You are on page 1of 316

STANDAR

AKUTANSI
PEMERINTAHAN
KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN

KERANGKA KONSEPTUAL
STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN
BERBASIS AKRUAL
RUANG LINGKUP KERANGKA KONSPETUAL

1. Tujuan Kerangka Konseptual


2. Lingkungan Akuntansi Pemerintahan
3. Pengguna dan Kebutuhan Informasi
Para Pengguna
4. Entitas Akuntansi dan Entitas Pelaporan
5. Peranan dan Tujuan Pelaporan
Keuangan serta Komponen Laporan
Keuangan
6. Asumsi Dasar, Karakteristik Kualitatif,
Prinsip-prinsip serta Kendala Informasi
Akuntansi
7. Unsur Laporan Keuangan, Pengakuan
dan pengukurannya 3
TUJUAN KERANGKA KONSEPTUAL

Sebagai acuan bagi:


 Penyusun standar;
 Penyusun laporan keuangan;
 Pemeriksa;
 Para pengguna laporan.
POSISI KERANGKA KONSEPTUAL

 Kerangka Konseptual bukan standar akuntansi

 Kerangkakonseptual berfungsi sebagai acuan jika


terdapat masalah akuntansi yg belum dinyatakan
dalam SAP

 Jika
terjadi pertentangan antara kerangka konseptual
dan standar akuntansi, maka ketentuan standar
akuntansi diunggulkan relatif terhadap kerangka
konseptual
LINGKUNGAN AKUNTANSI PEMERINTAHAN

a. Ciri utama struktur pemerintahan dan


pelayanan
 Bentuk umum pemerintahan dan pemisahan
kekuasaaan
 Sistem pemerintahan otonomi dan transfer
pendapatan antar pemerintahan
 adanya pengaruh proses poltik
 Hub. Antara pembayar pajak dgn pelayanan
pemerintahan.

b.Ciri keuangan pemerintah


 Anggaran sbg pernyatan publik, target fiskal dan
sebagai alat pengendalian
 Investasi aset tidak langsung menghasilkan
pendapatan
 Kemungkinan Penggunaan akuntansi dana
PENGGUNA LAPORAN KEUANGAN

 Masyarakat;
 Wakil rakyat, lembaga pengawas,
dan lembaga pemeriksa;
 Pihak yang memberi atau
berperan dalam proses donasi,
investasi, dan pinjaman
 Pemerintah
ENTITAS AKUNTANSI VS ENTITAS PELAPORAN

NO INDIKATO ENTITAS AKUNTANSI ENTITAS PELAPORAN


R
1 Definisi Unit pemerintahan Unit pemerintahan
pengguna yang terdiri dari
anggaran/pengguna satu atau lebih
barang dan oleh entitas akuntansi
karenanya wajib atau entitas
menyelenggarakan pelaporan yang
akuntansi dan menurut ketentuan
menyusun laporan peraturan
keuangan untuk perundang-
digabungkan pada undangan wajib
entitas pelaporan menyampaikan
laporan
pertanggungjawaba
n berupa laporan
keuangan8
ENTITAS AKUNTANSI VS ENTITAS PELAPORAN

NO INDIKATO ENTITAS AKUNTANSI ENTITAS PELAPORAN


R
2 Komponen 1. KPA-K/L yang 1. Pemerintah Pusat
mempunyai dokumen
anggaran tersendiri
2. Bendahara Umum 2. Pemerintah Daerah
Daerah (BUD)
3. Kuasa Pengguna 3. Kementerian
Anggaran di Negara/lembaga di
lingkungan Pemda bila lingkungan Pemerintah
mempunyai dokumen Pusat
pelaksanaan anggaran
yang terpisah
4. Satuan organisasi di
lingkungan
pusat/daerah atau
organisasi lainnya, jika
menurut peraturan
perundang-undangan
satuan organisasi
9
dimaksud wajib
PERANAN PELAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH

• mempertanggungjawabkan pengelolaan
Akuntabilitas dan pelaksanaan kebijakan sumber daya
dalam mencapai tujuan

• memudahkan fungsi perencanaan,


Manajemen pengelolaan dan pengendalian atas aset,
kewajiban dan ekuitas dana pemerintah

• memberikan informasi keuangan yang


Transparansi terbuka, jujur, menyeluruh kepada
stakeholders
• mengevaluasi kinerja entitas pelaporan,
terutama dalam menggunakan sumber
Evaluasi Kinerja
daya ekonomi untuk mencapai kinerja
Transparansi informasi mengenai
• memberikan
kecukupan penerimaan pemerintah
Keseimbangan untuk membiayai seluruh pengeluaran,
Antargenerasi dan apakah generasi y.a.d ikut
menanggung beban pengeluaran
tersebut 10
TUJUAN PELAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH

Menyajikan informasi yang


bermanfaat bagi para
pengguna dalam menilai
akuntabilitas dan membuat
keputusan ekonomi, sosial
maupun politik.

11
KOMPONEN LAPORAN KEUANGAN POKOK

1. Laporan Realisasi Anggaran (LRA)


2. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (Laporan
Perubahan SAL)
3. Neraca
4. Laporan Operasional (LO)
5. Laporan Arus Kas (LAK)
6. Laporan Perubahan Ekuitas (LPE)
7. Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK)
ASUMSI DASAR

 Asumsi kemandirian entitas


 Asumsi kesinambungan entitas
 Asumsi keterukuran dalam
satuan uang (monetary
measurement)

13
KARAKTERISTIK KUALITATIF LAPORAN KEUANGAN

 Relevan;
 Andal;
 Dapat dibandingkan; dan
 Dapat dipahami
PRINSIP AKUNTANSI DAN PELAPORAN KEUANGAN

 Basis akuntansi;
 Prinsip nilai historis;
 Prinsip realisasi;
 Prinsip substansi mengungguli
bentuk formal;
 Prinsip periodisitas;
 Prinsip konsistensi;
 Prinsip pengungkapan lengkap; dan
 Prinsip penyajian wajar.

16
BASIS AKUNTANSI

 Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan


keuangan pemerintah entitas adalah Basis Akrual

 Basis akrual digunakan untuk pengakuan pendapatan-


LO, beban, aset, kewajiban dan ekuitas

 Dalam hal anggaran disusun dan dilaksanakan


berdasarkan basis kas maka LRA disusun berdasarkan
basis kas
PRINSIP NILAI HISTORIS

Aset dicatat sebesar pengeluaran kas dan setara kas


yang dibayar atau sebesar nilai wajar dari imbalan
(consideration) untuk memperoleh aset tersebut pada
saat perolehan.

Kewajiban dicatat sebesar jumlah kas dan setara kas


yang diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi
kewajiban di masa yang akan datang.

Nilai historis lebih dapat diandalkan daripada


penilaian yang lain karena lebih obyektif dan dapat
diverifikasi.

18
PRINSIP REALISASI

 Pendapatan basis kas yang tersedia yang


telah diotorisasikan melalui anggaran
pemerintah selama suatu periode akuntansi
akan digunakan untuk membiayai utang
dan belanja yang terjadi dalam periode
tersebut.

 Prinsip penandingan pendapatan-belanja


tidak mendapat penekanan seperti dalam
akuntansi komersial.

19
SUBSTANSI MENGUNGGULI BENTUK FORMAL

Peristiwa harus dicatat dan disajikan


sesuai dengan substansi dan realitas
ekonomi, bukan hanya mengikuti
aspek formalitas.
KONSISTENSI

 Perlakuan akuntansi yang sama harus


ditetapkan pada kejadian yang serupa dari
periode ke periode oleh suatu entitas (prinsip
konsistensi internal).

 Metode akuntansi yang dipakai dapat diubah


dengan syarat metode yang baru diterapkan
menunjukkan hasil yang lebih baik dari metode
yang lama.

 Pengaruh atas perubahan penerapan metode


harus diungkapkan dalam laporan keuangan.

21
PERIODISITAS

Kegiatan akuntansi dan


pelaporan keuangan entitas
pemerintah perlu dibagi
menjadi periode-periode
pelaporan sehingga kinerja
entitas dapat diukur dan posisi
sumber daya yang dimilikinya
dapat ditentukan
22
PENGUNGKAPAN LENGKAP

 Laporankeuangan harus
menyajikan secara lengkap
informasi yang dibutuhkan oleh
pengguna.

 Informasitersebut dapat
ditempatkan pada lembar muka
laporan keuangan atau catatan
atas laporan keuangan.
23
PENYAJIAN WAJAR

Dalam penyajian dengan wajar posisi


keuangan, kinerja, dan perubahan posisi
keuangan suatu entitas, diperlukan
pertimbangan sehat yang mengandung
unsur-unsur kehati-hatian pada saat
melakukan prakiraan dalam kondisi
ketidakpastian sehingga aset atau
pendapatan tidak dinyatakan terlalu tinggi
dan kewajiban tidak dinyatakan terlalu
rendah
24
KENDALA INFORMASI YANG RELEVAN

 MATERIALITAS
 PERTIMBANGAN BIAYA DAN MANFAAT
 KESEIMBANGAN ANTAR KARAKTIRISTIK
KUALITATIF

25
PENGAKUAN ASET

 Aset diakui pada saat potensi ekonomi


masa depan diperoleh dan mempunyai
nilai yang dapat diukur dengan andal;
 Aset dalam bentuk piutang diakui ketika
hak klaim untuk mendapatkan arus kas
masuk atau manfaat ekonomi lainnya
dari entitas lainnya telah atau tetap
masih terpenuhi,dan nilai klaim tersebut
dapat diukur atau diestimasi
 Aset dalam bentuk kas yang diperoleh
pemerintah titik pengakuannya
memerlukan pengaturan yang lebih rinci

26
PENGAKUAN KEWAJIBAN

 Kewajiban diakui pada saat dana


pinjaman diterima atau pada saat
kewajiban timbul

27
PENGAKUAN PENDAPATAN

 Pendapatan-LO diakui pada saat


timbulnya hak atas pendapatan
tersebut atau ada aliran masuk
sumber daya ekonomi
 Pendapatan-LRA diakui pada saat
kas diterima di Rekening Kas
Umum Negara/Daerah

28
PENGAKUAN BEBAN DAN BELANJA

 Beban diakui pada saat


timbulnya kewajiban, terjadinya
konsumsi aset, atau terjadinya
penurunan manfaat ekonomi
atau potensi jasa
 Belanja diakui berdasarkan
terjadinya pengeluaran dari
Rekening Kas Umum
Negara/Daerah.

29
PENGAKUAN UNSUR LAPORAN KEUANGAN

 Pengukuran adalah proses penetapan


nilai mata uang untuk mengakui dan
memasukkan setiap pos dalam laporan
keuangan menggunakan nilai perolehan
historis
 Aset dicatat sebesar pengeluaran/
penggunaan sumber daya ekonomi
atau sebesar nilai wajar dari imbalan
yang diberikan untuk memperoleh aset
tersebut
 Kewajiban dicatat sebesar nilai wajar
sumber daya ekonomi yang digunakan
pemerintah untuk memenuhi kewajiban
yang bersangkutan
30
KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN
KSAP
KSAP

PSAP NO. 01
PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN
KSAP POKOK BAHASAN
1. Tujuan
2. Ruang Lingkup
3. Definisi Unsur Laporan Keuangan
4. Basis Akuntansi
5. Tanggung Jawab Pelaporan Keuangan
6. Informasi Laporan Keuangan
7. Komponen-Komponen Laporan Keuangan
8. Struktur dan Isi Laporan Keuangan
KSAP TUJ UAN PSAP 01

 Tujuan PSAP 01 adalah untuk mengatur


penyajian laporan keuangan untuk tujuan
umum.

 Laporan keuangan untuk tujuan umum adalah


laporan keuangan yang ditujukan untuk
memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar
pengguna laporan termasuk lembaga legislatif
sebagaimana ditetapkan dalam ketentuan
peraturan perundang-undangan
(Par 1)

33
KSAP
RUANG LINGKUP

 Laporan keuangan untuk tujuan umum disusun


dan disajikan dengan basis akrual

 Pernyataan standar ini berlaku untuk entitas


pelaporan dalam menyusun laporan keuangan
suatu entitas pemerintah pusat, pemerintah
daerah dan laporan keuangan konsolidasian,
tidak termasuk perusahaan negara/daerah
(Par 2)

34
KSAP DEFINISI

Pendatapan-LRA: semua penerimaan Rekening Kas Umum Negara /Daerah yang menambah
Saldo Anggaran Lebih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak
pemerintah, dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah.

Pendapatan-LO: hak pemerintah pusat/daerah yang diakui sebagai penambah ekuitas dalam
periode tahun anggaran yang bersangkutan dan tidak perlu dibayar kembali.

Belanja: semua pengeluaran dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah yang mengurangi Saldo
Anggaran Lebih dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh
pembayarannya kembali oleh pemerintah.

Beban: penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa dalam periode pelaporan yang
menurunkan ekuitas, yang dapat berupa pengeluaran atau konsumsi aset atau timbulnya
kewajiban.

(Par 8)

35
KSAP DEFINISI

Surplus/Defisit-LRA:selisih lebih/kurang antara pendapatan-LRA dan belanja selama satu periode


pelaporan.
Surplus/Defisit-LO: selisih antara pendapatan-LO dan beban selama satu periode pelaporan,
setelah diperhitungkan surplus/ defisit dari kegiatan non operasional dan pos luar biasa.

Penyusutan adalah alokasi yang sistematis atas nilai suatu aset tetap yang dapat disusutkan
(depreciable assets) selama masa manfaat aset yang bersangkutan.

Pos luar biasa: pendapatan luar biasa/ beban luar biasa yg terjadi karena kejadian atau transaksi
yg bukan merupakan operasi biasa, tidak diharapkan sering atau rutin terjadi, dan berada di luar
kendali atau pengaruh entitas bersangkutan.

Saldo Anggaran Lebih adalah gunggungan saldo yang berasal dari akumulasi SiLPA/SiKPA tahun-
tahun anggaran sebelumnya dan tahun berjalan serta penyesuaian lain yang diperkenankan

(Par 8)

36
KSAP TANGGUNG JAWAB PELAPORAN KEUANGAN

Tanggung jawab penyusunan dan


penyajian laporan keuangan berada
pada pimpinan entitas
(Par 13)
KSAP INFORMASI LAPORAN KEUANGAN
Laporan keuangan menyediakan informasi mengenai
entitas pelaporan dalam hal:
• Aset;
• Kewajiban;
• Ekuitas;
• Pendapatan-LRA;
• Belanja;
• Transfer;
• Pembiayaan;
• Saldo anggaran lebih
• Pendapatan-LO;
• Beban; dan
• Arus kas. (Par 11)
38
KSAP KOMPONEN LAPORAN KEUANGAN
Komponen laporan keuangan pokok:
 Laporan Realisasi Anggaran
 Laporan Perubahan SAL
 Neraca
 Laporan Operasional (LO)
 LAK
 Laporan Perubahan Ekuitas (LPE)
 CaLK
(Par 14)
Setiap entitas menyajikan komponen-komponen laporan keuangan tersebut
kecuali :
• LAK yang hanya disajikan oleh entitas yang mempunyai fungsi perbendaharaan
umum;
• Laporan Perubahan SAL yang hanya disajikan oleh Bendahara Umum
Negara/Daerah dan entitas pelaporan yang menyusun laporan keuangan
konsolidasiannya.
(Par 15)
KSAP LAPORAN KEUANGAN

• Tetap diperlukan untuk memenuhi kewajiban pemerintah yang


diatur dalam peraturan perundangan (statutory)
• Laporan Perubahan SAL menyajikan secara komparatif dengan periode
sebelumnya pos-pos berikut:
a. Saldo Anggaran Lebih awal;
b. Penggunaan Saldo Anggaran Lebih;
c. Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran tahun berjalan;
d. Koreksi Kesalahan Pembukuan tahun Sebelumnya; dan
e. Lain-lain;
f. Saldo Anggaran Lebih Akhir.
(Par 41)
• Neraca menggambarkan posisi keuangan pemerintah mengenai aset,
kewajiban, dan ekuitas dana pada tanggal tertentu.
KSAP LAPORAN ARUS KAS
 Menyajikan informasi mengenai sumber,
penggunaan, perubahan kas dan setara kas pada
tanggal pelaporan.
 Disajikan oleh entitas yang mempunyai fungsi
perbendaharaan umum (Par 15)
 Arus masuk dan keluar kas diklasifikasikan
berdasarkan aktivitas operasi, investasi,
pendanaan, dan transitoris (Par 90)
KSAP LAPORAN OPERASIONAL

 Merupakan Laporan yang menyajikan pos-pos


sebagai berikut:
a) Pendapatan-LO dari kegiatan operasional;
b) Beban dari kegiatan operasional ;
c) Surplus/defisit dari Kegiatan Non Operasional, bila ada;
d) Pos luar biasa, bila ada;
e) Surplus/defisit-LO.
• Kegiatan dapat dianalisis menurut klasifikasi
ekonomi atau fungsi.

(Par 92-93)
KSAP LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS
• Merupakan Laporan yang menyajikan pos-pos:
a) Ekuitas awal;
b) Surplus/defisit-LO pada periode bersangkutan;
c) Koreksi-koreksi yang langsung menambah/ mengurangi
ekuitas, yang antara lain berasal dari dampak kumulatif
yang disebabkan oleh perubahan kebijakan akuntansi dan
koreksi kesalahan mendasar, misalnya: koreksi kesalahan
mendasar dari persediaan yang terjadi pada periode-
periode sebelumnya dan perubahan nilai aset tetap karena
revaluasi aset tetap.
d) Ekuitas akhir.
• Rincian dari unsur dalam LPE disajikan dalam CALK
(Par 101)
KSAP CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

• Disajikan secara sistematis. Setiap pos dalam LRA, Laporan


Perubahan SAL, Neraca, LO, LAK, dan LPE harus mempunyai referensi
silang dengan informasi terkait dalam Catatan atas Laporan
Keuangan.
• Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan atau daftar
terinci atau analisis atas nilai suatu pos yang disajikan dalam LRA,
Laporan Perubahan SAL, Neraca, LO, LAK, dan LPE.
• Catatan atas laporan keuangan terdiri dari:
– Informasi umum entitas pelaporan dan entitas akuntansi
– Informasi tentang kebijakan fisal / keuangan
– Ikhtisar pencapaian target keuangan
– Dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan akuntansi
– Informasi yang diharuskan PSAP yang belum disajikan
– Informasi lainnya untuk penyajian yang wajar
(Par 104 sd 113)
KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN
KSAP
KSAP

PSAP NO. 02
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
KSAPRUANG LINGKUP DAN MANFAAT PSAP No. 02
 PSAP No. 02 diterapkan dalam penyajian Laporan
Realisasi Anggaran yang disusun dan disajikan
dengan menggunakan anggaran berbasis kas;

 LRA menyediakan informasi mengenai realisasi


pendapatan-LRA, belanja, transfer, surplus/defisit-
LRA, dan pembiayaan dari suatu entitas pelaporan
yang masing-masing diperbandingkan dengan
anggarannya.
KSAPDEFINISI LRA

Laporan Realisasi Anggaran (LRA) merupakan


salah satu komponen laporan keuangan
pemerintah yang menyajikan informasi
tentang realisasi dan anggaran entitas
pelaporan secara tersanding untuk suatu
periode tertentu.
KSAPBASIS AKUNTANSI

PENCATATAN LRA MENGGUNAKAN “BASIS KAS”:


 Pendapatan-LRA diakui pada saat diterima pada
rekening Kas Umum Negara/Kas Umum Daerah
 Belanja diakui pada saat terjadinya pengeluaran dari
rekening Kas Umum Negara/Kas Umum Daerah
 Penerimaan pembiayaan diakui pada saat diterima
pada rekening Kas Umum Negara/Kas Umum Daerah
 Pengeluaran pembiayaan diakui pada saat dikeluarkan
dari rekening Kas Umum Negara/Kas Umum Daerah
KSAPISI LAPORAN REALISASI ANGGARAN
Laporan Realisasi Anggaran sekurang-kurangnya mencakup pos-pos
sebagai berikut:
ISI LRA DEFINISI
Pendapatan-LRA Semua penerimaan Rekening Kas Umum Negara/Daerah yang
menambah saldo anggaran lebih dalam periode tahun
anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah,
dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah.

Belanja Semua pengeluaran dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah


yang mengurangi saldo anggaran lebih dalam periode tahun
anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh
pembayarannya kembali oleh pemerintah.

Transfer Penerimaan/pengeluaran uang dari suatu entitas pelaporan


dari/kepada entitas pelaporan lain, termasuk dana
perimbangan dan dana bagi hasil

Lampiran I PP No. 71 Tahun 2010 49


KSAPISI LAPORAN REALISASI ANGGARAN
ISI LRA DEFINISI
Surplus/defisit-LRA Selisih lebih/kurang antara pendapatan – LRA dan belanja
selama satu periode pelaporan dicatat dalam pos
Surplus/Defisit LRA

Penerimaan Pembiayaan Semua penerimaan Rekening Kas Umum Negara/Daerah


antara lain berasal dari penerimaan pinjaman, penjualan
obligasi pemerintah, hasil privatisasi perusahaan
negara/daerah, penerimaan kembali pinjaman yang
diberikan kepada fihak ketiga, penjualan investasi
permanen lainnya, dan pencairan dana cadangan

Pengeluaran Pembiayaan Semua pengeluaran Rekening Kas Umum Negara/Daerah


antara lain pemberian pinjaman kepada fihak ketiga,
penyertaan modal pemerintah, pembayaran kembali
pokok pinjaman dalam periode tahun anggaran tertentu,
dan pembentukan dana cadangan

Lampiran I PP No. 71 Tahun 2010 50


KSAPISI LAPORAN REALISASI ANGGARAN
ISI LRA DEFINISI
Pembiayaan Neto Selisih antara penerimaan pembiayaan setelah dikurangi
pengeluaran pembiayaan dalam periode tahun anggaran
tertentu
Sisa Lebih/kurang pembiayaan Selisih lebih/kurang antara realisasi penerimaan dan
anggaran (SILPA/SIKPA) pengeluaran selama satu periode pelaporan

Lampiran I PP No. 71 Tahun 2010 51


KSAPINFORMASI YANG DISAJIKAN DALAM LRA
 Entitas pelaporan menyajikan klasifikasi
pendapatan menurut jenis pendapatan LRA.
Rincian lebih lanjut jenis pendapatan
disajikan pada Catatan atas Laporan
Keuangan;
 Entitas pelaporan menyajikan klasifikasi
belanja menurut jenis belanja dalam LRA.
Klasifikasi belanja menurut fungsi disajikan
dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

Lampiran I PP No. 71 Tahun 2010 52


KSAPAKUNTANSI ANGGARAN
 Akuntansi anggaran merupakan teknik pertanggungjawaban dan
pengendalian manajemen yang digunakan untuk membantu
pengelolaan pendapatan, belanja, transfer, dan pembiayaan.
 Anggaran pendapatan meliputi estimasi pendapatan yang
dijabarkan menjadi alokasi estimasi pendapatan.
 Anggaran belanja terdiri dari apropriasi yang dijabarkan menjadi
otorisasi kredit anggaran (allotment).
 Anggaran pembiayaan terdiri dari penerimaan pembiayaan dan
pengeluaran pembiayaan
 Akuntansi anggaran diselenggarakan pada saat anggaran
disahkan dan anggaran dialokasikan

Lampiran I PP No. 71 Tahun 2010 53


KSAPAKUNTANSI PENDAPATAN LRA
 Pendapatan-LRA diakui pada saat diterima pada
RKUN/D
 Pendapatan-LRA diklasifikasikan menurut jenis
pendapatan
 Transfer masuk adalah penerimaan uang dari
entitas pelaporan lain, misal DAU dan DBH
 Akuntansi pendapatan dilaksanakan berdasarkan
azas bruto, yaitu dengan membukukan penerimaan
bruto, dan tidak mencatat jumlah netonya (setelah
dikompensasikan dengan pengeluaran)

Lampiran I PP No. 71 Tahun 2010 54


KSAPAKUNTANSI PENDAPATAN LRA
 Dalam hal besaran pengurang terhadap pendapatan-
LRA bruto (biaya) bersifat variabel terhadap
pendapatan dimaksud dan tidak dapat dianggarkan
terlebih dahulu dikarenakan proses belum selesai,
maka asas bruto dapat dikecualikan;
 Dalam hal BLU, pendapatan diakui dengan mengacu
pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.
 Pengembalian yang sifatnya sistemik (normal) dan
berulang (recurring) atas penerimaan pendapatan-LRA
pada periode penerimaan maupun pada periode
sebelumnya dibukukan sebagai pengurang pendapatan-
LRA

Lampiran I PP No. 71 Tahun 2010 55


KSAPAKUNTANSI PENDAPATAN LRA
 Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang
(non-recurring) atas penerimaan pendapatan-LRA yang
terjadi pada periode penerimaan pendapatan-LRA
dibukukan sebagai pengurang Pendapatan-LRA pada
periode yang sama;
 Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang
(non-recurring) atas penerimaan pendapatan-LRA yang
terjadi pada periode sebelumnya dibukukan sebagai
pengurang Saldo Anggaran Lebih pada periode
ditemukannya koreksi dan pengembalian tersebut.

Lampiran I PP No. 71 Tahun 2010 56


KSAPAKUNTANSI BELANJA
 Belanja diakui pada saat terjadinya pengeluaran dari
Rekening Kas umum Negara/Daerah
 Pengeluaran melalui bendahara pengeluaran,
pengakuan belanjanya terjadi pada saat
pertanggungjawab an atas pengeluaran tersebut
disahkan oleh unit yang mempunyai fungsi
perbendaharaan.
 Belanja BLU diakui dengan mengacu pada peraturan
perundang-undangan yang mengatur BLU
 Belanja diklasifikasikan menurut klasifikasi ekonomi
(jenis belanja), organisasi, dan fungsi

Lampiran I PP No. 71 Tahun 2010 57


KSAPAKUNTANSI SURPLUS/DEFISIT LRA

 Selisih antara pendapatan-LRA dan belanja


selama satu periode pelaporan dicatat dalam
pos Surplus/Defisit-LRA
 Surplus-LRA adalah selisih lebih antara
pendapatan-LRA dan belanja selama satu
periode pelaporan
 Defisit-LRA adalah selisih kurang antara
pendapatan-LRA dan belanja selama satu
periode pelaporan

Lampiran I PP No. 71 Tahun 2010 58


KSAPAKUNTANSI PEMBIAYAAN
 Pembiayaan adalah seluruh transaksi keuangan pemerintah, baik
penerimaan maupun pengeluaran, yang perlu dibayar atau akan
diterima kembali, yang dalam penganggaran pemerintah
terutama dimaksudkan untuk menutup defisit atau
memanfaatkan surplus anggaran.
 Penerimaan pembiayaan diakui pada saat diterima pada Rekening
Kas Umum Negara/Daerah
 Akuntansi penerimaan pembiayaan dilaksanakan berdasarkan
azas bruto, yaitu dengan membukukan penerimaan bruto, dan
tidak mencatat jumlah netonya (setelah dikompensasikan dengan
pengeluaran)

Lampiran I PP No. 71 Tahun 2010 59


KSAPAKUNTANSI PEMBIAYAAN
 Pengeluaran pembiayaan diakui pada saat dikeluarkan
dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah;
 Pencairan Dana Cadangan mengurangi Dana Cadangan
yang bersangkutan;
 Pembentukan Dana Cadangan menambah Dana
Cadangan yang bersangkutan. Hasil-hasil yang diperoleh
dari pengelolaan Dana Cadangan di pemerintah daerah
merupakan penambah Dana Cadangan. Hasil tersebut
dicatat sebagai Pendapatan-LRA dalam pos pendapatan
asli daerah lainnya.

Lampiran I PP No. 71 Tahun 2010 60


KSAPTRANSAKSI DALAM MATA UANG ASING
• Transaksi dalam mata uang asing harus
dibukukan dalam mata uang rupiah
• Dalam hal tersedia dana dalam mata uang
asing yang sama dengan yang digunakan
dalam transaksi, maka transaksi dalam mata
uang asing tersebut dicatat dengan
menjabarkannya ke dalam mata uang rupiah
berdasarkan kurs tengah bank sental pada
tanggal transaksi

Lampiran I PP No. 71 Tahun 2010 61


KSAPTRANSAKSI DALAM MATA UANG ASING
Dalam hal tidak tersedia dana dalam mata uang
asing yang digunakan dalam transaksi dan mata
uang asing tersebut dibeli dengan rupiah, maka
transaksi dalam mata uang asing tersebut dicatat
dalam rupiah berdasarkan kurs transaksi, yaitu
sebesar rupah yang digunakan untuk
memperoleh valuta asing tersebut

Lampiran I PP No. 71 Tahun 2010 62


KSAPTRANSAKSI DALAM MATA UANG ASING
 Dalam hal tidak tersedia dana dalam mata uang
asing yang digunakan untuk bertransaksi dan mata
uang asing tersebut dibeli dengan mata uang asing
lainnya, maka:
a) Transaksi mata uang asing ke mata uang asing
lainnya dijabarkan dengan menggunakan kurs
transaksi;
b) Transaksi dalam mata uang asing lainnya
tersebut dicatat dalam rupiah berdasarkan kurs
tengah bank sentral pada tanggal transaksi

Lampiran I PP No. 71 Tahun 2010 63


KSAPSALDO NORMAL ANGGARAN

Perkiraan Tambah Kurang Saldo Normal

Pendapatan K D K

Belanja D K D

Lampiran I PP No. 71 Tahun 2010 64


KSAPLRA DALAM AKUNTANSI BERBASIS AKRUAL
 LRA dihasilkan dari siklus anggaran yang sebaiknya
tidak disatukan dengan siklus akuntansi.
 Untuk siklus anggaran, yang dicatat hanyalah
transaksi anggaran dan harus sesuai dengan pos
anggarannya
 LRA hanya berfokus pada transaksi dengan basis
kas, sehingga untuk penerimaan dan pengeluaran
yang tidak terkait dengan kas tidak dicatat dalam
LRA. Jika ditambahkan boleh dimasukkan dalam
informasi tambahan LRA.

Lampiran I PP No. 71 Tahun 2010 65


KSAP TRANSAKSI ANGGARAN
 Transaksi belanja
Belanja xxxx
Akun Perubahan SAL xxxx
Perantara

 Transaksi pendapatan
Perubahan SAL xxxx
Pendapatan xxxx

 Jurnal penutup
Pendapatan xxxx
Belanja xxxx SAL
Perubahan SAL xxxx xxxx

Lampiran I PP No. 71 Tahun 2010 66


KSAP TRANSAKSI BELANJA ASET TETAP & PERSEDIAAN

Pemda pada 5 Desember membayar 500.000.000 untuk


membeli peralatan melalui pengeluaran LS

Tanggal Finansial Anggaran


5 Des Aset tetap – peralatan 500.000.000 Belanja Modal 500.000.000
R/K PPKD 500.000.000 Perubahan SAL 500.000.000

Pemda pada 15 Desember membayar 40.000.000 untuk


membeli persediaan dengan pengeluaran LS

Tanggal Finansial Anggaran


15 Des Persediaan 40.000.000 Belanja Barang 40.000.000
R/K PPKD 40.000.000 Perubahan SAL 40.000.000
KSAP TRANSAKSI PENERIMAAN
Pada tanggal 7 Januari, SKPD A mengeluarkan SKP atas restoran Lazata sebesar
10.000.000 dan hotel Melati 300.000.000. Pada tanggal 16 Februari restoran Lazata
membayar ke bendahara penerimaan SKPD A dan pada hari yang sama bendahara
penerimaan menyetorkan ke rekening kas daerah. Pada 25 Februari Hotel Melati
membayar pajak hotel ke kas umum daerah.

Tanggal Finansial Anggaran


7 jan Piutang Pendapatan 310.000.000 Tidak dicatat
Pendapatan Pajak – LO 310.000.000
16 Feb Kas di Bendahara Penerimaan 10.000.000 Perubahan SAL 10.000.000
Piutang Pendapatan 10.000.000 Pendapatan Pajak – LRA 10.000.000
16 Feb R/K PPKD 10.000.000 Tidak dicatat
Kas Dibendahara Pe 10.000.000
nerimaan
25 Feb R/K PPKD 300.000.000 Perubahan SAL 300.000.000
Piutang Pendapatan 300.000.000 Pendapatan Pajak – LRA 300.000.000
KSAP TRANSAKSI BELANJA
Pada tanggal 30 Januari, SKPD A membayar gaji pegawai dengan LS
sebesar 80.000.000
Tanggal Finansial Anggaran
30 Jan Beban Gaji 80.000.000 Belanja Gaji 80.000.000
R/K PPKD 80.000.000 Perubahan SAL 80.000.000

Pada tanggal 3 Maret, SKPD A membayar biaya pemeliharaan dengan


kas sebesar 10.000.000
Tanggal Finansial Anggaran
30 Jan Beban pemeliharaan 10.000.000 Belanja Gaji 10.000.000
Kas Bendahara pengeluaran 10.000.000 Perubahan SAL 10.000.000
KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN

PSAP NO. 03
LAPORAN ARUS KAS

70
TUJUAN PELAPORAN ARUS KAS

Memberikan informasi :
 sumber, penggunaan, perubahan kas dan setara selama suatu
periode akuntansi, serta
 saldo kas dan setara kas pada tanggal pelaporan.

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 71


RUANG LINGKUP

Pemerintah pusat dan daerah yang menyusun dan


menyajikan laporan keuangan dengan basis
akuntansi akrual wajib menyusun laporan arus
kas sesuai dengan standar ini untuk setiap
periode penyajian laporan keuangan sebagai
salah satu komponen laporan keuangan pokok

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 72


KAS DAN SETARA KAS

 Kas dan setara kas harus disajikan dalam


laporan arus kas
 Suatu investasi disebut setara kas kalau
investasi dimaksud mempunyai masa jatuh
tempo 3 (tiga) bulan atau kurang dari tanggal
perolehannya
 Mutasi antar pos-pos kas dan setara kas tidak
diinformasikan dalam laporan keuangan
 Entitas pelaporan mengungkapkan komponen
kas dan setara kas dalam LAK yang jumlahnya
sama dengan pos terkait di neraca
lampiran I PP No.71 Tahun 2010 73
ENTITAS PELAPORAN ARUS KAS

Entitas pelaporan yang wajib


menyusun dan menyajikan laporan
arus kas adalah unit organisasi
yang mempunyai fungsi
perbendaharaan umum

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 74


PENYAJIAN LAK

UNSUR LAPORAN PENJELASAN


ARUS KAS
1. Aktivitas operasi  Aktivitas operasi adalah aktivitas penerimaan dan
pengeluaran kas yang ditujukan untuk kegiatan
operasional pemerintah selama satu periode
akuntansi
 Arus kas bersih aktivitas operasi merupakan
indikator yang menunjukkan kemampuan operasi
pemerintah dalam menghasilkan kas yang cukup
untuk membiayai aktivitas operasionalnya di masa
yad tanpa mengandalkan sumber pendanaan dari
luar

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 75


PENYAJIAN LAK

UNSUR LAPORAN PENJELASAN


ARUS KAS
2. Aktivitas Investasi  Aktivitas penerimaan dan pengeluaran kas
yang ditujukan untuk perolehan dan
pelepasan aset tetap serta investasi lainnya
yang tidak termasuk dalam setara kas
 Arus kas dari aktivitas investasi
mencerminkan penerimaan dan pengeluaran
kas bruto dalam rangka perolehan dan
pelepasan sumber daya ekonomi yang
bertujuan untuk meningkatkan dan
mendukung pelayanan pemerintah kepada
masyarakat di masa yad.

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 76


PENYAJIAN LAK

UNSUR LAPORAN PENJELASAN


ARUS KAS
3. Aktivitas Pendanaan Aktivitas pendanaan adalah penerimaan dan
pengeluaran kas yang berhubungan dengan
pemberian piutang jangka panjang dan/atau
pelunasan utang jangka panjang yang
mengakibatkan perubahan dalam jumlah dan
komposisi piutang jangka panjang dan utang
jangja panjang

4. Aktivitas transitoris Aktivitas transitoris adalah aktivitas penerimaan


dan pengeluaran kas yang tidak termasuk dalam
aktivitas operasi, investasi dan pendanaan.

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 77


PELAPORAN ARUS KAS

 Entitas pelaporan dapat menyajikan arus kas


dari aktivitas operasi dengan cara:
 Metode langsung
 Metode tidak langsung
 Entitas pelaporan pemerintah pusat/daerah
sebaiknya menggunakan metode langsung
dalam melaporkan arus kas dari aktivitas
operasi

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 78


ARUS KAS MATA UANG ASING
 Arus kas yang timbul dari transaksi mata uang
asing harus dibukukan dengan menggunakan
mata uang rupiah dengan menjabarkan mata
uang asing tersebut ke dalam mata uang rupiah
berdasarkan kurs pada tanggal transaksi
 Keuntungan atau kerugian yang belum
direalisasikan akibat perubahan kurs mata uang
asing tidak akan mempengaruhi arus kas

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 79


TRANSAKSI BUKAN KAS
 Transaksi operasi, investasi, dan pendanaan
yang tidak mengakibatkan penerimaan atau
pengeluaran kas dan setara kas tidak
dilaporkan dalam LAK.
 Transaksi tersebut harus diungkapkan dalan
CaLK
 Contoh transaksi bukan kas yang tidak
mempengaruhi LAK adalah perolehan aset
dengan pertukaran atau hibah.

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 80


PENGUNGKAPAN

 Entitas pelaporan mengungkapkan jumlah saldi


kas dan setara kas yang signifikan yang tidak
boleh digunakan oleh entitas.
 Hal ini dijelaskan dalam CaLK
 Contoh kas dan setara kas yang tidak boleh
digunakan oleh entitas adalah kas yang
ditempatkan sebagai jaminan dan kas yang
dikhususkan penggunaannya untuk kegiatan
tertentu

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 81


Ilustrasi
Laporan Arus
Kas

Lampiran I PP No. 71 Tahun 2010 82


Ilustrasi
Laporan Arus
Kas

Lampiran I PP No. 71 Tahun 2010 83


KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN

PSAP NO. 04
CATATAN ATAS LAPORAN
KEUANGAN
TUJUAN

Tujuan Pernyataan Standar Catatan atas


Laporan Keuangan adalah mengatur
penyajian dan pengungkapan yang
diperlukan pada Catatan Atas Laporan
Keuangan

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 85


TUJUAN PENYAJIAN CALK

Untuk meningkatkan transparansi


laporan keuangan dan penyediaan
pemahaman yang lebih baik atas
informasi keuangan pemerintah

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 86


RUANG LINGKUP

1. Laporan Keuangan untuk tujuan


umum untuk entitas pelaporan
2. Laporan Keuangan yang diharapkan
menjadi Laporan Keuangan untuk
tujuan umum oleh entitas yang bukan
merupakan entitas pelaporan

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 87


KETENTUAN UMUM
• Setiap entitas pelaporan diharuskan untuk menyajikan Catatan atas
Laporan Keuangan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari laporan
keuangan untuk tujuan umum.
• Catatan atas Laporan Keuangan dimaksudkan agar laporan keuangan
dapat dipahami oleh pembaca secara luas, tidak terbatas hanya untuk
pembaca tertentu ataupun manajemen entitas pelaporan.
• Laporan Keuangan mungkin mengandung informasi yang dapat
mempunyai potensi kesalahpahaman di antara pembacanya.
• Kesalahpahaman dapat saja disebabkan oleh persepsi dari pembaca
laporan keuangan.
• Perlunya pengungkapan basis akuntansi dan kebijakan akuntansi yang
diterapkan akan membantu pembaca menghindari kesalahpahaman
dalam memahami laporan keuangan

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 88


STRUKTUR DAN ISI
• Catatan atas Laporan Keuangan harus disajikan secara sistematis.
Setiap pos dalam Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan
Operasional dan dan Laporan Arus Kas harus dapat mempunyai
referensi silang dengan informasi terkait dalam Catatan atas
Laporan Keuangan.
• Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan atau daftar
terinci atau analisis atas nilai suatu pos yang disajikan dalam
seluruh komponen laporan keuangan
• CaLK menyajikan informasi yang diharuskan dan dianjurkan oleh
Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan serta pengungkapan-
pengungkapan lainnya yang diperlukan untuk penyajian yang wajar
atas laporan keuangan, seperti kewajiban kontinjensi dan komitmen-
komitmen lainnya.

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 89


STRUKTUR DAN ISI

Catatan atas Laporan Keuangan menyajikan informasi tentang penjelasan pos-pos


laporan keuangan dalam rangka pengungkapan yang memadai, mengenai:
a) Informasi umum tentang Entitas Pelaporan dan Entitas Akuntansi
b) Informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan dan ekonomi makro
c) Ikhtisar pencapaian target keuangan selama tahun pelaporan, berikut kendala dan
hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target;
d) Informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan-kebijakan
akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas transaksi-transaksi dan kejadian-
kejadian penting lainnya;
e) Rincian dan penjelasan masing-masing pos yang disajikan pada lembar muka
laporan keuangan
f) Informasi yang diharuskan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan yang
belum disajikan dalam lembar muka laporan keuangan;
g) informasi tambahan yang diperlukan untuk penyajian yang wajar, yang tidak
disajikan dalam lembar muka laporan keuangan
lampiran I PP No.71 Tahun 2010 90
RINCIAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan atau daftar terinci atau analisis atas nilai
suatu pos yang disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas.
Bab V Kebijakan Akuntansi
Bab I Pendahuluan
5.1. Entitas pelaporan
Maksud dan Tujuan Penyusunan Laporan Keuangan
5.2. Basis Akuntansi yang Mendasari Penyusunan
Landasan Hukum Penyusunan Laporan Keuangan
Laporan Keuangan
Pendekatan Penyusunan Laporan Keuangan
5.3 Basis pengukuran yang Mendasari Penyusunan
Sistematika penyajian Catatan atas Laporan Keuangan Laporan Keuangan
Bab II Ekonomi Makro 5.4. Kebijakan Akuntansi yang Berkaitan dengan
2.1. Ekonomi Makro Rekening-rekening Akuntansi
2.2. Kebijakan Keuangan Bab VI Penjelasan Rekening-rekening Laporan Keuangan
6.1 Rincian dan Penjelasan Masing-masing Rekening
2.3. Indikator Pencapaian Kinerja Fiskal dan Moneter Laporan Keuangan
2.4. Indikator Pencapaian Kinerja Program Entitas 6.1.1 Pendapatan
Pelapor
6.1.2 Belanja
Bab III Ikhtisar Pencapaian Kinerja Fiskal dan Moneter
6.1.3 Pembiayaan
3.1. Ikhtisar Realisasi Pencapaian Sasaran Kinerja Fiskal
dan Moneter 6.1.4 Aset
3.2. Faktor Pendukung dan Penghambat Pencapaian 6.1.5 Kewajiban
Kinerja 6.1.6 Ekuitas Dana
Bab IV Ikhtisar pencapaian kinerja program entitas
pelapor 6.1.7 Komponen-komponen Arus kas
6.2. Pengungkapan atas Pos-pos Aset dan Kewajiban
4.1. Ikhtisar realisasi pencapaian sasaran kinerja program yang Timbul Sehubungan dengan Penerapan Basis Akrual
entitas pelapor atas Pendapatan dan Belanja dan Rekonsiliasinya dengan
Penerapan Basis Kas, untuk Entitas Pelaporan yang
4.2. Faktor Pendukung dan Penghambat Pencapaian Menggunakan Akuntansi Berbasis Akrual Penuh.
Kinerja
Bab Tahun
lampiran I PP No.71 VII Penjelasan
2010 atas Informasi non Keuangan 91
Bab VIII Penutup
INFORMASI UMUM

• Catatan atas Laporan Keuangan harus mengungkapkan


informasi yang merupakan gambaran entitas secara
umum.
• Untuk membantu pemahaman para pembaca laporan
keuangan, perlu ada penjelasan awal mengenai baik entitas
pelaporan maupun entitas akuntansi yang meliputi:
– domisili dan bentuk hukum suatu entitas serta jurisdiksi tempat entitas
tersebut berada;
– penjelasan mengenai sifat operasi entitas dan kegiatan pokoknya; dan
– ketentuan perundang-undangan yang menjadi landasan kegiatan
operasionalnya.

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 92


INFORMASI KEBIJAKAN FISKAL & KEUANGAN
DAN EKONOMI MAKRO

• Catatan atas Laporan Keuangan harus dapat membantu pembaca


memahami realisasi dan posisi keuangan entitas pelaporan secara
keseluruhan, termasuk kebijakan fiskal/keuangan dan kondisi
ekonomi makro.
– Bagaimana perkembangan realisasi dan posisi keuangan/fiskal entitas
– perbedaan yang penting mengenai realisasi dan posisi keuangan/fiskal periode
berjalan bila dibandingkan dengan periode sebelumnya, dibandingkan dengan
anggaran, dan dengan rencana lainnya.
– Penjelasan perbedaan adalah perbedaan asumsi ekonomi makro
– Kebijakan pemerintah dalam peningkatan pendapatan, efisiensi belanja dan
penentuan sumber atau penggunaan pembiayaan. Misalnya penjabaran
rencana strategis dalam kebijakan penyusunan APBN/APBD, sasaran,
program dan prioritas anggaran, kebijakan intensifikasi/ekstensifikasi
perpajakan, pengembangan pasar surat utang negara.
– Ekonomi makro  asumsi-asumsi indikator ekonomi makro yang digunakan
dalam penyusunan APBN/APBD

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 93


IKHTISAR PENCAPAIAN TARGET KEUANGAN
SELAMA TAHUN PELAPORAN BERIKUT KENDALA
DAN HAMBATAN

• Catatan atas Laporan Keuangan harus dapat menjelaskan


perubahan anggaran yang penting selama periode berjalan
dibandingkan dengan anggaran yang pertama kali disetujui oleh
DPR/DPRD, hambatan dan kendala yang ada dalam pencapaian
target yang telah ditetapkan, serta masalah lainnya yang dianggap
perlu oleh manajemen entitas pelaporan untuk diketahui pembaca
laporan keuangan.
– Ikhtisar pencapaian target keuangan perbandingan target
sebagaimana yang tertuang dalam APBN/APBD dengan
realisasinya.
– informasi keuangan lainnya yang dianggap perlu untuk diketahui
pembaca, misalnya kewajiban yang memerlukan ketersediaan dana
dalam anggaran periode mendatang

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 94


DASAR PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN DAN
PENGUNGKAPAN KEBIJAKAN AKUNTANSI
KEUANGAN

• Entitas pelaporan mengungkapkan dasar penyajian laporan


keuangan dan kebijakan akuntansi dalam Catatan atas Laporan
Keuangan.
• Asumsi dasar atau konsep dasar akuntansi tertentu yang mendasari
penyusunan laporan keuangan, biasanya tidak perlu diungkapkan
secara spesifik. Pengungkapan diperlukan jika entitas pelaporan
tidak mengikuti asumsi atau konsep tersebut dan disertai alasan
dan penjelasan.
• Pertimbangan dan/atau pemilihan kebijakan akuntansi perlu
disesuaikan dengan kondisi entitas pelaporan. Sasaran pilihan
kebijakan yang paling tepat akan menggambarkan realitas ekonomi
entitas pelaporan secara tepat dalam bentuk keadaan keuangan dan
kegiatan.

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 95


DASAR PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN DAN
PENGUNGKAPAN KEBIJAKAN AKUNTANSI
KEUANGAN
• Pengungkapan kebijakan akuntansi harus mengidentifikasikan dan
menjelaskan prinsip-prinsip akuntansi yang digunakan oleh entitas
pelaporan dan metode-metode penerapannya yang secara material
mempengaruhi penyajian Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Perubahan
Saldo Anggaran Lebih, Neraca, Laporan Operasional, Laporan Arus Kas, dan
Laporan Perubahan Ekuitas. Pengungkapan juga harus meliputi
pertimbangan-pertimbangan penting yang diambil dalam memilih prinsip-
prinsip yang sesuai.
• kebijakan akuntansi pada Catatan atas Laporan Keuangan menjelaskan:
– Entitas pelaporan;
– Basis akuntansi yang mendasari penyusunan laporan keuangan;
– Dasar pengukuran yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan;
– sampai sejauh mana kebijakan-kebijakan akuntansi yang berkaitan dengan
Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan ini diterapkan oleh suatu entitas
pelaporan pada masa transisi. Sebaliknya penerapan lebih dini disarankan
berdasarkan kesiapan entitas.
– setiap kebijakan akuntansi tertentu yang diperlukan untuk memahami laporan
keuangan.
lampiran I PP No.71 Tahun 2010 96
DASAR PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN DAN
PENGUNGKAPAN KEBIJAKAN AKUNTANSI KEUANGAN

• Kebijakan-kebijakan akuntansi yang perlu dipertimbangkan untuk disajikan :


– Pengakuan pendapatan-LRA;
– Pengakuan pendapatan-LO;
– Pengakuan belanja;
– Pengakuan beban;
– Prinsip-prinsip penyusunan laporan konsolidasian;
– Investasi;
– Pengakuan dan penghentian/penghapusan aset berwujud dan tidak berwujud;
– Kontrak-kontrak konstruksi;
– Kebijakan kapitalisasi pengeluaran;
– Kemitraan dengan pihak ketiga;
– Biaya penelitian dan pengembangan;
– Persediaan, baik yang untuk dijual maupun untuk dipakai sendiri;
– Pembentukan dana cadangan;
– Pembentukan dana kesejahteraan pegawai;
– Penjabaran mata uang asing dan lindung nilai.
– Kebijakan kapitalisasi pengeluaran;
– Kemitraan dengan pihak ketiga;
– Biaya penelitian dan pengembangan;
– Persediaan, baik yang untuk dijual maupun untuk dipakai sendiri;
– Pembentukan dana cadangan;
– Pembentukan dana kesejahteraan pegawai;
– Penjabaran mata uang asing dan lindung nilai.

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 97


DASAR PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN DAN
PENGUNGKAPAN KEBIJAKAN AKUNTANSI KEUANGAN

• Kebijakan akuntansi dapat menjadi signifikan walaupun nilai


pos-pos yang disajikan dalam periode berjalan dan
sebelumnya tidak material. Selain itu, perlu pula diungkapkan
kebijakan akuntansi yang dipilih dan diterapkan yang tidak
diatur dalam Standar ini.

• Perubahan kebijakan akuntansi yang tidak mempunyai
pengaruh material dalam tahun perubahan juga harus
diungkapkan jika berpengaruh secara material terhadap
tahun-tahun yang akan datang.

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 98


PENYAJIAN RINCIAN DAN PENJELASAN MASING-
MASING POS
• Catatan atas Laporan Keuangan harus menyajikan rincian dan
penjelasan atas masing-masing pos dalam Laporan Realisasi
Anggaran, Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih, Neraca,
Laporan Operasional, Laporan Arus Kas, dan Laporan Perubahan
Ekuitas.
– Anggaran;
– Realisasi;
– Prosentase pencapaian;
– Penjelasan atas perbedaan antara anggaran dan realisasi;
– Perbandingan dengan periode yang lalu;
– Penjelasan atas perbedaan antara periode berjalan dan periode yang lalu;
– Rincian lebih lanjut pendapatan-LRA menurut sumber pendapatan;
– Rincian lebih lanjut belanja menurut klasifikasi ekonomi, organisasi, dan fungsi;
– Rincian lebih lanjut pembiayaan; dan
– Penjelasan hal-hal penting yang diperlukan.

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 99


KEJADIAN PENTING SELAMA PELAPORAN

Catatan atas Laporan Keuangan harus mengungkapkan kejadian-kejadian penting selama


tahun pelaporan, seperti:
(a) Penggantian manajemen pemerintahan selama tahun berjalan;
(b) Kesalahan manajemen terdahulu yang telah dikoreksi oleh manajemen baru;
(c) Komitmen atau kontinjensi yang tidak dapat disajikan pada Neraca; dan
(d) Penggabungan atau pemekaran entitas tahun berjalan.
(e) Kejadian yang mempunyai dampak sosial, misalnya adanya pemogokan yang harus
ditanggulangi pemerintah.

Komitmen atau kejadian kontinjensi yang perlu disajikan adalah berbagai kejadian, yang
umumnya berkaitan dengan litigasi atau penuntutan atau penggugatan yang menjadikan
pemerintah sebagai pihak tergugat. Keberatan atas ketetapan pajak, tuntutan restitusi
pajak, atau aksi masal untuk menuntut ganti rugi, adalah contoh-contoh populer untuk
kejadian kontinjensi. Sepanjang tuntutan ini belum mampu menghasilkan kemungkinan
nilai restitusi atau ganti rugi yang harus dibayar oleh negara secara meyakinkan maka
kejadian ini cukup diungkapkan secara naratif dengan atau tanpa menyebut potensi
kerugian yang ditimbulkan.

Kejadian kontinjensi yang berkemungkinan mendatangkan keuntungan bagi pemerintah,


atas dasar kehati-hatian tidak perlu dicatatkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 100


KSAP PENGUNGKAPAN PERSEDIAAN

LAPORAN KEUANGAN MENGUNGKAPKAN:


 Kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran
persediaan
 Penjelasan lebih lanjut tentang persediaan, seperti barang atau
perlengkapan yang digunakan dalam pelayanan masyarakat,
barang atau perlengkapan yang digunakan dalam proses produksi,
barang yang disimpan untuk dijual atau diserahkan kepada
masyarakat, dan barang yang masih dalam proses produksi yang
dimaksudkan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat
 Jenis, jumlah, dan nilai persediaan dalam kondisi rusak atau usang

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 101


PENGUNGKAPAN INVESTASI

Hal-hal lain yang harus diungkapkan dalam laporan keuangan


pemerintah berkaitan dengan investasi pemerintah, antara lain:
a. Kebijakan akuntansi untuk penentuan nilai investasi;
b. Jenis-jenis investasi, investasi permanen dan nonpermanen;
c. Perubahan harga pasar baik investasi jangka pendek maupun
investasi jangka panjang;
d. Penurunan nilai investasi yang signifikan dan penyebab
penurunan tersebut;
e. Investasi yang dinilai dengan nilai wajar dan alasan
penerapannya;
f. Perubahan pos investasi.

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 102


PENGUNGKAPAN ASET TETAP
Laporan Keuangan harus mengungkapkan untuk
masing-masing jenis aset tetap sbb:
(a) Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai tercatat
(carrying amount);
(b) Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang
menunjukkan:
(1) Penambahan;
(2) Pelepasan;
(3) Akumulasi penyusutan dan perubahan nilai, jika ada;
(4) Mutasi aset tetap lainnya.
(c) Informasi penyusutan, meliputi:
(1) Nilai penyusutan;
(2) Metode penyusutan yang digunakan;
(3) Masa manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan;
(4) Nilai tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir
periode;
lampiran I PP No.71 Tahun 2010 103
PENGUNGKAPAN ASET TETAP

Laporan keuangan juga harus mengungkapkan:


(a) Eksistensi dan batasan hak milik atas aset tetap;
(b) Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi yang berkaitan
dengan aset tetap;
(c) Jumlah pengeluaran pada pos aset tetap dalam
konstruksi; dan
(d) Jumlah komitmen untuk akuisisi aset tetap.

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 104


PENGUNGKAPAN KDP
Entitas harus mengungkapkan informasi mengenai KDP
pada akhir periode akuntansi:
 Rincian kontrak konstruksi dalam pengerjaan berikut
tingkat penyelesaian dan jangka waktu penyelesaian
 Nilai kontrak konstruksi dan sumber pendanaannya
 Jumlah biaya yang telah dikeluarkan dan yang masih
harus dibayar
 Uang muka kerja yang diberikan
 Retensi

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 105


PENGUNGKAPAN KEWAJIBAN

• Utang pemerintah harus diungkapkan secara rinci dalam


bentuk daftar skedul utang
• Informasi yang harus disajikan dalam CaLK :
(a) Jumlah saldo kewajiban jangka pendek dan jangka panjang
berdasarkan pemberi pinjaman
(b) Jumlah saldo kewajiban utang pemerintah berdasarkan jenis sekuritas
dan jatuh temponya
(c) Bunga pinjaman yang berlaku
(d) Konsekuensi penyelesaian kewajiban sebelum jatuh tempo
(e) Perjanjian restrukturisasi utang (pengurangan pinjaman, modifikasi
persyaratan utang, pengurangan tingkat bunga pinjaman,
pengunduran jatuh tempo pinjaman, pengurangan nilai jatuh tempo
pinjaman, pengurangan jumlah bunga terutang)
(f) Jumlah tunggakan pinjaman daftar umur utang berdasarkan kreditur
(g) Biaya pinjaman (perlakuan,jumlah yang dikapitalisasi,tingkat
kapitalisasi)

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 106


PSAP NO. 05
AKUNTANSI PERSEDIAAN

10
KSAP PERSEDIAAN
Persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau
perlengkapan yang dimaksudkan untuk mendukung kegiatan
operasional pemerintah, dan barang-barang yang dimaksudkan untuk
dijual dan/atau diserahkan dalam rangka pelayanan kepada
masyarakat.(PSAP 05 Par. 4)

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 108


KSAPCAKUPAN PERSEDIAAN
Persediaan merupakan aset yang berupa:
A. Barang atau perlengkapan (supplies) yang
digunakan dalam rangka kegiatan operasional
pemerintah;
B. Bahan atau perlengkapan (supplies) yang akan
digunakan dalam proses produksi;
C. Barang dalam proses produksi yang
dimaksudkan untuk dijual atau diserahkan
kepada masyarakat;
D. Barang yang disimpan untuk dijual atau
diserahkan kepada masyarakat dalam rangka
kegiatan pemerintahan.
lampiran I PP No.71 Tahun 2010 109
KSAPCONTOH PERSEDIAAN
Persediaan dapat terdiri dari :
 Barang konsumsi
 Amunisi
 Bahan untuk pemeliharaan
 Suku cadang
 Persediaan untuk tujuan strategis/berjaga-jaga
 Pita Cukai dan leges
 Bahan baku
 Barang dalam proses/setengah jadi
 Tanah/bangunan untuk dijual atau diserahkan
kepada masyarakat
 Hewan dan tanaman, untuk dijual atau diserahkan
kepada masyarakat
lampiran I PP No.71 Tahun 2010 110
PENGAKUAN PERSEDIAAN

Persediaan diakui :

pada saat potensi manfaat ekonomi


masa depan diperoleh pemerintah
dan mempunyai nilai atau biaya yang
dapat diukur dengan andal

pada saat diterima atau hak


kepemilikannya dan/ atau
kepenguasaannya berpindah

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 111


KSAP PENGUKURAN PERSEDIAAN

Persediaan Harga pembelian + biaya


Biaya perolehan diperoleh dengan = pengangkutan + biaya penanganan –
pembelian potongan harga – rabat

Persediaan
Harga pokok diperoleh dengan = Biaya Langsung + biaya tidak
produksi memproduksi langsung
sendiri

Nilai wajar Persediaan =


Nilai tukar aset secara wajar
diperoleh dengan
cara lain, misalnya
donasi/rampasan

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 112


KSAP PENGUKURAN PERSEDIAAN

Persediaan dapat dinilai dengan


menggunakan:
 Metode sistematis seperti FIFO atau rata-
rata tertimbang
 Harga pembelian terakhir apabila setiap
unit persediaan nilainya tidak material
dan bermacam-macam jenis

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 113


KSAP PENGUKURAN PERSEDIAAN
 Beban persediaan dicatat sebesar pemakaian persediaan
(use of goods)
 Penghitungan beban persediaan dilakukan dalam rangka
penyajian Laporan Operasional
 Dalam hal persediaan dicatat secara perpetual, maka
pengukuran pemakaian persediaan dihitung berdasarkan
catatan jumlah unit yang dipakai dikalikan nilai per unit
sesuai metode penilaian yang digunakan
 Dalam hal persediaan dicatat secara periodik, maka
pengukuran persediaan dihitung berdasarkan inventarisasi
fisik, yaitu dengan cara saldo awal persediaan ditambah
pembelian atau perolehan persediaan dikurangi dengan
saldo akhir persediaan dikalikan nilai per unit sesuai
dengan metode penilaian persediaan.
lampiran I PP No.71 Tahun 2010 114
KSAP PENGUNGKAPAN PERSEDIAAN
LAPORAN KEUANGAN MENGUNGKAPKAN:
 Kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan
 Penjelasan lebih lanjut tentang persediaan, seperti barang atau
perlengkapan yang digunakan dalam pelayanan masyarakat,
barang atau perlengkapan yang digunakan dalam proses produksi,
barang yang disimpan untuk dijual atau diserahkan kepada
masyarakat, dan barang yang masih dalam proses produksi yang
dimaksudkan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat
 Jenis, jumlah, dan nilai persediaan dalam kondisi rusak atau usang

lampiran I PP No.71 Tahun 2010 115


PENCATATAN

• Metode Perpetual
Mencatat setiap persediaan yang masuk dan keluar, sehingga nilai/jumlah
persediaan selalu terupdate dalam pembukuan
Memiliki internal kontrol yang lebih baik namun mengharuskan disiplin dalam
mencatat  harus dilengkapi sistem terkomputerisasi

• Metode Periodik
Persediaan tidak di-update apabila ada persediaan yang masuk atau keluar.
Persediaan akhir diketahui dengan melakukan stock opname pada akhir
periode.
Persediaan yang tidak ada pada saat perhitungan stock opname =
persediaan yang digunakan (persediaan yang hilang dianggap digunakan,
karena tidak ada kontrol pencatatan)
METODE PERPETUAL

Pembelian persediaan :
Dr. Persediaan 5.000
Cr.Kas di Bendahara Pengeluaran 5.000

Pemakaian persediaan:
Dr.Beban persediaan 3.000
Cr.Persediaan 3.000

Di akhir periode/saat penyesuaian:


Tidak dilakukan penjurnalan
Saldo Persediaan 5.000 – 3.000 = 2.000
METODE PERPETUAL - kehilangan

Di akhir diketahui persediaan tersisa 1500 padahal


berdasarkan pencatatan sebesar 2.000 sehingga ada 500
yang hilang.

Penyesuaian:
Dr. Kerugian kehilangan barang 500
Cr.Persediaan 500
*jika kegiatan ini rutin terjadi dapat diklasifikasikan sebagai beban
persediaan, namun jika jumlahnya material dan jarang terjadi masuk
beban non operasional.
Jurnal ini juga digunakan untuk mencatat nilai persediaan yang
rusak / mengalami penurunan nilai, karena daluwarsa (perlu
berita acara yang menyatakan barang persediaan rusak.
METODE PERIODIK

Pembelian persediaan (pendekatan aset) :


Dr. Persediaan 5.000
Cr.Kas di Bendahara Pengeluaran 5.000

Pemakaian persediaan:
Tidak dilakukan penjurnalan

Di akhir periode/saat penyesuaian:


Diketahui persediaan yang tersisa 2.000
Dr.Beban persediaan 3.000
Cr.Persediaan 3.000
METODE PERIODIK
Pembelian persediaan (pendekatan beban) :
Dr. Beban Persediaan 5.000
Cr.Kas di Bendahara Pengeluaran 5.000

Pemakaian persediaan:
Tidak dilakukan penjurnalan

Di akhir periode/saat penyesuaian:


Diketahui persediaan yang tersisa 2.000
Dr.Persediaan 2.000
Cr. Beban Persediaan 2.000
Di awal periode dibuat jurnal balik untuk konsistensi
Dr. Beban Persediaan 2.000
Cr. Persediaan 2.000
MENYUSUN LO DARI CTA

Informasi tersedia
Persediaan 31/12/20X1 7.000
Belanja Persediaan selama 20X2 30.000
Persediaan 31/12/20X2 10.000

Persediaan yang terpakai 30.000 + 7.000 – 10.000 = 27.000


Nilai beban persediaan dalam LO sebesar 27.000
Belanja persediaan dalam LRA 30.000
TRANSAKSI PERSEDIAAN

Saldo persediaan 31 Des 20X1 sebesar 30.000.000.


Entitas pada 1 Feb 20X2 melakukan belanja persediaan
sebesar 200.000.000. Pada 31 Des 20X2 saldo persediaan
50.000.000

Tanggal Finansial Anggaran


1 Feb Persediaan 200.000.000 Belanja Barang 200.000.000
Kas 200.000.000 Perubahan SAL 200.000.000
31 Des Beban Persediaan 180.000.000 Tidak ada jurnal
Persediaan 180.000.000

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 122


KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN

PSAP NO. 06
AKUNTANSI INVESTASI

12
DRAFT REVISI 2014

• Koreksi redaksional
• Pengakuan pendapatan pada LO dan
pengakuan pendapatan pada LRA diperjelas
• Akuntansi investasi dengan menggunakan
metode ekuitas
• Investasi atas perusahaan merugi sehingga
saldo ekuitas investee negatif
DEFINISI INVESTASI

Aset yang dimaksudkan untuk memperoleh


manfaat ekonomik seperti bunga, dividen dan
royalti, atau manfaat sosial sehingga dapat
meningkatkan kemampuan pemerintah dalam
rangka pelayanan kepada masyarakat.

Ruang Lingkup: Untuk investasi yang dilakukan pemerintah


pusat, pemerintah daerah dan BLU. Tidak termasuk investasi di
BUMD dan BUMN. Tidak mengatur investasi dalam KSO
INVESTASI JANGKA PENDEK
 Diharapkan dapat segera dicairkan dan
dimaksudkan untuk dimiliki selama setahun atau
kurang.
 ditujukan dalam rangka manajemen kas.
 Berisiko rendah atau bebas dari perubahan atau
pengurangan harga yang signifikan
 Terdiri:
– Deposito berjangka waktu 3 - 12 bulan,
– Pembelian obligasi pemerintah jangka pendek oleh
pemerintah daerah,
– Pembelian Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
INVESTASI JANGKA PANJANG
 Dimaksudkan untuk dimiliki lebih dari 12 bulan
 Sifat penanaman:
– Investasi permanen
Investasi jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki secara
berkelanjutan, contoh:
 Penyertaan Modal Pemerintah pada perusahaan negara/daerah,
 Penyertaan Pemerintah pada badan internasional dan badan hukum
lainnya;
 Investasi permanen lainnya
– Investasi non permanen
Investasi jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki secara tidak
berkelanjutan, contoh:
 Investasi dalam Surat Utang Negara
 Penanaman modal dalam proyek pembangunan yang dapat dialihkan
kepada pihak ketiga
 Investasi non permanen lainnya.
PENGAKUAN INVESTASI

Pengeluaran kas dan/atau aset , penerimaan hibah dalam


bentuk investasi dan perubahan piutang menjadi investasi
dapat diakui sebagai investasi apabila memenuhi kriteria:
 Kemungkinan manfaat ekonomi atau manfaat sosial atau
jasa potensial di masa yang akan datang atas suatu
investasi tersebut dapat diperoleh pemerintah
 Nilai perolehan atau nilai wajar investasi dapat diukur
secara memadai (reliable)
PENGUKURAN INVESTASI
 Jika mempunyai pasar aktif yang dapat membentuk nilai pasar,
nilai pasar dipergunakan sebagai dasar penerapan nilai wajar
 Investasi yang tidak memiliki pasar yang aktif dapat
dipergunakan nilai nominal, nilai tercatat atau nilai wajar
lainnya
 Investasi jangka pendek dalam bentuk surat berharga,
misalnya saham dan obligasi jangka pendek, dicatat sebesar
biaya perolehan
 Apabila investasi dalam bentuk surat berharga diperoleh tanpa
biaya perolehan, maka investasi dinilai berdasarkan nilai wajar
investasi pada tanggal perolehannya yaitu sebesar harga
pasar. Apabila tidak ada nilai wajar, investasi dinilai
berdasarkan nilai wajar aset lain yang diserahkan untuk
memperoleh investasi tersebut
PENGUKURAN INVESTASI
 Investasi jangka pendek dalam bentuk non saham, misalnya
dalam bentuk deposito jangka pendek dicatat sebesar nilai
nominal deposito tersebut.
 Investasi jangka panjang yang bersifat permanen misalnya
penyertaan modal pemerintah, dicatat sebesar biaya
perolehannya meliputi harga transaksi investasi itu sendiri
ditambah biaya lain yang timbul dalam rangka perolehan
investasi tersebut.
 Investasi nonpermanen dalam bentuk pembelian obligasi
jangka panjang dan investasi yang dimaksudkan tidak untuk
dimiliki berkelanjutan, dinilai sebesar nilai perolehannya.
 Investasi nonpermanen yang dimaksudkan untuk penyehatan/
penyelamatan perekonomian, dinilai sebesar nilai bersih yang
dapat direalisasikan, misalnya dana talangan dalam rangka
penyehatan perbankan
METODE PENILAIAN INVESTASI
a. Metode biaya;
Investasi dicatat sebesar biaya perolehan. Penghasilan atas investasi
tersebut diakui sebesar bagian hasil yang diterima dan tidak
mempengaruhi besarnya investasi pada badan usaha/badan hukum
yang terkait.
b. Metode ekuitas;
Pemerintah mencatat investasi awal sebesar biaya perolehan dan
ditambah atau dikurangi sebesar bagian laba atau rugi pemerintah
setelah tanggal perolehan. Bagian laba kecuali dividen dalam bentuk
saham yang diterima pemerintah akan mengurangi nilai investasi
pemerintah. Penyesuaian terhadap nilai investasi juga diperlukan untuk
mengubah porsi kepemilikan investasi pemerintah, misalnya adanya
perubahan yang timbul akibat pengaruh valuta asing serta revaluasi
aset tetap.
c. Metode nilai bersih yang dapat direalisasikan;
Metode nilai bersih yang dapat direalisasikan digunakan terutama
untuk kepemilikan yang akan dilepas/dijual dalam jangka waktu dekat.
131
METODE EKUITAS REVISI
b. Metode ekuitas;
Investasi awal dicatat sebesar biaya perolehan. Dividen
yang diterima pemerintah akan dicatat sebagai pendapatan
deviden pada laporan realisasi anggaran dan laporan
operasional. Kenaikan nilai investasi pada akhir periode
akan diakui sebagai pendapatan pada laporan operasional.
Penyesuaian terhadap nilai investasi juga diperlukan untuk
mengubah porsi kepemilikan investasi pemerintah, misalnya
adanya perubahan yang timbul akibat pengaruh valuta
asing serta revaluasi aset tetap.
METODE EKUITAS REVISI
• Pada metode ekuitas, nilai investasi dapat berkurang sehingga menjadi
negatif karena kerugian yang diperoleh. Jika akibat kerugian yang
dialami, nilai investasi menjadi negatif, maka investasi tersebut akan
disajikan di neraca sebesar nol, namun nilai negatif tersebut akan
diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Jika pemerintah
memiliki tanggung jawab hukum untuk menanggung kerugian atas
investasi tersebut maka akan diakui kewajiban.

• Pada saat investasi tersebut memperoleh penambahan nilai investasi,


maka penambahan tersebut akan terlebih dahulu mengurangi nilai
negatif yang ada sampai nilai negatif tersebut tidak tersisa, kemudian
setelah itu, penambahan nilai investasi tersebut dapat menambah nilai
investasi pada neraca. Hal ini perlu diungkapkan dalam catatan atas
laporan keuangan.
HASIL INVESTASI - REVISI
• Hasil investasi yang diperoleh dari investasi jangka
pendek, antara lain berupa bunga deposito, bunga
obligasi, dan dividen tunai (cash dividend), diakui pada
saat diperoleh dan dicatat sebagai pendapatan LRA dan
pendapatan LO, sedangkan pendapatan deviden diakui
sebagai pendapatan setelah diumumkan.
HASIL INVESTASI - REVISI
• Hasil investasi berupa dividen tunai yang diperoleh dari penyertaan modal
pemerintah yang pencatatannya menggunakan metode biaya, dicatat
sebagai pendapatan hasil investasi. Sedangkan apabila menggunakan
metode ekuitas, bagian laba berupa dividen tunai yang diperoleh oleh
pemerintah dicatat sebagai pendapatan hasil investasi dan mengurangi
nilai investasi pemerintah. Dividen dalam bentuk saham yang diterima
tidak akan menambah nilai investasi pemerintah.
• Hasil investasi berupa dividen tunai yang diperoleh dari penyertaan modal
pemerintah yang pencatatannya menggunakan metode biaya, dicatat
sebagai pendapatan hasil investasi pada laporan realisasi anggaran dan
laporan operasional. Sedangkan apabila menggunakan metode ekuitas,
bagian laba berupa dividen tunai yang diperoleh oleh pemerintah dicatat
sebagai pendapatan hasil investasi dan mengurangi nilai investasi
pemerintah. Dividen dalam bentuk saham yang diterima tidak akan
menambah nilai investasi pemerintah, sehingga tidak diakui sebagai
pendapatan.
INVESTASI BLU REVISI

• Dalam hal investasi dilakukan oleh Badan Layanan


Umum, investasi jangka panjang dicatat menggunakan
metode ekuitas. Jika Badan Layanan Umum memiliki
investasi, maka pencatatan oleh Badan Layanan Umum
akan dikonsolidasi. Namun, untuk tujuan pelaporan
instansi pemerintah, Badan Layanan Umum harus
menyediakan laporan keuangan tersendiri.
• Jika investasi pemerintah yang dicatat dengan nilai nominal
atau harga perolehan mengalami penurunan nilai, maa nilai
penuruannya harus diungkapkan dalam laporan keuangan.
Penurunan nilai terjadi jika nilai tercatat investasi lebih kecil
dibandingkan dengan nilai wajar investasi tersebut.
KRITERIA METODE PENILAIAN
INVESTASI

a. Kepemilikan kurang dari 20% menggunakan metode


biaya;
b. Kepemilikan 20% sampai 50%, atau kepemilikan
kurang dari 20% tetapi memiliki pengaruh yang
signifikan menggunakan metode ekuitas;
c. Kepemilikan lebih dari 50% menggunakan metode
ekuitas;
d. Kepemilikan bersifat nonpermanen menggunakan
metode nilai bersih yang direalisasikan.
PENGAKUAN HASIL INVESTASI
 Hasil investasi yang diperoleh dari investasi jangka pendek,
antara lain berupa bunga deposito, bunga obligasi, dan
dividen tunai (cash dividend), diakui pada saat diperoleh dan
dicatat sebagai pendapatan.
 Hasil investasi berupa dividen tunai yang diperoleh dari
penyertaan modal pemerintah yang pencatatannya
menggunakan metode biaya, dicatat sebagai pendapatan
hasil investasi.
 Sedangkan apabila menggunakan metode ekuitas, bagian
laba berupa dividen tunai yang diperoleh oleh pemerintah
dicatat sebagai pendapatan hasil investasi dan mengurangi
nilai investasi pemerintah.
 Dividen dalam bentuk saham yang diterima tidak akan
menambah nilai investasi pemerintah.
138
PENGUNGKAPAN
Hal-hal lain yang harus diungkapkan dalam laporan
keuangan pemerintah berkaitan dengan investasi
pemerintah, antara lain:
a. Kebijakan akuntansi untuk penentuan nilai investasi;
b. Jenis-jenis investasi, investasi permanen dan
nonpermanen;
c. Perubahan harga pasar baik investasi jangka pendek
maupun investasi jangka panjang;
d. Penurunan nilai investasi yang signifikan dan penyebab
penurunan tersebut;
e. Investasi yang dinilai dengan nilai wajar dan alasan
penerapannya;
f. Rekonsiliasi nilai investasi awal dan akhir atas
investasi dengan metode ekuitas;
g. Perubahan pos investasi. 139
JURNAL INVESTASI JANGKA
PENDEK
Pada 30 Maret 20X2, Pemerintah Kota Bengawan menempatkan
dananya sebesar 200.000.000 pada deposito berjangka 6 bulan dapat
diperpanjang (ARO) di Bank Amarta, bunga 5%. Pada 30 September
20X2 diterima bunga deposito 5.000.000. Deposito ini sampai akhir
tahun belum dicairkan.
Tanggal Finansial Anggaran
30 Mar Invesasi jangka pendek 200.000.000 Tidak ada jurnal
20X2 Kas 200.000.000
30 Sep Kas 5.000.000 Perubahan SAL 5.000.000
20X2 Pendapatan bunga – 5.000.000 Pendapatan bunga – 5.000.000
LO LRA
31 Des Piutang Bunga 2.500.000
20X2 Pendapatan bunga – 2.500.000
LO
30 Mar Ksd 5.000.000 Perubahan SAL 5.000.000
20X3 Pendapatan bunga – 2.500.000 Pendapatan bunga – 5.000.000
LO LRA
Piutang bunga 2.500.000
JURNAL INVESTASI JANGKA PANJANG-
Alternatif
Pada 1 Jan 20X2, Pemerintah Kota Bengawan mengambilalih investasi
sebuah perusahaan swasta (PT. Lawu) menjadi BUMD dengan nilai
investasi 8.000.000.000 dengan kepemilikan Pemda sebesar 60%.
Selama tahun 20X2 PT. Lawu menghasilkan laba sebesar
800.000.000, hak Pemda 480.000.000 dan membagikan dividen pada
25 Des sebesar 500.000.000 juta, yagn menjadi hak Pemda
300.000.000
Tanggal Finansial Anggaran
1 Jan Invesasi jangka panjang 8.000.000.000 Pengeluaran Pembiayaan 8.000.000.00
0
Kas 8.000.000.000 Perubahan SAL 8.000.000.00
0
31 Des Investasi jangka panjang 480.000.000 Tidak ada jurnal
Pendapatan investasi – 480.000.000
LO
15 Maret Kas 300.000.000 Perubahan SAL 300.000.000
Investasi jangka 300.000.000 Pendapatan dividen
Saldo akhir investasi mencerminkan 8.000 + 480 – 300 = 8.180 terjadi
300.000.000
panjang180 karena laba 480 yang menjadi hak
kenaikan investasi -LRA
Pemda baru 300 yang
dibagikan dalam bentuk dividen
JURNAL INVESTASI JANGKA PANJANG-
pelepasan

Pada 1 Juli 20X5 nilai investasi di BUMD di neraca sebesar


5.000.000.000. Pemda menjual 20%nya dengan harga 1.750.000.000.
(asumsi telah dilakukan pencatatan atas pengakuan laba sampai dengan
semester tersebut.
Tanggal Finansial Anggaran
1 Juli Kas 1.750.000.000 Perubahan SAL 1.750.000.000
Investasi jangka 1.000.000.000 Penerimaan 1.750.000.000
panjang pembiayaan
dari penjualan
investasi
Surplus penjualan 750.000.000
investasi
KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN
KSAP
KSAP

PSAP NO. 07
ASET TETAP
KSAP RUANG LINGKUP PSAP 07
• PSAP 07 diterapkan untuk seluruh unit pemerintahan yang
menyajikan laporan keuangan untuk tujuan umum dan
mengatur tentang perlakuan akuntansiny, termasuk
pengakuan, penilaian, penyajian dan pengungkapan yang
diperlukan
• PSAP 07 tidak diterapkan untuk:
 Hutan dan sumber daya alam yang dapat diperbaharui
(regenerative natural resources)
 Kuasa pertambangan, eksplorasi dan penggalian mineral,
minyak, gas alam dan sumber daya alam serupa yang tidak
dapat diperbaharuhi (non-regenerative natural resources)

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 144


KSAP KLASIFIKASI ASET TETAP
 Tanah
 Peralatan dan Mesin
 Gedung dan Bangunan
 Jalan, Irigasi, dan Jaringan
 Aset Tetap Lainnya
 Konstruksi dalam Pengerjaan

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 145


KSAP PENGAKUAN ASET TETAP
 Aset Tetap diakui pada saat manfaat ekonomi masa depan
dapat diperoleh dan nilainya dapat diukur dengan handal;
 Kriteria suatu aset diakui sebagai aset tetap :
 Berwujud;
 Mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan;
 Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal;
 Tidak dimaksudkan untuk dijual dalam operasi normal entitas;
dan
 Diperoleh atau dibangun dengan maksud untuk digunakan.
 Pengakuan aset tetap akan andal bila aset tetap telah diterima
atau diserahkan hak kepemilikannya dan atau pada saat
penguasaannya berpindah.

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 146


KSAP PENGUKURAN ASET TETAP
 aset tetap dinilai dengan biaya
perolehan
 Aset tetap yang tidak diketahui harga
perolehannya disajikan dengan nilai
wajar pada saat perolehan

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 147


KSAP PENILAIAN AWAL ASET TETAP

 Penilaian awal aset tetap harus diukur


berdasarkan biaya perolehan
 Bila aset tetap diperoleh dengan tanpa nilai,
biaya aset tersebut adalah sebesar nilai
wajar pada saat aset tersebut diperoleh
 Untuk penyusunan neraca awal suatu
entitas, biaya perolehan aset tetap adalah
nilai wajar pada saat neraca awal tersebut
disusun.
Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 148
KSAP KOMPONEN BIAYA
Biaya perolehan suatu aset tetap terdiri dari
harga belinya atau konstruksinya, termasuk bea
impor dan setiap biaya yang dapat diatribusikan
secara langsung dalam membawa aset tersebut
ke kondisi yang membuat aset tersebut dapat
bekerja untuk penggunaan yang dimaksudkan.

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 149


CONTOH BIAYA YANG DAPAT DIATRIBUSIKAN SECARA
KSAP LANGSUNG

Biaya persiapan tempat


Biaya pengiriman awal (initial delivery) dan
biaya simpan dan bongkar muat (handling
cost)
Biaya pemasangan (instalation cost)
Biaya profesional seperti arsitek dan insinyur
Biaya konstruksi

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 150


KSAP KOMPONEN BIAYA PEROLEHAN TANAH

 Tanah diakui pertama kali sebesar biaya perolehan


 Biaya perolehan mencakup:
 Harga pembelian atau biaya pembebasan tanah
 Biaya yang dikeluarkan dalam rangka memperoleh hak
 Biaya pematangan, penimbunan, dan
 biaya lainnya yang dikeluarkan ,aupun yang masih harus
dikeluarkan sampai tanah tersebut siap pakai
 Nilai tanah juga meliputi nilai bangunan tua yang terletak
pada tanah yang dibeli tersebut jika bangunan tua tersebut
dimaksudkan untuk dimusnahkan

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 151


KSAP KOMPONEN BIAYA PEROLEHAN PERALATAN DAN MESIN
 Biaya perolehan peralatan dan mesin menggambarkan jumlah
pengeluaran yang telah dan yang masih harus dilakukan untuk
memperoleh peralatan dan mesin tersebut sampai siap pakai
 Biaya perolehan peralatan dan mesin antara lain meliputi:
 Harga pembelian
 Biaya pengangkutan
 Biaya instalasi
 Serta biaya langsung lainnya untuk memperoleh dan
mempersiapkan sampai peralatan dan mesin tersebut siap
untuk digunakan

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 152


KOMPONEN BIAYA PEROLEHAN GEDUNG DAN
KSAP BANGUNAN

Biaya perolehan gedung dan bangunan


menggambarkan seluruh biaya yang
dikeluarkan dan yang mas masih harus
dikeluarkan untuk memperoleh gedung dan
bangunan sampai siap pakai
Biaya perolehan gedung dan bangunan antara
lain meliputi:
 Harga pembelian atau biaya konstruksi,
 Biaya pengurusan IMB, notaris dan pajak
Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 153
KOMPONEN BIAYA PEROLEHAN JALAN, IRIGASI
KSAP DAN JARINGAN

 Biaya perolehan jalan, irigasi, dan jaringan


menggambarkan seluruh biaya yang dikeluarkan dan
masih harus dikeluarkan untuk memperoleh gedung
dan bangunan sampai siap pakai.
 Biaya perolehan jalan, irigasi, dan jaringan antara lain
meliputi:
Biaya perolehan atau biaya konstruksi, dan
Biaya-biaya lain yang dikeluarkan sampai jalan,
irigasi dan jaringan tersebut siap pakai

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 154


KSAPKOMPONEN BIAYA PEROLEHAN ASET TETAP LAINNYA

Biaya perolehan aset tetap lainnya menggambarkan


seluruh biaya yang dikeluarkan dan yang masih
harus dikeluarkan untuk memperoleh aset tersebut
sampai siap pakai

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 155


PENGECUALIAN KOMPONEN BIAYA PEROLEHAN
KSAP ASET TETAP

 Biaya Administrasi dan biaya umum lainnya


bukan merupakan suatu komponen biaya aset
tetap sepanjang biaya tersebut tidak dapat
diatribusikan secara langsung pada biaya
perolehan aset atau membawa aset ke kondisi
kerjanya.
 Biaya permulaan (start-up cost) dan pra-
produksi serupa tidak merupakan bagian biaya
suatu aset kecuali biaya tersebut perlu untuk
membawa aset ke kondisi kerjanya.
Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 156
KSAP PEROLEHAN SECARA GABUNGAN

Biaya perolehan dari masing-masing aset


tetap yang diperoleh secara gabungan
ditentukan dengan mengalokasikan harga
gabungan tersebut berdasarkan perbandingan
nilai wajar masing-masing aset yang
bersangkutan.

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 157


KSAP PERTUKARAN ASET
 Biaya suatu aset tetap yang diperoleh melalui pertukaran yang
tidak serupa atau aset lainnya diukur berdasarkan nilai wajar
aset yang diperoleh yaitu nilai ekuivalen atas nilai tercatat aset
yang dilepas setelah disesuaikan dengan jumlah setiap kas
atau setara kas dan kewajiban lain yang ditransfer/diserahkan.
 Suatu aset tetap dapat diperoleh melalui pertukaran atas
suatu aset yang serupa yang memiliki manfaat yang serupa
dan memiliki nilai wajar yang serupa. Suatu aset tetap juga
dapat dilepas dalam pertukaran dengan kepemilikan aset yang
serupa. Dalam keadaan tersebut tidak ada keuntungan dan
kerugian yang diakui dalam transaksi ini. Biaya aset yang baru
diperoleh dicatat sebesar nilai tercatat (carrying amount) atas
aset yang dilepas.

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 158


KSAP ASET DONASI
 Aset tetap yang diperoleh dari sumbangan (donasi)
harus dicatat sebesar nilai wajar pada saat perolehan.
 Perolehan suatu aset tetap yang memenuhi kriteria
perolehan aset donasi, maka perolehan tersebut diakui
sebagai pendapatan operasional

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 159


KSAP PENGELUARAN SETELAH PEROLEHAN

 Pengeluaran setelah perolehan awal suatu


aset tetap yang memperpanjang masa
manfaat atau yang kemungkinan besar
memberi manfaat ekonomi di masa yang akan
datang dalam bentuk kapasitas, mutu
produksi, atau peningkatan standar kinerja,
harus ditambahkan pada nilai tercatat aset
yang bersangkutan

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 160


KSAP PENYUSUTAN
 Penyusutan adalah alokasi yang sistematis atas nilai suatu
aset tetap yang dapat disusutkan (depreciable assets) selama
masa manfaat aset yang bersangkutan.
 Nilai penyusutan untuk masing-masing periode diakui sebagai
pengurang nilai tercatat aset tetap dalam neraca dan beban
penyusutan dalam laporan operasional.
 Selain tanah dan konstruksi dalam pengerjaan, seluruh aset
tetap dapat disusutkan sesuai dengan sifat dan karakteristik
aset tersebut

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 161


PRASYARAT PENYUSUTAN
KSAP (Bultek SAP No. 05)

 Diketahui nilai buku yang dapat disusutkan


 Identifikasi aset yang nilainya menurun.
 Harus diketahui masa manfaatnya
 Diketahui Kondisi yang menyebabkan
penurunan aset tetap (misalnya yang mudah
obsolet)

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 162


KSAP METODE PENYUSUTAN

 Metode garis lurus (straight line method); atau


 Metode saldo menurun ganda (double declining
method); atau
 Metode unit produksi (unit of production method)

Metode penyusutan yang digunakan harus dapat


menggambarkan manfaat ekonomi atau
kemungkinan jasa (service potential) yang akan
mengalir ke pemerintah

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 163


KSAP Penetapan Masa Manfaat Aset Tetap

• PSAP 07 Par 57 :
Masa manfaat aset tetap yang dapat disusutkan harus ditinjau
secara periodik dan jika terdapat perbedaan besar dari
estimasi sebelumnya, penyusutan periode sekarang dan yang
akan datang harus dilakukan penyesuaian
• Bultek SAP No. 05:
Untuk obyektifitas dalam penetapan masa manfaat aset tetap
(sebagai dasar menentukan metode penyusutan) disarankan
agar penetapannya diusulkan oleh instansi teknis terkait dan
selanjutnya ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan.

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 164


KSAP PENILAIAN KEMBALI (REVALUATION)

 Penilaian kembali atau revaluasi aset tetap pada


umumnya tidak diperkenankan karena Standar
Akuntansi Pemerintahan menganut penilaian aset
berdasarkan biaya perolehan atau harga pertukaran.
Penyimpangan dari ketentuan ini mungkin dilakukan
berdasarkan ketentuan pemerintah yang berlaku
secara nasional.

 Selisih antara nilai revaluasi dengan nilai tercatat


dibukukan dalam akun ekuitas

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 165


KSAP ASET BERSEJARAH
 Aset bersejarah merupakan aset tetap yang dimiliki
atau dikuasai oleh pemerintah yang karena umur
dan kondisinya aset tetap tersebut harus dilindungi
oleh peraturan yang berlaku dari segala macam
tindakan yang dapat merusak aset tetap tersebut
 Diungkapkan dalam CaLK saja tanpa nilai
 Beberapa aset bersejarah juga memberikan potensi
manfaat lainnya kepada pemerintah selain nilai
sejarahnya, misalnya untuk ruang perkantoran.
Untuk kasus tersebut, aset ini akan diterapkan
prinsip-prinsip yang sama seperti aset tetap lainnya.
Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 166
KSAP ASET INFRASTRUKTUR
 Karakteristik aset infrastruktur:
 Merupakan bagian dari satu sistem atau jaringan
 Sifatnya khusus dan tidak ada alternatof lain penggunaannya
 Tidak dapat dipindah-pindahkan, dan
 Terdapat batasan-batasan untuk pelepasannya
 Aset infrastruktur memenuhi definisi aset tetap dan harus
diperlakukan sesuai dengan prinsip-prinsip yang ada pada
PSAP No. 07
 Contoh dari aset infrastruktur adalah jaringan, jalan dan
jembatan, sistem pembuangan, dan jaringan komunikasi

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 167


KSAP ASET MILITER
 Peralatan militer baik Karakteristik aset infrastruktur:
 Merupakan bagian dari satu sistem atau jaringan
 Sifatnya khusus dan tidak ada alternatof lain penggunaannya
 Tidak dapat dipindah-pindahkan, dan
 Terdapat batasan-batasan untuk pelepasannya
 Aset infrastruktur memenuhi definisi aset tetap dan harus
diperlakukan sesuai dengan prinsip-prinsip yang ada pada
PSAP No. 07
 Contoh dari aset infrastruktur adalah jaringan, jalan dan
jembatan, sistem pembuangan, dan jaringan komunikasi

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 168


KSAP PENGHENTIAN/PELEPASAN

• Suatu aset tetap dieliminasi dari neraca ketika


dilepaskan atau bila aset secara permanen
dihentikan penggunaannya dan tidak ada manfaat
ekonomi masa yang akan datang.
• Aset tetap yang secara permanen dihentikan atau
dilepas harus dieliminasi dari Neraca dan
diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
• Aset tetap yang dihentikan dari penggunaan aktif
pemerintah tidak memenuhi definisi aset tetap dan
harus dipindahkan ke pos aset lainnya sesuai dengan
nilai tercatatnya.

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 169


KSAP PENGUNGKAPAN
Laporan Keuangan harus mengungkapkan untuk masing-
masing jenis aset tetap sbb:
(a) Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai tercatat (carrying
amount);
(b) Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan:
(1) Penambahan;
(2) Pelepasan;
(3) Akumulasi penyusutan dan perubahan nilai, jika ada;
(4) Mutasi aset tetap lainnya.
(c) Informasi penyusutan, meliputi:
(1) Nilai penyusutan;
(2) Metode penyusutan yang digunakan;
(3) Masa manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan;
(4) Nilai tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode;

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 170


KSAP PENGUNGKAPAN

Laporan keuangan juga harus mengungkapkan:


(a) Eksistensi dan batasan hak milik atas aset
tetap;
(b) Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi yang
berkaitan dengan aset tetap;
(c) Jumlah pengeluaran pada pos aset tetap
dalam konstruksi; dan
(d) Jumlah komitmen untuk akuisisi aset tetap.

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 171


KSAP JURNAL PEROLEHAN ASET
Pada 1 Juli 20X2 SKPD ABC membeli tanah dengan harga 850juta ditambah
biaya untuk pengurusan surat-surat kepemilikan sebesar 50juta, LS.
Pada 1 Juli 20X2 SKPD ABC membeli tanah dan bangunan dengan harga
1.000juta. Nilai tanah dan bangunan jika dijual terpisah nilai tanah 480juta
dan bangunan 720 juta, LS.

Tanggal Finansial Anggaran


1 Juli Tanah 850.000.000 Belanja modal 850.000.000
R/K PPKD 850.000.000 Perubahan SAL 850.000.000
1 Juli Tanah 400.000.000 Belanja modal 1.000.000.000
Bangunan 600.000.000 Perubahan SAL 1.050.000.000
Pendapatan bunga – LO 10.000.000

Nilai tanah 480 / (480+720) x 1.000 = 400juta


Nilai bangunan 720 / (480+720) x 1.000 = 600 juta

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 172


KSAP JURNAL DEPRESIASI ASET

Pada 1 Juli 20X2 SKPD ABC mengakui dan menghitung depresiasi.


Bangunan nilai perolehan 6.000 juta disusutkan 20 tahun.
Kendaraan 800 juta disusutkan 8 tahun, peralatan A 400juta
disusutkan 8 tahun dan peralatan B 200 juta disusutkan 4 tahun.
Penyusutan dengan menggunakan metode garis lurus
Tanggal Finansial Anggaran
1 Juli Beban depresiasi 140.000.000 Tidak ada jurnal
Akumulasi Depresiasi 140.000.000

Bangunan 6.000 / 20 x 6/12 = 30juta


Kendaraan 800 / 8 x 6/12 = 50
Peralatan A 480 / 8 x 6/12 = 30
Peralatan B 240 / 4 x 6/12 = 30
TOTAL 140juta
Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 173
KSAP JURNAL PENJUALAN ASET

Pada 30 Desember 20X2 SKPD ABC menjual kendaraan


dengan harga 40 juta. Kendaraan tersebut dibeli 10 tahun
yang lalu dengan harga 200juta, telah disusutkan semua
sehingga nilai buku 0.

Tanggal Finansial Anggaran


30 Des Kas 40.000.000 Perubahan SAL 40.000.000
Akumulasi Depresiasi 200.000.000 Pendapatan lain-lain 40.000.000
Kendaraan 200.000.000
Surplus penjualan 40.000.000
kendaraan

Kendaraan nilai buku 0, 40 juta adalah surplus penjualan kendaraan.

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 174


KSAP JURNAL PENJUALAN ASET
Pada 30 Desember 20X2 SKPD ABC menjual peralatan
dengan harga 30 juta. Peralatan harga perolehan 80juta,
telah didepresiasikan 4 tahun (dari 8 tahun masa mafaat),
nilai buku tersisa 40 juta.

Tanggal Finansial Anggaran


30 Des Kas 30.000.000 Perubahan SAL 10.000.000
Akumulasi Depresiasi 40.000.000 Pendapatan lain-lain 10.000.000
Defisit penjualan 10.000.000
peralatan
Peralatan 80.000.000

Peralatan nilai buku 20 juta. Defisit penjualan peralatan 30 – 40 = (10)

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 175


KSAP JURNAL PENGHAPUSAN ASET

Pada 30 Desember 20X2 SKPD ABC melakukan


penghapusan peralatan yang hilang karena banjir besar
yang terjadi pada tahun tersebut. Nilai aset yang
dihapuskan sebesar 400juta dengan akumulasi depreasiasi
300juta. Penghapusan aset dilakukan dengan mengikuti
prosedur penghapusan sesuai dengan regulasi yang
berlaku.
Tanggal Finansial Anggaran
30 Des Akumulasi Depresiasi 300.000.000 Tidak ada jurnal
Defisit penghapusan 100.0000.000
peralatan
Peralatan 400.000.000

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 176


KSAP JURNAL PENERIMAAN HIBAH ASET

Pada 30 Juni 20X2 SKPD ABC menerima kendaraan senilai


200juta hibah dari sebuah perusahaan. Kendaraan tersebut
didepresiasikan selama 8 tahun.

Tanggal Finansial Anggaran


30 Juni Kendaraan 200.000.000 Tidak ada jurnal
Pendapatan hibah LO 200.000.000
31 Des Beban Depresiasi 12.500.000 Tidak ada jurnal
Akumulasi Depresiasi 12.500.000

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 177


KSAP JURNAL PENYELESAIAN KDP

Pada 30 Juni 20X2 SKPD ABC menyelesaikan KDP berbentuk


gedung yang telah dibangun mulai tahun 20X0. Saldo KDP pada 1
Januari 20X2 sebesar 800juta. Penyelesaian KDP di tahun 20X2
sebesar 200juta. Gedung didepresiasikan 20 tahun.
Tanggal Finansial Anggaran
30 Juni KDP 200.000.000 Belanja Modal 200.000.000
Kas 200.000.000 Perubahan SAL 200.000.000
30 Juni Bangunan 1.000.000.000 Tidak ada jurnal
KDP 1.000.000.000
31 Des Beban Depresiasi 25.000.000 Tidak ada jurnal
Akumulasi Depresiasi 25.000.000

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 178


KSAP JURNAL REVALUASI ASET

Pada 30 Desember 20X2 SKPD ABC melakukan revaluasi bangunan


karena berdasarkan hasil pemeriksaan, bangunan tersebut nilainya
tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Nilai bangunan
tersebut saat ini 400juta dan akumulasi depresiasi 400juta. Hasil
penilaian menyatan nilai bangunan tersebut 200juta. Bangunan hasil
revaluasi diyakini masih memiliki masa manfaat 10 tahun ke depan
Tanggal Finansial Anggaran
30 Des Akumulasi depresiasi 200.000.000 Tidak ada jurnal
Ekuitas 200.000.000
METODE Eliminasi
30 Des Akumulasi depresiasi 400.000.000 Tidak ada jurnal
Bangunan 400.000.000
Bangunan 200.000.000
Ekuitas 200.000.000
Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 179
KSAP KLASIFIKASI ASET TETAP

Tanah

Peralatan dan Mesin

Gedung dan Bangunan

Jalan, Irigasi dan jaringan

Aset Tetap Lainnya

Konstruksi Dalam Pengerjaan

180
KSAP KASUS-KASUS KEPEMILIKAN TANAH
1 Bultek
Dikuasai dan/atau digunakan  Tanah tersebut tetap harus dicatat dan
oleh pemerintah namun belum disajikan sebagai aset tetap tanah pada
ada bukti kepemilikan yang sah neraca pemerintah.
 Diungkapkan secara memadai dalam CaLK
2

Tanah dimiliki oleh pemerintah,  Tanah tersebut tetap harus dicatat dan
namun dikuasai dan/atau disajikan sebagai aset tetap tanah pada
digunakan oleh pihak lain neraca pemerintah
 Diungkapkan secara memadai dalam CaLK
bahwa tanah tersebut dikuasai pihak lain
3

Tanah dimiliki oleh suatu entitas  Dicatat dan disajikan pada neraca entitas
pemerintah, namun dikuasai pemerintah yang mempunyai bukti
dan/atau digunakan oleh entitas kepemilikan, serta diungkapkan di CaLK.
pemerintah yang lain  Entitas pemerintah yang menguasai
dan/atau menggunakan tanah cukup
mengungkapkan tanah tersebut secara
4 memadai dalam CaLK

Perlakuan tanah yang masih dalam


= 1 dan 2
sengketa atau proses pengadilan
KSAP TANAH WAKAF
Bultek

• Tanah yang digunakan/dipakai oleh


instansi pemerintah yang berstatus tanah
wakaf tidak disajikan dan dilaporkan
sebagai aset tetap tanah pada neraca
pemerintah, melainkan cukup diungkapkan
secara memadai pada CaLK.
KSAP RENOVASI ASET TETAP
Bultek

• Merupakan perbaikan aset tetap dilingkungan satuan kerja pada K/L yang
memenuhi syarat kapitalisasi.
Renovasi • Dicatat sebagai penambah nilai perolehan aset tetap terkait.
aset tetap
milik sendiri • Apabila sampai dengan tanggal pelaporan renovasi tersebut belum selesai
dikerjakan, atau sudah selesai pengerjaannya namun belum
diserahterimakan, maka akan dicatat sebagai KDP

• Apabila renovasi telah selesai sebelum tanggal pelaporan akan dibukukan


Renovasi sebagai aset tetap lainnya-aset renovasi dan disajikan di neraca sebagai
aset tetap kelompok aset tetap.
bukan milik- • Apabila sampai dengan tanggal pelaporan renovasi tersebut belum selesai
dalam
dikerjakan, atau sudah selesai pengerjaannya namun belum
lingkup
diserahterimakan, maka akan dicatat sebagai KDP.
entitas
pelaporan • Pada akhir tahun anggaran, aset renovasi ini seyogyanya diserahkan pada
pemilik

• Apabila renovasi telah selesai dilakukan sebelum tanggal pelaporan akan


Renovasi dibukukan sebagai aset tetap lainnya-aset renovasi dan disajikan di neraca
aset tetap sebagai kelompok aset tetap.
bukan milik- • Apabila sampai dengan tanggal pelaporan renovasi tersebut belum selesai
di luar
dikerjakan, atau sudah selesai pengerjaannya namun belum
lingkup
diserahterimakan, maka akan dicatat sebagai KDP.
entitas
pelaporan • Pada akhir masa perjanjian pinjam pakai atau sewa, aset renovasi ini
seyogyanya diserahkan pada pemilik
KSAP REKLASIFIKASI ASET TETAP
Bultek

 Aset tetap yang dihentikan dari penggunaan aktif


pemerintah tidak memenuhi definisi aset tetap dan
harus dipindahkan ke pos aset lainnya sesuai dengan
nilai tercatatnya.
 Contoh: Aset Tetap yang rusak berat dan akan
dihapuskan
 Reklasifikasi aset tetap ke aset lainnya dapat
dilakukan sepanjang waktu, tidak tergantung periode
laporan.
KSAP ASET TETAP KERJASAMA
Bultek

• Aset tetap dapat dikerjasamakan dengan pihak lain.


• Dipengaruhi bentuk kontrak, aset diakui jika sudah
diserahterimakan, diberikan penjelasan jika aset
tersebut dalam kerjasama.
• Kerjasama dapat berbentuk pemakaian aset,
pengelolaan operasi bersama atau pengelolaan
entitas.
• Terkait aset  aset tetap,
pengelolaan entitas  investasi
KSAP ASET TETAP KERJASAMA
• Bentuk kerjasama:
– BTO  Built Transfer Operate, Bangun Serah Operasi
• Dibangun mitra, setelah selesai aset diserahkan,
• Mitra atau pemerintah mengoperasikan
• Aset diakui saat penyerahan, diberikan klasifikasi khusus aset kerjasama dan
dicatat utang sebesar nilai kini pembayaran di masa depan .
• Setelah kontrak selesai, dikembalikan menjadi aset tetap
– BOT  Built Operate Transfer, Bangun Operasi Serah
• Dibangun mitra, setelah selesai digunakan sampai akhir kontrak, baru
diserahkan
• Mitra mengoperasikan, pemerintah memperoleh pendapatan
• Aset diakui setelah penyerahan,, selama kontrak bangunan tidak diakui, tanah
diklasifikasikan aset kerjasama,.
• Setelah kontrak selesai tanah dan bangunan yang diserahkan akan
direklasifikasikan menjadi aset tetap.
KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN

PSAP NO. 08
AKUNTANSI KONSTRUKSI DALAM
PENGERJAAN

18
DEFINISI

 KONSTRUKSI DALAM PENGERJAAN adalah


aset-aset yang sedang dalam proses
pembangunan.
 KONTRAK KONSTRUKSI adalah perikatan
yang dilakukan secara khusus untuk
konstruksi suatu aset atau suatu kombinasi
yang berhubungan erat satu sama lain atau
saling tergantung dalam hal rancangan,
teknologi, dan fungsi atau tujuan atau
penggunaan utama.

188
CAKUPAN KONSTRUKSI DALAM
PENGERJAAN (KDP)
 Tanah
 Peralatan dan Mesin
 Gedung dan Bangunan
 Jalan, irigasi dan Jaringan
 Aset tetap lainnya
yang proses perolehannya dan/atau pembangunannya
membutuhkan suatu periode tertentu dan belum selesai

189
CAKUPAN KONTRAK
KONSTRUKSI
a. kontrak untuk perolehan jasa yang
berhubungan langsung dengan perencanaan
konstruksi aset, seperti jasa arsitektur;
b. kontrak untuk perolehan atau konstruksi aset;
c. kontrak untuk perolehan jasa yang
berhubungan langsung dengan pengawasan
konstruksi aset yang meliputi manajemen
konstruksi dan value engineering;
d. kontrak untuk membongkar atau merestorasi
aset dan restorasi lingkungan.

190
PENYATUAN DAN SEGMENTASI
KONTRAK KONSTRUKSI
Jika kontrak konstruksi mencakup sejumlah aset,
konstruksi dari setiap aset diperlakukan sebagai
suatu kontrak konstruksi yang terpisah jika:
 Proposal terpisah telah diajukan untuk setiap
aset;
 Setiap aset telah dinegosiasikan secara
terpisah dan kontraktor serta pemberi kerja
dapat menerima atau menolak bagian kontrak
yang berhubungan dengan masing-masing aset
tersebut;
 Biaya masing-masing aset dapat
diidentifikasikan.

191
PENYATUAN DAN SEGMENTASI
KONTRAK KONSTRUKSI
Suatu kontrak dapat berisi klausul yang memungkinkan
konstruksi aset tambahan atas permintaan pemberi kerja
atau dapat diubah sehingga konstruksi aset tambahan
dapat dimasukkan ke dalam kontrak tersebut. Konstruksi
tambahan diperlakukan sebagai suatu kontrak konstruksi
jika:
a) Aset tambahan tersebut berbeda secara signifikan
dalam rancangan, teknologi, atau fungsi dengan aset
yang tercakup dalam kontrak semula; atau
b) Harga aset tambahan tersebut ditetapkan tanpa
memperhatikan harga kontrak semula

192
PENGAKUAN KDP

Suatu benda berwujud diakui sebagai KDP jika:


 besar kemungkinan bahwa manfaat ekonomi
masa yang akan datang berkaitan dengan aset
tersebut akan diperoleh;
 biaya perolehan tersebut dapat diukur secara
andal; dan
 aset tersebut masih dalam proses pengerjaan.

193
PENGUKURAN BIAYA
KONSTRUKSI
 Secara Swakelola, al:
 biaya yang berhubungan langsung dengan
konstruksi;
 biaya yang dapat diatribusikan pada kegiatan pada
umumnya dan dapat dialokasikan ke konstruksi
tersebut;
 biaya lain yang secara khusus dibebankan
sehubungan konstruksi ybs.

 Secara Kontrak:
 Termin yang telah dibayarkan;
 Kewajiban yang msh harus dibayar;
 Pembayaran klaim kepada kontraktor/pihak ketiga,
misalnya klaim karena keterlambatan yang
disebabkan oleh pemberi kerja
194
KAPITALISASI BIAYA PINJAMAN
• Jika konstruksi dibiayai dari pinjaman maka biaya
pinjaman yang timbul selama masa konstruksi
dikapitalisasi dan menambah biaya konstruksi,
sepanjang biaya tersebut dapat diidentifikasikan dan
ditetapkan secara andal.
• Jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi tidak boleh
melebihi jumlah biaya bunga yang dibayar dan yang
masih harus dibayar pada periode yang bersangkutan.
• Apabila pinjaman digunakan untuk membiayai beberapa
jenis aset yang diperoleh dalam suatu periode tertentu,
biaya pinjaman periode yang bersangkutan dialokasikan
ke masing-masing konstruksi dengan metode rata-rata
tertimbang atas total pengeluaran biaya konstruksi.

195
KAPITALISASI BIAYA PINJAMAN
• Apabila kegiatan pembangunan konstruksi dihentikan
sementara tidak disebabkan oleh hal-hal yang bersifat
force majeur maka biaya pinjaman yang dibayarkan
selama masa pemberhentian sementara pembangunan
konstruksi dikapitalisasi.
• Kontrak konstruksi yang mencakup beberapa jenis
pekerjaan yang penyelesaiannya jatuh pada waktu yang
berbeda-beda, maka jenis pekerjaan yang sudah selesai
tidak diperhitungkan biaya pinjaman. Biaya pinjaman
hanya dikapitalisasi untuk jenis pekerjaan yang masih
dalam proses pengerjaan.

196
PENYAJIAN KDP
Konstruksi dalam Pengerjaan disajikan dalam Neraca masuk dalam
kelompok Aset Tetap

(Konstruksi Dalam Pengerjaan biasanya


merupakan aset yang dimaksudkan digunakan
untuk operasional pemerintah atau dimanfaatkan
oleh masyarakat dalam jangka panjang dan oleh
karenanya diklasifikasikan dalam aset tetap.

197
PENGUNGKAPAN KDP
Entitas harus mengungkapkan informasi mengenai
KDP pada akhir periode akuntansi:
Rincian kontrak konstruksi dalam pengerjaan
berikut tingkat penyelesaian dan jangka waktu
penyelesaian
Nilai kontrak konstruksi dan sumber
pendanaannya
Jumlah biaya yang telah dikeluarkan dan yang
masih harus dibayar
Uang muka kerja yang diberikan
Retensi

198
PENYELESAIAN KDP

 KDP akan dipindahkan ke pos aset tetap yang


bersangkutan jika konstruksi secara substansi telah
selesai dikerjakan dan konstruksi tersebut telah dapat
memberikan manfaat/jasa sesuai tujuan perolehan
 Dokumen sumber untuk pengakuan penyelesaian suatu
KDP adalah Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan
(BAPP).
PENGHENTIAN KDP

Berita Acara
Pembangunan Pemanfaatan
No. Penyelesaian Penyajian
Aset Aset
Pekerjaan (BAPP)
1. Selesai Sudah diperoleh Sudah Aset Tetap
dimanfaatkan
2. Selesai Sudah diperoleh Belum Aset Tetap
dimanfaatkan
3. Selesai Belum diperoleh Sudah KDP
dimanfaatkan
4. Selesai sebagian Belum diperoleh Sebagian sudah KDP
dimanfaatkan
5. Selesai sebagian, karena sebab tertentu (misalnya terkena KDP dapat
bencana alam/force majeur) aset tersebut hilang, maka dihapuskan
penanggung jawab aset tersebut membuat pernyataan
hilang
6. Belum selesai BAST sudah ada - KDP
PENGHENTIAN KDP

 Apabila dihentikan pembangunannya untuk


sementara waktu, maka KDP tersebut tetap
dicantumkan ke dalam neraca dan kejadian ini
diungkapkan secara memadai dalam CaLK.
 KDP diniatkan untuk dihentikan pembangunannya
secara permanen maka KDP tersebut harus
dieliminasi dari neraca dan kejadian ini diungkapkan
secara memadai dalam CaLK.
ILUSTRASI JURNAL KDP

Pada 30 Desember 20X0 SKPD ABC melakukan pengeluaran untuk KDP berbentuk
gedung sebesar 700juta. Pada 30 Desember 20X1 pengeluaran untuk pembangunan
sebesar 500juta. Pada 30 Juni pengeluaran 300 juta dan gedung diserahterimakan dan
mulai digunakan. Depresiasi 20 tahun.
Tanggal Finansial Anggaran
JURNAL PENGELUARAN & PENYELESAIAN KDP
30/12/20X0 KDP 700.000.000 Belanja Modal 700.000.000
Kas 700.000.000 Perubahan SAL 700.000.000
30/12/20X1 KDP 500.000.000 Belanja Modal 500.000.000
Kas 500.000.000 Perubahan SAL 500.000.000
30/6/20X2 KDP 300.000.000 Belanja Modal 300.000.000
Kas 300.000.000 Perubahan SAL 300.000.000
30/6/20X2 Aset Tetap 1.400.000.000 Tidak ada jurnal
KDP 1.400.000.000
31/12/20X2 Beban dep. 75.000.000 Tidak ada jurnal
Ak. Dep 75.000.000
KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN

PSAP NO. 09
AKUNTANSI KEWAJIBAN

20
KEWAJIBAN

Utang yang timbul dari peristiwa masa


lalu yang penyelesaiannya
mengakibatkan aliran keluar sumber
daya ekonomi pemerintah

204
KLASIFIKASI KEWAJIBAN

 Kewajiban Jangka Pendek : Diharapkan dibayar


dalam waktu 12 bulan setelah tanggal pelaporan
 Kewajiban Jangka Panjang : diselesaikan dalam
waktu lebih dari 12 bulan.

205
KEWAJIBAN JANGKA PANJANG

Kewajiban yang jatuh tempo dalam waktu 12 bulan berikutnya tetap


diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang jika :
– jangka waktu aslinya adalah untuk periode lebih dari 12 bulan
– entitas bermaksud untuk mendanai kembali (refinance) kewajiban tersebut atas
dasar jangka panjang
– maksud tersebut didukung dengan adanya suatu perjanjian pendanaan kembali
(refinancing), atau adanya penjadwalan kembali terhadap pembayaran, yang
diselesaikan sebelum Laporan Keuangan disetujui

206
PENGAKUAN KEWAJIBAN

Kewajiban diakui jika besar kemungkinan


bahwa pengeluaran sumber daya ekonomi
akan dilakukan untuk menyelesaikan
kewajiban yang ada sampai saat
pelaporan, dan perubahan atas kewajiban
tersebut mempunyai nilai penyelesaian
yang dapat diukur dengan andal

207
PENGAKUAN KEWAJIBAN

Kewajiban diakui pada saat dana


pinjaman diterima oleh pemerintah
atau dikeluarkan oleh kreditur
sesuai dengan kesepakatan,
dan/atau pada saat kewajiban timbul.

208
PENGUKURAN KEWAJIBAN

 Kewajiban dicatat sebesar nilai nominal


 Kewajiban dalam mata uang asing
dijabarkan dan dinyatakan dalam mata
uang rupiah
 Penjabaran mata uang asing
menggunakan kurs tengah bank sentral
pada tanggal neraca
209
UTANG KEPADA PIHAK KETIGA

• Pada saat pemerintah menerima hak atas barang,


termasuk barang dalam perjalanan yang telah
menjadi haknya, pemerintah harus mengakui
kewajiban atas jumlah yang belum dibayarkan
untuk barang tersebut
• Jumlah kewajiban yang disebabkan transaksi antar
unit pemerintahan harus dipisahkan dengan
kewajiban kepada unit nonpemerintahan

210
UTANG TRANSFER

• Merupakan kewajiban suatu entitas pelaporan untuk melakukan


pembayaran kepada entitas lain sebagai akibat ketentuan perundang-
undangan
• Diakui dan dinilai sesuai dengan peraturan yang berlaku

211
UTANG BUNGA

• Utang bunga atas utang pemerintah harus dicatat sebesar biaya bunga
yang telah terjadi dan belum dibayar
• Bunga dimaksud dapat berasal dari utang pemerintah baik dari dalam
maupun luar negeri
• Utang bunga atas utang pemerintah yang belum dibayar harus diakui
pada setiap akhir periode pelaporan sebagai bagian dari kewajiban yang
berkaitan

212
UTANG PFK

Pada akhir periode pelaporan,


saldo pungutan/potongan berupa
PFK yang belum disetorkan kepada
pihak lain harus dicatat pada
laporan keuangan sebesar jumlah
yang masih harus disetorkan

213
BAGIAN LANCAR UTANG JANGKA
PANJANG

Nilai yang dicantumkan dalam


laporan keuangan untuk bagian
lancar utang jangka panjang
adalah jumlah yang akan jatuh
tempo dalam waktu 12 bulan
setelah tanggal pelaporan

214
PERUBAHAN VALUTA ASING

• Utang pemerintah dalam mata uang asing dicatat


dengan menggunakan kurs tengah bank sentral
saat terjadinya transaksi
• Pada setiap tanggal neraca pos utang
pemerintah dalam mata uang asing dilaporkan ke
dalam mata uang rupiah dengan menggunakan
kurs tengah bank sentral pada tanggal neraca
• Selisih penjabaran pos utang pemerintah dalam
mata uang asing antara tanggal transaksi dan
tanggal neraca dicatat sebagai kenaikan atau
penurunan ekuitas periode berjalan

215
PENYELESAIAN KEWAJIBAN SEBELUM
JATUH TEMPO
Untuk sekuritas utang pemerintah yang diselesaikan sebelum jatuh
tempo :
– karena adanya fitur untuk ditarik oleh penerbit (call feature) dari sekuritas
tersebut ; atau
– karena memenuhi persyaratan untuk penyelesaian oleh permintaan
pemegangnya
– selisih antara harga perolehan kembali dan nilai tercatat netonya
disajikan pada laporan operasional, harus diungkapkan pada CaLK
sebagai bagian dari pos kewajiban yang berkaitan

216
TUNGGAKAN

• Adalah jumlah tagihan yang telah jatuh tempo


namun pemerintah tidak mampu untuk
membayar jumlah pokok dan/atau bunganya
sesuai jadwal
• Jumlah tunggakan atas pinjaman pemerintah
harus disajikan dalam bentuk Daftar Umur (aging
schedule) Kreditur pada CaLK sebagai bagian
pengungkapan kewajiban

217
RESTRUKTURISASI UTANG

• Dalam restrukturisasi utang melalui modifikasi


persyaratan utang, debitur harus mencatat dampak
restrukturisasi secara prospektif sejak saat
restrukturisasi dilaksanakan dan tidak boleh
mengubah nilai tercatat utang pada saat
restrukturisasi kecuali jika nilai tercatat tersebut
melebihi jumlah pembayaran kas masa depan
yang ditetapkan dengan persyaratan baru.
• Informasi restrukturisasi harus diungkap pada
CaLK

218
PENGHAPUSAN UTANG

• Pembatalan secara sukarela tagihan oleh kreditur


kepada debitur
• Diselesaikan melalui penyerahan aset kas maupun
nonkas dengan nilai utang di bawah nilai tercatat
Jika dengan aset kasdebitur harus mengurangi nilai
tercatat utang ke jumlah yang sama dengan jumlah
pembayaran kas masa depan sesuai persyaratan baru
Jika dengan aset nonkasdebitur harus melakukan
penilaian kembali aset nonkas ke nilai wajarnya kemudian
mengurangi nilai tercatat utang ke jumlah yang sama
dengan jumlah pembayaran kas masa depan sesuai
persyaratan baru
• Penilaian kembali aset akan menghasilkan
perbedaan antara nilai wajar dan nilai aset yang
dialihkan kepada kreditur
• Diungkapkan dalam CaLK 219
BIAYA-BIAYA YANG BERHUBUNGAN DENGAN UTANG
PEMERINTAH

• Biaya bunga dan biaya lainnya yang timbul dalam kaitan dengan
peminjaman dana :
bunga dan provisi
 commitment fee
amortisasi diskonto atau premium
amortisasi kapitalisasi biaya terkait pinjaman (biaya konsultan, ahli
hukum, dll)
perbedaan nilai tukar pada pinjaman dengan mata uang asing
• Biaya pinjaman yang secara langsung dapat diatribusikan dengan
perolehan atau produksi suatu aset tertentu (qualifying asset) harus
dikapitalisasi sebagai bagian dari biaya perolehan aset tertentu tersebut
• Apabila suatu dana pinjaman tidak secara khusus digunakan untuk
perolehan aset maka biaya pinjaman yang dikapitalisasi ke aset tertentu
dihitung berdasarkan rata-rata tertimbang atas akumulasi biaya seluruh
aset tertentu yg berkaitan selama periode pelaporan

220
PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN
• Utang pemerintah harus diungkapkan secara rinci dalam
bentuk daftar skedul utang
• Informasi yang harus disajikan dalam CaLK :
(a) Jumlah saldo kewajiban jangka pendek dan jangka panjang
berdasarkan pemberi pinjaman
(b) Jumlah saldo kewajiban utang pemerintah berdasarkan jenis sekuritas
dan jatuh temponya
(c) Bunga pinjaman yang berlaku
(d) Konsekuensi penyelesaian kewajiban sebelum jatuh tempo
(e) Perjanjian restrukturisasi utang (pengurangan pinjaman, modifikasi
persyaratan utang, pengurangan tingkat bunga pinjaman,
pengunduran jatuh tempo pinjaman, pengurangan nilai jatuh tempo
pinjaman, pengurangan jumlah bunga terutang)
(f) Jumlah tunggakan pinjaman daftar umur utang berdasarkan kreditur
(g) Biaya pinjaman (perlakuan,jumlah yang dikapitalisasi,tingkat
kapitalisasi)

221
ILUSTRASI
• Kota Bengawan mengadakan suatu kontrak konstruksi
bangunan dengan PT AK pada tahun 20X2 dengan nilai
kontrak Rp1.000.000.000 dan diperkirakan akan
diselesaikan pembangunannya pada 31 Nopember 20X2
dengan 2 termijn pembayaran. Tanggal 30 Nopember 20X2
pembangunan termin pertama telah selesai dan telah
diserahterimakan senilai Rp 300.000.000, tetapi
dikarenakan sesuatu hal, Pemerintah Kota Bengawan
belum membayar tagihan PT AK. Pada 31 Desember 20X2
dicapai kesepakatan antara Pemerintah Kota Bengawan
dengan PT AK, pembayaran termin pertama dilakukan
pada 1 Maret 20X2 dan termin kedua akan dibayar 1 Maret
20X3. Misal tgl 1 Maret 20X3 dan 20X4 pembayaran
dilakukan tepat waktu dan penyelesaian termin kedua
terjadi 30 Desember 20X3. Bangunan disusutkan 20
tahun.

222
ILUSTRASI

Tanggal Finansial Anggaran


30 Nop KDP 300.000.000 Tidak ada jurnal
20X2
Utang 300.000.000
1 Mar 20X3 Utang 300.000.000 Belanja Modal 300.000.000
Kas 300.000.000 Perubahan SAL 300.000.000
30 Des KDP 700.000.000 Tidak ada jurnal
20X3
Utang 700.000.000
30 Des Bangunan 1.000.000.000 Tidak ada jurnal
20X3
KDP 1.000.000.000
1 Mar 20X4 Utang 700.000.000 Belanja Modal 700.000.000
Kas 700.000.000 Perubahan SAL 700.000.000
31 Des Beban Depresiasi 50.000.000 Tidak ada jurnal
20X4
Akumulasi 50.000.000
Depresiasi 223
ILUSTRASI UTANG

Pada 30 Desember 20X2 SKPD ABC menerima penagihan


atas kegiatan pemeliharaan rutin AC 10.000.000. Kegiatan
telah diselesaikan Namun tagihan diterima setelah tutup
anggaran sehingga tidak dapat dikeluarkan kas untuk
membayar kegiatan tersebut. Kas baru dibayarkan pada
13 Januari 20X3
Tanggal Finansial Anggaran
30 Des Beban pemeliharaan 200.000.000 Tidak ada jurnal
Utang 200.000.000
13 Jan Utang 10.000.000 Belanja pemeliharaan 10.000.000
Kas 10.000.000 Perubahan SAL 10.000.000

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 224


ILUSTRASI UTANG

Pada 1 April 20X2 Kota Bengawan menerima utang dari Luar Negeri
5.000.000.000 untuk pengembangan jaringan transportasi yang dapat
menunjang industri di kota tersebut. Utang tersebut berbunga rendah
4% per tahun. Bunga dibayar setiap tanggal 1 April dan pembayaran
akan dilakukan setelah 5 tahun selama 5 kali angsuran.

Tanggal Finansial Anggaran


1 April 20X2 Kas 5.000.000.000 Perubahan SAL 5.000.000.000
Utang 5.000.000.000 Penerimaan 5.000.000.000
pembiayaan
- utang jangka panjang
31 Des Beban bunga 150.000.000 Tidak ada jurnal
20X3
Utang bunga 150.000.000
1 Des 20X3 Utang bunga 150.000.000 Belanja bunga 200.000.000
Beban bunga 50.000.000 Perubahan SAL 200.000.000
Kas 200.000.000
Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 225
KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN

PSAP NO. 10
KOREKSI KESALAHAN,
PERUBAHAN KEBIJAKAN
AKUNTANSI, PERUBAHAN
ESTIMASI AKUNTANSI, DAN
OPERASI YANG TIDAK
DILANJUTKAN

22
TUJUAN

Mengatur perlakuan akuntansi atas:


 Koreksi Kesalahan Akuntansi dan Pelaporan Laporan Keuangan
 Perubahan Kebijakan Akuntansi
 Perubahan Estimasi Akuntansi
 Operasi yang Tidak Dilanjutkan

227
RUANG LINGKUP

Dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan suatu


entitas harus menerapkan Pernyataan Standar ini untuk
melaporkan pengaruh kesalahan, perubahan kebijakan
akuntansi, perubahan estimasi akuntansi dan operasi yang
tidak dilanjutkan dalam Laporan Realisasi Anggaran, laporan
Perubahan Saldo Anggaran Lebih, Neraca, Laporan
Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan Arus Kas,
dan Catatan atas laporan Keuangan.

228
RUANG LINGKUP

 Pernyataan standar ini berlaku untuk entitas


pelaporan dalam menyusun laporan keuangan
yang mencakup laporan keuangan semua
entitas akuntansi, termasuk Badan Layanan
Umum, yang berada di bawah pemerintah
pusat/daerah

229
KOREKSI KESALAHAN

 Jumlah koreksi yang berhubungan dengan periode sebelumnya


harus dilaporkan dengan menyesuaikan baik Saldo Anggaran Lebih
maupun saldo ekuitas
 Koreksi yang berpengaruh material pada periode berikutnya harus
diungkapkan pada catatan atas laporan keuangan

230
KOREKSI KESALAHAN

 Kesalahan yang tidak berulang


 Terjadi pada periode berjalan
 Terjadi pada periode sebelumnya
 Kesalahan yang berulang dan sistemik
 Kesalahan yang disebabkan sifat alamiah
(normal) dari jenis-jenis transaksi tertentu
yang diperkirakan akan terjadi secara
berulang

231
KOREKSI KESALAHAN (par 12)

 Tidak berulang
 Terjadi pada periode berjalan
 Mempengaruhi maupun tidak
mempengaruhi posisi kas

Pembetulan pada akun yang


bersangkutan dalam periode
berjalan
baik akun pendapatan-LRA atau
akun belanja maupun akun
pendapatan-LO atau akun beban

232
KOREKSI KESALAHAN (par 13)

– Tidak berulang
– Terjadi pada periode-periode sebelumnya
– Mempengaruhi posisi kas
– Laporan keuangan periode tersebut belum
terbit

Pembetulan pada akun


pendapatan-LRA atau akun
belanja maupun akun
pendapatan-LO atau akun
beban periode yang
bersangkutan
233
KOREKSI KESALAHAN ATAS BELANJA
(par 14)

 Tidak berulang
 Terjadi pada periode sebelumnya
 Mempengaruhi posisi kas (menambah/mengurang
saldo kas)
 Laporan keuangan sudah terbit
Menambah Mengurangi
kas Kas

Pembetulan pada akun pembetulan pada akun


pendapatan lain-lain-LRA Saldo Anggaran Lebih
234
KOREKSI KESALAHAN ATAS
PEROLEHAN ASET SELAIN KAS (par 16)

 Tidak berulang
 Terjadi pada periode sebelumnya
 Mempengaruhi posisi kas(menambah/mengurang posisi kas)
 Laporan keuangan periode tersebut sudah terbit.

Pembetulan pada akun kas dan


akun aset yang bersangkutan

235
KOREKSI KESALAHAN ATAS BEBAN
(par 18)
 Tidak berulang
 Terjadi pada periode sebelumnya
 Mempengaruhi posisi kas dan tidak
mempengaruhi posisi aset selain kas
 Laporan keuangan periode tersebut sudah
terbit

Pengurangan Penambahan
Beban Beban

Pembetulan pada akun pembetulan pada akun


pendapatan lain-lain-LO Ekuitas 236
KOREKSI KESALAHAN ATAS PENDAPATAN-
LRA (par 20)

 Tidak berulang
 Terjadi pada periode sebelumnya
 Mempengaruhi posisi
kas(menambah/mengurang saldo kas)
 Laporan keuangan sudah terbit.

Pembetulan pada akun kas


dan akun Saldo Anggaran
Lebih
237
KOREKSI KESALAHAN ATAS PENERIMAAN
PENDAPATAN-LO (par 22)

 Tidak berulang
 Terjadi pada periode sebelumnya
 Mempengaruhi posisi
kas(menambah/mengurang saldo kas)
 Laporan keuangan sudah terbit.

Pembetulan pada akun


Kas dan akun Ekuitas

238
KOREKSI KESALAHAN ATAS PENERIMAAN &
PENGELUARAN PEMBIAYAAN (par 24)

 Tidak berulang
 Terjadi pada periode sebelumnya
 Mempengaruhi posisi
kas(menambah/mengurang saldo kas)
 Laporan keuangan sudah terbit.

Pembetulan pada akun kas dan


akun Saldo Anggaran Lebih

239
KOREKSI KESALAHAN ATAS PENCATATAN
KEWAJIBAN (par 27)

 Tidak berulang
 Terjadi pada periode sebelumnya
 Mempengaruhi posisi kas(menambah/mengurang
saldo kas)
 Laporan keuangan sudah terbit.

Pembetulan pada akun kas dan


kewajiban yang bersangkutan
240
KOREKSI KESALAHAN (par 32)

 Tidak berulang
 Terjadi pada periode-periode sebelumnya
 Tidak mempengaruhi posisi kas
 Sebelum maupun setelah laporan keuangan terbit

Pembetulan pada akun-akun neraca terkait


pada periode kesalahan ditemukan

241
KOREKSI KESALAHAN (par 34)
 Kesalahan berulang dan sistemik tidak perlu koreksi hanya dicatat pada saat
terjadi pengeluaran kas untuk mengembalikan kelebihan pendapatan dengan
mengurangi pendapatan-LRA maupun pendapatan-LO yang bersangkutan
 Koreksi kesalahan periode-periode yang lalu yang mempengaruhi posisi kas
dilaporkan dalam Laporan Arus Kas tahun berjalan pada aktivitas yang
bersangkutan
 Koreksi kesalahan diungkapkan pada CALK

242
PERUBAHAN KEBIJAKAN AKUNTANSI

 Kebijakan akuntansi adalah prinsip-prinsip, dasar-dasar, konvensi-


konvensi, aturan-aturan, dan praktik-praktik spesifik yang dipilih oleh
suatu entitas pelaporan dalam penyusunan dan penyajian laporan
keuangan (par 4)
 Perubahan kebijakan akuntansi harus disajikan pada Laporan
Perubahan Ekuitas dan diungkapkan dalam CALK (par 42)

243
PERUBAHAN ESTIMASI AKUNTANSI

 Perubahan Estimasi adalah revisi estimasi karena perubahan


kondisi yang mendasari estimasi tersebut, atau karena terdapat
informasi baru, pertambahan pengalaman dalam mengestimasi,
atau perkembangan lain (par 4)
 Pengaruh atau dampak perubahan estimasi akuntansi disajikan
pada Laporan Operasional pada periode perubahan dan periode
selanjutnya sesuai sifat perubahan. Sebagai contoh, perubahan
estimasi masa manfaat aset tetap berpengaruh pada LO tahun
perubahan dan tahun-tahun selanjutnya selama masa manfaat
aset tetap tersebut. (par 44)
 Pengaruh perubahan terhadap LO periode berjalan dan yang
akan datang diungkapkan dalam CALK. Apabila tidak
memungkinkan, harus diungkapkan alasan tidak
mengungkapkan pengaruh perubahan itu. (par 45)
244
OPERASI YANG TIDAK DILANJUTKAN
 Adalah penghentian suatu misi atau tupoksi tertentu yang berakibat pelepasan
atau penghentian suatu fungsi, program, atau kegiatan, sehingga aset,
kewajiban, dan operasi dapat dihentikan tanpa mengganggu fungsi, program,
atau kegiatan yang lain (par 4)
 Informasi penting dalam operasi yang tidak dilanjutkan misalnya hakikat
operasi, kegiatan, program, proyek yang dihentikan, tanggal efektif
penghentian, cara penghentian, pendapatan dan beban tahun berjalan sampai
tanggal penghentian apabila dimungkinkan, dampak sosial atau dampak
pelayanan, pengeluaran aset atau kewajiban terkait pada penghentian apabila
ada harus diungkapkan pada CALK (par 47)

245
OPERASI YANG TIDAK DILANJUTKAN
 Agar laporan Keuangan disajikan secara komperatif , suatu segmen yang
dihentikan itu harus dilaporkan dalam Laporan Keuangan walaupun berjumlah
nol untuk tahun berjalan. Dengan demikian, operasi yang dihentikan tampak
pada Laporan Keuangan. (par 48)
 Pendapatan dan beban operasi yang dihentikan pada suatu tahun berjalan,
diakuntansikan dan dilaporkan seperti biasa, seolah-olah operasi itu berjalan
sampai akhir tahun Laporan Keuangan. Pada umumnya entitas membuat
rencana penghentian, meliputi jadwal penghentian bertahap atau sekaligus,
resolusi masalah legal, lelang, penjualan, hibah dan lain-lain. (par 49)

246
OPERASI YANG TIDAK DILANJUTKAN
 Bukan Penghentian Operasi bila : (par 50)
a. Penghentian suatu program, kegiatan, proyek,
segmen secara evolusioner/alamiah. Hal ini dapat
diakibatkan oleh demand (permintaan publik yang
dilayani) yang terus merosot, pergantian kebutuhan
lain.
b. Fungsi tersebut tetap ada
c. Beberapa jenis subkegiatan dalam suatu fungsi pokok
dihapus, selebihnya berjalan seperti biasa. Relokasi
suatu program, proyek, kegiatan ke wilayah lain
d. Menutup suatu fasilitas yang ber-utilisasi amat rendah,
menghemat biaya, menjual sarana operasi tanpa
mengganggu operasi tersebut.
247
ILUSTRASI UTANG

Pada 30 September 20X2 Kota Bengawan menerima kas sebesar


40.000.000 akibat kelebihan pembayaran gaji untuk tahun anggaran
20X1.
Pada 30 Septermber 20X2 Kota Bengawan harus membayar kas
sebesar 10.000.000 untuk membayar kekurangan pembayaran biaya
pemeliharaan tahun 20X1 kepada salah seorang rekanan.

Tanggal Finansial Anggaran


30 Sep Kas 40.000.000 Perubahan SAL 40.000.000
Pendapatan lain-lain 40.000.000 Pendapatan lain - 40.000.000
-LO LRA
30 Sep Ekuitas 10.000.000 Koreksi SAL 10.000.000
Kas 10.000.000 Perubahan SAL 10.000.000

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 248


ILUSTRASI UTANG

Pada 30 September 20X2 Kota Bengawan menerima kas sebesar


100.000.000 akibat kelebihan pembayaran belanja modal (gedung)
untuk tahun anggaran 20X1.
Pada 30 Septermber 20X2 Kota Bengawan harus membayar kas
sebesar 20.000.000 untuk membayar kekurangan pembayaran belanja
modal tahun 20X1 kepada salah seorang rekanan.

Tanggal Finansial Anggaran


30 Sep Kas 40.000.000 Perubahan SAL 40.000.000
Gedung 40.000.000 Pendapatan lain - 40.000.000
LRA
30 Sep Peralatan 20.000.000 Koreksi SAL 20.000.000
Kas 20.000.000 Perubahan SAL 20.000.000

Lampiran 1 PP No. 71 Tahun 2010 249


KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN

PSAP 11
LAPORAN KEUANGAN
KONSOLIDASIAN

25
RUANG LINGKUP

 Laporan keuangan untuk tujuan umum dari


unit pemerintahan yang ditetapkan sebagai
entitas pelaporan disajikan secara
terkonsolidasi menurut Pernyataan Standar ini
agar mencerminkan satu kesatuan entitas.
(PAR 2)
 Laporan keuangan konsolidasian pada
pemerintah pusat sebagai entitas pelaporan
mencakup laporan keuangan semua entitas
pelaporan, termasuk laporan keuangan badan
layanan umum. (PAR 3)

251
RUANG LINGKUP

 Laporan keuangan konsolidasian pada


Kementerian/Lembaga/ pemerintah daerah
sebagai entitas pelaporan mencakup laporan
keuangan semua entitas akuntansi, termasuk
laporan keuangan badan layanan umum. (par 4)
 Laporan keuangan konsolidasian pada
pemerintah pusat sebagai entitas pelaporan
mencakup laporan keuangan semua entitas
pelaporan, termasuk laporan keuangan badan
layanan umum.

252
STANDAR TIDAK MENGATUR

 Laporan keuangan konsolidasian perusahaan


negara/perusahaan daerah;
 Akuntansi untuk investasi dalam perusahaan
asosiasi;
 Akuntansi untuk investasi dalam usaha
patungan (joint venture); dan
 Laporan statistik gabungan pemerintah pusat
dan pemerintah daerah

253
PENYAJIAN LAPORAN
KONSOLIDASIAN
 Laporan keuangan konsolidasian terdiri dari Laporan
Realisasi Anggaran, Laporan Perubahan SAL, Neraca,
Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas,
Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan
Keuangan. (par 7)

 Laporan keuangan konsolidasian disajikan untuk


periode pelaporan yang sama dengan periode
pelaporan keuangan entitas pelaporan dan berisi
jumlah komparatif dengan periode sebelumnya (par 9)

 Proses konsolidasi diikuti dengan eliminasi akun-akun


timbal balik (reciprocal accounts). Namun demikian,
apabila eliminasi dimaksud belum dimungkinkan, maka
hal tersebut diungkapkan dalam CaLK. (par 12)
254
ENTITAS PELAPORAN

Entitas pelaporan adalah unit pemerintahan yang terdiri dari satu


atau lebih entitas akuntansi yang menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan wajib menyampaikan laporan
pertanggungjawaban berupa laporan keuangan. (par 6)

255
CIRI-CIRI ENTITAS PELAPORAN (par 14)

 Dibiayai oleh APBN/APBD atau mendapat


pemisahan kekayaan dari anggaran;
 Dibentuk dengan peraturan perundang-
undangan;
 Pimpinan entitas tersebut adalah pejabat
pemerintah yang diangkat atau pejabat negara
yang ditunjuk atau yang dipilih oleh rakyat; dan
 Entitas tersebut membuat pertanggungjawaban
baik langsung maupun tidak langsung kepada
wakil rakyat sebagai pihak yang menyetujui
anggaran.
256
ENTITAS PELAPORAN (PP 8/2006)

Terdiri dari:
1) Pemerintah Pusat.
2) Pemerintah Daerah.
3) Kementerian negara/lembaga (KL).
4) Bendahara Umum Negara (BUN).

257
ENTITAS AKUNTANSI (par 6)

Pengguna anggaran/pengguna barang sebagai entitas akuntansi


menyelenggarakan akuntansi dan menyampaikan laporan keuangan
sehubungan dengan anggaran/barang yang dikelolanya yang
ditujukan kepada entitas pelaporan.

258
ENTITAS AKUNTANSI (PP 8/2006)

Terdiri dari:
1) Setiap kuasa pengguna anggaran di lingkungan
suatu K/L yang mempunyai dokumen
pelaksanaan anggaran tersendiri.
2) Bendahara Umum Daerah (BUD).
3) Kuasa pengguna anggaran di lingkungan Pemda
bila mempunyai dokumen pelaksanaan anggaran
yang terpisah, jumlah anggarannya relatif besar,
dan pengelolaan kegiatannya dilakukan secara
mandiri.

259
PENGERTIAN KONSOLISASI

Konsolidasi adalah proses penggabungan antara akun-akun yang


diselenggarakan oleh suatu entitas pelaporan dengan entitas
pelaporan lainnya, entitas akuntansi dengan entitas akuntansi
lainnya, dengan mengeliminasi akun-akun timbal balik agar dapat
disajikan sebagai satu entitas pelaporan konsolidasian. (par 6)

260
BLU/BLUD

• Selaku penerima anggaran belanja pemerintah


(APBN/APBD) BLU/BLUD adalah entitas
akuntansi, yang laporan keuangannya
dikonsolidasikan pada entitas pelaporan yang
secara organisatoris membawahinya. (par 19)
• Selaku satuan kerja pelayanan berupa Badan,
walaupun bukan berbentuk badan hukum yang
mengelola kekayaan Negara yang dipisahkan,
BLU/BLUD adalah entitas pelaporan. (par 20)

261
PROSEDUR KONSOLIDASI (par 22)

 Menggabungkan dan menjumlahkan akun yang


diselenggarakan oleh entitas pelaporan dengan
entitas pelaporan lainnya atau entitas akuntansi
dengan entitas akuntansi lainnya dengan atau tanpa
mengeliminasi akun timbal balik. (par 22)
 Entitas pelaporan menyusun laporan keuangan
dengan menggabungkan laporan keuangan seluruh
entitas akuntansi yang secara organisatoris berada di
bawahnya. (par 22)
 Dalam hal konsolidasi dilakukan tanpa mengeliminasi
akun-akun yang timbal-balik, maka nama-nama akun
yang timbal balik dan estimasi besaran jumlah dalam
akun yang timbal balik dicantumkan dalam CaLK. (par
25)
262
KONSOLIDASI DAN PENGGABUNGAN

EP LKK
LK
KONSOLIDASI

EP EP EP

PENGGABUNGAN PENGGABUNGAN PENGGABUNGAN

EA EA EA EA EA EA

LK= LAPORAN KEUANGAN, LKK=LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI,


EP=ENTITAS PELAPORAN, EA=ENTITAS AKUNTANSI
263
KONSOLIDASI DITINGKAT PEMERINTAH DAERAH

• Satuan Kerja selaku Kuasa Pengguna Anggaran yang


mengelola anggaran adalah entitas akuntansi yang harus
menyelenggarakan akuntansi atas transaksi keuangan,
aset, utang, dan ekuitas dana, termasuk transaksi
pendapatan dan belanja, yang berada dalam tanggung
jawabnya guna menghasilkan laporan keuangan yang
akan disampaikan kepada entitas pelaporan.
• Penyelenggaran akuntansi mengacu kepada Sistem
Akuntansi Pemerintah Daerah yang sesuai dengan
Standar Akuntansi Pemerintahan.

264
KONSOLIDASI DITINGKAT PEMERINTAH DAERAH

• Kepala SKPD selaku pengguna anggaran menyusun laporan keuangan


gabungan dari satuan kerja yang berada dilingkup SKPD dan
menyampaikannya kepada gubernur/bupati/walikota melalui Pejabat
Pengelola Keuangan Daerah selaku entitas pelaporan untuk dilakukan
proses konsolidasian.
• Pejabat Pengelola Keuangan Daerah selaku BUD menyusun laporan
keuangan sebagai pertanggungjawaban pengelolaan perbendaharaan
daerah yang selanjutnya akan digabungkan dengan laporan keuangan
yang berasal dari SKPD.
• Pejabat Pengelola Keuangan Daerah selaku entitas pelaporan
melakukan proses konsolidasian dan menyusun laporan keuangan
PEMDA berdasarkan laporan keuangan SKPD serta laporan
pertanggungjawaban pengelolaan perbendaharaan daerah dan
disampaikan kepada gubernur/bupati/walikota untuk selanjutnya
disampaikan ke BPK dan DPRD.
265
KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN

PSAP 12
LAPORAN OPERASIONAL

26
LINGKUP DAN MANFAAT

RUANG LINGKUP
Berlaku untuk setiap entitas pelaporan dan entitas akuntansi,
baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, dalam
menyusun laporan operasional yang menggambarkan
pendapatan-LO, beban, dan surplus/defisit operasional dalam
suatu periode pelaporan tertentu, tidak termasuk perusahaan
negara/daerah.

• MANFAAT LAPORAN OPERASIONAL


• Menyediakan informasi mengenai seluruh kegiatan
operasional keuangan entitas pelaporan yang tercerminkan
dalam pendapatan-LO, beban, dan surplus/defisit
operasional dari suatu entitas pelaporan yang penyajiannya
disandingkan dengan periode sebelumnya.
KONSEPSI BASIS

Surplus/defisit
Pendapatan dan akrual yang Pendapatan
Belanja over/ menambah/ dan belanja
underestimate mengurangi akrual
ekuitas
Pembiayaan Ada
Tidak ada
diperhitungkan Pemisahan pemisahan
pemisahan
dalam Kegiatan non laporan kegiatan
perhitungan operasional pertanggung non
SILPA/SIKPA jawaban operasional
dan pos luar
anggaran dan dan pos luar
biasa
laporan finansial biasa
PP 24/2005
PP 71/2010

LRA LRA & LO


268
KONSEPSI BASIS

• Pendapatan LO dan beban dalam bentuk


barang/jasa harus dilaporkan berdasarkan nilai
wajarnya pada tanggal transaksi dan diungkap
dalam CaLK
• Transaksi pendapatan dan beban dalam bentuk
barang/jasa antara lain hibah dalam wujud
barang, barang rampasan, dan jasa konsultasi
• Pembiayaan tidak diperhitungkan dalam
perhitungan surplus/defisit LO karena transaksi
pembiayaan tidak terkait dengan operasi pada
periode pelaporan.
KONSEPSI BASIS
PP 71/2010 AKRUAL
PP 24/2005 CTA Laporan
Opsional (Laporan pendapatan dan
Kinerja Keuangan) beban akrual

COST Besarnya beban yang harus ditanggung oleh


KONSEPSI BASIS pemerintah dalam menjalankan pelayanan

LO menyediakan Operasi keuangan secara menyeluruh yang


informasi mengenai berguna dalam mengevaluasi kinerja
seluruh kegiatan
Performace pemerintah dalam hal efisiensi, efektivitas dan
operasional kehematan perolehan dan penggunaan
keuangan entitas sumber daya ekonomi
pelaporan yang Memprediksi pendapatan LO yang akan
penyajiannya Estimation diterima untuk mendanai kegiatan pemerintah
disandingkan dengan dalam periode mendatang dengan menyajikan
periode sebelumnya laporan secara komparatif

Equity Peningkatan ekuitas (bila surplus operasional)


dan penurunan ekuitas (bila defisit operasional)
270
PERANAN LAPORAN OPERASIONAL

• Laporan Operasional menyajikan informasi beban


akrual yang dapat digunakan untuk menghitung cost
per program/kegiatan pelayanan

Laporan Operasional Perhitungan Cost


COST untuk
Beban pegawai Labor cost setiap
Beban belanja barang program/
kegiatan
Beban bunga
Beban subsidi Material cost
Beban hibah
Beban bantuan sosial
Beban penyusutan Overhead cost
Beban transfer
Beban lain-lain
PERANAN LAPORAN OPERASIONAL

Konsep VFM digunakan untuk


Evaluasi kinerja menilai apakah suatu organisasi
berdasarkan telah mencapai benefit maksimal,
konsep Value for dengan mengunakan sumber daya
Money (ekonomi, yang ada.
efisien & efektif)

efektivitas
Output
(keluaran) Laporan
Operasional
efisien Input
(cost dari
program/
kegiatan)
ekonomi Laporan Kinerja
PERANAN LAPORAN OPERASIONAL

UU 1/2004 & PP 8/2006


Mengatur tentang laporan keuangan dan kinerja instansi pemerintah

Kinerja berupa keluaran/hasil dari kegiatan/program yang hendak atau telah


dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran (beban/cost), dengan
kuantitas dan kualitas terukur

Manajemen Keuangan Manajemen Kinerja

Aset &
Pendapatan Beban Cost Kinerja
Kewajiban
Mengaitkan cost dengan kinerja

LAPORAN LAPORAN
EVALUASI KINERJA
KEUANGAN KINERJA
PERANAN LAPORAN OPERASIONAL - EKUITAS

PP 71/2010 AKRUAL
PP 24/2005 CTA
Melaporkan perubahan ekuitas dan
Opsional
surplus/defisit

LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS

Surplus/defisit LO
pada periode
bersangkutan

Dampak kumulatif
perubahan
Ekuitas awal
kebijakan/kesalahan
Ekuitas mendasar
akhir
274
PERIODE PELAPORAN

Disajikan sekurang-kurangnya sekali dalam setahun.


Jika disatjikan lebih pendek entitas harus mengungkapkan :
 alasan penggunaan periode pelaporan tidak satu
tahun;
 fakta bahwa jumlah-jumlah komparatif dalam
Laporan Operasional dan catatan-catatan terkait
tidak dapat diperbandingkan.
STRUKTUR LAPORAN OPERASIONAL
• Hak pemerintah • Penurunan manfaat
• Diakui sebagai ekonomi/potensi
penambah ekuitas jasa dalam periode
pelaporan
• Dalam tahun anggaran • menurunkan
yg bersangkutan Pendapatan- ekuitas
LO (dari Beban (dari • berupa
• Tidak perlu dibayar
kembali kegiatan kegiatan pengeluaran/
operasional) operasional) konsumsi
aset atau timbulnya
kewajiban

Kegiatan • Pendapatan/Beban
• Sifatnya tidak rutin, termasuk Pos Luar yg bukan n operasi
surplus/defisit dari penjualanNon
aset Biasa biasa
Operasional
non lancar dan penyelesaian • Tidak diharapkan
kewajiban jangka panjang sering/rutin terjadi
• Di luar kendali/
pengaruh entitas ybs
• Sifat & jumlah 276
diungkap dalam
STRUKTUR DAN ISI

– Menyajikan berbagai unsur


• pendapatan-LO,
• beban,
• surplus/defisit dari operasi,
• surplus/defisit dari kegiatan non operasional,
• surplus/defisit sebelum pos luar biasa,
• pos luar biasa,
• surplus/defisit-LO,

– Dalam Laporan Operasional ditambahkan pos, judul, dan sub


jumlah lainnya apabila diwajibkan oleh Pernyataan Standar
Akuntansi Pemerintahan, atau apabila penyajian tersebut
diperlukan untuk menyajikan Laporan Operasional secara
wajar
IDENTIFIKASI

Dalam Laporan Operasional harus diidentifikasikan secara


jelas, dan, jika dianggap perlu, diulang pada setiap
halaman laporan, informasi berikut:
a) nama entitas pelaporan atau sarana identifikasi
lainnya;
b) cakupan entitas pelaporan;
c) periode yang dicakup;
d) mata uang pelaporan; dan
e) satuan angka yang digunakan.
INFORMASI DALAM CATATAN ATAS LAPORAN
KEUANGAN

• Entitas pelaporan menyajikan pendapatan-LO yang


diklasifikasikan menurut sumber pendapatan.
• Rincian lebih lanjut sumber pendapatan disajikan pada
Catatan atas Laporan Keuangan.
• Entitas pelaporan menyajikan beban yang diklasifikasikan
menurut klasifikasi jenis beban.
• Beban berdasarkan klasifikasi organisasi dan klasifikasi lain
yang dipersyaratkan menurut ketentuan perundangan yang
berlaku, disajikan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
PENDAPATAN LO

• Pendapatan-LO diklasifikasikan menurut sumber pendapatan.


• Akuntansi pendapatan-LO dilaksanakan berdasarkan azas
bruto, yaitu dengan membukukan pendapatan bruto, dan tidak
mencatat jumlah netonya (setelah dikompensasikan dengan
pengeluaran).
• Dalam hal besaran pengurang terhadap pendapatan-LO bruto
(biaya) bersifat variabel terhadap pendapatan dimaksud dan
tidak dapat di estimasi terlebih dahulu dikarenakan proses
belum selesai, maka asas bruto dapat dikecualikan.
• Dalam hal badan layanan umum, pendapatan diakui dengan
mengacu pada peraturan perundangan yang mengatur
mengenai badan layanan umum.
KOREKSI KESALAHAN

KOREKSI KESALAHAN - PENDAPATAN


• Pengembalian yang sifatnya normal dan berulang (recurring) atas
pendapatan-LO pada periode penerimaan maupun pada periode
sebelumnya dibukukan sebagai pengurang pendapatan.
• Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang (non-
recurring) atas pendapatan-LO yang terjadi pada periode
penerimaan pendapatan dibukukan sebagai pengurang
pendapatan pada periode yang sama.
• Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang (non-
recurring) atas pendapatan-LO yang terjadi pada periode
sebelumnya dibukukan sebagai pengurang ekuitas pada periode
ditemukannya koreksi dan pengembalian tersebut.
AKUNTANSI BEBAN

AKUNTANSI BEBAN

• Beban diakui pada saat:


– timbulnya kewajiban;
– terjadinya konsumsi aset;
– terjadinya penurunan manfaat ekonomi atau potensi
jasa.
• Dalam hal badan layanan umum, beban diakui dengan
mengacu pada peraturan perundangan yang mengatur
mengenai badan layanan umum.
• Beban diklasifikasikan menurut klasifikasi ekonomi.
AKUNTANSI BEBAN

• Beban Transfer adalah beban berupa pengeluaran uang


atau kewajiban untuk mengeluarkan uang dari entitas
pelaporan kepada suatu entitas pelaporan lain yang
diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan.

• Koreksi atas beban, termasuk penerimaan kembali


beban, yang terjadi pada periode beban dibukukan
sebagai pengurang beban pada periode yang sama.
Apabila diterima pada periode berikutnya, koreksi atas
beban dibukukan dalam pendapatan lain-lain. Dalam hal
mengakibatkan penambahan beban dilakukan dengan
pembetulan pada akun ekuitas.
SURPLUS DEFISIT KEGIATAN
OPERASIONAL

• Surplus dari kegiatan operasional adalah selisih lebih


antara pendapatan dan beban selama satu periode
pelaporan.
• Defisit dari kegiatan operasional adalah selisih kurang
antara pendapatan dan beban selama satu periode
pelaporan.
• Selisih lebih/kurang antara pendapatan dan beban
selama satu periode pelaporan dicatat dalam pos
Surplus/Defisit dari Kegiatan Operasional.
KOMPONEN LAPORAN
OPERASIONAL
SURPLUS DEFISIT KEGIATAN NON OPERASIONAL
• Pendapatan dan beban yang sifatnya tidak rutin perlu dikelompokkan
tersendiri dalam kegiatan non operasional.
• Selisih lebih/kurang antara surplus/defisit dari kegiatan operasional dan
surplus/defisit dari kegiatan non operasional merupakan surplus/defisit
sebelum pos luar biasa.

POS LUAR BIASA


• Pos Luar Biasa disajikan terpisah dari pos-pos lainnya dalam Laporan
Operasional dan disajikan sesudah Surplus/Defisit sebelum Pos Luar
Biasa.
• Sifat dan jumlah rupiah kejadian luar biasa harus diungkapkan pula dalam
Catatan atas Laporan Keuangan.

SURPLUS / DEFISIT LO
• Surplus/Defisit-LO adalah penjumlahan selisih lebih/kurang antara
surplus/defisit kegiatan operasional, kegiatan non operasional, dan
kejadian luar biasa.
TRANSAKSI MATA UANG ASING

• Transaksi dalam mata uang asing harus dibukukan dalam mata uang
rupiah.
• Jika tersedia dana dalam mata uang asing, maka transaksi dijabarkan
dalam mata uang rupiah dengan kurs tengah bank sentral pada tanggal
transaksi.
• Jika tidak tersedia dana dalam mata uang asing, maka transaksi dalam
mata uang asing tersebut dicatat dalam rupiah berdasarkan kurs transaksi,
yaitu sebesar rupiah yang digunakan untuk memperoleh valuta asing
tersebut.
• Jika mata uang asing tersebut dibeli dengan menggunakan mata uang
asing\, maka:
a) Transaksi mata uang asing ke mata uang asing lainnya dijabarkan
dengan menggunakan kurs transaksi
b) Transaksi dalam mata uang asing lainnya tersebut dicatat dalam
rupiah berdasarkan kurs tengah bank sentral tanggal transaksi.
TRANSAKSI DALAM BENTUK BARANG
DAN JASA

• Transaksi pendapatan-LO dan beban dalam bentuk


barang/jasa harus dilaporkan dalam Laporan
Operasional dengan cara menaksir nilai wajar
barang/jasa tersebut pada tanggal transaksi.
• Transaksi ini harus diungkapkan pada Catatan atas
Laporan Keuangan sehingga dapat memberikan
semua informasi yang relevan mengenai bentuk dari
pendapatan dan beban.
LAPORAN OPERASIONAL

• Keterkaitan laporan keuangan mengingat dual basis penganggaran dan


pelaporan.
• Keterkaitan laporan keuangan, terutama Laporan Operasional, dengan
laporan kinerja
• Laporan Operasional disusun untuk melengkapi pelaporan dan siklus
akuntansi berbasis akrual sehingga :
– Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas dan Neraca
mempunyai keterkaitan yang dapat dipertanggungjawabkan
– Laporan pertanggungjawaban anggaran dapat dibedakan dengan
laporan kinerja keuangan
– Dapat diketahui kinerja operasional pemerintah untuk periode pelaporan
tertentu
– Laporan Operasional mempunyai nilai prediktif karena informasinya
dapat digunakan untuk memprediksi pendapatan LO yang akan diterima
untuk mendanai kegiatan pemerintah dalam periode mendatang
Ilustrasi
Laporan
Operasional
Ilustrasi
Laporan
Operasional
KUNTA
KSAP

PSAP 13
PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN BADAN
LAYANAN UMUM (BLU)

291
KSAP PENDAHULUAN

 Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang


Perbendaharaan Negara, dalam rangka peningkatan pelayanan
kepada masyarakat, satuan kerja dapat ditetapkan menjadi satuan
kerja yang menerapkan pola pengelolaan keuangan Badan Layanan
Umum (BLU).

 Sesuai dengan ketentuan, Satker yang menerapkan pola


pengelolaan keuangan BLU diberikan fleksibilitas pengelolaan
keuangan, antara lain pengelolaan pendapatan dan belanja,
pengelolaan kas, pengelolaan utang-piutang, pengelolaan investasi
dan pengadaan barang/jasa, kesempatan untuk mempekerjakan
tenaga profesional non Pegawai Negeri Sipil (PNS), serta
kesempatan pemberian imbalan jasa kepada pegawai sesuai dengan
kontribusinya.

292
KSAP TUJUAN

Tujuan Pernyataan Standar ini adalah mengatur penyajian


laporan keuangan Badan Layanan Umum dalam rangka
meningkatkan keterbandingan laporan keuangan baik terhadap
anggaran, antar periode, maupun antar BLU.

Untuk mencapai tujuan tersebut, standar ini menetapkan


seluruh pertimbangan dalam rangka penyajian laporan
keuangan, pedoman struktur laporan keuangan dan persyaratan
minimun isi laporan keuangan.

Laporan keuangan disusun dengan menerapkan akuntansi


berbasis akrual.

293
KSAP RUANG LINGKUP

 Secara umum, Standar Akuntansi Badan Layanan Umum


mengacu pada seluruh PSAP, kecuali diatur tersendiri dalam
PSAP ini.

 BLU merupakan instansi di lingkungan pemerintah


pusat/daerah yang mengelola kekayaan negara/daerah yang
tidak dipisahkan. Sebagai instansi pemerintah, BLU
menerapkan pernyataan standar ini dalam menyusun laporan
keuangan.

294
KSAP ENTITAS AKUNTANSI/PELAPORAN

• BLU adalah entitas pelaporan karena


Entitas merupakan satuan kerja pelayanan
yang walaupun bukan berbentuk
Pelaporan badan hukum yang mengelola
kekayaan Negara/Daerah yang
dipisahkan

• Selaku penerima anggaran belanja


pemerintah (APBN/APBD) yang
Entitas menyelenggarakan akuntansi, BLU
Akuntansi adalah entitas akuntansi, yang
laporan keuangannya
dikonsolidasikan pada entitas
akuntansi/entitas pelaporan yang
secara organisatoris
membawahinya.

295
KSAP DEFINISI

• Instansi di lingkungan Pemerintah


Pusat/pemerintah daerah dan yang
Badan dibentuk untuk memberikan pelayanan
Layanan kepada masyarakat berupa penyediaan
barang dan/atau jasa yang dijual tanpa
Umum mengutamakan mencari keuntungan dan
dalam melakukan kegiatannya didasarkan
pada prinsip efisiensi dan produktivitas.

• Bentuk pertanggungjawaban BLU yang


Laporan disajikan dalam bentuk Laporan Realisasi
Anggaran, Laporan Perubahan Saldo
Keuangan Anggaran Lebih, Neraca, Laporan
BLU Operasional, Laporan Arus Kas, Laporan
Perubahan Ekuitas, dan Catatan atas Laporan
Keuangan.

296
KSAP TUJUAN LAPORAN KEUANGAN BLU

Tujuan Umum
• menyajikan informasi mengenai posisi keuangan, realisasi
anggaran, saldo anggaran lebih, arus kas, hasil operasi,
dan perubahan ekuitas BLU yang bermanfaat bagi para
pengguna dalam membuat dan mengevaluasi keputusan
mengenai alokasi sumber daya.
Tujuan Spesifik
• untuk menyajikan informasi yang berguna untuk
pengambilan keputusan dan untuk menunjukkan
akuntabilitas entitas pelaporan atas sumber daya yang
dipercayakan kepadanya.

297
KSAP TANGGUNG JAWAB PELAPORAN BLU

Tanggung jawab penyusunan dan penyajian laporan


keuangan BLU berada pada pimpinan BLU atau pejabat
yang ditunjuk.

298
KSAP KOMPONEN LAPORAN KEUANGAN BLU

1) Laporan Realisasi Anggaran (LRA)


2) Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (LP SAL)
3) Neraca
4) Laporan Operasional (LO)
5) Laporan Arus Kas (LAK)
6) Laporan Perubahan Ekuitas (LPE)
7) Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK)

299
KSAP STRUKTUR DAN ISI

PENDAHULUAN
• Pernyataan Standar ini mensyaratkan adanya pengungkapan
tertentu pada lembar muka (on the face) laporan keuangan,
mensyaratkan pengungkapan pos-pos lainnya dalam lembar muka
laporan keuangan atau dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
PERIODE PELAPORAN
• Laporan keuangan BLU disajikan sekurang-kurangnya sekali dalam
setahun
TEPAT WAKTU
• Kegunaan laporan keuangan berkurang bilamana laporan tidak
tersedia bagi pengguna dalam suatu periode tertentu setelah
tanggal pelaporan. Faktor-faktor yang dihadapi seperti kompleksitas
operasi suatu BLU bukan merupakan alasan yang cukup atas
kegagalan pelaporan yang tepat waktu.

300
KSAP LAPORAN REALISASI ANGGARAN

 Laporan Realisasi Anggaran BLU menyajikan informasi realisasi


pendapatan-LRA, belanja, surplus/defisit-LRA, pembiayaan, dan
sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran yang masing-masing
diperbandingkan dengan anggarannya dalam satu periode.
 Laporan Realisasi Anggaran (LRA) BLU sekurang-kurangnya
mencakup pos-pos sebagai berikut:
 Pendapatan-LRA;
 Belanja;
 Surplus/defisit-LRA;
 Penerimaan pembiayaan;
 Pengeluaran pembiayaan;
 Pembiayaan neto; dan
 Sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran (SiLPA/SiKPA).

301
KSAP LAPORAN REALISASI ANGGARAN
 Pendapatan BLU yang dikelola sendiri dan tidak disetor ke Kas
Negara/Daerah merupakan pendapatan negara/daerah.
 Pendapatan-LRA pada BLU diakui pada saat pendapatan kas yang
diterima BLU diakui sebagai pendapatan oleh unit yang mempunyai
fungsi perbendaharaan umum.
 Akuntansi pendapatan-LRA dilaksanakan berdasarkan azas bruto,
yaitu dengan membukukan penerimaan bruto, dan tidak mencatat
jumlah netonya (setelah dikompensasikan dengan pengeluaran).
 Dalam hal besaran pengurang terhadap pendapatan-LRA bruto
(biaya) bersifat variabel terhadap pendapatan dimaksud dan tidak
dapat dianggarkan terlebih dahulu dikarenakan proses belum
selesai, maka asas bruto dapat dikecualikan.
 Khusus untuk pendapatan dari Kerja Sama Operasi (KSO), diakui
berdasarkan azas neto dengan terlebih dahulu mengeluarkan bagian
pendapatan yang merupakan hak mitra KSO.

302
KSAP LAPORAN REALISASI ANGGARAN
 Penyetoran kas yang berasal dari pendapatan LRA BLU tahun berjalan
dibukukan sebagai pengurang SiLPA pada BLU penambah SiLPA pada
Pemerintah Pusat/Daerah.
 Penyetoran kas yang berasal dari pendapatan LRA BLU tahun
sebelumnya dibukukan sebagai pengurang Saldo Anggaran Lebih pada
BLU dan penambah SAL pada Pemerintah Pusat/pemerintah daerah.
 Pendapatan-LRA pada BLU diklasifikasikan menurut jenis pendapatan.
 Pendapatan-LRA pada BLU merupakan pendapatan bukan pajak.
 Termasuk pendapatan bukan pajak pada BLU adalah
 Pendapatan layanan yang bersumber dari masyarakat;
 Pendapatan layanan yang bersumber dari entitas akuntansi/entitas
pelaporan;
 Pendapatan hasil kerja sama;
 Pendapatan yang berasal dari hibah dalam bentuk kas; dan
 Pendapatan BLU lainnya

303
KSAP LAPORAN REALISASI ANGGARAN
 Belanja pada BLU diakui pada saat pengeluaran kas yang dilakukan oleh
BLU disahkan oleh unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan umum.
 Selisih antara pendapatan-LRA dan belanja pada BLU selama satu periode
pelaporan dicatat dalam pos Surplus/Defisit-LRA.
 Penerimaan pembiayaan pada BLU diakui pada saat kas yang diterima BLU
disahkan oleh unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan umum.
 Pengeluaran pembiayaan pada BLU diakui pada saat pengeluaran
pembiayaan disahkan oleh unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan
umum.
 Penambahan pokok investasi yang berasal dari pendapatan BLU diakui
sebagai pengeluaran pembiayaan.
 Selisih lebih/kurang antara penerimaan dan pengeluaran pembiayaan
selama satu periode pelaporan dicatat dalam Pembiayaan Neto.
 Selisih lebih/kurang antara realisasi pendapatan-LRA dan Belanja, serta
penerimaan dan pengeluaran pembiayaan selama satu periode pelaporan
dicatat dalam pos SiLPA/SiKPA.
 Apabila BLU menerima alokasi anggaran selain dari entitas
akuntansi/entitas pelaporan yang membawahinya, maka BLU menyusun LRA
sesuai dengan entitas akuntansi/entitas pelaporan yang mengalokasikan
anggaran tersebut.

304
LAPORAN PERUBAHAN
KSAP SALDO ANGGARAN LEBIH

 Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih menyajikan informasi


kenaikan atau penurunan Saldo Anggaran Lebih tahun pelaporan
dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
 Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih BLU menyajikan secara
komparatif dengan periode sebelumnya pos-pos berikut:
 Saldo Anggaran Lebih awal;
 Penggunaan Saldo Anggaran Lebih;
 Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran tahun berjalan;
 Koreksi Kesalahan Pembukuan tahun Sebelumnya;
 Lain-lain; dan
 Saldo Anggaran Lebih Akhir.
 Di samping itu, BLU menyajikan rincian lebih lanjut dari unsur-unsur
yang terdapat dalam Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih dalam
Catatan atas Laporan Keuangan.

305
KSAP NERACA
 Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai
aset, kewajiban, dan ekuitas pada tanggal tertentu.
 Neraca BLU menyajikan secara komparatif dengan periode sebelumnya pos-
pos berikut:
 Kas dan setara kas;
 Investasi jangka pendek;
 piutang dari kegiatan BLU;
 persediaan;
 Investasi jangka panjang;
 aset tetap;
 aset lainnya;
 kewajiban jangka pendek;
 kewajiban jangka panjang; dan
 ekuitas.
 Kas pada BLU yang sudah dipertanggungjawabkan kepada unit yang
mempunyai fungsi perbendaharaan umum merupakan bagian dari Saldo
Anggaran Lebih.
 Dana kas BLU yang bukan milik BLU diakui sebagai kas dan setara kas.
 Kas yang berasal dari sisa dana investasi APBN/APBD diakui sebagai aset
lainnya.
 Penyetoran kas yang berasal dari pendapatan BLU pada tahun berjalan 306
maupun tahun sebelumnya dibukukan sebagai pengurang ekuitas pada BLU
KSAP NERACA

 Sesuai dengan peraturan perundangan-undangan, BLU tidak dapat


melakukan investasi jangka panjang kecuali atas persetujuan
Menteri Keuangan atau Gubernur/Bupati/Walikota. Investasi
jangka panjang dimaksud terdiri dari investasi permanen dan
investasi nonpermanen.
 Walaupun kepemilikan investasi pada BLU ada pada BUN/BUD,
tetapi investasi tersebut tetap dilaporkan pada laporan keuangan
BLU. Perlakuan pelaporan investasi ini selaras dengan status BLU
sebagai entitas pelaporan, dimana seluruh sumber daya ekonomi
yang digunakan BLU dalam melaksanakan tugas pokok dan
fungsinya dalam melayani masyarakat harus dilaporkan dalam
laporan keuangan BLU.

307
KSAP LAPORAN OPERASIONAL
 Laporan Operasional menyajikan ikhtisar sumber daya ekonomi yang menambah
ekuitas dan penggunaannya yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah untuk
kegiatan penyelenggaraan pemerintahan dalam satu periode pelaporan.
 Struktur Laporan Operasional BLU mencakup pos-pos sebagai berikut:
• Pendapatan-LO;
• Beban;
• Surplus/Defisit dari operasi;
• Kegiatan non operasional;
• Surplus/Defisit sebelum Pos Luar Biasa;
• Pos Luar Biasa; dan
• Surplus/Defisit-LO.
 BLU menyajikan pendapatan-LO yang diklasifikasikan menurut sumber pendapatan,
yang terdiri dari:
• Pendapatan dari alokasi APBN/APBD;
• Pendapatan layanan yang bersumber dari masyarakat;
• Pendapatan layanan yang bersumber dari entitas akuntansi/entitas pelaporan;
• Pendapatan hasil kerja sama;
• Pendapatan yang berasal dari hibah dalam bentuk kas/barang/jasa; dan
• Pendapatan BLU lainnya.
• Rincian lebih lanjut sumber pendapatan disajikan pada Catatan atas Laporan
Keuangan.
308
KSAP LAPORAN OPERASIONAL

 Pendapatan-LO pada BLU diakui pada saat:


• Timbulnya hak atas pendapatan;
• Pendapatan direalisasi, yaitu adanya aliran masuk sumber daya ekonomi.
 Pendapatan-LO pada BLU merupakan pendapatan bukan pajak.
 Akuntansi pendapatan-LO dilaksanakan berdasarkan azas bruto, yaitu dengan
membukukan penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah netonya (setelah
dikompensasikan dengan pengeluaran).
 Dalam hal besaran pengurang terhadap pendapatan-LO bruto (biaya) bersifat
variabel terhadap pendapatan dimaksud dan tidak dapat dianggarkan terlebih
dahulu dikarenakan proses belum selesai, maka asas bruto dapat dikecualikan.
 Khusus untuk pendapatan dari Kerja Sama Operasi (KSO), diakui berdasarkan
azas neto dengan terlebih dahulu mengeluarkan bagian pendapatan yang
merupakan hak mitra KSO.
 Beban pada BLU diakui pada saat:
• timbulnya kewajiban;
• terjadinya konsumsi aset;
• terjadinya penurunan manfaat ekonomi atau potensi
 Beban pada BLU diklasifikasikan menurut klasifikasi ekonomi.
309
KSAP LAPORAN ARUS KAS

Laporan Arus Kas pada BLU menyajikan informasi mengenai sumber,


penggunaan, perubahan kas dan setarakas selama satu periode akuntansi,
dan saldo kas dan setara kas pada tanggal pelaporan pada BLU.

Arus masuk dan keluar kas diklasifikasikan berdasarkan aktivitas


operasi, investasi, pendanaan, dan transitoris.

Aktivitas investasi adalah aktivitas penerimaan dan pengeluaran kas


yang ditujukan untuk perolehan dan pelepasan aset tetap serta
investasi lainnya, tidak termasuk investasi jangka pendek dan setara
kas.
Aktivitas Pendanaan adalah aktivitas penerimaan dan pengeluaran kas
yang yang berhubungan dengan pemberian pinjaman jangka panjang
dan/atau pelunasan utang jangka panjang yang mengakibatkan
perubahan dalam jumlah dan komposisi pinjaman jangka panjang dan
utang jangka panjang.

Aktivitas transitoris adalah aktivitas penerimaan dan pengeluaran kas yang


tidak termasuk dalam aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan.

310
KSAP LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS

 Laporan Perubahan Ekuitas menyajikan informasi kenaikan atau


penurunan ekuitas tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun
sebelumnya.
 Laporan Perubahan Ekuitas pada BLU menyajikan sekurang-
kurangnya pos-pos:
 Ekuitas awal
 Surplus/defisit-LO pada periode bersangkutan;
 Koreksi-koreksi yang langsung menambah/mengurangi ekuitas,
yang antara lain berasal dari dampak kumulatif yang disebabkan
oleh perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi kesalahan
mendasar, misalnya:
 koreksi kesalahan mendasar dari persediaan yang terjadi pada
periode-periode sebelumnya;
 perubahan nilai aset tetap karena revaluasi aset tetap.
 Ekuitas akhir.

311
PENGGABUNGAN LAP KEU BLU KE DALAM
KSAP LAP KEU ENTITAS AKUNTANSI/ENTITAS PELAPORAN

 Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Operasional, dan


Laporan Perubahan Ekuitas BLU digabungkan pada laporan
keuangan entitas akuntansi/entitas pelaporan yang membawahinya.
 Seluruh pendapatan, belanja, dan pembiayaan pada LRA BLU
dikonsolidasikan ke dalam LRA entitas akuntansi/entitas pelaporan
yang membawahinya.
 Laporan Arus Kas BLU dikonsolidasikan pada Laporan Arus Kas unit
yang mempunyai fungsi perbendaharaan umum.
 Laporan Perubahan SAL BLU digabungkan dalam Laporan Perubahan
SAL Bendahara Umum Negara/Daerah dan entitas pelaporan yang
menyusun laporan keuangan konsolidasiannya.
 Dalam rangka konsolidasian laporan keuangan BLU ke dalam laporan
keuangan entitas yang membawahinya, perlu dilakukan eliminasi
terhadap akun-akun timbal balik (reciprocal accounts) seperti
pendapatan, beban, aset, dan kewajiban yang berasal dari entitas
akuntansi/pelaporan dalam satu entitas pemerintahan kecuali akun-
akun pendapatan dan belanja pada LRA yang berasal dari entitas
akuntansi/pelaporan sebagaimana dinyatakan pada Paragraf 28
huruf b.
312
PENGHENTIAN SATKER BADAN LAYANAN UMUM MENJADI
KSAP SATKER BIASA

 Dalam hal Satuan Kerja tidak lagi menerapkan pola


pengelolaan keuangan BLU, maka Satuan Kerja tersebut
menyusun laporan keuangan selayaknya entitas akuntansi
pemerintah lainnya, dan Satuan Kerja tersebut harus
menyusun laporan keuangan penutup per tanggal pencabutan
statusnya sebagai BLU.

313
KSAP TANGGAL EFEKTIF

 Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP) ini


berlaku efektif untuk laporan keuangan atas
pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran Tahun Anggaran
2016.

314
KSAP

TERIMA KASIH
ATAS PERHATIAN BAPAK IBU SEKALIAN

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan (KSAP)


Gedung Prijadi Praptosuhardjo III, Lt. 2, Kementerian Keuangan
Jl. Budi Utomo No. 6, Jakarta
Telepon/Fax (021) 352 4551
website : www.ksap.org
Email: webmaster@ksap.org

315
TERIMA KASIH

Dwi Martani - 081318227080


martani@ui.ac.id atau dwimartani@yahoo.com
http://staff.blog.ui.ac.id/martani/ 316