You are on page 1of 18

Leukimia Limfoblas Akut

Skenario
Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun dibawa ke
puskesmas dengan keluhan pucat sejak 1 bulan yang lalu

Rumusan Masalah
Anak laki-laki 10 tahun dengan
keluhan utama pucat sejak 1
bulan yang lalu
Anamnesis

 Keluhan utama
 Riwayat penyakit sekarang
• Demam hilang timbul sejak 2 bulan yll
 Riwayat penyakit dahulu
• Mimisan dan pendarahan gusi
• Riwayat penyakit
Nyeri tulang hilang keluarga
timbul
Pemeriksaan Fisik
1. Inspeksi
 Tanda-tanda anemia, tanda-tanda perdarahan akibat trombositopenia,
perdarahan gusi, dan Hasil
hematuria, pembesaran
pemeriksaan fisik KGB.
• Suhu 390C, napas 24x/menit, denyut nadi 100x/menit, tekanan
2. Tanda-tanda vital
darah 90/60 mmHg
• Konjungtiva anemis,
3. Pemeriksaan Kelenjar
(+), skleraGetah
ikterik (+)Bening (KGB)
• Limfadenopati pada servikal, dan inguinal, hepatosplenomegali
 Nyeri tekan, kemerahan, hangat pada perabaan, bergerak/tidak bergerak,
(+), petechiae (+) pada kulit ekstremitas atas dan bawah.
fluktuasi, konsistensi,
 Ukuran
4. Pemeriksaan Hepar
5. Pemeriksaan Limpa
Pemeriksaan penunjang
Jenis Pemeriksaan Hasil yang ditemui
Complete blood count leukositosis, anemia, trombositopenia

Bone Marrow Puncture hiperselular dengan infiltrasi limfoblas, sel berinti


• Ht : 22%, Hb : 7,9 g/dL, leukosit : 2.000/Ul, trombosit : 3.000/uL.,
Sitokimia hitung jenis : 0/0/0/15/0/0
Sudan black negatif, mieloperoksidase negatif
• Sediaan apus darah tepi : limfoblast
Fosfatase asam positif (T-ALL), PAS positif (B-ALL)
• Sumsum tulang peningkatan
Imunoperoksidase : blast 60 TdT (enzim nuklear yang mengatur kembali gen
reseptor sel T dan Ig
Flowcytometry precursor B: CD 10, 19, 79A, 22, cytoplasmic m-heavy
chain, TdT
T: CD1a, 2, 3, 4, 5, 7, 8, TdT
B: kappa atau lambda, CD19, 20, 22
Sitogenetika analisa gen dan kromosom dengan immunotyping untuk
menguraikan klon maligna
Pungsi lumbal keterlibatan SSP bila ditemukan > 5 leukosit/mL CSF
Diagnosis kerja
• Leukimia Limfositik Akut
• Keganasan klonal dari sel-sel
precursor limfoid
menggantikan sel yang normal
di sumsum tulang. Lebih dari
80 kasus sel-sel ganas berasal
dari limfosit B.
• Bentuk dari leukemia, atau
kanker sel darah putih dengan
ciri khas limfoblas yang
berlebihan.
• Bentuk leukemia yang paling
sering pada anak-anak.
sel blas berukuran
sel blas berukuran kecil besar, heterogen,
seragam dengan sedikit dengan nucleoli yang sel blas dengan
sitoplasma dan jelas dan rasio inti sitoplasma
nucleocoli yang tidak sitoplasma yang bervakuola dan
jelas rendah basofilik
Diagnosis banding
Leukimia Limfositik Akut Leukimia Mielositik Akut

Demam, pucat, pendarahan, nyeri tulang. Anemia, pendarahan, demam, infeksi berulang

Limfadenopati, hepatosplenomegali Hipertrofi gusi, infiltrasi ke kulit,


limfadenopati, hepatosplenomegali.

Anemia normositik normokrom, CBC & darah tepi : trombositopenia,


Leukosit(menurun/normal/meningkat), leukositosis, sel blast selain seri limfosit.
trombositopenia, blast(+)
Mieloblas Limfoblas

Ukuran Besar Kecil

Sitoplasma Lebih banyak Lebih sedikit

Kromatin Halus Padat

Tidak jelas, jumlah ≤ 2


Nukleoli/anak inti Jelas, jumlah > 2 buah
buah
Auer rod Ditemukan pada 10-40% Tidak ada
kasus
Etiologi Epidemiologi

 Pada dewasa : sebagian besar tidak  Insidensi LLA adalaha 1/60.000


diketahui. orang per tahun, dengan 75% pasien
 Anak-anak : Faktor keturunan dan berusia kurang dari 15 tahun
sindroma predisposisi genetic.  Insidensi puncaknya usia 3-5 tahun.
 Faktor lingkungan dan kondisi klinis  LLA lebih banyak ditemukan pada
yang berhubungan dengan LLA : pria dibanding wanita.
1. Radiasi ionic
2. Paparan dengan benzene kadar tinggi
3. Merokok
4. Obat keoterapi
5. Infeksi EBV
6. Sindroma Down
7. Wiskott Aldrich
Patofisiologi

Teori umum : satu Akumulasi sel


sel induk mutan, Prekursor blas menghambat
mampu hematopoietik produksi normal
memperbaharui berdiferensiasi granulosit,
secara tidak buruk maligna eritrosit, dan
terhingga trombosit.

Sel leukemia dapat


menginfiltrasi setiap organ
Infeksi, anemia,
dan menyebabkan
dan perdarahan
pembesaran dan gangguan
fungsi organ tersebut
Patogenesis molekular
 Mekanisme umum lain dari pembentukan kanker adalah hilangnya atau
inaktivasi gen suppressor tumor yang mempunyai peranan penting dalam
mengontrol progresi siklus sel, misalnya p16 (INK4A) dan p15 (INK4B).
 Kejadian paling sering adalah delesi, mikrodelesi, dan penyusunan kembali
gen (gene rearrangement) yang melibatkan p16 (INK4A) dan p16 (INK4B).
 Kelainan ekspresi dari gen supresor tumor Rb dan p53 lebih sering terjadi
dan ditemukan pada 1/3 pasien LLA dewasa.
Gejala klinis
1. Anemia – mudah lelah, letargi, pusing, sesak, nyeri dada
2. Anoreksia
3. Nyeri tulang dan sendi – karena infiltrasi sumsum tulang oleh sel – sel leukemia
4. Demam, banyak berkeringat – gejala hipermetabolism
5. Infeksi mulut, saluran napas atas dan bawah, selulitis, atau sepsis – Penyebab
paling sering adalah stafilokokus, streptokokus, dan bakteri gram negative usus,
serta berbagai spesies jamur.
6. Perdarahan (petechiae, atraumatic ecchysmoses) – kulit, gusi, saluran cerna, otak,
hematuria
7. Hepatomegali; Splenomegali; Limfadenopati
8. Massa di mediastinum – sering pada LLA sel T
9. Leukemia sistem saraf pusat – nyeri kepala, muntah (gejala tekanan tinggi
intracranial), perubahan dalam status mental, kelumpuhan saraf otak terutama
saraf VI dan VII, kelainan neurologic fokal
Tatalaksana
 Terapi LLA bagi menjadi :
 Terapi Induksi Remisi
Terapi ini biasanya terdidri dari prednisone, vinkristin, antrasiklin, dan
L- asparaginase.
 Terapi Intensifikasi atau Konsolidasi
Bertujuan untuk mengeliminasi sel leukemia residual untukmencegah
relaps dan juga timbulnya sel yang resisten obat.
 Profilaksis SSP
Profilaksis SSP terdiri dari kombinasi kemoterapi intratekal, radiasi
cranial, dan pemberian sistemik obat yang mempunyai bioavailabilitas
SSP yang tinggi seperti metotreksat dosis tinggi dan sitarabin dosis
tinggi.
 Pemeliharaan Jangka Panjang
Terapi ini terdiri dari 6-merkaptopurin tiap hari dan metotreksat
seminggu sekali selama 2-3 tahun.
Anak-anak : memperpanjang disease-free survival
Dewasa : angka relaps tetap tinggi
 Transplantasi sumsum tulang
Mempunyai risiko tinggi untuk relaps.
 Risiko tinggi relaps yaitu :
1. Kromosom Philadelphia
2. Perubahan susunan gen MLL
3. Hiperleukositosis
4. Gagal mencapai remisi komplit dalam waktu 4 minggu
Komplikasi
 Paling sering : infeksi (sepsis)
 Tumor lysis sindrom
 Perdarahan
 Neurophaty (gangguan fungsional pada sistem saraf tepi)
 Encephalophaty (penyakit degeneratif pada otak)
 Seizure (kejang)
 Keganasan sekunder
Prognosis
 Resiko baik : tidak ada masalah secara sitogenetik, usia kurang dari 30 tahun,
jumlah set darah putih kurang dari 30.000/ul, mengalami remisi komplit dalam 4
minggu.
 Resiko intermediate : bila tidak memnuhi kriteria resiko baik dan resiko buruk.
 Resiko buruk : terjadi masalah sitogenetik [(t9;22), (4;ll)], usia lebih dari 60 tahun,
sub tipe prekursor sel B dengan jumlah sel darah putih lebih dari 100.000/ul, dan
kegagalan untuk mencapai remisi dalam 4 minggu.

 >90% penderita penyakitnya bisa dikendalikan setelah menjalani kemoterapi awal.


 Anak berusia 3-7 tahun memiliki prognosis paling baik.
Kesimpulan
Leukemia limfoblastik akut (LLA) adalah keganasan klonal dari sel-sel
prekursor limfoid. Sel leukemik ini tertimbun di sumsum tulang, lalu
menghancurkan dan menggantikan sel-sel yang menghasilkan sel darah yang
normal. Pada umumnya gejala klinis menggambarkan kegagalan sumsum
tulang atau keterlibatan ekstramedular oleh sel leukemia. Diagnosis LLA
dikesankan dengan adanya sel blas pada preparat apus darah tepi, namun lebih
dipastikan dengan pemeriksaan sumsum tulang. Hiperseluler, gambaran
monoton sel blas >30%, eritropoiesis, trombopoiesis tertekan.