You are on page 1of 18

WAWANCARA OBAT

1. SRI WAHYUNI (18340002) 8. RAHMAT M
2. ERNA BUDI SAFITRI (18340003) 9. RINI KARNI
3. RIDHO NOOR SHYDIQ 10.NURUL ARA
(18340004) 11. ANGGIE HE
4. NOVIA WULANSARI (18340007) (18340029)
5. AYU SISKHA SUHAIMI 12. YOLANDA
(18340010)
13. FAIRUZ RIF
6. ISA RONDASI(18340012) 14. MUTIARA
7. SEPTYANA PATABANG (18340037)
( 18340013)

KELOMPOK 4
Pentingnya sejarah obat pasien yang terdokumentasi adalah
jelas sehubungan dengan begitu banyaknya obat berkhasiat
keras, tersedia bagi pasien dan seringnya terjadi reaksi obat
merugikan dan penyalahgunaan obat. Apoteker mempunyai
kontribusi yang signifikan pada perawatan pasien dengan
menyelidiki sejarah obatnya secara seksama.

Keberhasilan untuk kerja pelayanan klinik oleh apoteker
bergantung pada ketrampilan komunikasi dan wawancara
yang efektif. Berbagai kegiatan klinik, seperti konseling dan
konsultasi terapi obat, biasanya memerlukan suatu data
base, mencakup informasi yang diperoleh dari wawancara
sejarah obat. Komunikasi langsung pasien-apoteker dalam
format wawancara, sering kali memberikan data yang
signifikan dan padanya bergantung berbagai kegitan klinik
lain.
Wawancara adalah suatu komponen penting dalam proses
manajemen penyakit untuk pengambilan keputusan terapeutik.
Wawancara yang efektif, dengan menanyakan. pertanyaan-
pertanyaan yang tepat, memungkinkan farmasis untuk dapat
mengevaluasi kepatuhan pasien terhadap regimen pengobatan.
Apoteker harus memperoleh data riwayat kesehatan dan
pengobatan pasien secara akurat karena hal-hal tersebut
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses
pengkajian awal pasien pada praktek farmasi komunitas dan
rawat jalan, setelah pasien masuk dan dirawat inap di rumah
sakit. Dokumentasi pengobatan, informasi alergi yang salah
atau tidak lengkap, dapat mengakibatkan terbuangnya waktu
bahkan mengakibatkan kesalahan- kesalahan terapi obat yang
signifikan.
TUJUAN

 Tujuan utama dari wawancara kesehatan adalah untuk
memperoleh informasi tentang penggunaan obat yang
dapat membantu dalam diagnosis dan/atau pengobatan
pasien. Proses wawancara dapat menyelidiki semua
aspek dari penggunaan obat pasien atau dibatasi untuk
memperoleh informasi hanya pada bidang tertentu.
 Informasi-informasi yang telah diperoleh, ditambah
dengan informasi mengenai pekerjaan pasien,
kemampuan bahasa dan sikap pasien dapat juga
berkontribusi dalam memahami dan memecahkan
masalah yang berkaitan dengan obat.
1. Membuktikan reaksi alergi dan reaksi obat yang
merugikan.

2. Memeriksa resep/order obat yang ditulis
pada waktu masuk rumah sakit.
TUJUAN
WAWNCARA 3. Menetapkan respon pasien terhadap obat
RIWAYAT
PENGOBATAN 4. Menetapkan kepatuhan pasien pada
regimen obatnya.

5. Penapisan interaksi obat.

6. Mengkaji penyalahgunaan obat.
7. Memperoleh informasi tentang sikap umum pasien
terhadap obat.

8. Mengevaluasi efektivitas pengobatan yang dulu
dan sekarang.

9. Mengetahui diet/pembatasan makanan.

10. Mengetahui riwayat penggunaan nikotin,
rokok, kafein dan alkohol

11. Mengetahui sejarah reaksi obat merugikan
yang telah lalu.

12. Memperhitungkan kebutuhan pasien akan perlu
tidaknya konseling dan pembelajaran di kemudian hari.
PENGGUNAAN OBAT-
OBATAN
 dilakukan untu mendapatkan gambaran yang
lengkap mengenai resep obat yang sedang
digunakan, termasuk nama dan dosis dari obat,
jadwal pemberian (yang tertera pada resep dan
yang aktual), lamanya terapi, alasan mengapa
pasien memerlukan pengobatan, serta hasil dari
terapi tersebut. Informasi mengenai resep obat
yang sedang digunakan membantu farmasis
untuk mengevaluasi khasiat dan keamanan dari
regimen yang diresepkan.
Keterampilan dasar dalam wawancara

1. Lingkungan
Kriteria lingkungan : - suhu ruangan yang nyaman
- pencahayaan ruangan yang memadai
- lingkungan yang tenang
- tempat yang bersih dan terorganisir
- privasi
- posisi duduk yang sama rata

2. kalimat pembuka : farmasis harus memperkenalkan dirinya dan
menjelaskan alasan perlunya interaksi apabila pasien belum mengenalnya.
Contoh : ny. Cinta saya susi apoteker di apotek ini. Saya perlu berbicara dengan
anda untuk melihat bagaimana keadaan anda selama terapi. Itu hanya perlu
beberapa menit saj.
3. Jenis-jenis pertanyaan

Pertanyaan terbuka : contoh
a. Bagaimana, apakah semua berjalan sejak terakhir saya bertemu
anda?
b. Bagaimana yang anda rasakan sejak memulai pengobatan yang
baru?
c. pengobatan apa yang sedang anda minum saat ini?
d. Bagaimana anda meminum obat anda?
Pertanyaan tertutup : contoh
 Apakah anda merasa nyeri pada dada terjadi ketika duduk?
 Apakah anda merasa pusing ketika minum hytrin?
 Apakah anda meminum obat tekanan darah pagi ini?
 Pernahkan anda mengalami reaksi alergi terhadap suatu obat?
4. Verifikasi informasi pasien

klarifikasi

Ringkasan refleksi

keheningan empati

fasilitasi
5. Komunikasi nonverbal

jarak

Gerak isyarat Postur tubuh

Ekspresi
Kontak mata
wajah
6. Persyaratan penutup

 Membawa wawancara penutup yang tepat merupakan bagian
penting dari proses komunikasi. Cara efektif untuk menutup
interaksi adalah memberi ringkasan singkat.

 Farmasis dapat menyimpulkan dengan sebuah pernyataan
tertutup sederhana (misalnya: apakah anda memiliki
pertanyaan?) atau pernyataan tulus ( misalnya: terima kasih
untuk waktu anda, jika anda mempunyai pertanyaan setelah
sampai rumah dapat menghubungi saya)
TAHAPAN WAWANCARA OBAT

1. Memperkenalkan diri

2. Menanyakan kondisi saat ini ketika sedang
diobatai

3. Mengenai kondisi sekarang secara umum

4. Mengumpulkan informasi tentang setiap kondisi
dan pengobatan yang terkait dengan sebelum
berlanjut ke kondisi selanjutnya

5. Menanyakan mengenai lamanya kondisi tersebut
dialami pasien
6. Menanyakan mengenai pengobatan yang
dilakukan untuk mengatasi kondisi tersebut

7. Menanyakan secara terperinci
mengenai tiap pengobatan secara terpisah:

Pembuat resep: ″Siapakah yang meresepkan obat-obatan tersebut kepada
anda?″
- Metode penggunaan: ″Bagaimana anda menggunakan obat-obatan
tersebut?″
- Memastikan kepatuhan: ″Berapa banyak anda menggunakan tiap waktu?″
- Keefektifan: ″Apakah anda merasa bahwa obat tersebut membantu anda?″
- Alasan untuk ketidakpatuhan (jika terdeteksi pasien tidak patuh)
- Efek samping dan efek yang tidak diinginkan, jika perlu, tanyakan secara
spesifik: ″Apakah anda merasa sakit pada perut bagian atas ketika anda
telah menggunakan obat tersebut?″
- Pengobatan pada waktu lampau untuk kondisi kesehatan
- Pengobatan dari resep lainnya yang digunakan
Kesalahan – kesalahan umum dalam wawancara

Memberikan
Mengubah Memberi
penghiburan
subyek nasehat
yang tidak tepat

Menggunakan
Pertanyaan
terminology
yang bias
profesional
Riwayat pengobatan

Obat-obat resep yang
sedang digunakan pasien
 Data yang harus
diperoleh farmasis
untuk riwayat Obat-obat bebas yang
pengobatan
meliputi:
sedang digunakan pasien

Obat-obat resep dan bebas
yang pernah digunakan
kesimpulan

1. Pentingnya sejarah obat pasien yang terdokumentasi
adalah jelas sehubungan dengan begitu banyaknya
obat berkhasiat keras, tersedia bagi pasien dan
seringnya terjadi reaksi obat merugikan (ROM) dan
penyalahgunaan obat.
2. Apoteker mempunyai kontribusi yang signifikan pada
perawatan pasien dengan menyelidiki sejarah obatnya
secara seksama.
3. Selama wawancara, apoteker harus mendorong rasa
kebersamaan antara pasien dan apoteker. Hal ini dapat
dicapai dengan memasukkan pasien dalam proses
pengobatan. Memberikan alasan untuk terapi obat dan
perlunya suatu sejarah yang akurat dan lengkap, dapat
memotivasi pasien untuk berpartisipasi lebih besar
dalam wawancara.
TERIMA KASIH