You are on page 1of 64

Ratih Kusuma Dewi

1310221016

Stase Interna Periode 21 Oktober – 28 Desember 2013
Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan
Nasional “Veteran” Jakarta
IDENTITAS PASIEN
 Nama : Ny. S
 Usia : 36 tahun
 Jenis Kelamin : Perempuan
 Alamat : Kaliduren 07/03Lemahireng Bawen
 Pendidikan : SLTP
 Status marital : Menikah
 Agama : Islam
 Kelompok pasien : JAMKESMAS
 Bangsal / Bed : Anyelir / H02
 Waktu masuk : 11 November 2013 pkl. 20.53
KELUHAN UTAMA
Nyeri kaki

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

• Nyeri kaki kiri sejak 1 bulan yang lalu.
• Nyeri hilang timbul.
• Nyeri bertambah jika beraktivitas
• Nyeri berkurang saat istirahat
• kaki kiri pasien sering kesemutan
• skala nyeri 6
• Pasien tidak pernah mengalami hal yang sama
sebelumnya
KELUHAN TAMBAHAN

 Pasien mengeluh sering buang air kecil
 Pasien sering terbangun pada malam hari untuk buang air
kecil
 Pasien merasa sering haus dan banyak minum
 Pasien merasakan lebih cepat lapar dan sering ngemil
 Pasien mengeluh sering sakit kepala
 Keluhan tersebut dirasakan sejak 3 bulan yang lalu
 Mual (+)
 Muntah (-)
 BAB (normal)
 BAK : 10-15 x/hari
 Penurunan berat badan (+), sebulan yang lalu 53kg,
seminggu sebelum masuk rumah sakit 49kg
Riwayat Penyakit Dahulu
Riw. Diabetes Melitus : disangkal . Pasien pernah memeriksa gula
darah di puskesmas dan pernah mencapai GDS = 380
Riw. Hipertensi : disangkal
Riw. Alergi : disangkal
Riw. Maag : diakui
Riw. Opname : disangkal
Riw. Pengobatan lama : disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat hipertensi : disangkal
Riwayat DM : diakui. Ibu kandung pasien
Riwayat sesak nafas : disangkal
Riwayat sakit serupa : disangkal
Riwayat alergi : disangkal
Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien tinggal dengan 2 orang anaknya. Pasien bekerja di pabrik
konveksi di bagian menjahit dan bekerja dari pukul 07.00- 21.00.
Dirumah tidak ada yang mengalami sakit yang sama.

Riwayat Pengobatan
pasien tidak pernah berobat sebelumnya.

Riwayat Kebiasaan
pasien makan makanan rumah, makan sering (+), makan yang
manis-manis (+), makan bersantan & gorengan (+), merokok (-),
alkohol (-)
Anamnesis sistem
 Kepala : Pusing - , sakit kepala +
 Mata : kabur -/- , gatal -/- , kuning -/- , sekret -/-
 Hidung : tersumbat -, keluar darah - , keluar lendir - ,
gatal -
 Telinga : penurunan pendengaran -, berdenging -, keluar
sekret atau darah -
 Mulut : bibir kering -, gusi mudah berdarah -,
 Tenggorokan : rasa kering dan gatal -, serak -, sukar
menelan -
 Sistem respirasi : sesak -, batuk -, dahak - , nyeri dada -,
mengi –
 Kardiovaskular : berdebar-debar -, nyeri dada –
 Gastrointestinal : nyeri -, mual +, sebah -, cepat kenyang
- nafsu makan menurun -, diare -, sulit bab -, bab
berdarah -
 Genitourinaria : nyeri saat bak -, panas saat bak -, sulit
keluar pada awal bak -, bak menetes -, warna seperti teh
-, nanah -, gatal –
 Ekstremitas : lemas +, nyeri sendi -, edema –
Keadaan umum : sakit ringan, compos mentis, gizi
kesan normal

Status gizi :
BB : 49 kg
TB : 157 cm
BMI : 19,91 (normoweight)

Tanda vital :
TD : 110/70 mmHg
N : 80x/m
RR : 20x/m
S : 36,2°C
 Kulit : warna sawo matang, ikterik (-)
• Kepala : Bentuk Mesocephal, Rambut warna hitam
• Mata : Konjungtiva pucat (-/-), Sklera ikterik (-/-),
Pupil isokor dengan diameter 3mm/3mm,
Refleks cahaya (+/+)
• Mulut : Sianosis (-), Gusi Berdarah (-), Kering (-),
Pucat (-), Tifoid tounge (-), papil lidah atrofi (-)
Stomatitis (-), Luka pada sudut bibir (-)
• Leher : JVP (DBN), Trakhea (DBN), Tiroid (DBN),
Limfonodi (DBN)
• Tenggorokan : Faring tidak hiperemis, T1-T1
• Thorax : Bentuk normochest, simetris, retraksi
intercostal (-), pembesaran KGB Axila (-)
Pulmo :
• Inspeksi :
Statis Normochest, simetris,
Dinamis Pengembangan dada kanan = kiri, sela iga tidak melebar,
retraksi intercostal (-)
• Palpasi :
Statis  taktil fremitus dada kanan = dada kiri
Dinamis  Pergerakan dada kanan = dada kiri

• Perkusi :
• Kanan : Sonor
• Kiri : Sonor

• Auskultasi
• Kanan : Suara dasar vesikuler (+), wheezing (-), ronchi basah halus (-)
• Kiri : Suara dasar vesikuler (+), wheezing (-), ronchi basah halus (-)
Jantung :

 Inspeksi : tidak tampak ictus cordis
 Palpasi : Iktus cordis tidak teraba
 Perkusi :
 Batas Kanan atas ICS II linea parasternal dextra
 Batas kanan bawah ICS IV linea midklavikularis dekstra
 Batas Kiri atas ICS II linea parasternal sinistra
 Batas jantung kiri bawah SIC IV linea media clavicularis
sinistra

 Auskultasi:
BJ I dan II reguler, S1>S2, intensitas normal reguler, Gallop (-),
Murmur (-)
Abdomen :
 Inspeksi : Dinding perut sejajar dinding thorax, spider
navie (-)
 Auskultas : Bising usus (+) ; 4 x / menit
 Perkusi :
 Timpani (+)
 Shifting dullness (-)
 Tes undulasi (-)
 Palpasi :
 Supel
 Nyeri Tekan regio epigastrium
 Hepatomegali (-)
 Spleenomegali (-)
• EKSTREMITAS
• Superior • Inferior
• Superior dekstra  Inferior dekstra
Pitting Edema (-), kuku pucat Pitting edema (-), kuku pucat (-),
(-), clubing finger (-), palmar clubing finger (-), plantar pedis
eritema (-), palmar ikterik (-), ikterik (-).
capillary refil <2 detik kekuatan otot (5)

• Superior sinistra  Inferior Sinistra
Pitting Edema (-), kuku pucat Pitting edema (-), kuku pucat (-),
(-), clubing finger (-), palmar clubing finger (-), plantar pedis
eritema (-), palmar ikterik (-), ikterik (-)
capillary refil <2 detik Kekuatan otot (4)
Resume
Pasien datang dengan keluhan nyeri pada kaki kiri, nyeri
dirasakan sejak 1 bulan yang lalu,nyeri hilang timbul,
memberat jika aktivitas dan berkurang jika istirahat. Pasien
mengeluh adanya poliuri (+), polidipsi (+), polifagi (+),
penurunan berat badan (+), sakit kepala (+), lemas (+),
nausea (+). Pasien mengakui adanya riwayat diabetes
melitus dan riwayat maag.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan tampak sakit ringan,
compos mentis, normoweight, nyeri tekan epigastrium (+)
penurunan kekuatan motorik ekstremitas sinistra.
Assessment
Mialgia
DD :
arthralgia
rhematoid arthritis

 Diabetes mellitus tipe 2 non obesitas
dengan hiperglikemia dan komplikasi
neuropati

 Dispepsia
Terapi Planning
Farmakologis :  Darah rutin
o Inf. RL 20 tpm
 Kimia darah (GDS,
o Inj. Ranitidin 2x1 ampul
o Inj. Sohobion 1x1 ampul 3ml
GDP, GD2PP, ureum,
o Parasetamol 3x1
creatinin, uric acid,
o Antasid 3 x 1 tab protein-albumin)
 Kolin-esterase
Non farmakologis :
 Pre-proinsulin
• Edukasi tentang penyakit DM,
perjalanan penyakit dan
komplikasi
• Diet DM 1500 kkal
Follow up
Date Subject Object Assessme Therapy Planning
nt

12- Nyeri paha kiri TD : 100/70 mmHg Myalgia Inf. RL 20 tpm Darah rutin
11- menjalar N : 80 x/m DM tipe 2 Inj. Ranitidin 2x1 Kimia darah
2013 sampai ke RR : 20 x/m non ampul (GDS, GDP,
telapak kaki S : 36°C obesitas Inj. Sohobion 1x1 GD2PP,
kiri, mual (+), GDS : 287 Dispepsia ampul 3ml ureum,
muntah (-), Nyeri tekan Parasetamol 3x1 creatinin, uric
sakit kepala abdomen regio Antasid 3x1 tab acid, protein-
(+), lemas (+) epigastrium Novorapid 3x 8 Unit albumin)
Kekuatan otot kaki
kiri (4)

13- Nyeri kaki kiri TD : 110/70 mmHg Myalgia Terapi lanjut GDS
11- sudah N : 76 x/m DM tipe 2 Dosis novorapid
2013 berkurang, RR : 18 x/m non dinaikkan 3x12 unit
sakit kepala S : 36,5 °C obesitas
(+), lemas (+), GDS 287 Dispepsia
mual (+) KU : baik, compos
mentis.
Kekuatan otot kaki
kiri (5)
Pemeriksaan Hasil Nilai rujukan
Darah rutin
Hemoglobin 11.0 12-16
Lekosit 8.7 4.0-10
Eritrosit 3.70 4.2-5.4
Hematokrit 33.0 37-43
Trombosit 385 200-400
MCV 89.5 80-90
MCH 29.7 27-34
MCHC 33.3 32-36
RDW 12.8 10-16
MPV 8.8 7-11
PCT 0.338 0.2-0.5
PDW 13.2 10-18
Kimia klinik
Gula darah puasa 286 74-106
Gula darah 2 jam pp 186 <120
Pemeriksaan Hasil Nilai rujukan
Ureum 35.3 10-50
Creatinin 0.82 0.45-0.75
SGOT 11 0-35
SGPT 7 0-35
Protein total 6.81 6-8
Albumin-globulin
Albumin 2.61 3.4-4.8
Globulin 4.20 2.0-4.0
Uric acid 4.15 2-7
Cholesterol 227 <225
HDL-LDL
Cholesterol
HDL Cholesterol 27 34-82
LDL Cholesterol 170 <130 dianjurkan
130-159 risiko sedang
=>160 risiko tinggi
Triglycerid 150 70-140
Hitung GFR (COCKCROFT & GAULT 1976)

GFR = (140-umur) X BB (KG) X 0,85
72 X serum creatinin
= (140-36) X 49 X 0,85
72 X 0,82
= 104 X 49 X 0,85
59,04
= 86,3 X 0,85 = 73,3

1. Kerusakan ginjal GFR normal : >90
2. Kerusakan ginjal GFR ↓ ringan : 60-89
3. Kerusakan ginjal GFR ↓sedang : 30-59
4. Kerusakan ginjal GFR ↓berat : 15-29
5. Gagal ginjal : < 15 atau dialisis
Follow up
Date Subject Object Assessme Therapy Planning
nt
14- Nyeri kaki kiri TD : 110/70 mmHg Myalgia Terapi lanjut GDS
11- sudah N : 76x/m DM tipe 2 Dosis noverapid
2013 berkurang, sakit RR : 18x/m non dinaikkan 3x16
kepala (+), S : 36°C obesitas Unit
lemas (+) GDS : 232 dengan Metformin 3x
KU : baik, compos komplikasi 500mg
mentis neuropati
Kekuatan otot kaki dan
kiri (5) nefropati
Dispepsia
15- Nyeri kaki (-), TD : 110/70 mmHg Myalgia Metformin 3x Pulang
11- pusing (-), N : 80 x/m DM tipe 2 500mg
2013 lemas (-), RR : 20 x/m non Glikuidon tab
Tidak ada S : 36,4°C obesitas 30mg 3x/hari
keluhan lain GDS : 291 komplikasi
Pasien minta KU : baik, compos neuropati
pulang. mentis dan
Kekuatan otot kaki nefropati
kiri (5) Dispepsia
 DEFINISI

Diabetes melitus merupakan suatu penyakit
metabolik dengan karakteristik hiperglikemia
yang terjadi karena kelainan sekresi insulin,
kerja insulin, atau kedua-duanya.

 ETIOLOGI

DM tipe 2 disebut juga Non Insulin Dependent
Diabetes Mellitus (NIDDM) disebabkan karena
kegagalan relatif sel β dan resistensi insulin.
GEJALA KLINIS

 - Banyak makan (polifagia)
 - Sering merasa haus (polidipsia)
 - Sering kencing (poliuria) terutama malam hari
 - Lemas
 - Berat badan menurun
 - Kesemutan pada jari tangan dan kaki
 - Gatal-gatal
 - Penglihatan kabur
 - disfungsi ereksi pada pria
 - Pruritus vulva pada wanita
 - Luka sukar sembuh
Faktor
resiko

Bisa di modifikasi:
-Overweight (IMT
>23 kg/m2) Tidak bisa
-Kurang aktivitas dimodifikasi :
-Hipertensi (TD ≥ -Riwayat keluarga Faktor lain :
140/90 mmHg) DM -Infeksi
-Dislipidemia -Umur -Sindroma
Kolesterol HDL ≤ -Riwayat DM metabolik
35 mg/dL atau gestational
trigliserid ≥ 250 -Riwayat BBLL
mg/dL
Table : Kadar glukosa darah sewaktu dan glukosa
darah puasa sebagai patokan penyaring dapat dilihat
pada table berikut ( dalam mg/dL) :

Bukan Belum DM
DM pasti DM
Kadar Plasma vena < 100 100 - 199 ≥ 200
glukosa Darah kapiler < 90 90 - 199 ≥ 200
darah
sewaktu
Kadar Plasma vena < 100 100 – 125 ≥126
glukosa Darah kapiler < 90 90 - 99 ≥ 100
darah puasa
Cara pelaksanaan TTGO (WHO, 1994 )
 3 hari sebelum pemeriksaan tetap makan seperti kebiasaan sehari-
hari, tetap melakukan kegiatan jasmani seperti biasa

 Berpuasa minimal 8 jam (mulai malam hari) sebelum pemeriksaan,
minum air putih tanpa gula tetap diperbolehkan

 Diperiksa kadar glukosa darah puasa
 Diberikan glukosa 75 gram (dewasa), atau 1,75 gram/kgBB (anak-
anak), dilarutkan dalam air 250 ml dan diminum dalam waktu 5 menit

 Berpuasa kembali sampai pengambilan sampel darah untuk
pemeriksaan 2 jam setelah minum larutan glukosa selesai

 Diperiksa kadar glukosa darah 2 jam sesudah beban glukosa

 Selama proses pemeriksaan, subyek yang diperiksa tetap istirahat
dan tidak merokok
Edukasi

Terapi Gizi Medis

PENATALAKSANAAN

Latihan jasmani

Intervensi farmakologis
I. Edukasi

 Perjalanan penyakit DM
 Perlunya pengendalian dan pemantauan DM
 Penyulit DM dan risikonya
 Intervensi farmakologis dan non-farmakologis serta target
perawatan
 Interaksi antara asupan makanan, aktifitas fisik, dan obat
hipoglikemik oral atau insulin
 Cara pemantauan glukosa darah dan pemahaman hasil
glukosa darah
 Mengatasi sementara keadaan gawat darurat
 Pentingnya latihan jasmani yang teratur
 Pentingnya perawatan diri
II. Terapi gizi medis (TGM)
a. Karbohidrat : 45-65 % total asupan energi
b. Lemak : 20 – 25% kebutuhan kalori
 - Lemak jenuh < 7% kebutuhan kalori
 - PUFA < 10 %, selebihnya dari MUFA
 c. Protein : 15 – 20% total asupan energi
 d. Garam : = anjuran untuk masyarakat
umum yaitu tidak lebih dari 3000 mg
e. Serat : ± 25 g/hari, diutamakan serat larut
f. Pemanis
(PUFA = Polyunsaturated fatty acid)
(MUFA = Monounsaturated fatty acid)
Kebutuhan kalori
 Tentukan BB ideal : 90 % x ( TB dalam cm - 100) x 1 kg
 Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori :
1. Jenis kelamin : Kebutuhan kalori wanita sebesar 25 kal
/ kg BB dan untuk pria sebesar 30 kal / kg BB
2. Umur : 40-59 tahun - ( 5 % )
60-69 tahun - ( 10 % )
> 70 tahun - ( 20 % )
3. Aktifitas fisik : istirahat + ( 10 % )
aktifitas ringan +( 20 % )
aktifitas sedang + ( 30 % )
aktifitas sangat berat + ( 50 % )
4. Berat badan : kegemukan - ( 20 – 30 % )
kurus + ( 20 – 30 % )
III. Latihan jasmani

 Kegiatan jasmani sehari – hari dan latihan
jasmani secara teratur ( 3 – 4 kali seminggu
selama ± 30 menit )
 Jalan kaki, bersepeda santai, jogging, dan
berenang
 Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan
dengan umur dan status kesegaran jasmani
- Pemicu sekresi insulin ( insuline secretagogue)
: sulfonilurea dan glinid
- Penambah sensitifitas terhadap insulin :
metformin, tiazolidindion
OHO - Penghambat glukoneogenesis : metformin
- Pengambat absorpsi glukosa :
penghambat glukosidase α (acarbose)

Intervensi

farmakologis
-Insulin kerja cepat
-Insulin kerja pendek
Insulin -Insulin kerja menengah
-Insulin kerja panjang
-Insulin kerja campuran tetap
Gol. Sulfonilurea
Generasi 1 : tolbutamid, tolazamid, asetoheksimid dan
klorpropamid
Generasi 2 : glibenkamid, glipizid, glimepirid, glikasid

Mekanisme Kerja : merangsang sekresi insulin dari
granul sel – sel β Langerhans pancreas.
 Rangsangan melalui interaksinya dengan ATP-
sensitive K channel pada membran sel – sel β 
menimbulkan depolarisasi membran  membuka
kanal Ca.
 Dengan terbukanya kanal Ca  ion Ca++ akan masuk
sel β  merangsang granula yang berisi insulin 
terjadi sekresi insulin dengan jumlah yang ekuivalen
dengan peptida-C.
Farmakokinetik
 absorpsi melalui saluran cerna cukup efektif.
Makanan dan keadaan hiperglikemia dapat
mengurangi absorpsi. Untuk mencapai kadar
optimal di plasma
 masa paruh pendek akan lebih efektif bila
diminum 30 menit sebelum makan
 dalam plasma sekitar 90%-99% terikat protein
plasma terutama albumin.
 metabolisme di hepar
 ekskresi melalui ginjal  tidak boleh diberikan
pada pasien gangguan fungsi hati atau ginjal
yang berat.
Efek Samping
 Hipoglikemia, bahkan sampai koma tentu dapat
timbul.
 Efek samping lain : reaksi alergi jarang sekali
terjadi, mual, muntah, diare, gejala hematologik
antara lain leukopenia dan agranulositosis,
gejala susunan saraf pusat berupa vertigo,
bingung, ataksia dan sebagainya
Peringatan : pada pasien gangguan hati dan ginjal

Interaksi obat : Obat yang dapat meningkatkan
risiko hipoglikemia sewaktu penggunaan
sulfonilurea adalah insulin, alkohol, fenformin,
sulfonamid
Gol. Meglitinid
 Repaglinid dan nateglinid merupakan golongan
meglitinid, makanisme kerjanya sama dengan
sulfonilurea tetapi struktur kimianya sangat berbeda.
Golongan ini merangsang insulin dengan menutup
kanal K+ yang ATP=independent di sel β pancreas.
 Pada pemberian oral absorpsinya cepat dan kadar
puncaknya dicapai dalam waktu 1 jam.
 Masa paruhnya 1 jam, karenanya harus diberikan
beberapa kali sehari sebelum makan
 Metabolisme utamanya di hati dan metabolitnya
tidak aktif. Sekitar 10% dimetabolisme di ginjal.
 Pada pasien dengan gangguan fungsi hati atau
ginjal harus diberikan secara berhati – hati.
 Efek samping utamanya hipoglikemia dan gangguan
saluran cerna. Reaksi alergi juga pernah dilaporkan.
Gol. Biguanid
Mekanisme Kerja
 tidak menyebabkan rangsangan sekresi insulin dan umumnya
tidak menyebabkan hipoglikemia.
 menurunkan produksi glukosa di hepar dan meningkatkan
sensitivitas jaringan otot dan adipose terhadap insulin.
 efek ini terjadi karena adanya aktivasi kinase di sel (AMP-
activated protein kinase). Biguanid tidak merangsang ataupun
menghambat perubahan glukosa menjadi lemak.
 absorpsi di usus, dalam darah tidak terikat protein plasma,
ekskresinya melalui urin dalam keadaan utuh. Masa paruhnya
sekitar 2 jam.
 Dosis awal 2 × 500 mg, umumnya dosis pemeliharaan
(maintenance dose) 3 × 500 mg, dosis maksimal 2,5 gram.
 Obat diminum pada waktu makan.
 Pasien diabetes mellitus yang tidak memberikan respon dengan
sulfonilurea dapat di atasi dengan metformin, atau dapat pula
diberikan sebagai terapi kombinasi dengan insulin atau
sulfonilurea.
 Efek Samping : Hampir 20% pasein dengan
metformin mengalami mual, muntah, diare serta
kecap logam (metallic taste). Pada pasien dengan
ganggua ginjal atau sistem kardiovaskular, pemberian
biguanid dapat menimbulkan peningkatan kadar
asam laktat dalam darah  dapat mengganggu
keseimbangan elektrolit dalam cairan tubuh.

 Indikasi : Sediaan biguanid tidak dapat menggantikan
fungsi insulin endogen dan digunakan pada terapi
diabetes dewasa.

 Kontraindikasi : Biguanid tidak boleh diberikan pada
kehamilan, pasien penyakit hepar berat, penyakit
ginjal dengan uremia dan penyakit jantung kongestif
dan penyakit paru denga hipoksia kronik.
Gol. Penghambat α-glikosidase
 Mekanisme Kerja : memperlambat absorpsi polisakarida (Starch),
dekstrin, dan disakarida di usus. Dengan menghambat kerja enzim
α-glikosidase di brush border intestin, dapat mencegah peningkatan
glukosa plasma pada orang normal dan pasien diabetes mellitus.
Karena kerjanya tidak mempengaruhi sekresi insulin, maka tidak
akan menyebabkan efek samping hipoglikemia.

 Obat golongan ini diberikan pada waktu mulai makan dan
absorpsinya buruk.

 Efek Samping : Malabsorpsi, flatulen, diare, dan abdominall bloating.
Untuk mengurangi efek samping ini sebaiknya dosis dititrasi, mulai
dosis awal 25 mg pada saat mulai makan selama ± 8 minggu,
kemudian secara bertahap ditingkatkan setiap 4 – 8 minggu sampai
dosis maksimal 75 mg setiap tepat sebelum makan. Dosis yang
lebih kecil dapat diberikan dengan makanan ringan.
Gol. Tiazolidinedion
 Mekanisme Kerja : Insulin merangsang pembentukan dan
translokasi GLUT ke membran sel di organ perifer. Ini terjadi karena
insulin merangsang Peroxisome proliferators-activated receptor γ
(PPARγ) di inti sel dan mengaktivasi insulin-responsive genes, gen
yang berperan pada metabolisme karbohidrat dan lemak.

 Indikasi
Pemberian glitazon digunakan untuk diabetes mellitus tipe 2 yang tidak
memberi respons dengan diet dan latihan fisik, sebagai monoterapi atau
ditambahkan pada mereka yang tidak memberi respons pada obat
hipoglikemik lain (sulfonilurea, metformin) atau insulin.

 Efek Samping
peningkatan berat badan, edema, menambah volume plasma dan
memperburuk gagal jantung kongestif. Edema sering terjadi pada
penggunaannya bersama insulin. Tidak dianjurkan pada gagal jantung
kelas 3 dan 4 menurut klasifikasi NYHA. Hipoglikemia pada
penggunaan monoterapi jarang terjadi.
Indikasi insulin

 Penurunan berat badan yang cepat
 Hiperglikemia berat yang disertai ketosis
 Ketoasidosis diabetik
 Hiperglikemia hiperosmolar nonketotik
 Hiperglikemia dengan asidosis laktat
 Gagal dengan kombinasi OHO dosis hampir
maksimal
 Stres berat ( infeksi sistemik, operasi besar, IMA,
stroke )
 Diabetes melitus gestasional yang tidak terkendali
dengan TGM
 Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat
 Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO
Sediaan insulin
Prinsip:
1. Kerja cepat : (lispro dan aspart)
 Onset of action dan duration of action sangat cepat
 Onset of action : 5-15 menit (lispro); 10-12
menit(aspart)
 Puncak : 1 jam
 Duration of action : 3-5 jam
 menyerupai sekresi insulin endogen secara fisiologis
pada saat makan
 Pemberian :SC, CSII
 Dapat dicampur dengan NPH, lente, atau ultralente
dalam satu siring tanpa mempengaruhi absorpsi
 Diberikan segera sebelum makan (5 menit sebelum
makan)
Sediaan insulin
2. Kerja pendek: (regular insulin)
 Onset of action cepat
 Onset of action : 30 menit (lispro)
 Puncak : 2 dan 3 jam
 Duration of action : 5-8 jam
 Hexamer  mula kerja dan lama kerjanya
lebih lama
 Pemberian : dapat diberikan iv (ketoasidosis,
setelah operasi atau infeksi akut)
 Diberikan 30 menit sebelum makan
Sediaan insulin
3. Kerja sedang : (lente,NPH)insulin
 Lente insulin:
 Campuran 30% semilente (onset of action cepat) +
70% ultralente insulin (onset and duration of action
panjang)
 NPH
 onset of action lambat
 Terdiri dari kombinasi protamin dan insulin
 Setiap molekul protamin mengandung 6 molekul
insulin
 Setelah pemberian SC, enzim proteolitik jaringan
mendegradasi protamin  insulin dapat diabsorpsi
Sediaan insulin
4. Kerja panjang:
 ultra lente
 Glargin insulin
 Onset of action: 1-1,5 jam
 Duration of action: 11-24 jam atau lebih
 Biasanya diberikan 1 kali sehari tapi, kadang-
kadang 2 kali sehari.
 Tidak dapat dicampur dengan insulin lain dalam
satu siring
 Pola absorpsi tergantung tempat injeksi
Sliding scale
GDS RI RI
200-250 5U 4U
250-300 10 U 8U
300-350 15 U 12 U
>350-400 20 U 16 U
>400 25 U

-Tiap 6 jam cek GDS selama 24 jam → insulin yang masuk
dijumlah kemudian dibagi 3

- untuk hari berikutnya = 3 X y U (y = hasil pembagian diatas
Cara pemberian insulin
PENGENDALIAN DM
Baik Sedang Buruk

Glukosa darah 80-100 100-125 ≥ 126
puasa(mg/dL) 80-144 145-179 ≥ 180
Glukosa darah 2jam(mg/dL)
A1C < 5,5 6,5-8 >8

Kolesterol total (mg/dL) < 200 200-239 ≥ 240

Kolesterol LDL (mg/dL) < 100 100-129 ≥ 130

Kolesterol HDL (mg/dL > 45

Trigliserida (mg/dL) < 150 150 -199 ≥200

IMT ( kg/m²) 18,5-23,0 23 - 25 > 25

Tekanan darah (mmHg) ≤ 130/80 130-140/80-90 > 140/90
PENYULIT DM

I. I. Penyulit akut
1. Ketoasidosis diabetik
2. Hiperosmolar nonketotik
3. Hipoglikemia
v Ketoasidosis diabetik (KAD)

- kondisi dekompensasi metabolik akibat defisiensi
insulin absolut ataupun relatif
 - Faktor pencetus : infeksi, infark miokard akut,
pankreatitis akut, penggunaan obat golongan steroid,
menghentikan atau mengurangi dosis insulin
 - Gambaran klinis utama : gejala khas yang semakin
meningkat, berupa poliuria, berat badan menurun,
kelemahan umum, mata kabur, mual, muntah,
kemudian penurunan kesadaran sampai koma. Pada
pemeriksaan jasmani didapatkan keadaan dehidrasi,
hipotensi, takikardi, dan pernapasan Kussmaul.
Patofisiologi KAD
v Hipoglikemia

 - Menurunnya kadar glukosa darah hingga < 60
mg/dL
 - Sering terjadi karena kelebihan obat, makan tidak
adekuat kegiatan jasmani yang berlebihan
 - Gejala hipoglikemia terdiri dari gejala adrenergik (
berdebar, benyak keringat, gemetar, rasa lapar,
mata kabur ) dan gejala neuro-glikopenik ( pusing,
gelisah, kesadaran menurun sampai koma).
Komplikasi

 1. Makroangiopati :
- Pembuluh darah jantung
- Pembuluh darah perifer
- Pembuluh darah otak

2. Mikroangiopati :
- Retinopati diabetik
- Nefropati diabetik
- Neuropati