You are on page 1of 12

WAWASAN SOSIAL BUDAYA MARITIM

HUKUM LAUT INTERNASIONAL

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK IX
1. IRMAWATI (A011 18 1315)
2. ADINDA PRATIWI PUTRI (A011 18 1310)
3. ANDI MAKKAWARU (A011 18 1038)
4. MUSLAEDI (A011 18 1018)

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
PENDAHULUAN
Laut merupakan sumber kehidupan di dunia. Laut membentuk iklim, sumber
makanan bagi dunia, dan membersihkan udara yang kita hirup. Laut sangat vital bagi
kehidupan ekonomi, dan menjadi tempat transportasi kurang lebih 90% perdagangan global,
tempat meletakkan kabel bawah laut, dan menyediakan sepertiga sumber hidrokarbon
tradisional juga energi terbarukan seperti ombak, angin dan energi pasang-surut.
Indonesia masih banyak mengalami sengketa perbatasan dengan negara tetangga.
Untuk itu diperlukan peraturan yang baku mengenai hukum laut Indonesia khususnya dilaut
territorial yang sering dilalui oleh kapal asing dan banyak menimbulkan konflik yang
berkepanjangan dengan negara tetangga. Kurang seriusnya pemerintah dalam meyelesaikan
sengketa perbatasan mengenai laut territorial telah banyak menyebabkan lepasnya wilayah laut
territorial dari pangkuan negara indonesia. Selain itu, kurangnya pengawasan terhadap laut
territorial di wilayah Indonesia telah banyak menyebabkan hilangnya kekayaan alam yang
terkandung di dalamnya terutama potensi perikanan yang banyak dicuri nelayan asing. Oleh
karena itu, diperlukan pemahaman mengenai hukum laut internasional sehingga pengelolaan
dan pengawasan terhadap laut territorial benar-benar bejalan optimal.
RUMUSAN MASALAH

1. Apa definisi dari hukum laut internasional?


2. Bagaimana sejarah dan perkembangan hukum laut internasional?
3. Bagaimana pembagian wilayah laut menurut konvensi hukum laut PBB 1982 (united nations
convention on the law of the sea)?
Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui definisi hokum laut internasional.
2. Mengetahui sifat hukum laut internasional.
A. Definisi Hukum Laut Internasional

United Nations Convention On The Law Of The Sea (UNCLOS) 1982 Tidak Ada Secara
Tegas Memberikan Definisi Tentang Hukum Laut Internasional. Namun, Hukum Laut Internasional
Dapat Didefinisikan Sebagai Sekumpulan Aturan Atau Kaidah-kaidah Hukum Yang Mengatur Hak
Dan Kewenangan Suatu Negara Atas Kawasan Laut Yang Berada Dibawah Yurisdiksi Nasionalnya
(National Jurisdiction).
B. Perkembangan Hukum Laut Internasional

Lebar laut teritorial sebagaimana yang dikemukakan oleh dua orang ahli hukum berkebangsaan
italia yang bernama gailani dan azuni adalah sejauh 3 (tiga) mil diukur dari garis pangkal normal. Namun,
memasuki awal abad ke-20, negara-negara pantai mulai meninggalkan lebar laut teritorial 3 mil laut dan
mengklaim lebar laut teritorial yang melebihi dari 3 mil laut. 32 ketidakpastian mengenai lebar laut
teritorial ini terus terjadi hingga perang dunia I usai, yakni sekitar tahun 1918.
Hingga akhirnya pada tahun 1947, perserikatan bangsa-bangsa yang sebelumnya sudah
terbentuk secara resmi pada tanggal 28 oktober 1945, melalui majelis umumnya menyerukan untuk
menyelenggarakan konferensi internasional yang bertujuan untuk merealisasikan rancangan naskah
konvensi yang telah disiapkan oleh komisi hukum internasional (international law commission).
Rancangan naskah konvensi tersebut memuat berbagai bidang dalam hukum internasional, salah satunya
adalah mengenai hukum laut internasional. Menindaklanjuti hal tersebut, diadakan konferensi-konferensi
internasional yang khusus membahas perihal hukum laut yang dapat penulis bagi ke dalam 4 (empat)
konferensi, yakni sebagai berikut:
1. Konferensi Hukum Laut Internasional I atau United Nations Convention On
The Law Of The Sea I (UNCLOS)
Konferensi hukum laut internasional yang pertama kalinya diselenggarakan di jenewa,
swiss, pada tahun 1958. Konferensi ini menghasilkan beberapa konvensi mengenai hukum laut.
2. Konferensi Hukum Laut Internasional II atau United Nations Convention On
The Law Of The Sea II (UNCLOS)
Konferensi berikutnya diadakan di kota yang sama dengan konferensi hukum laut
sebelumnya yakni di jenewa, swiss, yangberlangsung dari tanggal 16 maret sampai dengan 26
april 1960.
3. Konferensi Hukum Laut Internasional III atau United Nations Convention On
The Law Of The Sea III (UNCLOS)
Konferensi hukum laut internasional III yang dilaksanakan di caracas, venezuela, pada
tahun 1973. Konferensi ini dilanjutkan di new york, amerika serikat, dan akhirnya berhasil
menyepakati naskah final konvensi hukum laut internasional.
C. Pembagian Wilayah Laut Menurut Konvensi Hukum Laut PBB
1982 (United Nations Convention On The Law Of The Sea)

UNCLOS 1982 menjawab permasalahan tersebut dengan membagi zona-zona


maritim dan status hukumnya masing-masing. Dalam hal ini wilayah laut atau zona
maritim tersebut dibedakan berdasarkan yurisdiksinya, yaitu di bawah yurisdiksi nasional
dan di luar yurisdiksi nasional. Zona-zona maritim yang berada di bawah yurisdiksi
nasional kemudian dibagi lagi kedalam zona-zona maritim yang berada di bawah
kedaulatan penuh negara pantai, dan zona-zona maritim bagian-bagian dimana negara
pantai dapat melaksanakan wewenang-wewenang serta hak-hak khusus yang diatur dalam
konvensi.
1. Wilayah Laut Yang Merupakan Yurisdiksi Nasional

A. Perairan Pedalaman (Internal Waters)


B. Perairan Kepulauan (Archipelagic Waters)
C. Laut Teritorial (Territorial Sea)
D. Zona Tambahan (Contiguous Zone)
E. Zona Ekonomi Eksklusif (Exclusive Economic Zone)
F. Landas Kontinen (Continental Shelf)
2. Wilayah Laut Yang Berada Di Luar Yurisdiksi Nasional

A. Laut Lepas (High Seas)


B. Kawasan Dasar Laut Internasional(international Seabed Area)
Gambaran pembagian wilayah laut menurut Konvensi Hukum Laut
PBB 1982 (United Nations Convention On The Law Of The Sea)
TERIMA KASIH