You are on page 1of 45

TRAUMA

THORAKS
BY :
Ns. Anita Dwi A,
S.Kep,.M.Kep
TRAUMA DADA
1. Blunt Trauma
• Jenis trauma yang sangat berbahaya.
• Acceleration – deseleration injury
2. Penetrating Trauma
• Damage the tissues of the chest
• Connectivity between chest wall and the outside
Type Of Chest Trauma
Based on damage tissues and organs :
1. Injury of chest wall
Fracture of costae and sternum, flail chest, subcutan
emphysema.
2. Pleura Cavity Disorder
Pneumothorax, hematothorax.
2. Lungs tissues injury
3. Damage of Mediastinum
Rupture of the trachea and main bronchus, Rupture of the
esofagus, Aorta Rupture and Hernia of the Diafragma,
cardiac tamponade.
1. FLAIL CHEST
 Dua
atau lebih tulang costae yang berdekatan
mengalami fraktur pada satu tempat atau lebih, yang
mengakibatkan tulang costae melayang bebas.
 Efek: ekspansi dada tdk maksimal >>> distres
pernapasan >>>>> gawat napas yang berat.
 Karakteristik :
Terdapatgerakan paradoksal (paradoksal
movement).
Nyeri hebat saat ekspirasi
Paradoksal Movement
PENATALAKSANAAN
 Mengurangi nyeri/ rasa sakit.
 Stabilisasi
area flail chest (pemasangan ventilator
dan fiksasi internal melalui operasi).
 Tindakan bronkoskopi untuk membersihkan
bronchial
 Perawatan scr komprehensif jika trdpt indikasi
dan tanda kegagalan pernapasan atau adanya
ancaman gagal napas.
2. HEMATOTHORAKS
 Blood accumulation inside the thorax cavity because
of discontinuity of the vessels around the pleural
cavity.
 Tanda-gejala : nyeri dada, dispnea, pernafasan
cepat (tachipnea).
 Warning: ketidakstabilan hemodinamik dan depresi
pernapasan.
 Diagnosis : kaji riwayat trauma serta keluhan nyeri
dada, dispnea & tachipnea.
HEMATOTHORAKS
Diagnosis
 Kaji riwayat trauma
 Kaji keluhan nyeri dada, dispnea & tachipnea.
 Pemeriksaan fisik :
 Inspection >> Asymetrical breathing
 Palpation >> Decrease of Fremitus on the
affected side
 Percution >> Dullness on the affected side
 Auscultation >> Decrease of vesicular breath
sound on the affected side
PENATALAKSANAAN
Tujuan :
o Mengeluarkan darah & pengembangan paru
secepatnya.
o Penanganan hemodinamik segera utk menghindari
kegagalan sirkulasi.

Penatalaksanaan :
o Pemasangan WSD
o Pembedahan torakotomi cito jika adanya perdarahan
masif setelah pemasangan WSD
Operative Indication For Chest Trauma

After The Insertion of WSD :


1. Inisial Blood > 750 cc, with WSD Insertion < 4 hours after the
trauma
2. Blood loss 3-5 cc/KgBB/Hour within 3 hours
3. Blood loss 5-8 cc/KgBB/Hour within 2 hours
4. Blood loss > 8 cc/KgBB/Hours wthin 1 hour

Removal Indication for WSD

1. Production < 50 cc/hari within 3 days


2. Undulation : negative or minimal,
3. Maximum lung expand
3. PNEUMOTHORAKS
Definisi :
 Pneumothorax is a condition where the air
infiltrating the pleural cavity.

 PNEUMOTORAK adalah keluarnya udara dari


paru yang cedera ke ruang pleura.

Penyebab :
Trauma, penyakit TBC, Pneumonia, Abses paru,
Keganasan, PPOK.
Diagnosis
o History of trauma
o Complain of short of breathness and chest pain.
o Phisical Examination :
 Inspection : Asymetrical breathing
 Palpation : Decrease fremitus on the affected side
 Percution : Hipersonor on the affected side.
 Auscultation : Decrease of vesicular breath sound
on the affected side.
Pneumotorax Classification
1. Open Pneumothorax
Connectivity between chest cavity with the
outside because of an open chest wound

2. Closed Pneumothorax
Because of damage of the alveoli without
any connection with the outside

3. Tension Pneumothorax
Because the air trapped inside the pleural
cavity
Open Pneumothoraks
Penyebab:
 lubang pada dinding dada yang cukup besar
yang memungkinkan aliran udara masuk dan
keluar rongga dada pada setiap gerakan
pernapasan.

Patologi
 keluar masuknya udara melalui lubang yang cukup besar
ini menimbulkan bunyi menghisap (sucking wounds)
 paru kolaps
 Pembuluh darah besar jantung bergerak ke arah yang
tidak sakit saat inspirasi dan kembali ke posisi awal saat
ekspirasi
Prinsip Management
o Pertahankan kepatenan jalan napas
o Pertahankan ventilasi yang adekuat
o Pemberian terapi oksigen
o Mengatasi penyebab dg mengeluarkan udara yg
menyebabkan pneumothorak
o Gunakan kontrol ventilasi jika slm
penatalaksanaan ventilasi inadekuat dg
pemasangan ETT atau tracheostomy.
Penatalaksanaan
o Luka tidak boleh ditutup scr rapat ditutup dengan
bahan yang kedap udara dibagian tiga sisi saja
utk menciptakan mekanisme ventil.
o Pada kondisi darurat dapat digunakan apa saja
untuk menekan lubang pada dinding dada,
seperti, saputangan, handuk, punggung tangan.
o Pemasangan WSD terlebih dahulu baru
penutupan luka.
Tension Pneumothoraks
Penyebab:
 Udara masuk ke ruang pleura melalui
laserasi paru atau lubang kecil pada dinding
dada.
 Akumulasi udara pada rongga pleura
menimbulkan peningkatan tekanan pada
rongga pleura yang menyebabkan paru
kolaps, pembuluh darah yang besar, trakea
bergeser ke arah yang tidak sakit serta
mediastinal shift.
MANIFESTASI KLINIS
 Adanya peningkatan intra thoraks yg progresif
menyebabkan kolaps total paru, mediastinal shift,
deviasi trachea, distres pernapasan berat.
 Dispnea yang semakin memberat, takipnea.
 Bagian sisi thoraks yg mengalami pneumothoraks
akan tampak lebih besar.
 Tachicardia (frekuensi nadi > 140)
 Hipotensi
 Sianosis
 Vocal fremitus tdk ada
 Ekspansi dada yang asimetris
 Merupakan keadaan life threatning
Prinsip Management
o Pertahankan kepatenan jalan napas
o Pertahankan ventilasi yang adekuat
o Pemberian terapi oksigen
o Mengatasi penyebab dg mengeluarkan udara yg
menyebabkan pneumothorak
o Gunakan kontrol ventilasi jika slm
penatalaksanaan ventilasi inadekuat dg
pemasangan ETT atau tracheostomy.
Patologi :
terjadi gangguan pada:
 Fungsi pernapasan
 Gangguan ekspansi dada
 Sirkulasi

Penatalaksanaan Medis :
 Menghilangkan udara dari rongga pleura
(tindakan kedaruratan)
 Memasang jarum berdiameter besar di ICS 2
pada midclavucular line/garis pada sisi paru yang
sakit untuk mengeluarkan udara keluar.
 Selang dada lalu dihubungkan dengan
penghisap (WSD) untuk mengeluarkan sisa udara
dan cairan dari rongga pleura, jika pneumotorak
berulang
 PENATALAKSANAAN MEDIS
 Tujuan Pengobatan: mengevakuasi udara dari ruang
pleura
 Memasang selang dada kecil (28F) dipasang dekat ruang
interkostal 2 (ICS 2).

 Pemilihan lokasi di ICS 2 karena:


 ruangan tertipis pada dinding dada.
 meminimalkan bahaya menyentuh saraf torak
 akan meminimalkan terbentuknya jaringan parut
 Paru dipasang jarum torasentesis atau WSD untuk
mengeluarkan udara dari rongga pleura. setelah selang
dada terpasang dekompresi akan berlangsung efektif
dalam waktu yang relatif singkat , Paru dapat ekspansi
dengan optimal setelah kelebihan udara ini keluar
torasentesis
Chest Tube / Water Sealed Drainage (WSD)
Chest trauma Breathing and circulation disturbance

Decompresion of the chest wall

Water Sealed Drainage (WSD)

Function :
1. Diagnostic
2. Therapy
3. Follow Up
Location for WSD Insertion
Safe Triangle Area
1. ICS IV – V
2. Anterior Line of Mid Axillaris
3. Lower side of the Costae
Pemeriksaan Penunjang.
 Foto Torak
 Pd pneumothorsk menunjukkan akumulasi
udara pada area pleural, dapat menunjukkan
penyimpangan struktur mediastinum (jantung).
 Pd hematothorak menunjukkan adanya
akumulasi darah pd rongga thoraks
 Analisa Gas Darah/ AGD (BGA/Blood Gase
Artery)
 Variabel tergantung dari derajat fungsi paru
yang dipengaruhi, gangguan mekanik
pernapasan dan kemampuan mengkompensasi.
 PaCO2 kadang meningkat, PaO2
normal/menurun, SaO2 menurun
PENGKAJIAN KRITIS
1. AIRWAY
o Kaji kepatenan jalan napas
o Jika ada gangguan ventilasi akibat
penurunan kesadaran : kontrol jalan
napas dg pemasangan intubasi endo
tracheal.
2. BREATHING
o Tachipnea, Asymetrical breathing,
penggunaan otot bantu pernapasan,
pernapasan irreguler
PENGKAJIAN KRITIS
3. CIRCULATION
Tachicardia, Hipotensia, Hipoksemia, Kulit
pucat/sianosis.
4. DISABILITY
Kaji tingkat kesadaran (GCS, AVPU) dan reflek
pupil : penurunan kesadaran, agitasi
5. EXPOSURE
Pemeriksaan fisik seluruh tubuh : sianosis,
trauma pd area thorak/area lain.
PENGKAJIAN KRITIS
6. FULL SET OF VITAL SIGN
Pemeriksaan TTV lengkap :
- RR : meningkat/napas cepat
- Nadi : Tachicardia
- TD : Hipotensia
- Suhu : normal/turun.
7. HISTORY
Kaji adanya riwayat trauma/penyakit (MIVT)
PENGKAJIAN KRITIS
8. HEAD TO TOE ASSESSMENT (Fokus Thoraks)
o Inspeksi : asymetrical breathing, paradoksal
movement, tachipnea, penggunaan otot bantu
pernapasan.
o Palpasi : penurunan/tdk adanya vocal fremitus pd
area yg bermasalah.
o Perkusi : Redup pada area yg bermasalah
(hematothorak) dan hipersonor pd area yg
bermasalah (pneumothorak)
o Auskultasi : Penurunan bunyi vesicular paru.
9. Inspection Back Posterior
Inspeksi bagian posterior pasien dg teknik logroll >>
lihat adanya trauma/tdk
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan
dengan penurunan ekspansi paru
(akumulasi udara/darah), nyeri.*
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan
dg kolaps paru.
3. PK: Pneumotorak
4. PK: hipoksemia
5. kurang pengetahuan mengenai kondisi
dan aturan pengobatan berhubungan
dengan kurang informasi.
Gangguan pertukaran gas b.d kerusakan
struktur alveoli, ketidakseimbangan perfusi-
ventilasi.

 Definisi
: Suatu kondisi dimana individu
mengalami secara aktual atau
potensial penurunan pemasukan gas-
gas (O2 dan CO2) antara alveoli paru2
dan sistem vaskuler.
BATASAN KARAKTERISTIK

 MAYOR (Harus didapat)


Dispneu pada usaha nafas.
 MINOR (Mungkin didapat)
o Napas dg bibir dg fase ekspirasi yg lama.
o Kacau mental/agitasi
o Letargi dan lelah
o Sianosis
o Menurunnya saturasi O2, Meningkatnya PCO2
Nursing Outcomes (NOC)
1. Status pernapasan : pertukaran gas
Skala outcome Sangat berat Berat Cukup Ringan Normal
Berat
Tekanan partial O2 di 1 2 3 4 5
darah arteri (PaO2)
Tekanan partial CO2 di 1 2 3 4 5
darah arteri (PaO2)
Ph Arteri 1 2 3 4 5

Saturasi O2 1 2 3 4 5

Hasil rontgen dada 1 2 3 4 5

Dispnea saat istirahat 1 2 3 4 5

Dispnea dg aktivitas 1 2 3 4 5
ringan
Perasaan kurang 1 2 3 4 5
istirahat
Sianosis 1 2 3 4 5

Mengantuk 1 2 3 4 5

Gangguan kesadaran 1 2 3 4 5
Nursing Interventions
Manajemen jalan napas :
1. Monitor status pernapasan & oksigenasi
2. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
3. Identifikasi kebutuhan aktual/potensial pasien utk
memasukkan alat membuka jalan napas
4. Lakukan fisioterapi dada
5. Motivasi klien utk bernapas dalam, pelan dan batuk
6. Intruksikan bagaimana bs melakukan batuk efektif
7. Bantu dg dorongan spirometer
8. Auskultasi suara napas, catat area yg ventilasinya
menurun
Nursing Interventions
Terapi Oksigen :
1. Pertahankan kepatenan jalan napas
2. Berikan O2 tambahan
3. Monitor aliran O2
4. Monitor efektifitas terapi O2 (mis tekanan oksimetri,
ABGs) dg tepat
5. Pastikan penggantian masker O2/kanul nasal
setiap kali perangkat diganti
6. Amati tanda2 hipoventilasi induksi O2
7. Monitor kecemasan klien yg terkait dg kebutuhan
mendptkan terapi O2
8. Sediakan O2 ketika pasien dibawa/dipindahkan.
Nursing Interventions
Monitor Pernapasan :
1. Monitor kecepatan, irama, kedalaman dan kesulitan bernapas.
2. Catat pergerakan dada, catat ketidaksimetrisan, penggunaan
otot2 bantu pernapasan dan retraksi pd otot supraclaviculas &
interkosta
3. Monitor suara napas tambahan seperti ngorok/mengi
4. Monitor pola napas (mis bradipnea, takipnea, hiperventilasi,
pernapasan kusmaul, apneustik)
5. Monitor saturasi O2 pd pasien yg tersedasi.
6. Palpasi kesimetrisan ekspansi paru
7. Perkusi torak anterior & posterior dari apeks ke basis paru
8. Catat lokasi trakea.
9. Monitor kelelahan otot2 diafragma dg pergerakan
paradoksikal