You are on page 1of 90

DISKUSI PLENO

MODUL 3
KELOMPOK 24D
SKENARIO 3:
PENGALAMAN DOKTER PUSKESMAS

Dokter Mediko, bekerja di puskesmas, menerima pasien wanita usia 25 tahun yang diantarkan oleh masyarakat dan
keluarganya.Dari informasi yang diterima, pasien mengendarai sepeda motor tanpa menggunakan helm dan menabrak
pembatas jalan. Setelah kecelakaan pasien tidak sadar dan tampak keluar cairan berwarna merah dari hidung dan
telinga.
Pada pemeriksaan didapatkan patentairway, nafas 28 kali permenit, nadi 120 kali, tekanan darah 90/70 mm hg, GCS 13.
Pada pemeriksaan ditemukan tanda “racoon eyes”, otorhea dan rhinorhea. Dr.Mediko segera melakukan stabilisasi
leher, memasang infus RL dengan tetesan cepat dan memasang kateter urin. Karena kondisi pasien kritis dan gelisah,
maka Dr.Mediko berinisiatif untuk mendampingi pasien ke rumah sakit. Dalam perjalanan diatas ambulans, ditemukan
hematuria. Dokter Mediko berpikir adanya kemungkinan trauma pada saat pemasangan kateter atau ada diagnosis lain.
Pihak keluarga berusaha untuk memperoleh santunan dari asuransi kecelakaan lalu lintas, dan untuk itu mereka harus
menghubungi pihak kepolisian setempat. Mereka juga harus mengisi beberapa formulir rekam medis yang terkait
dengan perawatan di rumah sakit untuk kepetingan dokumentasi penagihan klaim tersebut.
Bagaimana anda menjelaskan apa yang terjadi pada pasien tersebut dan apakah ada kemungkinan terjadinya adverse
effect ?
1. Patent Airway

Memastikan adanya jalur nafas terbuka tanpa hambatan antara paru


dengan lingungan luar
2. Racoon Eyes

Ekimosis bilateral di daerah periorbital

3. Otorhea

TERMINOLOGI Keluarnya secret (darah, cairan, CSF) dari telinga

4. Rhinorhea

Keluarnya cairan dari dalam rongga hidung

5. Hematuria

Adanya darah (sel darah merah) di dalam urin, baik secara makroskopik
maupun mikroskopik.
1. Mengapa pasien tidak sadar dan keluar cairan berwarna
merah dari hidung dan telinga setelah kecelakaan?
2. Apa saja yang harus diperhatikan dokter saat ada pasien
kecelakaan?
3. Bagaimana interpretasi pemeriksaan yang dilakukan
dokter?
4. Mengapa segera dilakukan stabilisasi leher, pemasangan
infus RL tetesan cepat, dan kateter urin?
RUMUSAN
5. Apa yang harus dilakukan jika ditemukan raccoon eyes?
MASALAH
6. Mengapa di perjalanan pasien ditemukan hematuria?
7. Mengapa pasien dirujuk oleh dr. Mediko dan mengapa
dr. Mediko berinisiatif mendampingi pasien?
8. Bagaimana prosedur memperoleh santunan dari
asuransi kecelakaan dan apa saja yang harus
diperhatikan dalam melakukan hal tersebut?
9. Apa kemungkinan terjadi adverse effect pada pasien
tersebut?
HIPOTESIS
1. Mengapa pasien tidak sadar dan keluar cairan berwarna merah
dari hidung dan telinga setelah kecelakaan?
• Pasien kemungkinan mengalami cedera kepala yang mengakibatkan terjadinya
sistem ARAS dan terjadilah gangguan kesadaran.
• Cairan keluar dari hidung dan telinga kemungkinan telah terjadi fraktur pada
basis cranii. Fraktur pada basis cranii anterior mengenai bagian etmoid dan
sfenoid sehingga dapat terjadi perdarahan melalui hidung, dan fraktur pada
basis cranii medial mengenai bagian temporal sehingga dapat terjadi
perdarahan melalui telinga
2. Apa saja yang harus diperhatikan dokter saat ada pasien
kecelakaan?
• Primary survey : ABCDE
• Secondary survey : head to toe
• Mekanisme trauma; apakah pasien sebagai penumpang atau pengemudi, dimana
posisi kendaraan dan pasien saat kecelakaan, bagian tubuh mana yang terkena
lebih dulu, dari mana arah benturan
• Lingkungan; ada fraktur terbuka/tidak
• Keadaan sebelum kejadian dan faktor predisposisi; riwayat mengkonsumsi
alkohol dan obat terlarang, apakah pernah trauma pada bagian tubuh yang sama
3. Bagaimana interpretasi pemeriksaan yang dilakukan dokter?
• Patent airway : tidak ada gangguan jalan nafas
• Nafas 28x/menit : takipnea
• Nadi 120x/menit : takikardi
• TD 90/70 : hipotensi
• GCS 13 : cedera kepala sedang
• Raccoon eyes : khas pada fraktur basis cranii berupa perdarahan pada
periorbita
• Rinorhea : fraktur basis cranii anterior
• Otorhea : fraktur basis cranii medial
4. Mengapa segera dilakukan stabilisasi leher, pemasangan infus RL
tetesan cepat, dan kateter urin?
• Stabilisasi leher : untuk menghentikan perdarahan, menjaga pergerakan kepala
dan jalan nafas
• Infus RL tetesan cepat : menormalkan oksigenasi jaringan
• Kateter urin : mengosongkan vesika urinaria dan menilai sirkulasi
5. Apa yang harus dilakukan jika ditemukan raccoon eyes?
• Pemeriksaan tanda vital, cari penyebab utama
• Pemeriksaan kesadaran : GCS
• Evaluasi saraf-saraf kranial terutama nervus 1, 3, 4, 6, 7
• Tes penglihatan dan pendengaran
• Kelainan lain : pembengkakan, nyeri terlokalisir, battle sign, laserasi, ekimosis
pada daerah mastoid, perdarahan/keluar LCS dari hidung/telinga
6. Mengapa di perjalanan pasien ditemukan hematuria?
• Pemasangan dan pelepasan kateter. Kateter belum masuk ke vesika urinaria
tapi balon sudah dikembangkan
• Trauma ginjal/vesika urinaria pasien karena kecelakaan
• Fraktur pelvis
7. Mengapa pasien dirujuk oleh dr. Mediko dan mengapa dr. Mediko
berinisiatif mendampingi pasien?
Pasien dirujuk karena butuh penatalaksanaan yang lebih lanjut yang tidak bisa
ditangani di puskesmas. Pasien didampingi untuk menghindari terjadinya hal
yang tidak diinginkan
9. Apa kemungkinan terjadi adverse effect pada pasien tersebut?
Ya, bisa melalui pemasangan:
• Kateter
• pemberian obat-obatan
SKEMA

Nadi naik Stabilisasi


leher
Tensi Tanda
turun Syok Infus Antibiotik
Pemeriksaan Tatalaksana
Fisik Nafas naik Awal
Obat ATS
Penurunan GCS
kesadaran turun Kateter Analgesik
Mekanisme Cidera Otorhea Urin
KLL kepala Rhinorhea Fraktur
KLL
Trauma Racoon
Basis Hematuri
Asuransi abdomen eyes Cranii
KLL Trauma Kemungkinan
Thoraks Aspek
Adverse
Hukum
Jasa Effect
Fraktur
Raharja
Kegawatdaruratan THT

Kegawatdaruratan Bedah

LEARNING Kegawatdaruratan Mata


OBJECTIVES
Aspek hukum medical error

Peranan komite etik medis


KEGAWATDARURATAN
THT
KEGAWATDARURATAN
BEDAH
LUKA BAKAR
DEFINISI LUKA BAKAR

Suatu trauma panas yang disebabkan oleh air / uap


panas, arus listrik, bahan kimia, radiasi dan petir yang
mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang lebih dalam
 kerusakan/ kehilangan kulit
PENYEBAB LUKA BAKAR

1. API

2. AIR PANAS

3. BAHAN KIMIA

4. LISTRIK, PETIR, RADIASI

5. SENGATAN SINAR MATAHARI

6. LEDAKAN TUNGKU PANAS, UDARA PANAS

7. LEDAKAN BOM
DERAJAT KEDALAMAN LUKA BAKAR

1. LUKA BAKAR DERAJAT I

- EPIDERMIS

2. LUKA BAKAR DERAJAT II

- DERAJAT IIA (SUPERFICIAL)


- DERAJAT IIB (DEEP)

3. LUKA BAKAR DERAJAT III

- SAMPAI OTOT / TULANG


DERAJAT KLINIS RASA
KEDALAMAN NYERI
DERAJAT I HYPEREMIS HYPER
ESTESIA

DERAJAT II A BULLA, MERAH HYPER


ESTESIA

DERAJAT II B BULLA, PUCAT HYPO


ESTESIA

DERAJAT III HITAM, KERING AN ESTESIA


LUAS LUKA BAKAR

• RULE OF NINE
• Kepala leher 9%
• Lengan 18%

• Badan depan - 18%


• Badan belakang 18%
• Tungkai 36%

• Genetalia/ perineum 1%
• Jumlah 100%
DEWASA
ANAK – ANAK
10 14 18

9 9 9 9 9 9

18 18 18 18 18 18

18 18 16 16 14 14

15 tahun 5 tahun 0 – 1 tahun


KRITERIA BERAT RINGANNYA
(AMERICAN BURN ASSOCIATION)

1. LUKA BAKAR RINGAN


- LUKA BAKAR DERAJAT II < 15%
- LUKA BAKAR DERAJAT II < 10% PADA ANAK-ANAK
- LUKA BAKAR DERAJAT III < 1%

2. LUKA BAKAR SEDANG


- LUKA BAKAR DERAJAT II 15-25% PADA ORANG DEWASA
- LUKA BAKAR DERAJAT II 10-20% PADA ANAK-ANAK
- LUKA BAKAR DERAJAT III < 10%
3. LUKA BAKAR BERAT

- LB. DERAJAT II 25% ATAU LEBIH PADA ORANG DEWASA

- LB. DERAJAT II 20% ATAU LEBIH PADA ANAK-ANAK


- LB. DERAJAT III 10% ATAU LEBIH
- LB. MENGENAI TANGAN, WAJAH, TELINGA, MATA, KAKI
DAN GENETALIA/PERINEUM.
- LB. DENGAN CEDERA INHALASI, LISTRIK, DISERTAI
TRAUMA LAIN
FASE LUKA BAKAR

1. FASE AKUT / FASE SYOK / FASE AWAL 3. FASE LANJUT


- KEJADIAN / IRD - SETELAH BEROBAT JALAN
-PROBLEM PERNAFASAN DAN CAIRAN - PROBLEM PARUT, KONTRAKTUR
- LUKA

2. FASE SUBAKUT
- DALAM PERAWATAN
- PROBLEM LUKA, INFEKSI, SEPSIS
PENATALAKSANAAN
PENDERITA LUKA BAKAR
FASE AKUT

I. PRIMARY SURVEY :
PEMERIKSAAN SEPERTI PADA TRAUMA YANG LAIN.

A.AIRWAY DAN CERVICAL SPINE PROTEKSI


B. BREATHING DAN VENTILASI
C. CIRCULASI DAN KONTROL PERDARAHAN
D. DISABILITY – PEMERIKSAAN NEUROLOGIS
E. EXPOSURE
II. SECONDARY SURVEY :

A. HISTORY / ANAMNESA
B. PEMERIKSAAN FISIK / LENGKAP
MULAI KEPALA - KAKI
PRINSIP PENANGANAN

1. HENTIKAN PROSES YANG MENYEBABKAN LUKA BAKAR

2. UNIVERSAL PRECAUTION, HIV, HEPATITIS

3. FLUID RESUSCITATION : 2-4 CC RL X BB X LUAS LB.

4. VITAL SIGN

5. PEMASANGAN NASOGASTRIC TUBE

6. PEMASANGAN URINE KATETER


7. ASSESSMENT PERFUSI EKSTRIMITAS

8. CONTINUED VENTILATORY ASSESSMENT

9. PAINT MANAGEMENT

10. PSYCHOSOCIAL ASSESSMENT

11. PEMBERIAN TETANUS TOKSOID

12. TIMBANG BERAT BADAN

13. PENCUCIAN LUKA DI KAMAR OPERASI (BIUS TOTAL)

14. ESCHAROTOMY DAN FASCIOTOMY


PEMERIKSAAN LABORATORIUM

LUKA BAKAR DAPAT MENYEBABKAN GANGGUAN FUNGSI ORGAN.


LABORATORIUM DASAR (BASELINE LABORATORY TEST)

1. HEMATOCRIT 8. FOTO THORAK


2. DARAH LENGKAP (Hb) 9. ARTERIAL BLOOD GASES
3. ALBUMIN (TRAUMA INHALASI)
4. RFT DAN LFT 10. CARBOXY HEMOGLOBIN
5. ELEKTROLIT, Na, K, Cl, HCO3 11. ECG (TRAUMA LISTRIK)
6. BLOOD UREA NITROGEN
7. URINALYSIS
PERAWATAN LUKA
SECARA TERTUTUP

• LUKA DICUCI, DEBRIDEMENT DAN DIDESINFEKSI DENGAN


SAVLON 1 : 30
• TUTUP TULLE
• TOPIKAL SILVER SULFADIAZINE (SSD)
• TUTUP KASA STERIL TEBAL/ELASTIC VERBAN
• LUKA DIBUKA HARI KE 5 KECUALI ADA TANDA INFEKSI
• DILAKUKAN DENGAN PEMBIUSAN TOTAL DI KAMAR OPERASI
MONITORING RESUSCITATION/
RESUSITASI CAIRAN

1. URINE PRODUKSI SETIAP JAM.

DEWASA: 0,5 CC/KG/JAM (30-50 CC/JAM)

ANAK : 1 CC/KG/JAM

2. OLIGO-URIA

BERHUBUNGAN DENGAN SYSTEMIK VASKULAR RESISTANCE DAN REDUKSI


CARDIAC OUTPUT)

3. HAEMOCHROMOGENURIA (RED PIGMENTED URINE)

4. BLOOD PRESSURE

5. HEART RATE

6. HEMATOCTRIT DAN HAEMOGLOBIN


KEGAWATDARURATAN
MATA
TRAUMA KIMIA

Dapat berupa trauma akibat:


- Bahan asam
- Bahan basa
Bahan alkali yang sering mengakibatkan
trauma:
• – Amonia
• – NaOH
• – Ca(OH)2
Bahan asam yang menyebabkan trauma:
• – HCl
• – H2SO4
GEJALA KLINIS

Pada Kornea
– Membran sel rusak
– Terjadi kerusakan komponen vaskuler iris, badan silier dan
epitel lensa
– Tekanan intra okuler meninggi
– Hipotoni akan terjdi bila kerusakan pada badan silier
– Kornea keruh dalam beberapa menit
GEJALA KLINIS

Pada Kelopak
–Margo palpebra rusak
–Kerusakan pada kelenjar air mata, sehingga mata menjadi kering
Conjunctiva
–Sekresi musin konjungtiva bulbi berkurang.
Lensa
– Lensa keruh
GEJALA KLINIS

• Fotofobia
• Penglihatan kabur
• Sensasi benda asing
• Blefarospasme
• Mata merah
• Mata yang terkena terlihat opacity
KLASIFIKASI

Hughes
1. Enteng
– Prognosis baik
– Terdapat erosi epitel kornea
– Kekeruhan yang ringan pada kornea
– Tidak terdapat iskemia dan nekrosis kornea ataupun
konjungtiva
KLASIFIKASI

2. Sedang
– Prognosis baik
– Kornea keruh, sehingga sukar melihat iris dan pupil secara
terperinci
– Terdapat nekrosis dan iskemi ringan pada konjungtiva dan kornea
3. Sangat Berat
– Prognosis buruk
– Akibat kekeruhan kornea, pupil tidak dapat dilihat
– Konjungtiva dan sklera pucat
KLASIFIKASI

Thoft
–Derajat 1 : hiperemi konjungtiva disertai keratitis
–Derajat 2 : hiperemi konjungtiva disertai hilangnya epitel kornea
–Derajat 3 : hiperemi disertai nekrosis konjungtiva dan lepasnya
epitel kornea
–Derajat 4 : Konjungtiva nekrosis sebanyak 50 %
PENATALAKSANAAN

• Lakukan irigasi dengan air selama 30 menit


• sebanyak 2000 ml; lebih lama lebih baik.
• Periksa dengan kertas lakmus; pH normal air
• mata 7,3.
• Lakukan debridemen (pengeluaran benda asing).
PENATALAKSANAAN

• Berikan antibiotika untuk mencegah infeksi.


• Berikan Steroid untuk menekan peradangan.
• Kolagenase inhibitor untuk menghalangi efek
• kolagenase.
• Vitamin C untuk pembentukan kolagen.
• Verban pada mata dan air mata buatan.
• Keratoplasti
Oklusi arteri retina
sentral adalah adanya
OKLUSI ARTERI sumbatan pada
RETINA SENTRAL pembuluh darah
retina sentral
ETIOPATOGENESIS

Oklusi arteri retina sentral terjadi akibat dari trombosis pada


lamina kribrosa, mungkin berasal dari arteriosklerosis
komplikasi, atau dari kejadian emboli. Saat retina menjadi
iskemik, retina akan membengkak, dan kehilangan transparan.
ETIOPATOGENESIS

Penyumbatan arteri retina sentral dapat disebabkan oleh:


• Emboli
Penyebab paling sering. Emboli dapat berasal dari penyakit
emboli jantung, carotid plaque atau emboli endokarditis.
• Radang arteri
• Spasme pembuluh darah
Penyebab spasme pembuluh darah : migren, overdosis
obat, keracunan alkohol, tembakau, kina atau timah hitam.
ETIOPATOGENESIS

• Akibat terlambatnya pengaliran darah


Perlambatan aliran pembuluh darah retina terjadi pada
peninggian tekanan intraokular, stenosis aorta atau arteri
karotis.
• Giant cell artritis
• Kelainan hiperkoagulasi
• Trauma
GEJALA KLINIK

• Kelainan ini biasanya mengenai satu mata


• mengenai arteri pada daerah masuknya di lamina kribrosa
• Keluhan pasien dengan oklusi retina sentral dimulai dengan
penglihatan kabur yang hilang timbul (amaurosis fugaks)
• tidak disertai rasa sakit dan kemudian gelap menetap.
• Ataupun dengan keluhan penglihatan tiba-tiba gelap (terjadi bila
oklusi hanya terdapat pada salah satu cabang di batang utama
dari a. Retina sentral tetapi sebelumnya terdapat riwayat
amaurosis fugaks tanpa terlihatnya kelainan pada mata luar)
PEMERIKSAAN FISIK

• Ketajaman penglihatan berkisar antara menghitung jari dan persepsi


cahaya
• Visus menurun 1/~ sampai 0
• Pupil midriasis, refleks cahaya (-)
• Funduskopi :
Papil pucat, optic atrophy
Vena hitam / gelap
Arterioles sempit
Retina oedem
Makula : cherry red spot
PENATALAKSANAAN

• Untuk menurunkan tekanan bola mata dapat dengan :


• Mengurut bola mata sehingga bola mata menjadi lembut,
tekanan intraokuler menurun dan arterinya mengembang
lagi.
• Asetazolamid (500 mg IV) bisa ditambahkan timolol 0,5%
PENATALAKSANAAN

• Untuk menginduksi vasodilatasi retina dan meningkatkan


PO2 di permukaan retina maka pasien dapat diberikan
campuran oksigen 95% dan karbondioksida 5% secara
inhalasi.
• Dapat pula dilakukan dengan bernafas dengan menggunakan
kantong kertas.
PROGNOSIS

Secara umum prognosis pada oklusi arteri retina sentralis


kurang begitu bagus, Namun tidak menutup kemungkinan
terjadinya perbaikan visus, bergantung pada letak dan lamanya
oklusi.
ASPEK HUKUM MEDICAL ERROR
PENGERTIAN
MALPRAKTEK MEDIS
MALPRAKTEK MEDIS

• Teori utama : KELALAIAN MEDIK


• Pelanggaran atas kewajiban dokter untuk bertindak layak
dan hati-hati pada keadaan tertentu, mengakibatkan
cedera/kerugian yang telah dapat diperkirakan sebelumnya.
MALPRAKTEK MEDIS
( PENGERTIAN DAHULU )

• “MALPRAKTEK ETIK”
(Ethical malpractice)
• MALPRAKTEK PERDATA
(Civil malpractice) = malpraktek
• “MALPRAKTEK PIDANA”
(Criminal malpractice)
• “MALPRAKTEK ADMINISTRATIF” (?)
KEGAGALAN MEDIK
DAPAT SEBAGAI AKIBAT DARI :

• PERJALANAN PENYAKIT ALAMI


• RISIKO DAN KOMPLIKASI (mishap)
• foreseeable but unavoidable atau untoward result (misalnya
idiosinkrasi)
• CULPA : kelalaian medik
• foreseeable and avoidable
• DOLUS : kesengajaan
TINDAKAN “MEDIK” YANG MELANGGAR
PIDANA
MALPRAKTEK PIDANA

•DISEBUT SEBAGAI TINDAK PIDANA,


•PELAKU : ORANG / BADAN HUKUM
• TANGGUNG-JAWAB : MANDIRI
• PENYELESAIAN : PENGADILAN
• HUKUMAN : Penjara, Denda, Sita, Cabut hak
PIDANA PENIPUAN

PASAL 382 BIS KUHP


• SENGAJA MENGELIRUKAN ORANG MENGELIRUKAN :
BANYAK UNTUK MEMBESARKAN
• JENIS PELAYANAN
USAHANYA
• DIAGNOSIS
• 1 TAHUN 4 BULAN
• TERAPI
• DOKTERNYA
• BIAYANYA
NYAWA MANUSIA

PASAL 344 KUHP PASAL 348 KUHP


• MERAMPAS NYAWA ATAS • ABORSI DG IJIN
PERMINTAAN SENDIRI
• 5 1/2 - 7 TAHUN
• EUTHANASIA
PASAL 349 KUHP
• 12 TAHUN
• ABORSI OLEH DOKTER DKK
• + 1/3 & CABUT IJIN
PEMALSUAN SURAT

PASAL 267 KUHP PASAL 268 KUHP


• KETERANGAN SEHAT / SAKIT, • KETERANGAN SAKIT, KELEMAHAN
KELEMAHAN ATAU CACAT : 4 TAHUN ATAU CACAT U/ MEMPEDAYAKAN
KEKUASAAN UMUM : 4 TAHUN
• SAKIT JIWA : 8 TAHUN 6 BULAN
KEDUDUKAN WARGA

PASAL 277 KUHP PASAL 322 KUHP


• MEMBUAT TIDAK TENTU ASAL USUL • BUKA RAHASIA JABATAN, DELIK
(BAYI TELANTAR) ADUAN : 9 BULAN
• 6 BULAN PASAL 310-321 KUHP
• PENGHINAAN DAN PENISTAAN
KELALAIAN

PASAL 359 KUHP PASAL 361 KUHP


• LALAI SEBABKAN MATI : 5 TAHUN • WAKTU MENJALANKAN JABATAN
PASAL 360 KUHP • + 1/3
• LALAI SEBABKAN LUKA BERAT : 5 • PECAT / CABUT HAK BEKERJA
TAHUN
• LUKA : 19 BULAN
TINDAKAN “MEDIK” YANG MELANGGAR
PERDATA
MALPRAKTEK PERDATA

•Disebut : MALPRAKTEK
•PELAKU : ORANG / BADAN HUKUM
• TG.JWB : SENDIRI / BERSAMA
• PENYELESAIAN : Pengadilan, ADR, Damai
• “HUKUMAN” : Ganti Rugi, Rehabilitasi.
DASAR GUGATAN

• KELALAIAN MEDIK
• TINDAKAN MEDIK TANPA PERSETUJUAN (PERBUATAN
MELANGGAR HUKUM)
• TANPA CONSENT / PERTINDIK
• PELANGGARAN JANJI : WANPRESTASI
• PRESTASI DOKTER : UPAYA
KELALAIAN MEDIK
KELALAIAN

TIDAK MELAKUKAN SESUATU YANG SEHARUSNYA DILAKUKAN;


ATAU MELAKUKAN SESUATU YANG SEHARUSNYA TIDAK DILAKUKAN
OLEH ORANG YANG SE-KUALIFIKASI PADA
SITUASI DAN KONDISI YANG IDENTIK
PRINSIP

• KELALAIAN PADA UMUMNYA TIDAK DIPIDANA ATAU


DITUNTUT SECARA HUKUM,
• KECUALI :
• DILAKUKAN OLEH ORANG YANG SEHARUSNYA BERTINDAK
HATI-HATI
• MENGAKIBATKAN KERUGIAN BAGI ORANG LAIN
UNSUR-UNSUR “KELALAIAN”
SEBAGAI SALAH SATU MALPRAKTEK

• ADA KEWAJIBAN • DUTY

• PELANGGARAN KEWAJIBAN TSB


• BREACH OF DUTY

• HUB. KAUSAL
• CAUSAL
RELATIONSHIP

• CEDERA / KERUGIAN • DAMAGE


PEMBUKTIAN ADANYA
KEWAJIBAN
• KEWAJIBAN AKIBAT HUBUNGAN DR-PASIEN :
• TIDAK MELANGGAR HAK PASIEN
• MEMENUHI HAK PASIEN
• KEWAJIBAN PROFESIONAL :
• MEMILIKI REASONABLE COMPETENCE
• MELAKSANAKAN REASONABLE CARE : SESUAI NORMA / STANDAR
PROFESI
• MELAKSANAKAN REASONABLE COMMUNICATION : Informed Consent
UNSUR YG DINILAI PROSEDUR, BUKAN “SEMAMPUNYA” ATAU “NIAT
BAIK”
REASONABLE COMPETENCE

• SKILL & KNOWLEDGE SESUAI KATALOG PENDIDIKAN


• PROFESSIONAL JUDGMENT
• DIAGNOSTIC ELEGANCE
• THERAPUTIC PARSIMONY
• COMPETENCE TSB DIBANDINGKAN DENGAN
DOKTER RATA-RATA, PADA SITUASI DAN KEADAAN
TERTENTU
REASONABLE CARE :
SESUAI STANDAR PROFESI
• STANDAR PERILAKU :
• UNIVERSAL

• STANDAR PROSEDUR :
• TERGANTUNG SARANA KESEHATAN SETEMPAT
• STANDAR PELAYANAN MINIMAL
• TERGANTUNG SARANA KESEHATAN SETEMPAT
• TERGANTUNG SITUASI – KONDISI TERTENTU
• TERGANTUNG SUMBER DAYA

• DPT DISIMPULKAN DARI DOKUMEN TERTULIS ATAU DARI SAKSI AHLI


THE GOLDEN RULE

What is right ( or wrong ) for one person


in a given situation
is similarly right ( or wrong ) for any other
in an identical situation
PEMBUKTIAN ADANYA PELANGGARAN
KEWAJIBAN

• HARUS DIBUKTIKAN DAHULU


• TIDAK BISA GUNAKAN “STRICT LIABILITY”
• STRICT LIABILITY HANYA BERLAKU BAGI PRODUK – BUKAN
BAGI JASA
• KADANG FAKTA SUDAH MENUNJUKKAN ADANYA
KELALAIAN : RES IPSA LOQUITUR (The thing speaks for it
self)
• AKIBAT ALATNYA DOKTER
• TIDAK ADA KONTRIBUSI PASIEN
• PADA KEADAAN NORMAL : TAK TERJADI
• mis : gunting / tampon tertinggal
PEMBELAAN

• BUKTIKAN ADANYA KOMPETENSI DAN


KEWENANGAN DOKTER DAN INSTITUSINYA
• ADAKAH PELANGGARAN PASAL UU, SUMPAH, ETIK,
STANDAR PERILAKU

• TENTUKAN S.P.M. DAN COMMON PRACTICE SEBAGAI


PEMBANDING
• ADAKAH PELANGGARAN KEWAJIBAN
PEMBUKTIAN ADANYA HUBUNGAN
KAUSAL

• DICARI : LEGAL CAUSE / PROXIMATE CAUSE


• PENGUJIAN :
• CAUSATION IN FACT : BUT FOR TEST “kalau tidak” /
(Conditio sine qua non theory)
• Mis. Kalau gunting tak tertinggal, tak akan terjadi perforasi – peritonitis
• Mis. Kalau diagnosis tak salah atau terlambat, pasien dapat tertolong ( ? )
• Terlalu menyederhanakan hubungan kausalitas

• FORESEEABILITY (Adequate theory)


• Bahwa cedera adalah akibat yang dapat diperkirakan sebelumnya dari tindakan substandar
oleh dokter yang layak
PEMBUKTIAN ADANYA
CEDERA / DAMAGE
• HARUS SEBAGAI AKIBAT PELANGGARAN
KEWAJIBAN
• JENIS KERUGIAN :
• GENERAL DAMAGE : NON-EKONOMIK
• SPECIAL DAMAGE :
• PAST AND FUTURE COSTS & EXPENSES
• LOSS OF INCOME, LOSS OF EARNING CAPACITY
• PUNITIVE DAMAGE : sengaja, culpa lata, kekerasan,
penipuan dll
GANTI RUGI

• DITAGIHKAN SATU KALI


• TUNAI / ANGSUR (dapat berbunga)
• “KEHILANGAN KESEMPATAN” SUKAR DIHITUNG,
PREDIKTIF, TIDAK PASTI JUMLAH DAN LAMANYA
• MEMPERTIMBANGKAN KEDUDUKAN DAN
KEMAMPUAN KEDUA PIHAK
CONTOH

• DOKTER LALAI AMPUTASI


• KERUGIAN :
• BIAYA :
• BIAYA PERAWATAN HINGGA SEMBUH
• BIAYA FISIOTERAPI & KAKI PALSU
• BIAYA NON MEDIS
• KEHILANGAN KESEMPATAN
• SELAMA PERAWATAN
• KETERBATASAN PELUANG KERJA
• IMMATERIEL
CONTOH LAIN

• SEORANG ANAK PEREMPUAN AKAN DI CT-SCAN


KARENA TRAUMA
• IA DIMASUKKAN KE O.K. DAN DI APENDIKTOMI
• APAKAH TERJADI KERUGIAN ?

• KASUS INI BUKAN KASUS KELALAIAN, TETAPI KASUS


“TANPA CONSENT”
TUNTUTAN
BERDASARKAN
TEORI LAIN
SELAIN KELALAIAN
TINDAKAN TANPA CONSENT
(TORT DAN BATTERY)

• “TOUCH” TANPA CONSENT = ILLEGAL


• TAK PERLU PEMBUKTIAN :
• ADANYA PELANGGARAN KEWAJIBAN
• ADANYA DAMAGE / KERUGIAN
• ADANYA KAUSALITAS
• MASALAH :
• INFORMASI TAK LENGKAP
• CONSENT TANPA INFORMASI
• CONSENT TAK TERTULIS
WANPRESTASI

• HANYA DIGUNAKAN BILA DOKTER MENJANJIKAN


HASIL
• DOKTER SECARA IMPLISIT MENJANJIKAN HASIL PADA TINDAKAN
YG BERTUJUAN KOSMETIK
• UMUMNYA DOKTER HANYA JANJIKAN UPAYA YANG
TERBAIK
• REASONABLE CARE
• MASALAH :
• PERJANJIAN TAK TERTULIS
PERANAN KOMITE ETIK MEDIS