Strategi Metodologi Ilmu Pemerintahan

Caroline Paskarina, S.IP., M.Si.

Materi Kuliah Metodologi Ilmu Pemerintahan 15 Maret 2010

Pengantar
‡ Strategi MIPem membahas tentang kerangka prosedur yang diterapkan untuk merumuskan desain penelitian dalam rangka mendeskripsikan, menjelaskan, memprediksi, atau memahami fenomena pemerintahan ‡ Output/luaran dari strategi MIPem adalah desain penelitian ‡ Tapi, desain penelitian tsb harus konsisten dalam menjabarkan paradigma, pendekatan, metode, dan teknik penelitian yang digunakan

Alur Strategi MIPem

Klarifikasi Peristilahan
‡ Fenomena: gejala atau perwujudan dari sesuatu yang sifatnya fisik/dapat ditangkap dengan panca indera ‡ Nomena: makna dari suatu fenomena ‡ Paradigma: perspektif yang dimiliki oleh komunitas keilmuan, yang terbentuk dari keinginan dan komitmen (konseptual, teoritis, metodologis, instrumental). Sebuah paradigma menuntun scientific community untuk melakukan seleksi terhadap sebuah masalah, evaluasi data, dan menganjurkan teori (Kuhn, 1970)

‡ Logico empiricism: tradisi berpikir yang mendasarkan diri pada sesuatu yang nyata atau faktual/serba pasti ‡ Hermeneutic: tradisi berpikir yang mendasarkan diri pada sesuatu yang berada di balik sesuatu yang faktual/ilmu tentang penafsiran

Positivisme
‡ Positivisme berkembang sejak awal abad ke 19 berkat gagasan Auguste Comite tentang filsafat positif , bertujuan untuk mencari fakta atau sebab-sebab gejala sosial, dengan melepaskan diri dari konteks-konteks individual dan melampaui kekhususan-kekhususan dalam beragam konteks demi mendapatkan perspektif yang lebih umum serta luas dan menemukan kaidah-kaidah yang universal. ‡ Tugas ilmu adalah mencari kaidah-kaidah universal yang mengatur tingkah laku manusia, seperti cara ilmu-ilmu alam mencari dan menemukan kaidah-kaidah universal yang mengatur gerak alam semesta. ‡ Metode yang dianggap positif karena lebih ilmiah adalah yang dapat menghasilkan generalisasi tentang pola-pola agregat, melalui metode yang bersifat kuantitatif. ‡ Perspektif positivistik menempatkan manusia di bawah kekuasaan masyarakat, sehingga prakarsa dan kehendak individu tidak memiliki arti.

Antipositivisme
‡ Penting untuk memperhatikan pikiran manusia untuk memahami penciptaan makna ‡ Pemikiran manusia merupakan proses-proses yang terjadi secara perorangan dan subyektif, karena dipengaruhi oleh pengalaman dan persepsi masing-masing individu ‡ Pengetahuan individu tentang dunia itu dibentuk oleh penafsiran atau interpretasi individual ‡ Berhubung masyarakat selalu berubah dalam kurun waktu dan tidak pernah kembali ke keadaan semula, mustahil menemukan kaidahkeidah universal yang dapat menjelaskan dan meramalkan gejala sosial seperti di dalam ilmu-ilmu alam. ‡ Tugas ilmu adalah mencari pemahaman melalui penafsiran atau interpretasi (verstehen), dengan menghayati pengalaman orang lain ke dalam diri peneliti. Guna memahami pengalaman orang lain, peneliti perlu memahami konteks peristiwa atau tindakan pelaku yang diamatinya

Pendekatan (Approach)
‡ Pendekatan (approach) diartikan secara sederhana sebagai suatu cara pandang untuk menjelaskan fenomena tertentu (Johari, 1982: 21). ‡ Pendekatan merupakan sistem analitik untuk mengkaji suatu fenomena atau gejala (Apter, 1996: 7). ‡ Apter selanjutnya menjelaskan bahwa ada keterkaitan yang erat antara pendekatan dengan teori dan metode karena pendekatan nantinya akan menentukan cara apa yang akan digunakan untuk memilih dan memilah fakta dan data, serta bagaimana mengolahnya, termasuk landasan teori apa yang digunakan untuk menjelaskan data dan fakta tersebut. ‡ Dengan demikian, yang dimaksud dengan pendekatan adalah suatu cara pandang untuk menjelaskan fenomena tertentu yang di dalamnya mencakup kerangka konseptual dan metode analisis data.

Sejarah Perkembangan IPem
‡ Pergeseran paradigma ‡ Pergeseran pendekatan

Sampai dengan 1980-an
‡ Thn 1950-an,IPem mempelajari cara-cara dlm mengarahkan dan memandu pelayanan kpd masyarakat. ‡ Thn 1960-an, IPem berkembang mempelajari pula bagaimana dinas pemerintahan atau pelayanan umum ditata dan difungsikan ke dlm dan ke luar serta terhadap warga masyarakat. IPem menjadi ilmu yg mempelajari kinerja internal dan eksternal dari struktur dan proses pemerintahan umum ‡ Sampai dengan 1980-an, perhatian utama dari ilmu itu adalah tentang gejala dan praktik pemerintahan untuk mengetahui, menguraikan, dan menjelaskannya secara substantif serta seperti apa prosesnya, sebagaimana terwujud dari kegiatan dan hubungan pemerintahan. ‡ Dgn demikian, IPem adalah ilmu yg mempelajari penstrukturan dan pengelolaan kegiatan pemerintah dan dampaknya terhadap hubungan antara pemerintah dgn rakyat.

Keterkaitan IPem dengan Ilmu Lainnya
ƒ Ilmu Pemerintahan memang berkaitan erat dengan Ilmu Politik, sehingga tinjauan mengenai perkembangan Ilmu Pemerintahan juga tidak dapat dilepaskan dari perkembangan berbagai pendekatan (approaches) Ilmu Politik ƒ Pemahaman tentang berbagai pendekatan dalam mengkaji fenomena politik dan pemerintahan ini nantinya dapat menunjukkan adanya perkembangan ruang lingkup kajian Ilmu Pemerintahan, yang antara lain diindikasikan dari isu-isu yang menjadi pokok bahasan dalam studi Ilmu Pemerintahan

IPem dan Ilmu Politik
‡ Cabang Ilmu Politik: Yakni ilmu sosial yang mengkaji relasi kekuasaan. ‡ Spesifikasi Ilmu Pemerintahan: Memfokuskan diri pada kajian tentang interaksi kewenangan antara NEGARA dengan RAKYATNYA. Catatan: Interaksi keduanya bisa dijembatani oleh berbagai lembaga intermediari: partai politik, media massa

Ipem dan Administrasi Negara
Yang membedakan ilmu Administrasi Negara dengan ilmu Pemerintahan adalah sudut pandangnya.
y Ilmu AN sangat hirau dengan ketertiban dalam pencapaian tujuan negara. y Ilmu Pemerintahan hirau dengan perjuangan/penggunaan kewenangan dalam pencaian tujuan publik.

Yang dikaji tidak terbatas hanya pada interaksi negara-masyarakat di Indonesia.

Fase Perkembangan Pendekatan IPem

Fase Awal Fase Behavioralis Fase Kontemporer

Fase Awal
‡ Pemerintahan sebagai suatu ilmu modern sesungguhnya telah ada sejak abad ke-17, yang dikenal dengan nama atau sebutan Kameralwissenschaft ‡ Kameralwissenschaft difokuskan pada kajian mengenai keuangan publik, administrasi penerimaan dan pembelanjaan negara, ilmu pengetahuan tentang kepolisian, statistik, stetsel perpajakan, struktur birokrasi dan ketatausahaannya, termasuk juga ilmu ekonomi terutama yang berkaitan dengan ekonomi pertanian atau agronomi ‡ Pada tahun 1920, di Belanda lahir program Indologie yang dilakukan oleh perserikatan dari 3 (tiga) fakultas dari Universitas Leiden, yakni Fakultas Hukum, Sastra, dan Filsafat, yang bertujuan mempersiapkan calon-calon pejabat pemerintah Belanda yang akan ditugaskan di Hindia Belanda ‡ Dalam konteks relasi kekuasaan yang didominasi negara, kajian-kajian Ilmu Pemerintahan lebih banyak berfokus pada negara, lembaga pemerintahan, serta hubungan di antara lembaga-lembaga tersebut

Karakteristik IPem Fase Awal
‡ Pembelajaran dirancang untuk menyediakan sarjana untuk birokrasi penyelenggaraan pemerintahan. ‡ Metodologi keilmuan: old institutionalism. ‡ Ilmu pemerintahan fokus pada persoaalan policy-making , sedang ilmu administrasi negara fokuskan diri pada penjabaran kebijakan ke dalam prosedur dan mekanisme kerja

Orientasi IPem
1. IPem sbg ilmunya para pejabat pemerintahan yg digunakan sbg alat utk menjadikan manusia yg diperintah sbg bawahan pemerintahan 2. IPem sbg ilmunya manusia yg diperintah yg digunakan oleh pihak yg diperintah sbg instrumen utk memperjuangkan dan melindungi hak-haknya terhadap pemerintahan yg totaliter dan berperikemanusiaan rendah.

Fase Behavioralis
ƒ Banyak doktor pulang dari belajar di Amerika Serikat. ƒ Ilmu pemerintahan adalah ilmu politik. Lulusan tidak harus menjadi birokrat. ƒ Kurikulum kental dg. teori sistem. ƒ Standar berfikir: positivisme. Riset pada umumnya menggunakan survey. ƒ Metodologi non-positist sebetulnya diajarkan tetapi di fase-fase akhir (menjelang lulus) sehingga tidak sempat menghayati dan mempraktekkan. ƒ Memiliki sejumlah kelemahan karena cenderung menduplikasi Ilmu Politik serta tidak peka pada isu-isu lokal karena terlampau terfokus pada fenomena politik yang berskala nasional

Fase Kontemporer
ƒ Paradigma ini tidak lagi melihat pemerintah sebagai aktor tunggal dalam proses kepemerintahan, melainkan hanya salah satu stakeholder (pemangku kepentingan) di antara berbagai stakeholders lainnya. ƒ Kemunculan paradigma ini dilatarbelakangi oleh berkembangnya isuisu baru menyangkut relasi kekuasaan antara negara dengan masyarakat, munculnya konsep civil society, demokratisasi, desentralisasi, pemberdayaan, dll. ƒ Dengan demikian, perkembangan Ilmu Pemerintahan pada fase yang sekarang ini membawa pula perubahan dalam pola relasi kekuaasaan yang cenderung lebih mendekatkan hubungan pemerintah dengan masyarakat, bahkan menempatkan kepentingan rakyat sebagai orientasi utama. ƒ Ilmu Pemerintahan terkena terpaan neo-liberal: mencoba kritis terhadap bekerjanya ideologi liberal melalui academic exercise. ƒ Memberi ruang yang sama terhadap semua perspektif dan pendekatan keilmuan.

Pertimbangan dalam Menerapkan Strategi MIPem
ƒ Pertama, paradigma yang pernah, sedang, atau diprediksi akan berkembang terkait dengan pemilihan dan pemilahan konsep dan teori yang diperlukan dalam pengembangan Ilmu Pemerintahan. 
Misalnya, paradigma governance akan terkait dengan teori dan/atau konsep yang berada di ranah behavioralism atau postbehavioralism, sehingga otomatis metode penelitian yang dipilih nantinya dapat disesuaikan dengan ranah teorinya.  Fenomena penggunaan bahasa dalam kampanye Pilkada misalnya, akan lebih tepat dikaji dengan menggunakan teori-teori diskursus politik dan menggunakan metode penelitian analisis wacana.

ƒ Kedua, unit analisis yang akan dikaji, apakah individual atau kelompok, apakah menyangkut sistem secara keseluruhan ataukah aktor semata.
ƒ

Pilihan terhadap metodologi juga ditentukan oleh unit analisis yang akan dikaji, sehingga tidak ada alasan untuk menerima satu teori sebagai kebenaran mutlak untuk menganalisis suatu fenomena karena suatu fenomena dapat dijelaskan dari berbagai sudut pandang, hanya nantinya akan berimplikasi pada ketajaman analisis  Misalnya, fenomena pembuatan kebijakan bisa dianalisis dari sudut pandang sistem (struktural) dengan menggunakan teori-teori sistem, tapi fenomena yang sama juga bisa dianalisis dengan menggunakan teori rational choice apabila unit analisisnya adalah aktor-aktor yang terlibat dalam pembuatan kebijakan.

‡ Ketiga, validitas data yang menentukan akurasi penjelasan dan prediksi terhadap fenomena yang diamati ‡ Penentuan jenis data yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan akan terkait dengan paradigma apa yang akan digunakan

Kesimpulan
ƒ Pendekatan pada Ilmu Pemerintahan menunjukkan bahwa pengetahuan pemerintahan itu bermultidimensi, bermultisegi, bermultiaspek, bermultisisi; yang masing-masing dimensi, atau segi, atau aspek, atau sisi itu berarti sebagai masing-masing pendekatan. ƒ Konsekuensinya, pemerintahan itu dapat didefinisikan secara berbeda atau beragam, bergantung pada kacamata/ pendekatan yang digunakan untuk mengkajinya. ƒ Setiap pendekatan akan berkonsekuensi pada digunakannya unsur-metodologi yang khas pada kajian llmu Pemerintahan.