You are on page 1of 24

PAJAK PERTAMBAHAN NILAI

PENJUALAN
1. 7 Januari 2010

DPP : Rp 20.000.000

Tarif : Tidak dipungut PP

PPN :-

Tidak dipungut PPN karena transaksi terjadi di Kawasan Berikat
2. 9 Januari 2000

Rp 210.000.000

DPP : 100/110 x Rp 210.000.000 = Rp 190.909.090

Tarif : 10%

PPN : Rp 190.909.090 x 10%
: Rp 19.090.909

Transaksi sudah dilaporkan pada masa sebelumnya
3. 11 Januari 2000

Ekspor : Rp 850.000.000

Tarif : 0%

PPN : Rp 850.000.000 x 0%
: Rp 0
4. 15 Januari 2000

DPP : Rp 45.000.000

Tarif : 10%

PPN : Rp 45.000.000 x10%
: Rp 4.500.000

Telah dilaporkan dan dihitung pada masa Desember 1999
5. 17 Januari 2000

Ekspor : Rp 620.000.000

Tarif : 0%

PPN : Rp 620.000.000 x 0%
: Rp 0
6. 19 Januari 2000

Harga Jual : Rp 58.000.000

Tarif : 10%

PPN : Rp 58.000.000 x 10%
: Rp 5.800.000

Faktur Pajak dibuat tanggal 19 Januari 2000 menggunakan
Faktur Pajak Standar
7. 22 Januari 2000

DPP : Rp 53.000.000

Tarif : 10%

PPN : Rp 53.000.000 x 10%
: Rp 5.300.000

Sudah di perhitungkan pada masa pajak sebelumnya
8. 24 Januari 2000

Rp 200.000.000

DPP : 100/110 x Rp 200.000.000
: Rp 181.818.181

Tarif : 10%

PPN : Rp 181.818.181 x 10%
: Rp 18.181.818
9. 26 Januari 2000

DPP : Rp 310.000.000

Tarif : 10%

PPN : Rp 310.000.000 x 10%
: Rp 31.000.000

Sudah diperhitungkan kemasa pajak Desember sehingga tidak bisa
diperhitungkan sebagai PK-PM
10. 28 Januari 2000

DPP : Rp 50.000.000

Tarif : Tidak Dipungut PPN

PPN :-

Tidak dipungut PPN karena transaksi terjadi di Kawasan Berikat
11. 30 Januari 2000

DPP : Rp 225.000.000

Tarif : 10%

PPN : Rp 225.000.000 x 10%
: Rp 22.500.000
12. 31 Januari 2000

DPP : Rp 4.000.000

Tarif : 10%

PPN : Rp 4.000.000 x 10%
: Rp 400.000

Karena pembelian cuma-cuma
13. 31 Januari 2000

DPP : Rp 80.000.000

Tarif : 10%

PPN : Rp 80.000.000 x 10%
: Rp 8.000.000

Karena terjadi retur, maka menjadi pengurang pada pajak keluaran
PEMBELIAN
1. 5 Januari 2000

PPN atas impor : Rp 45.000.000

Tarif : 0%

Pajak Masukan : Rp 45.000.000 x 0%
: Rp 0

Tarif 0% karena memperoleh fasilitas yang ditanggung oleh
pemerintah
2. 9 Januari 2000

PPN senilai : Rp 20.000.000 sudah dihitung pada masa pajak
yang bersangkutan sehingga tidak menjadi pajak masukan

3. 11 Januari 2000

PPN Terutang : Rp 40.500.000
Merupakan Pajak Masukan
4. 13 Januari 2000

Nilai Impor : Rp 50.000.000

Tarif : 5%

PPN : Rp 50.000.000 x 5%
: Rp 2.500.000

Tarif 5%karena penerapan dari pengenaan tarif dalam bea masu
k/ tarif terendah yaitu antara 0-5 % untuk bahan kebutuhan poko
k & pital seperti beras, mesin-mesin, alat militer dan lain-lain
5. 15 Januari 2000

DPP : Rp 174.000.000
Tarif : 10%
PPN : Rp 174.000.000 x 10%
: Rp 17.400.000

DPP : Rp 174.000.000
Tarif : 35%
PPNBM : Rp174.000.000 x 35%
: Rp 60.900.000
6. 19 Januari 2000

DPP : Rp 56.000.000
Tarif : 10 %
PPN : Rp 56.000.000 x 10% = Rp 5.600.000

Transaksi ini sudah di perhitungkan dan dilaporkan pada masa pajak
sebelumnya (tidak termasuk PM)

7. 22 Januari 2000

KMS : DPP : 40% x Rp 20.000.000
: Rp 8.000.000
Tarif : 10 %
PPN : Rp 8.000.000 x 10% = Rp 800.000
8. 24 Januari 2000

Faktur Pajak atas utang PPN sebesar : Rp 7.000.000
tidak bisa menjadi PK-PM karena sudah diperhitungkan pada masa
pajak sebelumya

9. 28 Januari 2000

Restitusi Pajak sebesar : Rp 40.000.000 atas permintaan tertanggal
12 Januari (Mengurangi Pajak Masukan)
11. 31 Januari 2000

12. 31 Januari 2000