You are on page 1of 74

ANTI-PENGHINDARAN PAJAK

Fauzan Misra

dari: Sub Direktorat Pemeriksaan


Transaksi khusus
KETENTUAN ANTI PENGHINDARAN PAJAK
Pasal 18 UU PPh

ayat (1) Debt to Equity Ratio (Thin Capitalization Rule)


ayat (2) Anti Controlled Foreign Corporations (CFC)-PMK No.256/PMK.03/2008
(CFC Rule)
ayat (3) Transfer Pricing (PER-43/PJ/2010 jo.PER-32/PJ/2011) (TP Rule)
ayat (3a) Advance Pricing Agreement (PER-69/PJ/2010)(APA)
ayat (3b) Anti Stepping: Pembelian saham atau harta melalui SPC (PMK
No.140/PMK.03/2010)
ayat (3c) Anti Stepping: Penjualan atau pengalihan saham atau harta melalui
SPC,
ayat (3d) Penentuan kembali penghasilan WPDN OP dari pemberi kerja (PMK
No.139/PMK.03/2010)
ayat (4) Hubungan Istimewa (Associated Enterprises)

2
POKOK-POKOK BAHASAN
1. Thin Capitalization
2. Controlled Foreign Corporation
3. Transfer Pricing
4. Anti Stepping
5. Treaty Abuse
6. Associated Enterprises (hubungan istimewa)
7. Special Purpose Company
8. Tax Haven Country
Praktek Perpajakan yang dilarang
1. Tax Haven Country dan Preferential Tax
Regime
2. Controlled Foreign Corporations (CFC)
3. Transfer Pricing
4. Thin Capitalization
5. Treaty Shopping
6. Special Purpose Company
1. THIN CAPITALIZATION
Pengertian:
Suatu perusahaan disebut thinly capitalized apabila
terdapat perbandingan yang tinggi antara :
modal hutang (debt capital) dan modal ekuitas
(equity capital).
Kriteria yang umumnya diterapkan untuk menyebut
suatu perusahaan sebagai thinly capitalized adalah
rasio capital gear, leverage, atau DER.

(Diterjemahkan dari IBFD International Tax Glossary, 2005)

5
THIN CAPITALIZATION
Pasal 18 ayat (1) UU PPh:
Menteri Keuangan berwenang mengeluarkan keputusan
mengenai besarnya perbandingan antara utang dan modal
perusahaan untuk keperluan penghitungan pajak berdasarkan
Undang‐undang ini.

Pasal 18 ayat (3) UU PPh:


Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk menentukan kembali
besarnya penghasilan dan pengurangan serta menentukan utang
sebagai modal untuk menghitung besarnya Penghasilan Kena
Pajak bagi Wajib Pajak yang mempunyai hubungan istimewa
dengan Wajib Pajak lainnya sesuai dengan kewajaran dan
kelaziman usaha yang tidak dipengaruhi oleh hubungan istimewa
dengan menggunakan metode perbandingan harga antara pihak
yang independen, metode harga penjualan kembali, metode
biaya‐plus, atau metode lainnya.
THIN CAPITALIZATION

INVESTOR Opsi I: Investasi dalam bentuk ekuitas $1 juta


PERUSAHAAN

Opsi II: Investasi dalam bentuk ekuitas $100 ribu


dan dalam bentuk pinjaman $900 ribu

Opsi III: Investasi dalam bentuk ekuitas $100 ribu,


menjamin pinjaman bank $900 ribu.

Deposit Pinjaman
BANK

7
KASUS THIN CAP.
Investasi $ 1 juta

US –Parent Co.

PT ABC
Expected Return 10%
di Indonesia
Skenario 1:
Pembiayaan Ekuitas $ 1 juta
Skenario 2:
Pembiayaan Hutang $ 1 juta Asumsi:
@ 10% interest Withholding tax atas bunga dan
dividen : 20%
Diminta: Tarif PPh di Indonesia: 25%
Hitung beban pajak dan Return Laba sblm bunga & pajak: $ 150 rb
on investment msg2 skenario Dividen payout ratio: 100%
KASUS THIN CAP.
Debt Financing Equity Financing Back-to-back
Pinjaman Pemegang Shm $ 1 juta 0
atau pinjaman bank
Laba sebelum bunga & pajak $ 150.000 $ 150.000 $ 150.000
Bunga Pinjaman (10%) $100.000 0 $100.000
Penghasilan kena pajak $50.000 $ 150.000 $50.000
Pajak (tarif 25%) $12.500 $ 37.500 $12.500

Laba bersih $37.500 $112.500 $37.500


Dividen (payout ratio 100%) $37.500 $112.500 $37.500

Beban Pajak:
Bunga (tarif 20%) $20.000 0 $20.000
Dividen (tarif 20%) $7.500 22.500 $7.500
PPh Perseroan $12.500 $ 37.500 $12.500
Fee Bank 0 0 $15.000
Total beban pajak/investasi $40.000 $ 60.000 $55.000
Hasil Investasi Bersih $110.000 $ 90.000 $95.000

Penghasilan Bersih (ROI) 11% 9% 9.5%


2.CONTROLLED FOREIGN COMPANY
Pengertian:
CFC Rules adalah ketentuan pencegahan atas
penghindaran pajak yang dilakukan oleh WP
dalam negeri yang melakukan pengalihan
penghasilan ke perusahaan terkendali yang
berada di negara-negara yang mengenakan pajak
rendah atau tidak mengenakan pajak.
(Diterjemahkan dari IBFD International Tax Glossary, 2005)

10
CONTROLLED FOREIGN COMPANY

Sebelum ada CFC Setelah ada CFC


1. WPDN mendirikan CFC di “low-tax
Income: $ LN jurisdiction”,
2. Income dari LN dialihkan ke CFC,
Indonesia 3. WPDN tidak meminta haknya atas laba
bersih CFC untuk menunda pajak.
Income: Rp
PT ABC
Income: $
CFC
1. Income dari DN dan LN dikenakan pajak 2
di Indonesia sekaligus melalui SPT yang 1 Low-tax
LN
disampaikan PT ABC. 3 jurisdiction
2. PT ABC bermaksud menunda pajak atas Indonesia
Income dari LN di Indonesia. Dividen?
Penyertaan
Income
PT ABC
Rp

11
2. CONTROLLED FOREIGN COMPANY
Pasal 18 ayat (2) UU PPh:
Menteri Keuangan berwenang menetapkan saat diperolehnya
dividen oleh Wajib Pajak dalam negeri atas penyertaan modal
pada badan usaha di luar negeri selain badan usaha yang
menjual sahamnya di bursa efek, dengan ketentuan sebagai
berikut:
a. besarnya penyertaan modal Wajib Pajak dalam negeri
tersebut paling rendah 50% (lima puluh persen) dari jumlah
saham yang disetor; atau
b. secara bersama‐sama dengan Wajib Pajak dalam negeri
lainnya memiliki penyertaan modal paling rendah 50% (lima
puluh persen) dari jumlah saham yang disetor.

Peraturan pelaksanaan: PMK No.256/PMK.03/2008


PMK-256/PMK.03/2008
APABILA:
1. WPDN mempunyai perusahaan di LN yang tidak terdaftar
pada bursa efek di LN,
2. WPDN memiliki penyertaan modal minimal 50%, sendiri
atau bersama-sama dengan WPDN lain, dan
3. Penghasilan dividen dari CFC < [laba bersih CFC X %
penyertaan pada CFC],

MAKA:
 Saat pengakuan dividen ditetapkan pada bulan ke-4
setelah batas waktu penyampaian SPT perusahaan di LN
berakhir atau pada bulan ke-7 setelah tahun pajak
perusahan di LN berakhir.
 Besarnya dividen adalah laba bersih CFC dikalikan
besarnya kepemilikan pada CFC.

13
3. Anti Stepping
Ketentuan Anti Stepping dalam UU PPh
Pasal 18 ayat (3b):
WP yang melakukan pembelian saham atau
aktiva perusahaan melalui pihak lain atau badan
yang dibentuk untuk maksud demikian (special
purpose company), dapat ditetapkan sebagai
pihak yang sebenarnya melakukan pembelian
tersebut sepanjang WP yang bersangkutan
mempunyai hubungan istimewa dengan pihak lain
atau badan tersebut dan terdapat ketidakwajaran
penetapan harga.
15
Ketentuan Anti Stepping dalam UU PPh
Penjelasan Pasal 18 ayat (3b):
Ketentuan ini dimaksudkan untuk mencegah penghindaran pajak
oleh WP yang melakukan pembelian saham/penyertaan pada
suatu perusahaan WP dalam negeri melalui perusahaan luar
negeri yang didirikan khusus untuk tujuan tersebut (special
purpose company).
ABC ABC

Dapat
ditetapkan Saham/ SPC
SPC Aktiva $
menjadi
Saham/
Aktiva $

PQR PQR

16
Ketentuan Anti Stepping dalam UU PPh
Pasal 18 ayat (3c):
Penjualan atau pengalihan saham perusahaan antara
(conduit company atau special purpose company) yang
didirikan atau bertempat kedudukan di negara yang
memberikan perlindungan pajak (tax haven country)
yang mempunyai hubungan istimewa dengan badan
yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia
atau BUT di Indonesia dapat ditetapkan sebagai
penjualan atau pengalihan saham badan yang
didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia atau
BUT di Indonesia.

17
17
4. TRANSFER PRICING
Pengertian:
Adalah wilayah dalam hukum pajak dan ekonomi untuk
meyakinkan bahwa penentuan harga yang ditetapkan oleh
pihak-pihak yang berhubungan istimewa atas pengalihan
barang, jasa, dan harta tak berwujud telah sesuai dengan
prinsip arm’s length.
(Diterjemahkan dari IBFD International Tax Glossary, 2005)

Prinsip arm’s length:


Prinsip yang mensyaratkan pihak-pihak yang berhubungan istimewa
menentukan harga yang sama, royalti dan imbalan lain dalam transaksi
yang terkendali (controlled transaction) dengan harga, royalti, atau
imbalan lain dalam transaksi yang tidak terkendali (uncontrolled
transaction) dalam kondisi yang dapat diperbandingkan (comparable
circumstances).
(Diterjemahkan dari IBFD International Tax Glossary, 2005)

19
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

PRINSIP KEWAJARAN DAN KELAZIMAN USAHA


(ARM’S LENGTH PRINCIPLE)

Apabila kondisi dalam


transaksi yang dilakukan antara pihak-pihak yang mempunyai
Hubungan Istimewa sama atau sebanding dengan kondisi dalam
transaksi yang dilakukan antara pihak-pihak yang tidak mempunyai
Hubungan Istimewa yang menjadi pembanding, maka harga atau laba
dalam transaksi yang dilakukan antara pihak-pihak yang mempunyai
Hubungan Istimewa harus sama dengan atau berada dalam rentang
harga atau laba dalam transaksi yang dilakukan antara pihak-pihak
yang tidak mempunyai Hubungan Istimewa yang menjadi pembanding

Sub Direktorat Pemeriksaan Transaksi Khusus


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

SEBANDING (TO BE COMPARABLE)

“None of the differences (if any) between the situations being compared could
materially effect the condition being examined, or that reasonably accurate
adjustments can be made to eliminate the effect of any such differences”
(Par. 1.33 OECD TP Guidelines 2010)

Tidak terdapat perbedaan secara material antara transaksi afiliasi dengan


transaksi independen yang dapat mempengaruhi harga atau laba yang
diperbandingkan dan seandainya terdapat perbedaan, perbedaan tersebut
dapat disesuaikan
(Pasal 4 ayat (1) PER-43/PJ/2010)

Sub Direktorat Pemeriksaan Transaksi Khusus


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

Konsep Kesebandingan
Dapat diperbandingkan (comparable) adalah :

 tidak ada perbedaan yang signifikan di antara pihak yang


diperbandingkan,

 Ada perbedaan tetapi tidak signifikan

 Jika terdapat perbedaan, dapat dilakukan penyesuaian untuk


mengurangi perbedaan tersebut sehingga dapat
diperbandingkan .

Sub Direktorat Pemeriksaan Transaksi Khusus


KONSEP KESEBANDINGAN

Picture WP comparable picture

1. Identifikasi dan kuantifikasi beda kondisi


2. Lakukan penyesuaian atas perbedaan tersebut

23
24
4. TRANSFER PRICING
Key Questions:
 Apakah harga transaksi yang dilakukan oleh
pihak-pihak yang berafiliasi telah menerapkan
arm’s length principle?
 Bagaimana Wajib Pajak menentukan dan
menerapkan arms’ length principle dalam
transaksi dengan afiliasinya?
4. TRANSFER PRICING
Transfer Pricing Rules:
PER-43/2010 jo PER-32/PJ/2011
Langkah-langkah menentukan arms’ length price:
1. Melakukan Comparability Analysis dan
Penentuan Comparables/pembanding
2. Menentukan Transfer Pricing Method
3. Menentukan harga/laba wajar berdasarkan
langkah 1 dan langkah 2
4. Mendokumentasikan pelaksanaan langkah-
langkah penerapan arm’s length principle.
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


ANALISIS KESEBANDINGAN
OECD Guidelines Para 1.19 – 1.35
1. Karakteristik barang dan/atau jasa
2. Analisis Fungsional
3. Persyaratan Kontrak
4. Kondisi Perekonomian
5. Strategi Bisnis

Sub Direktorat Pemeriksaan Transaksi Khusus


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

KARAKTERISTIK BARANG DAN/ATAU JASA


(Pasal 6 Ayat (2), (3), (4) PER-43/PJ/2010)
 Barang berwujud :
1. Ciri-ciri fisik barang.
2. Kualitas barang.
3. Daya tahan barang.
4. Tingkat ketersediaan barang.
5. Jumlah penawaran barang.
 Barang tidak berwujud :
1. Jenis transaksi.
2. Jenis barang tidak berwujud yang diserahkan.
3. Jangka waktu dan tingkat perlindungan yang diberikan.
4. Potensi manfaat yang dapat diperoleh dari penggunaan barang tidak berwujud tersebut.
 Jasa
1. Sifat dan jenis jasa.
2. Cakupan pemberian jasa.
Sub Direktorat Pemeriksaan Transaksi Khusus
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

KARAKTERISTIK BARANG DAN/ATAU JASA (2)


(Pasal 6 Ayat (2), (3), (4) PER-43/PJ/2010)

Apakah kedua barang tersebut sebanding dari sisi


karakteristik produk?

Sub Direktorat Pemeriksaan Transaksi Khusus


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

ANALISIS FUNGSIONAL
(Pasal 7 PER-43/PJ/2010)
 Yang harus dipertimbangkan dalam melakukan analisis
fungsional :
1. Fungsi utama yang dilakukan oleh perusahaan (contoh :
desain, pemasaran, penelitian, pengembangan, manajemen,
promosi, dll).
2. Aktiva yang digunakan (contoh : tanah, bangunan, harta
tidak berwujud).
3. Risiko yang ditanggung oleh perusahaan (contoh : risiko
pasar, risiko persediaan, dll).

Sub Direktorat Pemeriksaan Transaksi Khusus


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

ANALISIS FUNGSIONAL (2)


(Pasal 7 PER-43/PJ/2010)
Apakah kedua perusahaan penyedia jasa
tersebut sebanding dari sisi fungsi, aset dan
risiko?

Jasa Pengeboran ? Jasa Pengeboran


Minyak Sumur

Drilling Service Drilling Service


Machinery Machinery
Accident Risk Accident Risk

Sub Direktorat Pemeriksaan Transaksi Khusus


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

PERSYARATAN KONTRAK
(Pasal 8 PER-43/PJ/2010)

 Tingkat tanggung jawab.


 Risiko.
 Pembagian keuntungan.

Sub Direktorat Pemeriksaan Transaksi Khusus


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

PERSYARATAN KONTRAK (2)


(Pasal 8 PER-43/PJ/2010)

Customer A
(Independen)
CIF
PT A
(Manufacturing)
FO Customer B
B (Afiliasi)
Apakah kedua transaksi tersebut
sebanding?

Sub Direktorat Pemeriksaan Transaksi Khusus


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

KONDISI PEREKONOMIAN
(Pasal 9 PER-43/PJ/2010)

 Keadaan geografis.
 Luas pasar.
 Tingkat persaingan .
 Tingkat permintaan dan penawaran.
 Tingkat ketersediaan barang atau jasa pengganti.

Sub Direktorat Pemeriksaan Transaksi Khusus


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

KONDISI PEREKONOMIAN (2)


(Pasal 9 PER-43/PJ/2010)
INDONESIA LUAR
AMERIKA NEGERI
SERIKAT
10 (Independen)
0
PT A

80 ZIMBABWE
(Afiliasi)
Apakah kedua transaksi tersebut
sebanding?

Sub Direktorat Pemeriksaan Transaksi Khusus


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

STRATEGI BISNIS
(Pasal 10 PER-43/PJ/2010)

 Inovasidan pengembangan produk baru.


 Tingkat penetrasi pasar.
 Kebijakan usaha lainnya.

Sub Direktorat Pemeriksaan Transaksi Khusus


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

Comparability Analysis Matrix


No Factors Related Party Transaction Non Related Party
Transaction

Tax Payer Related Tax Payer Non Related


Party Party
1. Characteristics of
goods and services
2. Function, assets
and risks
3. Contractual Terms
4. Economic
Circumstances
5. Business Strategies

Sub Direktorat Pemeriksaan Transaksi Khusus


INTERNAL & EXTERNAL COMPARABLES

Internal :
Taxpayer (tested party) sells the same of similar
products or provides the same or similar services
under comparable conditions to unrelated
(independent) parties.
External :
Unrelated/third parties perform similar functions and
sell the same or similar products or provide the
same or similar services to unrelated parties under
similar conditions
Transfer Pricing Methods
 DGT endorsed the use of 5 TP methods:
Traditional Transaction Methods:
1. Comparable Uncontrolled Price (CUP) Method;
2. Resale Price Method (RPM);
3. Cost Plus Method (CPM);
Transactional Profit Methods:
1. Profit Split Method (PSM); and
2. Transactional Net Margin Method (TNMM).
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

Selection of the
“most appropriate TP method
to the circumstances of the case”

Sub Direktorat Pemeriksaan Transaksi Khusus 40


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

1. CUP (Comparable Uncontrolled Price)


Product A
Third Parent Third
Subsidiary
Parties Company Price $100
Parties

Manufacturer Distributo
r Hongkong
Produk A
Price $120
Third Third
Parties Parties

Distributor

Taiwan
Indonesia

Sub Direktorat Pemeriksaan Transaksi Khusus


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

1. CUP (Comparable Uncontrolled Price)


Coals
Third Parent Third
Subsidiary
Parties Company Price $100
Parties

Manufacturer Distributo
r

Coals
Third Third Third
Parties Price $120 Parties Parties

Manufacturer Distributor

Indonesia Singapura

Sub Direktorat Pemeriksaan Transaksi Khusus


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

Comparable Uncontrolled Price Method (CUP)


Keunggulan Kelemahan Tepat diterapkan pada
• Most direct and reliable • Membutuhkan tingkat • Produk yang sama dijual
way to apply the arm’s kesebandingan tinggi atas kepada associated enterprise
length principle jenis produk. and independent
• Pada praktiknya sulit untuk enterprise(s)
menemukan transaksi (internal comparable)
pembanding sejenis tanpa • Produk yang sama dijual
adanya perbedaan yang oleh independent enterprise
berpengaruh material seperti halnya yang dijual
terhadap harga. oleh associated enterprises.
(external comparable)
• Khususnya diterapkan untuk
pasar komoditas dan interest
rates
Sub Direktorat Pemeriksaan Transaksi Khusus 43
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

2. Cost Plus MethodGross


Mark-up
20%
Third Parent Co. Third
PT Anak
Parties Parties

Manufacturer Distributor

Tested
Party Gross Mark-Up
= Gross Profit / COGS
Gross
Mark-up
30%

Third Third Third


Parties Parties Parties

Manufacturer Distributor
Indonesia Singapura
Sub Direktorat Pemeriksaan Transaksi Khusus
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

Contoh Perhitungan Harga Jual Wajar


dgn Metode Cost Plus
No Uraian Rupiah
Profit & Loss Account PT Anak
1. Cost of Goods Sold 100
Sales 120 2. Gross Mark up Wajar = 30 % x Rp.
Cost of Goods Sold 100 100/unit 30
Gross Profit 20 3. Harga Jual Wajar 130
Operating Expense 10
Operating Profit 10 4. Harga Jual Cfm. WP 120

Gross Mark up = 20/100 = 20% 5. Koreksi harga jual ( 10 % x 10


Rp.100 )

Sub Direktorat Pemeriksaan Transaksi Khusus


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

Cost Plus Method


Keunggulan Kelemahan Tepat diterapkan pada
• Perbedaan produk kurang • Pada praktiknya sulit untuk • (Contract) Manufacturer,
signifikan, yaitu kurang menentukan basis cost yang khususnya semi-finished
berpengaruh material terhadap tepat. goods
profit margin daripada harga. • Cost yang terjadi tidak selalu • (Contract) R&D
• Membutuhkan kesebandingan menjadi penentu tingkat laba
• Service Provider
produk yang lebih rendah • Cost yang terjadi tidak selalu
daripada CUP method. berkaitan dengan market
• Lebih sedikit membutuhkan price.
comparability adjustments • Diperlukan konsistensi
dibandingkan CUP method standar akuntansi dalam
untuk memperhitungkan penerapan kesebandingan.
perbedaan produk, karena
fokus pada analisis FAR.

Sub Direktorat Pemeriksaan Transaksi Khusus 46


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

3. Resale Price Method Gross


Margin
20%

Third Parent PT Angin Third


Parties company Ribut Parties

Manufacturer Distributor

Tested
Party
Gross Margin
= Gross Profit / Sales Gross
Margin
40%
Third Third Third
Parties Parties Parties
Manufacturer Distributor
Vietnam Indonesia

Sub Direktorat Pemeriksaan Transaksi Khusus


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

Contoh Perhitungan Harga Beli Wajar


dgn Metode Resale Price
No Uraian Rupiah
Profit & Loss Account PT
1. Gross Margin Wajar 40%
Angin Ribut
2. Resale Price Cfm. WP 200
Sales 200 3. Gross Profit Wajar= Resale 80
Cost of Goods Sold 160 Price X Gross Margin Wajar
(200 X 40% )
Gross Profit 40
Operating Expense 10 4. Harga Beli Wajar (COGS) = 120
Resale Price – Gross Profit
Operating Profit 30 Wajar = (200 – 80)
5. Harga Beli Cfm. WP = (200 – 40) 160
Gross Profit = 40/200 = 20%
6. Koreksi harga beli (COGS) -40

Sub Direktorat Pemeriksaan Transaksi Khusus


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

Resale Price Method


Keunggulan Kelemahan Sesuai diterapkan untuk

• Perbedaan produk kurang • Gross profit margins mungkin dipengaruhi • Marketing operations
signifikan, yaitu kurang oleh management efficiency dsb. yang (distributor not adding
berpengaruh material berpengaruh terhadap profitabilitas tapi significant value to the
terhadap profit margin tidak berpengaruh pada harga barang atau product)
daripada harga. jasa.

• Lebih sedikit membutuhkan • Pentingnya konsistensi akuntansi untuk


comparability adjustments analisis kesebandingan.
dibandingkan CUP method
• Resale price method sulit digunakan ketika
untuk memperhitungkan
(i) barang diproses lebih lanjut untuk dijual
perbedaan produk, karena
kembali, atau (ii) reseller berkontribusi
fokus pada analisis FAR.
substansial untuk menciptakan atau
mempertahankan IP yang berkaitan dengan
produk (misal trademarks, tradenames).

Sub Direktorat Pemeriksaan Transaksi Khusus 49


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

II. TRANSACTIONAL
PROFIT METHODS

Sub Direktorat Pemeriksaan Transaksi Khusus


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

What is a “profit method”?


 Uses net profitability to judge transfer pricing

 Must be transactional
 Total profit comparisons can only be used to select
cases but not to examine them!

Sub Direktorat 51
Pemeriksaan Transaksi Khusus
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

What is “net”?
 “Net” profit is gross profit (sales minus cost of
goods sold/manufactured) less operating expenses
 Operating expenses exclude
– Extraordinary expenses;
– Interest; and
– Taxes
 EBIT = Earnings Before Interest and Taxes
(and Extraordinary Items)

Sub Direktorat 52
Pemeriksaan Transaksi Khusus
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

Net/Operating Profit
Profit &Loss Account

Sales 100

- Costs of Goods Sold/ - 90


Manufactured
= Gross Profit 10

- Operating Expenses (SG&A) -6

= Net/Operating Profit (EBIT) 4 Net profit margin = 4%


Interest/Taxes/Extraordinary -2 Net profit 4
Items Sales 100
Profit after Tax 2

Sub Direktorat Pemeriksaan Transaksi Khusus 53


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

Transactional Net Margin Method


(TNMM)
 TNMM examines the net profit margin relative to
an appropriate base (e.g. costs, sales, assets) that a
taxpayer realizes from a controlled transaction

 Must be applied in a manner consistent with resale


price / cost plus method

Sub Direktorat 54
Pemeriksaan Transaksi Khusus
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

TNMM compared to
cost plus / resale price method
 Cost Plus/Resale Price methods use gross profit
margins computed after direct and indirect
production/selling costs
◦ no clear line, allowing for some variation in practice, but
generally excludes most operating expenses
◦ e.g. selling, general, and administrative expenses would be
excluded
 TNMM uses net profit margins, i.e. net profit margin
computed after all operating expenses (except interest,
taxes and extraordinary items)

Sub Direktorat 55
Pemeriksaan Transaksi Khusus
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

Choosing the right net margin (1)


 Net profit over sales
◦ useful for distribution, e.g., functions where personnel rather
than capital assets are important to the business
◦ resale price method analogue

 Net profit over costs


◦ useful for manufacturing
◦ cost plus method analogue
◦ measurement consistency (cost basis) may be difficult

Sub Direktorat 56
Pemeriksaan Transaksi Khusus
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

Choosing the right net margin (2)

 Net profit over assets


◦ Asset intensive (certain manufacturing activities) and capital
intensive financial activities
◦ Operating assets only (tangible, intangible and working
capital assets such as inventory and trade receivables)

Sub Direktorat 57
Pemeriksaan Transaksi Khusus
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

Transactional Net Margin Method (TNMM)


Keunggulan Kelemahan Sesuai digunakan
untuk
• Net profit indicators (e.g. return on • Net profit indicator dapat Cost Plus Analogue:
assets, operating profit to sales, dipengaruhi oleh faktor yang •(Contract) Manufacturer
etc.) kurang dipengaruhi oleh tidak berpengaruh signifikan
terhadap harga atau gross •Service Provider not adding
perbedaan transaksional daripada
margins, sehingga sulit significant unique intangibles
harga.
menentukan arm’s length net Resale Price Analogue:
• Net profit indicators lebih toleran profit indicators yang handal. •Distributor not adding
terhadap perbedaan beberapa
• WP mungkin tidak memiliki significant value to the
fungsi antara controlled and
akses terhadap specific product
uncontrolled transactions.
information on the net profits Asset Based TNMM:
• Net profit indicators dapat dari transaksi pembanding. •Manufacturer if reasonably
menghindari masalah ketersediaan
reliable comparables for Cost
data publik terkait dengan
Plus or cost based TNNM
klasifikasi biaya pada gross atau
unavailable
operating profits.
Sub Direktorat Pemeriksaan Transaksi Khusus 58
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

5. Profit Split Method (Residual Analysis)


P/L of Parent Company P/L of Subsidiary Company
Sales XX.XXX Sales XX.XXX
COGS X.XXX COGS X.XXX
SG&A X.XXX SG&A X.XXX
OP X.XXX OP X.XXX

Profit of Parent Co Profit of Subsidiary

Combined Profits

Ordinary profit of Ordinary Profit of


Residual Profit
Parent Company Subsidiary

Ordinary profit of Residual Profit of Residual Profit of Ordinary Profit of


Parent Company Parent Co Subsidiary Co Subsidiary

Sub Direktorat Pemeriksaan Transaksi Khusus


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

Profit Split (1)


Keunggulan Kelemahan Sesuai diterapkan
untuk
• Lebih fleksibel dalam • Sulit untuk mendapatkan akses Residual Profit Split
memperhitungkan informasi dari foreign affiliates, (Residual Analysis):
specific, possibly khususnya ketika foreign affiliate is •Highly integrated
unique, facts and the parent company or a sister transactions, e.g.
circumstances of the company daripada a subsidiary of global trading of
associated the taxpayer financial instruments
enterprises that are • Sulit mengukur kombinasi revenue
•Transactions where
not present in dan costs untuk semua associated
independent both parties make
enterprises yang berpartisipasi unique and valuable
enterprises. dalam controlled transactions, contributions (e.g.
• Cenderung kurang yang membutuhkan metode intangibles) to the
mendasarkan pembukuan dengan basis yang transaction
informasi dari sama dan membuat penyesuaian
independent dalam praktik akuntansi dan mata
Subenterprises
Direktorat Pemeriksaan Transaksi
uang. Khusus 60
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan

Profit Split (2)


Keunggulan Kelemahan Best applied to
• Kecil kemungkinan salah • Ketika diaplikasikan untuk Residual Profit Split
satu pihak yang terlibat operating profit, mungkin (Residual Analysis):
dalam transaksi afiliasi sulit untuk mengidentifikasi
akan menghasilkan profit operating expenses yang •Highly integrated
yang ekstrim atau mustahil berkaitan dengan transaksi transactions, e.g. global
karena semua pihak yang tersebut dan trading of financial
bertransaksi dievaluasi. mengalokasikan cost antar instruments
transaksi dan aktivitas lain •Transactions where
• Two-sided approach dapat dari perusahaan afiliasi.
digunakan untuk mencapai both parties make
keekonomian skala yang unique and valuable
contributions (e.g.
dapat memuaskan baik WP
maupun kantor pajak. intangibles) to the
transaction

Sub Direktorat Pemeriksaan Transaksi Khusus 61


5. TREATY ABUSE/TREATY SHOPPING

Pengertian:
Situasi dimana seseorang yang tidak berhak atas
manfaat tax treaty, namun menggunakan individu
lain atau badan hukum lain sehingga dapat
memperoleh manfaat tax treaty yang tidak
tersedia secara langsung.
(Diterjemahkan dari IBFD International Tax Glossary, 2005)

62
5.TREATY ABUSE /TREATY SHOPPING

Bunga
PPh: 0%/10%
Investasi Ekuitas
menurut
P3B RI-Belanda

Perusahaan
Belanda
BELANDA

INDONESIA

Pinjaman, sebesar
penghasilan bunga Pinjaman

Tn. Budiman PT XYZ

63
5.ANTI TREATY ABUSE INDONESIA
Dasar Hukum:
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-62/PJ/2009 tentang
Pencegahan Penyalahgunaan P3B sebagaimana telah diubah dengan
PER-24/PJ/2010.

Pengertian Penyalahgunaan P3B (Treaty Abuse) menurut DJP:


1. Transaksi yang tidak mempunyai substansi ekonomi dilakukan
dengan menggunakan skema/struktur sedemikian rupa dengan
maksud semata-mata untuk memperoleh manfaat P3B;
2. Transaksi dengan struktur/skema yang format hukumnya (legal
form) berbeda dengan substansi ekonomisnya (economic
substance) sedemikian rupa dengan maksud semata-mata untuk
memperoleh manfaat P3B; atau
3. Penerima penghasilan bukan merupakan pemilik manfaat yang
sebenarnya atas manfaat ekonomis dari penghasilan (beneficial
owner).
5.ANTI TREATY ABUSE INDONESIA
Pengertian beneficial owner adalah penerima penghasilan yang:
1. Bertindak bukan sebagai agen;
2. Bertindak bukan sebagai nominee;
3. Bukan perusahaan conduit.

Anti treaty abuse Indonesia memuat dua jenis safe harbor, yaitu:
1. Appointed persons, yaitu orang atau badan yang secara tegas
dianggap tidak melakukan penyalahgunaan P3B,
2. Qualified persons, yaitu orang atau badan di luar appointed persons,
namun memenuhi seluruh kriteria test.

Dalam hal terjadi penyalahgunaan P3B, maka:


1. P3B tidak dapat diterapkan, dan
2. Perlakuan perpajakan sepenuhnya sesuai dengan ketentuan UU PPh.
5.ANTI TREATY ABUSE INDONESIA
Safe harbor:
Orang atau badan yang dianggap tidak melakukan
penyalahgunaan P3B:
1. Individu yang tidak bertindak sebagai agen atau nominee;
2. Lembaga yang namanya disebutkan secara tegas dalam P3B atau yang
telah disepakati oleh pejabat yang berwenang di Indonesia dan di
negara mitra P3B;
3. WPLN yang menerima atau memperoleh penghasilan melalui
Kustodian sehubungan dengan penghasilan dari transaksi pengalihan
saham atau obligasi yang diperdagangkan atau dilaporkan di pasar
modal di Indonesia, selain bunga dan dividen, dalam hal WPLN
bertindak tidak sebagai Agen atau Nominee.
4. Dana pensiun yang pendiriannya sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan di negara mitra P3B dan merupakan subjek
pajak di negara mitra P3B;
5. bank; atau
5. ANTI TREATY ABUSE INDONESIA
6. perusahaan yang memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Bagi perusahaan yang menerima atau memperoleh penghasilan yang di
dalam pasal P3B terkait tidak mengatur persyaratan beneficial owner,
yaitu pendirian perusahaan atau pengaturan struktur/skema transaksi
tidak semata-mata ditujukan untuk pemanfaatan P3B;
b. Bagi perusahaan yang menerima atau memperoleh penghasilan yang di
dalam pasal P3B terkait mengatur persyaratan beneficial owner, yaitu:
1) pendirian perusahaan atau pengaturan struktur/skema transaksi tidak
semata-mata ditujukan untuk pemanfaatan P3B; dan
2) Kegiatan usaha dikelola manajemen sendiri yang mempunyai kewenangan
yang cukup untuk menjalankan transaksi; dan
3) Perusahaan mempunyai pegawai; dan
4) Mempunyai kegiatan atau usaha aktif; dan
5) Penghasilan yang bersumber dari Indonesia terutang pajak di negara
penerimanya; dan
6) Tidak menggunakan lebih dari 50% dari total penghasilannya untuk
memenuhi kewajiban kepada pihak lain dalam bentuk, seperti: bunga,
royalti, atau imbalan lainnya.
6. Hubungan Istimewa
(Associated Enterprises)
Menurut Psl 18 ayat 4 UU PPh, Hubungan Istimewa jika:
1. Wajib Pajak mempunyai penyertaan modal langsung atau
tidak langsung paling rendah 25% (dua puluh lima persen)
pada Wajib Pajak lain; hubungan antara Wajib Pajak
dengan penyertaan paling rendah 25% (dua puluh lima
persen) pada dua Wajib Pajak atau lebih; atau hubungan di
antara dua Wajib Pajak atau lebih yang disebut terakhir;
2. Wajib Pajak menguasai Wajib Pajak lainnya atau dua atau
Lebih Wajib Pajak berada di bawah penguasaan yang sama
baik langsung maupun tidak langsung; atau
3. Terdapat hubungan keluarga baik sedarah maupun
semenda dalam garis keturunan lurus dan/atau ke samping
satu derajat
Elements of associated enterprises
(Hubungan Istimewa)
1. De Jure Control: shareholding/voting
rights =ada hak suara.
2. De Facto Control: power to govern
financial and operational policies of
enterprise to own benefit
Associated enterprises - beberapa
negara
• Germany:
– Sunstantial participation (holding of at least 25%)
– Controlling influence
– Influence caused by non-business relationship
– Interest in income of other person
• Japan:
– Direct or indirect ownership of at least 50% of shares
– Special reltionship enabling to substantially determine
business policies of other enterprises
• USA:
– Parties owned or controlled directly or indirectly by same
interests
7. Special Purpose Company
Pasal 18 (3c) UU PPh
 Penjualan atau pengalihan saham perusahaan antara
(conduit company atau special purpose company) yang
didirikan atau bertempat kedudukan di negara yang
memberikan perlindungan pajak (tax haven country)
yang mempunyai hubungan istimewa dengan badan
yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia
atau bentuk usaha tetap di Indonesia dapat ditetapkan
sebagai penjualan atau pengalihan saham badan yang
didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia atau
bentuk usaha tetap di Indonesia.
Pasal 18 ayat (3b) UU PPh
 Wajib Pajak yang melakukan pembelian saham atau
aktiva perusahaan melalui pihak lain atau badan
yang dibentuk untuk maksud demikian (Special
Purpose Company), dapat ditetapkan sebagai pihak
yang sebenarnya melakukan pembelian tersebut
sepanjang Wajib Pajak yang bersangkutan
mempunyai hubungan istimewa dengan pihak lain
atau badan tersebut dan terdapat ketidakwajaran
penetapan harga.
Pasal 18 (3d) UU PPh
 besarnya penghasilan yang diperoleh Wajib Pajak
orang pribadi dalam negeri dari pemberi kerja yang
memiliki hubungan istimewa dengan perusahaan
lain yang tidak didirikan dan tidak bertempat
kedudukan di Indonesia dapat ditentukan kembali,
dalam hal pemberi kerja mengalihkan seluruh atau
sebagian penghasilan Wajib Pajak orang pribadi
dalam negeri tersebut ke dalam bentuk biaya atau
pengeluaran lainnya yang dibayarkan kepada
perusahaan yang tidak didirikan dan tidak
bertempat kedudukan di Indonesia tersebut.
8. Tax Haven Country
Adalah negara yang dianggap “surga pajak”, yaitu
Lampiran Khusus (3A, 3A-1 dan 3A-2, atau 3B, 3B-1 dan 3B-2) PER-
34/PJ/2010
• Negara yang mengenakan tarif pajak rendah atau negara yang
tidak mengenakan PPh; atau
• Negara yang menerapkan kebijakan kerahasiaan bank dan tidak
melakukan pertukaran informasi.
– Negara yang mengenakan tarif rendah adalah negara yang
mengenakan tarif pajak atas penghasilan lebih rendah 50% dari
tarif badan di Indonesia. (untuk tahun 2009 lebih rendah dari 14%
dan untuk tahun 2010 lebih rendah dari 12,5%)
– Negara yang menerapkan kebijakan kerahasiaan bank dan tidak
melakukan pertukaran informasi adalah negara atau jurisdiksi
yang berdasarkan perundang-undangannya melarang pemberian
informasi nasabahnya, termasuk untuk keperluan informasi yang
berkaitan dengan perpajakan