You are on page 1of 21

‫علَ ْي ُك ْم َو َر ْح َمةُ ه‬

ُ‫للا َوبَ َر َكاتُه‬ َ ‫سالَ ُم‬
َّ ‫ال‬

HAWALAH dan JI'ALAH

Audityo Tri Cahyawibowo
022141104
Universitas Trisakti
2

HAWALAH
3

“ PEMBAHASAN

● DEFINISI HAWALAH

Secara bahasa pengalihan hutang dalam hukum islam
disebut sebagai hiwalah yang mempunyai arti lain
yaitu Al-intiqal dan Al-tahwil, artinya adalah
memindahkan dan mengalihkan.
Penjelasan yang dimaksud adalah memindahkan
hutang dari tanggungan muhil (orang yang
berhutang) menjadi tanggungan muhal'alaih (orang
yang melakukan pembayaran hutang).
DASAR HUKUM HAWALAH

Hadits Ijma’

Imam Bukhari dan Muslim Para ulama sepakat membolehkan hawalah.
meriwayatkan dari Abu Hurairoh, bahwa Hawalah dibolehkan pada hutang yang tidak
Rasulullah saw, bersabda: berbentuk barang/ benda, karena hawalah adalah
perpindahan utang, oleh sebab itu harus pada
‫مطل ا لغني ظلم فادا أ تبع أ حدكم على ملي فليتبع‬
utang atau kewajiban finansial.
“Memperlambat pembayaran hukum
yang dilakukan oleh orang kaya merupakan
perbuatan zalim. Jika salah seorang kamu
dialihkan kepada orang yang mudah membayar
hutang, maka hendaklah ia beralih(diterima
pengalihan tersebut)”.(HR Jama’ah)
5

RUKUN HAWALAH
3.Pihak ketiga
1.Pihak
2.Pihak kedua, muhal ‘alaih
pertama,
muhal atau (‫)المحال عليه‬:
muhil )‫)المحيل‬:
muhtal
(‫)المحال او المحتال‬: Yakni orang
Yakni orang
yang
yang
Yakni orang berhutang
berhutang dan
berpiutang kepada muhil
sekaligus
kepada muhil. dan wajib
berpiutang,
membayar
hutang kepada
muhtal.
6

4.Ada
hutang pihak
5. Ada hutang
pertama pada
pihak ketiga
pihak kedua,
kepada pihak
muhal bih 6.Ada sighoh
pertama
(‫)المحال به‬: (pernyataan
Utang muhal
‘alaih kepada hiwalah)
Yakni hutang
muhil.
muhil kepada
muhtal.
7

SYARAT HAWALAH
syarat yang diperlukan oleh pihak
Syarat yang diperlukan oleh pihak ketiga (al-muhal ‘alaih):
pertama (al-muhil) :
1. Cakap melakukan tindakan hukum,
1. Cakap melakukan tindakan hukum dalam bentuk
yaitu baligh dan berakal sebagaimana pihak
akad, yaitu baligh dan berakal.
pertama dan kedua.
2. Ada pernyataan persetujuan atau rida. 2. Adanya pernyataan persetujuan dari
pihak ketiga (al-muhal ‘alaih).

syarat yang diperlukan terhadap
syarat yang diperlukan oleh pihak kedua (al-
utang yang dialihkan (al-muhal bih):
muhal):
1. Cakap melakukan tindakan hukum, yaitu baligh 1. Yang dialihkan itu adalah sesuatu yang
dan berakal sebagaimana pihak pertama. sudah dalam bentuk utang piutang yang telah
2. Ada persetujuan pihak kedua terhadap pihak pasti.
pertama yang melakukan khiwalah. 2. Pembayaran utang itu mesti sama
waktu jatuh tempo pembayarannya.
JENIS HAWALAH
a. Hawalah Haq

Hawalah ini adalah pemindahan piutang
dari satu piutang kepada piutang yang lain
dalam bentuk uang bukan dalam bentuk
barang.
b. Hawalah Dayn

Hawalah ini adalah pemindahan hutang
kepada orang lain yang mempunyai
hutang kepadanya.
c. Hawalah Muthlaqoh

terjadi jika orang yang berhutang (orang
pertama) kepada orang lain ( orang kedua)
mengalihkan hak penagihannya kepada pihak
ketiga tanpa didasari pihak ketiga ini
berhutang kepada orang pertama.
b. Hawalah Muqoyyadah

terjadi jika Muhil mengalihkan hak
penagihan Muhal kepada Muhal Alaih
karena yang terakhir punya hutang
kepada Muhal
BERAKHIRNYA HAWALAH
Akad hawalah akan erakhir oleh hal-hal berikut ini:

1. Karena dibatalkan atau fasakh.

2. Hilangnya hak Muhal Alaih karena meninggal dunia atau bangkrut
atau ia mengingkari adanya akad hawalah sementara Muhal tidak
dapat menghadirkan bukti atau saksi.

3. Jika Muhal alaih telah melaksanakan kewajibannya kepada Muhal.

4. Meninggalnya Muhal sementara Muhal alaih mewarisi harta
hawalah karena pewarisan merupakah salah satu sebab kepemilikan.

5. Jika Muhal menghibahkan atau menyedekahkan harta hawalah
kepada Muhal Alaih dan ia menerima hibah tersebut.

6. Jika Muhal menghapusbukukan kewajiban membayar hutang
kepada Muhal Alaih.
JI'ALAH
Pengertian Ji’alah
14

Kata ji’alah secara bahasa artinya mengupah. Secara syara’ sebagaimana
dikemukakan oleh Sayyid Sabiq : “Sebuah akad untuk mendapatkan
materi (upah) yang diduga kuat dapat diperoleh.”
Istilah ji’alah dalam kehidupan sehari-hari diartikan oleh fuqaha yaitu
memberi upah kepada orang lain yang dapat menemukan barangnya
yang hilang atau mengobati orang yang sakit atau menggali sumur
sampai memancarkan air atau seseorang menang dalam sebuah
kompetisi. Jadi, ji’alah bukan terbatas pada barang yang hilang namun
dapat setiap pekerjaan yang dapat menguntungkan seseorang.
15

jumhur fuqaha sepakat bahwa hukum ji’alah
adalah mubah. Hal ini didasari karena ji’alah

Landasan
diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
Jialah merupakan akad yang sangat
manusiawi, karena seseorang dalam

Hukumnya
hidupnya tidak mampu untuk memenuhi
semua pekerjaan dan keinginannya kecuali
jika ia memberikan upah kepada orang lain
untuk membantunya.
Dalam Al-Qur’an Dengan tegas
Allah membolehkan memberikan
upah kepada orang lain yang telah
berjasa menemukan barang yang
hilang. Hal itu di tegaskan dalam al-
Qur’an surat Yusuf ayat 72:
Artinya: “Penyeru-penyeru itu
berkata: "Kami kehilangan piala
Raja, dan siapa yang dapat
mengembalikannya akan
memperoleh bahan makanan
(seberat) beban unta, dan aku
menjamin terhadapnya".
Rukun dan Syarat Ji’alah
1. Lafal (akad).

Lafal itu mengandung arti izin kepada yang akan bekerja dan tidak
ditentukan waktunya.

Ada 2 orang yang berakad dalam jialah yaitu :

Ø Ja'il yaitu orang yang mengadakan sayembara
Ø 'Amil adalah orang yang melakukan sayembara.
2. Orang yang menjanjikan memberikan upah.

3. Pekerjaan (sesuatu yang disyaratkan oleh orang yang
memiliki harta dalam sayembara tersebut).

4. Upah harus jelas, telah ditentukan dan diketahui oleh
seseorang sebelum melaksanakan pekerjaan (menemukan
barang).
PEMBATALAN JI’ALAH
Pembatalan ji’alah dapat dilakukan oleh
kedua belah pihak (orang yang kehilangan
barang dengan orang yang dijanjikan
ji’alah atau orang yang mencari barang)
sebelum bekerja.
Jika pembatalan datang dari orang yang
bekerja mencari barang, maka ia tidak
mendapatkan upah sekalipun ia telah
bekerja.
Tetapi, jika yang membatalkannya itu
pihak yang menjanjikan upah maka yang
bekerja menuntut upah sebanyak
pekerjaan yang telah dilakukan.
Hikmah Ji’alah
Ji’alah merupakan pemberian penghargaan kepada orang lain berupa materi
karena orang itu telah bekerja dan membantu mengembalikan sesuatu yang
berharga. Baik itu berupa materi (barang yang hilang) atau mengembalikan
kesehatan atau membantu seseorang menghafal al-Qur’an. Hikmah yang dapat
dipetik adalah dengan ji’alah dapat memperkuat persaudaraan dan persahabatan,
menanamkan sikap saling menghargai dan akhirnya tercipta sebuah komunitas
yang saling tolong-menolong dan bahu-membahu. Dengan ji’alah, akan terbangun
suatu semangat dalam melakukan sesuatu bagi para pekerja.

Terkait dengan ji’alah sebagai sesuatu pekerjaan yang baik, Islam mengajarkan
bahwa Allah selalu menjanjikan balasan berupa syurga bagi mereka yang mau
melaksanakan perintahnya, seseorang akan memperoleh pahala dari pekerjaan
yang baik yang ia kerjakan. Allah berfirman dalam surat al-Zalzalah ayat 7 Artinya:
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan
melihat (balasan)nya.”
Terimakasih