You are on page 1of 15

TARHIB (MENYAMBUT) RAMADHAN:Menjadikan Ramadhan sebagai Bulan Ibadah dan

Madrasah
Prolog
Dalam sejarah, Nabi Muhammad Saw. berpuasa Ramadhan hanya 9 (sembilan) kali
selama hidupnya. Sudah berapa kalikah kita berpuasa Ramadhan?
Nabi memulai berpuasa Ramadhan pada usia kurang lebih 53 atau 54 tahun, usia
produktif dan matang. Sudah bermaknakah puasa yang selama ini kita lakukan?
Setiap Ramadhan, Nabi Muhammad Saw. “tadarus bersama” Jibril dan mengkhatamkan
wahyu al-Qur’an yang sudah diterimanya. Bagaimana menjadikan al-Qur’an itu sebagai
menu wajib yang harus kita “santap” selama Ramadhan?
Bagaimana kita menyambut dan mempersiapkan diri untuk beribadah Ramadhan?
Arti Shiyam (Shaum)
Puasa (shiyam, shaum) dari segi bahasa artinya menahan dan mengendalikan diri (al-
imsak wa al-kaffu ‘an al-syai’).
Pengertian ini dapat ditemukan dalam ayat: ‫وووورة‬
‫ووولووم أكللموولايوم إنسيا )وووس‬
‫تووو لوورحمنوووصووووما ف‬
‫إني وو نذوور‬
(26: ‫( مريم‬Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha Pemurah,
maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.” (QS.
Maryam/19: 26)
Kata “shaum atau shiyam” dan beberapa turunannya disebutkan dalam al-Qur’an
sebanyak 13 kali, dan digunakan dalam konteks kewajiban berpuasa (QS. Albaqarah:
183), pembolehan hubungan suami-istri di malam hari bulan puasa (QS. Albaqarah:
187), puasa sebagai denda (QS Albaqarah: 196, al-Maidah: 89), dan sifat-sifat orang-
orang mukmin dan mukminat (QS al-Ahzab: 35)
Pengertian Shiyam
Shiyam adalah menahan diri untuk tidak makan, minum, berhubungan suami-istri, dan
yang membatalkan atau merusak nilai puasa sejak terbit fajar (sebelum azan subuh)
hingga terbenam matahari (azan maghrib) dengan niat karena Allah.
Definisi tersebut mengisyaratkan bahwa yang harus dikendalikan dalam berpuasa adalah
syahwat perut dan “di bawah perut” (farj), dan segala sesuatu yang dimasukkan dalam
tubuh, termasuk infus dan obat-obatan (Wahbah az-Zuhali, al-Fiqh al-Islami wa
Adillatuhu, II: 566).
Hakikat Shiyam
Hakikat puasa (shiyam) adalah menahan dan memenej diri. Tujuannya adalah meraih
derajat kehidupan yang penuh takwa (QS Albaqarah [2]: 183), sehingga shaimin (orang-
orang yang berpuasa) itu tidak lagi terjajah oleh hawa nafsunya atau menjadi manusia
yang berwatak binatang.
Oleh karena itu, ibadah puasa bukan sekedar menahan diri untuk tidak makan, minum,
dan berhubungan suami-istri di siang hari Ramadhan, melainkan juga mampu memenej
totalitas diri secara lahir dan batin.
Umat terdahulu dan agama selain Islam juga pernah diwajibkan puasa dengan tata cara
masing-masing. Penegasan Alquran bahwa puasa juga diwajibkan kepada umat
terdahulu (QS. Al-Baqarah [2]: 183) menunjukkan bahwa ibadah ini sangat mulia dan
bermakna bagi kehidupan manusia. Puasa itu merupakan ibadah universal, berlaku bagi
semua.
Taqwa Sebagai Tujuan dan Indikatornya
Esensi taqwa yang menjadi target ibadah puasa adalah kehati-hatian, menjaga atau
mawas diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat dan dosa. Ramadlan
merupakan momentum yang tepat untuk pembentukan karakter takwa.
Menurut para ulama, indikator karakter taqwa itu setidak-tidaknya ada sepuluh, yaitu:
Menjaga perut agar hanya mengonsumsi yang halal, baik, dan bergizi. Puasa melatih
untuk menahan diri dari rasa lapar dan berhenti makan sebelum kenyang.
Memelihara lisan agar tidak berdusta, menggunjing (gosip), bertutur kata tidak sopan
dan sia-sia. “Di antara tanda baiknya keberislaman seseorang adalah bahwa ia mampu
meninggalkan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat.” (HR Muslim)
Lanjutan…
3. Menjaga mata agar tidak digunakan untuk melihat dunia dengan pandangan rakus,
foya-foya, dan hedonistik. Dunia dan isinya hanya dilihat sebagai ayat dan karunia Allah
yang harus dijadikan sebagai pelajaran dan disyukuri.
Menjaga tangan agar tidak melakukan yang haram, tetapi senantiasa mendekatkan diri
kepada-Nya.
Menjaga kedua kaki untuk tidak melangkah menuju kemaksiatan, tetapi senantiasa
memacu langkah menuju cinta-Nya.
6. Menjaga dan menutrisi hati dengan tazkiyatun nafsi (penyucian diri): pengosongan
hati dari sifat tercela menuju penghiasan dan aktualisasi diri dengan sifat-sifat terpuji.
Puasa merupakan bulan taubat, muhasabah (introspeksi diri), dan optimalisasi
kecerdasan spiritual.
Lanjutan…
7. Menjaga pikiran untuk senantiasa berpikir jernih dan positif, mengembangkan daya
nalar dengan senantiasa merenungi ayat-ayat Allah dalam Alquran maupun alam raya.
8. Memaksimalkan ketaatan. Ramadhan mendidik umat Islam, tertutama pada sepuluh
hari terakhir untuk “mengencangkan ikat pinggang” dengan banyak beristighfar, zikir,
tadarus Alquran, i’tikaf, dan penyucian harta dengan berzakat dan bersedekah.
9. Menjaga pola hidup sehat dan bersih. Ramadlan mendidik kita untuk disiplin waktu:
bangun tidur lebih awal, shalat subuh berjamaah, tepat waktu dalam makan-minum,
dan sebagainya. “Berpuasalah, niscaya kalian menjadi sehat.” (HR At-Tabarani).
10. Meningkatkan ukhuwah dan solidaritas sosial. Puasa menempa diri untuk
“menyapa”, mengakrabi dan berbagi kepada saudara-saudara kita melalui masjid, paling
tidak ketika shalat tarawih berjamaah. Puasa untuk melatih kita untuk peduli terhadap
sesama melalui zakat, infaq, sedekah. “Rasulullah adalah orang yang paling derwaman di
dalam bulan Ramadlan.” (HR. Muslim)
Puasa sebagai Kebutuhan
Berbagai penelitian ilmiah dan terperinci terhadap organ tubuh manusia dan aktivitas
fisiologisnya menemukan bahwa puasa sangat dibutuhkan oleh tubuh, sama seperti
halnya makan, bergerak, istirahat, dan tidur.
Jika manusia tidak bisa tidur, dan tidak makan selama rentang waktu yang lama, maka ia
akan sakit, karena tubuhnya tidak beristirahat secara cukup. Maka, tubuh manusia pun
akan mengalami hal yang tidak menguntungkan jika ia tidak berpuasa.
Apabila puasa dipandang sebagai kebutuhan, dan bukan sekedar kewajiban, maka energi
positif dari dalam diri kita akan memotivasi dan membuat kita berpuasa dengan senang
dan ringan, tidak berat dan banyak mengeluh. Puasa menjadi amalan yang biasa, alami,
tapi sarat nilai.
Manfaat & Keajaiban Puasa
Menurut Dr. Ahmad Taj dalam tulisannya, al-Shiyam Mu'jizat Ilmiyyah, puasa tidak hanya
dapat mengerem gejolak hawa nafsu yang membara, tapi juga dapat mengoptimalkan
tingkat tanggung jawab seseorang dalam mengemban tugas.
Puasa juga tidak menimbulkan depresi psikologis karena rentang waktu berpuasa yang
berkisar antara 12-16 jam itu justeru dapat meningkatkan denyut jantung sampai 12%,
sehingga kondisi fisik dan psikis menjadi lebih bugar dan dinamis.
Puasa itu mencerdaskan emosi dan spiritual. Di antara aspek kecerdasan emosi yang
dilatihkan Allah melalui puasa adalah kejujuran dan kesabaran. Sabda Nabi SAW: "Puasa
adalah separoh dari kesabaran." (HR Abu Dawud).
Lanjutan…
Puasa bisa membantu badan dalam membuang sel-sel yang sudah rusak, sekaligus
hormon ataupun zat-zat yang melebihi jumlah yang dibutuhkan tubuh.
Puasa, sebagaimana dituntunkan oleh Islam, adalah rata-rata 12-16 jam, kemudian baru
makan untuk durasi waktu beberapa jam, merupakan metode yang sangat baik untuk
membangun kembali sel-sel baru.
Menurut dr. Walford, manusia pada umumnya mengonsumsi makanan melebihi yang
dibutuhkan oleh tubuhnya, sehingga memberatkan organ pencernaan dan jantung untuk
mengolahnya. Berpuasa secara benar dapat mengurangi risiko penyakit yang berkaitan
dengan pencernaan dan lambung.