You are on page 1of 40

IWAN SETIAWAN

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
BRAIN STEM LESIONS

 Diseases of the brain stem can result to abnormalities


in the function of cranial nerves which may lead to
visual disturbances, pupil abnormalities, changes in
sensation, muscle weakness, hearing problems,
vertigo, swallowing and speech difficulty, voice
change, and co-ordination problems.
ANATOMY BRAIN STEM
ETIOLOGY

Common Causes: Brain stem lesions


Some of the possible common medical causes of Brain stem lesions
may include:
 Infarcts
 Hemorrhages
 Tumors
 Trauma
Other Causes:
Some of the less common causes of Brain stem lesions may include:
 Meningitis
 Encephalitis
 Demyelinating diseases
 Autism
 Encephalopathy
ETIOLOGY

 Multiple sclerosis (MS) is a disease that affects the


central nervous system. It damages the protective
layer around nerve cells in the brain, called myelin.
 MS may damage different parts of the brain or spinal
cord, including the brainstem.
NERVI CRANIALIS
N.Olfactorius (I)

 Gangguan penghidu KUANTITATIF, akibat kerusakan


n.olfaktorius di perifer, misalnya akibat rinitis, trauma
karena kerusakan fila di lamina kribriformis, meningioma di
sulkus olfaktorius :
 HIPOSMIA : berkrangnya bau
 ANOSMIA : hilan atau tidak ada bau
 Gangguan penghidu KUALITATIF, akibat disfungsi sentral
spt epilepsi lobus temporalis :
 KAKOSMIA : Bau tidak menyenangkan
 HIPEROSMIA : bau yang sangat kuat secara abnormal
N.Opticus (II)

 Lesi di papila (papiledema) : akibat hipertensi


intrakranial dan berbagai gangguan metabolik
 Lesi segmen anterior : disebabkan oleh vaskulitis
(mis, arteritis temporalis)
 Lesi retrobulbair : pada sklerosis multiple (neuritis
retrobulbar)
 Lesi khiasma Optikum : akibat tumor hipofisis,
kraniofaringioma atau meningioma tuberkulum sellae
Visual Field Defect

 2 : lesi traktus optikus


 3 : lesi khiasma optikus
hemianopsia bitemporalis
 6 : lesi radiasio optikus
N.Opticus (II)
N.Opticus (II)

 Visual field defects


 Pupillary abnormalities
 Optic neuritis (pain on moving the eye, loss of central
vision, afferent pupillary defect, papilloedema). Causes:
demyelination; rarely, sinusitis, syphilis, collagen
vascular disorders.
 Optic atrophy (pale optic discs and reduced acuity): MS,
frontal tumours, Friedreich's ataxia, retinitis
pigmentosa, syphilis, glaucoma, Leber's optic atrophy,
optic nerve compression.
 Papilloedema (swollen discs):
 Raised intracranial pressure (ICP) (tumour, abscess, encephalitis,
hydrocephalus, benign intracranial hypertension).
 Retro-orbital lesion (eg, cavernous sinus thrombosis).
 Inflammation (eg, optic neuritis).
 Ischaemia (eg, accelerated hypertension).
N.Oculomotor (III)

 Cabang superior mempersarafi : m.levator palpebra dan


m.rektus superior
 Cabang inferior mempersarafi : m.rektus medialis, m.rektus
inferior dan m.obliquus inferior
 Kelumpuhan :
 Ptosis (paralisis m.levator palpebrae)
 Posisi mata terfiksasi (posisi kebawah dan keluar)
 Dilatasi pupil
 Oftalmoplegia interna (kelumpuhan n.III terisolasi) : kerusakan
selektif pada serabut parasimpatis n.okulomotorius
 Oftalmoplegia externa : ketika motilitas bola mata terhambat,
tetapi persarafan otonom (parasimpatis) masih intak
N.Trochlear (IV)

 Mempersarafi : m. Obliquus superior, untuk gerakan


ke bawah, rotasi interna, abduksi ringan
 Kelumpuhan : mata yang terkena berdeviasi ke atas
dan sedikit ke dalam, deviasi paling jelas dan diplopia
paling extrem ketika pasien melirik ke bawah dan ke
dalam.
 Penyebab tersering : trauma (30-60%), lesi vaskuler,
dan tumor.
N.Trigeminus (V)

 Ganglion Trigeminale membentuk tiga buah cabang :


ophthalmicus, maxillaris dan mandibularis. Saraf ini
mempunyai komponen yang terdiri dari serabut
sensorik dan serabut motorik .Cabang Ophthalmicus
mempersarafi kulit di atas hidung tengah, dahi dan
mata (somatosensorik di membran mukosa 
corneal reflex)
 Lesi nuklear atau perifer jaras motorik trigeminalis
menimbulkan kelemahan flasid pada otot-otot
pengunyah (dapat terdeteksi dari kontraksi
m.maseter dan m.temporalis)
N.Trigeminus (V)

 Neuralgia Trigeminal : ditandai nyeri hebat dan tajam yang


paroksismal pada distribusi satu atau lebih cabang nervus
trigeminus. Diduga akobat kompresi radiks trigeminalis
oleh pembuluh darah (arteri serebeli superior), yang
melingkar mengelilingi bagian proksimal radiks yang tidak
bermielinsegera setelah keluar dari pons.
 Penyebab : tersering adalah MS, yang jarang adalah lesi
pada gigi, sinsitis, fraktur tulang, tumor di hidung atau
mulut
N.Abduscen (VI)

 Anatomi : di dalam sinus, nervus kranialis III, IV, dan VI


memiliki hubungan spasial yang erat dengan cab pertama
dan kedua n.V, serta a.carotis interna. Nervus abduscen
mempunyai perjalanan terpanjang dalam ruang
subaraknoid
 Kelumpuhan : mata yang terkena akan berdeviasi ke
dalam pada tatapan primer (lurus ke depan) dan tidak
dapat diabduksi, karena kelumpuhan m.rektus lateralis.
Terjadi strabismus konvergen
 Penyebab : MS, tumor dan lesi vaskuler. Dapat juga
disebabkan meningitis, perdarahan subaraknoid, serta
akibat peningkatan TIK (hipertensi intrakranial)
N.Facialis (VII)

 Anatomi : otot-otot dahi mendapatkan persarafan


supranuklearnya dari kedua hemisfer serebri, tetapi
otot-otot ekspresi wajah lainnya hanya dipersarafi
secara unilateral, yaitu oleh korteks presentralis
kontralateral.
N.Facialis (VII)

 Kelumpuhan n.facialis idiopatik.


 Bell’s Palsy : gangguan n.facialis yang peling sering
terjadi dan penyebabnya masih belum diketahui .
 Penyebab kelumpuhan :
 LMN: Bell's palsy, polio, otitis media, skull fracture,
cerebellopontine angle tumor, parotid tumor, herpes
zoster optikus (Ramsay Hunt syndrome), Lyme disease.
 UMN : stroke, tumor, abses serebri
N.Facialis (VII)

 Nervus Intermedius :
 Serabut aferen gustatorik utk pengecapan di
duapertiga anterior lidah menuju nukleus traktus
solitarius (nukleus rellay utk serabut gustatorik)
dalam nukleus ini juga menerima serabut gustatorik
dari n.glosofaringeus untuk pengecapan di sepertiga
posterior dan dari n.vagus yang mempresentasikan
pengecapan di epiglotis
N.Vestibulocochlear (VIII)

 Sistem vestibularis : terdiri dari labirin, nervus vestibularis,


dan nuklei vestibularis di batang otak (balance and
posture)
 Sisten Auditoris: nervus kokhlearis yang dibentuk oleh
prosesus sentral sel ganglion spirale (hearing)
 Kelumpuhan : Unilateral sensorineural deafness, tinnitus,
Meniere’s disease, vertigo
 Penyebab : Loud noise; herpes zoster; neurofibroma,
acoustic neuroma, brainstem CVA, lead, aminoglycosides,
furosemide, aspirin.
N.Glossopharingeal (IX)

 Anatomi : mengandung serabut sensorik, dan


motorik (stylopharyngeus) dan serabut parasympatis
(salivary glands). Mempersarafi pangkal lidah,
mukosa faring, tonsil, dan sepertiga posterior lidah.
 Sindroma klinis : hilangnya pengecapan pada 1/3
posterior lidah, hilangnya refleks muntah, dysfagia,
gangguan salivasi, anestesi dan analgesia pada bagian
atas faring
N.Vagus (X)

 Nervus Vagus mengandung serabut motorik (to the


palate and vocal cords), serabut sensorik dan serabut
visceral afferent dan efferent. Meninggalkan otak
melalui foramen jugularis, berjalan mengikuti
a.Karotis internus dan a.karotis komunis ke bawah,
berjalan melalui appertura toracis superior  melekat
di esofagus melalui hiatus esofagus diafragma 
masuk ke dalam rongga abdomen
N.Vagus (X)

 Sindrome lesi nervus vagus unilateral


 Palatum mole pada sisi lesi jatuh, reflks muntah
menghilang, pasien berbicara dari hidung
 Suara serak terjadi akibat paresis plika vokalis
 Dysfagia, kadang2 takikardi, serta aritmia jantung
 Penyebab : malformasi (chiari, Dandy-walker),
trauma, brainstem lesions, tumor cerebellopontine
angle, perdarahan, infeksi, inflamasi, ALS, neuritis,
aneurisma aorta.
N.Accesories (XI)

 Anatomi: memiliki dua pasang radiks, yaitu radiks


kranialis dan spinalis. Radiks kranialis bejalan bersama
nervus vagus
 Kelumpuhan mengenai radiks spinalis: kesulitan
menoleh kepala (kelemahan unilateral
m.sternikleidomatoideus ), kepala tidak dapat
dipertahankan posisi tegak (kelemahan bilateral),
pundak terjatuh/ tak bisa diangkat (kelemahan
m.trapezius)
N.Hypoglossal (XII)

 Anatomi : merupakan saraf somatik eferen. Keluar dari


tengkorak melalui kanalis hipoglusus dan berjalan di regio
servikal bawah di antara vena jugularisdan arteri karotis
 Kelumpuhan : kelumpuhan unilateral lidah sedikit
terdeviasi ke arah sisi yg paresis. Kelumpuhan supranuklear
bilateral (UMN) menyebabkan disartria dan disfagia yang
berat. Lesi nuklear yang mengenai n.hipoglosusterjadi
paralisis flasid bilateral pada lidah dengan atrofi dan
fasikulasi
 Penyebab : kelumpuhan bulber progresif, ALS,
siringobulbi, poliomyelitis, dan vaskuler
Combined cranial nerve lesions

 VII, VIII, then V and sometimes IX: cerebellopontine


angle tumours.
 V, VI (Gradenigo's syndrome): lesions within the
petrous temporal bone.
 Combined III, IV, VI: stroke, tumours, Wernicke's
encephalopathy, aneurysms, MS, myasthenia gravis,
meningitis, muscular dystrophy, myotonic dystrophy,
cavernous sinus thrombosis, GBS, cranial arteritis,
trauma and orbital pathology
ANATOMY BRAIN STEM
NUCLEUS NERVI CRANIALIS
BRAIN STEM STROKE

 Brain stem strokes can have


complex symptoms, and they
can be difficult to diagnose
 A person may have vertigo,
dizziness and severe imbalance
without the hallmark of most
strokes – weakness on one
side of the body.
 The symptoms of vertigo
dizziness or imbalance usually
occur together; dizziness alone
is not a sign of stroke.
BRAIN STEM STROKE
BRAIN STEM STROKE

 Hemiplegia Alternan : kombinasi defisit saraf kranial


pada sisi lesi dengan kelemahan separuh tubuh pada
sisi kontralateral.
 Brain stem stroke dapat juga menyebabkan diplopia,
disartria dan penurunan kesadaran.
BRAIN STEM STROKE

PICA (posterior inferior cerebellar artery) syndrome.


 PICA syndrome juga dikenal “sindrome medularis
dorsolateralis", or "Wallenberg's syndrome", onset
mendadak dengan vertigo, nistagmus, disartria dan
disfonia.
Dejerine syndrome ( sindroma medularis medialis)
 Akibat oklusi ramus paramedianus arteria vertebralis
atau arteria basilaris, umumnya billateral.
Kelumpuhan flasid n.hipoglusus ipsilateral, hemiplegi
kontralateral serta nistagmus
BRAIN STEM STROKE

 Sindroma Basis Pontis kaudalis (Millard-Gubler


sindrome) :
 Akibat oklusi ramus sirkumferensialis a.basilaris
 Klinis : kelumpuhan n.abduscen perifer dan kelumpuhan
n.fasialis ipsilateral, hemiplegi kontralateral, analgesia,
gangguan sensasi raba, posisi, serta getar kontralateral
BRAIN STEM STROKE

 Weber's syndrome (sindrome pedunkulus serebri),


kerusakan di midbrain, akibat oklusi ramus
interpedunkularis arteri serebri posterior
 Klinis : kelumpuhan nervus okulomotorius ipsilateral,
hemiparesis spastik konralateral, rigiditas parkinsonism
kontralateral.
BRAIN STEM STROKE

Sindrom nukleus Ruber (sindrome Benedikt) :


 Akibat oklusi ramus interpedunkularis a.basilaris arteri
serebri posterior
 Klinis : kelumpuhan n.oklulomotorius ipsilateral
dengan midriasis, gangguan sensasi raba, posisi, dan
getar kontralateral, hiperkinesia kontralateral
(tremor, chorea,atetosis), rigiditas kontralateral
BRAIN STEM STROKE

 Sindrome Tegmentum Pontis Orale :


 Akibat : oklusi ramus sirkumferensialis longus a.basilaris
dan arteria serebelaris poterior.
 Klinis : hilangnya sensasi wajah ipsilateral, paralisis otot
pengunyah, hemiataksia, intention tremor, gangguan
semua modalitas sensorik kontralateral
Infark di Brainstem