You are on page 1of 38

BY : SYARIF ZEN YAHYA,SKp.M.Kep.

ZAMAN PURBAKALA
Upaya keperawatan klien gangguan jiwa dengan menggunakan sistem magic dan
kepercayaan dengan cara melobangi kepala untuk mengeluarkan roh jahat.
1500 SM
Di Mesir upaya keperawatan klien gangguan jiwa dengan mendirikan “Kuil Saturn”
700 – 350 SM
Upaya keperawatan klien gangguan jiwa dirawat oleh keluarga sendiri sebagai
pengasuh utama karena dianggap telah berbuat dosa/aib.
460 – 357 SM (Yunani ; Hipocrates)
Upaya keperawatan klien gangguan jiwa dengan menggunakan udara segar, air murni,
sinar matahari dan musik
460 – 357 SM (Romawi ; Hipocrates)
Upaya keperawatan klien gangguan jiwa dengan cara mengeluarkan darah dan mandi
air belerang, karena darah dan tubuh klien dianggap kotor.
Perkembangan……..
ABAD PERTENGAHAN
Di negara2 Arab dilakukan dengan cara diet, ramuan, wangi-wangian dan musik yang
lembut dan rileks di tempat-tempat pemandian/kolam.
di Eropa dan Amerika dilakukan dengan cara ditempatkan pada lingkungan yang baik,
diajak jalan dan bermain, tetapi jika agresif diikat/restrain.
500 M – 1500 M.
Upaya keperawatan klien gangguan jiwa dengan cara disiksa/dibakar dalam acara
ritual agar roh jahat keluar.
1752 – 1882 M
Di Eropa didirikan ruang perawatan seperti Almhouse, Contracthouse, dan Sculer
Asylum, upaya keperawatan klien gangguan jiwa dengan cara pengeluaran darah dan
diberi pakaian khusus.
1773 – 1859 M (Peplau)
Upaya keperawatan klien gangguan jiwa dengan cara Custodial Care (Isolasi &
Tertutup) yang dilakukan wanita yang terlatih.
1752 (Philadelphia,USA) : Upaya keperawatan klien gangguan jiwa dengan cara
dimasukkan dlm sel
PERKEMBANGAN……..
1773 (Virginia,USA) : didirikan Rumah Sakit Jiwa
Tahun 1783 Benyamin Rush (USA) sebagai bapak Kedokteran
Jiwa merawat klien dengan cara yang beradab, bermoral, ramah,
dan latihan kerja yang dikenal dengan teori Human atau Moral
Threatman
 1873
Linda Richards mengembangkan perawatan mental di RSJ &
mengorganisasi pelayanan & pendidikan keperawatan jiwa di RSJ
 Th 1883
Didirikan sekolah perawat yang berorientasi pada fisik & mental di
Mc. Lean Hospital
1876 – 1913 : berbagai kemajuan yang pesat dalam perawatan klien
gangguan jiwa dan pendidikan (sekolah) /latihan bagi perawat jiwa.
1913
John Hopkins mendirikan sekolah perawat dan memasukkan keperawatan psikiatri
dalam kurikulum, muncul berbagai hal, antara lain terapi somatik dan ECT
1936 – 1945 : perawatan dilakukan dengan cara therapy somatic.
1950
Peran perawat psikiatri mulai berkembang
1951
Mellow mengembangkan hubungan perawat-klien merupakan proses terapeutik
1952
Peplau mengembangkan hubungan interpersonal dalam keperawatan
1960
Fokus keperawatan psikiatri yaitu prevensi primer, implementasi perawatan, dan
konsultasi dlm komunitas
1970
Pengembangan kerangka kerja praktik keperawatan, yaitu proses keperawatan &
standar praktek keperawatan
Di Indonesia :
1846 : RS-RS umum telah memiliki Unit/Ruang Rawat Klien Jiwa
seperti RS China Semarang, RS Tentara Surabaya dan RSCM Jakarta
Pd awal praktek keperawatan jiwa dilakukan dengan cara costudial
care, lalu berkembang terapi kejang listrik, dll
1882 : dibangun RS Jiwa I di Kota Bogor (dr.Marzuki Mahdi), di
Lawang Malang (1902), RS Jiwa Magelang (1923), RS Jiwa Sabang
(1927), RS Jiwa Medan (1930-an) dan sekarang berjumlah 34 RS Jiwa
seluruh Indonesia.
1960 – 1990- an : Sekolah Perawat Jiwa (SPK-B atau SPKSJ)
Pakar keperawatan Jiwa di Indonesia : Magdalena Mahdi (Alm), Gadis
Sipin (Alm), Prof.Achiryani Hamid,DSN, Prof.Dr. Budi Anna Keliat,
App.Sc., Novi Helena, App.Sc, M.Kep.,Ria Utami Panjaitan, SKp.,
M.Kep., Akemat,SKp.,M.Kes.
DEFINISI
A. Kesehatan Jiwa
1. World Health Organization (WHO)
Kesehatan jiwa adalah berfungsinya secara harmonis dan menyeluruh dari
kepribadian individu.
2. American North of Association (ANA)
Kesehatan jiwa adalah kemampuan menyesuaikan diri sendiri dengan orang lain
3. Direktorat Kesehatan Jiwa
Kesehatan jiwa adalah terwujudnya keharmonisan tinggi jiwa dan sanggup menghadapi
masalah.
4. Stuart & Laraia
Indikator sehat jiwa meliputi sifat yang positif terhadap diri sendiri, tumbuh,
berkembang, memiliki aktualisasi diri, keutuhan, kebebasan diri, memiliki
persepsi sesuai kenyataan dan kecakapan dalam beradaptasi dengan
lingkungan
5. Rosdahl
 Kondisi jiwa seseorang yang terus tumbuh berkembang dan mempertahankan
keselarasan, dalam pengendalian diri serta terbebas dari stress yang serius.
B. Penyakit Jiwa
1. Penyakit jiwa adalah suatu problem personal maupun sosial
2. Penyakit jiwa adalah suatu problema yang kompleks yang mencakup pemikiran
/ ide-ide yang disatukan untuk menguraikan ketidakseimbangan psikologik,
emosional dan sosial.
3. Gangguan Jiwa adalah keadaan adanya gangguan pd fungsi kejiwaan, yaitu
proses pikir, emosi, kemamuan dan perilaku psikomotorik, termasuk bicara
4. Dlm PPDGJ III Gangguan Jiwa :
adanya kelompok gejala atau perilaku yang ditemukan scr klinis, yang disertai
adanya penderitaan pada kebanyakan kasus dgn terganggunya fungsi seseorang
1. WHO
a. Menyesuaikan diri secara konstruktif dalam menghadapi kenyataan
b. Merasa lebih puas memberi dari pada menerima
c. Memiliki rasa kasih sayang, dll
2. Yahoda
a. Tumbuh kembang dan aktualisasi berfungsi optimal
b. Integrasi
c. Otonomi,
d. Persepsi realitas
e. Sikap positif terhadap diri sendiri
f. Environmental Mastery (kecakapan dalam adaptasi dengan lingkungan)
3. Abraham Maslow
a. Memiliki persepsi realitas yang efektif
b. Menerima diri, orang lain dan lingkungan
c. Spontan
d. Sederhana dan wajar
PROSES TERJADINYA GANGGUAN JIWA

Kebutuhan

Tidak Terpenuhi

Sakit atau stress

Koping

Adaptif Maladaptif

Denial (Menolak) Dukungan negatif


Angry (Marah) Kurang merasa puas
Bargaining (Tawar Menawar) Tidak ada harapan
Silence (Diam) Masa depan suram
Aceptance (Menerima)

Self Evaluasi Negatif

Konstruktif Rasa bersalah Cemas

Bermusuhan

Destruktif Lingkungan Eksternal Lingkungan Internal

Amuk Bunuh Diri Pasif/Cuek


DEFINISI
1. ANA, 2000
Keperawatan mental psikiatrik sebagai suatu bidang spesialisasi praktik keperawatan
yang menetapkan teori perilaku manusia sebagai ilmunya dan penggunaan diri sendiri
secara terapeutik sebagai kiatnya.
2. COOK and FONTAINE,1998
Keperawatan kesehatan mental psikiatrik adalah merupakan area khusus dalam
praktik keperawatan dengan menggunakan ilmu perilaku dan diri sendiri secara
terapeutik, sesuai dengan kiat keperawatan yang berfokus pada upaya pencapaian
dan tujuan terapeutik dalam meningkatkan kesehatan jiwa masyarakat
3. FORTINAS,1995
Keperwatan jiwa adalah proses interpersonal yang berupaya untuk meningkatkan dan
mempertahankan perilaku yang berkontribusi pada fungsi yang terintegrasi terhadap
pasien/sistemnya itu sendiri baik individu, keluarga kelompok atau komunitas.
Meningkatkan kesehatan mental klien dan keluarga klien pada tingkat yang optimal
melalui konsep tumbuh kembang, model keperawatan jiwa, konsep keluarga dan
sistem pelayanan kesehatan.

PRINSIP MERAWAT KLIEN JIWA


1. Klien dengan gangguan jiwa tidak pernah merusak seluruh kepribadian dan
perilaku klien
2. Perilaku klien selalu dapat diarahkan pada respon baru
3. Perilaku klien selalu dipengaruhi oleh faktor yang menimbulkan tekanan dari
lingkungan sosial, apakah didukung atau ditolak/ diasingkan/ dilemahkan.
Menurut Weiss (1947) yang dikutip oleh Stuart Sundeen dalam Principles and
Practice of Psychiatric Nursing Care (1995), peran perawat adalah sebagai Attitude
Therapy, yakni:
1. Mengobservasi perubahan, baik perubahan kecil atau menetap yang
terjadi pada klien
2. Mendemontrasikan penerimaan
3. Respek
4. Memahami klien
5. Mempromosikan ketertarikan klien dan beradaptasi dalam interaksi
Menurut Peplau, peran perawat meliputi:
1. Sebagai pendidik
2. Sebagai pemimpin dalam situasi yang bersifat lokal, nasional dan internasional
3. Sebagai ”surrogate parent”
4. Sebagai konselor.
Menurut pakar lain dari peran perawat adalah:
1. Bekerjasama dengan lembaga kesehatan mental
2. Konsultasi dengan yayasan kesejahteraan
3. Memberikan pelayanan pada klien di luar klinik
4. Aktif melakukan penelitian
5. Membantu pendidikan masyarakat.
Model View of behavioral Therapeutic Roles of a patient &
deviation process therapist

Psychoanalytical Ego tidak mampu Asosiasi bebas & Klien: mengungkapkan


(Freud, Erickson) mengontrol ansietas, analisa mimpi semua pikiran & mimpi
konflik tidak selesai Transferen untuk Terapist :
memperbaiki traumatic menginterpretasi pikiran
masa lalu dan mimpi pasien

Interpersonal Ansietas timbul & Build feeling security Patient: share anxieties
(Sullivan, Peplau) dialami secara Trusting relationship & Therapist : use empathy
interpersonal, basic fear interpersonal & relationship
is fear of rejection satisfaction
Model View of behavioral Therapeutic process Roles of a patient &
deviation therapist
Social Social & environmental Environment Pasien: menyampaikan
(Caplan,Szasz) factors create stress, manipulation & social masalah menggunakan
which cause anxiety support sumber yang ada di
&symptom masyarakat
Terapist: menggali
system social klien
Existensial Individu gagal Experience in Klien: berperan serta
(Ellis, Rogers) menemukan dan relationship, conducted in dalam pengalaman yang
menerima diri sendiri group berarti untuk mempelajari
Encouraged to accept diri
self & control behavior Terapist: memperluas
kesadaran diri klien
Model View of behavioral Therapeutic process Roles of a patient &
deviation therapist
Supportive Therapy Faktor biopsikososial Menguatkan respon Klien: terlibat dalam
(Wermon,Rockland) & respon maladaptive koping adaptif identifikasi coping
saat ini Terapist: hubungan yang
hangta dan empatik
Medical Combination from Pemeriksaan Klien: menjalani prosedur
(Meyer,Kreaplin) physiological, genetic, diagnostic, terapi diagnostic & terapi
somatic, jangka panjang
environmental & social
farmakologik & Terapist : Therapy,
teknik Repport effects,Diagnose
interpersonal illness, Therapeutic
Approach
Pengkajian
 Perawat perlu mengkaji data demografi, riwayat kesehatan
dahulu, kegiatan hidup klien sehari-hari, keadaan fisik,
status mental, hubungan interpersonal serta riwayat
personal dan keluarga
 Data demografi
Pengkajian data demografi meliputi nama, tempat dan
tanggal lahir klien, pendidikan, alamat orang tua, serta
data lain yang dianggap perlu diketahui. Riwayat kelahiran,
alergi, penyakit dan pengobatan yang pernah diterima
klien, juga perlu dikaji. Selain itu kehidupan sehari-hari
klien meliputi keadaan gizi termasuk berat badan, jadwal
makan dan minat terhadap makanan tertentu, tidur
termasuk kebiasaan dan kualitas tidur, eliminasi meliputi
kebiasaan dan masalah yang berkaitan dengan eliminasi,
kecacatan dan keterbatasan lainnya.
 Fisik
Dalam pengkajian fisik perlu diperiksa keadaan kulit,
kepala rambut, mata, telinga, hidung, mulut,
pernapasan, kardiovaskuler, musculoskeletal dan
neurologis klien. Pemeriksaan fisik lengkap saat
diperlukan untuk mengetahui kemungkinan pengaruh
gangguan fisik terhadap perilaku klien. Misalnya klien
yang menderita DM atau asma sering berperilaku
merusak dalam usahanya untuk mengendalikan
lingkungan. Selain itu hasil pemeriksaan fisik
berguna sebagai dasar dalam menentukan
pengobatan yang diperlukan. Bahkan untuk
mengetahui kemungkinan bekas penganiayaan yang
pernah dialami klien.
 Status mental
Pemeriksaan status mental klien bermanfaat untuk memberikan
gambaran mengenai fungsi ego klien. Perawat membandingkan perilaku
dengan tingkat fungsi ego klien dari waktu ke waktu. Oleh karena itu
status mental klien perlu dikaji setiap waktu dengan suasana santai bagi
klien
Pemeriksaan status mental meliputi: keadaan emosi, proses berfikir dan
isi pikir, halusinasi dan persepsi, cara berbicara dan orientasi, keinginan
untuk bunuh diri dan membunuh. Pengkajian terhadap hubungan
interpersonal klien dilihat dalam hubungannya dengan orang lain yang
penting untuk mengetahui kesesuaian perilaku dengan usia. Pertanyaan
yang perlu diperhatikan perawat ketika mengkaji hubungan
interpersonal klien antara lain:
 1) Apakah klien berhubungan dengan orang lain dengan usia
sebanya dan dengan jenis kelamin tertentu.
 2) Apa posisi klien dalam struktur kekuasaan dalam kelompok
 3) Bagaimana ketermpilan sosial klien ketika menjalin dan
berhubungan dengan orang lain.
 4) Apakah klien mempunyai teman dekat.
 d. Riwayat personal dan keluarga
Riwayat personal dan keluarga meliputi faktor
pencetus masalah, tumbuh kembang klien,
biasanya dikumpulkan oleh tim kesehatan. Data
ini sangat diperlukan untuk mengerti perilaku
klien dan membantu menyusun tujuan asuhan
keperawatan.
Pengumpulan data keluarga merupakan bagian
penting dari pengkajian melalui pengalihan focus
dari klien sebagai individu ke sistem keluarga.
Tiap anggota keluarga di beri kesempatan untuk
mengidentifikasi siapa yang bermasalah dan apa
yang telah dilakukan oleh keluarga untuk
menyelesaikan masalah tersebut.
2. Diagnosa keperawatan
Untuk menegakan diagnosa keperawatan, data
yang telah dikumpulkan kemudian dianalisa
sebagai dasar perencanaan asuhan keperawatan
selanjutnya.
Diagnosa Keperawatan Jiwa saat ini disebut juga
dengan diagnosa keperawatan Tunggal.
Contoh Dx Kep Jiwa:
a. Perilaku Kekerasan (b/d Halusinasi)
b. Halusinasi (b/d Isolasi Menarik Diri)
c. Isolasi Menarik Diri (b/d Harga Diri Rendah)
d. Harga Diri Rendah (b/d Defisit Perawatan Diri)
e. Defisit Perawatan Diri (b/d Koping Individu)
f. Koping Individu/Keluarga Inefektif
3. Perencanaan
Setelah pengkajian selesai dan maslah utama yang dialami klien telah teridentifikasi, buat
rencana perawatan dan pengobatan yang komprehensif.
Untuk klien yang dirawat di unit perawatan jiwa, tujuan umumnya adalah sebagai berikut:
a. Memenuhi kebutuhan emosi klien dan kebutuhan untuk dihargai
b. Mengurangi ketegangan pada anak dan keutuhan untuk berperilaku defensive.
c. Membantu klien menjalan hubungan positif dengan orang lain
d. Membentu mengembangkan identitas diri klien
e. Memberikan klien kesempatan untuk menjalin kembali tahapan perkembangan terdahulu
yang belum terseleseikan secara tuntas
f. Membantu klien untuk berkomunikasi secara efektif
g. Mencegah anak untuk menyakiti baik dirinya maupun diri orang lain
h. Membantu klien memelihara kesehatan fisiknya.
4. Implementasi.
 Berbagai bentuk terapi pada klien dan keluarga dapat diterapkan, antara lain:
 a. Terapi Bermain
 Pada umumnya merupakan media yang tepat bagi klien untuk mengekspresikan
konflik yang belum terselesaikan, selain juga berfungsi untuk:
 1) Menguasai dan mengasimilasi kembali pengalaman lalu yang tidak dapat
dikendalikan sebelumnya
 2) Berkomunikasi dengan kebutuhan yang tidak disadari
 3) Berkomunikasi dengan orang lain
 4) Menggali dan mencoba belajar bagaimana hubungan dengan diri sendiri,
dunia luar dan orang lain.
 5) Mencocokan tuntutan dan dorongan dari dalam diri dengan realitas
 b. Terapi Keluarga
 Semua anggota keluarga perlu diikutsertakan dalam terapi keluarga. Orang tua
perlu belajar secara bertahap tentang peran meraka dalam permasalahan yang
dihadapi dan bertanggungjawab terhadap perubahan yang terjadi pada klein dan
keluarga. Biasanya cukup sulit bagi keluarga untuk menyadari bahwa keadaan
dalam keluarga turut menimbulkan gangguan pada anggota keluarganya. Oleh
karena itu perawat perlu berhati-hati dalam meningkatkan kesadaran keluarga.
c. Terapi kelompok
 Terapi kelompok dapat berupa suatu kelompok yang melakukan
kegiatan atau berbicara. Terapi kelompok ini sangat bermanfaat untuk
meningkatkan uji realitas, mengendalikan impuls (dorongan internal),
meningkatkan harga diri, memfasilitasi pertumbuhan, kematangan dan
keterampilan sosial klien. Kelompok dengan lingkungan yang terapeutik
memungkinkan anggotanya untuk menjalin hubungan dan pengalaman
sosial yang positif dalam suatu lingkungan yang terkendali.
d. Psikofarmakologi
 Walaupun belum sepenuhnya diterima dalam psikiatri, tetapi bermanfaat
untuk mengurangi gejala (hiperaktif, depresi, impulsive dan ansietas)
dan membantu agar pengobatan lain lebih efektif. Pemberian obat ini
tetap diawasi oleh dokter dan menggunkan pedoman yang tepat
e. Terapi individu
 Ada berbagai terapi individu, terapi bermain psikoanalisa, psikoanalitis
berdasarkan psikoterapi dan terapi bermain pengalaman. Hubungan
antara klien dan terapist memberikan kesempatan pada klien untuk
mendapatkan pengalaman mengenai hubungan positif dengan orang
lain dengan penuh kasih sayang.
f. Pendidikan pada orang tua
 Pendidikan pada orang tua merupakan hal penting untuk
mencegah gangguan kesehatan jiwa klien, begitu pula untuk
peningkatan kembali penyembuhan setelah dirawat. Orang tua
diajarkan tentang tahap tumbang klien, sehingga orang tua
dapat mengetahui perilaku yang sesuai dengan
klien. Keterampilan berkomunikasi juga meningkatkan
pengertian dan empati antara orang tua dan anaknya.
g. Terapi Lingkungan
 Konsep terapi lingkungan dilandaskan pada kejadian dalam
kehidupan sehari-hari yang dialami klien. Lingkungan yang
aman dan kegiatan yang teratur dan terprogram, memungkinkan
klien untuk mencapai tugas terapeutik dan rencana
penyembuhan dengan berfokus pada modifikasi perilaku.
Kegiatan yang terstruktur secara formal seperti: belajar, terapi
kelompok dan terapi rekreasi. Kegiatan ruti meliputi: bangun
pagi hari, makan dan jam tidur.
5. Evaluasi
Pada umumnya pengamatan perawat berfokus pada
perubahan perilaku klien. Apakah klien menunjukan
kesadaran dan pengertian tentang dirinya sendiri melalui
refleksi diri dan meningkatnya kemampuan untuk
membuat keputusan secara rasional.
Aspek yang perlu dievaluasi antara lain:
a. Keefektifan intervensi penaggulangan perilaku
b. Kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain
secara wajar
c. Kemampuan untuk melakukan asuhan mandiri
d. Kemampuan untuk menggunakan kegiatan program
sebagai rekreasi dan proses belajar
e. Respon terhadap peraturan dan rutinitas
f. Status mental secara menyeluruh
 Kesehatan jiwa telah diatur dalam undang-
undang sejak tahun 1966 dengan adanya UU no
3 th 1966 tentang Kesehatan Jiwa. Perkembangan
selanjutnya, kebijakan setara UU kesehatan jiwa
tidak diundangkan lagi. Pada perkembangannya,
perihal kesehatan jiwa dimasukkan dalam
Undang-undang Kesehatan baik UU Kesehatan
No 23 th 1992 maupun UU Kesehatan No 36 th
2009. Saat ini jajaran kesehatan jiwa memandang
perlu adanya peraturan setara Undang-undang
untuk mengatur kesehatan jiwa.
 Dalam undang-undang no 36 th 2009 tentang Kesehatan diatur tentang
kesehatan jiwa sebagai berikut:
 Upaya kesehatan jiwa dilaksanakan dengan berbasis masyarakat
 Upaya kesehatan dilaksanakan oleh tenaga kesehatan di layanan kesehatan
umum dan khusus
 Upaya kesehatan jiwa berbentuk pelayanan Preventif, Promotif, dan Edukatif
serta Kuratif dan Rehabilitatif
 Upaya kesehatan jiwa harus memperhatikan masalah HAM (Hak Asasi
Manusia)
 Upaya pelayanan kesehatan jiwa menjadi tanggung jawab pemerintah,
pemerintah daerah dan masyarakat.
 Masalah-masalah khusus yang perlu diperhatikan dalam kesehatan jiwa
meliputi:
◦ Bagaimana pengeloaan Visum et repertum kesehatan jiwa
◦ Masalah-masalah Psikososial yang sering terjadi di masyarakat
(masalah pasung pada pasien gangguan jiwa, gelandangan psikotik)
 Dalam undang-undang Kesehatan Jiwa No. 18 tahun 2014 Pasal 1 :
 Kesehatan Jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara
fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari
kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif,
dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya.
 Orang Dengan Masalah Kejiwaan yang selanjutnya disingkat ODMK adalah orang
yang mempunyai masalah fisik, mental, sosial, pertumbuhan dan perkembangan,
dan/atau kualitas hidup sehingga memiliki risiko mengalami gangguan jiwa.
 Orang Dengan Gangguan Jiwa yang selanjutnya disingkat ODGJ adalah orang yang
mengalami gangguan dalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang termanifestasi
dalam bentuk sekumpulan gejala dan/atau perubahan perilaku yang bermakna,
serta dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsi
orang sebagai manusia.
 Upaya Kesehatan Jiwa adalah setiap kegiatan untuk mewujudkan derajat kesehatan
jiwa yang optimal bagi setiap individu, keluarga, dan masyarakat dengan
pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang diselenggarakan
secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan oleh Pemerintah Pusat,
Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat.
 Ketentuan bagi pelayanan kesehatan yang tidak
memberikan layanan kesehatan jiwa adalah seperti
tertuang dalam undang-undang pasal 31 ayat 2 :
Fasilitas pelayanan di luar sektor kesehatan yang
tidak memberikan akses terhadap pelayanan
kesehatan dan obat psikofarmaka terhadap ODGJ
dikenai sanksi administratif berupa:
 teguran lisan;
 teguran tertulis;
 pembekuan kegiatan;
 pencabutan izin; atau penutupan.
 Pasal 31 ayat 3 ; Fasilitas pelayanan di luar sektor kesehatan yang tidak
melaksanakan rehabilitasi sesuai dengan standar profesi dan standar pelayanan
Kesehatan Jiwa dikenakan sanksi administratif berupa:
 teguran lisan;
 teguran tertulis;
 pembekuan kegiatan;
 pencabutan izin; atau
 penutupan.
 Undang-undang lain yang juga mengatur tentang kesehatan jiwa meliputi:
 Undang-Undang Nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia
 Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2004 tentang Pelaksanaan Upaya
Peningkatan Kesejahteraan Sosial Usia Lanjut
 UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga
 UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
 Permen RPJP bidang kesehatan 2005-2025
 Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika
DAFTAR PUSTAKA

Keliat, Budi Anna (1999), Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, EGC,


Jakarta
Rasmun (2001), Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi
Dengan Keluarga, Interpratama, Jakarta
Suliswati,dkk (2005), Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa,
EGC, Jakarta
Yosep Iyus (2007), Keperawatan Jiwa, Refika Aditama, Bandung
Muslim, Rusdi (2001), Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas dari
PPDGJ-III, Nuh Jaya, Jakarta
---- (2010), Undang-Undang Kesehatan 2009, Fokusmedia, Bandung
TERIMA KASIH
MATUR NUWUN
BUJUR