You are on page 1of 21

REHABILITASI MEDIK PADA PASIEN DISFAGIA

DR. dr. Noer Rachma, Sp. KFR *)


*)Departemen Rehabilitasi Medik RSUD Dr. Moewardi Surakarta
2
Pendahuluan
Disfagia merupakan suatu kondisi kesulitan dalam menelan atau
menggerakkan makanan dari mulut ke lambung.

Kegagalan dalam meneruskan makanan dari mulut ke lambung akan


menyebabkan 3 keadaan :
• Makanan dimuntahkan
• Makanan dipaksa masuk ke saluran hidung
• Makanan masuk ke dalam saluran napas yang pada kondisi berat
dapat menyebabkan aspirasi dan obstruksi saluran nafas (Masami,
2015)
Anatomi Menelan

Anatomi Anatomy of the oral cavity and pharynx in (A) the lateral view and (B) posterior view

*)Moses Kenneth et al. 2005. Atlas of Clinical Gross Anatomy Elsevier; ISBN 0323037445 P104, Fig 10.1 Divisions of the pharynx P105, Fig 10.3 Posterior view of the pharynx)
Fisiologi
Menelan

World Gastroenterology Organisation (WGO). 2014. Dsyphagia:Global Guidelines and Cascade. Avialable from :
http://www.worldgastroenterology.org/UserFiles/file/guidelines/dysphagia-english-2014.pdf
Fisiologi
Menelan

Fig 2. Stage II transport: Drawings based on a videofluorographic recording. The tongue squeezes
the bolus backward along the palate, through the fauces, and into the pharynx when the upper
and lower teeth are closest together and during early jaw opening phase (first three frames).
The bolus head reaches the valleculae while food processing continues (last two frames).*

*Matsuo & Palmer. 2008. Anatomy and Physiology of Feeding and Swallowing- Normal and Abnormal. Phys Med Rehabil Clin
N Am. 19(4): 691-707
Fisiologi
Menelan

Fig. 3 End of oral preparatory stage (A). Oral propulsive stage (B). The soft palate elevates, closing off
the nasopharynx. The area of tongue-palate contact spreads posteriorly, squeezing the bolus into the
pharynx. The larynx is displaced upward and forward as the epiglottis tilts backward (C). The upper
esophageal sphincter opens. The tongue base retracts to contact the pharyngeal wall, which contracts
around the bolus, starting superiorly and then progressing downward toward the esophagus (D). The soft
palate descends and the larynx and pharynx reopen. The upper esophageal sphincter returns to its usual
closed state after the bolus passes (E) .

*Matsuo & Palmer. 2008. Anatomy and Physiology of Feeding and Swallowing- Normal and Abnormal. Phys Med Rehabil Clin N Am. 19(4): 691-707
Etiologi Disfagia

Dysphagia

Disfagia Disfagia
Orofaringeal Esogeal

*)Prasad GA. 2007. Clinical approach to a patient with dysphagia. Medicine update. Available from: http://www.apiindia.org/pdf/medicine_update_2007/63.pdf
Manajemen Terapi Disfagia
Disfagia Orofaringeal Disfagia Esofageal

Etiologi Pendekatan Terapi


Neoplasma Pembedahan,
kemoterapi, radioterapi
Parkinson dan Terapi farmakologi
myasthenia
Disfungsi crycofaringeal Surgical myotomy
Stroke, head and neck Rehabilitasi dengan
injury, pembedahan, tektik tertentu dan
degenerative neurologic pengaturan diet
disease

World Gastroenterology Organisation (WGO). 2014. Dsyphagia:Global Guidelines and Cascade. Avialable from : http://www.worldgastroenterology.org/UserFiles/file/guidelines/dysphagia-english-2014.pdf
Rehabilitasi Medik Modifikasi
Diet

pada Pasien Stimulasi


Elektrik
Perbaikan
Postural

Disfagia RM
Latihan Manuever
Penguatan swallowing
Rehabilitasi medik pada pasien disfagia dapat
dilakukan setelah diketahui etiologi dan letak Perbaikan
oral
disfagia serta manajemen terapi yang diperlukan sensory
awarness
1. Modifikasi Diet

Modifikasi diet mengenai tekstur Konsistensi bolus makanan yang


bolus perlu untuk mencegah disarankan adalah bolus cair yang
aspirasi kental seperti madu atau makanan
padat yang lunak (Kanaya, 2006);

Makanan diberikan bertahap ± ½


hingga 1 sdt tiap menelan, hindari
makan sambil bicara

Kanaya S. 2006. Dysphagia diets for home and hospital. Tokyo Ishiyaku Publishers Inc.
2. Perbaikan Postural

Perbaikan posisi atau postural berupa


perubahan postur kepala dan tubuh diketahui
dapat mengurangi terjadinya aspirasi pada
penderita disfagia (Tsukada et al 2009).

1st. Posisi relaksasi, pasien duduk di kursi/


wheelchair, bersandar pada bahu kursi, kaki
membentuk sudut 90°. Pasien bernafas
dalam, lengan dibiarkan menggantung
Gbr. 4 Posisi Relaksasi (Masami, 2015)

Masami, AKAI. 2015. Rehabilitation Manual 30: Dysphagia Rehabilitation Manual National Rehabilitation Center for Persons with Disabilities.
Tsukada T. Taniguchi H. Ootaki S, Yamada Y, Inoue M. 2009. Effect of food texture and head posture on oropharyngeal swallowing. J Appl Physiol: 106: 1848-57
2nd . Pada Head Tilt, bolus
makanan akan menuju ke cavum
oral secara lancar

3rd. Head Rotation dari kiri kanan akan


meningkatkan kontraksi tekanan faring
dan durasi tekanan faring pada sinus
piriformis
Gbr. 5 Head Tilt (Masami, 2015)

4th. Chin tuck atau chin down bolus


akan bergerak ke anterior dan akan
mengurangi aspirasi

Masami, AKAI. 2015. Rehabilitation Manual 30: Dysphagia Rehabilitation Manual National Rehabilitation Center for Persons with Disabilities.
Manuver dalam proses menelan akan menempatkan bagian tertentu pada
proses menelan sesuai kondisi normal dan di bawah kontrol kesadaran,

3. meliputi : (Longmann, 1998)


• Pasien diminta menelan
sambil menggerakkan
• Tarik nafas dalam
kemudian tahan nafas
• Tujuan : melatih kartilago
arytenoid bergerak ke
Kompensasi lidah ke posterior sembari menelan 1-2 kali anterior menutup pintu
Manuever • Tujuan : memperbaiki
gerakan dasar lidah ke
• Tujuan : menutup pita
suara sebelum dan saat
masuk jalan napas dan
ke dasar epiglottis
Swallowing posterior selama menelan sebelum dan saat
menelan
menelan

Supraglotic Super-supraglotic
Effortful Swallow
Swallow swallow

• Pasien diminta • Dilakukan pada pasien dg hambatan m.


merasakan sesuatu yang sfingter esophagus atas
bergerak pada lehernya • Posisi pasien tidur telentang tanpa
ketika menelan. bantal, angkat kepala utk lihat ibu jari
Gbr 6. • Kemudian menelan lagi tahan ± 30 s, kembali tidur
Mandehlson dengan dry swallow (1 • Min 90x / hari, istirahat 1 menit tiap 30x
Manuever ml air), tahan 3-5 s
(Masami, 2015)
Mandehlson
Shaker Manuever
Manuever

Masami, AKAI. 2015. Rehabilitation Manual 30: Dysphagia Rehabilitation Manual National Rehabilitation Center for Persons with Disabilities.
4. Perbaikan Oral Sensory Awarness

Thermal Tactile • Tujuan : memberi stimulus sensorik ke batang


Stimulation (TTS) dengan otak dan korteks
ice massage. • Dapat menggunakan kaca laring/lidi kapas
yang sudah dibekukan

Penekanan sendok ke
Pemberian bolus yang
arah berlawanan
harus dikunyag dan
dengan lidah ketika
pemberian bolus
makanan dimasukkan
dengan volume besar
kedalam mulut Gbr 7. Ice Massage (Masami,
2015)

Masami, AKAI. 2015. Rehabilitation Manual 30: Dysphagia Rehabilitation Manual National Rehabilitation Center for Persons with Disabilities.
4. Latihan Penguatan
• Tujuan : menguatkan otot-otot, meningkatkan ROM dan
koordinasi rahang, mulut, bibir, lidah, palatum, serta pita
suara

Latihan adduksi pita


suara dilakukann dengan
pengulangan membaca
huruf labial konsonan (p,
b), alveolar konsonan (t
dan d), palatal konsonan
(k dan g)

Gbr 9. Latihan Otot lidah dg menahan


Gbr 8. Latihan Mandibula
gerakan lidah ke atas (Masami, 2015)
(Masami, 2015)

Masami, AKAI. 2015. Rehabilitation Manual 30: Dysphagia Rehabilitation Manual National Rehabilitation Center for Persons with Disabilities.
6. Stimulasi Elektrikal
Lim et al, (2009) menyebutkan
penggunaan Neuromuscular lectrical
stimulation (NMES) dapat memberi
stimulasi pada otot-otot yang
berperan dalam proses menelan

Wijting (2009), melaporkan


penggunaan NMES aman untuk anak-
anak

Wijting Y. 2009. Neuromuscular Electrical Stimulation The Treatment od Dysphagia : A Summary of the Evidence. St. Paul: Empi Recovery Science
Teknik Rehabilitasi pada Pasien Post Stroke dengan
Disfagia

Pada pasien post stroke penggunaan tDCS bekerja dengan mengirimkan


TMS dan tDCS secara berulang-ulang elektroda scr konstan dan arus rendah,
dapat meningkatkan kemampuan kemudian akan menginduksi
menelan (Matias&Leochico, 2016)*. intracerebral flow.

Aliran arus ini kemudian meningkatkan Jika diterapkan pada pharyngeal cortex,
atau menurunkan rangsangan neuron tDCS mampu meningkatkan dan
menghambat pharyngeal motor cortex.
di daerah tertentu distimulasi Parameter optimal untuk stimulasi anodal
berdasarkan jenis stimulasi yang ditemukan 1,5 mA selama 10 menit, atau 1
digunakan. mA selama 20 menit (Yang et al, 2012)**

TMS : Transcranial magnetic stimulation


tDCS : Transcranial Direct Current Stimulation

*Matias R, Leochico C Friilan. 2016. Rehabilitation techniques in dysphagia management among stroke patients: a systemic review. International Journal of Physical Medicine & Rehabilitation
**Yang EJ, Back SR, Shin J, Lim JY, Jang HJ. 2012. Effects of trancranial direct current stimulation (tDCS) on post stroke dysphagia. Restor Neural Neurosci 30:303-311
Kok bisa?
Cari
alasannya
Rehabilitasi pada Pasien Disfagia Post Trakeostomi di ICU

Penelitian Rodrigues et al, 2015 menunjukkan bahwa


intervensi terapi wicara pada sekelompok kecil pasien
ICU dengan ventilasi mekanik layak dilakukan dan
mungkin membantu memperbaiki fungsi menelan dan
derajat keparahan disfagia

Latihan menelan dapat dilakukan sejak 5.0 ± 5.2 hari


dengan pemasangan ventilasi mekanik.

Rodriguesm KA, Machado FR, Chiari BM, Rosseti HB, Lorenzon P, Gonçalves MIR. 2015. Swallowing rehabilitation of dysphagic tracheostomized
patients under mechanical ventilation in intensive care units: a feasibility study. Rev Bras Ter Intensiva. 2015;27(1):64-71
SIMPULAN

Rehabilitasi medik terhadap pasien penderita disfagia sebaiknya


dilakukan secara komprehensif meliputi modifikasi diet, perbaikan
posisi dan postural, kompensasi manuever swallowing, perbaikan
oral sensory awarness, latihan penguatan, dan stimulasi elektrikal.
Kerjasama berbagai pihak diperlukan agar mendapatkan hasil
rehabilitasi yang maksimal.