You are on page 1of 39

Wardah

Respiratory failure
 Merupakan kondisi klinik dimana sistem pulmonal
gagal untuk memelihara pertukaran gas secara
adekuat.
 Respiratory failure (lung failure) merupakan
kondisi dimana kadar O2 dalam darah menjadi sangat
rendah atau kadar CO2 sangat tinggi
 Respiratory failure  kondisi emergensi diakibatkan
oleh kondisi penyakit paru atau penyakit paru berat
yang dapat muncul tiba-tiba sebagai respiratory
distress syndrome
Klasifikasi respiratory failure
 Hypoxemic normocapnic respiratory failure
(tipe I)  PO2 rendah, PCO2 normal
 Hypoxemic Hypercapnic respiratory failure
(tipe II)  PO2 rendah, PCO2 tinggi
 Acut
 Chronic
Classification of Respiratory Failure

Fig. 66-2
Perbedan antara gagal nafas akut
dan kronis
 Acute hypercapnic respiratory failure
berkembang dari beberapa menit sampai
beberapa jam oleh karena itu pH kurang
dari 7.3.
 Chronic respiratory failure berkembang
beberapa hari atau lebih lama, terjadi
kompensasi renal dan terjadi peningkatan
konsentrasi bikarbonat pH biasanya
menurun sedikit
Hypoxemic respiratory failure (type I)
 Dengan karakteristik PaO2 kurang dari 60
mm Hg danPaCO2 normal atau rendah.
penyakit paru akut secara umum meliputi
pengisian cairan atau kolap unit alveolar.
Terjadi pada cardiogenic atau
noncardiogenic pulmonary edema,
pneumonia, dan pulmonary hemorrhage
Penyebab umum tipe I (hypoxemic)
respiratory failure
 Chronic bronchitis dan  Pneumoconiosis
emphysema (COPD)  Granulomatous lung diseases
 Pneumonia  Cyanotic congenital heart
 Pulmonary edema disease
 Pulmonary fibrosis  Bronchiectasis
 Asthma  Adult respiratory distress
 Pneumothorax syndrome
 Pulmonary embolism  Fat embolism syndrome
 Pulmonary arterial  Kyphoscoliosis
hypertension  Obesity
Hypercapnic respiratory failure
(type II)
 PaCO2 lebih dari 50 mm Hg.
 Terjadi pada drug overdose,
neuromuscular disease, chest wall
abnormalities, dan severe airway disorders
[COPD].
Common causes of type II
(hypercapnic) respiratory failure
 Chronic bronchitis and  Cervical cordotomy
emphysema (COPD)  Head and cervical cord injury
 Severe asthma  Primary alveolar
 Drug overdose hypoventilation
 Poisonings  Obesity hypoventilation
 Myasthenia gravis syndrome
 Polyneuropathy  Pulmonary edema
 Poliomyelitis  Adult respiratory distress
 Primary muscle disorders syndrome
 Myxedema
 Porphyria
 Tetanus
Pathophysiologi penyebab gagal
nafas akut
 Alveolar Hypoventilation
 Ventilation/perfusion mismatch
 Intrapulmonal Shunting
Penyebab
 Menurunnya pengaturan pernapasan
 Disfungsi dinding dada
 Disfungsi parenchyma paru
 Penyebab lain
Menurunnya pengaturan
pernapasan
 Injury otak berat
 Lesi yang besar di brain stem (multiple sclerosis)
 Penggunaan obat tidur
 Penyakit metabolik seperti hypothyroidism
mengganggu respon normal chemoreceptors di otak
untuk rangsang respirasi normal
Disfungsi dinding dada
 Beberapa penyakit / gangguan saraf, spinal cord, otot
atau neuromuscular junction  gagal nafas akut.
 Penyakit musculoskeletal (muscular dystrophy,
polymyositis),
 Gangguan neuromuscular junction (myasthenia
gravis, poliomyelitis),
 Eberapa gangguan saraf perifer dan gangguan spinal
cord (amyotrophic lateral sclerosis, Guillain-Barré
syndrome, dancervical spinal cord injuries).
Disfungsi parenchyma paru
 Efusi Pleural, hemothorax, pneumothorax, dan
obstruksi jalan nafas atas  mengganggu ventilasi:
expansi paru.
 Biasanya terjadi karena enyakit paru yang
mendasarinya, penyakit pleura, trauma atau injury
 Penyakit lainnya pneumonia, status asthmaticus,
lobar atelectasis, pulmonary embolism, dan
pulmonary edema.
Penyebab lain
 Periode Postoperatif.
 Gagal nafas akut akibat dampak anestesi, analgetik
dan sedatif menekan pernafasan hypoventilasi.
 Nyeri menggangu nafas dalam dan batuk
 Mismatch ventilasi thd perfusi gagal nafas setelah
pembedahan besar abdomen, jantung atau bedah
thoraks.
Manifestasi klinik
 Tanda awal berkaitan dengan gangguan oksigenasi :
gelisah, fatigue, headache, dyspnea, sesak,
tachycardia, dan TD meningkat.
 Tanda hypoxemia: confusion, lethargy, tachycardia,
tachypnea, cyanosis sentral, diaphoresis, dan akhirnya
henti nafas.
 Pemeriksaan fisik: acute respiratory distress:
penggunaan otot nafas tambahan, menurunnya suara
nafas jika ventilasi tidak adekuat.
Respiratory Failure
Clinical Manifestations

 Consequences of hypoxemia and hypoxia


 Metabolic acidosis and cell death
  Cardiac output
 Impaired renal function
Management Medis
 Memperbaiki penyebab yang mendasari dan memperbaiki
pertukaran gas secara adekuat di paru-paru.
 Intubation dan mechanical ventilation diperlukan untuk
memelihara ventilasi yg adekuat dan oksigenasi sambil
penyebab dasarnya diperbaiki.
 Farmakologi  bronkhodiltor (β2-adrnergik agonis,
antikolonergik), methilxanthine (aminophilin) tidak
direkomendasikan krn efek negatifnya, steroid,
mukolitik/ekspectoran tidak digunakan krn tidak ada
manfaat, sedasi memelihara adekuat ventilasi, analgetik.
Benzodiazepine  mengurangi cemas, nyeri
 Sodium bicarbonat diberikan pada asidosis berat
(pH<7,1)
 Terapi nutrisi mencegah malnutrisi. Enteral nutrisi
lebih disarankan daripada parenteral. d nutrisi
diberikan sebelum 3 hari masa pemasangan ventilator
dan 24 jam pd pasien malnutrisihh,u
Management perawatan
 Membantu dengan intubasi dan memelihara ventilasi
mechanik .
 Mengkaji status respirasi pasien dengan memonitor
tingkat respon pasien, AGD, pulse oximetry, tanda vital
dan mengkaji sistem respirasi
 Implementasi strategis (perubahan posisi, perawatan
mulut, perawatan ulit, ROM) untuk mencegah
komplikasi
 Mengkaji pemahaman pasien tentang managemen
yang diberikan
 Menginisiasi beberapa bentuk komuniasi untuk
membantu mengungkap kebutuhan pasien ke tim
kesehatan
 Tindakan keperawatan juga ditujukan untuk
mengatasi masalah keperawaan yang muncul
Diagnosa keperawatan
 Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan
dengan peningkatan produksi sekret
 Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan
sekresi tertahan,proses penyakit, pengesetan
ventilator yang tidak tepat
 Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan
kelelahan, pengesetan ventilator yang tidak tepat,
peningkatan sekresi, obstruksi ETT
 Kecemasan
Masalah pulmonal yang lain
 Acute lung injury
 Pneumonia
 Aspiration pneumonitis
 Pulmonary embolism
 Status asmatikus
 Air leak disorder
 Thoracic surgery
 Long–term mechanical ventilator dependence
Trauma thoraks
 Fraktur iga
 Flail chest
 Pneumothoraks
 Tension pneumothoraks
 Hemothoraks
 Open pneumothoraks
 Pulmonary contusion
 Ruptur bronkhus dan trachea
 Ruptur diapragma
Respiratory Failure
Diagnostic Studies

 Serum electrolytes
 Urinalysis
 V/Q lung scan
 Pulmonary artery catheter (severe cases)
Pulmonary therapeutic
management
 Oxygen therapy
 Artificial airways
 OPA, NPA
 ETT
 Tracheostomy tube
 Invasive mechanical ventilation
 Noninvasive positive-pressure ventilation
 Positioning therapy
 Pharmacology (
TINDAKAN TERAPEUTIK
 Aliran rendah
 Nasal kanul
 Masker
 Simple mask

 Partial rebreathing mask

 Non renreathing mask

 Aliran tinggi
 Venturi mask
 Transracheal catheter

4/10/2019 ASKEP SISTEM NAFAS 34


TINDAKAN TERAPEUTIK
 Fisioterapi dada
 Thoracentesis
 Drainage dada (WSD)
 Tracheostomy
 Suctioning  hati-hati; hypoxia, stimulasi vagal
 Intubasi
 Ventilasi mekanik
 Ventilator  control / assist
 FiO2, TV, rate AC/CMV
 SIMV
 PS, PEEP, CPAP

4/10/2019 ASKEP SISTEM NAFAS 35


Terapi oksigen
4/10/2019 ASKEP SISTEM NAFAS 37
4/10/2019 ASKEP SISTEM NAFAS 38
Terima kasih
atas
perhatiannya