You are on page 1of 48

Pertemuan 1

 Pengertian Forwarding
 Peran forwarder dalam system logistic
 In 1995 the UNCTAD Secretariat defined multimodal transport broadly as ‘‘the
movement of goods from one country to another by at least two different modes of
transport performed under one contract’’
 It is common to see references to combined, multimodal or intermodal transport.
One can also see a reference to the term ‘‘through transport’’ which can also be
applied in this context.
 More modern reference is to multimodal transport which reflects the influence of
the United Nations Convention on International Multimodal Transport of Goods
1980 (MMTC).
 Intermodal transport is ‘‘The movement of goods in one and the same loading unit
or road vehicle, which uses successively two or more modes of transport without
handling the goods themselves in changing modes’’
 Inter-modal refers to the use of more than one mode to carry goods’’
 intermodality is the movement of cargo by at least two different modes of transport
under a single rate, through-billing and through liability
 Multimodal
Pengangkutan barang dengan paling sedikit dua moda transportasi yang berbeda
berdasarkan satu kontrak transportasi multimoda, dari satu tempat dalam suatu
negara di mana tanggung jawab atas barang tersebut diambil alih oleh
multimodal transport operator (MTO), ke suatu tempat di negara lain yang telah
ditetapkan untuk penyerahan barang dimaksud.”
UNIT LOAD DEVICES
 Container Revolution
 The use of containers as a means of interconnection between transport modes
does not necessarily require combined transport services but naturally
facilitates them.
 standardisation of containers which provided the basis for the development of
specialist ships, port handling equipment, lorries and rail wagons.
UNIT LOAD DEVICES
The International Organisation for Standardisation (ISO) A container is defined as an article of
transport equipment:
 of a permanent character and accordingly strong enough to be suitable for repeated use;
 specially designed to facilitate the carriage of goods by one or more modes of transport, without
intermediate reloading;
 fitted with devices permitting its ready handling, particularly its transfer from one mode of
transport to another;
 so designed as to be easy to fill and empty;
 having an internal volume of one cubic metre or more but excluding vehicles or conventional
packing.
A 20-foot long container is referred to as a TEU
UNIT LOAD DEVICES
 lo-lo (lift-on lift-off)  vertical handling process necessary to load containers on to
a ship
 ro-ro (roll-on roll-off)  horizontal technique of loading containers on a ship
designed to carry trailers.
 mode to mode systems of carriage  removing the unit from one mode in order to
load it on another mode.
 mode on mode systems of carriage  goods remaining present on one mode
which is then transported by another mode.
 Contract
 Bill of Lading
 Combined/multimodal transport bill
 container bills: FCL dan LCL
 COMMON CARRIER
 FREIGHT FORWARDER
 MULTIMODAL TRANSPORT OPERATOR
 SUBCONTRACTOR OR AGENTS/PARTNERS OF MULTIMODAL TRANSPORT
OPERATOR
 FACILITY OPERATORS AND AVAILABILITY OF EQUIPMENTS
 CUSTOMS HOUSE
 CONSIGNOR, CONSIGNEE AND BANK
 Batas pengertian Freight Forwarding menurut dari asal katanya dari Freight Forwarding
yang dalam kamus bahasa Inggris-Indonesia dimana “Freight” berarti muatan/
pengangkutan sedangkan “Forwarding” berarti kegiatan dari agen ekspeditur atau kantor
ekspeditur yang menangani pengiriman dan pengurusan surat-surat serta penyerahan
barang.
 Menurut Drs. F.D.C. Sudjatmiko MM, Freight Forwarding adalah suatu usaha yang tidak hanya
mengurus dokumen dan pengangkutan muatan sebelum dan sesudah pengapalan,
melainkan semua keperluan pengapalan dari sortasi barang (memilih jenis barang sesuai
klasifikasi tarif), Packing (pengemasan barang), cargo dan dokumen serta pengurusan ijin
ekspor impor jika dipergunakan.
 Menurut Drs. M.M. Noh. Idris Ronosentono BSC Freight Forwarding adalah suatu badan
hukum yang melaksanakan perintah barang (muatan) dari satu atau beberapa orang, tempat
ke tempat tujuan akhir melalui suatu system pengaturan lalu lintas barang dan dokumen,
dengan menggunakan satu atau beberapa jenis angkutan, dengan tanpa memiliki sarana
angkutan yang dimaksud.
Peraturan Menteri Perhubungan No. 49 Tahun 2017 Tentang Penyelenggaraan dan
Pengusahaan Jasa Pengurusan Transportasi

Usaha Jasa Pengurusan Transportasi (freight forwarding) merupakan kegiatan


usaha yang ditujukan dalam kepengurusan semua kegiatan yang diperlukan bagi
terlaksananya pengiriman dan penerimaan barang melalui transportasi baik
melalui jalur darat, laut atau maupun udara.
FREIGHT FORWARDER:
 In generic definition Freight Forwarder performs its duty on behalf of Consignor or
Consignee acting as “Agent” for customs formality, assisting to deal with Common
Carriers such as hiring truck, booking vessel space, airline space to Move the
goods from Origin to Destination
Freight forwarder adalah orang ataupun badan hukum yang melaksanakan
pekerjaan forwarding. Definisi dari seorang Forwarder yaitu:
 Forwarder hanya bekerja atas “ perintah “ dari customer yang menginginkan agar
barangnya dikirim ke tempat lain.
 Untuk menggerakkan barang muatan ke tempat lain maka forwarder tidak harus
memiiki sarana angkut sendiri
 Forwarder bertindak sebagai perantara antara si pengirim (Shipper) , pengangkut
(Carier) , dan penerima barang (Consignee).
 Freight Forwarder adalah perusahaan yang memiliki usaha dalam bidang
pengangkutan barang secara keseluruhan, freight forwarder juga dapat berfungsi
sebagai Perusahaan Espedisi Muatan, Pelayaran, Jasa kepabeanan ,bahkan dapat
juga berfungsi sebagai pengiriman door to door.
1. Sebagai Perantara
 Freight Forwarding mempunyai peranan yang sangat penting dalam hal kegiatan
ekspor barang, yaitu sebagai “Cargo Intermediary” yaitu berusaha dan bertindak
sebagai pemiliki barang disuatu pihak dan juga sebagai pengangkut di sisi
lainnya, pada suatu proses pengiriman barang.
 Dilain pihak Freight Forwarding juga selalu menjalin hubungan dengan instansi
pemerintah seperti: Bea Cukai, PT (Persero) Pelabuhan Indonesia, Bank, dan lain
sebagainya.
2. Sebagai wakil pemilik barang
 Untuk melakukan kegiatan ekspor barang Freight Forwarding akan mendapatkan surat
kuasa dari eksportir untuk mengurus dokumen ekspor. Dalam hal ini dapat dikatakan
bahwa Freight Forwarding adalah pemilik barang atau bertindak untuk dan atas nama
pemilik barang.
 Untuk itu, Freight Forwarding selaku pemilik barang bertanggung jawab terhadap hal-hal
sebagai berikut:
 Akan selalu melindungi kepentingan pemilik barang
 Memberikan semua informasi yang berhubungan dengan proses pengiriman barang dan
penerimaan barang
 Membayar dimuka semua biaya-biaya yang terkait dengan pengurusan dokumen dan
pelaksanaan kegiatan ekspor barang
 Melindungi muatan dengan berbagaimacam dokumen yang diperlukan untuk proses
pengiriman barang agar dapat sampai ke tujuan akhirnya
3. Sebagai pengangkut
 Freight Forwarding disebut sebagai pengangkut apabila mereka bertindak sebagai
multimoda Transport Operation (MTO), dimana mereka bertindak selaku koordinator
pengirim barang dengan menggunakan lebih dari satu sarana angkutan maka Freight
Forwarding akan menggunakan House B/L untuk melindungi muatan-muatan yang diangkut
dengan beberapa sarana angkutan
4. Sebagai Cargo Consolidator
 Freight Forwarding dikatanakan sebagai cargo consolidator, karena mereka mampu
mengumpulkan muatan dari beberapa pemilik barang, pada umumnya dengan volume
yang relatif kecil untuk digabungkan menjadi satu kemudian dikirim ke tujuan yang sama.
Dalam hal ini Freight Forwarding menggunakan kontainer sebagai pengemas.
 Dengan adanya peranan Freight Forwarding sebagai cargo consolidator ini memberikan
keuntungan bagi pemilik barang karena tarif pengapalan yang relatif murah.
 Banyak freight forwarding bertindak sebagai operator dan bertanggung jawab penuh dalam
melaksanakan pengangkutan meskipun tidak memiliki kapal sendiri,
 Freight Forwarding juga bertindak sebagai:
 Vessel Operating Multimoda Transport secara penuh yang melaksanakan berbagai jenis
pengangkutan dengan cara door to door satu dokumen intermoda yang biasanya
berbentuk FBL.
 Non Vessel Operator (NVO) yaitu operator muatan yang mengurus pengangkatan lewat
laut dari pelabuhan ke pelabuhan dengan enggunakan satu house B/L atau Ocean B/L
yang juga dapat mencakup transport darat dan dapat berfungsi sebagai Non Vessel
Operating multimodal Transport.
 Non Vessel Operating Common Carrier (NVOCC) yang mempunyai jadwal pelayaran
tetap dan melaksanakan konsolidasi muatan atau melayani multimoda transport dengan
House B/L (HBL) atau B/L dari FIATA.
Forwarder adalah tempat dimana para pemilik barang akan menerima berbagai
macam advise/nasehat tentang segala sesuatu terhadap berbagai aspek-aspek
dalam pengiriman dan pengangkutan barang :
 Tata cara pengepakan atau pengemasan barang
 Negara tujuan barang beserta meninjau peraturanperaturan setempat tentan
pemasukan barang dari luar.
 Mengenai jalur dan route angkutan barang yang terbaik dan tercepat.
 Pengaturan dokumen dan pemantauan barang selama proses angkutan (shipment).
 Untuk melaksanakan kegiatan operasional, sehari-harinya forwarder selalu
melibatkan pihak-pihak tertentu dalam pekerjaan serta jasa yang ditawarkan
kepada para pemilik barang supaya berjalan lancar.
 Disini seorang Forwarder berperan sebagai seorang koordinator dalam suatu
proses pengiriman barang, dengan menggunakan sarana angkutan tertentu yang
dipilih dengan menyesuaikan jenis, berat, serta nilai barang bersangkutan.
Pihak-pihak yang berkaitan dengan Forwarder adalah :
 Pemilik barang (penjual atau pembeli atau pihak lainnya)

 Pihak Stevedore yang di Indonesia disebut dengan perusahaan Bongkar muat (PBM) yang
membantu forwarder untuk melakukan kegiatan memuat dan membongkar barangnya.
 Cargo Surveyor sebagai pemeriksa barang di pelabuhan.

 Pihak pengangkut barang (carier) serta dokumen muatannya.

 Asuransi dan Bank dalam hal dokumentasi dan keamanan barang serta sistem barang yang
terkait.
 Badan dan Instansi pemerintah yang terkait seperti :
 Bea Cukai
 perdagangan
 Perhubungan dan lain sebagainya
 Maka dapat kita rumuskan status seorang Forwarder itu adalah sebagai berikut :
 Konsultan dari para pemilik barang.
 Kuasa dari pemilik barang yang diserahkan kepadanya untuk segera dikirimkan sampai
ketempat tujuan akhir(penerimaan dan penyerahan barang).
 Koordinator serta pengawas terhadap dalam proses pengiriman barang.
Untuk itu, ada beberapa hal yang diperhatikan kaitannya dengan Freight Forwarding:
 Memahami dengan baik sifat dan karakteristik barang

 Mengatur dan merencanakan dengan baik jadwal pemuatan barang sesuai dengan rencana
kedatangan kapal
 Merencanakan pengaturan pemesanan “ruang muatan” kapal (Booking Space) secara tepat
waktu
 Menyelesaikan pengurusan dokumen sesuai dengan ketentuan.
Kesimpulan mengenai peran Freight Forwarding dalam menunjang kelancaran kegiatan
ekspor antara lain:
 Dalam pelaksanaan ekspor dengan kontainer yang dilakukan oleh Freight Forwarding agar
dapat berjalan dengan baik, Freight Forwarding harus selalu memperhatikan penanganan
secara detail, baik dalam penggunaan kontainer itu sendiri, memperhatikan proses
pengangkutannya dan menangani pengurusan dokumennya secara tepat waktu serta
menjalin kerja sama yang baik dengan pihak-pihak yang terkait di dalamnya.
 Dengan beroprasinya Freight Forwarding maka telah mendorong peningkatan kualitas
pelayanan jasa Freight Forwarding dalam menunjang kelancaran kegiatan ekspor.
Adapun ruang lingkup Freight Forwarding sebagai upaya dalam menunjang kelancaran
muatan ekspor antara lain:
 Menyelesaikan pengurusan dokumen ekspor barang

 Menyediakan saranan transportasi

 Menyelesaikan pembayaran bea dan pajak

 Menyelesaikan pembayaran sewa penumpukan, uang dermaga, dan lain-lain yang berkaitan
dengan ekspor di pelabuhan
 Menyediakan gudang atau lapangan untuk penyimpanan dan penimbunan barang ekspor.
Dalam hal ini kegiatan freight forwading dapat mencakup kegiatan :
 penerimaan
 penyimpanan
 sortasi (Pengelompokan)
 pengepakan (Packing)
 pengukuran
 penimbangan
 pengurusan penyelesaian dokumen penerbitan dokumen
 angkut
 perhitungan biaya angkut
 klaim asuransi atas pengiriman barang
 serta penyelesaian tagihan dan biaya-biaya lainnya berkaitan dengan pengiriman barang- barang
tersebut sampai diterimanya oleh yang pihak pemesan barang.
1. Customs Broker including hiring truck for local delivery
2. International Forwarding by assisting Traders to deal with Common Carriers
moving the goods internationally and invoice only his Service charge and
Handling charges, not freight charges.
3. Transport Service Provider:
 Air Transport : become Agent of Airlines
 Sea Transport : becomes principal or carrier as NVOCC/OTI, taking
responsibility as Common Carrier
 Truck Transport: international and Local service
4. Auxiliary Services: Warehouse operation, Common Warehouse Operator, Packing Service
5. Cargo Consolidation:
 provides LCL consolidation services acting as Carrier
 performs Buyer Consolidation Service on behalf of Consignee
 perform on behalf of Shipper making consolidation for various Consignees, acts as
Principal or Carrier
6. Business Consultant:
Providing International business advice, FTA, Traditional practice
7. Insurance:
 In some countries, Forwarder is able to perform as Insurance broker, in some countries,
assist Trader to find suitable insurance policy
Dari urian tersebut diatas maka sekarang dapat disimpulkan bahwa pihak yang
termasuk dalam lingkup kerja seorang Forwarder adalah :
 Perusahaan jasa pengiriman paket dan dokumen.
 Perusahaan EMKL(Ekspedisi Muatan Kapal Laut), EMKU(Ekspedisi Muatan Kapal
Udara) dan EMKA (Ekspedisi Muatan Kereta Api) serta sejenisnya.
 Perusahaan pengepakan barang atau packing companies.
 Perusahaan barang pindahan (Cargo Moving Company)
 Memilih route serta mode transport yang dikehendaki
 Melakukan booking space ke perusahaan Shipping Line
 Melakukan serah terima barang dengan cargo owner (Eksportir).
Pada saat serah terima barang dilakukan, maka freight forwarder menyerahkan dokumen
Forwarders Cerificate of Receipt (CFR) dan Forwarder Certificate of Transport (FCT)
kepada eksportir.
 Mempelajari bentuk Letter of Credit (L/C) serta aturan pemerintah yang relevan dengan
rencana pengiriman barang, baik di Negara eksportir (Country of Origin) dan Negara yang
memungkinkan barang tersebut akan transit (Country of Transito) serta Negara tujuan
dimana barang tersebut akan dibongkar (Country of Destination).
 Melaksanakan pengepakan (packing) barang dengan mempertimbangkan kondisi alam
dan regulasi yang berlaku pada negara yang akan dilalui atau negara transit serta Negara
tujuan barang sehingga keamanan dan keselamatan barang akan tetap terjaga.
 Melaksanakan pergudangan barang (jika memungkinkan)
 Penimbangan serta pengukuran barang
 Mengasuransikan barang, bilamana pihak eksportir menghendaki agar barangnya untuk
diasuransikan.
 Melakukan pengangkutan barang ke pelabuhan muat (Port of Loading) dengan terlebih
dahulu mengurus dokumen ekspor Barang (PEB) serta dokumen pelengkap lainnya yang
dibutuhkan oleh (carrier).
 Membayar semua biaya yang timbul terkait dengan pengangkutan dan pengurusan
dokumen, termasuk pembayaran freight
 Menerima full set Bill of Lading (B/L) dari carrier
 Memonitor pergerakan barang selama dalam perjalanan serta melakukan komunikasi
dengan forwarding agent yang ada di luar negeri (Port of Destination) dengan terlebih
dahulu mengirim Telex Release dalam rangka persiapan clearance dokumen dan Cargo
delivery saat barang tiba.
 Dalam hal terjadi kerusakan barang, maka forwarder, melalui agentnya di pelabuhan tujuan,
melaksanakan pencatatan kerusakan serta kehilangan barang dalam proses claim.
 Menerima dan mengecek dokumen impor serta dokumen pelengkap lainnya yang
dibutuhkan dalam rangka impor
 Memonitor pergerakan barang impor untuk mengetahui kapan barang tersebut akan tiba.
 Mengurus pengambilan Delivery Order (D/O) atas barang pada perusahaan pelayaran
serta membayar biaya yang timbul terkait kegiatan impor
 Membuat dan mengajukan surat Pemberitahuan Impor Barang (PIB) ke kantor bea cukai
dengan terlebih dahulu membayar Bea Masuk, pajak dan Pajak lainnya dalam rangka impor
ke bank devisa yang ditunjuk atau mengajukan surat permohonan penimbunan sementara
di luar kawasan pabean ( Gudang Lini II ) dalam hal PIB belum memenuhi syarat pengajuan.
 Mempersiapkan gudang sementara (jika memungkinkan)
 Melakukan pengurusan Job Slip ke pihak operator pelabuhan (Pelindo) divisi Usaha
Terminal Peti Kemas (UTPK) dengan melampirkan dokumen dari customs sebagai legalitas
bahwa barang impor tersebut telah memenuhi syarat untuk dikeluarkan.
 Melakukan pengangkutan serta penyerahan barang kepada consignee.
Door to door service
 Door to door service adalah jenis pelayanan oleh perusahaan Freight Forwarding

kepada pengirim atau penerima barang dalam melakukan pekerjaan untuk


inklaring beserta mengambil barang yang dimaksud dari tempat tertentu (misal
gudang pengirim barang) hingga ke gudang laut dan di kapalkan pada pelabuhan
pemuatannya hingga menyerahkan kepada penerima barang Iinklaring) pada
tempat yang telah ditentukan (misal gudang penerima barang) di pelabuhan
tujuan.
Door to port service
 Door to port service adalah pelayanan jasa yang diberikan oleh perusahaan

Freight Forwarding kepada pengirim barang (shippers) untuk melakukan


pekerjaaan inklaring atas barang atau muatan yang diangkut melalui laut. Dalam
jenis pelayanan ini, akan melakukan pengambilan barang dari dimana barang itu
berada hingga sekali di kapalkan.
Port to port service
 Port to port service adalah yaitu pelayanan yang diberikan oleh perusahaan

Freight Forwarding kepada penerima dan pengirim barang untuk mengerjakan in


dan outklaring, dengan catatan perusahaan Freight Forwarding menerima barang
atau muatan itu di gudang laut (gudang unit I ) pelabuhan muatan dan
menyerahkannya di gudang laut pelabuhan pembongkaran atau pelabuhan tujuan.
Port to door service
 Port to door service ini merupakan kebalikan door to port service, disini

perusahaan Freight Forwarding akan mengerjakan inklating terhadap barang atau


muatan yang diangkut melalui laut di pelabuhan pembongkarang hingga
menyerahkan kepada pemiliki barang pada tempat yang telah diperjanjikan,
misalnya di gudang penerima
 Perbedaan antara Perusahaan pelayaran dengan Forwarder.
 Shipping Line adalah perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengangkutan
laut, dimana mempunyai dan mengoperasikan kapal nya sendiri atau pun secara
konsorsium.
 Forwarder adalah perusahaan penengah antara shipping line dengan direct
customer.
Hal yang membedakan shipping line dan forwarder:
 Dari segi service:
 Shipping line hanya menyediakan jasa port to port (CY-CY) artinya kewajiban dari
pelayaran hanyalah mengangkut cargo dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain saja,
sedangkan Forwarder dapat menyediakan jasa Door - Door service, artinya Forwarder
bisa menyediakan full service untuk si customer, termasuk di sana pengangkutan darat
menggunakan truck container dari gudang/pabrik ke pelabuhan origin sampai ke
pabrik/gudang si pembeli di luar negri. Service ini dapat di laksanakan tentunya bila
pihak Forwarder memiliki jalinan kerja sama dengan agen di luar negri.
 Dari segi pembayaran:
 Umumnya pihak Shipping Line agak kurang flexible dalam hal pembayaran, dimana biasa
nya pelayaran menggunakan sistem cash against document, sedangkan di Forwarder
biasanya mereka lebih cenderung flexible, dimana mereka dapat memberikan credit
term kepada customer.
 Dari segi value added service:
 Umunya pelayaran mengharuskan customer untuk mengambil dokumen (Bill of Ladding)
di kantor pelayaran, sedangkan pihak Forwarder biasanya memberikan value added
dengan mengantarkan dokumen ke kantor customer.
 Freight Forwarder VS NVOCC