You are on page 1of 23

EPILEPSI Vivi Anisa Putri 1710221021

DEFINISI
Suatu keadaan yg ditandai oleh bangkitan (epileptic seizure) berulang sbg akibat
dari gangguan fungsi otak secara intermiten yg disebabkan oleh lepas muatan listrik
abnormal & berlebihan di neuron secara paroksismal didasari oleh bebagai etiologi.
EPILEPTIC SEIZURE
Manifestasi klinik dari disfungsi cerebral akibat imbalance sistim eksistasi dan inhibisi
pada sel-sel neuron di otak yang menyebabkan terlepasnya muatan listrik
paroksimal, hypersinkron, intermiten dengan manifestasi klinik berupa: gangguan
kesadaran, tingkah laku, emosi, fungsi motorik, persepsi, sensasi, bisa tunggal atau
kombinasi
KLASIFIKASI
ILAE 1981
1. Bangkitan Parsial
- Bangkitan parsial sederhana
- Bangkitan parsial kompleks
- Bangkitan parsial yg menjadi umum sekunder
2. Bangkitan Umum : lena, mioklonik, klonik, tonik, tonik
klonik, atonik
3. Tak tergolongkan
ILAE 1989 untuk sindrom epilepsi
ETIOLOGI
1. Idiopatik : penyebab tidak diketahui, umumnya
mempunyai predisposisi genetik
2. Kriptogenik : dianggap simtomatik tetapi
penyebabnya belum diketahui
→ Sindrom West, Sindrom Lennox Gestaut,
epilepsi mioklonik
3. Simtomatik : disebabkan kelainan/lesi pada SSP
ex: trauma kepala, infeksi SSP, kelainan
kongenital, SOL, GPDO, toksik, metabolik,
neurodegeneratif
PATOFISIOLOGI
Kejang disebabkan karena ada ketidakseimbangan antara
pengaruh inhibisi dan eksitatori pada otak
Ketidakseimbangan bisa terjadi karena :
Kurangnya transmisi inhibitori
 Contoh: setelah pemberian antagonis GABA, atau selama penghentian
pemberian agonis GABA (alkohol, benzodiazepin)

Meningkatnya aksi eksitatori  meningkatnya aksi glutamat


atau aspartat
DIAGNOSIS
Ditegakkan berdasarkan adanya gejala & tanda klinik dlm bentuk
bangkitan epilepsi berulang (min 2X) yg ditunjang oleh gambaran
epileptiform pada EEG
Indikasi EEG:
1. Membantu menegakkan diagnosis epilepsi
2. Menetukan prognosis pd kasus tertentu
3. Pertimbangan dlm penghentian OAE
4. Membantu dlm menentukan letak fokus
5. Bila ada perubahan bentuk bangkitan
Indikasi Brain Imaging (CT-scan, MRI):
1. Semua kasus bangkitan pertama yg diduga ada kelainan struktural
2. Adanya perubahan bentuk bangkitan
3. Terdapat defisit neurologik fokal
4. Epilepsi dgn bangkitan parsial
5. Bangkitan pertama di atas usia 25 thn
6. Untuk persiapan tindakan pembedahan
MANIFESTASI KLINIK
Berdasarkan tanda klinik dan data EEG, kejang dibagi
menjadi :
 kejang umum (generalized seizure)  jika aktivasi terjadi pd kedua
hemisfere otak secara bersama-sama
 kejang parsial/focal  jika dimulai dari daerah tertentu dari otak
MANIFESTASI KLINIK
Kejang umum terbagi atas:
Tonic-clonic convulsion = grand mal
 merupakan bentuk paling banyak terjadi
 pasien tiba-tiba jatuh, kejang, nafas terengah-engah, keluar air liur
 bisa terjadi sianosis, ngompol, atau menggigit lidah
 terjadi beberapa menit, kemudian diikuti lemah, kebingungan, sakit
kepala atau tidur
MANIFESTASI KLINIK
Abscense attacks = petit mal
jenis yang jarang
umumnya hanya terjadi pada masa anak-anak atau awal remaja
penderita tiba-tiba melotot, atau matanya berkedip-kedip, dengan kepala terkulai
kejadiannya cuma beberapa detik, dan bahkan sering tidak disadari
Myoclonic seizure
biasanya tjd pada pagi hari, setelah bangun tidur
pasien mengalami sentakan yang tiba-tiba
jenis yang sama (tapi non-epileptik) bisa terjadi pada pasien normal
Atonic seizure
jarang terjadi
pasien tiba-tiba kehilangan
kekuatan otot  jatuh, tapi bisa
segera recovered
MANIFESTASI KLINIK
Kejang parsial terbagi menjadi :
Simple partial seizures
pasien tidak kehilangan kesadaran
terjadi sentakan-sentakan pada bagian tertentu dari tubuh
Complex partial seizures
pasien melakukan gerakan-gerakan tak terkendali: gerakan mengunyah, meringis,
dll tanpa kesadaran
TERAPI
Prinsip pengobatan :
1. Mengurangi dan menghilangkan serangan
2. Terapi dimulai sedini mungkin
3. Pilihan obat sesuai jenis epilepsi
4. Obat diupayakan tunggal
5. Dosis minimal yang efektif
6. Efek samping minimal
7. Biaya terjangkau
8. Terapi harus berdasarkan “evidence-based clinical practice”
Strategi: mencegah atau menurunkan lepasnya muatan listrik syaraf yang
berlebihan  melalui perubahan pada kanal ion atau mengatur
ketersediaan neurotransmitter
Pemilihan obat : Tergantung pada jenis epilepsinya

Kejang Umum (generalized seizures)


Kejang
parsial Tonic-clonic Abscense Myoclonic,
atonic
Drug of Karbamazepin Valproat Etosuksimid Valproat
choice Fenitoin Karbamazepin Valproat
Valproat Fenitoin

Alternatives Lamotrigin Lamotrigin Clonazepam Klonazepam


Gabapentin Topiramat Lamotrigin Lamotrigin
Topiramat Primidon Topiramat
Tiagabin Fenobarbital Felbamat
Primidon
Fenobarbital
Drug choice in newly diagnosed epilepsy in adolescents and adults

Seizure type First line Second line

►Sodium valproate ►Lamotrigine*


Tonic clonic ►Carbamazepine ►Oxcarbamazepine*
►Phenytoin
Absence ►Sodium valproate ►Ethosuximide
►Lamotrigine*

Myoclonic ►Sodium valproate ►Lamotrigine*

►Carbamazepine ►Lamotrigine*
Partial ►Phenytoin ►Oxcarbamazepine*
►Sodium valproate
Unclassifiable ►Sodium valproate ►Lamotrigine*
Choice of antiepileptic drugs in children
Seizure type First line Second line Third line
Tonic-clonic Sodium valproate Lamotrigine* Phenytoin
Carbamazepine Oxcarbazepine*
Myoclonic Sodium valproate Lamotrigine* Clobazam
Phenobarbital
Tonic Sodium valproate Lamotrigine* Clobazam
Topiramate
Absence Sodium valproate Lamotrigine* Clobazam
Ethosuximide
Carbamazepine Sodium valproate Lamotrigine*
Partial Phenytoin Gabapentin Vigabatrin
Oxcarbazepine* Clobazam
Topiramate
Infantile spasms Vigabatrin Sodium valproate Lamotrigine*
Corticosteroids Nitrazepam
Lennox-Gastaut Sodium valproate Lamotrigine* Clobazam
Topiramate Felbamate
STATUS EPILEPTIKUS
Bangkitan yg berlangsung lebih dari 30 menit atau adanya 2 bangkitan atau lebih di
mana diantara bangkitan-bangkitan tadi tidak terdapat pemulihan kesadaran
PENANGANAN STATUS EPILEPTIKUS
Sesuai dengan modifikasi protokol AWGOSE 1993
Bila setelah menit ke 60 belum teratasi, perawatan dilakukan di ICU
 Protokol
0 menit
 Perbaiki jalan nafas dan sirkulasi
 Oksigen lewat nasal, monitor EKG, pernafasan, dan temperatur
 Lakukan anamnesis dan pemeriksaan neurologik
 Ambil sampel darah untuk elektrolit, BUN, glukosa, toksikologi, kadar OAE, gas darah
 Pasang jalur IV dengan larutan NaCl 0,9% dengan tetesan lambat
 Berikan 50 ml Glukosa 40% IV dan 100 mg tiamin IV/IM
 Lakukan rekaman EEG bila ada
 Berikan diazepam 0,3 mg/kgBB IV sampai max. 20 mg dapat diulangi jika masih kejang setelah 5 mnt.
 Lanjutkan dengan fenitoin IV 18 mg/kgBB disertai monitor EKG dan tekanan darah selama infus fenitoin
(bila kejang teratasi). Bila kejang belum teratasi berikan fenitoin IV 15-20 mg/kgBB.
PENANGANAN STATUS EPILEPTIKUS
20 – 30 mnt
 Jika kejang menetap intubasi, kateter, rekaman EEG, temperatur
 Beri fenobarbital, dosis rumat 20 mg/kgIV (100 mg/menit)
40 – 60 mnt
 Berikan pentobarbital 5 mg/kgBB IV dosis awal, ditambah terus sampai kejang
berhenti dengan monitoring EEG, dilanjutkan dengan 1 mg/kg/jam, kecepatan
infus lambat setiap 4-6 jam untuk menentukan apakh kejang suadah teratasi
atau tidak ada komplikasi terhadap tekanan darah, pernafasan
>60 mnt
 Kejang masih menetap dilakukan anestesia dengan pentobarbital, intubasi,
ventilator mekanik
INDIKASI BEDAH PADA EPILEPSI
Kriteria :
1. Sindrom epilepsi fokal atau simtomatik yg refrakter thdp OAE
2. IQ > 70
3. Tidak ada kontraindikasi pembedahan
4. Usia < 45 thn
5. Tdk ada kelainan psikiatrik yg jelas

Indikasi
1. Epilepsi refrakter
2. Secara umum pd epilepsi dgn durasi lama (beberapa tahun)
3. Mengganggu kualitas hidup
4. Manfaat operasi lebih besar daripada risiko