You are on page 1of 29

PENGANTAR ILMU POLITIK

KELOMPOK 6

CIVIL SOCIETY &


HAK ASASI MANUSIA
BACKGROUND

 Civil society is an autonomous and democratic civil society.

The influence of civil society development in Indonesia due to legal and


political factors, began to fluctuate, the ideology since the New Order era,
then the transition period, and the era of reform.

Edi Sofwan, Jurnal Surya Kencana Dua: Dinamika Masalah Hukum dan Keadilan Vol. 4
Nomor 2 Desember 2017, (Jakarta: Pustaka Sendro Jaya, 2017) hal. 2
BACKGROUND

 At the time of the New Order was the period of absolute power,

centralized so that the State became tyrannical / totalitarian, the


mandate of reform to change the system towards a more democratic
that pay more attention to the rights of the people or civil society
system.

Edi Sofwan, Jurnal Surya Kencana Dua: Dinamika Masalah Hukum dan Keadilan Vol. 4
Nomor 2 Desember 2017, Pustaka Sendro Jaya, hal. 2
BACKGROUND

 Presidential Decree No. 129 of 1998 concerning the National Action Plan for

Indonesian Human Rights 1998-2003.

1) The preparation for the ratification of international human rights instruments;

2) Human Rights Dissemination and Education;

3) Prioritized implementation of human rights; and

4) Implementation of the provisions of various international human rights

instruments that Indonesia has ratified.

Edi Sofwan, Jurnal Surya Kencana Dua: Dinamika Masalah Hukum dan Keadilan Vol. 4
Nomor 2 Desember 2017, Pustaka Sendro Jaya, hal. 3
BACKGROUND

 Enforcement of law and human rights in Indonesia at this time has an

image that is not good or even bad in the eyes of society in general.

 The law has lost its identity as an important instrument in managing or

regulating people's lives.

M.J. Saptenno, Peran Civil Society Dalam Proses Pengakan Hukum Dan Hak Asasi
Manusia, (Ambon, UNPATTI, 2012)
BACKGROUND

 In fact many parties have a role both the government including the

community itself which is an integral part or cannot be separated.

 Law enforcement and human rights will be more meaningful if it is

followed by various supporting instruments and elements that deserve


serious attention from the government or authorities.

M.J. Saptenno, Peran Civil Society Dalam Proses Pengakan Hukum Dan Hak Asasi
Manusia, (Ambon, UNPATTI, 2012)
KASUS

Tragedi Mei ‘98


Kerusuhan yang terjadi pada tanggal 13-15 mei 1998 khususnya di ibukota
jakarta namun juga terjadi di daerah lain kerusuhan ini di awali krisis financial asia
dan di picu oleh tragedi trisakti di mana empat mahasiswa universitas trisakti
ditembak dan meninggal dalam demostrasi 12 mei 1998 kerusuhan ini pertama kali
terjadi di jakarta barat tepatnya di depan kampus trisakti yaitu terjadi pembakaran
pom bensin dan perusakan pos polisi di terminal grogol oleh massa.

Juliandry Hutahaean. 2014. Dampak kerusuhan mei 1998 terhadap pengusaha etnis tionghoa di
Petukangan Jakarta tahun 1998-2003. Jurnal sejarah, fakultas ilmu sosial Universitas Negeri
Semarang.
KASUS

Salah satu asumsi tentang pemicu kerusuhan Mei 1998 yang paling
menonjol adalah akibat terjadinya peristiwa penembakan 4 mahasiswa Trisakti
hari berikutnya kerusuhan semakin meluas dan tersebar pada wilayah-wilayah
yang berjauhan. Pada tanggal 14 Mei 1998 ini menjadi puncak dari kerusuhan,
Terjadi penjarahan dan pembakaran besar –besaran, hampir di setiap jalan besar
terjadi pembakaran ruko, mall, dan kendaraan umum maupun pribadi. Pada
tanggal 15 Mei kerusuhan mulai berkurang satu persatu seiring dengan patroli-
patroli pada hari itu Kota Jakarta dikendalikan oleh ABRI.

Juliandry Hutahaean. 2014. Dampak kerusuhan mei 1998 terhadap pengusaha etnis
tionghoa di Petukangan Jakarta tahun 1998-2003. Jurnal sejarah, fakultas ilmu sosial
Universitas Negeri Semarang.
KASUS

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1997-1999


merupakan salah satu penyebab kerusuhan yang terjadi pada bulan Mei 1998.
Peristiwa Trisakti 1998 dalam laporan utama GATRA yg berjudul “bau mesiu dan
amis darah di Trisakti” yang tercatat sebagai laporan terbanyak tentang peristiwa
Trisakti sepanjang Mei 1998 “bau mesiu dan amis darah di trisakti “ mendapati
bahwa tragedi Trisakti memiliki 52 sekuen utama dan 6 mikro sub-sekuen.

Josep. J & Raymundus Rikang R.W. 2014. narasi dramatis berita tragedi trisakti
1998.jurnal ilmu komunikasi. Universitas Atma Jaya Yogyakarta
KASUS

Kerusuhan mempunyai pola umum yang di mulai dengan berkumpulnya


massa pasif yang terdiri masa lokal dan massa pendatang (tak di kenal), kemudian
muncul sekelompok provokator yang memancing massa dengan berbagai modus
tindakan seperti membakar ban atau memancing perkelahian, meneriaki yel-yel yang
memanasi situasi merusak rambu-rambu lalu lintas dan sebagainya. Para pelaku
kerusuhan 13-15 Mei 1998 terdiri dari dua golongan yakni pertama, massa pasif
(massa pendatang) yang karena di provokasi berubah menjdi massa aktif, dan kedua
provokator –provokator umumnya bukan dari wilyah setempat, secara fisik tampak
terlihat, sebagian memakai seragam sekolah seadanya, (tidak lengkap).

Carla bianpoen. Nani buntaran. Andi yentriyani. 2006. publikasi komnas perempuan. Temuan
tim gabungan pencari fakta peristiwa kerusuhan mei 1998
KASUS

Pada kerusuhan ini banyak toko dan perusahaan di hancurkan oleh


amuk massa terutama milik warga Indonesia keturunan Tionghoa. Terdapat
ratusan wanita keturunan Tionghoa yang diperkosa dan mengalami pelecehan
seksual dalam kerusuhan tersebut sebagian bahkan diperkosa beramai-ramai di
aniaya secara sadis, kemudian di bunuh. Dalam kerusuhan tersebut, banyak
warga Indonesia keturunan Tionghoa yang meninggalkan Indonesia. Sebab dan
alasan kerusuhan ini masih banyak diliputi ketidak-jelasan dan kontrovesi sampai
hari ini.

Carla bianpoen. Nani buntaran. Andi yentriyani. 2006. publikasi komnas perempuan.
Temuan tim gabungan pencari fakta peristiwa kerusuhan mei 1998
Apa itu Civil society?....
Darimanakah asal konsep Masyarakat tersebut?
Apakah ada ciri dari Masyarakat Madani atau Civil
Society?
Bagaimanakah penjelasan singkat dari Civil Society?
Apa itu HAM?
Bagaimakah Pengertian Hak Asasi Manusia (HAM)
Menurut Para ahli?
Macam-macam Hak Asasi Manusia (HAM)
Apakah ada Ciri Khusus Hak Asasi Manusia (HAM)?
Sejarah Dan Perkembangan Civil Society Di
Indonesia

Akar sejarah civil society di Indonesia bisa diruntut semenjak


terjadinya perubahan sosial ekonomi pada masa kolonial, terutama
ketika kapitalisme merkantilis mulai diperkenalkan oleh Belanda.

Paska kemerdekaan (1950) pertumbuhan civil society di Indonesia


mengalami kemajuan. Pada saat itu, organisasi-organsasi sosial dan
politik dibiarkan tumbuh bebas dan memperoleh dukungan yang kuat
dari warga masyarakat yang baru saja merdeka.

Sayangnya, civil society yang mulai berkembang itu segera mengalami


penyurutan terus menerus. Bahkan akibat dari krisis-krisis politik
pada level negara ditambah dengan kebangkrutan ekonomi massif,
distorsidistrosi dalam masyarakat pun menyeruak. Hal ini
menghalangi kelanjutan perkembngan civil society.
Kondisi civil society mencapai titik yang paling parah di bawah rezim
Soekarno, yang ditopang oleh upaya penguatan negara, dilakukan dengan
dukungan elit kekuasaan yang baru. Dibawah rezim demokrasi terpimpin,
politik Indonesia didominasi oleh penggunaan mobilisasi massa sebagai
alat legitimasi politik.

Orde baru yang menggantikan rezim soekarno membawa dampak


tersendiri bagi perkembangan civil society di Indonesia. Pada dataran
sosial ekonomi, akselerasi pembangunan lewat industrialisasi telah
berhasil menciptakan pertumbuhan ekonomi yang belum pernah terjadi
sebelumnya. Ia juga telah mendorong terjadinya perubahan struktur
sosial masyarakat Indonesia yang ditandai dengan tergesernya pola-pola
kehidupan masyarakat agraris.

Sufyanto, Masyarakat Tamaddun; Kritik Hermeneutis Masyarakat Madani Nurcholis


Majid, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2001
SEJARAH PERKEMBANGAN HAM DI INDONESIA

Perkembangan HAM di Indonesia terbagi menjadi 2 periode yaitu:

1. Periode sebelum kemerdekaan (1908-1945)

2. Periode setelah kemerdekaan (1945-sekarang)

Damanhuri, Pendidikan Kewarganegaraan, Bekasi, Nurani, 2018 hal 131


1. Periode Sebelum Kemerdekaan 1908-1945

• Boedi Oetomo
Bentuk pemikiran HAM Boedi Oetomo dalam bidang hak kebebasan berserikat
dan mengelyarkan pendapat.
• Perhimpunan Indonesia
Lebih memberatkan kepada hak untuk menentukan nasib sendiri.
• Serekat Islam
Menekankan pada usaha-usaha untuk memperoleh penghidupan yang layak dan
bebas dari penindasan dan dekriminasi rasial
• Partai Komunis Indonesia
Sebagai partai yang berlandaskan paham marxisme lebih condong pasa hak-hak
yang bersifat sosial dan menyentuh isu-isu yang berkenaan dengan alat produksi
• Indische Partij
Pemikiran HAM yang plaing menonjol adalah hak untuk mendapatkan kemerdekaan
serta mendapatkan perlakuan yang sama.

• Partai Nasional Indonesia


Mengedepankan pada hak untuk memperoleh kemerdekaan.

• Organisasi Pendidikan Indonesia


Menekankan pada hak politik yaitu hak untuk mengeluarkan pendapat, hak untuk
menentukan nasib sendiri, hak berserikat dan berkumpul, hak persamaan dimuka
hukum serta hak untuk turut dalam penyelenggaraan negara.
2. Periode Setelah Kemerdekaan (1945-sekarang)

• Periode 1945-1950
Pemikiran HAM pada awal kemerdekaan masih pada hak untuk merdeka, hak
kebebasan untuk berserikat melalui organisasi politik yang didirikan serta hak
kebebasan untuk menyampaikan pendapat terutama di parlemen.

• Periode1950-1959
Periode ini dikenal dengan sebutan periode demokrasi parlementer. Prof. Bagdir
Manan mengatakan HAM pada periode ini mengalami “pasang dan menikmati “bulan
madu”

• Periode 1959-1966
Pada periode ini sistem pemerintahan yang berlaku adalah sistem demokrasi
terpimpin sebagai reaksi penolakan soekarno terhadap sister demokrasi parlementer.
• Periode 1966-1998
Pada masa awal periode ini telah diadakan berbagai seminar tentang HAM,yaitu pada taun 1967
dan 1968,. Namun pada awal tahun 1970-an sampai periode akhir 1980-an persoalan HAM
mengalami kemunduran karena HAM tidak lagi dihormati, dilindungi.

• Periode 1998-Sekarang
Pergantian rezim pemerintahan pada tahun 1998 memberikan dampak yang sangat besar pada
pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia. Pada saat ini mulai dilakukan pengkajian
terhadap beberapa kebijakan pemerintah orde baru yang berlawanan dengan pemajuan
perkindungan HAM.
Selanjutnya dilakukan penyusunan peraturan perundang-undangan yang berkaitan
dengan pemberlakuan HAM dalam kehidupan ketatanegaraan dan kemasyarakatan di Indonesa.
Steregi penegakan HAM pada periode ini dilakukan melalui dua tahap yaitu tahap status
penentuan dan tahap penataan atura secara konsisten.
PERAN DAN TANGGUNG JAWAB CIVIL SOCIETY DALAM
PROSES PENEGAKAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

 Penegakan hukum tidak selamanya dilaksanakan secara

formil, namun secara informal juga

 Upaya penguatan Civil Society

UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia


KESIMPULAN

 Manusia sebagai aparatur penegak hukum maupun sebagai anggota


masyarakat biasa harus mampu mendorong dan mengerakan hukum demi
kepentingan hukum itu sendiri maupun aspek-aspek manusia dan
kemanusiaan.

 Mental dan moral manusia terutama aparatur penegak hukum, harus dibina

dengan sebaik-baiknya berdasarkan ajaran-ajaran agama dan aspek-aspek


yang terkait dengan kemanusiaan, sehingga ketika menjalankan tugas dan
tanggungjawab di dalam masyarakat maka arah dan perhatian harus tertuju
pada manusia sebagai sosok yang perlu dilindungi hak-haknya dalam bidang
hukum maupun hak asasi manusia.
DAFTAR PUSTAKA

 Bianpoen Carla. Buntaran Nani. Yentriyani Andi. 2006. publikasi komnas perempuan. Temuan tim gabungan pencari
fakta peristiwa kerusuhan Mei 1998

 Damanhuri, Pendidikan Kewarganegaraan, Bekasi, Nurani, 2018

 Hefner Robert W, Civil Islam, Islam dan Demokrasi di Indonesia, (Yogyakarta: ISAI, The Asia Foundation, LKIS, edisi
XXI, 2000).

 Hutahaean Juliandry. 2014. Dampak kerusuhan mei 1998 terhadap pengusaha etnis tionghoa di Petukangan Jakarta
tahun 1998-2003. Jurnal sejarah, fakultas ilmu sosial Universitas Negeri Semarang

 J. Josep & R.W Raymundus Rikang. 2014. narasi dramatis berita tragedi trisakti 1998.jurnal ilmu komunikasi.
Universitas Atma Jaya Yogyakarta

 Ridho M. Zainor, Pengantar Ilmu Politik, Serang: 2015

 Saptenno M.J., Peran Civil Society Dalam Proses Pengakan Hukum Dan Hak Asasi Manusia, (Ambon, UNPATTI, 2012)

 Sofwan Edi, Jurnal Surya Kencana Dua: Dinamika Masalah Hukum dan Keadilan Vol. 4 Nomor 2 Desember 2017,
(Jakarta: Pustaka Sendro Jaya, 2017)

 Sufyanto, Masyarakat Tamaddun; Kritik Hermeneutis Masyarakat Madani Nurcholis Majid, Yogyakarta, Pustaka
Pelajar, 2001

 UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia