You are on page 1of 28

PERUNDANG – UNDANGAN

DAN HUKUM KESEHATAN

PROGDI. D-3 ANAFARMA


1. DRA. PUDIASTUTI RSP, MM, APT
2. TRI WIJAYANTI, MPH, APT
Introduction

 Full name : Pudiastuti Rahayu Sawarno Putri

 Pendidikan:
 S1 : Fakultas Farmasi UGM
 Apoteker : Fakultas Farmasi UGM
 S2 : Magister Manajemen Ekonomi
Kesehatan UMS

 Jabatan : Dosen Fakultas Farmasi USB


 Email : pudiastutirsp@yahoo.com
 Mobile phone : 089605438323 / 081393454088
KONTRAK PERKULIAHAN

 MANFAAT MATA KULIAH


 Mata kuliah Perundang-undangan dan Hukum
Kesehatan ini memberi kemampuan pada
mahasiswa untuk menyadari bahwa nantinya
sebagai Tenaga Kesehatan khususnya selaku tenaga
kefarmasian mampu menerapkan pelaksanaan
Tugasnya sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
 TUJUAN INSTRUKSIONAL
 Setelah menyelesaikan mata kuliah ini mahasiswa
mampu mengerti peran tenaga kesehatan dalam
menerapkan pelaksanaan tugasnya sesuai dengan
peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

BAHAN KAJIAN

 1. PENDAHULUAN dan UU Kesehatan


 2. UU Narkotika
 3. UU Psikotropika
 4 . Peratutan tentang Bahan Berbahaya
 5. UKD - 1
 6. Peraturan tentang Prekursor
 7. UU PERLINDUNGAN KONSUMEN
 8. Penugasan : Presentasi ke - 1
 9. UKD - 2
 10. Peraturan tentang Obat
 11. Peraturan tentang Obat Tradisional
 12. Peraturan tentang KOSALKES dan Pangan
 13. Penugasan : Presentasi ke-2
 14. UKD - 3
 15. Peraturan tentang Pekerjaan Kefarmasia
 16. Peraturan tentang Tenaga Kesehatan
 17. Penugasan : Presentasi ke 3
 18. UKD - 4
 UNDANG-UNDANG KESEHATAN
(UU. No.36 Tahun 2009)
A. PENGERTIAN

1. Kesehatan, adalah keadaan sehat, baik secara


fisik, mental, spiritual maupun sosiall yang
memungkinkan setiap orang untuk hidup
produktif secara sosial dan ekonomi.
2. Perbekalan Kesehatan, adalah semua bahan
dan peralatan yang diperlukan untuk
menyelenggarakan upaya kesehatan.
3. Sediaan Farmasi, adalah obat, bahan
obat, obat trasisional dan kosmetik.
 4. Alat Kesehatan, adalah instrumen, aparatus, mesin
dan/atau implan yg tdk mengandung obat yg digunakan
utk mencegah, mendiagnosis, menyembuhkan dan
meringankan penyakit, merawat orang sakit,
memulihkan kesehatan pd manusia, dan/ atau membentuk
struktur dan memperbaiki fungsi tubuh.
 5. Tenaga Kesehatan, adalah setiap orang yang
mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki
pengetahuan dan / atau ketrampilan melalui pendidikan
di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu
memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya
kesehatan.
 6. Fasilitas Pelayanan Kesehatan adalah suatu alat
dan/atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan
upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif,
kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh
Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan / atau masyarakat.
 7. Obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk
produk biologi yang digunakan untuk mempengaruhi atau
menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam
rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan,
pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi, untuk
manusia.
 8. Obat Tradisional, adalah bahan atau ramuan
bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan,
bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran
dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah
digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai
dengan norma yang berlaku di masyarakat.
 9. Upaya Kesehatan adalah setiap kegiatan dan / atau
serangkaian kegiatan yg dilakukan scr terpadu, terintegrasi
& berkesinambungan utk memelihara & meningkatkan
derajat kes. masy. dlm bentuk pencegahan penyakit,
peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit, & pemulihan
kesehatan oleh pemerintah dan / atau masyarakat.
B. SUMBER DAYA DI BIDANG
KESEHATAN
 1. Tenaga Kesehatan

 - Harus memiliki kualifikasi minimum


- Berwenang menyelenggarakan pelayanan kesehatan
sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki serta wajib
memiliki ijin dari pemerintah.
- Tenaga kesehatan tersebut harus memenuhi ketentuan
kode etik, standar profesi, hak pengguna pelayanan
kesehatan, standar pelayanan dan SOP.
- Bila diduga nakes melakukan kelalaian dalam
menjalankan profesinya, kelalaian tersebut harus
diselesaikan terlebih dahulu melalui mediasi.
 2. Fasilitas Pelayanan Kesehatan

 * Dibagi berdasarkan jenisnya yaitu pelayanan kesehatan


perorangan dan pelayanan kesehatan masyarakat yang
meliputi :
 a. Pelayanan kesehatan tingkat pertama, yaitu
pelayanan kesehatan yang diberikan oleh fasilitas
pelayanan kesehatan dasar.
 b. Pelayanan kesehatan tingkat ke dua, yaitu pelayanan
kesehatan yang diberikan oleh fasilitas pelayanan
kesehatan spesialistik.
 c. Pelayanan kesehatan tingkat ketiga, yaitu pelayanan
kesehatan yang diberikan oleh fasilitas pelayanan
kesehatan sub spesialistik.
 Penentuan jumlah dan jenis fasilitas yankes
tersebut didasarkan atas : luas wilayah;
kebutuhan kesehatan; jumlah dan persebaran
penduduk; pola penyakit; pemanfaatannya;
fungsi sosial; dan kemampuan dalam
memanfaatkan teknologi.
 Setiap pimpinan penyelenggaraan fasilitas
pelayanan kesehatan masyarakat harus memiliki
kompetensi manajemen kesehatan masyarakat
yang dibutuhkan.
 3. Perbekalan Kesehatan

 Pemerintah menjamin ketersediaan, pemerataan


dan keterjangkauan perbekalan kesehatan,
terutama obat esensial.
 Pemerintah menyusun daftar dan jenis obat yang
secara esensial harus tersedia bagi kepentingan
masyarakat dan dilakukan penyempurnaan setiap
2 (dua) tahun sekali.
 4. Teknologi dan Produk Teknologi

 Teknologi kesehatan mencakup segala metode


dan alat yang digunakan untuk mencegah
terjadinya penyakit, mendeteksi adanya
penyakit, meringankan penderitaan akibat
penyakit, menyembuhkan, memperkecil
komplikasi,dan memulihkan kesehatan setelah
sakit.
 Dalam mengembangkan teknologi dapat
dilakukan uji coba teknologi atau produk
teknologi terhadap manusia atau hewan.
 Uji coba tersebut dilakukan oleh orang yang
berwenag dan dengan persetujuan orang yang
dijadikan uji coba dan dilakukan dengan
jaminan tidak merugikan manusia yang
dijadikan uji coba.
C. UPAYA KESEHATAN

 Untuk mewujudkan derajat kesehatan setinggi-


tingginya bagi masyarakat, diselenggarakan upaya
kesehatan yang terpadu dan menyeluruh dalam bentuk
upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan
masyarakat.
 Upaya kesehatan diselenggarakan dalam bentuk
kegiatan dengan pendekatan promotif, preventif,
kuratif, dan rehabilitatif yang dilaksanakan
secara terpadu, menyeluruh dan
berkesinambungan dengan melalui kegiatan :
 Pelayanan kesehatan; Pelayanan kesehatan
tradisional; Peningkatan kesehatan dan
pencegahan penyakit; Penyembuhan penyakit
dan pemulihan kesehatan; Kesehatan
reproduksi; Keluarga Berencana; Kesehatan
sekolah; Kesehatan olah raga; Kesehatan gigi
dan mulut; Pelayanan darah; Pelayanan
kesehatan pada bencana; Penanggulangan
gangguan penglihatan dan gangguan
pendengaran; Kesehatan matra;
Pengamanan dan penggunaan sediaan farmasi
dan alat kesehatan; Pengamanan makanan dan
minuman; Pengamanan zat adiktif dan/atau
Bedah mayat.

 Penyelenggaraan upaya kesehatan didukung oleh


sumber daya kesehatan dan harus memperhatikan
fungsi sosial, nilai dan norma agama, sosial
budaya, moral, dan etika profesi.
Undang-Undang ini juga mengatur tentang :

. 1. Kesehatan Ibu, Bayi, Anak, Remaja, Lanjut Usia & Penyandang


Cacat;
 2. Gizi;
 3. Kesehatan Jiwa;
 4. Penyakit Menular dan Tidak Menular;
 5. Kesehatan Lingkungan;
 6. Kesehatan Kerja;
 7. Pengelolaan Kesehatan;
 8. Informasi Kesehatan;
 9. Pembiayaan Kesehatan;
 10.Peran Serta Masyarakat;
 11. Badan Pertimbangan Kesehatan;
 12. Pembinaan dan Pengawasan;
 13. Penyidikan dan Ketentuan Pidana.
Pengamanan Makanan dan Minuman

 Pengamanan makanan dan minuman


diselenggarakan untuk melindungi masyarakat
dari makanan dan minuman yang tidak
memenuhi standar atau persyaratan kesehatan.
Dan setiap makanan maupun minuman yang
dikemas wajib diberi label yang berisi:
 (1). bahan yang dipakai; (2). komposisi setiap
bahan; (3). tanggal., bulan dan tahun
kedaluwarsa; (4). Ketentuan lainnya.
Pengobatan Tradisional

 Pengobatan tradisional merupakan salah satu


upaya pengobatan dan perawatan cara lain di
luar ilmu kedokteran dan atau ilmu
keperawatan yang perlu dibina dan diawasi
agar dapat dipertanggungjawabkan manfaat &
keamanannya
Pengamanan Sediaan Farmasi dan
Alkes

 Pengamanan sediaan farmasi dan alkes


diselenggarakan utk melindungi masy. dari
bahaya yg disebabkan oleh penggunaan
sediaan farmasi dan alkes yg tdk memenuhi
persyaratan mutu dan/ atau keamanan atau
kemanfaatan.
Pengamanan Zat Adiktif

 Pengamanan penggunaan bahan yang


mengandung zat adiktif diarahkan agar tidak
mengganggu dan membahayakan
kesehatan perorangan, keluarga, masyarakat,
dan lingkungannya. Produksi, peredaran dan
penggunaannya harus memenuhi standar dan
atau persyaratan umum yang berlaku.
KETENTUAN PIDANA
 (1). Pidana penjara paling lama 7 tahun dan atau denda paling
banyak 140 juta rupiah bagi yang mengedarkan sediaan
farmasi serta memproduksi dan atau mengedarkan alat kesehatan
tidak sesuai UU Kesehatan.
 (2). Pidana penjara paling lama 5 tahun dan atau denda paling
banyak 100 juta rupiah bagi yang melakukan pekerjaan
kefarmasian, yang memproduksi dan mengedarkan kosmetika,
zat adiktif tidak sesuai UU Kesehatan.
 (3). Pidana kurungan paling lama 1 tahun dan atau denda paling
banyak 15 juta rupiah bagi :
 a). mengedarkan man-min yang dikemas tanpa
mencantumkan label.
 b). menghalangi penderita gangguan jiwa yg akan diobati dan
atau dirawat pd sarana pelayanan kesehatan jiwa.