You are on page 1of 43

V adalah satu keadaan dimana jaringan

endometrium yang masih berfungsi


terdapat di luar kavum uteri.
V Jaringan ini terdiri atas kelenjar-kelenjar
dan stroma, terdapat di dalam
miometrium atau pun di luar uterus.
V Bila jaringan endometrium terdapat di
dalam miometrium disebut adenomiosis
dan bila di luar uterus disebut
endometriosis.
V 2varium
V Peritoneum dan ligamentum sakrouterinum, kavum
douglasi;dinding belakang uterus, tuba fallopii, plika
vesikouterina, ligamentum rotundum dan sigmoid
V Septum rektovaginal
V Kanalis ingunalis
V Apendik
V Umbilikus
V Serviks uteri, vagina, kandung kencing, vulva,perineum
V Parut laparatomi
V kelenjar limfe
V lengan, paha, pleura dan pericardium
V O    

×ndometriosis terjadi karena darah haid


mengalir kembali melalui tuba ke dalam
rongga pelvis.

Darah haid di dalamnya didapati sel-sel


endometrium yang masih hidup Sel-sel ini
kemudian dapat mengadakan implantasi
di pelvis.
V O      

V ×ndometriosis terjadi karena rangsangan


pada sel-sel epitel berasal dari selom
yang dapat mempertahankan hidupnya
di daerah pelvis.
V Rangsangan ini dapat menyebabkan
metaplasi dari sel-sel epitel, sehingga
terbentuk jaringan endometrium.
V Angka kejadinnya antara 5-15%
ditemukan antara semua operasi pelvik.

V ×ndometriosis sering ditemukan pada


wanita-wanita
x dari golongan sosio-ekonomi yang kuat,
x pada wanita yang tidak kawin pada umur
muda,
x dan yang tidak mempunyai banyak anak.
V Pada gambaran mikroskopik dari
endometriosis lokasi yang sering terdapat
ialah pada ovarium dan biasanya didapati
pada kedua ovarium.
V Pada ovarium tampak kista-kista biru kecil
sampai kista besar. darah tua dapat keluar
sedikit-sedikit.
V Kista coklat kadang-kadang dapat
mengalir dalam jumlah banyak ke dalam
rongga peritoneum menyebabkan akut
abdomen.
V Tuba pada endometriosis biasanya normal.
V airi-ciri khas endometriosis yakni kelenjar-kelenjar dan
stroma endometrium dan perdarahan bekas dan
baru berupa eritrosit, pigmen hemosiderin dan sel-sel
makrofag berisi hemosiderin.
V Di sekitarnya tampak jaringan ikat dan sel-sel radang
sebagai reaksi dari jaringan normal disekelilingnya.
V Jaringan endometriosis seperti jaringan endometrium
di dalam uterus dapat dipengaruhi oleh estrogen
dan progesterone. Sebagai akibat dari pengaruh
hormone-hormon tersebut sebagian besar sarang-
sarang endometriosis berdarah secara periodik.
V Perdarahan yang periodik ini menyebabkan reaksi
jaringan sekelilingnya berupa radang dan
perlekatan.
V Pada kehamilan dapat ditemukan reksi desidua
jaringan endometriosis, apabila kehamilan berakhir
reaksi desidua menghilang disertai dengan regresi
sarang endometriosis.
V Secara mikroskopik endometriosis merupakan suatu
kelainan yang jinak, akan tetapi kadnag sifatnya
seperti tumor ganas, dapat terjadi penyebaran
endometriosis ke paru-paru dan lengan, selain itu
dapat infiltrasi ke bawah kavum Douglasi ke fasia
rektovaginal, ke sigmoid dan sebagainya.
V ejala yang sering ditemukan ialah :
V Nyeri perut bawah yang progresif dan
dekat paha yang terjadi pada dan
selama haid (dismenore)
V Dispareunia
V Nyeri waktu defekasi
V Poli dan hipermenore
V Infertilitas
V Anamnesis dan pemeriksaan fisik
V Laparoskopi.
V Kuldoskopi kurang bermanfaat terutama jika kavum
douglasi ikut serta dalam endometriosis.
V Biopsy
V Pemeriksaan laboratorium pada endometriosis tidak
memberikan tanda yang khas
V Sigmoidoskopi dan sistoskopi dapat memperlihatkan
adanya tempat perdarahan pada waktu haid.
V Pembuatan foto roentgen dengan memasukkan barium
dalam kolon dapat memberikan gambaran dengan filling
defect.
V Laparoskopi merupakan pemeriksaan yang snagat
berguna untuk membedakan endometriosis dari kelainan-
kelainan di pelvis.
V Adenomiosis uteri, radang pelvik dengan
tumor adneksa
V Kombinasi adenomiosis uteri atau mioma
uteri dengan endometriosis dapat pula
ditemukan.
V ×ndometriosis ovarii dapat menimbulkan
kesukaran diagnosis diferensial dengan
kista ovarium, sedang endometriosis dari
rektosigmoid perlu dibedakan dari
karsinoma.
`




V Penanganan endometriosis terdiri atas pencegahan,


pengawasan, tarapi hormonal, pembedahan dan radiasi.

`
 

V Àeigs berpendapat bahwa kehamilan adalah cara


pencegahan paling baik untuk endometriosis.
V ejala-gejala endometriosis memang berkurang atau
hilang pada waktu dan sesudah kehamilan karena regresi
endometrium dalam sarang-sarang endometriosis.

V Hendaknya perkawinan jangan ditunda terlalu lama dan


sesudah perkawinan diusahaln mendapat anak dalam
waktu yang tidak terlalu lama.
V Jangan melakukan pemeriksaan yang kasar atau
melakukan kerokan pada pada waktu haid oleh karena
hal itu dapat menyebabkan mengalirnya darah haid dari
uterus ke tuba dan ke rongga panggul.
V Bagi wanita-wanita dengan gejala-gejala dan
kelainan fisik yang ringan.
V Pada wanita yang sudah agak berumur,
pengawasan bisa dilajutkan smpai
menopause, karena sesudah itu gejala-gejala
endometriosis akan hilang sendiri.
V Pada observasi harus dilakukan pemeriksaan
secara periodik dan teratur untuk meneliti
perkembangan penyakitnya pada wanita
yang mempunyai persoalan tentang infertilitas.
V Dalam masa observasi ini dapat diberi
pengobatan paliatif berupa pemberian
analgetika untuk mengurangi rasa nyeri.
V Dasar dan prinsip terapi adalah `sebagai dasar
pengobatan hormonal endometriosis ialah bahwa
pertumbuhan dan fungsi jaringan ednometriosis,
seperti jaringan endometrium yang normal, dikontrol
oleh hormone-hormon steroid. Hal ini didukung oleh
data klinik tersebut adalah :
V endometriosis sangat jarang timbul sebelum
menarce
V menopause, baik alami maupun karena
pembedahan, biasanya menyebabkan
kesembuhan,
V sangat jarang terjadi kasus endometriosis baru
setelah menopaus, kecuali jika ada pemberian
estrogen eksogen .
V Dasar dan prinsip terapi adalah sebagai dasar
pengobatan hormonal endometriosis bahwa
pertumbuhan dan fungsi jaringan endometriosis,
seperti jaringan endometrium yang normal, dikontrol
oleh hormon-hormon steroid.

V Hal ini didukung oleh data klinik tersebut adalah :


x endometriosis sangat jarang timbul sebelum menarce
x menopause, baik alami maupun karena pembedahan,
biasanya menyebabkan kesembuhan,
x sangat jarang terjadi kasus endometriosis baru setelah
menopause, kecuali jika ada pemberian estrogen
eksogen .
V Jaringan endometriosis umumnya mengandung
reseptor estrogen, progesterone, dan androgen.
V Prinsip pengobatan hormonal endometriosis adalah
menciptakan lingkungan hormon rendah estrogen
dan asiklik.
x Kadar estrogen yang rendah menyebabkan atrofi
jaringan endometriosis .
x Keadaan asiklik mencegah terjadinya haid, yang berarti
tidak terjadi pelepasan jaringan endometrium yang
normal maupun jaringan endometriosis.

V Dapat dihindari timbulnya sarang endometriosis yang


baru karena transport retrogard jaringan
endometrium yang lepas serta mencegah
pelepasan dan perdarahan jaringan endometriosis
yang menimbulkan rasa nyeri karena rangsangan
peritoneum.
V Dalam dekade terakhir ini dipakai dekapeptid sintetik
LHRH agonis yang mempunyai kekuatan 100-200x.
x Pemberian hormone tersebut secara berulang dapat
menyebabkan suatu keadaan hypogonadotropic
hypogonadism atau pseudomenopause yang
diperkirakan akan mempengaruhi penyakit yang
tergantung pada estrogen seperti endometriosis.
V Prinsip kedua adalah menciptakan lingkungan
hormone tinggi androgen atau tinggi progestogen
(progesteron sintetik) yang secara langsung
menyebabkan atrofi jaringan endometriosis. Prinsip
tinggi androgen atau progestogen juga
menyebabkan keadaan rendah estrogen yang
asiklik karena gangguan pada pertumbuhan folikel.
V `   
    
V aara terapi ×fek ×fek
Samping
V nRH agonis asiklik keluhan
vasomotor
V 2oforektomi estrogen rendah atrofi ciri seks sekunder
asteoporosis
V Danazol asiklik peningkatan berat
badan, break Àetiltestosteron estrogen rendah through bleeding,
akne, hirsutisme,kulit
berminyak, perubahan suara.
V Àedroksiprogesteron asetat asiklik peningkatan barat
badan,break through
V estrinon Noretisteron estrogen rendah bleeding, depresi, bloating.
bleeding
V Kontrasepsi oral non siklik asiklik estrogen mual, break through bleeding
V sedang progestogen
V tinggi
V Pemberian androgen pertama kali dilaporkan oleh Hirst pada
tahun 1947, preparat yang dipakai adalah metiltestosteron
sublingual dengan dosis 5 sampai 10 mg per hari.
V Keberatan dalam pemakaian obat ini dikarenakan ;
x timbulnya efek samping maskulinisasi terutama pada dosis melebihi
300mg perbulan atau pada terapi jangka panjang
x terjadi ovulasi atau kehamilan selama terapi, terutama pada dosis 5mg
per hari. Bila terjadi kehamilan harus segera dihentikan karena androgen
dapat menimbulkan cacat bawaan pada janin.

V Pertama, untuk terapi endometriosis stadium dini dengan gejala


menonjol nyeri atau dispareunia.
V Kedua, untuk membantu menegakkan diagnosis, jika
endometrriosis, maka nyeri biasanya akan berkurang atau
hilang setelah pengobatan dengan androgen selama satu
bulan.
V Dikenal dengan pseudo-pregnancy
V pertama kali dilaporkan oleh Kistner pada
tahun 1962.
V Pil kontrasepsi yang dipilih sebaiknya yang
mengandung estrogen rendah dan
mengandung progestogen yang kuat atau
yang mempunyai efek androgenic kuat.
V Pada saat ini norgestrel dianggap sebagai
senyawa progestogen yang poten dan
mempunyai efek androgenik yang kuat.
V Terapi standart yang dianjurkan adalah 0,03
mg etinil estradiol dan 0,3 mg norgestrel
perhari.
V Bila terjadi breakthrough bleeding, dosis ditingkatkan
menjadi 0,05 mg estradiol dan 0,5 mg norgestrel
perhari atau maksimal 0,08 mg estradiol dan 0,8 mg
norgestrel perhari.
V Pemberian tersebut terus menerus setiap hari selama
6-9 bulan bahkan ada yang menganjurkan minimal
satu tahun dan bila perlu dilanjutkan satu tahun.
V Dilaporkan bahwa 30% penderita menyatakan
keluhannya berkurang
V 18% yang secara obyektif mengalami kesembuhan.
V 41% penderita tidak menyelesaikan terapinya karena
mengalami efek samping karena mual, muntah dan
perdarahan.
V Nama dagang ×strogen Progestogen
V Noriday,
V Kimia Farma 0,05 mg mestranol 1
mg noretisteron
V Àicrogynon 30 0,03 mg etinil
estradiol0,015 norgestrel
V Nordette
V Àarvelon 0,03 mg etinil
estradiol0,015 desogestrel
V ×ugynon 0,05 mg etinil
estradiol 0,05 norgestrel
V
V ` 

V Progestogen atau progestin adalah nama umum


semua senyawa progesterone sintetik. Progestogen
dapat dikelompokkan menjadi 3 golongan yakni:
x Pregnan
x ×stran
x onan

V Pregnan merupakan turunan 17 alfa-hidroksi


progesterone
V ×stran dan gonan adalah turunan 19 nor-testosteron.
Perbedaan sifat ketiga golongan tersebut dapat
dilihat pada bagan di bawah ini :
V i   

V Progestogen ×strogenik Progestogenik


Androgenik
V Pregnan :

V ÀPA (provera) - ++
-
V Didrogesteron (Duphaston) - ++
-
V ×stran :
V Linestrenol (×ndometril) + ++
+
V Norelisteron (Primolut) - ++ +
V onan
V Norgestrel - +++
++
V Desogestrel - +++
-(?)
V Berbagai jenis progestogen tersebut adalah
x medroksiprogesteron asetat
x noretisteron asetat
x norgestrel asetat
x linestrenol

V Dosis yang diberikan adalah


x medroksiprogesteron asetat 30-50 mg per hari
x noretisteron asetat 30 mg perhari

V Pemberian parenteral dapat menggunakan


menggunakan medroksiprogesteron asetat 150 mg setiap
3 bulan sampai 150 mg setiap bulan.

V Penghentian terapi parenteral dapat diikuti dengan


anovulasi selama 6-12 bulan, tidak menguntungkan bagi
mereka yang ingin segera mempunyai anak.

V Lama pengobatan progestogen yang dianjurkan sama


dengan lama pengobatan dengan pil kontrasepsi non-
siklik yakni 6-9 bulan.
V Turunan isoksazol dari 17 alfa etiniltestosteron.
danazol menimbulkan keadaan asiklik androgen
tinggi dan estrogen rendah.
V Kadar androgen meningkat disebabkan oleh :
x Danazol pada dasarnya bersifat androgenic (agonis
androgen)
x Danazol mendesak testosterone sehingga terlepas dari
ikatannya, sehingga kadar testosterone bebas meningkat.

V Kadar estrogen rendah disebabkan oleh


x Danazol menekan sekresi n RH, LH dan FSH sehingga
dapat menghambat pertumbuhan folikel.
x Danazol menghambat kerja enzim steroidogenesis di
folikel ovarium sehingga produksi estrogen menurun
V ×ndometriosis ringan (stadium II) atau sedang
(stadium III) adalah 400 mg per hari
V ×ndometriosis berat (stadium IV) dapat diberikan
sampai 800 mg per hari.
V Pada dosis 400-800 mg, Danazol merupakan
kontrasepsi yang poten dengan insidensi ovulasi
kurang dari 1%.
V Lama pemberian minimal 6 bulan, dapat pula
diberikan selama 12 minggu sebelum terapi
pembedahan konservatif.
V ×fek samping disebabkan oleh keadaan androgen
tinggi, estrogen rendah atau glukokortikoid tinggi.
V Sebanyak 85% pemakai Danazol mengalami efek
samping berupa ;
x akne, hirsutisme, kulit berminyak, perubahan suara,
pertambahan berat badan, dan edema.
x Perubahan suara dapat terus menetap walaupun terapi telah
dihentikan.

V Danazol menghilangkan rasa nyeri 90% penderita.


V Angka kehamilan total setelah pemberian Danazol
sebesar 37%.
V Angka kehamilannya pada penderita dengan
endometriosis ringan dan sedang sebesar 28-60%.
V Danazol dapat mengurangi ukuran endometrioma,
namun sangat jarang menyebabkan regresi yang
sempurna.
V menentukan apakah fungsi ovarium harus dipertahakan
dan bila fungsi ovarium dapat dihentikan.
V Fungsi ovarium harus dipertahankan pada:
x endometriosis dini
x pada endometriosis yang tidak memberikan gejala
x dan pada endometriosis wanita muda dan yang masih ingin
mempunyai anak.

V Fungsi ovarium dihentikan apabila endometriosis sudah


mengadakan penyerbuan yang luas dalam pelvis
khususnya :
x pada wanita yang berusia lanjut.

V Pada terapi pembedahan yang konservatif sarang-


sarang endometriosis diangkat dengan meninggalkan
uterus dan jaringan ovarium yang sehat dan perlekatan
sedapat mungkin dilepaskan.
V Pada kista coklat ovarium pada umumnya
hendaknya jangan seluruh ovarium
diangkat, tetapi ditinggalkan bagian dari
ovarium yang kiranya masih sehat.

V Pada operasi konservatif yang terdapat


bersama-sama dengan mioma uteri,
kistoma ovarii atau kelainan panggul,
terapi dilakukan untuk endometriosis dan
untuk kelainna lain itu.

V Pembedahan konservatif ini dapat


dilakukan dengan dua cara pendekatan ;
laparatomi atau laparoskopi operatif.
V Pertama,
x lama tinggal di rumah sakit lebih pendek.
rata-rata lama tinggal setelah laparoskopi operatif 0,5-2
hari dibandingkan dengan 5-5,7 hari setelah laparotomi.
V Kedua,
x kembalinya aktivitas kerja lebih cepat.
x Normalnya, penderita dapat kembali sepenuhnya 7-10
hari setelah laparoskopi operatif dibandingkan dengan 4-
6 minggu setelah laparotomi.
V Ketiga
x ongkos perawatan lebih murah.
x Perlekatan sering terjadi baik setelah laparatomi maupun
laparoskopi operatif, tetapi luas dan derajat perlekatan
setelah laparoskopi operatif lebih sedikit.
V Dilakukan pada wanita dengan endometriosis yang
umurnya hampir 40 tahun atau lebih, dan yang menderita
penyakit yang luas disertai dengan banyak keluhan.
V 2perasi yang paling radikal adalah
x histerektomi total,
x salpingo-ooforektomi bilateral
x dan pengangkatan semua sarang-sarang endometriosis yang
ditemukan.
V Akan tetapi pada wanita di bwah 40 tahun dapat
dipertimbangkan untuk meninggalkan sebagian dari
jaringan ovarium yang sehat.
V Hal ini mencegah jangan sampai terlalu cepat timbulnya
gejala-gejala pramenopause dan menopause dan juga
mengurangi kecepatan timbulnya osteoporosis.
V  injosastro, Hanifah,dkk.2006. Letak sungsang dalam
ilmu kebidanan edisi keenam. Jakarta:Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo
V Àuhtar R, Sinopsis 2bstetri Fisiologis dan Patologis,
Jilid I, edisi 2.Jakarta: ׏a, 1998
V http://www.asquifyde.org
V Http://www.scribd.com
V Http://www.imadeharyoga.com