You are on page 1of 34

KELOMPOK 3

Anggy Rayendra
Ari Tri Wulandari
Ditinia Utami
Elsa Hewuni
Fitrilawati
Gusti Muhammad Ferry Firdaus
Karissa Maria Sangalang
Maria Agavina Septy Putri
Tirza Sosanta
Yolanda Priscilla Putri
KATA KUNCI
- Tuan X
- Kram betis kanan
- Tumpuan utama tungkai kiri
- Kurang waktu latihan
- Posisi kaki cenderung plantar fleksi
-Kontur otot gastrocnemius: tegas, membesar, tidak terlihat
radang
- TB: 180cm; BB: 70kg
- Nyeri spontan menetap
- Nyeri tekan
- Kesakitan dibetis kanan
- Suhu pasien: 37,5oC

- Ditawarkan air minum

- Berlatih keras

- Regio cruris sinistra tidak ada kelainan
KATA SULIT
 Regio cruris dextra
 Plantar fleksi

 Kontur otot gastrocnemius tegas

 Regio cruris sinistra

 Kram betis
IDENTIFIKASI MASALAH
Tuan X berlatih keras untuk perlombaan sprint
100m dan mengalami kram betis sebelah
kanan pada kontur otot gatrocnemius saat
melakukan start untuk kesekian kalinya.
ANALISIS MASALAH

Tn. X, 19thn

Saat Adaptasi
latihan otot
keras Kram
Betis terhadap
disiang hari
kanan latihan fisik

Pengaruh Pemeriksaa
Suhu n regio
cruris
dextra
Kontur
-Nyeri Posisi kaki
Otot
Spontan cendrung ≠ radang
gastrocnem
- Nyeri plantar
ius tegas &
tekan flexi
besar
SPYDER WEB

Kram / Nyeri Otot Penatalaksanaa
Definisi
n

Etiologi Tanda & Regio cruris
Mekanisme
Gejala dextra

Gerak Plantar
Kram Flexi
normal
HIPOTESIS
Kram pada betis kanan Tn. X terjadi karena
peningkatan kerja otot yang berlebihan.
PERTANYAAN TERJARING
 Apa definisi kram otot?
 Bagaimana etilogi dari kram otot?
 Apa tanda dan gejala kram otot?
 Bagaimana fisiologi dari kerja otot?
 Bagaimana mekanisme nyeri?
 Bagaimana histologi otot pada cruris dextra?
 Bagaimana anatomi pada cruris?
 Apa saja klasifikasi nyeri diotot?
 Bagaimana mekanisme gerak?
 Bagaimana penatalaksanaan kram otot?
 Bagaimana pengaruh suhu terhadap kerja otot
 Bagaimana mekanisme adaptasi otot?
 Apa definisi nyeri spontan dan nyeri tekan?
 Bagaimana hubungan nyeri spontan dan nyeri tekan
terhadap kram otot?
 Bagaimana proses biokimia pada otot?

 Mengapa posisi kaki cenderung plantar fleksi?
DEFINISI KRAM OTOT
Kram otot merupakan kontraksi otot tertentu
yang berlebihan, terjadi secara mendadak tanpa
disadari karena otot terus menerus beraktivitas,
sehingga otot menjadi kejang dan tidak mampu
berkontraksi lagi yang disebabkan oleh
kelelahan otot.
ETIOLOGI KERAM OTOT
1. Kelelahan otot saat berolahgara. (akumulasi
sisa metabolik menumpuk  asam laktat 
merangsang otot/saraf  kram).
2. Kurang memadainya pemanasan serta
pendinginan.
TANDA DAN GEJALA KRAM OTOT
 Kejang pada otot
 Lemas pada otot

 Nyeri
TAHAPAN KONTRAKSI OTOT ACTIN-
MYOSIN
Impuls -> ujung saraf -> pelepasan Ach
(neuromuskular junction) -> membuka kanal
pada sarkolema -> potensial aksi -> merambat ke
dehidropiridin di tubulus T -> merangsang
rianodin (RS) -> melepaskan ion Ca² ->
menempel pada inc -> pergeseran tropomyosin -
> buka tropomyosin binding site aktin ->
crossbread pada myosin -> terjadinya power
stroke -> myosin energi tinggi -> kontraksi
DASAR MOLEKULAR KONTRAKSI OTOT
Inhibisi filamen aktin oleh kompleks troponin-
tropomiosin
- Aktivasi filamen aktin oleh ion Ca+
- Interaksi filamen aktin aktif dengan cross-
bridge miosin
- ATP sebagai sumber energi kontraksi 
peristiwa kimia pada gerakan kepala miosin
ANATOMI CRURIS
HISTOLOGI OTOT CRURIS

 Epimisium
 Perimisium

 Endomisium

 Pita A

 Pita I

 Serat otot

 Inti sel
NYERI
NYERI SPONTAN
 Nyeri spontan merupakan nyeri yang timbul
tanpa sebab (stimulus) dan mengagetkan pasien
NYERI TEKAN
 Nyeri tekan merupakan nyeri yang timbul
karena adanya sebab (stimulus)
KLASIFIKASI NYERI
A. Berdasarkan Waktu
- Nyeri akut
- Nyeri Kronis
B. Berdasarkan tempat terjadinya
- Nyeri somatik
- Nyeri Visceral
- Nyeri Reperred
C. Berdasarkan Persepsi Nyeri
- Nyeri nosiseptis
- Nyeri neuromatik
MEKANISME NYERI (1)

Keterbatasan kardio mengenai jumlah
oksigen yang disalurkan ke otot

Oksigen/fosforilasi oksidatif tidak
dapat mengimbangi kebutuhan ATP

Serat-serat otot mengandalkan
glikolisis untuk hasil ATP

Pada glikolisis molekul glukosa diurai
menjadi 2 mol asam piruvat

Asam piruvat menghasilkan 2 ATP
selama proses berlangsung
MEKANISME NYERI (2)

Penggunaan jalur glikolisis memilliki
2 konsekuensi

1. Glikolisis kurang efisien dalam
mengubah makanan menjadi energi
ATP

2. Akhir glikolisis anaerob yakni asam
piruvat  asam laktat

Penimbunan asam laktat yang
menyebabkan nyeri otot
MEKANISME NYERI (2)

Penggunaan jalur glikolisis memilliki
2 konsekuensi

1. Glikolisis kurang efisien dalam
mengubah makanan menjadi energi
ATP

2. Akhir glikolisis anaerob yakni asam
piruvat  asam laktat

Penimbunan asam laktat yang
menyebabkan nyeri otot
HUBUNGAN NYERI SPONTAN & NYERI
TEKAN TERHADAP KRAM OTOT

Olahraga berat (proses glikolisis anaerob)

As. piruvat  As. Laktat

Nyeri otot gastrocnemius  Plantar fleksi  Kram
otot
MEKANISME GERAK (SAAT BERLARI)
1. Foot strike
2. Mid Support
3. Toe Off
4. Forward Swing
5. Declaration
POSISI KAKI CENDERUNG PLANTAR FLEKSI
Pada saat latihan start, posisi kaki cenderung
plantar flexi karena posisi kaki berada dalam
gerakan toe off yang melibatkan otot
gastrocnemius dan berhubungan dengan tendon
calcaneus.
ADAPTASI OTOT TERHADAP LATIHAN FISIK
Latihan Fisik

Umpan balik negatif

Respon sementara Adaptasi
PENGARUH SUHU TERHADAP KERJA OTOT
Saat cuaca panas, keseimbangan elektrolit
dalam tubuh dapat terganggu, yang membuat
sinyal normal tubuh terganggu. Akibatnya,
tubuh bisa mengalami hipertemia (overheating
tubuh) yang menyebabkan otot kejang atau kram
saat mengeluarkan keringat
PENATALAKSANAAN KRAM OTOT
 Melakukan pemijatan
 Mengompres dengan air hangat

 Melakukan peregangan/streching

 Mengkonsumsi cairan

 Mengkonsumsi obat pereda nyeri
KESIMPULAN
Kram betis diakibatkan oleh nyeri otot
gastrocnemius yang berhubungan dengan tendo
calcaneus, sehingga posisi kaki plantar fleksi dan
aktivitas yang berlebihan menyebabkan
kelelahan otot karena melakukan gerakan
monoton yang berulang.
DAFTAR PUSTAKA
 http://home.unpar.ac.id/integral/volume%206/inte
gral%206/20no%202/Adi_gunawan_M.pdf
 Snell, Richard S. Anatomi Klinis Berdasarkan
Sistem. Jakarta: EGC, 2011
 Reinhard Putz, Reinhard Pabst. Sobotta: Atlas
Anatomi Manusia. Edisi 22. Jakarta: EGC, 2006