 menit. Selama keluhan tersebut
pasien tidak sadarkan diri. Setelah sadar, pasien ngompol di
celana dan kebingungan. Keluhan serupa berulang 5 kali
sejak usia 9 tahun. Riwayat benturan kepala, infeksi otak
dan selaput otak sebelumnya disangkal. Selama ini pasien
belum pernah berobat ke dokter karena keluhan tersebut.
Pada pemeriksaan fisik di dapatkan keadaan umum baik,
tekanan darah 120/80 mmHg, pernapasan 18 kali/menit,
nadi 80 kali/menit, suhu aksiler 36,60C. Pada pemeriksaan
neurologi tidak didapatkan kelainan.
• Keluhan utama : seluruh tubuh kaku, kedua tangan dan kaki
tersentak-sentak, disertai dengan penurunan kesadaran yang
terjadi selama kurang lebih 8 menit
• Pemeriksaan fisik : Tanda-tanda vital dalam batas normal.
Tidak didapatkan kelainan neurologis
• Pemeriksaan lab. : -
• Diagnosis : Epilepsi Genealisata (Umum) Tonik Klonik
(Grand Mal)
PERSONAL TREATMENT
• Menentukan Problem Pasien
• Kejang
• Menentukan Tujuan Terapi
• Megontrol gejala atau tanda secara adekuat dengan
penggunaan obat yang minimal
• Membantu penyandang epilepsy untuk menjalankan aktivitas
dan kehidupan sosialnya.
• Pemilihan Terapi
• Terapi Non Farmakologis
• Menghindari factor pencetus suatu bangkitan, seperti minum
alcohol, emosi, kelelahan fisik maupun mental
• Hindakan barang-barang berbahaya di sekitar pasien ketika
serangan dating
• Hindarkan tindakan yang salah seperti member minum air saat
tidak sadar atau menahan kejang atau menyiram air

• Terapi farmakologis
Golongan Efficacy Safety Suitability Cost
+++ + +++ +++
Farmakodinamik : Efek samping Kontraindikasi : Rp
Menurunkan influks ion natrium dan Apabila digunakan 23.400/bo
CNS :
kalsium ke membran neuron, mengurangi bersama MAO x
Diplopia,ataksia,vertigo,
aktivitas kejang. Inhibitor, riwayat
pusing, penglihatan kabur
Efektif untuk semua serangan epilepsi mielosupresi,
parsial dan sangat efektif untuk serrangan GIT : mual,muntah hipersensitif terhadap
tonik klonik Kulit : dermatitis alergi, antidepresan trisiklik.
Farmakokinetik: sindroma steven-johnson
A: absorbsi lengkap dan
lambat, disaluran Lain-lain : anemia aplastik,
cerna berikatan eosinofilia, limfadenopati,
Karbamazepin
dengan protein 75% splenomegali
dari saluran
Gastrointestinal.
D: Kadar puncak puncak
plasma 2-8 jam
setelah dosis tunggal.
M: Hati.
E : Waktu paruh 25-65
jam. Diekskresi di
ginjal.
Golongan Efficacy Safety Suitability Cost
+++ + +++ +
Farmakodinamik : Efek samping : Kontraindikasi : Rp.
Sebagai anti konvulsi tanpa pasien dgn penyakit 55.000
menyebabkan depesi umum SSP, CNS : gangguan ginjal,
menghambat penjalaran rangsang dari Diplopia,ataksia,vertigo,n ibu hamil
fokus ke bagian lain di otak, istagmus,sukar
mempengaruhi perpindahan ion bicara,disertai gangguan
melintasi membran sel lain seperti :
Farmakokinetik: tremor,gugup,kantuk dan
A: absorbsi per oral rasa lelah
berlangsung lambat, GIT : oedem gusi,
Hidantoin
sesekali tidak anoreksi, nyeri ulu hati,
lengkap. mual,muntah
D: Kadar puncak dicapai
Kulit : ruam
3-12 jam.
morbiliformis,keratosis
M: di hati.
E: diekskresi bersama Lain-lain :
tinja dalam bentuk utuh. hepatosisitas,anemia
megaloblastik
Golongan Efficacy Safety Suitability Cost
++ + ++ +++
Farmakodinamik: Efek samping : Kontraindikasi : Rp.2500
Membatasi penjalaran aktivitas Pophiria, depresi -4000
bangkitan dan menaikkan ambang Mengantuk, penurunan sistem pernapasan,
rangsang, menghambat efek gaba. kesadaran, distrasia, gangguan hati berat
Menekan letupan di fokus epilepsi, ataksia, stimulasi
efektif untuk serangan epilepsi “paradoksal” yang
berulang disebabkan oleh
Farmakokinetik : disinhibisi tingkah laku,
Diabsorbsi dengan baik peroral, dapat depresi SSP sampe koma
Barbiturat penetrasi ke otak, 75% diinaktivasi dan henti
oleh system mikrosom hepar. Eksresi pernapasan,laringospasm
secara utuh oleh ginjal. e
Golongan Efficacy Safety Suitability Cost
+++ ++ +++ +
Farmakodinamik : Efek samping : Kontraindikasi :
Mamblokade kanal natrium dan Mual,muntah dan Penyakit hepar aktif Rp.
menyebabkan hiperpolarisasi potensial gangguan pencernaan 5.942
istirahat membran neuron akibat lain seperti nyeri
peningkatan daya konduksi membran perut,kantuk,ataksia dan
untuk kalium. Memiliki efek anti tremor, hepatotoksik
konvulsi dengan meningkatkan GABA
di otak
Asam Farmakokinetik : diabsorbsi cepat.
valproat Kadar maksimum dicapai setelah 1-3
jam dengan waktu paruh 8-10 jam.
Metabolisme di hati. Ekskresi di urin
• Golongan obat yang dipilih yaitu obat karbamazepine
sebagai terapi dari kasus ini.
Golongan Efficacy Safety Suitability Cost
+++ +++ +++ +++
Farmakodinamik : Efek samping Kontraindikasi : Rp 23.400/box
Menurunkan influks ion natrium Apabila digunakan bersama MAO
CNS :
dan kalsium ke membran neuron, Inhibitor, riwayat mielosupresi,
Diplopia,ataksia,vertigo,
mengurangi aktivitas kejang. hipersensitif terhadap antidepresan
pusing, penglihatan kabur
Efektif untuk semua serangan trisiklik.
epilepsi parsial dan sangat efektif GIT : mual,muntah
untuk serrangan tonik klonik Kulit : dermatitis alergi,
Farmakokinetik: sindroma steven-johnson
A: absorbsi lengkap dan
lambat, disaluran Lain-lain : anemia aplastik,
Karbamazepin eosinofilia, limfadenopati,
cerna berikatan
dengan protein 75% splenomegali
dari saluran
Gastrointestinal.
D: Kadar puncak puncak
plasma 2-8 jam
setelah dosis tunggal.
M: Hati.
E : Waktu paruh 25-65
jam. Diekskresi di
ginjal.
• Pemberian Terapi
• Terapi Non Farmakologis
• Menghindari factor pencetus suatu bangkitan, seperti minum alcohol.
• Menghindari kelelahan fisik maupun mental.
• pasien dirujuk ke bagian neurologi untuk dilakukan pemeriksaan EEG

• Terapi Farmakologis
• Carbamazepine 200 mg 2 x 1
Terapi Farmakologis PRAKTER DOKTER BERSAMA
dr. suka maju
Jl. Pramuka 6 No.122 Telp.0541-242048
SIP. 0708015016

Samarinda, 16 September 2018

/ Carbamazepin tab 200 mg No.

XIV
S 2dd tab I

Pro : Nn. X
Umur : 20 thn
Alamat : Jl. X No.X
Komunikasi Terapi
• Informasi Penyakit :
• Epilepsy bukan suatu penyakit menular, bukan pula penyakit keturunan,
dapat terjadi pada setiap orang, dan dapat diobati serta dapat
dikendalikan.
• Penyakit ini adalah bentuk epilepsy yang paling sering ditemukan.
Serangan meyebabkan hilangnya kesadaran, jadi merupakan suatu hal
yang wajar jika pasien mengalami kehilangan kesadaran saat serangan
berlangsung.
• Tidak perlu panic karena kejang akan mereda sendiri
• Hindarkan barang-barang yang berbahaya di sekitar pasien ketika seranga
dating
• Hindarkan tindakan yang salah seperti member minum saat tidak sadar
atau menahan kejang serta disiram air.
• Ketika kejang pasien ditidurkan, pakaian dilonggarkan
• Cegah orang-orang menonton pasien.
Cont

Informasi Terapi Non Farmakologis
• Menjelaskan kepada pasien bahwa harus menghindari factor-faktor yang
dapat mencetuskan bangkitan kejang, seperti minum alcohol, emosi
ataupun kelelahan fisik dan mental
• Pasien penyandang epilepsy dianjurkan untuk secepatnya menghubungi
dokter dan mengikuti nasehat serta disiplin minum obat yang diberikan
• Pasien tidak boleh putus obat dan mengurangi sendiri dosis obat.
• Informasi Terapi Farmakologis
• Indikasi
• Kontraindikasi
• Dosis
• Cara pemakaian
• Efek samping obat
• Monitoring dan Evaluasi
• Kontrol pengobatan
• Pasien diharuskan datang kembali untuk control beserta meminta obat lagi
sebelum obat habis karena penyakit ini tidak boleh putus obat

• Obat dihentikan minimal setelah dua tahun bebas serangan
dan tidak dijumpai retardasi psikomotorik dan deficit
neurologis, secara bertahap. Dengan cara mengurangi dosis
sebesar 25% tiap dua atau empat minggu
• Monitoring obat anti epilepsy dalam serum
KESIMPULAN

• Pasien menderita epilepsy bangkitan umum tonik klonik
(grand-mal)
• Terapi farmakologis yang diberikan adalah golongan
karbamazepine, dosis yang diberikan adalah 200 mg 2 x 1.
• Terapi tidak boleh putus ditengah jalan, karena dapat
menyebabkan hal-hal yang lebih parah, seperti status
epileptikus.
TERIMA KASIH