You are on page 1of 21

LAPORAN PENDAHULUAN

POST VP SHUNT a/i HIDROCEPHALUS


e.c SPACE OCCUPIYING LESSION (SOL)

DISUSUN OLEH :

NADYA PUSPITA DEWI


PPN 36

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2018
PENGERTIAN

VP Shunt

Ventriculoperitoneal Shunt adalah suatu prosedur


bedah yang dilakukan untuk membebaskan tekanan
intrakranial dengan cara memasang kateter pada
ventrikel yang mngalirkan cairan serebro spinal
menuju dinding peritoneum abdomen (Roth, 2017).
Hidrocephalus
Hidrocephalus berasal dari bahasa Yunani,
yaitu: hydro (air), cephalus (kepala).
Hidrocephalus merupakan keadaan
kelebihan air (cairan serebro spinal)
dalam kubah tengkorak (ventrikel
serebral, ruang subarachnoid, ruang
subdural) yang diakibatkan oleh
pembentukan cairan berlebih oleh
pleksus koroideus, absorbsi yang tidak
adequat, atau obstruksi aliran keluar
pada salah satu ventrikel atau lebih
(Muttaqin, 2008).
Space Occupiying Lession
(SOL)
Space Occupiying Lession (SOL)
merupakan lesi yang berasal dari
neoplasma, inflamasi, parasitic,
traumatik, dan kongenital yang
dapat meningkatkan volume
ruang intrakranial yang
menyebabkan adanya peningkatan
tekanan intrakranial.
TANDA DAN GEJALA

1. Ukuran kepala yang membesar disertai


peningkatan TIK;
2. Nyeri kepala/pusing;
3. Pandangan mata ke bawah;
4. Mual, muntah;
5. Gelisah;
6. Kelelahan;
7. Kejang;
8. Penurunan GCS.
ETIOLOGI

1. Kelainan Bawaan (Stenosis aqueduktus sylvii,


spina bifida dan kranium bifida, sindrom dandy-
walker, atresia kongenital foreamen luscha dan
magendie yang menyebabkan hidrochepalus
obstruktif, kista arakhnoid, anomali pembuluh
darah)
2. infeksi
3. Neoplasma
4. Perdarahan
Faktor Resiko

1. Prematur;
2. Meningitis;
3. Ensephalitis;
4. TBC;
5. Leukimia limfoblastik akut;
6. Pnumonia;
7. Otitis Media Kronik.
Pemeriksaan Penunjang

1. CT-scan;
2. MRI;
3. Rontgen kepala;
4. Cairan serebrospinal;
5. Elektrolit darah dan AGD.
Penatalaksanaan

1. Tirah baring total (mencegah resiko peningkatan TIK,


resiko cedera, gangguan neurologis).
2. Observasi tanda-tanda vital dan GCS
3. Pemberian obat-obatan
4. Dexametasone sebgai anti edema serebri sesuai indikasi;
5. Larutan hipertonis Manitol 20% atau Glukosa 40% sesuai
indikasi;
6. Antibiotik anaerob seperti Metronidazole sesuai indikasi;
7. Cairan nutrisi seperti Dextrose 5% sesuai indikasi;
8. Pengobatan Azetazolamid (Diamoks) untuk inhibisi LCS.
9. Memperbaiki hubungan tempat produksi dengan tempat
reabsorbsi
10. Pengeluaran LCS ke organ ekstrakranial:
Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul dan
Intervensi (Blackwell, 2015).

Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral b.d peningkatan TIK


NOC = Kebutuhan oksigen terpenuhi, tidak terjadi hipoksia cerebri, peningakatan TIK teratasi.
NIC =
1. Monitoring TTV dan I/O.
2. Evaluasi pupil.
3. Ciptakan lingkungan yang nyaman.
4. Pertahakan posisi kepala dan leher yang netral/indari penggunaan bantal yang tinggi.
5. Berikan periode istirahat.
6. Atur posisi yang nyaman.
7. Kolaborasi pemberian oksigen sesuai indikasi.
8. Hindari valsaa manuver dengan peberia laksatif sesuai indikasi/pada bayi monitoring BAB.
9. Cek distensi kandung kemih dan bising usus
10. Observasi GCS
11. Kolaborasi pemberian Oksigen.
12. Kolaborasi diuretik (manitol, furosemide).
13. Kolaborasi pemberian azetazolamid dan furosemide.
14. Kolaborasi steroid (dexametason, metilprednisolone).
15. Monitoring tanda hipoksia (CRT, pola pernafasan, kesadaran, nadi, akral).
Nyeri akut b.d peningkatan TIK
NOC = Nyeri berkurang
NIC =
1. Hindari penekanan daerah kepala.
2. Ajarkan teknik distraksi relaksasi.
3. Kolaborasi pemberian analgetik.
Hipertermi b.d proses inflamasi
NOC = Suhu tubuh dalam rentang normal
NIC =
1. Ciptakan lingkungan yang nyaman.
2. Memberikan pakaian yang menyerap keringat.
3. Pemberian kompres sesuai indikasi.
4. Kolaborasi pemberian antibiotik dan antipiretik.
Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d
anoreksia, nausea, vomit
NOC = Nutrisi terpenuhi
NIC =
1. Bantu pemberian makan sedikit tapi sering
2. bantu melakakukan oral hygiene
3. Kolaborasi pemasangan sonde sesuai indikasi.
4. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian
nutrisi yang adekuat
5. Kolaborasi pemberian antiemetik.
Berduka b.d kelahiran anak dengan hidrosephalus
NOC = Orangtua menunjukan sikap penerimaan
NIC =
1. Beri dukungan moral
2. Jelaskan tentang prosedur pengobatan yang
dialami anaknya.
3. Motivasi agar mendukung.
4. proses pengobatan sesuai prosedur.
Resiko tinggi infeksi b.d inkontinuitas jaringan dan
pemasangan alat invasif (VP shunt)
NOC = Tidak terjadi infeksi
NIC =
1. Jaga kondisi luka tetap bersih dan steril.
2. Lakukan perawatan luka.
3. Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.
Resiko cedera b.d kejang, perubahan status mental,
pnurunan kesadaran
NOC = Pasien bebas cidera
NIC =
1. Ciptakan lingkungan aman dan nyaman.
2. Pertahankan bedrest.
3. Pasang bedplank.
4. Kolabrasi diazepam dan fenobarbital
Resiko gangguan integritas kulit b.d imoblisasi, tidak
kuatnya sirkulasi
NOC = Mempertahankan keutuhan kulit
NIC =
1. Ubah posisi tiap 2 jam
2. Lakukan massage di area yang menonjol dan
tertekan dalam waktu lama
3. Pertahankan kulit tetap bersih dan kering.
DAFTAR PUSTAKA

Blackwell, W. (2015). Nursing Diagnoses Definition and


Classification. In H. Herdman (Ed.), NANDA
International. Jakarta: EGC.
Muttaqin, A. (2008). Buku Ajar Asuhan Keperawatan
Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan. (A.
Novianty, Ed.). Jakarta: Salemba Medika.
Roth, E. (2017). Ventriculoperitoneal Shunt. Retrieved
from
https://www.healthline.com/health/ventriculoperitoneal
-shunt