You are on page 1of 26

“Pulmonary Tuberculosis in Infants

:
Radiographic and CT Findings”
Pembimbing :
dr. Nunu Heryana Sp.Rad

Wisnu Surya Wardhana
2013730120

KEPANITERAAN KLINIK ILMU RADIOLOGI
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANJAR
2018
Pendahuluan
• Komplikasi tuberkulosis sering terjadi pada masa
bayi, diagnosis yang benar tuberkulosis pada bayi
adalah penting.
• Tujuan penelitian adalah untuk meringkas
temuan radiografi dan CT tuberkulosis paru pada
bayi dan untuk menentukan radiologis yang
sering terlihat pada bayi dengan penyakit ini.
Pendahuluan
• Tuberkulosis tetap merupakan penyebab
utama morbiditas dan mortalitas di seluruh
dunia
• Anak-anak mewakili salah satu kelompok
berisiko tinggi, biasanya pada anak dengan
usia kurang dari 5 tahun.
• Diagnosis dini dan cepat serta perawatan sangat penting
untuk bayi dengan tuberkulosis. Konfirmasi bakteriologis
dari penyakit pada anak-anak sulit, dan dalam bayi yang
lebih muda (<3 bulan), tuberkulin tes sering negatif .
Karena itu, radiografi thorax dan riwayat kontak dengan
pasien yang memiliki tuberkulosis berperan penting dalam
mendiagnosis tuberkulosis pada bayi.
Metode Penelitian
• Study retrospektif
Radiografi thorax (n=25) dan CT-Scan Thorax (n=
17) dari 25 bayi yang terdiagnosa TB Paru dari
tahun 1991-2003.
15 laki-laki dan 10 perempuan dari usia 2-12
bulan (usia rata-rata 5,9 bulan)
• Tes Mantoux dilakukan pada semua pasien: Positif 11 (44%)
• Riwayat anggota keluarga dengan TB ada 7 (28%)
• Gejala :
 Demam (84%)
 Batuk (76%)
 Dahak (48%)
 Rhinorrhea (36%)
 takipnea (32%)
Tiga ahli radiologi menganalisis radiografi dada dan CT scan
• Radiografi thorax, memeperhatikan pola lesi di parenkim paru
(konsolidasi, nodul, dan disseminated disease), cavitas dalam
lesi,daerah mediastinum menggembung yang menunjukkan
limfadenopati, dan komplikasi saluran napas atau pleura
• CT scan, pola lesi parenkim paru (air-space konsolidasi, nodul
bronkogenik, dan disseminated nodul); cavitas di dalam lesi;
limfadenopati mediastinum dan hilus dengan atau tanpa nekrosis
sentral; komplikasi saluran napas; pleura, perikardial, dan lesi
dinding dada; dan keterlibatan organ lain diamati dengan hati-hati.
Hasil Radiografi Thorax
( n = 25), ditemukan
air-space
konsolidasi, terjadi
pada 20 pasien
(80%) (Gambar
1A(*)).
• Lesi nodular (n=7)
(28%), dan, di
antaranya,
ipsilateral atau
kontralateral air-
space konsolidasi
terlihat pada lima
pasien (Gambar 2).
• Disseminated
nodul
(n=6)(24%)
(Gambar 3A,
4A, dan 5A),
dan semuanya
berusia 4
bulan atau
lebih muda
• Cavitas dalam lesi
di parenkim
paru(n=2)
(Gambar. 2 dan
4A).
• Pelebaran
mediastinum,
limfadenopati
mediastinal atau
hilar (n=18) (72%)
(Gambar. 1A()),
• Hiperinflasi paru-paru ( n = 8, 32%),
penyempitan bronkus ( n = 4, 16%), dan
atelektasis ( n = 4, 16%) juga sering
ditemukan.
Hasil CT-Scan

• Pada CT scan dada ( n = 17), air-space konsolidasi
terlihat pada semua, 17 pasien. Konsolidasi seperti
massa (*) ditemukan 10 dari 17 pasien (59%)
• Multifokal area atenuasi rendah dalam konsolidasi terlihat pada tujuh
pasien (41%) (Gambar 3C (panah)).
• Nodul disseminated paru pada lima pasien (29%) (Gambar 3B, 4B, dan 5B).
• Tiga dari mereka, Nodul disseminated lebih besar (> 2 mm) biasanya
nodul milier TBC dewasa dan bersatu dengan satu sama lain (Gambar. 3B
dan 4B).
• Pada satu pasien, terdapat cavitas dalam
nodul diseminata (Gambar 4B).
• Ditemukan nodul bronkogenik pada tujuh pasien
(41%). Pada ketiga pasien yang memiliki CT resolusi
tinggi, centrilobular nodul atau struktur linear
percabangan menunjukkan penyebaran bronkogenik
tuberkulosis (Gambar. 6B).
• Limfadenopati mediastinum dan hilus diamati pada semua 17 pasien. Pada High
resolution CT, kelenjar getah bening yang terlibat menunjukkan gambaran pusat
rendah atenuasi dan peningkatan perifer di semua pasien (Gambar. 1B (panah)).
• Paratrakeal yang tepat dan simpul subcarinal adalah
yang paling sering terlibat (untuk keduanya, n = 13,
76%).
• Limfadenopati dari nodus hilus kanan terlihat di 10 dari
17 pasien (59%), nodus paratrakeal ditemukan pada
sembilan pasien (53%), dan nodus hilus kiri ditemukan
dalam tujuh (41%). Pada dua pasien (12%), kalsifikasi
terlihat dalam nodus yang membesar.
• Komplikasi saluran napas sering terjadi pada
temuan CT scan. Penyempitan bronkus terlihat
pada 11 pasien ( ) (65%) limfadenopati
peribronkial yang berdekatan (Gambar 6C).
• Hiperinflasi paru dengan limfadenopati
mediastinum terlihat pada delapan pasien (47%).
Bronkiektasis ditemukan pada satu pasien.
• Efusi pleura terkait dengan air-space konsolidasi
(n=5)(29%), dan 1 pasien yang terlihat bilateral.
Penebalan perikardial terdeteksi pada dua pasien.
• Lesi di parenkim paru bilateral (n=6)(50%) dan
melibatkan lobus atas kanan ( n = 10), lobus
kiri atas ( n = 9), lobus bawah ( n = 7), lobus
kanan bawah ( n = 7), dan tengah kanan lobus
( n = 5).
Kesimpulan
• Temuan radiologis tuberkulosis paru yang sering pada bayi adalah
mediastinal atau hilar lymphadenopathy dengan central nekrosis
dan air-space konsolidasi, khususnya konsolidasi seperti massa
dengan daerah atenuasi rendah atau cavitas dalam konsolidasi.
• Nodul paru diseminata dan komplikasi saluran napas juga sering
terdeteksi di kelompok usia ini. CT adalah teknik diagnostik yang
berguna pada bayi dengan tuberkulosis karena dapat menunjukkan
lesi di parenkim dan limfadenopati tuberkulosis lebih baik daripada
radiografi toraks. CT scan juga bisa membantu ketika radiografi
thorax tidak dapat disimpulkan atau dicurigai komplikasi
tuberkulosis.