You are on page 1of 27

Plantar Fasciitis

Disusun Oleh:
Fadhila Ayu Safirina
1102013101

Pembimbing:
dr. Ridwan, Sp.S
Anatomi
Plantar Fascia
Plantar Fascia
(Plantar Aponeurosis)
× Jaringan ikat yang menghubungkan kaki bagian belakang
(hindfoot) dan kaki bagian depan (forefoot)
× Membentuk lengkungan: Medial longitudinal arch (MLA)
× MLA berperan sebagai shock absorber dan membantu
mendistribusikan beban secara merata pada telapak kaki, baik
pada keadaan statis maupun dinamis.
Plantar Fascia memiliki 3
komponen:
1. Medial Band
2. Central Band
3. Lateral Band

Berawal dari medial
tubercle Os. Calcaneus
dan berakhir pada basis
Os. Phalanx Proximal
Plantar Fasciitis
Definisi
×Penyakit degeneratif akibat trauma
berulang pada plantar fascia, terutama
pada insersi nya di medial tubercle os.
Calcaneus.

×Fasciosis > Fasciitis
Epidemiologi
×Fasciitis plantaris sering terjadi pada usia 40 – 70
tahun dengan insiden tertinggi pada usia 45 – 64
tahun, tetapi pada seseorang yang mempunyai
kelainan bentuk kaki (abnormal foot) yaitu telapak
kaki datar (flat foot) bisa terjadi pada usia kurang
dari 40 tahun. Lebih sering terjadi pada wanita.

×Populasi yang berisioko menderita fasciitis
plantaris adalah personel militer, pekerjaan yang
mengaharuskan berdiri dalam waktu lama,
overweight atau obesitas.2,6
Faktor Resiko dan Etiologi
Patogenesis
Penegangan
Mechanical
PF/Pembebanan Micro-tearing
Overload
PF berlebihan

Proses Inflamasi
Berulang Proses Inflamasi
Kronis

Proses
penyembuhan Proses
normal degeneratif
terganggu
Patogenesis
Berdasarkan penelitian histopatologis ditemukan:
× Degenerasi kolagen
× Hiperplasia angiofibroblas
× Kalsifikasi

Tanda inflamasi aktif seperti leukosit, limfosit, atau
makrofag jarang ditemukan

“Degenerative change proceeds through a series of acute
and chronic inflammation before degeneration develops”
Gejala Klinis
Paling
nyeri pagi
hari/setela
h istirahat
Berkurang
dengan
Sharp and
aktivitas
throbbing
dan
istirahat
PATOGNOMI
K: nyeri pada
tumit bagian
dalam
Bertambah
dengan
Terus
aktivitas
menerus
weight-
bearing

Tidak
menjalar
Diagnosis
Pemeriksaan Pemeriksaan
Anamnesis
Fisik Penunjang
• Gejala klinis • Windlass • Foto Polos,
khas mechanism MRI, USG
• Biasanya  nyeri (+) • Jarang
kronis, • 80% kasus  dilakukan
unilateral kaku tendon
Achilles
(limited ankle
dorsoflexion)
• Nyeri tekan
pada medial
calcaneus
Diagnosis Banding
Tatalaksana
Modifikasi Gaya Hidup
×Menghindari faktor resiko
×Weight loss untuk pasien obesitas
×Gunakan sepatu dengan alas tumit yang empuk
×Untuk pasien dengan kelainan anatomi gunakan
sepatu dengan arch support
Stretching & Strenghtening
Berfungsi mengkoreksi faktor resiko fungsional seperti
achilles tendon stiffness, kelemahan otot intrinsik

Teknik stretching yang biasa dipakai:
1. Wall stretches  gastrocnemius and soleus stretching
2. Towel stretch  calf and arch stretching
3. Curb/stair stretch  gastrocnemius and soleus
stretching
4. Rolling of the foot  plantar fascia stretching
5. Cross-friction massage
6. Towel curl

Dapat dilakukan 3 kali sehari, dengan durasi 3 menit
Orthotics
×Berfungsi untuk mengurangi pronasi abnormal
pada kaki dengan kelainan anatomis dan membantu
menopang longitudinal arch

×Rekomendasi: 3 bulan penggunaan  mengurangi
nyeri dan mengembalikan fungsional kaki
Farmakoterapi: Anti inflammatory
agents
×Yang biasa digunakan: NSAID, Injeksi
corticosteroid

×NSAID berfungsi untuk mengurangi nyeri akut,
efek nya sementara

×Dapat menghilangkan nyeri secara cepat, dapat
mengurangi penebalan fascia dalam 2 minggu.
×Nyeri bisa membaik dalam waktu 2-4 minggu,
namun hanya akan bertahan hingga 1 bulan
×Efek samping penyuntikan berulang: atrofi plantar
fascia, pada beberapa kasus terkait dengan ruptur
plantar fascia.
Night Splints
×Berfungsi untuk menjaga kaki pasien berada pada
posisi netral pada saat tidur

×Rekomendasi: penggunaan 1-3 bulan

×Diindikasikan pada pasien yang tidak mengalami
perbaikan setelah 6 bulan
Extra-Corporeal Shock Wave Therapy
×Terapi menggunakan gelombang suara yang
ditargetkan pada jaringan yang rusak, bertujuan
untuk mengurangi nyeri, reduksi kalsifikasi,
menghambat reseptor nyeri, dan stimulasi proses
penyembuhan

×Diindikasikan apabila semua terapi tidak
memberikan perbaikan gejala selama lebih dari 6
bulan

×Cenderung aman  lebih direkomendasikan
dibandingkan injeksi kortikosteroid

×Setelah tindakan, nyeri langsung hilang dan pasien
sudah bisa langsung full-weight bearing

×Dosis optimal: medium-energy  1000
shocks/session, 0.16 mJ/mm 2
Surgery
Prosedur yang biasanya dilakukan
1. Partial plantar fasciotomy
2. Nerve decompression dan/atau calcaneal spur resection

Dapat dilakukan baik secara terbuka maupun tertutup

Terbuka  insisi 3-6 cm pada plantar medial  release fascia
Tertutup  bantuan endoskopi . Tidak dilakukan reseksi

Baik terbuka maupun tertutup memiliki keefektifan yang sama

Recovery time  8 bulan

Komplikasi: heel pad swelling, calcaneal fracture, longitudinal arch flattening,
posterior tibial nerve damage, heel hypoesthesia, plantar fascia rupture
Daftar Pustaka
×Schwartz, Emily N and Jphn Su. 2014. Plantar
Fasciitis: A Concise Review. Los Angeles. The
Permanente Journal Vol 18 No. 1: 105-107
×Tahririan, Muhammad et al. 2012. Plantar fasciitis.
Iran. Journal od Research in Medical Science: Aug
17(8): 799 – 804
×Roxas, Mario. 2005. Plantar fasciitis: diagnosis and
therapeutic consideration. Alternative Medicine
Review 10(2): 83 – 91
×Cutts, S et al. 2012. plantar fasciitis. Norfolk. Ann R
Coll Surg Engl 94: 539-542
×Wearing, Scott C. 2006. the Pathomechanics of
Plantar Fasciitis. Queensland. Sports med 36(7):
585 - 611
THANK YOU