You are on page 1of 18

Asuhan keperawatan pada anak

dengan Typhoid

Kelompok 3
Meitia Rahmawati
Dwimela Refsi
Typhoid
• Pengertian
penyakit pada saluran pencernaan yang disebabkan oleh
bakteri Salmonella Typhosa yang ditandai demam lebih dari 7
hari yang disertai mual muntah serta diare atau konstipasi.
• Peyebab
Salmonella Typhosa
Mekanisme masuknya kuman diawali dengan infeksi yang
terjadi pada saluran pencernaan, basil diserap oleh usus
melalui pembuluh limfe lalu masuk kedalam peredaran darah
sampai di organ-organ lain, terutama hati dan limpa
• Tanda dan Gejala
• Gejala klinis pada anak : inkubasi antara 5-10 hari dengan rata-rata
10-14 hari
• Demam meninggi sampai akhir minggu pertama
• Demam turun pada minggu ke empat, kecuali demam tidak
tertangani akan menyebabkan syok, stupor dan koma
• Ruam muncul pada hari ke 7-10 dan betahan selama 2-3 hari
• Nyeri kepala, nyeri perut
• Kembung, mual muntah, diare, dan konstipasi
• Pusing, bradikardi dan nyeri otot
• Batuk
• Epitaksis
• Lidah yang berselaput (kotor ditengah, tepi dan ujung merah, serta
tremor)
• Patofisiologi
Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui
berbagai cara, yang dikenal dengan 5 F yaitu Food
(makanan), Fingers (jari tangan / kuku), Fomitus
(muntah), Fly (lalat), dan melalui Feses.
Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat
menularkan kuman salmonella thypi kepada orang
lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui
perantara lalat, dimana lalat akan hinggap
dimakanan yang akan dimakan oleh orang yang
sehat.
• Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan darah perifer lengkap
2. Pemeriksaan SGOT dan SGPT
3. Pemeriksaan Uji widal
4. Kultur darah, urine dan feses
5. Anti salmonella typhi IgM
• Komplikasi Typhoid
1. Perdarahan usus
2. Perforasi
3. Pertonitis
4. Meningitis
5. Kolesistisis
6. enselofati
• Penatalaksanaan (menurut WHO, 2005)
• Kloramfenikol (50-100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosisi
peroral atau intravena) selama 10-14 hari
• Apabila tidak diberikan kloramfenikol, di pakai amoksisilin 100
mg/kgBB/hari peroral atau antipisilin intravena selama 10
hari, atau kotrimoksazol 48 mg/khBB/ (dibagi 2 dosis) peroral
selama 10 hari. Apabila kondisi klinis tidak ada perbaikan,
gunakan generasi gunakan sefalosporin seperti sefriakson (80
mg/kg IM atau IV, sekali sehari selama 5-7 hari) atau seriksim
oral (20 mg/kgBB/hari dibagi 2 dosisi selama 10 hari).
Perawatan penunjang dilakukan bila anak demam (>39 0 C),
berikan parasetamol dan lakukan pemantauan terhadap
tanda komplikasi.
• Pencegahan
• Cuci tangan sebelum dan sesudah mengolah
makan atau makan dan minum
• Meminimalkan konsumsi makanan yang dijual
dipinggir jalan
• Hindari konsumsi buah dan sayuran mentah
• batasi konsumsi seafood yang belum dimasak
• Bersihkan toilet secara teratur
• Hindari konsumsi susu yang tidak di pasteurisasi
Asuhan keperawatan pada anak
dengan typhoid
Pengkajian
1. Identitas
2. Riwayat kesehatan sekarang
3. Riwayat kesehatan sebelumnya
4. Riwayat tumbang
5. Pemeriksaan fisik
• Pemeriksaan fisik
1. Pemeriksaan TTV
2. Konjungtiva anemis, kondisi lidah khas (selaput putih
kotor, ujung dan tepi lidah berwarna kemerahan),
napas berbau tidak sedap, bibir kering dan pecah-
pecah, dan hidung-hidung terjadi epistaksis.
3. Perut kembung (meteorismus), hepatomegali,
splenomegali, dan nyeri tekan
3. Sirkulasi bradikardi dan gangguan kesadaran.
4. Terdapat bintik-bintik kemerahan pada kulit punggung
dan ekstremitas.
• Pemeriksaan Penunjang
1. Darah Tepi
2. Pemeriksaan Widal
3. Pemeriksaaan darah untuk kultur
• Diagnosa keperawatan
1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake makanan yang tidak
adekuat
2. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi
3. Resiko tinggi terjadi kurang volume cairan
berhubungan dengan kurang intake cairan
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan tidak
adekuatnya masukan nutrisi
• Intervensi
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
b.d intake makanan yang tidak adekuat
Tujuan :
• setelah dilakukan tindakan keperawatan
pemenuhan kebutuhan nutrisi adekuat
• dengan kriteria hasil :
• Tidak ada mual dan kembung, nafsu makan
meningkat, makan habis satu porsi
1. Kaji pola makan dan status nutrisi klien
Rasional : untuk mengetahui langkah pemenuhan nutrisi
2. Berikan makanan yang tidak meransang (pedas, asam, dan mengandung
gas)
Rasional : mencegah iritasi usus dan distensi abdomen
3. Berikan makanan lunak selama fase akut (masih ada panas/suhu lebih dari
normal)
Rasional : mencegah terjadinya iritasi usus dan komplikasi erforasi usu
4. Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering
Rasional : mencegah ransang mual dan muntah
5. Berikan terai antiemetik sesuai program medik
Rasional : untuk mengontrol mual dan muntah sehingga dapat
meningkatkan masukan makanan
Perawatan dirumah pada anak dengan
typhoid
• Pisahkan anak penderita demam tifoid dari saudara-saudaranya untuk
menghindari penularan.
• Upayakan anak dengan demam tifoid beristirahat total di tempat tidur sampai
demamnya turun
• Ingatkan kepada siapa saja yang membantu untuk selalu mencuci tangan dengan
desinfektan sebelum dan sesudah kontak dengan anak yang sakit
• Seperti halnya di rumah sakit, orang tua perlu mengukur suhu tubuh anak dan
mencatatnya. Catatan suhu tubuh ini sangat penting untuk dikonsultasikan ke
dokter dan bila ada peningkatan suhu tubuh yang tinggi.
• Biasanya dokter memberikan obat yang sudah diperhitungkan sampai suhu tubuh
turun. Jika obat hampir habis, sementara suhu tubuh makin tinggi,
konsultasikanlah ke pelayanan medis atau dokter karena mungkin membutuhkan
perawatan yang lebih intensif di rumah sakit.
• Untuk membantu mempercepat penurunan suhu tubuh, upayakan agar anak
banyak minum air putih, dikompres dengan air hangat, dan jangan menutupinya
dengan selimut agar penguapan suhu lebih lancer