You are on page 1of 26

ASUHAN KEPERAWATAN PADA

LANSIA DENGAN GANGGUAN


SYSTEM URINARI

Disusun oleh:
Latar Belakang
Tahapan akhir dari proses kehidupan adalah
menua, pada tahapan tersebut terjadilah proses
alami yang di tandai dengan penurunan ataupun
perubahan secara fisik, sosial maupun psikologis.
Perubahan yang terjadi secara fisik meliputi semua
sistem tubuh, mulai dari sistem integumen,
respirasi, kardiovaskuler, pencernaan,
muskuloskletal, neorologis, sensori, perkemihan,
endokrin, imunitas, dan reproduksi (Touhy & Jett,
2010).
Konsep Menua

Definisi Lansia
Menurut Undang-Undang No. 13 Tahun 1998 tentang
Kesejahteraan Lansia yang dimaksud dengan lansia adalah
seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas.
Sutikno, 2015 mengemukakan lansia adalah kelompok usia
yang sensitif mengalami perubahan yang diakibatkan proses
penuaan. Proses penuaan tersebut akan mengakibatkan
perubahan-perubahan pada lansia, salah satu
permasalahannya adalah adanya perubahan fisiologis yang
akan berdampak pada masalah psikolog (kesehatan mental).
Klasifikasi Lansia

Menurut organisasi kesehatan dunia WHO dalam


phsycology- mania (2013) mengelompokkan lanjut usia atas
empat kelompok yaitu:
1. Kelompok usia pertegahan (middle age) adalah usia antara
45-59 tahun.
2. Kelompok lanjut usia(elderly age) usia antara 60-74
tahun.
3. Kelompok usia tua (old age) usia antara 75-79 tahun.
4. Kelompok sangat tua (very old) usia 80 tahun keatas.
Proses Degeneratif pada sistem urinary

Pertambahan usia adanya perubahan pada ginjal, kandung kemih, uretra


dan mekanisme kontrol syaraf dan sistem tubuh lainnya yang secara fisiologis
mempengaruhi proses pengeluaran urine. Selain itu, setiap perubahan usia yang
menggaanggu sistem kontrol urine dapat mempengaruhi keterampilan dalam
bersosial. Pertambahan usia mengalami perubahan secara langsung dan tidak
langsung pada fungsi dan kontrol perkemihan.
1. Perubahan pada Ginjal
2. Perubahan pada Kandung kemih
3. Mekanisme Kontrol
4. Perubahan tambahan yang mempengaruhi perkemihan pada lansia.
Perubahan Pada ginjal
 Aliran plasma ginjal yang efektif menurun sejalan dari usia 40 ke
90-an. Umumnya filtrasi tetap ada pada usia muda, kemudian
berkurang tetapi tidak terlalu banyak pada usia 70, 80, dan 90
tahunan. Transport maksimal tubulus untuk tes ekskresi PAH
(paraaminohipurat) menurun progresif sejalan dengan peningkatan
usia dan penurunan GFR.
 Membran basalis glomerulus mengalami penebalan, sklerosis pada
area fokal, dan total permukaan glomerulus mengalami penurunan,
panjang dan volume tubulus proksimal berkurang. Implikasi dari hal
ini adalah filtrasi menjadi kurang efisien, sehingga secara fisiologis
glomerulus yang mampu menyaring 20% darah dengan kecepatan
125 mL/menit (pada lansia menurun hingga 97 mL/menit atau
kurang.
Perubahan pada Kandung kemih

 Menurunnya kontrol fungsi syaraf otonom pada springter interna dan


syaraf pundendal pada springter externa kandung kemih, pada usia
lanjut perubahan yang terjadi yaitu kehilangan fungsi otot polos pada
uretra dan relaksasi dari otot dasar panggul berkurang, sehingga
tahanan dari springter uretra menurun. Rasa ingin berkemih tidak bisa
tertahan dan tidak di sadari.
 Dengan bertambahnya usia kapasitas kandung kemih menurun, sisa
urin setelah selesai berkemih cenderung meningkat dan kontraksi otot
kandung kemih yang tidak teratur sering terjadi. Keadaan ini
menyebabkan sering berkemih dan kesulitan menahan keluarnya urin
Mekanisme Kontrol
 Perubahan pada sistem saraf dan sistem regulator lain mempengaruhi fungsi
perkemihan. Impuls motorik dalam saraf spinal mengontrol perkemihan,
sedangkan otak bertanggung jawab untuk mendeteksi sensasi pemenuhan
kandung kemih, menghambat pengosongan kandung kemih saat dibutuhkan,
dan stimulasi kontraksi pengosongan kandung kemih. Saat kandung kemih
terisi, reseptor sensori di dinding kandung kemih mengirim sinyal ke saraf
spinal sakral. Pada lansia, perubahan degeneratif di korteks serebral dapat
mengubah sensasi pemenuhan kandung kemih dan kemampuan mengosongkan
kandung kemih dengan komplet. Pada orang dewasa, sensasi penuh dimulai
ketika kandung kemih terisi setengah. Tetapi, pada lansia interval antara
persepsi awal dari dorongan untuk mengosongkan dan kebutuhan
sebenarnya untuk mengosongkan kandung kemih menjadi lebih singkat
sehingga meningkatkan kejadian inkontinensia urin.
Perubahan tambahan yang mempengaruhi
perkemihan pada lansia.

Struktur sistem perkemihan mengandung reseptor estrogen


dan mempengaruhi perubahan hormon terutama saat terjadi
menopause. Berkurangnya estrogen menyebabkan hilangnya
kekuatan dan kolagen yang menyokong jarinagn urogenital
dan predisposisi masalah kebocoran sistem perkemihan. Dan
juga bertambahnya sensitifitas kandung kemih sehingga
mempercepat pengosongan kandung kemih. Berikutnya
perubahan pada perkemihan lansia disebabkan karena
berkurangnnya rasa haus yang menyebabkan dehidrasi yang
mempengaruhi homeostatis yang diperlukan untuk fungsi
perkemihan optimal.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Proses Degeneratif pada Sistem Urinari
1. Faktor diet dan intake cairan
2. Efek obat
3. Gangguan Fungsional dan Kondisi Lingkungan
4. Patologis dan faktor Lain
5. Kondisi Spesifik Gender
Definisi Inkontinensia Urine
Inkontinensia urin merupakan keluarnya urin yang tidak
ter- kendali sehingga menimbulkan masalah higienis dan
sosial Inkonti- nensia urin adalah masalah yang sering
dijumpai pada orang lanjut usia dan menimbulkan masalah
fisik dan psikososial, seperti dekubitus, ja- tuh, depresi dan
isolasi dari lingkungan sosial Inkontinensia urin terda- pat
bersifat akut atau persisten, Inkontinensia urin yang bersifat
akut dapat diobati bila penyakit atau masalah yang
mendasar diatasi masa- lahnya infeksi saluran kemih, obat–
obatan, gangguan kesadaran, vagi- nitis atrofik dan masalah
psikologik Inkontinensia urin yang persisten biasanya dapat
dikurangi dengan berbagai terapi modalitas (Martin dan Frey,
2005).
Klasifikasi Inkontinensia Urine
Inkontinensia urin dapat di klasifikasikan menjadi 2
yaitu
1. Inkontinensia urine akut (Transient incontinence)
2. Inkontinensia urin kronik (persisten)
Etiologi dan Faktor Resiko

Secara umum dengan penyebab inkontinensia urin


merupa- kan kelainan urologis, neurologis dan fungsional.
Kalainan urologis pada inkontinensia urin dapat disebabkan
karena adanya tumor, batu, atau radang. Kelainan neurologis
sebagai kerusakan pada pusat miksi di pons, antara pons
atau sakral medula spinalis, serta radiks S2-S4 akan terjadi
menimbulkan gangguan dari fungsi kandung kemih dan hilang
sensibilitas kandung kemih. (Setiati dan Pramantara, 2007).
Asuhan Keperawatan pada Lansia dengan
Gangguan Sistem Urinari
1. Pengkajian
a. Identitas klien
Inkontinensia pada umumnya biasanya sering atau cenderung terjadi pada lansia (usia ke atas 65 tahun), dengan jenis
kelamin perempuan, tetapi tidak menutup kemungkinan lansia laki-laki juga beresiko mengalaminya.
b. Riwayat kesehatan
 Riwayat kesehatan sekarang:
Meliputi gangguan yang berhubungan dengan gangguan yang dirasakan saat ini
 Riwayat kesehatan masa lalu:
Tanyakan pada klien apakah klien pernah mengalami penyakit serupa sebelumnya, riwayat urinasi dan catatan
eliminasi klien Pemeriksaan fisik
c. Pemeriksaan fisik
Sistem perkemihan
Inspeksi: periksa warna, bau, banyaknya urine biasanya bau menyengat karena adanya aktivitas mikroorganisme
(bakteri) dalam kandung kemih serta disertai keluarnya apabila ada lesi pada bladder, pembesaran daerah supra pubik lesi
pada meatus uretra,banyak kencing dan nyeri saat berkemih menandakan disuria akibat dari infeksi, apakah klien terpasang kateter
sebelumnya.
d. Psikologis
Kardio dan pulmo

Pemeriksaan Fisik Curah jantung berkurang serta elastisitas


jantung dan pembuluh darah berkurang.
Intergumen Kapasitas vital paru, volume ekspirasi, serta
elastisitas paru-paru berkurang.
- Lemak subkutan menyusut
Muskoloskeletal
- Kulit kering dan tipis, rentan
terhadap trauma dan iritasi, serta Massa tulang berkurang, lebih jelas pada
lambat sembuh wanita. Jumlah dan ukuran otot berkurang.
Masa tubuh banyak yang tergantikan oleh
Mata
jaringan lemak yang disertai pula oleh
- penurunan visus kehilangan cairan
Telinga Gastro intestinal
- Pendengaran berkurang yang Mobilitas dan absorpsi saluran cerna
selanjutnya dapat berakibat ganguan berkurang, daya pengecap, serta produksi
berbicara saliva menurun
Curah jantung berkurang serta Neurologi
elastisitas jantung dan pembuluh
Rasa raba juga berkurang, Selain itu,
darah berkurang. Kapasitas vital paru,
terdapat potensi perubahan pada status
volume ekspirasi, serta elastisitas
mental
paru-paru berkurang.
 Inspeksi : adanya pembesaran pada daerah pinggang atau abdomen sebelah atas
harus diperhatikan pada saat melakukan inspeksi pada daerah ini. Pembesaran
tersebut mungkin disebabkan karena hidronefrosis atau tumor pada daerah
tetroparitoneum.
 Palpalsi : palpasi ginjal dilakukan dengan memakai 2 tangan. Tangan kiri
diletakkan di sudut kostovertebra untuk mengangkat ginjal ke atas, sedangkan
tangan kanan meraba ginjal dari depan.
 Perkusi : perkusi atau pemeriksaan ketok ginjal dilakukan dengan memberikan
ketokan pada sudut kostoveterbra. Perfusi pada pasien pielonefritis, batu ginjal
pada pelvis, dan batu ureter yang menimbulkan stimulasi nyeri.
 Auskultasi : tanda yang penting adanya gruit ginjal. Gruit ginjal paling jelas
terdengar tepat di atas umbilicus kira-kira 2 cm dari sisi kiri atau sisi kanan garis
tengah. Dengarkan dengan permukaan diafragma dari stetoskop pada kedua
daerah tersebut.
urinaria

 Inspeksi: periksa warna, bau, banyaknya urine biasanya bau menyengat


karena adanya aktivitas mikroorganisme (bakteri) dalam kandung kemih serta
disertai keluarnya darah apabila ada lesi pada bladder, pembesaran daerah
supra pubik lesi pada meatus uretra,banyak kencing dan nyeri saat berkemih
menandakan disuria akibat dari infeksi, apakah klien terpasang kateter
sebelumnya.
 Palpasi : Rasa nyeri di dapat pada daerah supra pubik / pelvis, seperti rasa
terbakar di urera luar sewaktu kencing / dapat juga di luar waktu kencing.
 Psikologis
 Sosial – ekonomi
 Spiritual
Data Penunjang
Urinalisis
Hematuria.
Poliuria
Bakteriuria.
Diagnosa
Diagnosa yang mungkin muncul pada klien inkontinensia menurut SDKI adalah
sebagai berikut:
1. Inkontinensia urine fungsional
2. Inkontinensia urine stress
3. Inkontinensia urine urgensi
4. Resiko infeksi
5. Resiko gangguan integritas kulit
6. Isolasi social
Intervensi
Menurut standar intervensi keperawatan Indonesia tahun 2018 intervensi
yang dapat dilakukan adalah:

a. Inkontinensia urine fungsional


Intervensi utama
• Latihan berkemih
Intervensi penunjang
• Dukungan perawatan diri: BAK
• Edukasi latihan berkemih
• Edukasi perawatan diri
• Manajemen eliminasi urine
• Manajemen inkontinensia urine
• Manajemen lingkungan
b. Inkontinensia urine stress

Intervensi utama

• Latihan otot panggul

Intervensi pendukung

• Dukungan kepetuhan program pengobatan

• Dukungan perawatan diri: BAB/BAK

• Edukasi program pengobatan

• Manajemen eliminasi urine

• Manajemen inkontinensia urine

• Manajemen medikasi
c. Inkontinensia urine urgensi
Intervensi utama
• Latihan berkemih
Intervensi pendukung
• Dukungan kepetuhan program pengobatan
• Dukungan perawatan diri: BAK
• Dukungan perawatan diri: mandi
• Edukasi toilet training
• Katerisasi urine
• Manajemen cairan
• Manajemen eliminasi urine
• Manajemen inkontinensia urine
d. Resiko infeksi
Intrvensi utama
• Pencegahan infeksi
Intervensi pendukung
• Manajemen lingkungan
e. Resiko gangguan integritas kulit
Intervensi utama
• Perawatan integritas kulit
Intervensi pendukung
• Dukung perawatan diri: mandi
• Edukasi pencegahan infeksi
• Pencegahan infeksi
• Promosi kebersihan
f. Isolasi social
Intervensi utama
• Promosi sosialisasi
Intervensi pendukung
• Edukasi manajemen stressManajemen lingkungan