You are on page 1of 21

Dr. Tan Suhardi, SpB, FINACS.

Sub SMF Bedah Digestif


Departemen Bedah
RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad
 penyakit virus akut sistem saraf pusat yang
mengenai semua mamalia dan ditularkan oleh
sekresi yang terinfeksi, biasanya saliva
 Virus rabies disebabkan oleh ss RNA virus;
genus Lyssavirus; family Rhabdoviridae, genus
Lyssavirus.
 Semua anggota genus ini mempunyai
persamaan antigen, namun dengan teknik
antibodi monoklonal dan nucleotide
sequencing dari virus menunjukkan adanya
perbedaan
 Distribusi rabies tersebar di seluruh dunia dan
hanya beberapa negara yang bebas rabies
seperti Australia, sebagian besar Skandinavia,
Inggris, Islandia, Yunani, Portugal, Uruguay,
Chili, Papua Nugini, Brunai, Selandia Baru,
Jepang, dan Taiwan
 insidensi rabies di seluruh dunia diperkirakan
lebih dari 30.000 kasus pertahun
 Vektor yang berperan dalam penularan
penyakit ini adalah anjing dan binatang-
binatang liar seperti anjing, kucing , kera
 menular pada manusia lewat gigitan atau
cakaran hewan penderita rabies atau dapat
pula lewat luka yang terkena air liur hewan
penderita rabies.
 Virus masuk ke tubuh melalui luka (biasanya
dari gigitan hewan buas) atau lewat membrana
mucosa, bereplikasi di mycosit; menyebar ke
jaringan ikat neuromusculer dan spindle
neurotendineal; berjalan ke CNS lewat cairan
intraaxonal dengan nervus perifer; menyebar
keseluruhan ke CNS; akhirnya menyebar
secara sentrifugal dengan motorik perifer,
sensori, dan neuron.
 berlangsung 3-8 minggu
 tergantung pada tingkat keparahan luka, lokasi
luka
 jumlah dan strain virus yang masuk, serta
tergantung dari perlindungan oleh pakaian
dan factor-faktor lain
 Diawali dengan demam ringan atau sedang,
 sakit kepala,
 tak nafsu makan,
 lemah,
 mual, muntah dan
 perasaan yang abnormal pada daerah sekitar
gigitan (anjing/binatang liar tsb) misalnya
kesemutan.
1. Stadium Prodromal
 Gejala –gejala awal berupa demam, malaise, mual,
dan rasa nyeri di tenggorokan selama beberapa
hari.
2. Stadium Sensoris
 Penderita merasa nyeri, rasa panas disertai
kesemutan pada tempat bekas luka. Kemudian
disusul dengan gejala cemas dan reaksi yang
berlebihan terhadap rangsangan sensorik.
3. Stadium Eksitasi
 Tonus otot-otot-dan aktivitas simpatik menjadi
meninggi dengan gejala hiperdrosis, hipersalivasi,
hiperlakrimasi dan pupil dilatasi.
 Stadium Paralis
Sebagaimana besar penderita rabies meningal
dalam stadium eksitasi. Kadang-kadang
ditemukan juga kasus tanpa gejala-gejala
eksitasi melainkan paresis otot-otot bersifat
progresif
 peningkatan tekanan intrakranial; kelainan
pada hipotalamus berupa diabetes insipidus,
sindrom abnormalitas hormon antidimetik
(SAHAD); disfungsi otonomik yang
menyebabkan hipertensi, hipotensi,
hipertemia/hipotermia, aritmia dan henti
jantung
 Virus rabies dapat disolasi dari air liur, cairan
serebrospinal dan urin penderita
 Pemerikasaan Flurescent Antibodies Test
(FAT) daapat menunjukan antigen virus
dijaringan otak,sediment cairan sediment
cairan serebrospinal, urin, kulit, dan hapusan
kornea
 Pengobatan dilakukan dengan memberikan
imunisasi pasif dengan serum anti rabies, dan
pengobatan yang bersifat suportif dan
simtomatik.
 Luka gigitan dirawat dengan tehnik tertentu
dengan tujuan menghilangkan dan menon-
aktifkan virus.
 Kematian karena infeksi virus rabies boleh
dikatakan 100% bila virus sudah mencapai
sistem saraf pusat
 Rabies merupakan penyakit virus akut dari
sistem saraf pusat yang mengenai semua
mamalia dan ditularkan oleh sekresi yang
terinfeksi, biasanya saliva.
 Sebagian besar penularan rabies melalui
gigitan binatang yang terinfeksi, kadang
aerosol virus atau proses pencernaan atau
transplantasi jaringan yang terinfeksi dapat
memulai proses penyakit.
 Distribusi rabies tersebar di seluruh dunia dan
hanya beberapa negara yang bebas rabies.
 Di Indonesia sampai akhir tahun 1977 rabies
tersebar di 20 provinsi. 7 provinsi dinyatakan
bebas rabies adalah Bali, NTB, NTT, Maluku, Irian
Jaya dan Kalimantan Barat. Data tahun 2001
menunjukkan terdapat 7 provinsi yang bebas
rabies adalah Jawa tengah, Jawa timur, Kalimantan
Barat, Bali, NTB, Maluku dan Irian Jaya.
 Infeksi terjadi biasanya melalui kontak dengan
binatang seperti anjing, kucing, kera, serigala,
kelelawar dan ditularkan ke manusia melalui
gigitan binatang atau kontak virus (saliva
binatang) dengan luka pada host ataupun melalui
membran mukosa.
 Manifestasi klinis rabies dapat dibagi menjadi
4 stadium: (1) prodromal non spesifik, (2)
ensefalitis akut yang mirip dengan ensefalitis
virus lain. (3) disfungsi pusat batang otak yang
mendalam yang menimbulkan gambaran
klasik ensefalitis rabies, dan (4) jarang, sembuh.
 Tidak ada terapi untuk penderita yang sudah
menunjukkan gejala rabies. Penanganan hanya
berupa tindakan suportif dalam penanganan
gagal jantung dan gagal nafas. Walaupun
tindakan perawatan intensif umumnya
dilakukan, hasilnya tidak menggembirakan.
perawatan intensif hanyalah metode untuk
memperpanjang dan bila mungkin
menyelamatkan hidup pasien dengan
mencegah komplikasi respirasi dan
kardiovaskuler yang sering terjadi.
 Kematian karena infeksi virus rabies boleh
dikatakan 100% bila virus sudah mencapai
sistem saraf pusat.