TAHANAN KAPAL (Minggu Ö 5

)
LS 1329 ( 3 SKS) Jurusan Teknik Sistem Perkapalan ITS Surabaya

Air or Wind Resistance
(Tahanan Udara)

Tahanan udara adalah tahanan yang dialami oleh bagian badan kapal yang berada diatas permukaan air dan bangunan atas (super structure) akibat gerakan udara atau angin. Tahanan udara yang bekerja pada floating body / kapal akan dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut : - Kecepatan kapal - Kecepatan udara / angin - Luas permukaan badan kapal di atas air - Arah kapal terhadap arah angin

P : Center of Wind Force

VR Relative Wind VT True Wind VS Ship Speed
Pada udara tenang VR = VS

Air or Wind Resistance
(Tahanan Udara)
Tahanan Udara (RAA) pada udara tenang
CAA : koefisien tahanan udara

RAA ! C AA 1 VAT Vs 2
D.W. Taylor (1943)
AT = B x 1/2B

2

V

: masa jenis udara

AT : luas penampang melintang bagian badan kapal diatas air Vs : kecepatan kapal

RAA ! 1.28 1 VAT VR2 2
RAA ! 1.28 x 1 x1.223 x 1 B 2 xVR2 2 2 RAA ! 0.783 x 1 B 2 xVR2 2

Air or Wind Resistance
(Tahanan Udara)

Hughes  Penelitian Tahanan udara terhadap 3 model kapal Tanker, Cargo ship, Atlantic Liner  Model ditarik pada berbagai variasi kecepatan dan arah angin  Pengukuran gaya angin pada model dilakukan pada berbagai titik tekan gaya dan arah kecepatan relatif, U  Pada sudut U konstan, diperoleh nilai F / VR2 yang konstan untuk semua kecepatan relatif

Air or Wind Resistance
(Tahanan Udara)

Hughes

Rasio antara weather deck (A1) dan superstructure (A2) Tanker ; Cargo ship ; Liner ; 0.31 : 1 0.27 : 1 0.26 : 1
2 2

AT = 0.3 A1 + A2

AL sin U  AT cos U F ! kVV cos(E  U )
2 R

K : konstanta empiris = 0.6 ( 0.5 ~ 0.65)

Untuk arah angin dari depan, U = E = 0

RAA = F = k V AT VR2
Dengan nilai k = 0.6 dan V = 1.223 kg/m3 Taylor

RAA = 0.734 AT VR2

RAA ! 0.783 x 1 B 2 xVR2 2

F dan RAA dalam Newton AT dan AL dalam m2 VR dalam m/s

Appendages Resistance
(Tahanan Tambahan)

Tahanan yang diakibatkan karena adanya komponenkomponen tambahan dari kapal di dalam air, seperti 
   

Bilge keel Daun Kemudi Bossing / open shaft Struts Skegs

Bilge keel 


Gesekan akibat penambahan luas permukaan basah Interferensi drag pada pertemuan antara bilge keel dengan lambung Interferensi drag berkurang dengan peningkatan sudut antara bilge keel dengan lambung 1 2Z ¸ ¨ 2 D ! VSV C F © 2  ¹ 2 X Y º ª
S : luas permukaan basah dari bilge keel CF : koefisien gesekan yang tergantung dari panjang bilge keel

Z Y

X

Rudder
Ca Cf t

¨ 1 Ca  Cf S ¨ t ¸ 2   40© ¹ D ! VSV C F ©1.25 © 2 Cf A ª Ca º ª
S : luas permukaan basah dari daun kemudi CF : koefisien gesekan yang tergantung dari bentuk rudder A : luas permukaan penampang melintang dari bidang pada ketebalan maksimum

3

¸ ¹ ¹ º

Shaft - Bossing

1 2 3 D ! VLdV .1sin  TC F 1 2
L : Panjang shaft dan bossing d : diameter poros CF : koefisien gesekan
 : sudut antara sumbu poros dengan arah aliran

Skeg
1 2 D ! VV C F A 2
A : luas permukaan dari skeg CF : koefisien gesekan

Appendages Resistance
(Tahanan Tambahan)
Prosentase nilai pendekatan tahanan tambahan terhadap tahanan lambung kapal

Type Kapal 0.21 Large, fast, 4 screws 10-16% Small, fast, 2 screws 20-30% Small, medium speed, 2 screw 12-30% Large, medium speed, 2 screw 8-14% All single-screw ships 2-5%

Fn 0.30 10-16% 17-15% 10-23% 8-14% 2-5%

0.48 10-15%

Appendages Resistance
(Tahanan Tambahan)
Nilai faktor bentuk untuk berbagai type tahanan tambahan (Menurut Metode Holtrop)

Type Komponen tambahan Rudder untuk type single screw Spade type Rudders dari twin screw
Skeg Rudders dari twin screw

Nilai ( 1 + K2 ) 1.3 ± 1.5 2.8 1.5 ± 2.0 3.0 2.0 1.4 2.8 2.0 2.7

Shaft bracket Bossing Bilge keel Stabilizer fins Shaft Sonar dome

Shallow Water Effect
Kecepatan gelombang permukaan pada perairan dengan kedalaman h, diekpresikan dengan persamaan

gLw 2Th V ! tanh 2T Lw
2 c

Lw : Panjang gelombang h : kedalaman perairan

Untuk kenaikan nilai h ( dasar laut semakin dalam), nilai tanh 2Th/Lw mendekati 1, dan pada nilai 2Th/Lw yang kecil, nilai nilai tanh 2Th/Lw sama dengan 2Th/Lw Pada laut dalam Pada laut dangkal

g w V ! 2T
2 g

V ! gh

2 c

Shallow Water Effect
V ! 0.40 gh
V ! 0.99 gh

E = 780

V ! 1.40 gh

E = 450

V ! 0.50 gh

V ! 0.78 gh

V ! 0.59 gh

V ! 0.92 gh

Shallow Water Effect
Pada

V ! gh

Kecepatan kritis V (knot) 10 11 12 13 14 15 h (m) 2.693129 3.258687 3.878106 4.551389 5.278534 6.059541 6.894411 7.783144 8.725739

Diistilahkan sebagai kecepatan kritis Sudut E mencapai sebesar 900

V

gh

Subcritical

V " gh

Supercritical

16 17 18

Shallow Water Effect
Havelock (1908) meneliti pengaruh perubahan wave pattern pada perairan dangkal terhadap tahanan

l : Panjang kapal h : kedalaman air Rw : tahanan gelombang

Shallow Water Effect
Tahanan total kapal dan tahanan gesek pada perairan dalam dan dangkal

Shallow Water Effect
Penurunan kecepatan kapal pada perairan dangkal

Contoh
Kapal dengan dimensi L = 112.8 m B = 19.5 m T = 5.3 m Ax = 103.2 m2 Mempunyai kecepatan 13 knot pada perairan dalam. Tentukan kecepatan kapal pada perairan dengan kedalaman 7.3 m