You are on page 1of 110

(K5) KONSELING,HUBUNGAN DOKTER

PASIEN, KONSULTASI- RUJUKAN,

Achmad Ridwan MO
achmad.ridwanmo@yahoo.com
Sub pokok bahasan
1. Konseling
2. Hubungan Dr-Pasien (Komunikasi efektif/
Konsultasi dr-pasien)
3. Konsultasi –TS Rujukan
KONSELING DALAM
KEDOKTERAN KELUARGA
3
Tujuan Pembelajaran
• Mahasiswa memahami definisi konseling
• Mahasiswa memahami proses konseling
• Mahasiswa mengetahui teknik konseling

4
Pengertian Konseling
 Konseling adalah hubungan komunikasi antara
Dokter dengan Pasien yang bertujuan untuk
mengenali dan memecahkan masalah kesehatan yang
dihadapi. Dalam Konseling, pengambilan keputusan
adalah tanggung jawab Pasien.
 Adalah st proses dimana seseorang membantu seorg
lain dlm membuat keputusan atau mencari jalan utk
mengatasi masalah, melalui pemahaman ttg fakta2
dan perasaan yg terlibat didalamnya

5
Apa itu Konseling?
 Counselling is a process by means of which
the helper expresses care and concern
towards the person with a problem, and
facilitates that person's personal growth and
brings about change through self-
knowledge

6
Apa itu Konseling?
 Itis designed to help people to understand
and clarify their views, and learn how to
reach their self-determined goals through
meaningful, well-informed choices, and
through the resolution of emotional or
interpersonal problems.

7
Manfaat Konseling
1. Dapat lebih meningkatkan pemahaman pasien
ttg dirinya dan masalah kes yg sdg dihadapi
spy pasien dpt menyesuaikan sikap dan
perlakunya shg tdk memperberat penyakit
2. Dpt lebih meningkatkan kepercayaan diri
pasien dlm menghadapi masalah kesehatan
3. Dpt lbh meningkatkan kemandirian pasien dlm
menghadapi penyakitmendorong tg jwab
menghadapi penyakit yg sering diderita
8
Dua hal penting utk diperhatikan
dalam konseling
1. Hak Pasien (10 Hak: info,akses,memilih,
keamanan/keselamatan, kerahasiaan, privasi,
harkat martabat, kenyamanan, kesinambungan,
berpendapat)
2. Nilai dan Sikap
1. Nilai=prinsip, standar atau pedoman yg diyakini
dan diangap penting oleh individu.
2. Sikap=kesiapan individu utk bertindak sesuai
perasaan dan pikirannya, berdasarkan nilai-nilai yg
diyakini. 9
Contoh Nilai dan sikap
 Contoh
 Ibu Nina menganjurkan temannya memakai
IUD (=tingkah laku), karena ia puas memakai
IUD, jadi setuju dg IUD (Sikap)
 Pak Heri melarang isterinya memakai program
KB (=tingkah laku), karena ia tidak setuju KB
(=sikap). Menurut Pak heri “ banyak anak
banyak rezeki” (=nilai).

10
Kenapa perlu memahami
konseling?
 Dokter  bertemu dg pasien yg memiliki ‘masalah
kehidupan.
 Keadaan depresi, kesepian, kesulitan uang
keluhan lelah, lemah, sulit tidur, nyeri perut, sakit
kepala
 Pasien tidak menceritakan masalah hidupnya
menganggap tidak pantas dibicarakan kepada dokter
 Jika keluhan berupa masalah kesehatan pantas
dibicarakan kepada dokter
11
Kenapa perlu memahami
konseling?
 Dokter perlu memahami latar belakang
‘masalah kehidupan’ untuk dapat
memberikan tata laksana yang tepat
 Konseling : membantu pasien
menyelesaikan permasalahannya sebagai
bagian dari pelayanan medis

12
Kenapa perlu memahami
konseling?
 Pasien dengan keluhan dispepsia, sulit tidur,
tekanan darah tinggi : wanita, 50 th, ibu rumah
tangga, suami telah meninggal dunia,
 Jika dokter tidak paham ‘masalah kehidupan’
pasien hanya memberikan resep obat
(captopril, ranitidine, ctm) bgmn ?

13
Kenapa perlu memahami
konseling?
 Jika dokter paham ‘masalah kehidupan’ pasien, apa
yang dapat dilakukan dokter ???
 Pasien memiliki 1 org anak penderita schizophrene,
tiga anak lainnya normal dan sudah bekerja
 Tanyakan apa yg menjadi kekhawatiran pasien.
Biaya ? Sarankan solusi :
–Terangkan kondisi pasien pd 3 anak yg normal,
minta membantu & perhatikan ibu
–Keluarga tak mampu PBI Jamkesnas
14
Tiga Fase Konseling

 Relationship Building
 Exploration and Understanding
 Rational Discussion

15
Relationship Building
 Siap dan mau untuk mengunjungi pasien
 Mendengar pasien secara hati-hati
 Mencoba memahami perasaan dan fikiran
yg disampaikan
 Menstruktur, paraphrase, merefleksi dan
menympulkan pernyataan pasien
Beri perhatian ke pasien, kembangkan
sebuah hubungan yg mendukung.
16
B. Exploration and Understanding
 Dokter lebih lanjut masuk kedlm dunia pasien
 Dokter memerlukan ketrampilan probing,
pemberi informasi, klarifikasi utk memastikan
arti pesan dan perasaan yg disampaikan pasien
Tujuan: untuk memungkinkan memperoleh
pemahaman lebih baik, situasinya, dan masalah
yg dia hadirkan
Pasien ditolong, menghadapi diri sendiri dan
dimotivasi melalui diskusi u pemecahan masalah
17
C. Rational Discussion

 Tujuan:Untuk meenolong pasien menghadapi


masalah dg cara sehat dan rasional
3 fase :
1.Problem definition and assessment
2.Therapeutic goal setting and implementation
3.Termination and evaluation

18
C1.Problem definition and
assessment

 Mendefinisikan masalah diantara keluhan


yg bervariasi, kompleks dan luas

19
C2. Therapeutic goal setting and
implementation
 Memperoleh harapan perbaikan sespesipik
dan sejelas mungkin
 Dokter mendefinisikan sebuah gejala-gejala
sasaran atau outcome spesifik=harapan
pasien utk dicapai
  negosisasi untuk memodifikasi harapan
yg tdk realistik dan untuk mengarahkan ke
tujuan yg dpt disetujui timbal balik
20
C2. Therapeutic goal setting and
implementation
 Dokterdan pasien: membangun sebuah
kontrak therapeutik

 Doktermelibatkan pasien dalam menggali


cara berfikir dan berperilaku baruuntuk
mencapai tujuan therapeutik

21
C3. Termination and evaluation

 Menilaiperubahan dicapai Evaluate the


change achieved mengenali kebutuhan
untuk mengerjakan kerja lebih lanjut atau
menerima situasi-situasi tidak
berubah/tidak dapat dirubah

22
Tingkatan ketrampilan konseling

KONFRONTASI
(Membedakan, mengetahui ktdk sesuaian)

KETRAMPILAN
MEMPENGARUHI

KETRAMPILAN MENDENGAR
& BERTANYA

KETRAMPILAN OBSERVASI DAN


MEMANFAATKAN HUBUNGAN (Memberi perhatian,
Tatap muka sesuai budaya, ucapan verbal, kual suara, bhs tbh) 23
Ciri-ciri Konseling
1. Konseling sebagai proses yang dapat membantu
Pasien dalam:
a. memperoleh informasi tentang masalah
kesehatan keluarga yang benar;
b. memahami dirinya dengan lebih baik;
c. menghadapi masalah-masalahnya sehubungan
dengan masalah kesehatan keluarga yang
dihadapinya;
d. mengutarakan isi hatinya terutama hal-hal yang
bersifat sensitif dan sangat pribadi;
24
Ciri-ciri konseling

e. mengantisipasi harapan-harapan, kerelaan


dan kapasitas merubah perilaku;
f. meningkatkan dan memperkuat motivasi
untuk merubah perilakunya; dan/atau
g. menghadapi rasa kecemasan dan ketakutan
sehubungan dengan masalah kesehatan
keluarganya.

25
Ciri-ciri konseling

2 Konseling bukan percakapan tanpa tujuan


 Konseling diadakan untuk mencapai tujuan
tertentu antara lain membantu Pasien
untuk berani mengambil keputusan
dalam memecahkan masalahnya.
3. Konseling bukan berarti memberi nasihat
atau instruksi pada Pasien untuk sesuatu
sesuai kehendak dokter
26
Ciri-ciri Konseling

4. Konseling berbeda dengan konsultasi maupun


penyuluhan
 Dalam konsultasi, pemberi nasehat memberikan nasehat
seakan-akan dia seorang “ahli" dan memikul tanggung
jawab yang lebih besar terhadap tingkah laku atau
tindakan Pasien, serta yang dihadapi adalah masalah.

 Sedangkan penyuluhan merupakan proses penyampaian


informasi kepada kelompok sasaran dengan tujuan
meningkatkan kesadaran masyarakat.
27
Langkah-langkah kegiatan Konseling
sebagai berikut:
1. Persiapan (P1)
a. menyiapkan tempat yang aman, nyaman
dan tenang;
b. menyiapkan daftar pertanyaan untuk
mendapatkan informasi yang dibutuhkan;
c. menyiapkan media informasi dan alat
peraga bila diperlukan seperti poster,
lembar balik, leaflet, maket (jamban sehat,
dan lain-lain) serta alat peraga lainnya.
28
Langkah-langkah kegiatan Konseling
sebagai berikut:

2. Pelaksanaan (P2)
 Dalam pelaksanaan, dokter menggali data/informasi
kepada Pasien atau keluarganya, sebagai berikut:
1. umum, berupa data individu/keluarga dan data
lingkungan;
2. khusus, meliputi:
a. identifikasi perilaku/kebiasaan;
b. identifikasi kondisi kualitas kesehatan lingkungan;
c. dugaan penyebab; dan
d. saran dan rencana tindak lanjut.
29
Ada enam langkah dalam melaksanakan
Konseling yang biasa disingkat dengan
"SATU TUJU“/GATHER

 SA = Salam, Sambut (Great):


a. Beri salam, sambut Pasien dengan hangat.
b. Tunjukkan bahwa Anda memperhatikannya, mengerti
keadaan dan keperluannya, bersedia menolongnya dan mau
meluangkan waktu.
c. Tunjukkan sikap ramah.
d. Perkenalkan diri dan tugas Anda.
e. Yakinkan dia, bahwa Anda bisa dipercaya dan akan
menjaga kerahasiaan percakapan anda dengan Pasien.
f. Tumbuhkan keberaniannya untuk dapat mengungkapkan
diri.
30
Langkah-langkah konseling
T – tanyakan (Ask) :
a. Tanyakan bagaimana keadaan atau minta Pasien untuk
menyampaikan masalahnya pada Anda.
b. Dengarkan penuh perhatian dan rasa empati.
c. Tanyakan apa peluang yang dimilikinya.
d. Tanyakan apa hambatan yang dihadapinya.
e. Beritahukan bahwa semua keterangan itu diperlukan
untuk menolong mencari cara pemecahan masalah yang
terbaik bagi Pasien.
31
Langkah-langkah konseling

 U-Uraikan (Tell):
 Uraikan tentang hal-hal yang ingin diketahuinya
atau anda menganggap perlu diketahuinya agar
lebih memahami dirinya, keadaan dan
kebutuhannya untuk memecahkan masalah.
Dalam menguraikan anda bisa menggunakan
media Komunikasi, Informasi, dan Edukasi
(KIE) supaya lebih mudah dipahami.

32
Langkah-langkah konseling
 TU – Bantu (Help) :
 Bantu Pasien mencocokkan keadaannya dengan
berbagai kemungkinan yang bisa dipilihnya untuk
memperbaiki keadaannya atau mengatasi masalahnya.
 J – Jelaskan (Explain) :
 Berikan penjelasan yang lebih lengkap mengenai cara
mengatasi permasalahan yang dihadapi Pasien dari segi
positif dan negatif serta diskusikan upaya untuk
mengatasi hambatan yang mungkin terjadi. Jelaskan
berbagai pelayanan yang dapat dimanfaatkan untuk
memecahkan masalah tersebut. 33
Langkah-langkah konseling
U – Ulangi (Return):
 Ulangi pokok-pokok yang perlu diketahui
dan diingatnya. Yakinkan bahwa anda
selalu bersedia membantunya. Kalau Pasien
memerlukan percakapan lebih lanjut
yakinkan dia bahwa anda siap
menerimanya.

34
Tindak Lanjut
Setelah proses SATU TUJU dilaksanakan, dokter
menindaklanjuti dengan:
1. melakukan penilaian terhadap komitmen Pasien
(Formulir tindak lanjut konseling) yang telah diisi dan
ditandatangani untuk mengambil keputusan yang
disarankan, dan besaran masalah yang dihadapi;
2. menyusun rencana kunjungan rumah untuk Inspeksi
sesuai hasil Konseling; dan
3. menyiapkan langkah-langkah untuk intervensi.

35
CONTOH TINDAK LANJUT KONSELING

 Dengan ini saya menyatakan telah mengerti dan


memahami hasil Konseling yang diberikan oleh dokter
… dan selanjutnya akan saya lakukan hal-hal sebagai
berikut:
NO REKOMENDASI TINDAK KETERNGAN
LANJUT
1
2

Catatan Pasien (masukan dan saran):


1. …………..
2. …............ Tempat, Tgl
Pasien/keluarga Pasien
(……………………………) 36
How to conduct counselling ?

37
The BATHE technique in counselling

•Stuart and lieberman’s “15-minute hour”


method of primary care counselling
•B ackground
•A ffect
•T rouble
•H anding
•E mpahty
38
The BATHE technique in counselling

 B Background “bagaimana hal-hal dirumah?” “di


tempat kerja?”
 A Affect
“bagaimana perasaan anda tentang pekerjaan?”
“bagaimana perasaan anda tentang kehidupan rumah
tanggga ?”
 T Troubling
(Tanyakan berapa banyak masalah pasien menggang-
gunya)
“Bagaimana stress anda dengan masalah ini?” 39
The BATHE technique in counselling

H Handling
(Perilaku mengatasi masalah yg telah di lakukan)
 “Apa telah anda coba untuk memecahkan masalah?”
 “siapa yg memberikan anda dukungan untuk
menghadapai masalah ini?”
 E Empathy
 (Menyampaikan pemahaman kesedihan pasien)
 “Itu pasti telah menyulitkan”
 “Saya dapat mengerti bahwa anda merasa marah”

40
KOMUNIKASI EFEKTIF
/KONSULTASI DR-PASIEN
41
Core Skills of Effective
Communication
Antara Anamnesis Biopsikososiospiritual dan
Diagnosis Holistik harus Inline

Diagnosis Holistik
- Komunikasi
- Aspek Personal
- Isi : Pesan yang disampaikan
- Proses : Bagaimana pesan - Aspek Klinis
tersebut disampaikan - Aspek Faktor Risiko
- Perseptual : Bagaimana kita
mengolah pesan termasuk
Internal
clinical reasoning - Aspek Faktor Risiko
(intrapersonal
communication)
Eksternal
- Derajat Fungsional
(1-5)
Perhatian !

Sesi ini menitikberatkan bagaimana cara atau


“PROSES”

ISI sangat tergantung pada DISEASE/ILLNESS


apa yang kita hadapi dan tetap pada prinsip
holistik komprehensif
Sub Pokok Bahasan

 Establishinginitial rapport
 Bahasa non verbal
 Keterampilan mendengar aktif (Active
listening)
 Keterampilan bertanya
(Raising question)
1

Hubungan antara dokter dan pasien = rapport.

• Faktor terpenting dalam komunikasi


• Harus dibangun sejak awal berjumpa dengan pasien
• Bangun kembali (re-establish) rapport di setiap
kunjungan pasien
Titik Awal
 Kontak mata, senyum tulus, menyapa pasien
dengan nama, jabat tangan (jika pasien bersedia),
perkenalkan diri anda
 Bina suasana dengan topik non medis (chit- chat)
 Bisa dilakukan sambil bertanya identitas pasien
dan keluarganya
 Lakukan se-natural mungkin dan tidak harus
panjang
Mempercepat terbentuknya Rapport
dengan Matching dan Mirroring
 Matching mirroring adalah keterampilan dasar rapport
building berdasarkan Neuro Linguistik Programming (NLP)
 Pada prinsipnya matching dan mirroring adalah mencari
titik titik kesamaan seperti bahasa, budaya,
pengalaman, hobby dll
 Seperti halnya anda bertemu orang asing di pesawat,
suasana akan langsung cair saat anda mengetahui bahwa
orang itu ternyata :
– Satu SMA dengan anda.Satu marga dengan anda
– Satu universitas dengan anda, dll
(2) Bahasa Non Verbal (Rahmat, 2008)
 Proksemic : Jarak antara dokter dan pasien
 Intimate : Physical Contact to 0.5 m (saat pemeriksaan
fisik)
 Personal : 0.5 m – 1.25 m (jarak ideal), tidak dipisahkan
oleh meja
 Social : 1.25 m – 3.5 m
 Public : 3.5 m – 7.5 m
 Kinesic : ekspresi wajah, gestur atau gerakan
sebagian anggota badan
 Paralinguistic : ritme, nada, volume suara
 Artifactual : penampilan profesional dokter
(medical attire)
MEDICAL ATTIRE
at•tire (əˈtaɪər)
v. -tired, -tir•ing,
n. v.t.1. to dress, array, or adorn, esp. for fancy or ceremonial
occasions.
n.2. clothes or apparel, esp. rich or splendid garments.
: to put garments on
Perhatikan Bahasa Non Verbal pasien
 Bahasa tubuh dan perilaku pasien bisa berhubungan dengan
kesehatan pasien, tanda-tanda vital, kompensasi kondisi
jantung/paru, fungsi hati dll
 Wajah dapat dipakai untuk skala nyeri (VAS)
 Usahakan untuk mendeteksi respon atau bahasa tubuh yang
tidak wajar (kemungkinan psikosis, depresi dan gangguan jiwa
lain)
 Usahakan untuk mendeteksi kemungkinan konsumsi alkohol
dan obat-obatan.
(3) Mendengar Aktif (Active Listening)

Keterampilan mendengar aktif oleh seorang


dokter akan mendorong pasien berbagi
informasi baik verbal maupun non verbal
Every good conversation starts
with
good listening
Keterampilan Mendengar Aktif

Keterampilan Mendengar Aktif meliputi 4 hal :


1. Memberikan Perhatian (Attending)
2. Refleksi Isi (Reflection of content -
Paraphrasing)
3. Refleksi Perasaan (Reflection of feelings)
4. Menyimpulkan (Summarising)
Memberikan Perhatian (Attending)

Mengekspresikan perhatian kita kepada pasien secara


verbal dan non verbal

“Attending” membantu dokter


 Memahami pasien dengan lebih baik melalui observasi mendalam

“Attending” membantu pasien


 Merasa rileks dan nyaman
 Meng-ekspresikan ide-ide perasaanya secara bebas sesuai
keinginanya
 Percaya dengan dokternya
 Memposisikan diri secara lebih aktif dalam wawancara
Keterampilan Memberi Perhatian
Memberikan perhatian dapat ditunjukkan dengan :
 Melakukan kontak mata dan ekspresi wajah yang
sesuai
 Postur tubuh yang relaks dan mencondongkan diri ke
depan (lean forward) untuk memberi perhatian,
menggunakan gerakan tangan yang natural
 Anggukan kepala dan respon verbal pendek yang
menunjukkan perhatian seperti “O begitu ya” atau
“Ya” atau “Mmm”
 Observasi bahasa tubuh pasien agar kita dapat segera
memberikan respon dengan melakukan refleksi perasaan
Saya merasa
Contoh : bingung
dok...mau tidur
rasanya sulit
Mm...gitu
ya
Baru tidur
mengangguk) sebentar
sudah
terbangun..

Begitu Rasanya hidup


ya.. dikejar-kejar
masalah...
Refleksi Isi
(Reflection of Content/paraphrasing)

Refleksi isi adalah saat dokter menekankan


isi pembicaraan pasien dengan bahasanya
sendiri tetapi memiliki maksud yang sama.
Refleksi isi bukan membeo !!!
 Refleksi isi lebih pendek dari kata kata
pasien.
 Tujuannya adalah mengkomunikasikan
kepada pasien bahwa kita memperhatikan
dan memahami maksud pasien. 60
Contoh
Perut saya ini dok nyeri sekali
sejak semalam, seperti diremas
remas, kayak rasanya mau
pingsan...saya cuma kompres
botol panas saja....

Oh jadi ibu
mengalami nyeri
perut ya
semalam,.. Ya dok
Refleksi Perasaan

Refleksi perasaan adalah saat dokter


mengekspresikan perasaan pasien baik
menekankan atau menegaskan sehingga
pasien merasa dokter memahami
perasaannya.

Pasien menangis tidak dilarang !


Example of reflection of feelings
Maaf dok....saya ingin pakai alat
KB tapi suami saya selalu tidak
setuju. Padahal untuk saat ini
saya takut hamil lagi....saya belum
siap...

Kelihatanya ibu
bingung....ibu takut
hamil lagi tapi betul
suami tidak setuju dok

ibu pakai alat KB


Menggabungkan Refleksi Isi &
Perasaan
Dok saya ingin pakai alat KB, tapi
kalau pakai pil bisa bikin gemuk,
kalau spiral bisa infeksi, gimana
ya dok ya ?

Kelihatannya ibu
bingung
mendengar
bermacam-macam Ya
dok
pendapat orang
tentang KB ya....
Menyimpulkan (Summarising)

Summarising adalah cara yang penting untuk


mendapatkan inti dari semua yang sudah
diutarakan oleh pasien. Dapat disertai semua
refleksi secara bersama-sama.
Example of summarising
Kita tadi mendiskusikan sikap suami ibu
yang tidak setuju jika ibu memakai alat
KB padahal ibu merasa masih belum siap
untuk hamil. Ibu masih ingin
membesarkan anak yang masih kecil. Ibu
juga merasa sikap suami tidak
meyakinkan ibu untuk hamil lagi karena
suami sering cuek dan sibuk sendiri.
Puncaknya, setiap malam ibu sering sulit Ya dok
tidur dan nyeri di bagian ulu hati. Begitu sepertinya
ya.... begitu
(4) Keterampilan Bertanya
 Open-ended question : Pertanyaan yang
menghasilkan jawaban bebas. Didesain untuk
menggali pengetahuan dan perasaan pasien
tentang masalahnya.
– Contoh : Bisa diceritakan bu sakit dadanya seperti
apa ?
Bisa diceritakan batuknya seperti apa ?
 Closed-endedquestion : Pertanyaan yang
menghasilkan jawaban singkat
– Contoh : Berapa kali buang air besarnya ?
Usia ibu berapa ?
THE CALGARY CAMBRIDGE
OBSERVATION GUIDE
(CCOG)
• Pengembangan
keterampilan
komunikasi holistik
merupakan bagian
penting menjadi
dokter layanan
primer yang baik
Model Komunikasi Dokter – Pasien
1. Kalamazoo Essential Elements: The Communication Checklist

2. Macy Model Checklist-CWRU School of Medicine

3. MISCE—Medical Interview Skills Competency Evaluation

4. Calgary-Cambridge Observation Guide

5. The SEGUE Framework

6. Four Habits Model

7. MAAS-Global Rating List for Consultation Skills of Doctors

8. Arizona Clinical Interview Rating Scale

9. Rochester—Rochester Communication Rating Scale

10. Dsb
The Calgary – Cambridge Model

 The Calgary-Cambridge Model


dikembangkan oleh Jonathan Silverman,
Juliet Draper dan Suzanne Kurtz pada tahun
1996.
 Terdiri dari beberapa struktur yang
digunakan sebagai alat pengajaran
terangkum sebagai The Calgary Cambridge
Observation Guides (CCOG).
PROSES INTERVIEW MEDIS

I. Tradisional

• KELUHAN UTAMA
• RIWAYAT PENYAKIT SAAT INI
• RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
• RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
• RIWAYAT SOSIAL
• RIWAYAT PENGOBATAN DAN
ALERGI
• PERTANYAAN
TAMBAHAN/REVIEW SISTEM
Model Komunikasi Dokter-Pasien
THE CALGARY-CAMBRIDGE GUIDE

Initiating the Sessionn

Gathering Information

Providing Building the


Physical examination relationship
structure
Explanation and Planning

Closing the Session


1/30/2019 73
• Perencanaan
Menutup sesi selanjutnya
konsultasi • Memastikan sesi
konsultasi selesai

• Memberikan sejumlah
informasi yang benar
Memberikan • mengingat lagi dan dimengerti
penjelasan & • Memperoleh kesepahaman;
perencanaan termasuk harapan pasien
• Perencanaan: pengambilan
keputusan bersama
Pemeriksaan
fisik
• Mengeksplorasi masalah pasien
Mengumpulkan • Kemampuan mengetahui
Informasi harapan pasien

• Persiapan
Memulai sesi konsultasin • Menjalin hubungan (Rapport)
1/30/2019
• Mengidentifikasi alasan konsultasi 74
Memulai Sesi Konsultasin
Mengumpulkan Informasi
Memberikan penjelasan dan
perencanaan
Cara Memberi Informasi
• Bahasa sederhana, hindari medical jargon
• Harus benar dan up to date
• Lengkap tetapi diberikan secara bertahap
• Berikan informasi dalam potongan-potongan
dan meneliti pemahaman pasien (chunk and
check)
• Memberikan jeda diantara potongan-potongan
untuk memberi kesempatan pasien mencerna
dan memberikan respon
Menutup sesi konsultasi
Modifikasi THE CALGARY CAMBRIDGE OBSERVATION
GUIDE (CCOG)(35 butir)
Memulai Sesi Konsultasi
1 Menyapa dan menanyakan nama pasien
2 Memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan sesi, meminta persetujuan pasien bila diperlukan
3 Mengidentifikasi masalah pasien atau hal yang ingin dibicarakan pasien menggunakan pertanyaan pembuka yang
sesuai (misal: ”sakit apa?” atau ”ada masalah apa?” atau ”apa yang bisa saya bantu?”)

4 Mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang dikatakan pasien tanpa memotong atau mengarahkan jawaban
pasien.
5 Mengkonfirmasi masalah yang ada dan menanyakan adakah masalah lainnya (mis: ”jadi ada sakit kepala dan
capek-capek, ada lagi yang lain?”
Mengumpulkan Informasi
6 Mendorong pasien menceritakan perjalanan penyakitnya mulai awal sampai saat ini menggunakan kata-katanya
sendiri (gali apa yang menyebabkan kedatangannya hari ini)

7 Menggunakan pertanyaan terbuka dan tertutup dengan tepat, dimulai dengan pertanyaan terbuka dilanjutkan
dengan pertanyaan tertutup.
8 Mendengarkan pasien dengan penuh perhatian, membiarkan pasien menyelesaikan perkataannya tanpa
diinterupsi, memberikan waktu bagi pasien untuk berpikir sebelum menjawab, atau meneruskan pembicaraan
setelah jeda sejenak.
9 Mengamati respon pasien secara verbal maupun non-verbal (mis: mendorong pasien berbicara, memberikan
kesempatan kepada pasien untuk mengatur apa yang akan diutarakan, melakukan refleksi isi, membuat
interpretasi) dan Mengamati komunikasi verbal dan non-verbal pasien (mis: bahasa tubuh, ucapan, ekspresi
wajah), menanyakan kembali dan menanggapi secara tepat.
10 Mengklarifikasi pernyataan pasien bila kurang jelas atau meminta penjelasan lebih lanjut (mis: ”bisa jelaskan apa
yang dimaksud dengan kepala terasa melayang?”)
THE CALGARY CAMBRIDGE OBSERVATION
GUIDE (CCOG)(35 butir)
Membangun Struktur Konsultasi
11 Beberapa kali merangkum pada akhir satu bagian konsultasi untuk memastikan bahwa pengertian dokter
sama dengan pasien sebelum pindah ke bagian berikutnya; meminta pasien mengoreksi bila ada interpretasi
yang kurang tepat atau meminta pasien memberikan penjelasan lebih lanjut.
12 Mengatur pembicaraan dalam urutan yang logis.
13 Memperhatikan waktu untuk setiap bagian konsultasi dan fokus terhadap tujuan konsultasi.

Membangun Hubungan – memfasilitasi keterlibatan pasien


14 Memperlihatkan komunikasi non-verbal yang sesuai.
 Kontak mata, ekspresi wajah
 Sikap tubuh, posisi tubuh, gestures dan gerakan lainnya
 Vokal (mis: kecepatan, volume, intonasi)

15 Jika membaca, menulis catatan atau menggunakan komputer, tidak mengganggu jalannya sesi.
16 Menerima pendapat dan perasaan pasien; tidak menghakimi.
17 Menggunakan empati untuk menyampaikan pengertian dan menghargai perasaan atau situasi yang dihadapi
pasien; secara terbuka menghormati pendapat dan perasaan pasien.

18 Menyampaikan dukungan, memperlihatkan perhatian, pengertian, dan keinginan membantu, menawarkan


kemitraan
19 Memberikan perhatian khusus terhadap hal-hal sensitif yang dapat membuat pasien merasa malu atau
menyakitkan pasien, termasuk pemeriksaan fisik. Menjelaskan alasan pertanyaan atau pemeriksaan fisik yang
mungkin dirasa tidak masuk akal.
20 Saat melakukan pemeriksaan fisik menjelaskan prosesnya dan meminta izin.
THE CALGARY CAMBRIDGE OBSERVATION
GUIDE (CCOG)(35 butir)
Penjelasan & Perencanaan
21 Jumlah tepat dan cek: berikan informasi dalam potongan-potongan yang dapat dimengerti; cek pengertian
pasien; gunakan respon pasien sebagai panduan untuk memberikan informasi selanjutnya, buat urutan
yang logis.

22 Nilai pengetahuan awal pasien: tanyakan apa yang sudah diketahui pasien sebelumnya pada awal
pemberian informasi, tentukan sampai seberapa jauh pasien menginginkan informasi.

23 Berikan penjelasan pada waktu yang tepat: hindari memberikan saran, informasi, dan harapan yang terlalu
dini.
24 Menggunakan pertanyaan dan kalimat yang mudah dimengerti dan ringkas; menghindari penggunaan
istilan medis atau menjelaskan istilah tersebut.
25 Menggunakan metode visual untuk menyampaikan informasi: diagram, model, informasi dan petunjuk
tertulis.
26 Cek pemahaman pasien terhadap informasi (atau perencanaan) yang diberikan: misalnya dengan meminta
pasien mengulangi dengan kata-katanya sendiri, melakukan klarifikasi bila perlu.

27 Menghubungkan penjelasan dengan pandangan pasien: terhadap pemikiran, harapan serta kekhawatiran
yang sudah disampaikan pasien.
28 Memberikan kesempatan dan mendorong pasien untuk berpartisipasi: meminta pasien untuk mengajukan
pertanyaan, meminta klarifikasi serta menyatakan keraguannya, merespon dengan tepat.

29 Jelaskan secara detil pilihan penatalaksanaan.


THE CALGARY CAMBRIDGE OBSERVATION
GUIDE (CCOG)(35 butir)

30 Negosiasikan rencana yang dapat disepakati kedua belah pihak:


o Informasikan apa yang menjadi preferensi kita tentang pilihan yang tersedia
o Tentukan pilihan pasien
31 Cek apakah
o Pasien dapat menerima rencana
o Kekhawatiran pasien telah teratasi
Menutup Sesi Konsultasi
32 Mengikat ’kontrak’ dengan pasien tentang langkah selanjutnya yang akan dilakukan baik oleh pasien
maupun dokter.
33 Antisipasi: jelaskan hal-hal tak terduga yang mungkin terjadi, apa yang harus dilakukan jika rencana tidak
berjalan sebagaimana mestinya, kapan dan bagaimana mencari bantuan.
34 Merangkum sesi secara singkat dan klarifikasi rencana penatalaksanaan.
35 Cek terakhir kali apakah pasien setuju dan merasa nyaman dengan rencana yang telah disusun, tanyakan
apakah masih ada pertanyaan atau hal-hal lain yang masih perlu didiskusikan. (Mis: ”ada pertanyaan lagi
atau masih ada hal yang ingin didiskusikan?”).
Sumber
 Endang Basuki, Mora Claramita,
Herqutanto dan Arief Alamsyah FK UI
Jakarta
 Suzanne Kurtz et al, 2003Suzanne Kurtz et
al, 2003

84
KONSULTASI (DR-TS) & RUJUKAN
DLM YAN DR KELUARGA

85
TUJUAN

Mahasiswa mampu menjelaskan:


1. perbedaan rujukan medis dan rujukan
kesehatan
2. perbedaan konsultasi dan rujukan
3. pembagian wewenang dan tanggungjawab
dalam konsultasi dan rujukan

86
STANDAR KOMPETENSI
DOKTER INDONESIA

Berkomunikasi dengan sejawat


 Memberi informasi yang tepat kepada
sejawat tentang kondisi pasien baik
secara lisan, tertulis, atau elektronik
pada saat yang diperlukan demi
kepentingan pasien maupun ilmu
kedokteran

87
Berkomunikasi dengan sejawat …
 Menulis surat rujukan dan laporan
penanganan pasien dengan benar, demi
kepentingan pasien maupun ilmu kedokteran
 Melakukan presentasi laporan kasus secara
efektif dan jelas demi kepentingan pasien
maupun ilmu kedokteran

88
Konsultasi & Rujukan
 Konsultasi adalah upaya meminta bantuan
profesional penanganan suatu kasus
penyakit yang sedang ditangani oleh seorang dokter
kepada dokter lainnyayang lebih ahli
 Rujukan adalah upaya melimpahkan wewenang
dan tanggungjawab
penanganan kasus penyakit yang sedang ditangani
oleh seorang dokter kepada dokter lain yang sesuai

89
Rujukan Medis

 Pelimpahan wewenang dan tanggung jawab


untuk masalah kedokteran
 Tujuan: untuk menyembuhkan penyakit dan
atau memulihkan status kesehatan pasien

90
Jenis-jenis Rujukan Medis

1. Rujukan pasien (transfer of patient),


penatalaksanaan pasien dari strata
pelayanan kesehatan yang kurang mampu
ke strata pelayanan kesehatan yang lebih
sempurna atau sebaliknya untuk pelayanan
tindak lanjut

91
Jenis-jenis Rujukan Medis
2. Rujukan ilmu pengetahuan (transfer
of knowledge),
 pengiriman dokter/ tenaga kesehatan yang lebih
ahli dari strata pel. kes. Yang lebih mampu ke
strata pelayanan kesehatan yang kurang mampu
untuk bimbingan dan diskusi atau sebaliknya,
untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan

92
Jenis-jenis Rujukan Medis
3. Rujukan bahan pemeriksaan
laboratorium (transfer of specimens),
pengiriman bahanbahan
pemeriksaan bahan laboratorium dari strata
pelayanan kesehatan yang kurang mampu
ke strata yang lebih mampu atau
sebaliknya, untuk tindak lanjut.

93
Rujukan Kesehatan

 Pelimpahan wewenang &tanggungjawab


untuk masalah kesehatan masyarakat
 Tujuan: untuk meningkatkan derajat
kesehatan dan ataupun mencegah penyakit
yang ada di masyarakat

94
Jenis-jenis Rujukan Kesehatan
1. Rujukan tenaga, pengiriman dokter/
tenaga kesehatan dari strata pelayanan
kesehatan yang lebih mampu ke strata
pelayanan kesehatan yang kurang mampu
untuk menanggulangi masalah kesehatan
yang ada di masyarakat atau sebaliknya,
untuk pendidikan dan latihan

95
Jenis-jenis Rujukan Kesehatan
2. Rujukan sarana, pengiriman berbagai
peralatan medis/ non medis dari strata
pelayanan kesehatan yg lebih mampu ke
strata pelayanan kesehatan yang kurang
mampu untuk menanggulangi masalah
kesehatan di masyarakat, atau sebaliknya
untuk tindak lanjut

96
Jenis-jenis Rujukan Kesehatan
3. Rujukan operasional, pelimpahan
wewenang dan tanggungjawab
penanggulangan masalah kesehatan
masyarakat dari strata pelayanan kesehatan
yang kurang mampu ke strata pelayanan
kesehatan yang lebih mampu atau
sebaliknya untuk pelayanan tindak lanjut

97
Karakteristik konsultasi dan
rujukan
1.Ruang lingkup kegiatan,
 konsultasi memintakan bantuan
profesional dari pihak ketiga.
 Rujukan, melimpahkan wewenang dan
tanggung jawab penanganan kasus
penyakit yang sedang dihadapi kepada
pihak ketiga

98
Karakteristik konsultasi dan rujukan

2. Kemampuan dokter,
konsultasi ditujukan kepada dokter yang
lebih ahli dan atau yang lebih pengalaman.
Pada rujukan hal ini tidak mutlak (Misalnya
dr klg cuti, dilimpahkan ke dr klg lain)
3. Wewenang dan tanggung jawab,
konsultasi wewenang dan tanggung
 jawab tetap pada dokter yang meminta
 konsultasi. Pada rujukan sebaliknya. 99
KENAPA PERLU KONSULTASI
&RUJUKAN

1. Karena pesatnya perkembangan ilmu dan


teknologi kedokteran
2. Karena makin bervariasinya kebutuhan
dan tuntan kesehatan keluarga (tdk
mungkin lagi hanya dilakukan oleh satu
dokter)
3. Karena keterbatasan kemampuan dr klg

100
Manfaat konsultasi & rujukan

1. Meningkatkan pengetahuan dan


keterampilan dr klg (bila sistemnya berjalan
sesuai dengan yang seharusnya)
2. Kebutuhan dan tuntutan kesehatan
pasien akan terpenuhi (Pd konsultasi
&Rujukan dpt menghasilkan kerjasama yg
baik antar dokterterbentuk team work->
dl upaya memenuhi kebtuhan &tuntutan
pasie yg sgt variatif) 101
Masalah konsultasi dan rujukan

1. Rasa kurang percaya pasien terhadap


dokter (bila rujukan/ konsultasi inisiatif
dokter)
2. Rasa kurang senang pada diri dokter (bila
rujukan/ konsultasi atas permintaan pasien)
3. Bila tidak ada jawaban dari konsultasi,
melainkan mengambil alih wewenang &tg
jwb atau tdk dirujuk balik.
102
Masalah konsultasi dan rujukan

4. Bila tidak sependapat dengan saran/


tindakan dokter konsultan (second opinion)
5. Bila ada pembatas (sikap/ perilaku, biaya,
transportasi)
6. Apabila pasien tidak bersedia untuk
dikonsultasikan dan ataupun dirujuk.

103
Tata cara
konsultasi dan rujukan

 Dasar: (1) kepatuhan thd kode etik profesi


yg telah disepakati bersama, (2) dan sistem
kesehatan terutama sub sistem pembiayaan
kesehatan yang berlaku
 Konsultasi formal mencakup bbrp langkah
sbb: (McWhinney, 1981):
a. Alasan dilakukan konsultasi harus
dijelaskan selengkap-lengkapnya kepada
pasien 104
Tata cara
konsultasi dan rujukan
b. Dr yg melakukan konsultasi harus
berkomunikasi secara langsung dengan dokter
konsultan (surat, form khusus, catatan di rekam
medis, formal/ informal lewat telfon
c. Keterangan lengkap tentang pasien, tetapi tdk
berlebihan.
d. Dr yg dimintai Konsultasi bersedia memberikan
konsultasi dan bersedia merujuk kembali bl tlh
selesai (sesuai Kode etik profesi)
105
Tata cara rujukan

 Pd pelayanan dr klg , pelimpahan


wewenang tg jwb tdk bersifat tetap, tetapi
terbatas hanya pada masalah penyakit yang
dirujuk saja.
 Tetap berkomunikasi antara dokter
konsultan dan dokter yg meminta rujukan
 Perlu disepakati pembagian wewenang dan
tanggungjawab masing-masing pihak 106
Pembagian
wewenang & tanggungjawab

1. Interval referral, pelimpahan wewenang


dan tanggungjawab penderita sepenuhnya
kepada dokter konsultan untuk jangka
waktu tertentu, dan selama jangka waktu
tersebut dokter tsb tidak ikut
menanganinya. Misalnya pd penyakit yg
cukup serius/dr klg sedang cuti.

107
Pembagian
wewenang & tanggungjawab

2. Collateral referral, menyerahkan wewenang dan


tanggungjawab penanganan penderita hanya untuk
satu masalah kedokteran khusus saja.Misalnya
penangnan glaukoma ke Dr SpM, yg lain tetap di
tangan dr yg merujuk.
3. Cross referral, menyerahkan wewenang dan
tanggungjawab penanganan penderita sepenuhnya
kepada dokter lain untuk selamanya. Sangat tdk
dianjurkan,kecuali pindah ke drh lain
108
Pembagian
wewenang & tanggungjawab

4. Split referral, menyerahkan wewenang


dan tanggungjawab penanganan penderita
sepenuhnya kepada beberapa dokter
konsultan, dan selama jangka waktu
pelimpahan wewenang dan tanggungjawab
tersebut dokter pemberi rujukan tidak ikut
campur.

109
1/30/2019 Ridwan MO 110