1

Sistem Pemungutan Pajak
‡ Pemungutan pajak merupakan perwujudan dari pengabdian dan peran serta WP untuk melaksanakan kewajiban perpajakan ‡ Tanggung jawab atas kewajiban pelaksanaan pemungutan pajak berada pada WP, pemerintah berkewajiban melakukan pembinaan, pelayanan dan pengawasan. ‡ WP melaksanakan sistem self assesment dengan harapan mudah dipahami, sederhana, terkendali dan lebih teratur

2

Pembukuan fiskal
‡ Dengan adanya self assesment, pemerintah memberikan kepercayaan kepada masyarakat untuk menghitung dan melaporkan sendiri pajaknya dan diharapkan masyarakat menjadi mitra untuk pemasukan uang ke kas negara ‡ WP dan pemerintah dengan fungsinya masingmasing mempunyai media yaitu berupa pembukuan

3

modal. serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa yang diakhiri dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi pada setiap tahun pajak berakhir. penghasilan dan biaya.Pembukuan (pasal 1 angka 29 UU KUP) ‡ Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi keadaan harta. kewajiban. 4 .

pengelompokan.Akuntansi ‡ Akuntansi adalah suatu sistem informasi ‡ Proses akuntansi adalah proses pencatatan. pengikhtisaran. pelaporan dan penganalisaan data keuangan suatu organisasi ‡ Akuntansi dibutuhkan oleh berbagai pihak baik pihak internal maupun pihak eksternal 5 .

Kewajiban pembukuan bagi Wajib Pajak ‡ Wajib Pajak di Indonesia. serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa. wajib menyelenggarakan pembukuan. yaitu suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi harta. 6 . yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi pada setiap Tahun Pajak berakhir. kewajiban. penghasilan dan biaya. modal.

pembukuan harus mencatat juga jumlah harga perolehan atau nilai impor.Kewajiban ‡ Selain dapat dihitung besarnya PPh. jumlah PM yang dapat dikreditkan dan yang tidak dapat dikreditkan ‡ Pembukuan harus diselenggarakan dengan cara atau sistem yang lazim dipakai di Indonesia misalnya berdasarkan SAK. Agar PPN dan PPnBM dapat dihitung dengan benar. kecuali peraturan perundang-undangan perpajakan menentukan lain 7 . jumlah pembayaran atas pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean dan atau pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean. pajak-pajak lainnya juga harus dapat dihitung dari pembukuan tersebut. jumlah harga jual atau nilai ekspor. jumlah harga jual dari barang yang dikenakan PPnBM.

satuan mata uang Rupiah ‡ Disusun dalam bahasa Indonesia atau dalam bahasa asing yang diizinkan oleh Menteri Keuangan 8 . angka Arab.Syarat pembukuan dalam perpajakan ‡ Pembukuan harus diselenggarakan dengan memperhatikan itikad baik dan mencerminkan keadaan atau kegiatan usaha yang sebenarnya ‡ Pembukuan atau pencatatan harus diselenggarakan di Indonesia dengan menggunakan huruf Latin.

modal. serta penjualan dan pembelian. sehingga dapat dihitung besarnya pajak yang terutang ‡ Pembukuan dengan menggunakan bahasa asing dan mata uang selain Rupiah dapat diselenggarakan oleh Wajib Pajak setelah mendapat izin Menteri Keuangan 9 . kewajiban. penghasilan dan biaya.Syarat pembukuan ‡ Pembukuan sekurang-kurangnya terdiri dari catatan mengenai harta.

4. Metode penilaian persediaan. . untuk mencegah penggeseran laba atau rugi Prinsip ini diterapkan dalam : Stelsel pengakuan penghasilan. Metode penyusutan dan amortisasi 10 ‡ 1. 2. Tahun buku.Prinsip taat azas ‡ Prinsip taat asas adalah prinsip yg sama digunakan dalam metode pembukuan dengan tahun-tahun sebelumnya. 3.

Jadi tidak tergantung kapan penghasilan itu diterima dan kapan biaya itu dibayar tunai 11 .Stelsel akrual ‡ Stelsel akrual adalah suatu metode penghitungan penghasilan dan biaya dalam arti penghasilan diakui pada waktu diperoleh dan biaya diakui pada waktu terutang.

Stelsel kas ‡ suatu metode yang penghitungannya didasarkan atas penghasilan yang diterima dan biaya yang dibayar secara tunai. bila benar-benar telah diterima tunai dalam suatu periode tertentu. serta biaya baru dianggap sebagai biaya. hiburan. bila benar-benar telah dibayar tunai dalam suatu periode tertentu. restoran. Stelsel kas biasanya digunakan oleh perusahaan kecil orang pribadi atau perusahaan jasa misalnya transportasi. penghasilan baru dianggap sebagai penghasilan. Menurut stelsel ini. yang tenggang waktu antara penyerahan jasa dan penerimaan pembayarannya tidak berlangsung lama 12 .

Dalam menghitung harga pokok penjualan harus diperhitungkan seluruh pembelian dan persediaan ‡ Dalam memperoleh harta yang dapat disusutkan dan hak-hak yang dapat diamortisasi.Pemakaian stelsel kas untuk penghitungan PPh ‡ Penghitungan jumlah penjualan dalam suatu periode harus meliputi seluruh penjualan. biaya-biaya yang dikurangkan dari penghasilan hanya dapat dilakukan melalui penyusutan dan amortisasi ‡ Pemakaian stelsel kas harus dilakukan secara taat asas ‡ Penggunaan stelsel kas untuk tujuan perpajakan dapat juga dinamakan stelsel campuran 13 . baik yang tunai maupun yang bukan.

Hubungan Akuntansi Pajak dengan Akuntansi Komersial ‡ Akuntansi komersial menyajikan informasi tentang keadaan yang terjadi selama periode tertentu. 14 . Dari informasi tersebut. manajemen atau pihak lain yang berkepentingan dapat mengambil suatu penilaian dan kesimpulan mengenai kondisi dan kinerja perusahaan.

untuk keperluan pelaporan dan pembayaran pajak maka Undang-Undang Perpajakan memiliki prioritas untuk dipatuhi sehingga tidak menimbulkan kerugian material bagi wajib pajak yang bersangkutan 15 . akuntansi komersial harus disesuaikan dengan aturan perpajakan yang berlaku di Indonesia.Hubungan ‡ Secara umum. Dengan demikian. Namun. yaitu Standar Akuntansi Keuangan (SAK). apabila terjadi perbedaan antara ketentuan akuntansi dengan ketentuan pajak. akuntansi komersial disusun dan disajikan berdasarkan Standar yang berlaku. untuk kepentingan perpajakan.

Tujuan Laporan Keuangan Pajak ‡ Memberikan informasi-informasi yang diperlukan untuk menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak (PPh) dan Dasar Pengenaan Pajak (PPN) Membantu wajib pajak untuk menghitung besarnya pajak yang terutang Mengetahui dan menilai tingkat kepatuhan wajib pajak dalam menjalankan sistem self assessment. ‡ ‡ 16 . terutama apabila sedang terjadi pemeriksaan atau penyidikan pajak.

Laporan Keuangan Fiskal disajikan secara jujur. Perubahan kebijakan akuntansi pajak dimungkinkan dengan persetujuan Direktur Jenderal Pajak dengan mengajukan permohonan dilengkapi alasan. Sensitivitas informasi. substansi penghasilan dengan nama dan dalam bentuk apapun. Dapat dibandingkan dengan periode sebelumnya. bukan materialitas. terutama untuk kompensasi kerugian. 17 . dan perbandingan pengakuan laba atau rugi yang menuntut konsistensi kebijakan akuntansi pajak. menagih.Ciri Kualitatif Laporan Keuangan Pajak ‡ ‡ ‡ ‡ Dapat dipahami oleh petugas/pemeriksa pajak. utang-piutang antar periode. substansi beban yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto (deductible expenses) adalah beban untuk mendapatkan. dan menerima penghasilan yang merupakan obyek pajak yang dihitung dari penghasilan neto. dengan itikad baik.

Ciri ‡ Laporan keuangan fiskal harus tepat waktu. akuntansi pajak harus mampu menerbitkan laporan keuangan fiskal sendiri. Koreksi fiskal merupakan salah satu cara praktis dalam penyusunan laporan keuangan fiskal. 18 ‡ ‡ . Apabila akuntansi komersial tidak mampu menerbitkan laporan keuangan tepat waktu. paling lambat akhir bulan ketiga setelah berakhirnya tahun buku. Akuntansi Pajak harus independen terhadap akuntansi komersial.

wajib pajak menyusun sebuah laporan keuangan fiskal melalui proses penyesuaian dan rekonsiliasi antara praktek akuntansi dengan ketentuan perpajakan 19 . Pada pendekatan ini. wajib pajak bebas menyelenggarakan pembukuan berdasarkan prinsip akuntansi. Dengan demikian. Untuk kepentingan pajak. wajib pajak harus menyelenggarakan pembukuan sesuai dengan ketentuan perpajakan.Pendekatan dalam menyusun laporan keuangan fiskal ‡ Ketentuan pajak secara dominan mewarnai praktek akuntansi. yaitu laporan keuangan komersial dan laporan keuangan fiskal ‡ Ketentuan pajak merupakan standar yang terpisah dari praktek akuntansi. setidaknya ada 2 (dua) laporan yang disusun oleh wajib pajak. Pada pendekatan kedua.

preferensi diberikan kepada ketentuan pajak apabila terdapat pengaturan yang tidak sejalan dengan standar akuntansi 20 .Pendekatan ‡ Ketentuan pajak merupakan sisipan terhadap standar akuntansi. Namun. Pada pendekatan terakhir. laporan keuangan disusun berdasarkan standar akuntansi.

jurnal harian tersebut dimasukkan (posting) ke dalam buku besar 21 .Penyusunan laporan keuangan fiskal ‡ Pajak tidak mengatur secara khusus mengenai cara atau alur dalam menyusun sebuah laporan keuangan. Kemudian. Oleh karena itu. wajib pajak dapat mengikuti alur penyusunan laporan keuangan yang terdapat dalam akuntansi komersial ‡ Laporan keuangan dimulai dari pencatatan dokumendokumen dasar yang terjadi dalam sebuah transaksi ke dalam buku harian atau jurnal harian.

Penyesuaian laporan keuangan komersial dengan ketentuan pajak lebih dikenal dengan sebutan rekonsiliasi fiskal 22 .Penyusunan ‡ Pada akhir periode. Dengan penyesuaian terhadap keadaan yang sebenarnya terjadi pada akhir tahun dan catatan penutup (closing entries). disusunlah sebuah neraca saldo setelah penyesuaian ‡ Dari neraca saldo setelah penyesuaian tersebut. laporan keuangan komersial disesuaikan dengan ketentuan pajak yang berlaku sehingga diperoleh sebuah laporan keuangan fiskal. dari buku besar disusun neraca saldo sebelum penyesuaian. diperoleh sebuah laporan keuangan komersial ‡ Untuk kepentingan pajak.

honorarium. jasa dan kegiatan yang dilakukan oleh Orang Pribadi Subjek Pajak Dalam Negeri ‡ Apabila kegiatan dilakukan Orang Pribadi Subjek Pajak Luar Negeri. dan pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk apapun sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan. Pajak Penghasilan pasal 26.PPh pasal 21 ‡ PPh pasal 21 adalah pajak atas penghasilan berupa gaji. 23 . upah.

Penerima penghasilan yang dipotong PPh pasal 21 dan atau PPh pasal 26 ‡ Pegawai tetap ‡ Penerima uang pesangon. tunjangan hari tua termasuk ahli warisnya ‡ Bukan pegawai yang menerima penghasilan dengan upah harian/mingguan/satuan/borongan ‡ Bukan pegawai termasjuk tenaga ahli yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan dengan pekerjaan. jasa atau kegiatan yang bersifat berkesinambungan atau tidak ‡ Peserta kegiatan yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan dengan keikutsertaan dalam kegiatan 24 . pensiun.

Pajak Penghasilan Pasal 21 ‡ PPh pasal 21 terutang pada akhir bulan dilakukannya pembayaran atau pada akhir bulan terutangnya penghasilan bersangkutan ‡ PPh pasal 21 yang telah dipotong dan disetorkan secara benar oleh pemberi kerja atas penghasilan yang diterima atau diperoleh sehubungan dengan pekerjaan dari satu pemberi kerja merupakan pelunasan pajak yang terutang untuk tahun pajak yang bersangkutan 25 .

Ibadurrahman setiap bulannya 26 .3% dari gaji pokok Iuran JHT 3. Pow-Pow mengikuti program jamsostek dan Dana Pensiun yang sudah mendapat pengesahan dari Menteri Keuangan dengan perincian sebagai berikut : Premi asuransi kecelakaan kerja 0. Ibadurrahman dengan status TK/0 bekerja pada PT.000.7% dari gaji pokok Iuran pensiun Rp100.000 Pembayaran yang dilakukan sendiri oleh Tn. tunjangan transport Rp400. Ibadurrahman adalah : Iuran JHT 2% dari gaji pokok Iuran pensiun Rp50.000 Berapa PPh pasal 21 yang harus dipotong atas penghasilan diterima Tn. Pow-Pow sejak tahun 1999. setiap bulan PT.000.000.Kasus 1 ‡ Tn.000. Pow-Pow membayar gaji pokok sebesar Rp4. dan tunjangan makan sebesar Rp400.24% dari gaji pokok Premi asuransi kematian 0. Pada tahun 2009. PT.

600 12. 371. Rp.821.000 Iuran Pensiun Rp 50.878.Penghitungan PPh pasal 21 setiap bulan Gaji Tunjangan transport Tunjangan makan Premi JKK Premi JKM Penghasilan Bruto Pengurang Biaya Jabatan (5% x Rp4.000 4.240 1.450.080 Iuran JHT Rp 80.566.600) Maksimum Rp241.821. Rp.080 4.000 400.000 PPh pasal 21 terutang sebulan Rp Rp Rp Rp Rp Rp 4. Rp.300 156.000 9.520 53.566. Rp.600 Rp.000.840.000 37.240 15.000 400.525 27 .000 Jumlah pengurang Penghasilan neto sebulan Penghasilan neto setahun PTKP (TK/-) Penghasilan Kena Pajak PPh terutang 5% x Rp37. Rp Rp.406.

600 Utang iuran pensiun 100.513.000 Utang iuran THT 148.600 Utang PPh ps 21 156.525 Utang premi jamsostek 21.Jurnal Biaya gaji 4.475 28 .000 Utang gaji 4.939.

status belum kawin. dalam bulan januari 2009 bekerja pada PT.000/hari untuk 10 hari kerja tersebut 29 . Rizqi selama 10 hari kerja dengan menerima upah yg dibayar secara harian sebesar Rp. 200.Kasus 2 ‡ Azizan.

000 Rp 2. 9 dan 10 masing-masing adalah : Rp 200.000 Penghasilan Kena Pajak Rp 50.000 PTKP 7 hari Rp 308.000 = Rp156.092.092.600 PPh yang dibayar hari ke 8.000 Batasan TKP Rp150.600 Yang telah dipotong 6 x Rp2.500 Rp 15.000 PPh yang kurang bayar Rp 39.000 PPh terutang Rp1.800 30 .000 PKP Rp1.000 x 5% Rp 54.500 Pemotongan PPh tersebut dilakukan sampai dengan hari ke-6 Pada hari ke-7 dihitung PPh Pasal 21 sbb: Penghasilan selama 7 hari Rp1.000 Rp44.000 x 5% Rp 7.400.Penghitungan PPh pasal 21 ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ Upah sehari Rp200.000 PPh terutang 5%x50.

000 78.000 31 .Jurnal Biaya Upah Utang PPh ps 21 Kas atau Bank 2.922.000 1.000.

Kasus 3 ‡ PT.000.000 dan Rp67. Jujur melakukan pembayaran penghasilan atas jasa penyusunan laporan keuangan yang dilakukan oleh akuntan Subarkah Ak.000. Subarkah mempunyai NPWP dan ada penghasilan dari pemberi kerja yang lain 32 .000. Pembayaran dilakukan 2 kali yaitu pada bulan April dan Desember 2009 masing-masing sebesar Rp56.

000 PPh terutang Rp22.000 x 15% = Rp1.000 x 5% = Rp1.000 Jumlah PPh pasal 21 Rp2.725.000 = Rp33.400.500.Jawaban ‡ Penghitungan PPh Pasal 21 ‡ Bulan April 50% x Rp56.000.825.000.000 = Rp28.000.500.000 Rp11.000.000 33 .000 ‡ Bulan Desember 50% x Rp67.100.000 PPh terutang Rp28.000 x 5% = Rp1.000.

000 34 .600.825.000 Kas atau Bank 54.175.Jurnal ‡ April 2009 Biaya Honor 56.000 ‡ Desember 2009 Biaya Honor 67.000.400.000.000 Utang PPh ps 21 1.000 Kas atau Bank 64.000 Utang PPh ps 21 2.

000 Rp20.200 ‡ Karena tidak berNPWP maka penghitungan PPh pasal 21 dikenakan tambahan 20% lebih besar 35 .000 x 5% x 120% = Rp1.Kasus 4 ‡ PT. Akhlak Baik memberikan upah kepada Wendy atas jasa pembersihan ac sebesar Rp40.000 = Rp20.000. Wendy tidak berNPWP ‡ Penghitungan PPh pasal 21 50% x Rp40.

000 Utang PPh ps 21 1.Jurnal Biaya upah 40.200 Kas atau Bank 38.800 36 .

kegiatan usaha tertentu dan penjualan barang tergolong sangat mewah yang terkait dengan Badan pemungut PPh pasal 22 yang telah ditetapkan oleh Menteri Keuangan 37 . impor barang.PPh Pasal 22 ‡ Merupakan penjualan atau pembelian barang.

38 ‡ . BUMN dan BUMD. PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA). atas impor barang. Direktorat Jenderal Perbendaharaan. yang melakukan pembayaran atas pembelian barang. PT Indosat. PT Garuda Indonesia. PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).Pemungut PPh Pasal 22 ‡ ‡ ‡ Bank Devisa dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. dan bank-bank BUMN yang melakukan pembelian barang yang dananya bersumber dari APBN maupun non-APBN. PT Pertamina. PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom). Perum Badan Urusan Logistik (BULOG). kecuali badan-badan dibawah ini Bank Indonesia (BI). Bendahara Pemerintah Pusat ataupun Daerah. PT Krakatau Steel. yang melakukan pembelian barang dengan dana yang bersumber dari belanja negara (APBN) dan/atau belanja daerah (APBD).

39 . atas penjualan hasil produksinya di DNi. gas. dan pelumas atas penjualan bahan bakar minyak. dan pelumas. industri baja. dan industri otomotif. gas. ‡ Produsen atau importir bahan bakar minyak. industri kertas. pertanian. dan perikanan yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak atas pembelian bahan-bahan untuk keperluan industri atau ekspor mereka dari pedagang pengumpul. yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak. perkebunan. ‡ Wajib Pajak Badan yang melakukan penjualan barang yang tergolong sangat mewah.Pemungut PPh pasal 22 ‡ Badan usaha yang bergerak dalam bidang usaha industri semen. ‡ Industri dan eksportir yang bergerak dalam sektor perhutanan.

5% dari nilai Impor 7.5% dari nilai Impor 7.Importir ± non API .Importir ± API (angka pengenal impor) .5% dari harga jual lelang Tidak Final .Yang tidak dikuasai (Barang Impor yang dilelang DJBC (*) bagi WP yang tidak ber-NPWP akan dipungut PPh dengan tariff 2x lipat (lebih tinggi 100%) 40 Tarif bagi WP ber-NPWP (*) Sifat 2.Tarif PPh Pasal 22 No 1 Jenis Kegiatan Impor Barang : .

Industri Semen .45% dari DPP PPN 3 41 .Industri Kertas .30% dari DPP PPN 0.5% dari harga Tidak Pembayaran atas pembelian Final pembelian barang oleh pemungut PPh 22 Penjualan brg produksi : .10% dari DPP PPN 0.25% dari DPP Tidak PPN Final 0.Industri Baja .Tarif PPh Pasal 22 2 1.Industri Otomotif 0.

25% 0.Permix/Super TT . Gas dan pelumas atas penjualan BBM.Pelumas 5 SPBU Swasta SPBU Perta mina 0.3% 0.Solar .Premium .Tarif PPh Pasal 22 4 Penjualan barang produksi oleh produsen/importir BBM.Minyak Tanah .3% - Penyerahan kepada Agen bersifat final Pembelian bahan untuk 0.25% 0.3% Tidak Final (PerDirjen23/ PJ/2009) Tidak Final 42 0.Gas LPG .3% 0.3% 0.25% 0.25% dari harga beli keperluan industri atau ekspor sebelum PPN dari pedagang pengumpul Penjualan barang yang tergolong sangat mewah **) 5% dari harga jual tidak termasuk PPN 6 .3% 0. Gas dan Pelumas .

Jujur Selalu menjual seperangkat komputer kepada Pemda DKI seharga Rp11.000. Jujur Makmur menjual beras sebanyak 100 kuintal kepada Departemen keuangan dengan harga Rp50.000.000 sudah termasuk PPN 43 .000 ‡ PT.Kasus 1 ‡ PT.

250.850. Jujur Makmur Kas 49.000 Penjualan 10.000 ‡ Jurnal yang dilakukan PT. Jujur Selalu Kas 9.000 44 .000.000 Penjualan 50.Jawaban ‡ Jurnal yang dilakukan PT.000 UM Pajak ps22 750.000 UM pajak Ps22 150.000.

Bahan baku dibebaskan dari PPN dan menggunakan API ‡ PT. 100 juta (belum termasuk PPN) ke PT Krakatau Steel 45 .000. Istiqomah membeli baja sebagai bahan baku sebesar Rp.Kasus 2 ‡ PT. Amanah mengimpor bahan baku dengan harga Rp100.000.

000 UM pajak ps22 300.000 ‡ Jurnal yang dilakukan PT.000 46 . Istiqomah Persd bhn baku 100.000.500.000.300.000 Kas/bank 102.000 UM pajak ps 22 2.000 Kas/bank 110.000 UM PPN 10.500. Amanah Persd bhn baku 100.000.Jawaban ‡ Jurnal yang dilakukan PT.

47 .000 belum termasuk PPN dari PT.000.000 ‡ Penghitungan PPh pasal 22 atas pihak yang tidak berNPWP akan dikenakan tarif 100% lebih besar.000. Mobilan Mewah yang ditunjuk sebagai pemungut PPh pasal 22 ‡ Penghitungan PPh pasal 22 Rp6.000 x 5% x 200% = Rp600.000. Sugih (non Wajib Pajak) membeli sebuah mobil mewah 5000 cc dengan harga Rp6.Kasus 3 ‡ Tn.000.000.

200.000.000 Utang PPh ps 22 600.000 Penjualan 6.000.000.000.000.000 48 .Jurnal Kas 7.000 PPN Keluaran 600.

bunga. royalti dan hadiah/penghargaan ‡ Dikenakan tarif 2% x penghasilan bruto yaitu atas sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta serta imbalan sehubungan dengan jasa ‡ Kecuali telah dikenakan PPh pasal 4(2) 49 . royalti. dan hadiah yang telah diterimanya ‡ Dikenakan tarif 15% x penghasilan bruto yaitu atas deviden.PPh pasal 23 ‡ Dikenakan atas pembayaran atau pembebanan jasa. sewa. dividen. bunga.

000 (belum termasuk PPN) 50 . Seger (PKP) atas jasa catering sebesar Rp50.000. Bijak melakukan pembayaran atas jasa konsultasi kepada PT. Baik (pengusaha kecil non PKP) sebesar Rp10.000.Kasus 1 ‡ PT.000. ‡ PT. Segar melakukan pembayaran atas jasa catering kepada PT.

000. Bijak Biaya konsultan 10.000 51 .800.000 Penghasilan konsultan 10. Baik Kas 9.000 UM PPh ps 23 200.000 ‡ Jurnal PT.000.000 Kas 9.800.Jawaban ‡ Jurnal PT.000 Utang PPh pasal 23 200.

Segar Biaya jasa catering 50.000 UM PPN 5.000.000.000.000 Utang PPN 5.000 52 .000 Kas 54.000.000 Utang PPh pasal 23 1.000.jawaban ‡ Jurnal PT.000.000 UM PPh ps 23 1.000 Penghasilan catering 50. Seger Kas 54.000 ‡ Jurnal PT.000.000.

000 53 . Wita sebesar Rp1.000 ‡ PT. Vita membayar bunga pinjaman kepada PT.Kasus 2 ‡ PT.000. Xtra membayar dividen kepada pemegang saham dalam negeri sebesar Rp1.000.

Jawaban ‡ Jurnal : Laba ditahan 1.000 Utang dividen 850.000 54 .000 Utang PPh pasal 23 150.000.

Vita Biaya bunga 1.000 Kas 850.Jawaban ‡ Jurnal PT.000. Wita Kas 850.000 UM PPh 23 150.000.000 ‡ Jurnal PT.000 Penghasilan bunga 1.000 55 .000 Utang PPh 23 150.

000 x 2% x 200% = Rp80. ‡ Penghitungan PPh pasal 23 2.000 ‡ Penghitungan PPh pasal 23 atas pihak yang tidak berNPWP akan dikenakan tarif 100% lebih besar.000.000. A melakukan pembayaran sewa kendaraan pada Tn. Z (non Wajib Pajak) sebesar Rp2. 56 .Kasus 3 ‡ PT.000.

000 1.920.000 Utang PPh pasal 23 Kas atau bank 80.000.Jurnal Biaya sewa 2.000 57 .

PPh pasal 4(2)
‡ penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi dan surat utang negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota koperasi orang pribadi; ‡ penghasilan berupa hadiah undian; ‡ penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya, transaksi derivatif yang diperdagangkan di bursa, dan transaksi penjualan saham atau pengalihan penyertaan modal pada perusahaan pasangannya yang diterima oleh perusahaan modal ventura; ‡ penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan, usaha jasa konstruksi, usaha real estate, dan persewaan tanah dan bangunan; dan ‡ penghasilan tertentu lainnya, ‡ yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah

58

Kasus 1
‡ PT. Adil menyewa sebuah gudang dari PT. Zahif (Wajib Pajak Non Pengusaha Kena Pajak) dengan nilai sewa sebesar Rp12.000.000

59

jawaban
‡ Jurnal PT. Adil Biaya sewa gudang12.000.000 Kas 10.800.000 Utang PPh ps 4(2) 1.200.000 ‡ Jurnal PT. Zahif Kas 10.800.000 Beban PPh ps 4(2) 1.200.000 Penghasilan sewa gdg 12.000.000
60

Ibu Pertiwi (PKP) 61 . Bangun Negeriku.000.Kasus 2 ‡ PT. Wajib Pajak sekaligus PKP yang mempunyai kualifikasi usaha konstruksi besar memberikan jasa pelaksanaan konstruksi pembagunan gudang sebesar Rp2.000 belum termasuk PPN kepada PT.400.

000.000. Ibu Pertiwi Gudang 2.568.000.400.000 Kas 2.400.000 Beban PPh ps 4(2) 72. Bangun Negeriku Kas 2.568.000 Utang PPh ps 4(2) 72.000 PPN Keluaran 240.000.000.000 PPN Masukan 240.000.000.000 62 .000 ‡ Jurnal PT.000 Penghasilan jasa kons 2.Jawaban ‡ Jurnal PT.000.

NJOP tanah & bangunan tersebut sesuai SPPT PBB adalah sebesar Rp 1.-dan dibuatkan akta AJB-nya.-dari Bapak Salim. Sukadana membeli tanah seharga Rp 300.Kasus 3 ‡ PT.000. Sesuai kesepakatan pajak-pajak ditanggung oleh pembeli.000.000 63 .000.000.000. Diketahui bahwa NPOPTKP sebesar Rp 30.000.-dan bangunan permanen seharga Rp 800.000.000.

070.000 = 55.100jt x 53.000.500.000 Dasar Pengenaan 1.500.000 ‡ BPHTB Tanah 300jt/1.000.100jt x 53.100.100.091 ‡ PPHTB 5% x Rp1.909.Jawaban ‡ Penghitungan BPHTB NPOP 1.000.000 64 .500.000 = 38.000.000 NPOPTKP 30.000 = 14.590.000 BPHTB (5%) 53.909 ‡ BPHTB Bangunan 800jt/1.000.

909 Beban PPh ps.000 65 .091 BPHTB Tanah 14.4(2) 55.000 ‡ Bangunan 38.100.000.000 Kas 108.000.000 Tanah 300.Jawaban ‡ Bangunan 800.000 Kas 1.000.909.000.500.590.

PPh pasal 26 ‡ Pemotongan PPh pasal 26 ditujukan terhadap jenis penghasilan yang diterima/diperoleh Subyek Pajak Luar Negeri ‡ Tidak semua penghasilan yang dibayarkan ke luar negeri akan di potong PPh pasal 26 namun dilihat apakah adan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B) atau tax treaty 66 .

Kasus 1 ‡ PT. dengan premi asuransi dibayar dimuka sebesar Rp1 milyar untuk 1 tahun 67 . Crista berusaha di bidang properti mengasuransikan bangunannya kepada perusahaan asuransi di luar negeri.

000.000.000 68 .000.000 Utang PPh ps 26 100. Crista Biaya Premi asuransi 1.jawaban ‡ Jurnal PT.000 Utang Premi Asuransi 900.000.000.000 utang PPh ps 26 100.000.000 utang premi asuransi 900.000 Kas atau bank 1.000.000.

Kasus 2 ‡ Mekdi Indonesia membayar royalti kepada mekdi USA atas pemakaian merek dagang sebesar Rp250.000.000 69 .

000.jawaban ‡ Jurnal : Biaya royalti 250.000 utang royalti 200.000.000 70 .000.000 utang PPh ps 26 50.

Pajak Pertambahan Nilai ‡ PPN dapat dibedakan ke dalam 2 tipe yaitu pajak masukan dan pajak keluaran ‡ Jika dalam suatu masa pajak. saldo kredit rekening PPN-keluaran lebih besar dari pada saldo debit rekening PPN-Masukan maka selisihnya merupakan PPN yang harus dibayar ‡ Apabila sebaliknya maka selisihnya merupakan kelebihan pajak yang dapat dikompensasikan pada masa pajak berikutnya 71 .

sedang PPN Keluaran dapat dipandang sebagai utang PPN ‡ Penghitungan uang muka dan utang PPN tersebut harus dilakukan pada setiap bulan atau masa pajak 72 .Pajak Pertambahan Nilai ‡ PPN masukan dapat dipandang sebagai uang muka PPN.

Sinam adalah PKP pada bulan Januari dan Februari 2009 mempunyai data sebagai berikut (dalam jutaan): Jan Feb Penjualan 250 250 Pembelian 300 200 PPN Keluaran 25 25 PPN Masukan 30 20 73 .Kasus 1 ‡ PT.

000.000.000 PPN Keluaran PPN Masukan 25.000 25.000 Utang dagang 330.000.000 Piutang dagang (kas) 275.000.000 PPN masukan (UM PPN) 30.000 Hasil penjualan 250.000 PPN Keluaran (utang PPN) 25.000 74 .000.000.Jurnal ‡ Januari Persediaan brg dgn 300.000.000.

000.000 20.000.000 25.000 75 .000.000 250.000.000.000 275.000.Jurnal ‡ Februari Pers brg dggn PPN Masukan Utang dagang Piutang dagang Hasil penjualan PPN Keluaran PPN Keluaran PPN Masukan 200.000 220.000.000 25.000.000 25.

membeli barang untuk diekspor. Pada masa maret 2009. pembelian seluruhnya BKP sejumlah Rp175.250.000. kelebihan pembayaran direstitusikan pada bulan maret 2009 76 . QQ adalah eksportir.000 sedang penjualan ekspor sebesar Rp.000.000.Kasus 2 ‡ PT.

Jurnal
Piutang dagang 250.000.000 HPP 175.000.000 Hasil penj eksp 250.000.000 pers brg dggan 175.000.000 Pers brg dggn 175.000.000 PPN masukan 17.500.000 utang dagang/kas 192.500.000 Piutang restitusi PPN 17.500.000 PPN masukan 17.500.000
77

Kasus 3
‡ PT. Sejuk pada bulan Februari 2009 melakukan penjualan BKP YTM seharga Rp750.000.000 . Barang tersebut waktu diimpor dengan harga Rp500.000.000 (PPnBM 20%): ‡ DPP 750.000.000 PPN 75.000.000 jumlah 825.000.000

78

Jurnal
Persediaan PPN Masukan Kas/bank Piutang dagang Hasil penjualan PPN Keluaran PPN keluaran PPN Masukan kas /bank 600.000.000 50.000.000 650.000.000 825.000.000 750.000.000 75.000.000 75.000.000 50.000.000 25.000.000
79

80 .

81 .METODE PENGHAPUSAN PIUTANG Penghapusan Langsung (Direct Write-off Method) Komersial Penyisihan/pencadangan (Allowance Method) Dasar Saldo Penjualan (Income Statement Approach) Dasar Saldo Piutang (Ballance Sheet Approach) Umur Piutang Piutang Rata-rata Fiskal Penghapusan Langsung (Direct Write-off Method) Syarat Pasal 6 ayat (1) huruf h.

METODE PENGHAPUSAN PIUTANG Penghapusan Langsung (Direct Write-off Method) Komersial Penyisihan/pencadangan (Allowance Method) Dasar Saldo Penjualan (Income Statement Approach) Dasar Saldo Piutang (Ballance Sheet Approach) Umur Piutang Piutang Rata-rata Fiskal Penghapusan Langsung (Direct Write-off Method) Syarat Pasal 6 ayat (1) huruf h. 82 .

awal piut + s.Dibuat daftar umur piutang . akhir piut) 2 .Setiap kelompok umur dibuat % penyisih an masing-masing % Penyisihan X Jml piutang masing2 kelompok umur 83 .FORMULA PENYISIHAN/PENCADANGAN Dasar Saldo Penjualan (Income Statement Approach) % Penyisihan X Total Penjualan % Penyisihan X Total Penjualan Kredit Piutang Rata-rata Dasar Saldo Piutang (Balance Sheet Approach) Umur Piutang % penyisihan X (s.

akhir CPTT < Pembentukan baru D: B. Piutang Tak Tertagih D: B. Piutang Tak Tertagih K: Piutang Menimbulkan kembali piutang D: Piutang K: B. Penyisihan/cadangan D: B.PENCATATAN PIUTANG TIDAK TERTAGIH Kejadian Pembentukan awal Cadangan piutang Tidak tertagih Penghapusan Piutang Metode Langsung Tidak ada pencatatan Mtd. Piutang tak tetrtagih Mencatat pelunasan : D: Kas/Bank K: Piutang S. Piutang Tdk Tertagih K: Cad. Akhir CPTT > Pembentukan baru D: Cad. Piutang Tak Tertagih K: Laba Piutang Tak Tertagih 84 Pelunasan Piutang Yang Telah dihapus bukukan Pembentukan Kembali Cadangan piutang Tidak Tertagih Tidak ada pencatatan . Piutang Tak Tertagih Mencatat pelunasan : D: Kas/Bank K: Piutang D: Cadangan piutang tak tertagih K: Piutang Menimbulkan kembali piutang D: Piutang K: Cad. Piutang Tak Tertagih S. Piutang Tdk Tertagih K: Cad.

Y Daftar Piutang tidak tertagih diserahkan ke DJP Y T T T Tidak dapat dibebankan secara Fiskal (Kecuali debitur kecil) Dapat dibebankan secara Fiskal 85 .Syarat Piutang Tak Tertagih Dapat Dibebankan Secara Fiskal Telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial Y Telah diserahkan perkara penagihannya kepada PN atau instansi pemerintah yang menangani piutang negara Atau Piutang tidak Dapat ditagih ada perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur yang bersangkutan Atau dipublikasikan dalam penerbitan umum atau khusus Atau adanya pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah dihapuskan untuk jumlah utang tertentu.

Jenis usaha yang menurut fiskal diperkenankan membentuk cadangan piutang tak tertagih ‡ Usaha bank ‡ Usaha lain: ± Yang menyalurkan kredit ± Sewa guna usaha dengan hak opsi ± Perusahaan pembiayaan konsumen ± Perusahaan anjak piutang 86 .

Piutang dalam hubungan istimewa Piutang dalam hubungan istimewa terjadi antara lain: ± Sewa kantor ± Pembebanan biaya listrik ± Penjualan harta tetap ± Peminjaman dana ± Transaksi penyerahan barang/jasa Transaksi dalam hubungan istimewa harus diperlakukan dengan harga wajar. 87 .

atau hubungan antara wp dengan penyertaan paling rendah 25% pada dua wp atau lebih ‡ Wp menguasai wp lainnya atau dua atau lebih wp berada di bawah penguasaan yang sama. baik sedarah maupun semenda dalam garis keturunan lurus dan/atau ke samping satu derajat 88 .Hubungan istimewa ‡ WP mempunyai penyertaan modal langsung atau tidak langsung paling rendah 25% pada wp lain. baik langsung maupun tidak langsung ‡ Terdapat hubungan keluarga.

Perolehan Aktiva Tetap Membeli tunai Membangun sendiri Menukar dengan aktiva lain Aktiva tetap dicatat dengan prinsip harga perolehan ‡ Sesuai dengan Pasal 10 UU PPh yang menganut prinsip harga historis ‡ ‡ ‡ ‡ 89 .

Pembelian aktiva tetap tidak ada hubungan istimewa ‡ Pembeli : harga beli dan biaya yang dikeluarkan dalam rangka memperoleh harta ‡ Penjual : harga penjualan adalah harga yang sesungguhnya diterima 90 .

Pembelian aktiva tetap apabila ada hubungan istimewa ‡ Pembeli : jumlah yang seharusnya dikeluarkan oleh pembeli ‡ Penjual : Harga penjualan adalah harga yang seharusnya (harga pasar wajar) 91 .

Pertukaran aktiva ‡ Menggunakan harga pasar aktiva yang seharusnya diperoleh ‡ Diakui adanya gain/loss pertukaran aktiva ‡ Tidak mengenal sejenis atau tidak sejenis ‡ Gain/loss karena pertukaran aktiva dinilai dari selisih harga pasar dikurangi nilai buku 92 .

tempat kedudukan dll ‡ Dasar penilaian adalah nilai pasar ‡ Bagi pihak yang mengalihkan terdapat capital gain/loss yaitu sebesar selisih antara nilai buku dengan harga pasar yang ditetapkan 93 . status. jenis.Aktiva tetap yang didapatkan dari setoran modal ‡ Penilaian harga ditetapkan oleh ahli yang tidak terikat oleh perusahaan ‡ Harus disertai rincian yang menerangkan nilai atau harga.

aktiva tetap dari hibah/bantuan ‡ Ada hubungan usaha dinilai berdasarkan harga pasar : Penerima : objek pajak penghasilan Penyumbang : selisih antara nilai pasar dengan nilai buku yang merupakan laba/rugi ‡ Tidak ada hubungan usaha dinilai berdasarkan nilai buku Penerima : Bukan objek pajak Penyumbang : bukan biaya 94 .

pengeluaran bunga pinjaman selama masa konstruksi merupakan komponen dari biaya langsung yang menjadi bagian pembentukan harga pokok atau harga perolehan aktiva seperti gedung. Jadi pengeluaran bunga pinjaman sampai dengan gedung selesai dan siap digunakan harus dikapitalisir menjadi komponen harga perolehan.42/1994.Membangun sendiri ‡ Semua biaya yang dikeluarkan untuk membangun merupakan komponen harga perolehan aktiva tetap ‡ Sesuai dengan SE-20/PJ. 95 .

SISTEM PENCATATAN PERSEDIAAN Sistem Pencatatan Pembelian Tidak mencatat Persediaan Penjualan Akhir Tahun Stock opname HPP (D) Persediaan awal (K) Persediaan akhir (D) HPP (K) Periodik Pembelian (D) Kas/bank/ htg usaha(K) Tidak mencatat Persediaan Persediaan (D) Kas/bank/ htg usaha(K) HPP (D) Persediaan (K) Stock opname Fisik < Catatan HPP/Loss (D) Persediaan (K) Perpetual Retur : Kas/bank/ htg usaha(D) Persediaan (K) Retur : Persediaan (D) HPP (K) 96 .

CV Sakti menjual 1000 karung tepung terigu @ Rp 60.000 97 . 13 Maret 2008.000.000.000 perkarung secara kas. CV Sakti membeli barang dagangan berupa tepung terigu sebanyak 2000 karung dengan harga Rp 50.000 Penjualan Tanggal 12-0312-03-08 Akun Kas Penjualan Debet (Rp) 60.000 secara kas 1.000 Kredit (Rp) 100.000. Sistem Periodik Pembelian Tanggal 12-0312-03-08 Akun Pembelian Kas Debet (Rp) 100.000.000 Kredit (Rp) 60.Pencatatan Persediaan 12 Maret 2008.

000 50.000 Kredit (Rp) 60. Sistem Perpetual Pembelian Tanggal 12-0312-03-08 Akun Persediaan Kas Debet (Rp) 100.2.000.000 Kredit (Rp) 100.000 50.000.000 Penjualan Tanggal 12-0312-03-08 Akun Kas Penjualan Harga Pokok Penjualan Persediaan Debet (Rp) 60.000.000.000 98 .000.000.

METODE PENILAIAN PERSEDIAAN Saldo awal per 1-1-2008 = 100 unit @ Rp 10.000 = Rp 1.000 50.000 1.000 Jumlah Harga 1.000 60 11.800.000 Hasil inventarisasi fisik akhir tahun diketahui jumlah persediaan sebanyak 110 unit.000 840.000 120 12.000 100 13.530.000 780.440.240.300. beli/unit Jumlah Harga Unit 80 Penjualan H.000 910.000 4.000 120 15.040.000.000 Unit H.000 1.000 60 13. 99 .000 660.000 330 54. jual/unit 13.000 70 13.000 1Transaksi selama tahun 2008 : Pembelian Tanggal 1515-Feb 1-Mar 4-Apr 1-Jun 1212-Jul 2-Sep 6-Nov 5-Dec Total 60 340 14.000 1.000 4.

240.000 1.000 1.000 = Rp 4.000.490. FIFO Nilai persediaan per 31-12-08 Lapisan Unit Persediaan Persediaan 110 unit Nilai Persediaan HPP Tahun 2008 Persediaan awal Pembelian Dikurang Persediaan akhir Harga Pokok Penjualan 50 60 Harga/unit (Rp) 13.000 Ayat jurnal penyesuaian HPP tgl 31-12-08 Tanggal 3131-12 Perkiraan Harga Pokok Penjualan Persediaan (akhir) Pembelian Persediaan (awal) Ref Debet (Rp) 3.000.000 = Rp 1.000 Jumlah Harga (Rp) 650.000 14.750.490.490.000 100 Kredit (Rp) .000 840.750.000 4.000 1.000) = Rp 3.000 = (Rp 1.METODE PENILAIAN PERSEDIAAN Pada Sistem Pencatatan Periodik 1.240.

000 = (Rp 1.000 = Rp 4.120.120.000 1.000 1.120.000 4.METODE PENILAIAN PERSEDIAAN Pada Sistem Pencatatan Periodik 2.120. LIFO Nilai persediaan per 31-12-08 Unit Lapisan Persediaan Persediaan 110 unit 100 10 Nilai Persediaan HPP Tahun 2008 Persediaan awal Pembelian Dikurang Persediaan akhir Harga Pokok Penjualan = Rp 1.240.240.000 12.000 120.000 Ayat jurnal penyesuaian HPP tgl 31-12-08 Tanggal 3131-12 Perkiraan Harga Pokok Penjualan Persediaan (akhir) Pembelian Persediaan awal Ref Debet (Rp) 4.120.000 1.000.000) = Rp 4.000 101 Kredit (Rp) .000 Harga/unit (Rp) 10.000 Jumlah Harga (Rp) 1.000.000.

000 660.000.310.000 102 .310.000 440 5.000 11.909 = Rp 1.440. 2008 Persediaan awal = Rp 1.000 1.000 840.000 100 13.310.909 Nilai persediaan = 110 X Rp 11. SIMPLE AVERAGE Harga rata-rata Tanggal Uraian Saldo 1-Mar Pembelian 1-Jun Pembelian 2-Sep Pembelian 5-Dec Pembelian Jumlah Harga rata-rata rataUnit Harga/unit 100 10.000) Harga Pokok Penjualan = Rp 3.930.000 1.000 Pembelian = Rp 4.240.000 120 12.METODE PENILAIAN PERSEDIAAN Pada Sistem Pencatatan Periodik 3.930.000 1.240.240.240.000 5.000 HPP Th.000 Kredit (Rp) 4.000.000 Dikurang Persediaan akhir = (Rp 1.000.000 60 14.000 : 440 Jumlah Harga 1.000 60 11.300.000 Ayat jurnal penyesuaian HPP tgl 31-12-08 Tanggal Perkiraan Ref Debet (Rp) 3131-12 Harga Pokok Penjualan Persediaan (akhir) Pembelian Persediaan awal 3.000 1.

FIFO Tgl Saldo 15-Feb 1-Mar 4-Apr 1-Jun 12-Jul 2-Sep Pembelian (Masuk) Unit H./unit Jml harga Penjualan (Keluar) Unit H.60 3.000 70 70 60 720.240.000 200.000 13.000 840.490.10 .000 12.000 120.000 103 13.000 14.000 6-Nov 5-Dec Jumlah 60 340 14./unit Jumlah harga 10.000 20 20 120 200.10 .000 12.000 .000 4.300.000 650.000 60 11.000 1.000 840.000 120 12./unit Jml harga 80 10.000 10.300.000 20 50 10.000 11.000 Unit 100 800.000 1.000 11.60 .750.000 .000.000 50 .000 12.000 13.000 12.000 11.60 .440.000 660.000 840.METODE PENILAIAN PERSEDIAAN Pada Sistem Pencatatan Perpetual 1.000 1.000 110 Saldo H.000 11.000 660.000 12.000 660.50 .440.000 1.000 660.000 600.000 200.000 330 12.000 650.000 120.000 10.60 1.000 650.000 12.000 10 60 .000 .000 12.100 120.000 1.50 840.000 13.000 100 13.000 660.

000 - 100 20 5-Dec Jumlah 60 14.000 104 1.000 660.000 660.000 - 1212-Jul 2-Sep 6-Nov 100 13.440.000 10.000 10.00 0 240.000 12.000 10.000 340 840.000 1.000 600.000 20 50 20 50 100 20 30 20 30 60 110 Saldo H./unit Jml harga 80 120 12.000 12.840.000 1.000 Unit 100 20 20 120 20 50 20 50 60 60 11.300.000 200.000 1.000 600.000 600.00 0 3.000 13.400. LIFO Tgl Saldo 1515-Feb 1-Mar 4-Apr METODE PENILAIAN PERSEDIAAN Pada Sistem Pencatatan Perpetual Penjualan (Keluar) Unit H.000 660.000 12.000 10.300.000 1.2.000 600.000 200.000 12.000 10.000 12.000 200.000 14.000 12.000 4.000 1.000 11./unit Jml harga 1-Jun 60 11.000 200.000 13./unit Jml harga 10.000 200.240.000 840.000 Pembelian (Masuk) Unit H.000 10.000 10.000 10.000 12.000 360.300.000 12.000.000 800.000 200.000 330 .440.000 200.00 0 840.000 200.000 360.000 10.000 70 12.000 1.

000 1.000 800.103 Jml harga 1.096.000 200.440.METODE PENILAIAN PERSEDIAAN Pada Sistem Pencatatan Perpetual 3.923 2.000.335 820.439 Tgl Saldo 1515-Feb 1-Mar 4-Apr 1-Jun 1212-Jul 2-Sep 6-Nov 5-Dec Jumlah 105 .100 840.923 863.703.000 .000 14.385 12.385 11./unit 10.000 4.000 13.439 1.60 1.714 11.233.335 13.000 70 660.000 1.703.484 3.000 683.000 1.714 11.000 11.000 10.640.561 10.000 .439 1.000 Unit 100 20 140 70 130 70 170 70 130 130 Saldo H.077 1.000 796.000 820.385 12.714 11.240.536.000 310 11.300.335 12.000 11.480./unit Jml harga Penjualan (Keluar) Unit H/unit Jml harga 80 120 60 100 60 340 2. Moving Average Pembelian (Masuk) Unit H.

000 15.000 500 1.700.000 16.METODE PENILAIAN PERSEDIAAN NILAI REALISASI BERSIH Tidak diperkenankan secara Fiskal.000 5.600.000 14.000 14.000 4.500 8. kecuali karna rusak.000 16.000 300 8.350.000 106 .000 9.000 15.500 15.Penjualan Nilai relisasi perunit perunit bersih Perunit 9.350.400 Harga pokok perunit 10.000 1.000 Harga pasar B. usang (tidak dpt dijual secara Normal) dibebankan PSAK 14 NRV < Cost Y NRV T Cost NRV = Market Price - Estimasi biaya yg diperlukan untuk menjual Jenis Brg A B C D Jumlah Jumlah Unit 200 400 300 500 1.500 9.700 Nilai Persediaan 1.000 4.000.

Macam-macam kurs ‡ Kurs menteri keuangan : kurs yg ditetapkan oleh Menkeu yg ditetapkan tiap minggu ‡ Kurs realisasi : kurs yg sebenarnya terjadi pada waktu perusahaan merupiahkan valas atau pada waktu perusahaan membeli valas ‡ Kurs Bank Indonesia : kurs untuk mencatat utang piutang serta transaksi dalam valuta asing. Yang digunakan adalah kurs tengah BI yang merupakan rata-rata antara kurs jual dan kurs beli 107 .

PPN-import.Kurs Menteri Keuangan ‡ Digunakan untuk penghitungan pajak-pajak yang terutang dalam valuta asing yang harus terlebih dahulu di nilai ke dalam mata uang rupiah ‡ Perhitungan bea masuk. PPh pasal 22 sesuai dengan tanggal PIB ‡ Penghitungan PPN dan PPn BM sesuai tanggal faktur pajak ‡ Penghitungan PPh pasal 21 atau PPh pasal 26 apabila penghasilan diterima dlm mata uang asing ‡ Penghitungan pajak ekspor ‡ Penghitungan Pajak final yang dibayarkan dlm valuta asing 108 .

Pengakuan Selisih Kurs menurut Akuntansi Pajak ‡ Keuntungan dan/atau kerugian yang diperoleh karena fluktuasi kurs mata uang asing diakui berdasarkan sistem pembukuan yang dianut dan dilakukan secara taat asas sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia * Penjelasan pasal 4 ayat(1) huruf l UU PPh ‡ laba selisih kurs merupakan objek Pajak Penghasilan dan kerugian selisih kurs merupakan Biaya yang dapat dikurangkan sebagai Pengurang Penghasilan Bruto 109 .

memperoleh atau melepaskan aktiva. menimbulkan atau melunasi kewajiban dan yang lainnya ‡ Transaksi dalam mata uang asing dibukukan dengan menggunakan kurs pada saat terjadinya transaksi 110 .Transaksi dalam mata uang asing ‡ Transaksi yang didenominasi atau membutuhkan penyelesaian dalam suatu mata uang asing misalnya membeli atau menjual barang atau jasa. meminjam atau meminjamkan dana.

000 ‡ Jurnal : Piutang 475.000.Kasus 1 ‡ Tanggal 1 November 2009.000 111 .000 X 9.000 Penjualan 475.500 = Rp 475.000.500 ‡ Pengakuan penjualan dan piutang dalam Rupiah = US$ 50.000. Kurs tengah BI yang berlaku tanggal tersebut 1 US$ = Rp 9.000. PT Pondok Aren melakukan penjualan ekspor dengan nilai US$ 50.

000. Kurs tanggal tersebut 1US$ = 9.000 secara kredit.700 = Rp 970.000 112 .700 ‡ Pengakuan nilai Mesin dan Hutang ( PPN dan Bm diabaikan) :US$ 100.000.000 X 9.Kasus 2 ‡ Tanggal 15 November 2009 PT Pondok Aren melakukan impor mesin (Aset Tetap) dari Cina seharga US$ 100.000 Hutang 970.000 ‡ Jurnal : Mesin 970.000.

Pos non-moneter tidak boleh dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal neraca tetapi tetap harus dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal transaksi. maka dapat digunakan kurs tengah Bank Indonesia sebagai indikator yang obyektif. Apabila terdapat kesulitan dalam menentukan kurs tanggal neraca.Pelaporan akhir tahun ‡ Pos aktiva dan kewajiban moneter dalam mata uang asing dilaporkan ke dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs tanggal neraca. dan Pos non-moneter yang dinilai dengan nilai wajar dalam mata uang asing harus dilaporkan dengan menggunakan kurs yang berlaku pada saat nilai tersebut ditentukan ‡ ‡ 113 .

114 . berapa laba atau rugi selisih kurs apabila kurs pada akhir tahun 2009 adalah sebesar Rp9.800 per US$1 ‡ Buat ayat jurnal penyesuaian dan penyajian dalam neraca.Pelaporan akhir tahun ‡ Dari 2 kasus sebelumnya.

Piutang.Tran aksi Pos (Accoun ) alam Valuta Asing Pelaporan Pada Tgl Neraca Laporan Laba Rugi Pengakuan Awal os oneter : as/ ank. ekuitas Dibukukan dg urs saat terjadi transaksi Dilaporkan tetap menggunakan kurs pada tanggal Transaksi 115 . utang. akti a tetap. Dibukukan dg urs saat terjadi transaksi Dilaporkan dg menggunakan kurs pada tanggal Neraca Selisih kurs Diakui sebagai ain/ Loss) tahun berjalan Pos non moneter : Persediaan.

Pengakuan Selisih urs nd of periode Transaction Date Settlement Date Settlement Date 1/6 09 1/9 09 Pengakuan Laba (Rugi) urs 31/12 09 1/6 10 Pengakuan Laba (Rugi) urs Satu periode akuntansi elewati satu periode akuntansi Pengakuan Laba (Rugi) urs 116 .

03/2008 ‡ Meningkatkan nilai perusahaan shg memudahkan perusahaan dalam proses pencarian dana.Revaluasi Aktiva Tetap PMK No:79/PMK. baik melalui pinjaman maupun penjualan saham ‡ Meningkatkan biaya penyusutan aktiva tetap dimasa mendatang ‡ Meningkatkan keakuratan perhitungan penghasilan maupun biaya sehingga mencerminkan kemampuan perusahaan yang sebenarnya dalam menghasilkan laba ‡ Agar neraca perusahaan menunjukkan posisi kekayaan perusahaan yang sebenarnya 117 .

tidak berhak melakukan revaluasi karena tidak terjadi pemisahan harta antara harta pribadi dan harta perusahaan. Termasuk WP Badan yang menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata uang dollar amerika serikat 118 .Subyek revaluasi ‡ WP Badan dalam negeri termasuk BUT yang menggunakan pembukuan setelah memenuhi semua kewajiban pajaknya sampai dengan masa pajak terakhir sebelum dilakukan revaluasi ‡ WP Orang Pribadi dalam negeri walaupun menggunakan pembukuan.

termasuk tanah yang berstatus hak milik atau hak guna bangunan atau ‡ Seluruh aktiva tetap berwujud tidak termasuk tanah. dan dipergunakan untuk 3M penghasilan yang merupakan objek pajak ‡ Penilaian kembali dapat dilakukan setelah lewat jangka waktu 5 tahun terhitung sejak penilaian kembali aktiva tetap perusahaan terakhir yang dilakukan berdasarkan peraturan Menteri Keuangan 119 . yang terletak atau berada di Indonesia. dimiliki.Obyek Revaluasi ‡ Semua aktiva tetap berwujud.

Pengajuan permohonan ‡ Wajib pajak mengajukan permohonan kepada Dirjen Pajak ‡ Dirjen Pajak diberi wewenang untuk menerbitkan surat keputusan penilaian kembali aktiva tetap perusahaan atas permohonan Wajib Pajak tersebut 120 .

Nilai pasar atau nilai wajar ‡ Penilaian kembali aktiva tetap harus dilakukan berdasarkan nilai pasar atau nilai wajar aktiva tetap tersebut yang berlaku pada saat penilaian kembali yang ditetapan perusahaan penilai yang telah mendapat izin dari pemerintah ‡ Apabila nilai pasar tersebut tidak mencerminkan keadaan sesungguhnya. Dirjen Pajak dapat menetapkan kembali nilai pasarnya ‡ Penilaian kembali dilakukan dalam jangka waktu paling lama 1 tahun sejak tanggal laporan perusahaan penilai 121 .

Penghitungan PPh Final Revaluasi ‡ Selisih lebih revaluasi dihitung dengan mengurangkan nilai pasar aktiva (hasil penilaian) dengan nilai sisa buku fiskal ‡ PPh yang harus dibayar adalah 10% x selisih lebih revaluasi dan bersifat final ‡ Apabila wajib pajak tidak dapat melunasi sekaligus PPh yang terutang dapat mengajukan permohonan pembayaran angsuran paling lama 12 bulan sesuai dengan UU KUP 122 .

Contoh kasus (dalam jutaan)
‡ Pada tanggal 1 januari tahun 2009 PT ABC melakukan penilaian kembali. Berapa PPh final atas revaluasi ? Akt NBF Nilai Sel tetap pasar lebih Tana h Ban gnan Mesi n Juml ah 2000 2500 200 450 500 250 7000

1000 8000

3200 10950 7750
123

Jawaban
‡ PPh revaluasi akt tetap 10% x 7750 juta = 775 juta (final) ‡ Jumlah tersebut dapat diangsur oleh wajib pajak paling lama 12 bulan dengan mengajukan permohonan sesuai dengan pasal 9 ayat (4) UU KUP

124

Perlakuan aktiva tetap setelah direvaluasi
‡ Dasar penyusutan fiskal aktiva tetap adalah nilai pada saat penilaian kembali ‡ Masa manfaat aktva menjadi kembali mulai nol tahun ‡ Tidak boleh dialihkan dalam jangka waktu sebelum masa manfaat berakhir untuk kelompok 1 dan 2 serta sebelum lewat jangka waktu 10 tahun untuk kelompok 3 dan 4, bangunan dan tanah ‡ Apabila terjadi pengalihan, atas selisih lebih penilaian kembali diatas NSBF semula, dikenakan tambahan PPh yang bersifat final dengan tarif tertinggi PPh WP Badan DN yang berlaku saat penilaian kembali dikurangi 10% ‡ Selisih antara nilai pengalihan aktiva dengan NSBF merupakan keuntungan atau kerugian berdasarkan ketentuan PPh
125

‡ Pengalihan yang bersifat force majeur berdasarkan keputusan atau kebijakan pemerintah atau keputusan pengadilan ‡ Pengalihan aktiva tetap perusahaan dalam rangka penggabungan. 126 .Pengecualian pengalihan . peleburan atau pemekaran usaha yang mendapat persetujuan ‡ Penarikan aktiva tetap perusahaan dari penggunaan karena mengalami kerusakan berat yang tidak dapat diperbaiki lagi.

‡ Dalam hal selisih lebih secara fiskal melebihi selisih lebih secara komersial. ‡ Pemberian saham bonus atau pencatatan tambahan nilai saham tanpa penyetoran yang berasal dari kapitalisasi selisih lebih. dibukukan dalam perkiraan Selisih lebih penilaian kembali aktiva tetap perushaaan tanggal . dan termasuk dalam kelompok modal.. sampai dengan sebesar selisih lebih penilaian kembali secara fiskal bukan merupakan obyek pajak.Perlakuan aktiva tetap setelah direvaluasi ‡ Selisih lebih penilaian kembali aktiva perusahaan di atas nilai sisa buku komersial semula. maka pemberian saham bonus atau pencatatan tamabahan nilai nominal saham tanpa penyetoran yang bukan merupakan obyek pajak hanya sampai dengan sebesar selisih penilaian kembali secara komersial 127 .

Sewa guna usaha (leasing) ‡ Sewa guna usaha tanpa hak opsi (operating lease) ‡ Sewa guna usaha dengan hak opsi (finance lease) ‡ Periode leasing dapat meliputi jangka waktu beberapa tahun 128 .

Kepemilikan barang masih berada ditangan pihak lessor sehingga yg berhak menyusutkan barang adalah lessor. ‡ 129 .SGU tanpa hak opsi Sewa guna usaha tanpa hak opsi (operating lease) yaitu : 1. Jumlah pembayaran SGU selama masa SGU tdk dapat menutupi harga perolehan barang modal yang di SGU kan ditambah keuntungan yg diperhitungkan oleh lessor 2. Perjanjian SGU tdk memuat ketentuan mengenai opsi bagi lessee 3.

Perlakuan Perpajakan Lessor Seluruh pembayaran sewa yg diterima obyek PPh pasal 23 Menyusutkan aktiva yg di SGU karena kepemilikan Memungut PPN jasa sewa yang diberikan Lesse Biaya sewa yg dibayar/ terutang boleh menjadi pengurang Tidak boleh menyusutkan karena milik lessor Memotong PPh ps 23 sesuai tarif 130 .

000.000.Kasus ‡ PT. X (lessor) meng-SGU-kan mesin gol II dg harga Rp200jt kepada PT. ‡ Jumlah pembayaran adalah Rp192 jt lebih kecil dari 200jt. Pembayaran perbulan Rp8. karena tidak klausul untuk memiliki maka termasuk operating lease 131 . Z(lessee) jangka waktu leasing 24 bulan dan nilai sisa barang setelah periode leasing adalah nihil.

000 a Bayar PPN 800.000. X 8.000 Penyusuta Tidak ada n 132 Penyusuta Sesuai n metode .Jawaban Lessor Terimasew a Pungut PPN Dipotong PPh ps 23 Diterima PT. Z Bayarsew 8.640.000 160.000 Lessee PT.000 PPh ps 23 Dibayar 8.000 8.000.000 Memotong 160.000 800.640.

SGU dengan hak opsi ‡ 1. 4. 133 . 3. Sewa guna usaha dengan hak opsi (finance lease) yaitu : Jumlah pembayaran SGU selama masa SGU ditambah nilai sisa harus menutup harga perolehan barang modal dan keuntungan lessor Masa SGU ditetapkan sekurang2nya 2 th utk gol I. 3 th utk gol II dan III dan 7 tahun utk gol bang Perjanjian SGU memuat ketentuan mengenal hak opsi bagi lessee Lessor berniat menjual barang dengan menghitung jumlah seluruh angsuran lebih besar dari harga pokok barang 2.

Perlakuan perpajakan Lessor Ph yg menjadi obyek PPh adl seluruh pembayaran Tidak ada penyusutan Dapat membentuk cad piutang ragu-ragu raguKerugian dibebankan pd akm.piutang ragu2 Besarnya PPh pasal 25 triwulanan Jasa pembiayaan tdk terutang PPN.cad. Penyerahan terutang PPN Lessee Seluruh pembayaran boleh menjadi pengurang Tidak ada penyusutan Tidak memotong PPh pasal 23 atas angsuran Tidak dipungut PPN 134 .

2.000. pembayaran terdiri dari pokok Rp.445 Ada klausul opsi bagi lessee untuk membeli 135 .555 dan bunga Rp.555.5. Z(lessee) jangka waktu leasing 36 bulan dan nilai sisa barang setelah periode leasing adalah nihil. Pembayaran perbulan Rp8.Kasus ‡ PT. X (lessor) meng-SGU-kan mesin gol II dg harga Rp200jt kepada PT.444.000.

445 bunga Terimapokok 5.jawaban Lessor PT X Lessee PT Y Mencatat 288 juta piutang Terima 2.555 Jumlah 8.000 Byr sewa 8.444.000.555.5% x PPh pnyisihan saldo piut pasal 23 piut .000.000 Tidak memungut 136 Penyusutan Tidak ada Penyusut Tidak ada Debet biaya 2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful