You are on page 1of 35

Menyediakan data yang valid dan reliabel itu mahal, tetapi

membangun tanpa data akan lebih mahal karena semua


upaya menjadi tidak efisien dan efektif (Puan, Rapat
Koordinasi Nasional Verifikasi dan Validasi Data Kemiskinan
Tahun 2015, Jakarta, 14/4/2015)

1
PENGETAHUAN
PETA

3
PENGERTIAN PETA

Peta adalah suatu gambaran dari unsur-unsur alam


dan atau buatan manusia, yang berada di atas
maupun di bawah permukaan bumi yang
digambarkan pada suatu bidang datar dengan skala
tertentu. (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 8 Tahum 2013 Tentang Ketelitian Peta
Rencana Tata Ruang).

4
Fungsi Peta

 Memperlihatkan posisi relatif dari suatu


titik/tempat;
 Memperlihatkan ukuran (arah, jarak, dan luasan);
 Memperlihatkan berbagai bentuk dan unsur di
permukaan bumi;
 Menghimpun dan memilah data dan informasi
dari permukaan bumi.
5

6

7
Ketelitian Peta (PP Nomor 8 Tahun 2013)

Ketelitian Peta adalah ketepatan, kerincian dan


kelengkapan data, dan/atau informasi georeferensi dan
tematik, sehingga merupakan penggabungan dari sistem
referensi geometris, Skala, akurasi, atau kerincian basis
data, format penyimpanan secara digital termasuk kode
unsur, penyajian kartografis mencakup simbol, warna,
arsiran dan notasi, serta kelengkapan muatan Peta.
(PP Nomor 8 Tahun 2013, Pasal 1, ayat 2)

8
Ketelitian Peta (PP Nomor 8 Tahun 2013)

Ketelitian peta mencakup (Pasal 10 AYAT 2) :


 Ketelitian Geometris,
 Ketelitian Muatan Ruang

Ketelitian Geometris meliputi:


 Sistem referensi geospasial
 Skala
 Unit pemetaan

9
Sistem Referensi Geospasial

Sistem referensi geospasial meliputi :


 Jaring Kontrol Geodesi
o SNI 19-6721-2002 Jaring kontrol horizontal
o SNI 19-6988-2004 Jaring kontrol vertikal
dengan metode sipatdatar
 Sistem referensi koordinat
 Sistem proyeksi peta
10
Referensi Horisontal dan
Vertikal

11
12
13
SNI 19-6721-2002 JKH

14
Skala

Skala dikategorikan menjadi:


1. Skala Peta
2. Skala Variabel Geografis
Skala peta adalah perbandingan jarak di Peta
dengan jarak sebenarnya di permukaan bumi.

15
Skala

Skala Peta dibedakan menjadi:


1. Skala numeris
2. Skala grafis
3. Skala verbal

16
Skala Numeris

Skala numeris atau skala angka, adalah skala yang


ditunjukkan dengan angka.
Misal :
Jika jarak di atas peta 10 cm, sedangkan jarak
sebenarnya 10 km, maka skala peta tersebut adalah
10 𝑐𝑚 10 𝑐𝑚
= ditulis 1 : 100.000
10 𝑘𝑚 1.000.000 𝑐𝑚

17
Skala grafis

Jarak
Jarak di sebenarnya
peta

Skala Grafis

18
Skala Verbal

Skala yang dituliskan dengan keterangan


perbandingan jaraknya.
Misal :
1 inci = 1 mil
1 cm = 10 km
5 cm = 1 km

19
Faktor Skala

Faktor Skala (k) adalah perbandingan antara skala


yang tertulis pada peta dengan skala sebenarnya
akibat adanya distorsi saat diproyeksikan ke bidang
bidang datar.
𝑠𝑘𝑎𝑙𝑎 𝑛𝑜𝑚𝑖𝑛𝑎𝑙 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑢𝑙𝑖𝑠 𝑑𝑖 𝑝𝑒𝑡𝑎
Faktor skala (k) = K>1
𝑆𝑘𝑎𝑙𝑎 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎
perbesaran
𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑑𝑖 𝑝𝑒𝑡𝑎 𝑥 𝑠𝑘𝑎𝑙𝑎 K<1 
= pengecilan
𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑑𝑖 𝑏𝑢𝑚𝑖

20
Ketelitian Muatan Ruang

Ketelitian muatan ruang sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 10 ayat (2) huruf b meliputi:
a. kerincian kelas unsur; dan
b. simbolisasi.

22
23
Proyeksi Peta

 Sistem proyeksi merupakan sistem


penggambaran muka bumi yang tidak beraturan
secara matematis pada bidang datar.
 Bidang proyeksi bukanlah bola tetapi lebih
menyerupai ellips 3 dimensi atau spheroid, yang
digunakan untuk menyatakan bentuk bumi
(secara matematis).

25

26

27
Perubahan dari bidang lengkung ke bidang datar
menyebabkan timbulnya distorsi. Jenis distorsi yang
mungkin timbul adalah:
1. Distorsi jarak
2. Distorsi sudut
3. Distorsi luasan

28

29
Untuk meminimalkan distorsi, maka dilakukan langkah-
langkah untuk meminimalkannya, yaitu:
 Membagi daerah yang dipetakan menjadi daerah-
daerah yang tidak begitu luas (30 km x 30 km).
 Menggunakan bidang datar atau bidang yang dapat
didatarkan tanpa distorsi lebih lanjut , yaitu bidang
kerucut dan bidang silinder

30
Berdasarkan adanya distorsi dan kebutuhan peta
untuk meminimalkan distorsi, maka proyeksi peta
dibagi menjadi:
 Proyeksi ekuidistan, yaitu sistem proyeksi yang
mempertahankan jarak tetap (tidak mengalami
distorsi)
 Proyeksi konform, mempertahankan sudut
 Proyeksi ekuivalen, mempertahankan luasan.

31
Proyeksi Universal Transverse Mercator

32
 Pada Sistem Koordinat UTM, suatu Grid satuan
metrik (T= timur, U= utara) ditetapkan pada setiap
zone.
 Untuk menghindari koordinat negatif, setiap
meridian tengah diberi nilai fiktif sebesar 500.000 m
T dan
 Untuk nilai ke arah utara, garis equator diberi nilai
fiktif 0 m U, Sedangkan untuk perhitungan ke arah
selatan equator diberi nilai fiktif sebesar 10.000.000
m U.
33
Indonesia memilih sistim proyeksi Universal
Transverse Mercator (UTM) dengan alasan:
 1. Indonesia sangat luas membentang dari barat ke
timur mulai meridian 94° T sampai meridian 141° T,
sehingga memerlukan sistim proyeksi tunggal yang
berkesinambungan.
 2. Indonesia terbagi dua oleh ekuator mulai dari
paralel (lintang) 11° S sampai dengan lintang 6° U.
 3. UTM digunakan secara global (sebagian besar
negara di dunia).
34
49 M

49 L

35