You are on page 1of 16

Afrizal Arroisi

Wirna Fuspina Catur Gunawan

KELOMPOK 1
Tri pina Putri Emi Fitriani

Rio Andika Indria Fitri R.
Miko Triyanto
Latar Belakang Terjadinya Krisis Moneter
Pada Juni 1997, Indonesia terlihat jauh dari krisis.Indonesia
memiliki inflasi yang rendah, perdagangan surplus lebih dari 900
juta dolar, persediaan mata uang luar yang besar, lebih dari 20 miliar
dolar, dan sektor bank yang baik.
Tapi banyak perusahaan Indonesia yang meminjam dolar AS. Di
tahun berikut, ketika rupiah menguat terhadap dolar, praktisi ini
telah bekerja baik untuk perusahaan tersebut -- level efektifitas
hutang mereka dan biaya finansial telah berkurang pada saat harga
mata uang lokal meningkat.
Moneter adalah instrument yang digunakan pemerintah untuk
mengatur jumlah mata uang yang beredar dan menentukan suku
bunga yang berlaku.
KRISIS moneter Indonesia disebabkan oleh dan
berawal dari kebijakan Pemerintah Thailand di bulan Juli
1997 untuk mengambangkan mata uang Thailand “Bath”
terhadap Dollar US. Selama itu mata uang Bath dan
Dollar US dikaitkan satu sama lain dengan suatu kurs
yang tetap. Hal tersebut mempengaruhi mata uang, bursa
saham dan harga aset lainnya di beberapa negara Asia,
termasuk Indonesia.
1. Bank Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1997 terpaksa
membebaskan nilai tukar rupiah terhadap valuta asing,
khususnya dollar AS, dan membiarkannya berfluktuasi secara
bebas.
2. Merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang sangat
tajam.
3. Faktor utang luar negeri swasta jangka pendek dan menengah
sehingga nilai tukar rupiah mendapat tekanan yang berat karena
tidak tersedia cukup devisa untuk membayar utang yang jatuh
tempo beserta bunganya, ditambah sistem perbankan nasional
yang melemah.
4. Krisis moneter kiriman yang berawal dari Thailand antara Maret-
Juni 1997, yang diserang duluan oleh spekulan dan kemudian
menyebar ke Negara Asia lainnya termasuk Indonesia. Krisis
Moneter yang terjadi sudah saling kait-mengkait di kawasan
Asia Timur dan tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain.
5. Banyaknya kelemahan dalam sistem perbankan di Indonesia. Dengan
kelemahan sistemik perbankan tersebut, masalah hutang swasta eksternal
langsung beralih menjadi masalah perbankan dalam negeri.
6. Inflasi rupiah dan peningkatan besar harga bahan makanan menimbulkan
kekacauan di negara ini. Pada Februari 1998, Presiden Suharto memecat
Gubernur Bank Indonesia, tapi ini tidak cukup. Soeharto dipaksa mundur
pada pertengahan 1998 tepat pada tanggal 21 Mei 1998 Presiden Soeharto
menyatakan mengundurkan/berhenti sebagai presiden dan B.J. Habibie
menjadi presiden. Mulai dari sini krisis moneter memuncak.
7. Kegagalan manajemen makro ekonomi tercermin dari
kombinasi nilai tukar yang kaku dan kebijakan fiskal
yang longgar, inflasi yang merupakan hasil dari
apresiasi nilai tukar efektif riil, defisit neraca
pembayaran dan pelarian modal.
8. Untuk mengatasi kesulitan moneter, pemeribtah
meminta bantuan IMF. Namun kucuran dana dari IMF
yang sangat diharapkan oleh pemerintah Indonesia
belum terealisasi,walaupun pada 15 Januari 1998
Indonesia telah menandatangani 50 butir kesepakatan
(letter of intent atau Lol) dengan IMF.

Presiden Soeharto disaksikan Direktur
IMF, Michael Camdessus
menandatangani Letter of Inten dengan
IMF sebagai syarat mendapatkan bantuan
dari IMF pada tanggal 15 Januari 1998 di
jalan Cendana, Jakarta
 Penyebab utama terjadinya krisis yang berkepanjangan ini adalah
merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang sangat
tajam.
 Penyimpangan Pasal 33 UUD 1945.
 Pola pemerintahan sentralistis.
 Dianutnya sistem devisa yang terlalu bebas tanpa adanya
pengawasan yang memadai.
 Tingkat depresiasi rupiah yang relatif rendah, berkisar antara
2,4% (1993) hingga 5,8% (1991) antara tahun 1988 hingga 1996,
yang berada di bawah nilai tukar nyatanya, menyebabkan nilai
rupiah secara kumulatif sangat overvalued
 Utang luar negeri swasta jangka pendek dan menengah
 Kebijakan fiskal dan moneter tidak konsisten dalam suatu sistim
nilai tukar dengan pita batas intervensi
Defisit neraca disebabkan karena laju peningkatan impor
barang dan jasa lebih besar dari ekspor dan melonjaknya
pembayaran bunga pinjaman berjalan yang semakin
membesar
Penanam modal asing portfolio yang pada awalnya
membeli saham besar-besaran diiming-imingi
keuntungan yang besar yang ditunjang oleh
perkembangan moneter yang relatif stabil kemudian
mulai menarik dananya keluar dalam jumlah besar.
 IMF tidak membantu sepenuh hati dan terus menunda
pengucuran dana bantuan yang dijanjikannya dengan
alasan pemerintah tidak melaksanakan 50 butir
kesepakatan dengan baik.
Terjadi krisis kepercayaan dan kepanikan yang
menyebabkan masyarakat luas menyerbu membeli dollar
AS agar nilai kekayaan tidak merosot dan malah bisa
menarik keuntungan dari merosotnya nilai tukar rupiah.
Krisis Moneter membawa dampak yang kurang baik bagi Indonesia, seperti :
 Banyak perusahaan yang terpaksa mem-PHK pekerjanya dengan alasan tidak
dapat membayar upah para pekerjanya. Sehingga menambah angka pengangguran
di Indonesia.
 Pemerintah kesulitan menutup APBN.
 Harga barang yang naik cukup tinggi, yang mengakibatkan masyrakat kesulitan
mendapat barang-barang kebutuhan pokoknya.
 Utang luar negeri dalam rupiah melonjak.
 Harga BBM naik, banyak pejabat korupsi.
 Kemiskinan juga termasuk dampak krisis moneter. Pada oktober 1998 jumlah
keluarga miskin di perkirakan sekitar 7.5 juta.
 Banyak perusahaan yang meminjam uang pada perusahaan Negara asing dengan
tingkat bunga yang lumayan tinggi, hal itu menambah beban utang Negara
Pada sisi lain merosotnya nilai tukar rupiah juga membawa
hikmah. Secara umum impor barang menurun tajam. Sebaliknya
arus masuk turis asing akan lebih besar, daya saing produk
dalam negeri dengan tingkat kandungan impor rendah
meningkat sehingga bisa menahan impor dan merangsang
ekspor khususnya yang berbasis pertanian.
Dampak dari krisis moneter lebih banyak yang negative
dibandingkan dampak positifnya. Itu di karena kan krisis ini
mengganggu kesejahteraan masyarakat.
KESIMPULAN
1. Krisis moneter yang terjadi di Indonesia
kebanyakan merupakan kiriman dari negara
lain dan bukan berasal dari dalam negeri.
2. Inflasi juga merupakan salah satu faktor
terjadinya krisis tersebut.
3. Dampak yang di timbulkan berbagai macam
dan dampak tersebut kebanyakan membawa
pengaruh kurang baik terhadap Perekonomian
Indonesia.
4. Krisis moneter berpengaruh langsung ke
rakyat.