You are on page 1of 24

Laporan Kasus

Fraktur Os. Nasal


Penyaji:
Hendri Saputra
Pembimbing:
dr. Eva Nurfarihah, Sp. THT-KL

1
Penyajian Kasus

2
Identitas Pasien
• Nama : An. M.M
• Umur : 16 tahun
• Alamat : Jln. Kom Yos Sudarso 36/5
• Pekerjaan : Pelajar SMA
• Agama : Islam
• Tanggal Pemeriksaan : 04 Februari 2018.

3
• Keluhan Utama
Nyeri pada pangkal hidung.
• Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang dengan nyeri pada pangkal hidung pasca terbentur siku
teman pada saat bermain futsal 3 hari sebelumnya (Jumat malam,
1/02/2018; 07.00). Menurut pasien, sehabis terbentur hidungnya
mengeluarkan darah merah segar ±50 cc. Selepas terbentur pasien
segera dibawa ibunya ke mantri terdekat, dilakukan tampon dengan
kassa, dan mendapat obat nyeri, antibiotik dan pembeku darah (pasien
lupa akan merek obatnya). Perdarahan terhenti tidak lama kemudian.
Pada sabtu malam, pasien mengeluhkan mimisan lagi dengan darah
merah segar namun tidak sebanyak saat awal terbentur. Keluhan lain
seperti hidung tersumbat, sulit bernafas disangkal.

4
• Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengatakan tidak pernah mengalami permasalahan dengan
penciuman, pendengaran dan organ leher. Riwayat mimisan
sebelumnya disangkal, riwayat pilek lama disangkal, riwayat amandel
disangkal, riwayat nyeri telinga, keluar cairan dari telinga disangkal.
Riwayat atopi, baik alergi terhadap makanan, obat dan lain-lain
disangkal.
• Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga dengan riwayat atopi. Riwayat keganasan
nasofaring, tumor nasofaring disangkal.
• Riwayat Sosioekonomi
Pasien sedang duduk di kelas 3 SMA. Pasien senang berolahraga,
terutama bermain futsal bersama teman-temannya. Pasien mengakui
dirinya tidak merokok, minum minuman beralkohol disangkal.
5
Pemeriksaan Fisik
• Keadaan Umum : Tampak Sakit Ringan
• Kesadaran : Compos Mentis
• Tanda Vital
• Tekanan Darah : 120/80
• Nadi : 72x/menit
• Pernapasan : 20x/menit
• Suhu : 36.5 ºC

6
• Status Generalis
• Kepala : normocephale
• Mata : Konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), pupil isokor, refleks
cahaya +/+
• Leher : pembesaran KGB -/-, distensi vena jugularis -/-.
• Thorax : S1S2 tunggal reguler, gallop (-), murmur (-). Suara nafas dasar
vesikuler +/+, rhonki (-/-), wheezing (-/-).
• Abdomen : datar, soepel, bising usus (+) normal
• Ekstremitas : akral hangat, CRT <2 detik.

7
• Neurologis
• (N.V) m. masseter dan temporalis baik, sensorik wajah V1/V2/V3 baik dengan
light touch
• (N. VII) wajah simetris, ekspresi wajah termasuk mengangkat alis, menutup
mata baik
• (N. IX, X, XII) lidah dan uvula di tengah pada cavum oris, deviasi (-) gerakan
lidah dan uvula baik, deviasi saat gerakan (-)

8
9
10
11
Pemeriksaan Penunjang
• Rontgen os nasal (lat)

12
Diagnosis
• Fraktur Os. Nasal

13
Tatalaksana
• Medikamentosa:
• P.O. Levofloksasin 1x500 mg selama 5 hari.
• P.O. Asam Mefenamat 3x500 mg
• P.O. Methylprednisolon 2x8 mg
• P.O. Cetrizine 1x10 mg
• Non-medikamentosa:
• Edukasi supaya jangan memanipulasi tulang hidung agar fraktur tidak
bergeser.
• Kontrol 2 hari berikutnya untuk melihat perkembangan fraktur.

14
Prognosis
Ad vitam : Ad bonam
Ad functionam : Ad bonam
Ad sanationam : Ad bonam

15
Pembahasan
• Tanda-tanda fraktur hidung yang lazim adalah:
• Depresi atau pergeseran tulang-tulang hidung,
• Edema hidung
• Epistaksis
• Fraktur dari kartilago septum dapat disertai pergeseran atau dapat digerakkan.
• Pada pasien ini, pada inspeksi didapatkan bentuk hidung simetris, tidak
ada depresi tulang hidung, tidak tampak ada deviasi ataupun elevasi
pada tulang hidung. Pada palpasi didapatkan nyeri tekan (+) disertai
krepitasi pada tulang hidung.

16
• Pada fraktur hidung, pasien harus diperiksa ada tidaknya hematoma
septum, bilamanan tidak terdeteksi dan tidak dilakukan
penatalaksanaan dapat berlanjut menjadi abses, dimana dapat terjadi
resobspsi kartilago septum dan deformitas hidung pelana (saddle
nose).
• Penanganan hematoma berupa insisi dan drainase hematoma.
• Pada pasien ini, tidak ditemukan hematoma pada septum.

17
• Perbaikan fraktur hidung dapat melalui reduksi terbuka dan reduksi
tertutup
• Jika reduksi tertutup tidak memberikan hasil yang memuaskan maka
mungkin diperlukan teknik reduksi terbuka
• Pada cedera yang berat bahkan memerlukan berbagai teknik fiksasi
seperti pemasangan kawat langsung, penyangga eksternal, atau
bahkan transfiksasi dengan kawat stainless steel dan pemasangan
lempeng plumbum.

18
19
20
21
• Pada pasien ini didapatkan fraktur masih dalam satu garis, tidak ada
depresi, elevasi maupun deviasi dari tulang hidung. Fungsi hidung
masih dalam batas normal, tidak ada sumbatan, gangguan penciuman
sehingga tidak dilakukan tindakan operasi.
• Pasien mendapatkan terapi anti nyeri berupa golongan NSID (asam
mefenamat), antibiotik spektrum luas golongan florokuinolon
(levofloksasin), kortikosteroid (methylprednisolon) dan antihistamin
(cetrizine). Pasien juga mendapatkan edukasi supaya tidak
memanipulasi tulang hidung yang patah dan kembali kontrol 7 hari
pasca fraktur untuk menilai proses penyembuhan fraktur.

22
Kesimpulan
• Anak laki-laki, umur 16 tahun datang ke poliklinik THT dengan keluhan
utama nyeri pada pangkal hidung. Dari hasil anamnesis, pemeriksaan
fisik dan penunjang ditarik diagnosis kerja fraktur os nasal. Pasien
mendapatkan terapi medikamentosa berupa anti nyeri berupa
golongan NSID (asam mefenamat), antibiotik spektrum luas golongan
florokuinolon (levofloksasin), kortikosteroid (methylprednisolon) dan
antihistamin (cetrizine). Pasien juga mendapatkan edukasi supaya
tidak memanipulasi tulang hidung yang patah dan kembali kontrol 7
hari pasca fraktur untuk menilai proses penyembuhan fraktur. Tidak
ada tindakan operasi yang dilakukan. Prognosis pasien adalah baik

23
Terima Kasih

24