You are on page 1of 23

 Malaria pada kehamilan seringkali menimbulkan

komplikasiyang berbahaya bagi ibu, janin dan bayinya.
Menurut laporan GFATM Malaria periode tahun 2008
- 2010, di daera hendemis, prevalensi ibu hamil positif
Malaria 38,2%, dan menurut data SDKI 2007, di
daerah endemis malaria, ibu hamil yang memakai
kelambu hanya 29,0%.
 Masalah lain adalah HIV pada ibu hamil, selain
mengancam keselamatan ibu juga dapat menular
kepada bayinya (mother-to-child transmission).

 Menurut data Kementerian Kesehatan tahun 2009,
dari 10.026 ibu hamil yang menjalani test HIV,
sebanyak 289 (2,9%) ibu hamil dinyatakan positif HIV.

 Sifilis merupakan salah satu infeksi menular seksual
yang juga perlu mendapat perhatian. Ibu hamil yang
menderitaSifilis berpotensi untuk melahirkan bayi
dengan Sifilis kongenital.
 Penyakit menular lain yang masih merupakan masalah utama
kesehatan masyarakat adalah Tuberkulosis (TB). Pada ibu hamil
TB dapat memperburuk kesehatan dan status gizi ibu, serta
mempengaruhi tumbuh kembang janin dan risiko tertular pada
bayinya.

 Kekurangan gizi pada ibu hamil juga masih merupakan masalah
kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian khusus.
Kurang asupan zat besi pada perempuan khususnya ibu hamil
dapat menyebabkan anemia yang akan menambah risiko
perdarahan dan melahirkan bayi dengan berat lahir rendah,
 Prevalensi anemia pada pada ibu hamil sekitar 40,1%(SKRT
2001). Di samping kekurangan asupan zat besi, anemia juga
dapat disebabkan karena kecacingan dan Malaria.
 Masalah gizi yang lain adalah kurang energi kronik (KEK)
dankonsumsi garam beryodium yang masih rendah. Wanita
usiasubur (WUS) yang berisiko kurang energi kronik (KEK)
sekitar 13,6% dan 62,3% rumah tangga yang mengkonsumsi
garam beryodium cukup (Riskesdas 2007).
TUJUAN
 Pelayanan antenatal terpadu adalah pelayanan
antenatal komprehensif danberkualitas yang
diberikan kepadasemua ibu hamil.Tujuan umum
adalah :
1. Untuk memenuhi hak setiap ibu hamilmemperoleh
pelayanan antenatal yangberkualitas sehingga mampu
menjalani kehamilan dengan sehat, bersalindengan
selamat, dan melahirkan bayi yang sehat
.
Tujuan khusus adalah :
 Menyediakan pelayanan antenatal terpadu,komprehensif
dan berkualitas, termasuk konseling kesehatan dan gizi ibu
hamil, konseling KB dan pemberian ASI.
 Menghilangkan “missed opportunity ” pada ibu hamil
dalam mendapatkan pelayanan antenatal
terpadu,komprehensif, dan berkualitas.
 Mendeteksi secara dini kelainan/penyakit/gangguanyang
diderita ibu hamil.
 Melakukan intervensi
terhadapkelainan/penyakit/gangguan pada ibu hamil
sedinimungkin.
 Melakukan rujukan kasus ke fasiltas pelayanankesehatan
sesuai dengan sistem rujukan yang ada.
pelayanan antenatal terpadu
 .KONSEP PELAYANAN

 Pelayanan antenatal terpadu dan berkualitas
secarakeseluruhan meliputi hal-hal sebagai berikut:

 Memberikan pelayanan dan konseling kesehatantermasuk
gizi agar kehamilan berlangsung sehat;
•
 Melakukan deteksi dini masalah, penyakit
danpenyulit/komplikasi kehamilan

 Menyiapkan persalinan yang bersih dan aman;
 Merencanakan antisipasi dan persiapan dini
untukmelakukan rujukan jika terjadi penyulit/komplikasi.
•
 Melakukan penatalaksanaan kasus serta rujukan cepatdan
tepat waktu bila diperlukan.

 Melibatkan ibu dan keluarganya terutama suami
dalammenjaga kesehatan dan gizi ibu hamil,
menyiapkanpersalinan dan kesiagaan bila
terjadienulit/komlikasi.
 PELAYANAN ANTENATAL TERPADU
 Konsep alur pelayananantenatal terpadudi puskesmas

 STANDARPEMERIKSAAN ANC BERKUALITAS
 1. Timbang berat badan
 Penimbangan berat badan pada setiap kali kunjungan antenatal
dilakukanuntuk mendeteksi adanya gangguan pertumbuhan
janin. Penambahanberat badan yang kurang dari 9 kilogram
selama kehamilan atau kurangdari 1 kilogram setiap bulannya
menunjukkan adanya gangguanpertumbuhan janin.
 2. Ukur lingkar lengan atas (LiLA).
 Pengukuran LiLA hanya dilakukan pada kontak pertama untuk
skrining ibuhamil berisiko kurang energi kronis (KEK). Kurang
energi kronis disinimaksudnya ibu hamil yang mengalami
kekurangan gizi dan telah
 berlangsung lama (beberapa bulan/tahun) dimana LiLA kurang
dari 23,5
 cm. Ibu hamil dengan KEK akan dapat melahirkan bayi berat
lahir rendah (BBLR).
 13.Ukur tekanan darah.

 Pengukuran tekanan darah pada setiap kali kunjungan antenatal
dilakukan
 untuk mendeteksi adanya hipertensi (tekanan darah ≥ 140/90 mmHg)
 pada kehamilan dan preeklampsia (hipertensi disertai edema wajah
danatau tungkai bawah; dan atau proteinuria
 ) Ukur tinggi fundus uteri
 Pengukuran tinggi fundus pada setiap kali kunjungan antenatal
dilakukanuntuk mendeteksi pertumbuhan janin sesuai atau tidak
dengan umur kehamilan. Jika tinggi fundus tidak sesuai dengan umur
kehamilan,kemungkinan ada gangguan pertumbuhan janin. Standar
pengukuranmenggunakan pita pengukur setelah kehamilan 24
minggu.
 5.Hitung denyut jantung janin (DJJ)
 Penilaian DJJ dilakukan pada akhir trimester I dan selanjutnya setiap
kalikunjungan antenatal. DJJ lambat kurang dari 120/menit atau
DJJcepat lebih dari 160/menit menunjukkan adanya gawat janin.
 4. 6.Tentukan presentasi janin;

 Menentukan presentasi janin dilakukan pada akhir trimester II
danselanjutnya setiap kali kunjungan antenatal. Pemeriksaan
inidimaksudkan untuk mengetahui letak janin. Jika, pada trimester
IIIbagian bawah janin bukan kepala, atau kepala janin belum masuk ke
 panggul berarti ada kelainan letak, panggul sempit atau ada masalah
 lain.
 7.Beri imunisasi Tetanus Toksoid (TT)Untuk mencegah terjadinya
tetanus neonatorum, ibu hamil harus
 mendapat imunisasi TT. Pada saat kontak pertama, ibu hamil
 dilakukan skrining status imunisasi TT-nya. Pemberian imunisasi
TTpada ibu hamil, disesuaikan dengan status imunisasi ibu saat ini.8.
Beri tablet tambah darah (tablet besi),
 Untuk mencegah anemia gizi besi, setiap ibu hamil harus mendapat
 tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan diberikan sejak
kontak pertama
 .9.Periksa laboratorium (rutin dan khusus)Pemeriksaan laboratorium
dilakukan pada saat antenatal meliputi:
 a. Pemeriksaan golongan darah,Pemeriksaan golongan darah pada ibu
hamil tidak hanya untukmengetahui jenis golongan darah ibu
melainkan juga untukmempersiapkan calon pendonor darah yang
sewaktu-waktudiperlukan apabila terjadi situasi kegawatdaruratan.
 b.Pemeriksaan kadar hemoglobin darah (Hb)Pemeriksaan kadar
hemoglobin darah ibu hamil dilakukan minimal
 sekali pada trimester pertama dan sekali pada trimester ketiga.
 Pemeriksaan ini ditujukan untuk mengetahui ibu hamil
tersebutmenderita anemia atau tidak selama kehamilannya karena
kondisianemia dapat mempengaruhi proses tumbuh kembang janin
dalamkandungan.
 c.Pemeriksaan protein dalam urinPemeriksaan protein dalam urin
pada ibu hamil dilakukan padatrimester kedua dan ketiga atas
indikasi. Pemeriksaan ini ditujukanuntuk mengetahui adanya
proteinuria pada ibu hamil. Proteinuriamerupakan salah satu indikator
terjadinya pre-eklampsia
 .d.Pemeriksaan kadar gula darah.Ibu hamil yang dicurigai
menderita Diabetes Melitus harus dilakukanpemeriksaan
gula darah selama kehamilannya minimal sekali
padatrimester pertama, sekali pada trimester kedua, dan
sekali padatrimester ketia terutama ada akhir trimester
ketia.
 e.Pemeriksaan darah Malaria Semua ibu hamil di daerah
endemis Malaria dilakukan pemeriksaan darahMalaria
dalam rangka skrining pada kontak pertama. Ibu hamil di
daerah nonendemis Malaria dilakukan pemeriksaan darah
Malaria apabila ada indikasi.
 f.Pemeriksaan tes SifilisPemeriksaan tes Sifilis dilakukan di
daerah dengan risiko tinggi dan ibu hamilyang diduga
Sifilis. Pemeriksaaan Sifilis sebaiknya dilakukan sedini
mungkinpada kehamilan
 mungkinpada kehamilan.
 g.Pemeriksaan HIVPemeriksaan HIV terutama untuk
daerah dengan risiko tinggi kasus HIV dan ibuhamil
yang dicurigai menderita HIV. Tes HIV pada Ibu hamil
disertai dengankonseling sebelum dan sesudah tes
serta menanda tangani informed
consenth.Pemeriksaan BTAPemeriksaan BTA
dilakukan pada ibu hamil yang menderita batuk
berdahaklebih dari 2 minggu (dicurigai menderita
Tuberkulosis) sebagai upayapenapisan infeksi TB

 10)
 Tatalaksana/penanganan Kasus Berdasarkan hasil
pemeriksaan antenatal di atasdan hasil pemeriksaan
laboratorium, setiapkelainan yang ditemukan pada ibu
hamil harusditangani sesuai dengan standar dan
kewenangantenaga kesehatan. Kasus-kasus yang tidak
dapatditangani dirujuk sesuai dengan sistem rujukan.
 Pelayanan Antenatal Terpadu merupakan pelayanan antenatal
komprehensif dan berkualitas yangdiberikan kepada semua ibu
hamiluntuk memenuhi hak setiap ibu hamilmemperoleh
pelayanan antenatal yangberkualitas sehingga mampu
menjalanikehamilan dengan sehat, bersalindengan selamat, dan
melahirkan bayiyang sehat.

 Pelayanan antenatal terpadu tersebutmencakup pelayanan
promotif, preventif,sekaligus kuratif dan rehabilitatif
yangmeliputi pelayanan KIA, gizi, pengendalianpenyakit
menular (imunisasi, HIV/AIDS,TB, Malaria, penyakit menular
seksual),tidak menular (hipertensi, DiabetesMellitus), ibu hamil
yang mengalamikekerasan selama kehamilan sertaprogram
spesifik lainnya sesuai dengankebutuhan.
 Setiap tenaga kesehatan di fasilitaskesehatan pemerintah
maupun swastaharus dapat memberikan pelayanan
yangkomprehensif terhadap ibu hamil agar dapat
memastikan kehamilan berlangsungnormal, mendeteksi
dini masalah danpenyakit yang dialami ibu hamil
sertamelakukan intervensi secara adekuat.

 Pedoman pelayanan antenatal terpadu,merupakan
pedoman yang dinamis,sehingga dapat disesuaikan
denganperkembangan program dan kebutuhanspesifik
daerah.
 PENYELENGGARAANPELAYANAN ANTENATAL
TERPADU
 Input
 Input yang diperlukan untuk menyelenggarakan pelayananantenatal terpadu antara lain meliputi:
 •
 Adanya norma, standar, prosedur dan kriteria (NSPK) pelayanan
 antenatal terpadu.
 •
 Adanya perencanaan dan penganggaran tahunan tingkat pusat, provinsidan kabupaten/kota untuk
penyelenggaraan pelayanan antenatal terpadudi fasilitas pelayanan kesehatan.
 •
 Adanya sarana dan fasilitas kesehatan sesuai standar dalammenyelenggarakan pelayanan antenatal
terpadu.
 •
 Adanya logistik yang dibutuhkan untuk mendukung penyelenggaraanpelayanan antenatal terpadu.
 •
 Adanya tenaga pengelola program KIA yang sesuai untuk mengelolapelayanan antenatal terpadu di tingkat
propinsi dan kabupaten/kota.
 •
 Adanya tenaga kesehatan untuk memberikan pelayanan antenatalterpadu sesuai standar.
 •
 Adanya informasi sistem dan tempat rujukan bagi masing-masing kasusdalam pelaksanaan pelayanan
antenatal terpadu.
 •
 Adanya informasi status endemisitas dan daerah berisiko tinggi penyakit
 yang mempengaruhi kehamilan.
 •
 Adanya pedoman pelaksanaan program terkait dengan pelayananantenatal teradu

 Proses

 •
 Sosialisasi norma, standar, prosedur dan kriteria (NSPK) pelayanan
 antenatal terpadu secara berjenjang.
 •
 Penyusunan perencanaan dan penganggaran program KIA tahunantingkat pusat, provinsi dan
kabupaten/kota untuk penyelenggaraanpelayanan antenatal terpadu di fasilitas pelayanan kesehatan.
 •
 Melaksanakan pelayanan antenatal terpadu di sarana dan fasilitaskesehatan.
 •
 Menggunakan logistik sesuai kebutuhan dalam penyelenggaraanpelayanan antenatal terpadu.
 •
 Standarisasi pengelola program KIA dalam penyelenggaraan pelayananantenatal terpadu di tingkat
propinsi dan kabupaten/kota.
 •
 Standarisasi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan antenatalterpadu.
 •
 Menggunakan informasi, sistem dan tempat rujukan kasus dalampelaksanaan pelayanan antenatal
terpadu.
 •
 Menggunakan informasi endemisitas dan daerah berisiko tinggi terjadinya
 penyakit terkait kehamilan dalam memberikan pelayanan antenatalterpadu.
 •
 Menggunakan pedoman pelaksanaan program terkait dalammenyelenggarakan pelayanan antenatal
terpadu.

 Output:

 •
 Tersosialisasinya norma, standar, prosedur dan kriteria(NSPK) pelayanan antenatal terpadu.
 •
 Terlaksananya pelayanan antenatal terpadu di fasilitaspelayanan kesehatan sesuai
perencanaan yang didukunganggaran tahunan di tingkat pusat, provinsi dankabupaten/kota.
 •
 Terlaksananya pelayanan antenatal terpadu di sarana danfasilitas kesehatan yang telah
terstandar.
 •
 Digunakannya logistik pendukung yang dibutuhkan dalampenyelenggaraan pelayanan
antenatal terpadu.
 •
 Tenaga pengelola program KIA mampu mengelolapelayanan antenatal terpadu di tingkat
propinsi dankabupaten/kota.
 •
 Tenaga kesehatan mampu memberikan pelayananantenatal terpadu sesuai standar.
 •
 Digunakannya informasi sistem dan tempat rujukan dalampelaksanaan pelayanan antenatal
terpadu.
 Pelayanan antenatal terpaduterlaksana sesuai denganstatus endemisitas dan daerahberisiko
tinggi penyakit yangmempengaruhi kehamilan.
 PENTING
 Pelayanan Antenatal Terpadumerupakan pelayanan antenatalkomprehensif dan berkualitas
yangdiberikan kepada semua ibu hamiluntuk memenuhi hak setiap ibu hamilmemperoleh
 PENTING
 Pelayanan antenatal terpaduterlaksana sesuai denganstatus endemisitas dan daerahberisiko tinggi
penyakit yangmempengaruhi kehamilan.
 PENTING
 PENUTUP

 Pelayanan Antenatal Terpadumerupakan pelayanan antenatalkomprehensif dan berkualitas
yangdiberikan kepada semua ibu hamiluntuk memenuhi hak setiap ibu hamilmemperoleh pelayanan
antenatal yangberkualitas sehingga mampu menjalanikehamilan dengan sehat, bersalindengan
selamat, dan melahirkan bayiyang sehat.

 Pelayanan Antenatal Terpadumerupakan pelayanan antenatalkomprehensif dan berkualitas
yangdiberikan kepada semua ibu hamiluntuk memenuhi hak setiap ibu hamilmemperoleh pelayanan
antenatal yangberkualitas sehingga mampu menjalanikehamilan dengan sehat, bersalindengan
selamat, dan melahirkan bayiyang sehat.

 Pelayanan antenatal terpadu tersebutmencakup pelayanan promotif, preventif,sekaligus kuratif dan
rehabilitatif yangmeliputi pelayanan KIA, gizi, pengendalianpenyakit menular (imunisasi,
HIV/AIDS,TB, Malaria, penyakit menular seksual),tidak menular (hipertensi, DiabetesMellitus), ibu
hamil yang mengalamikekerasan selama kehamilan sertaprogram spesifik lainnya sesuai
dengankebutuhan.
 Setiap tenaga kesehatan di fasilitaskesehatan pemerintah maupun swastaharus dapat memberikan
pelayanan yangkomprehensif terhadap ibu hamil agar dapat memastikan kehamilan
berlangsungnormal, mendeteksi dini masalah danpenyakit yang dialami ibu hamil sertamelakukan
intervensi secara adekuat.
 Pedoman pelayanan antenatal terpadu,merupakan pedoman yang dinamis,sehingga dapat
disesuaikan denganperkembangan program dan kebutuhanspesifik daerah.
 Activity (8)