You are on page 1of 40

Arsitektur Belu

Latar Belakang

Rumah yang menjadi objek presentasi kami adalah rumah adat belu-
suku Matabesi. Kampung Matabesi terletak di Kelurahan Umanen,
kecamatan Atambua Barat, Kabupaten Belu.
Konsep Arsitektur dan Lingkungannya
Konsep Tata Tapak (Ruang Luar)

Pemukiman adat ini mengikuti
pola cluster dengan uma Bot
sebagai sentralnya atau pusat
perkampungannya.

Penempatan bagian
paling sakral atau suci dari
kampung adat suku matabesi ini
terletak di bagian depan kampung,
pada daerah yang paling tinggi.

Pola perkampungan atau pemukiman rumah adat suku Matabesi adalah salah satu contoh
pemukiman adat di Belu.
Konsep Arsitektur dan Lingkungannya
Konsep Tata Tapak (Ruang Luar)

Suku Matabesi ada 13 suku
yang ditandai dengan 13 rumah
adat yang megelilingi uma bot.

Di depan ke-13 rumah tersebut
terdapat aito'os(batu
persembahan).

Kampung ini terletak di puncak
bukit, dengan topografi yang
berundak-undak. yang menjadi
pembatas fisik adalah kondisi
topografi yang curam.
Konsep Arsitektur dan Lingkungannya
Konsep Tata Tapak (Ruang Luar)

Berikut ini beberapa komponen tapak yang dapat ditemukan di Kampung adat Matabesi

Mata Air (We Matan) Pelataran Terbuka (Sadan) Rumah Adat (Uma Lulik/Kakaluk)

 Gerbang kampung (Kanokar)
 Bangunan megalitik, terdiri dari kuburan (rate) dan mezbah (aitos)
 Kebun ( To’os)
 Kampung dalam (Leo laran)
Konsep Tata Ruang Dalam (Hirarki Ruang)
Slak ha’i
diperuntukan untuk aktifitas
perempuan seperti memasak
dan pekerjaan rumah tangga
Oda matan rae yang lain
diperuntukkan khusus bagi
anggota-anggota rumah
tangga dan kaum perempuan Ruang tengah sebagai inti
rumah. digunakan juga dalam
aktifitas sehari – hari serta
sakral karena digunakan
sebagai tempat melakukan
aktifitas upacara adat dalam
rumah

Merupakan ruang yang oda matan lo
bersifat profan serta terbuka Pintu sebelah timur yang
untuk umum. diperuntukkan bagi tamu dan
kaum laki-laki
Konsep Struktur dan Konstruksi
Tiang – Tiang Penunjang
• Pada Umumnya
(Biasanya Selalu Berjumlah
Menggunakan Sistem
Ganjil Tergantung Besarnya
Jepit (Ditanam).
Rumah Yang Dibangun –
• Perkuatan Antara Tiang
5,7,9) Yang Satu Sama
Dan Balok Menggunakan
Lainnya Dihubungkan
Sistem Sendi (Diikat
Dengan Balok – Balok
Dengan Ijuk Ataupun
Horizontal Dan Ring
Daun Gewang/Lontar)
Pembentuk Lingkaran.

Beban – Beban Bangunan Ditinjau dari sistem
Ditransferkan Melalui Tiang – struktur dan
Tiang Utama (Ada Dua Tiang konstruksinya ,rumah
Utama Yang Ditanam Sampai adat suku Matabesi Belu
Ke Atap – Kakuluk Mane Dan Utara memiliki sistem
Kakuluk Feto) struktur rangka berupa
rumah panggung
Konsep Bentuk dan Tampilan
Atapnya berbentuk seperti
perahu terbalik

Berbentuk rumah panggung

Bagian bawah panggung dibuat
terbuka tanpa dinding
Konsep Ornamen dan Dekorasi

Arsitektur Tradisional Belu memiliki beberapa bentuk ragam hias
yang terletak baik itu terukir di dalam rumah maupun yang terukir di
aitos.
Ukiran yang terdapat di dalam rumah terletak pada daun pintu
ukiran – ukiran itu berbentuk beranekaragam seperti ayam (manu),
belut (tuna) dan kucing (busa).
Ukiran ragam hias lain dalam Arsitektur Tradisional Belu terdapat
pada mesbah/ meja persembahan (aitos). Ukiran ini terdiri dari tiga
lapisan gambar yang menjadi satu kesatuan, ukiran ragam hias ini
dikenal dengan sebutan Makarek Madaen yang melambangkan
pejalanan Sina Mutin Malaka
Konsep Arsitektur Tropis
lereng atap yang tajam
Atap terbuat dari alang- (curam) dengan
alang atau ijuk. Ini berbahan alang-alang
mempengaruhi ini dapat memudahkan
akustika bangunan air hujan dapat
karena material langsung turung
tersebut tidak kebawah.
menyebabkan banyak
bunyi saat hujan
mengenai atap

Atap rumah hampir
menyentuh tanah
menyebabkan bagian
dalam rumah gelap
namun sejuk karean
tidak menerima banyak
panas matahari
Arsitektur Sabu
Latar Belakang

Rumah yang menjadi objek presentasi kami adalah rumah adat Sabu yaitu
Ammu Hawu yang berada di Kampung Namata. Kampung tersebut terletak
di Sabu Seba tepatnya berada di Kecamatan Sabu Barat dengan Delapan
Belas Wilayah Desa, salah satunya Raeloro tepatnya berada di Wilayah
Utara dari Pulau Sabu. Desa Raeloro sebagai tempat terletaknya Kampung
Adat Namata berbatasan langsung dengan Desa Mebba, Desa Roboaba,
Desa Ledeana, Desa Raenyale, dan Desa Nadawawi.
Konsep Arsitektur dan Lingkungannya
Konsep Tata Tapak (Ruang Luar)

Masyarakat setempat biasanya Secara arsitektur, pola yang tapak
meletakan masa bangunan yang diterapkan adalah pola
dengan memperhatikan titik Untuk menanggapi arah angin cluster/pola mengelompok, dimana
pusat orientasinya yaitu pada masyarakat setempat masa bangunan yang ada tetap
ruang terbuka dan bangunan menyelesaikan masa berpusat pada satu titik yang berada
megalith yang berada di tengah- bangunannya dengan orientasi pada ruang terbuka/ Telora dan
tengah perkampungan. membujur dari Timur ke Barat. bangunan megalitik.
Altar kampung (nada rae)
Pagar batu (lapudi) dengan
Pohon di tengahnya.
Ruang terbuka ini disebut
Telora
Konsep Tata Ruang Dalam (Hirarki Ruang)

Ruang perempuan
(Wuy) Ruang Laki-laki (Duru)
Ruang ♀ Ruang ♂
Baja Wuy Ruang Bersama
Wuy

Duru

Biasanya digunakan sebagai
tempat pemujaan menurut
Sketsa Denah Lantai D
ajaran tradisional Sabu Ruang tengah/ruang
(ingitiu). Selain sebagai ruang Duru
bersama yang disebut
pemujaan, Demu juga
digunakan sebagai tempat RUANG PEMUJAAN /DEMU
Kopo Telura/Elu Ae
penyimpanan bahan pangan.
VOID

AREA TANGGA

Sketsa Denah Lantai Satu
Konsep Struktur dan Konstruksi
Struktur rangka tiang Ammu Hawu
Struktur konstruksi rangka tiang secara umum, sering
disebut dengan Ammu Halla (rumah tanam)
Sistem struktur rangka utama, atau tiang penopang
struktur utama rumah memiliki jumlah 6 (enam). Terdiri
pula dari beberapa elemen struktur pendukung lainnya,
yakni :

• 4 (empat) buah tiang Gerri Tebeka Keriu,
• tiang struktur penyokong balok dek pelengkung
berjumlah 2 (dua) buah tiang Gerri Tebeka Duru,
• serta Struktur utama lainnya, yakni tiang dek
ruangan (Gerri Kelaga Dara) dan
• tiang dek teras (Gerri Kelaga Rai) serta
• tiang penopang tritisan dari rangka atap (Gerri Tie
Rou).
Konsep Struktur dan Konstruksi
Struktur rangka tiang Ammu Hawu
Berfungsi sebagai:
• Tiang suci
• Pemikul struktur Taga Batu (balok lengkung yang digunakan sebagai
pemikul struktur atap yang teraksen melengkung pada sisi kiri dan kanan
Amu Rukoko)
• Pemikul atap Rukoko

Sistem hubungan
struktur dan
konstruksi antara
keduanya Sistem hubungan struktur dan
konstruksinya ,menggunakan
menggunakan hubungan denagan coakan (Papa
sisitem tumpuan Geri Ae + Kelaga)
yang diperkuat
dengan ikatan (Petu
Geri Ae + Aju Nou)
Konsep Struktur dan Konstruksi
Struktur rangka balok dan dek Ammu Hawu.
Model pembalokan dan dek untuk rumah Rahi Hawu, terdiri
atas pembalokan dek loteng, pembalokan dek ruangan dan
pembalokan dek teras.

Pembalokan dek loteng (Dammu), terdiri dari :

• balok utama pada bagian kiri kanan (utara dan
selatan) (Kebie Dida)
• balok dek Loteng (Tuki Dammu)
• dek loteng (Dammu)
• struktur balok pelengkung terdapat pada ujung-
ujung rumah, berfungsi sebagai pembentuk
lengkungan untuk rangka atap dan penopang
struktur rangka atap pelengkung. Pelengkung atap
ini dikenal sebagai Taga Batu.
Model balok dan dek lainnya, yakni balok tritisan (Kebie Tie Rou),
balok pelengkung tritisan (Heru Kelaga Rai), balok dek lantai ruangan
(Tuki Kelaga Dara), dek lantai ruangan (Kelaga Dara), balok dek lantai
teras (Tuki Kelaga Rai), dek lantai teras (Kelaga Rai), dan balok dek
tempat penyajian (Tuki Udu Ketti).
Konsep Struktur dan Konstruksi
Struktur rangka balok dan dek Ammu Hawu. Balok yang melengkung
pada sisi kiri dan kanan
(Taga Batu)
sistim sambungan ini
dengan menggunakan
pen dan lubang (Huki)
Konsep Struktur dan Konstruksi
Struktur konstruksi rangka atap Ammu Hawu.

Struktur rangka atap di topang oleh

4 tiang (Kijuaga) penopang nok bubungan (Bangngu),
Kaso atas (Worena), kaso depan dan belakang rumah,
diteruskan sampai hampir mendekati tanah pada
tritisan depan dan belakang (Worena Horo), dan kaso
pada tritisan pelengkung (Worena Rukoko). Masing
kaso (Worena), ditandai dengan bentuk buntalan
sebagai pertanda akan pangkal bawah batang pohon
yang digunakan pada konstruksi ini, yakni pangkal
batang pohon Lontar.

Bagian reng (Badu) sebagai pengikat daun rumah (Bo’ro
Ammu), kayu reng khusus pada bagian pelengkung (Badu
Keware) diambil dari batang kayu Lamtoro Gum. Untuk
penutup bubungan digunakan anyaman daun Lontar
disebut Rupelila.
Konsep Bentuk dan Tampilan
Konsep Bentuk dan Tampilan
Mengambil
ketegasan konsep konsep dasar dari bentuk
bentik perahu
perahu.
itu terpampang
dengan jelas pada
konstruksi konsep
penutup/ atap, pembagian ruang
yang pada bagian
perempuan dan laki-
puncak atap ( kiri
dan
laki juga terlihat
kanan ) terdapat dengan jelas pada
bentuk Rukoko tampak depan
yang merupakan dengan
symbol kebesaran hadirnya dua buah
ajaran Jingitiu. pintu ( Kelae Beni dan
Pada penyelesaian arsitekturnya, masyarakat setempat
membuatnya dengan menyerupai bentuk perahu yang
Kelae Mone )
dibalik, sehingga bentuk perahu itu sendiri nampak pada
olahan atap rumah adat Sabu.
Konsep Ornamen dan Dekorasi

Ragam hias pada arsitektur vernakuler Sabu sangat minim. Untuk
mewujudkan konsep dasar dari bentuk perahu, maka pada salah
satu elemen konstruksi terlihat adanya penyeleseaian konstruksi
yang membentuk seperti dayung perahu ( Aju Nou Rukoko ). Ragam
hias lainnya terdapat pada kedua ujung balok pemikul lantai ( Ae
kelaga ) pada sisi kiri dan kanan, yang memaknai seperti potongan
wajah manusia yang sedang tidur terlentang dan sedang memikul
beban. Ragam hias lainnya juga terdapat pada didinding ruang
pemujaan ( Ketangarohe ), tiang nok ( Gala Beni dan Gala Mone )
dan pengapit Ketangarohe ( Hengepi / Papa Ketangarohe ).
Konsep Arsitektur Tropis
Atap terbuat dari Pada rumah adat sabu, tidak lereng atap yang tajam
lontar. Ini terdapat banyak bukaan karena (curam) ini dapat
fungsi rumah adat hanya untuk memudahkan air hujan
mempengaruhi tempat beristirahat
akustika bangunan dapat langsung turun
karena material kenbawah.
tersebut tidak
menyebabkan banyak
bunyi saat hujan
mengenai atap

Pada bagian atap Atap rumah hampir
rumah adat sabu, menyentuh tanah
terdapat lubang pada menyebabkan bagian
samping kiri dan kanan. dalam rumah gelap
Lubang tersebut dibuat namun sejuk karena
Bentuk rumah
untuk memudahkan panggung dapat tidak menerima banyak
udara untuk masuk ke mencegah panas matahari
dalam rumah kelembapan
Rumah Adat Rote
Konsep Tata Tapak (Ruang Luar)

Pola perkampungan rumah adat rote pada umumnya
mencerminkan hubungan bermasyarakat terhadap alam, tatanan
sosial, keadaan alam, sistem bercocok tanam,dan kosmologi
masyarakan yang mendiaminya

Terkait antara kehidupan di daerah semi arid dan konstruksi rumah.
Kehidupan menghandalkan pohon tuak sebagai ketahanan pangan.
Konsep Tata Ruang Dalam (Hirarki Ruang)

Bagian inti sebuah dihak terdiri atas 2 bagian yaitu: Ruang yang dipergunakan pada rumah tradisonal rote
Sesoik Muki dan sesoik dulu masing-masing berarti terdiri dari dua kamar tidur (kama) pada bagian depan
tempat tidur dan tempat tidur kanan, digunakan oleh
(kama mata) dan belakang (kama dea’), ruang tamu,
orang dewasa yang belum menikah. Letak sesoik itu
mengapit pintu masuk, kemudian pada bagian kiri agak ke ruang makan (foris), dapur (dapu) yang berada terpisah
tengah ada uma langgak (tempat menaruh emas, ada pula di belakang rumah induk serta masih memanfaatkan
uma dalek (tempat khusus bagi gadis). loteng rumah induk (selumbunu’) sebagai tempat
penyimpanan hasil pertanian.
Konsep Struktur dan Konstruksi

Uma
Hunuk
atau uma
tena dale.

Uma Lai
(Panggung Madae - ada Konstruksi rumah adat rote
dengan lantai degu - degu menggunakan kayu dari pohon kelapa
papan). atau lantai dasar dan atapnya menggunakan daun lontar
Konsep Struktur dan Konstruksi

Ciri khas rumah adat Rote adalah tertib langgam yang berlaku pada bentuk
bangunan yang menyerupai binatang laut, serta jumlah tiang utama yang
berjumlah empat batang. Keempat tiang utama ini terletak ditengah
bangunan dengan membentuk empat persegi panjang.

Rumah-rumah tradisional di pulau Rote dibangun menggunakan material
batang pohon lontar atau pohon kelapa untuk konstruksi; balok, dinding,
lantai, usuk dan material kayu untuk kolom, reng. Penutup atap
menggunakan daun kelapa, daun lontar atau alang-alang. Untuk
menyambung elemen-elemen konstruksi balok dengan kolom, balok
dengan usuk, usuk dengan reng tidak memakai alat bantu penyambung
seperti paku, pasak, tali, maupun alat sambung yang lainnya.
Konsep Bentuk dan Tampilan

rumah adat orang Rote berbentuk
persegi panjang, konsep desain
rumahnya ialah konsep rumah
panggung dengan ketinggian dari
tanah sekitar 40-80 cm.

Tampilan bangunan rumah Rote ditinjau dari segi arsitektural mempunyai filosofi
yang bila dilihat dari atas merupakan bentuk oval dengan kepercayaan bahwa
rumah ini diilhami oleh bentuk perahu yang memiliki kedudukan tinggi dalam
falsafah hidup orang rote. Bentuk secara keseluruhan adalah bentuk limas yang
pada bagian atap memiliki ventilasi atap sebagai sirkulasi udara dan pencahayaan.
Menurut kepercayaan orang Rote bentuk ini terjadi karena adanya bagian Dodoik
atau spar yang tidak boleh menyentuh balok bubungan ( rumah Uma toaeng )
Konsep Arsitektur Tropis
Atap terbuat dari alang- lereng atap yang tajam
alang. Ini (curam) ini dapat
mempengaruhi memudahkan air hujan
akustika bangunan dapat langsung turun
karena material kenbawah.
tersebut tidak
menyebabkan banyak
bunyi saat hujan
mengenai atap

Atap rumah hampir
menyentuh tanah
menyebabkan bagian
dalam rumah gelap
Bentuk rumah namun sejuk karena
panggung dapat tidak menerima banyak
mencegah panas matahari
kelembapan
Perbedaan dan Kesamaan
Perbedaan dan Kesamaan Rumah Adat Belu Rumah Adat Sabu Rumah Adat Rote

Konsep tata tapak -
memiliki tipe cluster, dimana memiliki tipe cluster, dimana
masa bangunan yang ada tetap masa bangunan yang ada tetap
berpusat pada satu titik yang berpusat pada satu titik yang
berada pada ruang terbuka berada pada ruang terbuka

Ruan Ruang
g♀ Ruang ♂
W Bersama
uy Duru

Sketsa Denah Lantai D
Konsep tata ruang dalam
(Hirarki ruang) RUANG PEMUJAAN
/DEMU
Bertingkat dengan denah VOID Bertingkat dengan denah
berbentuk persegi berbentuk persegi
Bertingkat dengan denah
berbentuk persegi
Perbedaan dan Kesamaan Rumah Adat Belu Rumah Adat Sabu Rumah Adat Rote

• Penutup atap terbuat dari • Penutup atap terbuat dari
Konsep Struktur dan • Penutup atap terbuat dari
daun lontar alang-alang
konstruksi daun lontar
• Perkuatan antara tiang dan • Perkuatan antara tiang dan
• Perkuatan antara tiang dan
balok menggunakan system balok menggunakan system
balok menggunakan system
sendi (diikat dengan sendi (diikat dengan
sendi (diikat dengan
ijuk/daun gewang/lontar) ijuk/daun gewang/lontar)
ijuk/daun gewang/lontar)
• Tidak memiliki jendela • Tidak memiliki jendela
• Tidak memiliki jendela

Konsep bentuk dan
tampilan

• Konsep Rumah panggung • Konsep rumah panggung • Konsep rumah panggung
Perbedaan dan Kesamaan Rumah Adat Belu Rumah Adat Sabu Rumah Adat Rote

Konsep bentuk dan
tampilan
• Lereng atap rumah terlihat
• Lereng atap rumah terlihat
tajam/curam
tajam/curam • Lereng atap rumah terlihat
• memiliki atap perahu
• memiliki atap perahu terbalik tajam/curam
terbalik dan beratap
dan beratap limasan untuk • Memiliki atap yang meniru
limasan untuk rumah
rumah rakyat. binatang laut dan kerangka
rakyat.
ikan hiu.
Perbedaan dan Kesamaan Rumah Adat Belu Rumah Adat Sabu Rumah Adat Rote

Konsep bentuk dan
tampilan
Memliki atap empat air dan pada Memiliki bentuk atap yang lebih
Memiliki atap empat air bagian ujung atap terdapat daun tinggi dan terlihat lebih curam
leher dan ada bukaan di bagian daripada rumah adat Belu dan
kiri dan kanan atap Sabu. Sama seperti rumah Sabu.
Pada ujung atap terdapat daun
leher dan ada bukaan di bagian
kiri dan kanan atap
Perbedaan dan Kesamaan Rumah Adat Belu Rumah Adat Sabu Rumah Adat Rote

• Atap hampir menyentuh tanah,
menyebabkan bagian dalam
rumah gelap gulita
• Atap hampir menyentuh tanah, • Lereng atap tajam/curam,
• Lereng atap tajam/curam,
menyebabkan bagian dalam memudahkan air hujan untuk
memudahkan air hujan untuk
rumah gelap gulita langsung turun ke bawah
langsung turun ke bawah
• Lereng atap tajam/curam, • Bentuk rumah panggung. Dapat
Konsep Arsitektur Tropis • Bentuk rumah panggung. Dapat
memudahkan air hujan untuk mencegah kelembapan
mencegah kelembapan
langsung turun ke bawah
• Atap terbuat dari bahan yang • Atap terbuat dari bahan yang
• Bentuk rumah panggung. Dapat tidak keras sehingga tidak
tidak keras sehingga tidak
mencegah kelembapan menimbulkan suara berisik saat
menimbulkan suara berisik saat
• Atap terbuat dari bahan yang hijan.
hijan.
tidak keras sehingga tidak
• terdapat bukaan di sisi kiri dan
menimbulkan suara berisik saat
kanan atap, sehingga lubang itu
hijan.
membantu sirkulasi udara,
sedangkan pada dua rumah lain
tidak begitu banyak terdapat
bukaan
Perkembangan Arsitektur Tersebut Hingga
Masa Kini
Dalam Wujud Sebagai Arsitektur Vernakuler
Perkembangan Arsitektur Tersebut Hingga
Masa Kini
Dalam Wujud Sebagai Arsitektur Neo Vernakuler

Rote Sabu Belu

Sebagai arsitektur Neo Vernakuler, arsitektur Sabu, Rote dan Belu telah mengalamai transformasi
dengan fungsi baru. Bisa dilihat pada contoh di atas, di mana atap pada bangunan Bandar udara
Belu, Sabu dan Rote menggunakan atap milik arsitektur rumah adat Belu, Sabu dan Rote.
Daftar Pustaka

Yohanes Wilhelmus Dominikus Kapilawi1, Antariksa2, Agung Murti
Nugroho3 . LOKALITAS STRUKTUR KONSTRUKSI RUMAH
TRADISIONAL SABU DI KAMPUNG ADAT NAMATA, NTT

Blog RumahPerumahan

Presentasi Arsitektur Belu-Sabu-Rote Mahasiswa UNWIRA angkatan
2015

PDF Sejarah dan Arsitektur Sabu Raijua