PENATA LAKSANAAN PERDARAHAN UTERUS DISFUNGSI

Dr. Diana Handaria, SpOG RSUD Tugurejo Semarang 2011

PENDAHULUAN
LEBIH DARI 95 % PEREMPUAN PERNAH MENGALAMI GANGGUAN HAID KEJADIAN BISA MULAI USIA MENARKHE PRAMENOPAUSE P.U.D. STATUS HORMONAL ESTROGEN - PROGESTERON TIDAK SEIMBANG. PERDARAHAN DARI RINGAN S/D HEBAT TERAPI KEDARURATAN NONHORMONAL HORMONAL SAMPAI OPERATIF DEFINISI PERDARAHAN UTERUS DISFUNGSI ( P.U.D ) P.U.D. ( siklus, jumlah, lama ) yang terjadi dalam siklus atau diluar siklus haid yang disebabkan gangguan fungsi hipotalamus - hipofisis - ovarium - endometrium tanpa kelainan organik alat reproduksi

KELUHAN
1. METRORAGIA ( perdarahan diluar waktu haid ) 2. MENOMETRORAGIA ( campuran 1 + 2 ) 3. POLIMENOREA ( siklus haid yang pendek ) 4. MENORAGIA ( jumlah darah, lama haid > normal ) 5. OLIGOMENOEA ( siklus haid yang panjang )

EPIDEMIOLOGI
LEBIH 95 % PEREMPUAN PERNAH MENGALAMI SIKLUS ANOVULATORIK 90 % SIKLUS OVULATORIK 10 % SEBAGIAN DAPAT SEMBUH SENDIRI TANPA TERAPI P.U.D BERAT GAWAT DARURAT SERING PADA USIA MENARKHE & PERIMENOPAUSE

HIPOTALAMUS
GnRH

HIPOFISIS
FSH, LH, Prl

POROS HIPOTALAMUS HIPOFISIS OVARIUM ENDOMETRIUM

OVARIUM
ESTROGEN PROGESTERON

UTERUS
ENDOMETRIUM

MENSTRUASI

POROS HIPOTALAMUS HIPOFISIS OVARIUM ENDOMETRIUM dan KELENJAR LAIN YANG BERPERAN

ENDOMETRIUM DALAM SIKLUS HAID
1. VASKULATURE - Susunan endometrium yang spesifik - Arteriole Spiralis dan ujung arteri - Pulau ² pulau vena sinusoid 2. SUBSTANSI VASOAKTIF - Prostaglandin : PGF 2 alfa vasokonstriktor PGE 2 vasodilator - Endotelin vasokonstriktor - Oksida Nitrit antitrombogenik hemostasis 3. LEPAS JARINGAN ABNORMAL dan REMODELING - Lisosome destruksi sel - Matriks metalloproteinase penurunan matriks seluler - Makropah & lekosit fibrinolisis - Adesi interseluler penggabungan interseluler 4. REPARASI & REGENERASI - Sitokine remodeling , angiogenesis - Regenerasi epitel - hemostasis endometrial

STRUKTUR ENDOMETRIUM

ZONA FUNGSIONAL lapisan yang mengalami perubahan sesuai dengan keadaan Hormonal / siklus haid

ENDOMETRIUM
SUBSTANSI VASOAKTIF ENDOMETRIUM

ESTROGEN PROGESTERON

LEPAS JAR ABNORMAL REMODELLING

GANGGUAN HAID

PERBAIKAN REGENERASI ENDOMETRIUM TIDAK ADEKUAT

MEKANISME PERDARAHAN HAID
1. Perubahan vaskuler endometrium
Vasokonstriksi arteriole spiralis pembuluh darah rusak.

2. Penurunan Estrogen endometrium lepas. 3. Substansi endometrium vasoaktif ( prostaglandin,
endotelin, oksid nitrik ).

4. Aliran limfe tidak adekuat stasis nekrosis 5. Monotoksin vasokonstriksis arteriole spiralis.

MACAM GANGGUAN HAID
1. GANGGUAN RITME a. Oligomenorea siklus > 35 hari b. Polimenorea siklus < 21 hari c. Amenorea tidak haid > 3 bulan 2. GANGGUAN PERDARAHAN a. Menoragia jumlah dan lama haid > b. Brakimenorea lama haid < 3 hari c. Premenstrual spotting bercak premenstrual d. Postmensrual spotting bercak pascamenstrual 3. GANGGUAN JUMLAH a. Hipermenorea jumlah darah banyak > 80 cc b. Hipomenorea jumlah darah sedikit < 20 cc

PATOFISIOLOGI P.U.D.
1. Perdarahan lucut Estrogen a. estrogen rendah perdarahan intermiten lama , sedikit b. estrogen tinggi amenorea perdarahan akut, banyak 2. Perdarahan withdrawl estrogen. 3. Perdarahan lucut progesteron pada pemakaian/ kadar progesteron yang lama perdarahan intermiten lama , sedikit ( KB progesteron ) 4. Perdarahan withdrawl progesteron

HUBUNGAN P.U.D DENGAN OVULASI
1. SIKLUS OVULATORIK 2. SIKLUS ANOVULATORIK 3. FOLIKEL PERSISTEN

1. P.U.D. SIKLUS OVULATORIK ada 3 macam a. Pertengahan siklus , estrogen rendah perdarahan sedikit , singkat. b. Perdarahan bercak prahaid , kekurangan progesteron c. Perdarahan bercak pascahaid , kekurangan estrogen d. Perdarahan memanjang , korpus luteum tidak regresi estrogen rendah

2. P.U.D. SIKLUS ANOVULATORIK - Sering pada usia menarche dan perimenopause - Dasar tidak terjadi ovulasi tidak terbentuk korpus luteum progesteron rendah endometrium banyak pembuluh darah tanpa stroma yang cukup rapuh perdarahan 3. P.U.D. PADA FOLIKEL PERSISTEN - Sering pada perimenopause - Estrogen menetap endometrium hiperplasi - Setelah folikel tidak membentuk estrogen cukup perdarahan endometrium - Bisa sedikit sampai banyak. - Pembakal terjadinya keganasan

PENATA LAKSANAAN
1. Atasi kegawat-daruratan
- Resusitasi cairan , bila perlu transfusi - Hentikan perdarahan segera Estrogen + Progest Progesteron injeksi GnRH agonis. 2. Perdarahan tidak mengganggu keadaan umum - tanpa hormon ( pada menarhe yang ringan ) - terapi hormon - antiprostaglandin - antifibrinolitik - suportif : Ferro , bila perlu transfusi - pertimbangan lain lihat usia, fertilitas, beratnya perdarahan dll 3. Atur 3 siklus terutama pada anovulasi 4. Mengembalikan fungsi reproduksi 5. Bila belum berhasil cari penyebab lain

MACAM TERAPI I . Hormonal II . Non Hormonal III . Operatif
I . HORMONAL

Tujuan : - menghentikan perdarahan - mengatur siklus haid - membuat siklus ovulasi

A. PERDARAHAN AKUT
1. Kombinasi Estrogen + Progesteron - Estrogen merangsang terbentuknya lapisan mukopolisakarida pd dinding kapiler dan arteriole menutup perdarahan 17 beta estradiol 2 X 2 mg estrogen konjugasi 2 X 1,25 mg estropipete 2 X 1,25 mg - Progesteron menjaga endometrium. noretisteron asetat 2 X 5 mg didrogesteron 2 X 10 mg MPA 2 X 10 mg 2. Setelah perdarahan teratasi lanjut progesteron saja atau progesteron + estrogen atur haid 3. GnRH agonis bila cara diatas belum memberi hasil kecuali pada perimenopause

4. Kuretase bukan pilihan

B. SIKLUS OVULATORIK
1. Pertengahan siklus Estrogen diberikan hari 10 - 15 - estrogen konjugasi 1 X 1,25 mg / hr - 17 beta estradiol 1 X 2 mg / hr - estropipete 1 X 1,25 mg / hr 2. Perdarahan prahaid Progesteron diberikan hari 16 - 25 - MPA 1 X 10 mg / hr - Didrogesteron 1 X 10 mg / hr - Noretisteron asetat 1 X 5 mg / hr - Normogestrel 1 X 5 mg / hr 3. perdarahan pascahaid Estrogen diberikan hari 2 -

C. SIKLUS ANOVULATORIK
1. Menghentikan perdarahan 2. membuat siklus anovulatorik ovulatorik 3. Mencari penyebab anovulatorik : - hiperprolaktinemia - hipo / hipertiroidi - ovarium polikistik - ggn poros hipotalamus ² hipofisis ² ovarium ² endometrium - obesitas - kegiatan fisik olahraga berlebihan - stres psikis 4. Perimenarche sering tidak perlu terapi Pilihan terapi : - progesteron atau kombinasi estrogen + progesteron selama 3 bulan diharap ovulasi. - Klomifen Sitrat 100 ² 150 mg / hr , hari 5 ² 9 ovulasi - GnRH agonis kendalikan hiperplasia endometrium, ingat hipoestrogenisme ( add back therapy )

II . NON HORMONAL
1. ANTIFIBRINOLITIK - Fibrinolisis secara fisiologis dibutuhkan aktivitas yg meningkat patologis mengganggu hemostasis - Asam mefenamat atau asam kaproat sebagai plasminogen activators inhibitors 2. ANTIPROSTAGLANDIN - Prostaglandin ( PGF 2 alfa ) vasokonstriktor endometrium. - Didapat PGE 2 pada miometrium vasodilator - Anti Inflamatory Non Steroid ( AINS ) menurunkan prostaglandin endometrium : . Asam mefenamat 3 X 500 mg / hr . Ibuprofen 600 ² 1200 mg / hr

III . OPERATIF
1. Dilatasi ² kuretase terutama perimenopause 2. Ablasi endometrium , bila terapi hormonal atau D-K gagal 3. Histerektomi terapi diatas gagal tidak ingin anak

PENATALAKSANAAN BERDASAR USIA
1. USIA MENARKHE
- Umumnya siklus anovulatorik 95 ² 98 % - Tanpa terapi bisa sembuh spontan setelah ovulasi - Pengobatan diberikan bila . mengganggu aktifitas, gangguan psikis . Perdarahan lama ( > 5 bl ) . Setelah 2 tahun siklus masih anovulatorik a. Akut - Rawat Hb < 8 gr % transfusi - Terapi hormon untuk hentikan perdarahan . Estrogen + progesteron ( 3 ² 4 hari ) - Pengaturan siklus haid . Progesteron hari 16 ² 25 ( 3 bulan ) - Obat Pemicuan Ovulasi ? b. Tidak akut - AINS / Antiprostaglandin + asam traneksamat - Progesteron / Progesteron + estrogen

2. USIA REPRODUKSI
- Ovulatorik 65 %, anovulatorik 35 % - Penyebab belum pasti gangguan sentral ( psikis ) - Hormonal sering dalam batas normal a. Akut - Pengelolaan sama - Pemicuan ovulasi dapat diberikan klomifen sitrat, epimestrol

b. Tidak akut umumnya P.U.D. ovulatorik ringan , jarang akut - Pertengahan siklus - Prahaid - Pascahaid lihat terapi hormon ovulatorik

3. USIA PERIMENOPAUSE
- Usia 40 ² 50 th , Anovulatorik 95 %, fikir keganasan - Hormonal sesuai perimenopause a. Akut - Sesuai dengan yang lain

D-K

PA

b. Tidak Akut - Persiapkan Dilatasi ² Kuretase ( terapi & diagnostik } - terapi tergantung hasil Patologi Anatomi a. hiperplasia kistik atau hiperplasi adenomatosa - MPA 3 X 10 mg / hr selama 6 bulan - Injeksi DMPA cara Kistner - GnRH analog selama 6 bulan b. ulangan D-K * Tidak didapatkan hiperplasi terapi lanjut - MPA 3X 10 mg 2 X / minggu 6 bulan - Inj DMPA atau GnRH analog tidak lanjut * Tidak ada perbaikan histerektomi. c. hiperplasi atipikal histerektomi

TERIMA KASIH

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful