You are on page 1of 67

CASE REPORT

Tindakan Anestesi General Pada Laki- Laki 56 Tahun Dengan Operasi


Hemiarthroplasty Atas Indikasi Close Fraktur Collum Femur Dextra

Pembimbing :
dr. Suko Basuki, M.kes, Sp.An, FiPM
Disusun oleh :
M. Dony Hermawan J510185089
Moch. Iqbal Maulana J510185110
Fairuz Majid J510185115

K E PA N I T E R A A N K L I N I K I L M U A N E S T E S I D A N R E A N I M A S I
RSUD DR. HARJONO PONOROGO
FA K U LTA S K E D O K T E R A N
U N I V E R S I TA S M U H A M M A D I YA H S U R A K A R TA
2019
STATUS PASIEN
IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. G
Usia : 56 tahun
Berat badan : 50 kg
Tinggi badan : 168 cm
Agama : Islam
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Jl. Letjend S. Parman
Tangal masuk RS : 9 januari 2019
Tanggal Pemeriksaan : 10 januari 2019
Tanggal Operasi : 10 januari 2019
No. CM : 4198 XX
ANAMNESA
Keluhan utama
Nyeri pangkal paha kanan dan tidak bisa berjalan
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang kontrol ke Poli Orthopedi RSUD DR Harjono Ponorogo tanggal
9Januari 2019 dengan keluhan nyeri pangkal paha kanan dan tidak bisa berjalan sejak 2
bulan yang lalu. Nyeri dirasakan terus-menerus dan bertambah apabila tungkai
digerakkan. Pasien masih bisa merasakan sentuhan di kaki kanan. 2 bulan lalu pasien
masuk rumah sakit karena mengalami kecelakaan. Pasien mengaku terjatuh dari sepeda
motor. Mekanisme kecelakaan tersebut tidak diketahui pasien dengan baik. Pada saat
itu pasien sudah mengeluhkan nyeri pada kedua kakinya dan tidak bisa berjalan. Pasien
saat itu mendapatkan tindakan operasi di RSUD DR Harjono Ponorogo pada kaki kiri,
namun belum dilakukan operasi pada kaki kanan pasien waktu itu dan direncanakan
untuk operasi kembali pada kaki kanan bulan ini.
Pasien sempat kejang 1x di Rumah Sakit 1 hari yang lalu. Pasien memiliki riwayat
epilepsy kurang lebih 1 tahun yang lalu, kontrol rutin, namun semenjak operasi yang
pertama pasien tidak kontrol di poli syaraf dan tidak mengkonsumsi obat anti
apilepsinya.
Keluhan tidak disertai dengan pusing (-), demam (-), mual (-), muntah (-), BAB dan BAK
dalam batas normal.
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat asma : disangkal
Riwayat hipertensi : disangkal
Riwayat diabetes mellitus : disangkal
Riwayat penyakit jantung : disangkal
Riwayat kejang : diakui, pasien memiliki riwayat epilepsy namun 2 bulan
setelah kecelakaan tidak kontrol poli syaraf dan tidak
minum obat anti-epilesinya
Riwayat alergi : disangkal
Riwayat operasi : diakui, operasi pada paha kiri 2 bulan lalu
Riwayat kelainan darah : disangkal
Riwayat penyakit keluarga
Riwayat penyakit serupa : disangkal
Riwayat asma : disangkal
Riwayat hipertensi : disangkal
Riwayat diabetes mellitus : disangkal
Riwayat penyakit jantung : disangkal
Riwayat alergi : disangkal
Anamnesis Sistem
Cerebrospinal : kejang (+) satu hari lalu, nyeri kepala (-), pusing (-)
Cardiovascular : akral dingin (-), sianosis (-)
Respirasi : batuk (-), pilek (-), sesak nafas (-)
Gastrointestinal : mual (-), muntah (-), sulit BAB (-)
Musculoskletal : nyeri gerak (+), atrofi (-)
Integumentum : gatal (-), ruam (-)
Urogenital : dysuria (-), hematuria (-), sulit BAK (+)
PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
GCS : E4V5M6 = 15
Kesadaran : Compos Mentis
Vital Sign
Tekanan darah : 110/80 mmHg
Nadi : 88 x/menit
Suhu : 36,5C
Pernafasan : 20 x/menit
SPO2 : 99%
BB : 50 kg
TB : 168 cm
ASA : III
Kepala
Kepala : Mesocephal ; jejas ( - )
Mata : Conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor,
reflek cahaya (+/+)
Telinga : Tidak ada kelainan bentuk, sekret (-/-)
Hidung : Tidak ada deviasi septum, sekret (-/-)
Mulut dan gigi : Tidak ada pembesaran tonsil, karies (+)
Leher : Trakea ditengah, tidak ada pembesaran kelanjar tiroid dan
kelenjar getah bening, JVP tidak meningkat.
Thorax
Cor : Suara jantung S1 > S2 reguler, gallop (-), murmur (-), ictus cordis ( - ), tidak kuat
angkat.
Pulmo : Suara paru vesikuler; ronkhi -/- ; wheezing -/-Simetris kanan dan kiri
Tidak ada retraksi
Abdomen
Inspeksi : Perut datar, supel, distensi ( - )
Palpasi : masa (-), hepar dan lien tidak ada kelainan
Perkusi : Tympani
Auskultasi : BU (+) normal
Ekstermitas
Akral dingin : -/- I -/-
Edema : -/- I -/-
Sianosis : -/- I -/-
Capillary refill : <2”/<2” I <2”/<2”
Pemeriksaan turgor kulit : baik
Status lokalis
Regio : Femur Dextra
Inspeksi : Terbalut bandage dan terpasang skin traksi, deformitas (-),
rembes darah (-),
Palpasi : Nyeri takan (+), CRT <2”, pulasasi a. tibialis (+),
sensibilitas (dbn)
ROM : Terbatas (+), Nyeri gerak (+)
PEMERIKSAAN PENUNJANG
• Laboratorium (Tanggal 10 Januari 2019)

Pemeriksaan Nilai normal


Hematologi
Hemoglobin 11.4 12.0-16.0 g/dL
Leukosit 14.300 4000-10000/L
Hematokrit 34.8 37.0-47.0%
Eritrosit 3.79x106 3.80-5.20x106/
Trombosit 212.000 150000-450000/L
MCV 91.8 75.0-100.0 fl
MCH 30.1 26.0-34.0 pg
MCHC 32.8 32.0-36.0 %
RDW 12.8 11.0-16.0 %
MPV 9.7 8.0-11.0 fl
APTT 31.4 23.9-34.9 detik
PTT 10.0 9.4-11.6 detik
Ureum 23.10 10-50 mg/dL
Creatinin 0,80 0,60-0,90 mg/dL
GDS 132 ≤ 200 mg/dL
HbsAg Negatif Negatif
Anti HIV Negatif Negatif
EKG : Normo Sinus Rythm
• X-Ray Pelvis : Fraktur Colum Femur Dextra
• Foto thorak : Cor / Pulmo Normal
DIAGNOSA KLINIS
• Close Fraktur Collum Femur Dextra

KESAN ANESTESI
• Laki-laki56 tahunmenderitaClose Fraktur Collum Femur Dextra dengan ASA III

PENATALAKSANAAN
• Intravena fluid drip (IVFD) RL 20 tpm
• Pro Hemiarthroplasty
• Informed Consent Operasi
• Konsul ke Bagian Anestesi
• Informed Consent Pembiusan
• Dilakukan operasi dengan general anestesi dengan status ASA III
KESIMPULAN
• Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, maka :
• Diagnosis pre operatif : Close Fraktur Collum Femur Dextra
• Status Operatif : ASA III
• Jenis Operasi : Hemiarthroplasty
• Jenis Anastesi : General Anastesi
STATUS ANESTESI
Persiapan Alat Peralatan Anestesi Umum
(S) : Stetoskop, laringoskop
(T) : Endotracheal Tube
(A) : Oral airway (Guedel)
(T) : Plester
(I) : Mandrin/Stilet (pada pasien ini tidak dipakai)
(C) : Connector
(S) : Suction
Balon/pump
Mesin anestesi
EKG monitor
Sfigmomanometer digital
Oksimeter/saturasi
Infuse set
Spuit 10cc
Gel
Sungkup muka
Persiapan Obat

• Antiemetik : Ondansetron
• Analgetik : Fentanil, Petidine, Ketamin
• Gasinhalasi : Sevoflurane, N2O, O2
• Obat emergency : Propofol, Neostigmin, Atracurium Besylate, Sulfas Atropine, Efedrin
• Sedasi : Propofol, Midazolam, Ketamin
• Pelumpuh Otot : Atracurium Besylate
• Analgetik post op : Ketorolac, Petidine
• Diagnosis pre operasi : Close Fraktur Collum Femur Dextra
• Diagnosis post operasi : Close Fraktur Collum Femur Dextrauu
• Jenis operasi : Hemiarthroplasty
• Rencana teknik anestesi : General anestesi
• Status fisik : ASA III
• Premedikasi dengan :Sulfas Atropine
Diagnosis pre operasi : Close Fraktur Collum Femur Dextra

Diagnosis post operasi : Close Fraktur Collum Femur Dextrauu

Jenis operasi : Hemiarthroplasty

Rencana teknik anestesi : General anestesi

Status fisik : ASA III

Premedikasi dengan :Sulfas Atropine


Anestesi dengan:

Inhalasi
• O22 liter/menit
• N2O 2 liter/menit
• Sevoflurane MAC 2-3%
Intravena:
• Fentanyl
• Propofol
• Atracurium
Pernapasan : Kendali

Posisi : LLD

Infus : RL – tangan kiri

Komplikasi selama pembedahan: -

Keadaan akhir pembedahan:


• Tekanaan darah : 110/70 mmHg
• Nadi : 90x/ menit
• Suhu : 36.5 C
• RR : 20
• Saturasi O2 : 100 %
• Mual/ muntah : -/-
• Sianosis :-
Terapi khusus pascabedah: -
Komplikasi pasca bedah: -
Hipersensitivitas/alergi: -
Kematian: -
Sebab kematian: -
Teknik khusus: -
Jam mulai anestesi : 11.20 WIB
Jam mulai operasi : 11.45 WIB
Jam selesai operasi : 13.15 WIB
Jam selesai anestesi : 13.25 WIB
Lama operasi : 90 menit
Lama anestesi : 125 menit
KRONOLOGIS ANASTESI
11.15 WIB Dilakukan tindakan pramedikasi dengan pemberian sulfas atropine 0,6 mg IV untuk
mengurangi sekresi kelenjar faring dan bronchial

11.20 WIB Induksi Anestesi dimulai dengan pemberian Fentanilsebagai Analgetik secara
intravenasebanyak 1-2 ug/KgBB
11.22 WIB Pasien diberikan Propofol secara perlahan sebagai Sedatif melalui intravena sebanyak 2-2,5
mg/KgBB
11.25 WIB Pasien diberikan Atracurium Besylate 0,5-1 mg/KgBB sebagai pelemas otot untuk
merelaksasikan pernapasan,Pemasangan Endotracheal Tube agar pasien dapat dianestesi
sekaligus bernapas dengan adekuat.
11.28 WIB Pasien disungkup dengan sungkup muka yang telah terpasang pada mesin anestesi yang
menghantarkan gas (Sevofluran) dengan ukuran 6-8 vol% bersamaan dengan O26
liter/menit dari mesin ke jalan napas pasien dengan melakukan bagging selama kurang lebih
3 menit untuk menekan pengembangan paru dan juga menunggu kerja dari pelemas otot
sehingga mempermudah dilakukan pemasangan Endotracheal Tube.
11.33 WIB Setelah pasien diintubasi dengan menggunakan Endotracheal Tube, maka dialirkan
Sevofluran 1-2 vol% bersamaan dengan O2 2 liter/ menit serta N2O 2 liter / menit. Ventilasi
dilakukan dengan kendali mesin dengan frekuensi 12 x/menit. Setelah beberapa saat setelah
induksi, tekanan darah pasien mulai turun oleh karena obat-obat induksi ini menandakan
anestesi yang dijalankan sudah dalam.
11.45 WIB Operasi dimulai
13.15 WIB Operasi selesai dengan tekanan darah 110/70mmHg, nadi 90 dan saturasi
oksigen 100%. Kondisi terkontrol.
13.16 WIB Diberikan neostigmine 0,06 mg/kgBB untuk me-reverse pasien yang telah
mendapat pelumpuh otot non depolarisasi. Efek muskarinik yang ditimbulkan
(bradikardi) dinetralisir dengan obat antikolinergik yaitu sulfas atropin

13.20 WIB Pemeliharaan inhalasi pasien. Pernafasan pasien mulai spontan, sistem ventilasi
kendali diubah menjadi sistem ventilasi spontan. Ventilasi spontan sudah
adekuat, aliran sevoflurane dimatikan, dilakukan oksigenasi dengan O26
liter/menit. Kemudian dilakukan suction untuk mengeluarkan saliva, setelah itu
ekstubasi Endotracheal Tubedan digantikan dengan sungkup muka.

12.25 WIB Pasien sadar dipindahkan ke ruang pemulihan dan dipasang kanul oksigen.
Terapi Cairan
• BB : 50 kg
• EBV : 70cc (laki-laki) /kgBB =70cc x 50 = 3500 cc
• Jumlah perdarahan :
• Puasa: 2-3cc / KgBB/ jam= 2cc x 50 x 8= 800cc
• Perdarahan: 2-4 cc x jumlah perdarahan (kasa + vol. suction tube)
= 2 x {(8 kasa x20) + 1000cc}
= 2 x 1160c
= 2320cc
• Luas Operasi: Besar ( 8 x BB x lama operasi)
= 8 x 50 x 1,5 jam
= 600 cc
• Total Perdarahan: 800 + 2320 + 600 = 3720 cc
• Urine 350 cc
Kebutuhan cairan :
• Maintenance = 2 x 50= 100 cc
• Stress operasi = 6 x 50 = 300 cc
• Defisit puasa = 6 x 100 = 600 cc
Total kebutuhan cairan durante operasi
• Jam I : M + SO + ½ DP = 100 + 300+300 = 700 cc
• Jam II : M + SO + ¼ DP = 100 + 300+150= 550 cc
Pemberian cairan

Jam I dan II : 1250 cc

Perdarahan : 3720 cc

Urin output : 350 cc


Jadi total kebutuhan cairan : Jam I dan II + perdarahan
+ urin output
•: 1250 cc + 3720 cc + 350 cc
•: 5320 cc
Cairan yang diberikan :

• Ringer laktat 3000 cc


• Koloid 500 cc
POST OPERASI
• Tekanan darah : 110/70 mmHg, Nadi : 90 x/menit, Saturasi O2 : 100%
• Penilaian Pemulihan Kesadaran (berdasarkan Skor Aldrete) :
Nilai 2 1 0
Kesadaran Sadar, orientasi baik Dapat dibangunkan Tak dapat dibangunkan

Warna Merah muda (pink) tanpa O2, SaO2> Pucat atau kehitaman perlu O2 agar Sianosis dengan O2 SaO2 tetap < 90%
92 % SaO2> 90%

Aktivitas 4 ekstremitas bergerak 2 ekstremitas bergerak Tak ada ekstremitas bergerak

Respirasi Dapat napas dalam, Batuk Napas dangkal Apnu atau obstruksi
Sesak napas

Kardiovaskular Tekanan darah berubah 20 % Berubah 20-30 % Berubah > 50 %

Total = 9 Pasien dipindahkan ke HCU Bedah


TINJAUAN
PUSTAKA
FRACTURE COLLUM FEMUR
DEFINISI Fraktur adalah putusnya hubungan normal suatu tulang atau
tulang rawan.

Fraktur femur adalah rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha


yang dapat disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot,
kondisi-kondisi tertentu seperti degenerasi
tulang/osteoporosis.
Fraktur kolum femur merupakan fraktur intrakapsular yang
terjadi pada bagian proksimal femur, yang termasuk kolum
femur adalah mulai dari bagian distal permukaan kaput femoris
sampai dengan bagian proksimal dari intertrokanter.
ANATOMI FISIOLOGI
Bagian proksimal femur terdiri dari caput,
collum/cervikal dan 2(dua) trochanter (major dan
minor)

Bagian distal femur terbagi menjadi dua oleh


lengkungan spiral menjadi condylus medial dan
lateral.

Sistem muskuloskeletal adalah penunjang bentuk


tubuh dan berperan dalam pergerakan.

Terdiri dari tulang, sendi, otot rangka, tendon,


ligament, bursa dan jaringan-jaringan khusus yang
menghubungkan struktur tersebut.
KLASIFIKASI FRAKTUR COLLUM FEMUR

• fraktur intracapsular dan fraktur extracapsular.


ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI
Cedera traumatik
• Cedera langsung
• Cedera tidak langsung
Fraktur Patologik
• Tumor tulang
• Infeksi, misalnya osteomyelitis
• Rakhitis
Secara spontan, oleh stress atau tekanan pada tulang yang terus menerus
• penyakit polio
• orang yang bertugas di bidang kemilitera

• Mekanisme terjadinya fracture collum femur biasanya terjadi akibat jatuh, tetapi pada
orang yang menderita osteoporosis, kecelakaan yang sangat ringan sekalipun sudah dapat
menyebabkan fraktur, mislanya akibat kaki yang tersandung karpet dan menyebabkan sendi
panggul mengalami exorotasi
DIAGNOSIS
• Anamnesis
– terdapat riwayat jatuh
– berusia lanjut dengan riwayat jatuh dan ketidak mampuan untuk berjalan
• Pemeriksaan Fisik
– Inspeksi: gejala klasik pasien dengan displaced fraktur adalah ekstremitas yang
memendek dan dari luar tampak terputar, edema, deformitas
– Palpasi: adalah nyeri tekan tulang setempat
– ROM: flexi, extensi, abduksi, adduksi, endorotasi serta eksternarotasi hip joint terbatas,
nyeri gerak
• Pemeriksaan Penunjang
• Foto X-ray AP Lateral pelvis: Adanya formasi tulang periosteal, sklerosis, kalus,
atau garis fraktur memberi petunjuk terjadinya stress fracture
TATALAKSANA
• Operatif: Hemiarthroplasty
• Konservatif: Skin Traksi
• Medikamentosa: NSAID

KOMPLIKASI
• Komplikasi Umum: Karena proses imobilisasi yang lama dapat terjadi deep vein thrombosis,
emboli pulmonal, pneumonia, dan ulkus decubitus
• Nekrosis Avaskular
• Non-Union
• Osteoartritis

PROGNOSIS
• Diagnosis dan penatalaksanaan awal yang tepat dapat mencegah terjadinya
displaced pada fraktur dan memperbaiki prognosis yang akan terjadi.
• Anestesi umum ialah suatu keadaan
yang ditandai dengan hilangnya
Definisi persepsi terhadap semua sensasi
Anestesi akibat induksi obat. Anestetik umum
ditandai dengan analgesia, amnesia,
Umum hilangnya kesadaran, hambatan
sensorik, diikuti dengan hilangnya
refleks dan relaksasi otot rangka.
Persiapan Tanyakan kepada pasien riwayat operasi dan anestesi yang terdahulu,
penyakit serius yang pernah dialami, juga tanyakan mengenai malaria,
Pasien penyakit kuning, hemoglobinopati, penyakit kardiovaskuler atau penyakit
Sebelum sistem pernapasan.
Operasi
Apakah pasien memakan obat tertentu secara teratur? Obat obatan
yang berbubungan secara nyata dengan anestesi adalah obat
antidiabetik, antikoagulan, antibiotika, kortikosteroid dan antihipertensi,
dimana dua obat terakhir harus diteruskan selama anestesi dan operasi,
tetapi obat-obat lainnya harus dimodifikasi seperlunya.

Tanyakan kapan makan/minum terakhir dan jelaskan perlunya puasa


sebelum anestesi.
Pemeriksaan Pasien
•Pertama periksalah keadaan umum
pasien.
•Selanjutnya perhatikan jalan napas
bagian atas dan pikirkan bagaimana
penatalaksanaannya selama anestesi:
Klasifikasi status fisik yang lazim digunakan untuk menilai kebugaran
fisik seseorang ialah yang berasal dari The American Society of
Anesthesiologist (ASA) tahun 2014. Klasifikasi ASA antara lain :
• ASA I : Pasien dalam keadaan normal dan sehat.
• ASA II : Pasien dengan kelainan sistemik ringan.
• ASA III : Pasien dengan kelainan sistemik berat.
• ASA IV : Pasien dengan kelainan sistemik berat dan penyakitnya
merupakan ancaman kehidupannya setiap saat.

• ASA V : Seorang pasien yang hampir mati yang tidak diharapkan


untuk bertahan hidup tanpa operasi.
• ASA VI : Pasien yang didiagnosis mati batang otak yang organ
tubuhnya dikeluarkan untuk tujuan donor.
Teknik anestesi apa yang akan
digunakan untuk pasien?
• Jika kita sudah memutuskan teknik anestesi
yang akan digunakan, jelaskan secara singkat
kepada pasien apa yang akan terjadi, katakan
bahwa kita akan memperhatikan terus fungsi
jantung dan pernapasannya dan yakinkan
bahwa pasien tidak akan merasa sakit
Premedikasi untuk Anestesi dan Operasi
• Pasien yang akan dioperasi biasanya diberikan premedikasi karena:
• Diberikan sedatif untuk mengurangi ansietas (meskipun ini tidak diperlukan pada anak yang berusia
kurang dari 2 tahun).
• Diberikan sedatif untuk mempermudah konduksi anestesi.
• Diberikan analgetik jika pasien merasa sakit preoperatif atau dengan latar belakang analgesia selama
dan sesudah operasi.
• Untuk menekan sekresi, khususnya sebelum penggunaan ketamin dipakai Atropin, yang dapat digunakan
untuk aktivitas vagus dan mencegah bradikardia, khususnya pada anak-anak.
• Untuk mengurangi resiko aspirasi isi lambung, jika pengosongan diragukan, Misalnya pada kehamilan
(pada kasus ini diberikan antasida per oral).
Teknik Anastesi Umum

Sungkup Muka (Face Mask) dengan napas spontan

Indikasi :
• Tindakan singkat ( ½ - 1 jam)
• Keadaan umum baik (ASA I – II)
• Lambung harus kosong
Prosedur :
• Siapkan peralatan dan kelengkapan obat anestetik
• Pasang infuse (untuk memasukan obat anestesi)
• Premedikasi + / - (apabila pasien tidak tenang bisa diberikan obat penenang)
• Inhalasi : Sungkup haruslah menutup wajah pasien dengan rapat selagi manuver jalan nafas
dilakukan. Hal ini lebih mudah dilakukan oleh 2 orang, namun dapat dilakukan dengan 1
tangan.
Pemeliharaan

Berbagai sistem penilaian telah dibuat menggunakan


pengukuran orofacial untuk memprediksi intubasi sulit.
Yang paling banyak digunakan adalah skor Mallampati,
yang mengidentifikasi pasien dengan faring yang kurang
jelas divisualisasikan melalui mulut terbuka
• Grade I : Pilar faring, uvula, dan palatum mole terlihat jelas,
seluruh tonsil terlihat jelas
• Grade II : Uvula dan palatum mole terlihat sedangkan pilar
faring tidak terlihat, setengah keatas dari fossa tonsil terlihat
• Grade III : Palatum mole dan durum masih dapat terlihat jelas
• Grade IV : Pilar faring, uvula, dan palatum mole tidak terlihat,
tanya palatum durum yang terlihat.
Teknik Intubasi
• Pastikan semua persiapan dan alat sudah lengkap
• Induksi sampai tidur, → fasikulasi (+)
• Bila fasikulasi (-) → ventilasi dengan O2 100% selama kira - kira 1
mnt
• Batang laringoskopi pegang dengan tangan kiri, tangan kanan
mendorong kepala sedikit ekstensi → mulut membuka
• Masukan laringoskop (bilah) mulai dari mulut sebelah kanan, sedikit
demi sedikit, menyelusuri kanan lidah, menggeser lidah kekiri
• Cari epiglotis → tempatkan bilah didepan epiglotis (pada bilah
bengkok) atau angkat epiglotis (pada bilah lurus)
• Cari rima glotis (dapat dengan bantuan asisten menekan trakea dar
luar)
• Temukan pita suara → warnanya putih dan sekitarnya merah
• Masukan Endotrakeal melalui rima glottis
• Hubungkan pangkal Endotrakeal dengan mesin anestesi dan atau alat
bantu napas (alat resusitasi)
Intubasi Endotrakeal dengan napas kendali
(kontrol)
• Pasien sengaja dilumpuhkan/benar-benar tidak bisa
bernafas dan pasien dikontrol pernafasannya dengan
kita memberikan ventilasi 12 - 20 x permenit. Setelah
operasi selesai pasien dipancing dan akhirnya bisa
nafas spontan kemudian kita akhiri efek anestesinya.
• Teknik sama dengan diatas
• Obat pelumpuh otot non depolar (durasinya lama)
• Pemeliharaan, obat pelumpuh otot dapat diulang
pemberiannya
Rumatan Anestesi
Rumatan anestesi (maintenance) dapat dikerjakan dengan secara intravena
(anestesi intravena total) atau dengan inhalasi atau dengan campuran
intravena inhalasi. Rumatan anestesi biasanya mengacu pada trias anestesi
yaitu:
• Hipnosis
• Analgesia
• Relaksasi otot
Cara Pemberian anestesi dimulai dengan induksi yaitu memberikan obat sehingga
memberikan penderita tidur. Tergantung lama operasinya, untuk operasi yang waktunya
anestesi pendek mungkin cukup dengan induksi saja. Tetapi untuk operasi yang lama,
kedalaman anestesi perlu dipertahankan dengan memberikan obat terus
menerus dengan dosis tertentu, hal ini disebut maintenance atau pemeliharaan.

Keadaan relaksasi bisa terjadi pada anestesi yang dalam, sehingga bila kurang
relaksasi salah satu usaha untuk membuat lebih relaksasi adalah dengan
mendalamkan anestesi, yaitu dengan cara menambah dosis obat.

ada tehnik tertentu agar tercapai trias anestesi pada kedalaman yang ringan,
yaitu penderita dibuat tidur dengan obat hipnotik, analgesinya menggunakan
analgetik kuat, relaksasinya menggunakan pelemas otot (muscle relaxant) tehnik
ini disebut balance anestesi.
Stadium anastesi

Stadium I
• Disebut juga stadium analgesi atau stadium disorientasi. Dimulai sejak diberikan
anestesi sampai hilangnya kesadaran. Pada stadium ini operasi kecil bisa dilakukan.
Stadium II
• Disebut juga stadium delirium atau stadium exitasi. Dimulai dari hilangnya
kesadaran sampai nafas teratur. Dalam stadium ini penderita bisa meronta ronta,
pernafasan irregular, pupil melebar, refleks cahaya positif gerakan bola mata tidak
teratur, lakrimasi (+), tonus otot meninggi, reflex fisiologi masih ada, dapat terjadi
batuk atau muntah, kadang-kadang kencing atau defekasi. Stadium ini diakhiri
dengan hilangnya refleks menelan dan kelopak mata dan selanjutnya nafas menjadi
teratur.
Stadium III

Disebut juga stadium operasi. Dimulai dari nafas teratur


sampai paralise otot nafas. Dibagi menjadi 4 tahap :
• Tahap I: Dari nafas teratur sampai berhentinya gerakan bola mata.
Ditandai dengan nafas teratur, nafas torakal sama dengan abdominal.
Gerakan bola mata berhenti, pupil mengecil, refleks cahaya (+), lakrimasi
meningkat, reflex faring dan muntah menghilang, tonus otot menurun.
• Tahap II: Dari berhentinya gerakan bola mata sampai permulaan paralisa
otot interkostal. Ditandai dengan pernafasan teratur, volume tidak
menurun dan frekuensi nafas meningkat, mulai terjadi depresi nafas
torakal, bola mata berhenti, pupil mulai melebar dan refleks cahaya
menurun, refleks kornea menghilang dan tonus otot makin
Tahap III: Dari permulaan paralise otot interkostal sampai paralise
seluruh otot Interkostal. Ditandai dengan pernafasan abdominal lebih
dorninan dari torakal karena terjadi paralisis otot interkostal, pupil
makin melebar dan reflex cahaya menjadi hilang, lakrimasi negafif,
reflex laring dan peritoneal menghilang, tonus otot makin menurun.

Tahap IV: Dari paralise semua otot interkostal sampai paralise


diafragma. Ditandai dengan paralise otot interkostal, pernafasan
lambat, iregular dan tidak adekuat, terjadi jerky karena terjadi paralise
diafragma. Tonus otot makin menurun sehingga terjadi flaccid, pupil
melebar, refleks cahaya negatif refleks spincter ani negatif.
Stadium IV
• Dari paralisis diafragma sampai apneu
dan kematian. Juga disebut stadium over
dosis atau stadium paralysis. Ditandai
dengan hilangnya semua refleks, pupil
dilatasi, terjadi respiratory failure dan
dikuti dengan circulatory failure.5
KLASIFIKASI OBAT-OBAT ANESTESI UMUM
Anestesi Inhalasi
Halothane Isofluran (Forane) Sevofluran
1. Famakokinetik: sebagian 1. Mekanisme Kerja: depresi kortikal 1. Mekanisme Kerja : sama dengan
dimetabolisasikan dalam hati global banyak reseptor terlibat. isofluran.
bromide, klorida anorganik, dan 2. Keuntungan : Konsentrasi sampai 1 2. Keuntungan : Onset yang lembut
trifluoacetik acid. MAC tidak meningkatkan aliran dari anastesi tanpa peningkatan
2. Efek samping: menekan pernapasan darah koroner dan serebral pada aliran darah otak ata tekanan
dan kegiatan jantung, hipotensi, jika sehingga popular digunaakan pada intrakranial di bawah MAC 1; tidak
penggunaan berulang, maka dapat pembedahan jantung dan bedah menyebabkan takikardi.
menimbulkan kerusakan hati. saraf 3. Efek samping : Vasodilatasi,
3. Dosis: tracheal 0,5-3 v%. 3. Efek-Efek Samping : Hipotensi, Hipotensi, Depresi nafas
4. Khasiat anestetisnya sangat kuat Depresi nafas, Bau yang tidak enak 4. Hal yang perlu diperhatikan :
tetapi khasiat analgetisnya dan daya 4. Kecepatan induksi : 2-3 menit digunakan untuk induksi karena
relaksasi ototnya ringan jarang di gunakan sebagai agen baunya yang paling sedikit
5. Bersifat menekan refleks dari faring induksi karenadapat membuat menyengat.
dan laring, melebarkan bronkioli batuk. 5. Nilai MAC : 2.2 pada inhalasi
dan mengurangi sekresi ludah dan 5. digunakan sebagai pemeliharaan, oksigen dan 1.2 pada nitrous oxide
sekresi bronchi karena bau yang tidak enak
membuatnya jarang di gunakan
sebagai induksi, tidak ada properti
Anestesi Intravena
Sedasi
Barbiturat : sodium thiopentone
Mekanisme Kerja ikatan asam protein yang lemah, ketika di
metabolisme berubah menjadi bentuk aktif,
pentobarbital yang menyebabkan depresi
kortikal.
Keuntungan Cepat, induksi lembut, menyebabkan
penurunan cerebral metabolic rate dari
konsumsi oksigen, membuatnya berguna
dalam operasi by pass kardiopulmonal
(meskipun profopol juga sama)
Efek samping Hipotensi, depresi nafas, penurunan
sensitivitas pada peningkatan CO2
memicu periode apneu transient,
batuk, spasme laring, bronkokontriksi
karena supresi reflekslaring yang tidak
baik, nyeri saat injeksi
Kecepatan Induksi 30-45 detik
Turunan Phencyclidine : Ketamin

Mekanisme Kerja bekerja pada reseptor N-methyl d-aspartate


dan reseptor, opoid untuk memberikan efek
analgesia dan anastetik kuat.
Keuntungan Menyebabkan tidur, disosiasi dan analgesia; tidak
menyebabkan depresi nafas

Efek samping halusinasi dengan mimpi vivid dan psikosis,


diplopia, buta sementara, hipertensi, dan
takikardia.

Hal yang perlu diperhatikan ketamin memiliki dua stereoisomer, yag mana S
lebih poten dan memiliki efek samping tidak
diinginkan yang lebih sedikit, jarang digunakan
sebagai pemeliharaan IV karena recovery yang
tidak menyenangkan.
Phenol : Propofol (2,6 di-isopropylphenol)

Mekanisme Kerja bekerja cepat, molekul larut lemak dapat


dengan cepat melewati sawar darah otak dan
begitu tiba disirkulasi serebral, menyebabkan
depresi kortikal dan hilangnya kesadaran.

Kecepatan Induksi 30-45 detik

Durasi Kerja 4-7 menit

Keuntungan Mendepresi refleks jalan nafas atas, anti mual

Efek samping Hipotensi, Apnea sampai 60 detik, depresi nafas,


nyeri pada injeksi, pergerakan involunter,
cegukan, profopol infussion sindrom.
Eliminasi eliminasi cepat oleh hati

Efek klinis Hilangya kesadaran


Benzodiazepin: Midazolam

Mekanisme Kerja penguat -amino butiric acid.

Kecepatan Induksi 40-70 detik

Efek samping Bingung, tidak dapat diprediksi jika digunakan


pada orang tua.

Keuntungan Larut dalam lemak dengan transfer sawar darah


otak, Menyebabkan sedasi, hypnosis dan sebagai
anti konvulsan, menyebabkan amnesia
anterogarde; efek depresi minimal pada cardiac
output.
• Pelumpuh Otot : Neuromuscular blocker
Depolarizing neuromuscular blocking drugs
Suxamethonium

Mekanisme Kerja Menyebabkan depolarisasi berkepanjangan dari membran


otot pada motor end plate dengan memblok reseptor,
yang berarti asetil kolin tidak dapat memulai kontraksi
otot.
Efek Klinis Kontraksi inisial dari otot , menyebabkan fasikulasi yang
berlangsung beberapa detik,kemudian paralysis yang
berlangsung 5 menit

Onset Kerja lebih cepat dari pada pelumpuh otot kompetitif

Indikasi penggunaan rapid sequence induction : karena onsetnya yang cepat


dapat diintubasi dengan sangat cepat setelah induksi
anastesi

Efek samping Nyeri otot hebat pasca operasi, brakikardi, peningkatan


tekanan intra okular, peningkatan potasium di plasma.
Depolarizing neuromuscular blocking drugs
Atracurium
Mekanisme Kerja antagonis kompetitif dari asetil kolin pada
neuromuscular juntion
Kecepatan Induksi 30-45 detik
Durasi Kerja 15-20 menit
Efek samping pemanjangan efek pada gagal hati, pelepasan
histamin.

Keuntungan Tidak ada efek pada sistem tubuh lain.


Eliminasi Spontan deasetilasi dan metabolisme hepatic
Efek klinis Hilangya kesadaran
Poin penting karena peranan hati pada metabolisme, semua
enzim inducer akan mempercepat metabolisme.
Antikolinesterase
Neostigmine
Mekanisme Kerja meningkatkan agonis pada neuromuscular junction

Kecepatan kerja 5 menit


Durasi Kerja 20-30 menit
Keuntungan Durasi yang baik; tidak melewati sawar darah otak.

Efek samping bradikardia dan penurunan cardiac output, spasme


usus, mual muntah, bronkokontriksi, miosis dan
pandangan kabur.

Eliminasi dihidrolisasi oleh asetilkolinesterase dan plasma


kolinesterasedan juga adanya aktivitas hepatik yang
berperan
PEMULIHAN ANESTESI
menghentikan
akhir operasi pemberian obat
anestesi
Anestesi inhalasi
• penghentian obat anestesi aliran oksigen dinaikkan (oksigenisasi)
• oksigen akan mengisi tempat yang sebelumnya ditempati oleh obat anestesi inhalasi diaveoli
berangsur-angsur keluar mengikuti udara ekspirasi.
• tekanan parsiel obat anestesi di alveoli juga berangsur-angsur turun
• terjadilah difusi obat anestesi inhalasi dari dalam darah menuju ke alveoli
• oksigen dari alveoli akan berdifusi ke dalam darah.
• kadar oksigen di dalam darah meningkat
• difusi obat anestesi inhalasi dari dalam darah menuju ke alveoli
• maka kadarnya di dalam darah makin menurun.
• Kesadaran penderita berangsur-angsur pulih
Anestesi intravena

Kesadaran berangsur-angsur pulih dengan turunnya kadar obat anestesi

Pada pasien yang dianestesi dengan respirasi spontan tanpa menggunakan pipa
endotrakeal maka tinggal menunggu sadarnya penderita

bagi pasien yang menggunakan pipa endotrakealmaka perlu dilakukan ekstubasi


Hal yang dinilai Nilai

1. Kesadaran:
2
Sadar penuh
1
Bangun bila dipanggil
0
Tidak ada respon
2. Respirasi:
2
Dapat melakukan nafas dalam, bebas, dan dapat batuk
1
Sesak nafas, nafas dangkal atau ada hambatan
0
Apnoe
3. Sirkulasi: perbedaan dengan tekanan preanestesi
2
Perbedaan +- 20
1
Perbedaan +- 50
0
Perbedaan lebih dari 50
4. Aktivitas: dapat menggerakkan ekstremitas atas perintah:
2
4 ekstremitas
1
2 ekstremitas
0
Tidak dapat

5. Warna kulit
2
Normal
1
Pucat, gelap, kuning atau berbintik-bintik
0
Cyanotic
PEMBAHASAN
• Pada kasus ini, pasien seorang laki-laki usia 56 tahun dilakukan operasi hemiarthroplasty pada
fraktur collum femur dextra dengan menggunakan general anestesi. Anestesi general dipilih
sebagai teknik anestesi yang dipakai pada kasus ini karena pasien memiliki riwayat epilepsy.
• Premedikasi pada pasien ini dilakukan tindakan pemberian sulfas atropine 0,6 mg IV untuk
mengurangi sekresi kelenjar faring dan bronchial. Induksi anestesi yang diberikan dimulai
dengan pemberian Fentanil sebagai Analgetik secara intravenasebanyak 1-2 ug/KgBB.
• Pasien diberikan Propofol secara perlahan sebagai Sedatif melalui intravena sebanyak 2-2,5
mg/KgBB. Selanjutnya pasien diberikan Atracurium Besylate 0,5-1 mg/KgBB sebagai pelemas otot
untuk merelaksasikan pernapasan
• Pemasangan Endotracheal Tube agar pasien dapat dianestesi sekaligus bernapas dengan adekuat.
Anestesi inhalasi dengan O2 2lpm, N2O 2 lpm dan sevoflurane MAC 2-3% sebagai
maintenance.
• Jumlah cairan yang dibutuhkan pada operasi yang berlangsung selama kurang lebih 90 menit
sebesar 5320 cc dengan jumlah kebutuhan cairan durante operasi 1250 cc, jumlah perdarahan
3720 cc dan volume urin keluar 350cc. Terapi cairan yang diberikan adalah ringer laktat 3000cc,
Koloid 500 cc.
• Setelah anestesi selesai dan keadaan umum serta tanda vital baik, pasien dipindahkan ke ruang
pemulihan (Monitor tanda vital)
KESIMPULAN
• Pada pasien ini dipilih general anestesi dengan teknik intubasi endotracheal karena pasien
memiliki riwayat epilepsy sehingga pada saat operasi berlangsung relatif lebih aman
menggunakan general anestesi.
• Obat-obatan yang digunakan dalam operasi ini merupakan obat-obat yang dianggap rasional
dengan efek yang paling optimal yang bisa diberikan pada pasien ini.