You are on page 1of 10

MANAJEMEN NYERI

Alif faridi A 163210044


Bayu ajie S 163210049
Ida suryani 163210059
Miftahul j.M 163210064
Nyi Endah P.P.DG 163210069
Siti Aminah M 163210074
Vindari Afrianti 163210039
DEFINISI NYERI KRONIK

Nyeri didefinisikan sebagai nyeri kronik jika:


• berlangsung melampaui waktu yang diperlukan untuk penyembuhan nyeri
akut atau penyembuhan jaringan
• jika berhubungan dengan proses patologis kronis
• nyeri rekuren dalam interval bulan atau tahun
KLASIFIKASI NYERI KRONIK
Nyeri Nosiseptik: timbul sebagai akibat dari aktivasi nosiseptor perifer yang
berlokasi pada jaringan yang mengalami kerusakan dan ditransmisikan ke saraf
pusat melalui jalur sensori neural yang berfungsi secara normal.
Nyeri nosiseptik: umumnya berkaitan dengan derajat kerusakan jaringan somatik
atau visceral.
Nyeri Neuropatik :dihasilkan dari kerusakan atau perubahan strukur dan fungsi
jaringan saraf. Nyeri neuropatik dapat timbul berkaitan dengan proses
somatosensorik yang menyimpang pada saraf tepi atau sistem saraf pusat
Nyeri Psikogenik : sering dirujuk sebagai gangguan somatisasi. Penyebabnya
didasari oleh adanya gangguan emosional atau stressor yang sering tidak disadari
pasien. Nyeri psikogenik timbul walaupun tidak ditemukan organ sumber nyeri
yang dapat diidentifikasi.
PEMERIKSAAN

Penilaian nyeri kronik meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, dan


penilaian komprehensif mengenai intensitas nyeri, faktor psikososial yang
berhubungan dengan pengalaman nyeri dan faktor-faktor yang
mempengaruhi tidur, aktivitas kehidupan sehari-hari, keadaan keluarga, dan
pekerjaan. Keluhan subyektif mengenai derajat nyeri merupakan bagian
yang penting sebagai penilaian awal dan untuk evaluasi pada kunjungan
berikutnya.
• Anamnesis
Anamnesis berfokus pada jangka waktu, kronologi, intensitas, lokasi nyeri,
faktor yang memperberat atau memperingan, serta gejala penyerta nyeri

• Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik harus lengkap, berfokus pada sistem neurologi dan
muskuloskeletal. Saraf kranialis harus dinilai. Sensasi protopatik (nyeri, suhu,
sentuhan raba) sensasi propioseptik (tekanan dalam, getaran, posisi) dan
sensori kortikal
GAMBARAN KLINIS
1. Durasi
2. Dramatisasi
3. Dilema diagnostik
4. Obat-obatan
5. Ketergantungan
6. Depresi
7. Disfungsi
FARMAKOTERAPI
NON OPIOID ANALGESIK
1. Paracetamol
ANALGETIK ADJUVANT

1. Antidepresan
2. Antikonvulsan
3. Anksiolitik dan sedative
4. Antispastisitas
5. Analgetik Topikal
6. Anestesi lokal
Terapi yang digunakan

• Hidroterapi
Hidroterapi adalah penggunaan air secara eksternal untuk tatalaksana
disfungsi fisik. Efek terapi didapatkan dengan memanfaatkan sifat air berupa daya
apung, densitas relatif, dan viskositas, suhu, dan agitasi. Daya apung akan
membentuk latihan asistif (saat dilakukan gerakan mengarah ke permukaan air),
dan latihan resistif (saat terjadi gerakan menjauhi permukaan air).
• Masase
Merupakan stimulasi sistematik dan mekanis dari jaringan lunak pada tubuh
dengan memberikan tekanan ritmik dan stretching untuk tujuan terapeutik.

• PSIKOTERAPI
Nyeri yang menetap mempengaruhi komponen emosional pasien serta seringkali
disertai dengan depresi dan/atau kecemasan. Faktor-faktor psikologis memainkan
peranan yang signifikan terhadap nyeri kronik dan dalam masa transisi nyeri akut menjadi
nyeri kronik, dan bukti neurosains serta bukti klinis memperlihatkan hubungan yang erat
antara nyeri dan status mood.
TERIMAKASIH