You are on page 1of 23

TROPICAL DISEASE

1. GASTROENTERITIS

2. POLIOMIELITIS

3. DIFTERI
1. GASTROENTERITIS

a. Pengertian
Gastroenteritis adalah
kondisi medis yang ditandai
dengan peradangan ("-itis")
pada saluran
pencernaan yang melibatkan
lambung ("gastro"-) dan usus
kecil ("entero"-), sehingga
mengakibatkan Kombinasi
diare, muntah, dan sakit serta
kejang perut
b. Epidemiologi
Di Indonesia merupakan penyakit utama
kedua yang paling sering menyerang anak – anak.
Rotavirus adalah penyebab dari 35-50 % hospitalisasi
karena gastroenteritis akut, antara 7- 17 % disebabkan
adenovirus dan 15% disebabkan bakteri. Bayi yang
mendapatkan ASI lebih jarang menderita
gastroenteritis akut dari bayi yang mendapat susu
formula. (Wong, 2007 dalam Winarsih, 2011). Data
Departemen Kesehatan RI, menyebutkan bahwa
angka kesakitan diare di Indonesia saat ini adalah 230-
330 per 1000 penduduk untuk semua golongan umur
dan 1,6 – 2,2 episode diare setiap tahunnya untuk
golongan umur balita. Angka kematian diare
golongan umur balita adalah sekitar 4 per 1000 balita
(Ratnawati, 2008).
Penyakit Diare Akut (DA) atau
Gastroenteritis Akut (GEA) masih merupakan
penyebab utama kesakitan dan kematian anak di
Indonesia dengan mortalitas 70-80% terutama pada
anak dibawah umur lima tahun (Balita) dengan
puncak umur antara 6-24 bulan (Subianto, 2001 dalam
Wicaksono, 2011). Di seluruh dunia diperkirakan
diare menyebabkan 1 milyar episode dengan angka
kematian sekitar 3-5 miliyar setahunnya. Pada tahun
1995 Depkes RI memperkirakan terjadi episode diare
sekitar 1,3 miliyar dan kematian pada anak balita 3,2
juta setiap tahunnya (Soebagyo, 2008 dalam
Wicaksono, 2011). Data statistik menunjukkan bahwa
setiap tahunnya diare menyerang 50 juta jiwa
penduduk Indonesia, dan dua pertiganya adalah dari
balita dengan angka kematian tidak kurang dari
600.000 jiwa. Di beberapa rumah sakit di Indonesia,
data menunjukkan bahwa diare akut karena infeksi
menempati peringkat pertama.
b. Tanda dan gejala
* Diare
* Muntah
* Kejang perut
* Nyeri perut
c. Penyebab
* Virus
* Bakteri
* Parasit
* Penularan
* Non-infeksi
d. Terapi/Tindakan Penanganan

Panduan pengobatan menurut WHO diare


akut dapat dilaksanakan secara sederhana yaitu
dengan terapi cairan dan elektrolit per-oral dan
melanjutkan pemberian makanan, sedangkan
terapi non spesifik dengan anti diare tidak
direkomendasikan dan terapi antibiotika hanya
diberikan bila ada indikasi. Pemberian cairan dan
elektrolit secara parenteral hanya untuk kasus
dehidrasi berat (Soebagyo, 2008 dalam Wicaksono,
2011).
Dalam garis besar pengobatan diare dapat
dikategorikan ke dalam beberapa jenis yaitu :
a. Pengobatan Cairan Untuk menentukan jumlah cairan yang perlu
diberikan kepada penderita diare, harus diperhatikan hal-hal sebagai
berikut :
Jumlah cairan : Jumlah cairan yang harus diberikan sama
dengan
1) Jumlah cairan yang telah hilang melalui diare dan/muntah
muntah PWL (Previous Water Losses) ditambah dengan
banyaknya cairan yang hilang melalui keringat, urin dan
pernafasan NWL (Normal Water Losses).

2) Cairan yang hilang melalui tinja dan muntah yang masih terus
berlangsung CWL (Concomitant water losses) (Suharyono dkk.,
1994 dalam Wicaksono, 2011)
Ada 2 jenis cairan yaitu:
1. Cairan Rehidrasi Oral (CRO)
a) Cairan rehidrasi oral yang mengandung NaCl,
KCL, NaHCO3 dan glukosa, yang dikenal dengan
nama (oralit)
b) Cairan rehidrasi oral yang tidak mengandung
komponen- komponen di atas,
misalnya: larutan gula, air tajin
2. Cairan Rehidrasi Parenteral (CRP) Cairan Ringer
Laktat sebagai cairan rehidrasi parenteral tunggal.
Selama pemberian cairan parenteral ini, setiap jam
perlu dilakukan evaluasi:
a) Jumlah cairan yang keluar bersama tinja dan
muntah
b) Perubahan tanda-tanda dehidrasi (Suharyono,
dkk., 1994 dalam Wicaksana, 2011).
b. Antibiotik
Pemberian antibotik secara empiris jarang
diindikasikan pada diare akut infeksi, karena 40% kasus
diare infeksi sembuh kurang dari 3 hari tanpa pemberian
antibiotik.
Pemberian antibiotik di indikasikan pada :
Pasien dengan gejala dan tanda diare infeksi seperti
demam, feses berdarah, leukosit pada feses, mengurangi
ekskresi dan kontaminasi lingkungan, persisten atau
penyelamatan jiwa pada diare infeksi, dan pasien
immunocompromised.
Contoh antibiotic untuk diare:
Ciprofloksasin 500mg oral (2x sehari, 3 – 5 hari),
Tetrasiklin 500 mg (oral 4x sehari, 3 hari),
Doksisiklin 300mg (Oral, dosis tunggal),
Ciprofloksacin 500mg,
Metronidazole 250-500 mg (4xsehari, 7-14 hari, 7-14
hari oral atauIV).
2. POLIOMIELITIS

a. Pengertian
Poliomielitis atau polio,
adalah penyakit paralisis
atau lumpuh yang
disebabkan oleh virus.
Agen pembawa
penyakit ini, sebuah
virus yang
dinamakan poliovirus (PV),
masuk ke tubuh
melalui mulut, mengifeksi
saluran usus.
b. Epidemiologi
Pada awal Maret tahun 2005, Indonesia
muncul kasus polio pertama selama satu dasa
warsa. Artinya, reputasi sebagai negeri bebas
polio yang disandang selama 10 tahun pun hilang
ketika seorang anak berusia 20 bulan di Jawa
Barat terjangkit penyakit ini. Menurut analisa,
virus tersebut dibawa dari sebelah utara Nigeria.
Sejak itu polio menyebar ke beberapa daerah di
Indonesia dan menyerang anak-anak yang tidak
diimunisasi. Polio bisa mengakibatkan
kelumpuhan dan kematian. Virusnya cenderung
menyebar dan menular dengan cepat apalagi di
tempat-tempat yang kebersihannya buruk.
b. Gambaran klinis
Poliomielitis terbagi menjadi empat bagian yaitu :
1. Poliomielitis asimtomatis.
2. Poliomielitis abortif
3. Poliomielitis non paralitik
4. Poliomielitis paralitik

Adapun bentuk-bentuk gejalanya antara lain :


Bentuk spinal
Bentuk bulbar
Bentuk bulbospinal
Bentuk ensepalitik
Bentuk cereberal
d. Pengobatan

Polio tidak dapat disembuhkan dan obat anti-


virus tidak mempengaruhi perjalanan penyakit ini. Jika
otot-otot pernapasan menjadi lemah, bisa digunakan
ventilator.

Tujuan utama pengobatan adalah mengontrol


gejala sewaktu infeksi berlangsung. Perlengkapan medis
vital untuk menyelamatkan nyawa, terutama membantu
pernafasan mungkin diperlukan pada kasus yang parah.
Jika terjadi infeksi saluran kemih, diberikan antibiotik.
Untuk mengurangi sakit kepala, nyeri dan kejang otot, bisa
diberikan obat pereda nyeri. Kejang dan nyeri otot juga
bisa dikurangi dengan kompres hangat.

Untuk memaksimalkan pemulihan kekuatan dan


fungsi otot mungkin perlu dilakukan terapi fisik,
pemakaian sepatu korektif atau penyangga maupun
pembedahan ortopedik.
e. Pencegahan

Vaksin polio merupakan bagian dari imunisasi rutin pada masa


kanak-kanak.

Terdapat 2 jenis vaksin polio:


* Vaksin Salk, merupakan vaksin virus polio yang tidak aktif
* Vaksin Sabin, merupakan vaksin virus polio hidup.
Yang memberikan kekebalan yang lebih baik (sampai
lebih dari 90%) dan yang lebih disukai adalah vaksin Sabin per-
oral (melalui mulut). Tetapi pada penderita gangguan sistem
kekebalan, vaksin polio hidup bisa menyebabkan polio. Karena
itu vaksin ini tidak diberikan kepada penderita gangguan sistem
kekebalan atau orang yang berhubungan dekat dengan penderita
gangguan sistem kekebalan karean virus yang hidup dikeluarkan
melalui tinja.

Dewasa yang belum pernah mendapatkan imunisasi


polio dan hendak mengadakan perjalanan ke daerah yang masih
sering terjadi polio, sebaiknya menjalani vaksinasi terlebih
dahulu.
3. DIFTERI

a. Pengertian

Difteri adalah penyakit


akibat terjangkit bakteri
yang bersumber dari
corynebacterium
diptheriae.
b. Epidemiologi
1. Person (Orang)
Difteri dapat menyerang seluruh lapisan usia tapi
paling sering menyerang anak-anak yang belum
diimunisasi. Penderita difteri umumnya anak-anak,
usia di bawah 15 tahun. Selama permulaan pertama
dari abad ke-20, difteri merupakan penyebab umum
dari kematian bayi dan anak-anak muda.
Data menunjukkan bahwa setiap tahunnya di dunia
ini terdapat 1,5 juta kematian bayi berusia 1 minggu
dan 1,4 juta bayi lahir akibat tidak mendapatkan
imunisasi. Tanpa imunisasi, kira-kira 3 dari 100
kelahiran anak akan meninggal karena penyakit
campak, 2 dari 100 kelahiran anak akan meninggal
karena batuk rejan. 1 dari 100 kelahiran anak akan
meninggal karena penyakit tetanus. Dan dari setiap
200.000 anak, 1 akan menderita penyakit polio.
2. Place (Tempat)
Penyakit ini juga dijumpai pada daerah padat
penduduk dengan tingkat sanitasi rendah. Oleh karena itu,
menjaga kebersihan sangatlah penting, karena berperan
dalam menunjang kesehatan kita. Lingkungan buruk
merupakan sumber dan penularan penyakit. Vaksin
imunisasi difteri diberikan pada anak-anak untuk
meningkatkan sistem kekebalan tubuh agar tidak terserang
penyakit tersebut. Anak-anak yang tidak mendapatkan
vaksin difteri akan lebih rentan terhadap penyakit yang
menyerang saluran pernafasan ini.

3. Time (Waktu)

Penyakit difteri dapat menyerang siapa saja dan kapan


saja tanpa mengenal waktu. Apabila kuman telah masuk
ke dalam tubuh dan tubuh kita tidak mempunyai system
kekebalan tubuh maka pada saat itu kuman akan
berkembang biak dan berpotensi untuk terjangkit penyakit
difteri.
c. Tanda dan Gejala
d. Penyebab
Penyebab penyakit difteri adalah Corynebacterium
diphtheriae . Infeksi oleh kuman sifatnya tidak invasive,
tetapi kuman dapat mengeluarkan toxin, yaitu exotoxin.
Toxin difteri ini, karena mempunyai efek patoligik
menyebabkan orang jadi sakit.
Ada tiga type variants dari Corynebacterium diphtheriaeini
yaitu : type mitis, typeintermedius dan type gravis.
Corynebacterium diphtheriae dapat
dikalsifikasikan dengan cara bacteriophage lysis menjadi
19 tipe.
Tipe 1-3 termasuk tipe mitis, tipe 4-6 termasuk tipe
intermedius, tipe 7 termasuk tipe gravis yang tidak ganas,
sedangkan tipe-tipe lainnya termasuk tipe gravis yang
virulen. Corynebacterium diphtheriae ini dalam bentuk satu
atau dua varian yang tidak ganas dapat ditemukan pada
tenggorokan manusia, pada selaput mukosa.
e. Pengobatan
Tujuan pengobatan penderita difteria adalah
menginaktivasi toksin yang belum terikat secepatnya,
mencegah dan mengusahakan agar penyulit yang
terjadi minimal, mengeliminasi C. diptheriae untuk
mencegah penularan serta mengobati infeksi
penyerta dan penyulit difteria.
a. Pengobatan Umum
Pasien diisolasi sampai masa akut terlampaui dan
biakan hapusan tenggorok negatif 2 kali berturut-
turut. Pada umumnya pasien tetap diisolasi selama
2-3 minggu. Istirahat tirah baring selama kurang
lebih 2-3 minggu, pemberian cairan serta diet yang
adekuat. Khusus pada difteria laring dijaga agar
nafas tetap bebas serta dijaga kelembaban udara
dengan menggunakan humidifier.
b. Pengobatan Khusus
1) Antitoksin : Anti Diptheriar Serum (ADS)
Antitoksin harus diberikan segera setelah dibuat
diagnosis difteria. Dengan pemberian antitoksin pada
hari pertama, angka kematian pada penderita kurang
dari 1%. Namun dengan penundaan lebih dari hari ke-
6 menyebabkan angka kematian ini bisa meningkat
sampai 30%.
2) Antibiotik
Antibiotik diberikan bukan sebagai pengganti
antitoksin, melainkan untuk membunuh bakteri dan
menghentikan produksi toksin. Pengobatan untuk
difteria digunakan eritromisin , Penisilin, kristal
aqueous pensilin G, atau Penisilin prokain.