You are on page 1of 9

ASKEP PADA

PASIEN SEPSIS
KELOMPOK 04
DEFINISI SEPSIS

Sepsis adalah sindroma respons inflamasi sistemik (systemic inflammatory
response syndrome) dengan etiologi mikroba yang terbukti atau dicurigai. Bukti
klinisnya berupa suhu tubuh yang abnormal (>38oC atau <36oC) ; takikardi;
asidosis metabolik; biasanya disertai dengan alkalosis respiratorik terkompensasi
dan takipneu; dan peningkatan atau penurunan jumlah sel darah putih.
ETIOLOGI

Sepsis biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri (meskipun sepsis dapat
disebabkan oleh virus, atau semakin sering, disebabkan oleh jamur).
Mikroorganisme kausal yang paling sering ditemukan pada orang dewasa adalah
Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Streptococcus pneumonia. Spesies
Enterococcus, Klebsiella, dan Pseudomonas juga sering ditemukan.
Umumnya, sepsis merupakan suatu interaksi yang kompleks antara efek toksik
langsung dari mikroorganisme penyebab infeksi dan gangguan respons inflamasi
normal dari host terhadap infeksi.
PATOFISIOLOGI

Normalnya, pada keadaan infeksi terdapat aktivitas lokal bersamaan dari sistem
imun dan mekanisme down-regulasi untuk mengontrol reaksi. Efek yang
menakutkan dari sindrom sepsis tampaknya disebabkan oleh kombinasi dari
generalisasi respons imun terhadap tempat yang berjauhan dari tempat infeksi,
kerusakan keseimbangan antara regulator pro-inflamasi dan anti inflamasi
selular, serta penyebarluasan mikroorganisme penyebab infeksi.
MANIFESTASI KLINIS

• Manifestasi dari respon sepsis biasanya ditekankan pada gejala dan tanda-
tanda penyakit yang mendasarinya dan infeksi primer.
• Pasien dalam fase awal sepsis sering mengalami cemas, demam, takikardi, dan
takipnea (Dasenbrook & Merlo, 2008).
• Tanda-tanda dari sepsis sangat bervariasi. Berdasarkan studi, demam, syok,
hipotermia, ruam makulopapular, petekie, nodular, vesikular dengan nekrosis
sentral dan artritis . Demam terjadi pada <60% dari bayi dibawah 3 bulan dan
pada orang dewasa diatas 65 tahun (Gossman & Plantz, 2008).
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Untuk mencari infeksi penyebab sepsis dan memonitor organ tubuh, serangkaian
pemeriksaan perlu dilakukan. Jenis-jenis pemeriksaan tersebut meliputi:
1. Tes darah, misalnya untuk mengonfirmasi infeksi dalam darah, mengevaluasi
fungsi hati
2. Pemeriksaan tekanan darah.
3. Pemeriksaan sampel urin dan tinja.
4. Pemeriksaan cairan dari sistem pernapasan, misalnya dahak atau air liur.
5. Biopsi luka jika ada, yaitu pengambilan sampel jaringan atau cairan dari luka.
6. Rontgen, USG, CT scan, atau MRI scan.
PENATALAKSANAAN
Menurut Opal (2012), penatalaksanaan pada pasien sepsis dapat dibagi menjadi
:
1. Nonfarmakologi
– Mempertahankan oksigenasi ke jaringan dengan saturasi >70% dengan
melakukan ventilasi mekanik dan drainase infeksi fokal.
2. Sepsis Akut
– Menjaga tekanan darah dengan memberikan resusitasi cairan IV dan
vasopressor yang bertujuan pencapaian kembali tekanan darah >65 mmHg,
menurunkan serum laktat dan mengobati sumber infeksi.
3. Sepsis kronis
– Terapi antibiotik berdasarkan hasil kultur dan umumnya terapi dilanjutkan
minimal selama 2 minggu.
ASUHAN KEPERAWATAN
TERIMAKASIH