KEBIJAKAN KEBIJAKAN

PENGEMBANGAN INDUSTRI MIGAS YANG RAMAH LINGKUNGAN PENGEMBANGAN INDUSTRI MIGAS YANG RAMAH LINGKUNGAN
( (GREEN OIL & GAS INDUSTRY INITIATIVE) GREEN OIL & GAS INDUSTRY INITIATIVE)
DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
DRAFT AWAL DRAFT AWAL
25 Juni 2008 25 Juni 2008
· · ZZero ero FFlare lare
· · Zero Zero D Discharge ischarge
· · Zero Waste Zero Waste
· · Clean Clean A Air ir
· · Clean Water Clean Water
· · Go Go R Renewable enewable
DAFTAR ISI
Hal
KATA PENGANTAR............................................. i
DAFTAR ÌSÌ ................................................ Ìi
1. LATAR BELAKANG ........................................
1.1 Kondisi Saat Ìni............................................
1.2 Lingkungan Strategis.........................................
1.3 Konsepsi ................................................
2. RUANG LÌNGKUP...........................................
3. PELUANG DAN KENDALA......................................
3.1 Peluang ...............................................
3.2 Kendala ...............................................
4. VÌSÌ DAN MÌSÌ.............................................
4.1 Visi ................................................
4.2 Misi................................................
5. TUJUAN DAN SASARAN........................................
6. KEBÌJAKAN DAN STRATEGÌ.....................................
7. LANGKAH- LANGKAH..........................................
8. ÌNSTRUMEN KEBÌJAKAN........................................
9. REGULASÌ................................................
10. PROGRAM ................................................
10.1 Program Jangka Pendek (5 Tahun)...................................
10.2 Program Jangka Panjang (sampai dengan 2020) ..............................
11. KELEMBAGAAN.............................................
11.1 Kewenangan...............................................
11.2 Jejaring ................................................
MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
SAMBUTAN
Untuk mewujudkan sistem penyediaan dan pemanfaatan migas yang andal, aman dan akrab lingkungan dapat
ditempuh dengan memadukan konsep optimasi pemanfaatan migas dan Gas Metana Batubara (GMB), membudayakan
pemanfaatan BBM (Bahan Bakar Minyak) dan BBG (Bahan Bakar Gas) yang efisien, pemanfaatan gas flare menjadi LPG
dan CNG, konsep zero flare. Di samping bisa memanfaatkan untuk kebutuhan energi, di sisi lain dapat menurunkan emisi
gas rumah kaca (GRK) yang diatur dalam Kyoto Protokol tahun 1997 dan telah diratifikasi oleh Ìndonesia melalui UU No.
17 Tahun 2004 dan secara bertahap disubsititusi dengan Bahan Bakar Nabati (BBN), selain itu juga diupayakan tidak
membuang ke lingkungan tapi direinjeksikan kembali ke dalam formasi melalui sumur-sumur yang tidak berproduksi
dengan penerapan konsep zero discharge dan selanjutnya akan kita sebut sebagai "Green Oil & Gas Industry Initiative
(GOGII), yang sejalan dengan kebijakan Energi Hijau (Green Energy). Sebagaimana kita ketahui, sistem penyediaan dan
pemanfaatan energi yang berkelanjutan telah menjadi agenda internasional yang telah disepakati pada Konferensi Tingkat
TÌnggi Pembangunan Berkelanjutan (World Summit on Sustainable Development) di Johannesburg, Afrika Selatan pada
bulan September 2002.
Sehubungan dengan hal tersebut, kami menyambut baik penyusunan GOGÌÌ yang proses penyusunannya
dilakukan secara bersama dan melalui partisipasi aktif para stakeholders sehingga dihasilkan suatu kesamaan visi, misi,
pola pikir, strategi dan kebijakan yang perlu ditempuh dalam sistem penyediaan dan pemanfaatan migas untuk
mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan. Dengan demikian, "Ìnitiative¨ ini akan merupakan milik kita
bersama untuk dijadikan pedoman, dalam implementasi pengembangan industri migas nasional.
Jakarta, 2008
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
Purnomo Yusgiantoro
1. LATAR BELAKANG
1.1. Kondisi Saat Ìni
1. Energi fosil khususnya minyak bumi, merupakan sumber energi utama dan sumber devisa negara. Kenyataan
menunjukkan bahwa cadangan energi fosil yang dimiliki Ìndonesia jumlahnya terbatas. Sementara itu, konsumsi
energi terus meningkat sejalan dengan laju pertumbuhan ekonomi dan pertambahan penduduk.
2. Di samping itu energi fosil dianggap penyumbang terbesar pemanasan global, gas rumah kaca (GRK)
3. Potensi energi terbarukan seperti: biomassa, panas bumi, energi surya, energi air, energi angin, dan energi
samudera, sampai saat ini belum banyak dimanfaatkan. Hal itu terutama karena harga energi terbarukan belum
kompetitif dibandingkan dengan harga energi fosil sebagai akibat belum dikuasainya teknologi pengembangan energi
terbarukan dan belum dilaksanakannya kebijakan harga energi yang mendorong pengembangannya serta
pemanfaatan gas flare.
4. Ìndustri migas di Ìndonesia telah berlangsung lebih kurang seratus tahun sebagaimana industri minyak bumi
cenderung menurun terus. Laporan-laporan perkembangan produksi migas hingga saat ini, muncul harapan baru
dengan adanya GMB (Gas Metan Batubara) ke depan, bahan bakar nabati yang terbarukan.
5. Untuk mendorong pengembangan dan pemanfaatan migas yang andal, aman dan akrab lingkungan dan demi
meningkatkan efisiensi pemakaian BBM dan BBG di Ìndonesia, diperlukan kebijakan pengelolaan sumber daya alam
migas sebagai acuan penyediaaan dan pemanfaatan bahan bakar minyak dan gas untuk mendukung pembangunan
yang berkelanjutan.
1.2. Lingkungan Strategis
6. Adanya perubahan lingkungan strategis di tingkat nasional, regional, dan global; seperti pemberian kewenangan yang
lebih besar kepada daerah, diberlakukannya AFTA 2003, APEC 2020, dan yoto Protocol, akan mempengaruhi
paradigma penyediaan dan pemanfaatan energi pada masa yang akan datang.
7. Perkembangan dunia yang sangat berpengaruh terhadap arah pembangunan energi adalah globalisasi terutama
dengan diterapkannya perdagangan bebas (trade liberalization), AFTA pada tahun 2003 dan APEC tahun 2010 untuk
negara maju dan tahun 2020 untuk negara berkembang. Dengan diterapkannya perdagangan bebas akan
mendorong terjadinya persaingan antar sesama negara, baik antara negara maju dengan negara berkembang
maupun antara negara berkembang dengan negara berkembang lainnya. Ìmplikasinya adalah daya saing semua
produk Ìndonesia harus ditingkatkan agar dapat berkompetisi di pasaran dalam negeri dan internasional.
DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI
8. Perdagangan bebas juga dapat membuka peluang bagi produk Ìndonesia di pasaran internasional dan membuka
peluang untuk ekspor jasa dan teknologi energi. Peluang itu perlu diantisipasi secara lebih mendasar mengingat
sampai saat ini pemikiran ke arah itu belum mendapatkan perhatian yang memadai.
9. Undang-Undang Migas, Undang-Undang Lingkungan Hidup dan Undang-Undang Energi merupakan acuan dalam
pelaksanaan "Green Oil and Gas Industry Initiative¨
10. Kegiatan perkembangan industri migas, sejak penyediaan sampai ke pemanfaatannya bahkan sampai pasca operasi,
apabila tidak dikelola dengan baik berpotensi memberikan dampak negatif terhadap perubahan fungsi lingkungan
hidup.
11. Perubahan iklim dunia; yang diyakini oleh sebagian besar pakar lingkungan dunia sebagai salah satu dampak
pemanasan global, merupakan isu utama di bidang lingkungan hidup yang dapat disebabkan, terutama karena
pemanfaatan energi oleh manusia termasuk pemanfaatan gas sisa di flare. Dalam hal pemanasan global itu,
Ìndonesia telah meratifikasi United Nation Framework Convention on Climate Change melalui Undang-Undang No.6
Tahun 1994, tentang Pengesahan United Nation Framework Convention on Climate Change (Konvensi Kerangka
Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Ìklim) dan Kyoto Protokol melalui UU No. 17 Tahun 2004
tentang Ratifikasi Kyoto Protokol.
12. Semua perubahan lingkungan strategis tersebut akan berimplikasi terhadap pembangunan di sektor migas dan GMB
energi, di antaranya kebijakan migas dan GMB yang mempertimbangkan keselarasan antara kepentingan daerah dan
nasional, serta harus memperhatikan lingkungan hidup dan efisiensi energi. Untuk itu, pengembangan industri migas
yang ramah lingkungan perlu diterapkan .
DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI
1.3. Konsepsi
13. Kebijakan pengembangan industri migas yang ramah lingkungan adalah suatu konsep untuk mewujudkan sistem
penyediaan dan pemanfaatan migas dan GMB yang berkelanjutan yang dapat mendorong tercapainya pembangunan
nasional berkelanjutan melalui pemanfaatan migas dan GMB yang efisien, penggunaan teknologi energi yang efisien
dan membudayakan pola hidup hemat energi. Yang dimaksud dengan pembangunan berkelanjutan adalah
pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan nasional (generasi saat ini) serta mampu mengkompromikan dengan
kebutuhan generasi yang akan datang.
14. Untuk mencapai tujuan ini perlu penerapan kewajiban bagi pelaku energi, untuk memanfaatkan migas serta gas flare
dan GMB dan kewajiban pengguna BBM dan BBG untuk melakukan efisiensi penggunaan bahan bakar tertentu.
15. Untuk mewujudkan penyediaan dan pemanfaatan BBM dan BBG yang andal, aman dan akrab lingkungan diperlukan
kebijakan yang kondusif yang didukung dengan kemandirian finansial, teknologi dan sumber daya manusia.
a. Kemandirian finasial, yaitu penggunan migas dan GMB tidak memerlukan bantuan dari sektor lain;
pembiayaan operasionalnya dapat dilakukan sendiri;
b. Kemandirian teknologi, peningkatan kemampuan teknologi nasional dalam penyediaan barang dan jasa
sehingga kandungan lokal teknologi nasional dalam sistem energi makin besar;
c. Kemandirian sumber daya manusia (SDM), yaitu peningkatan kemampuan SDM dalam negeri di bidang energi
yang melibatkan masyarakat secara aktif;
d. Kemampuan untuk mengelola sumber daya manusia, teknologi dan finansial .
DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI
2. RUANG LÌNGKUP
16. Ruang lingkup kebijakan pengembangan industri migas yang ramah lingkungan meliputi pengembangan migas, GMB
dan pemanfaatan gas flare serta pengelolaan limbah dengan cara injeksi.
17. Minyak Bumi adalah hasil proses alami berupa hidrokarbon yang dalam kondisi tekanan dan temperatur atmosfer
berupa fasa cair atau padat, termasuk aspal, lilin mineral, atau ozokerit, dan bitumin yang diperoleh dari proses
penambangan, tetapi tidak termasuk batu bara atau endapan hidrokarbon lain yang berbentuk padat diperoleh dari
kegiatan yang berkaitan dengan kegiatan usaha dan minyak bumi
18. Gas Bumi adalah hasil proses alami berupa hidrokarbon yang dalam kondisi tekanan dan temperatur atmosfer berupa
fase gas yang diperoleh dari proses penambangan minyak dan gas bumi
19. Gas Metana Batubara adalah
20. Konservasi energi adalah penggunaan energi secara efisien dan rasional tanpa mengurangi penggunaan energi yang
memang benar-benar diperlukan. Upaya konservasi energi diterapkan pada seluruh tahap pemanfaatan, mulai dari
pemanfaatan sumber daya energi sampai pada pemanfaatan akhir, dengan menggunakan teknologi yang efisien dan
membudayakan pola hidup hemat energi.
3. PELUANG DAN HAMBATAN (KENDALA)
18. Potensi minyak bumi di Ìndonesia yang belum dieksplorasi atau diproduksi sehingga mempunyai peluang untuk
dikembangkan. Dilihat dari perkembangannya, pemanfaatan minyak bumi (pemanfaatan energi) di Ìndonesia, dapat
dibedakan menjadi tiga, yaitu:
a) Minyak bumi yang sudah dieksploitasi.
b) Minyak bumi yang sudah diketahui cadangannya melalui eksplorasi
c) Minyak bumi yang sudah diketahui cadangannya melalui seismik
3.1.1 Minyak Bumi/Bahan Bakar Minyak (BBM)
3.1. Peluang
DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI
Energi biomassa meliputi kayu, limbah pertanian/ perkebunan/hutan, komponen organik dari industri dan rumah
tangga, kotoran hewan Biomassa dikonversi menjadi energi dalam bentuk bahan bakar cair, gas, panas dan listrik
Teknologi konversi biomassa menjadi bahan bakar padat, cair dan gas, antara lain teknologi pirolisa (bio-oil),
esterifikasi (bio-diesel), teknologi fermentasi (bio-etanol), anaerobik digester (biogas) Dan teknologi konversi
biomassa mejadi energi panas yang kemudian dapat diubah menjadi energi mekanis dan listrik, antara lain teknologi
pembakaran dan gasifikasi
Sebagai negara agraris, Indonesia mempunyai potensi energi biomassa yang besar Pemanfaatan energi biomassa
sudah sejak lama dilakukan dan termasuk energi tertua yang peranannya sangat besar khususnya di pedesaan
Diperkirakan kira-kira 35 % dari total konsumsi energi nasional berasal dari biomassa Energi yang dihasilkan telah
digunakan untuk berbagai tujuan antara lain untuk kebutuhan rumah tangga (memasak dan industri rumah tangga),
penggerak mesin penggiling padi, pengering hasil pertanian dan industri kayu, pembangkit listrik pada industri kayu
dan gula
Tenaga air dibagi dalam tiga kategori yaitu skala besar, mini, dan mikro Belum ada ketentuan secara jelas mengenai
pembagian skala tersebut Tampaknya setiap negara mempunyai ukuran yang berbeda Namun, secara umum
tenaga air (hidro) skala besar mempunyai kapasitas di atas MW, mini berkapasitas kW sampai MW, dan
mikro berkapsitas samai kW
3 Energi yang terkandung dalam gelombang, berkisar antara -7 kW/m, yang diukur pada rata-rata garis depan
gelombang, artinya gelombang pantai sepanjang km dapat menghasilkan daya sekitar -7 MW Jika daya
tersebut dikonversikan menjadi listrik dengan efisiensi 5%, akan dihasilkan listrik sebesar -35 MW Sedangkan
potensi energi pasang surut dan perbedaan suhu, secara umum dapat memberikan harapan yang baik, tetapi
penelitian lebih lanjut perlu terus dilakukan
DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI
23. Potensi konservasi energi di semua sektor memiliki peluang penghematan yang sangat besar yaitu antara 10%-30%.
Penghematan ini dapat direalisasikan dengan cara yang mudah dengan sedikit atau tanpa biaya. Dengan cara itu
penghematan yang dapat dicapai sekitar 10-15%, apabila menggunakan investasi, penghematan dapat mencapai
30%.
24. Pemanfaatan gas bumi energi yang efisien dapat dicapai melalui kegiatan:
a) Penggunaan teknologi pemanfaatan limbah gas/gas flare hemat energi dalam penyediaan, baik dari sumber
terbarukan maupun sumber tak terbarukan;
b) Penerapan budaya hemat energi dalam pemanfaatan energi.
Penerapan konservasi energi meliputi perencanaan, pengoperasian, dan pengawasan dalam pemanfaatan energi.
3.1.2 Gas Bumi/Bahan Bakar Gas (BBG)
25. Penggunaan teknologi pemanfaatan GMB
3.1.3 Gas Metana Batubara (GMB)
3.2. Hambatan
26. Pemanfaatan teknologi pemanfaatan BBN
27. Ketersediaan Bahan Baku
28. Pengembangan teknologi BBN dengan pemanfaatan bahan baku non pangan
3.1.4 Bahan Bakar Nabati (BBN)
DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI
28. Visi kebijakan pengembangan industri migas yang ramah lingkungan (GOGÌÌ) adalah terwujudnya penyediaan dan
pemanfaatan energi yang andal, aman, akrab lingkungan dan efisien dalam menunjang pembangunan berkelanjutan.
4. VÌSÌ DAN MÌSÌ
4.1 Visi
29. Berdasarkan visi tersebut di atas, misi kebijakan pengembangan industri migas yang ramah lingkungan adalah:
a) Menjaga kesinambungan ketersediaan BBM dan BBG yang berkelanjutan (security of supply);
b) Secara bertahap beralih ke pemanfaatan Bahan Bakar yang terbarukan;
c) Mendorong pemanfaatan gas flare
d) Mendorong pemanfaatan teknologi yang efisien;
e) Mendorong terciptanya budaya hemat BBM dan BBG;
f) Meningkatkan penguasaan teknologi BBN;
g) Meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dan dunia usaha dalam penyediaan dan pemanfaatan
bahan bakar terbarukan;
h) Mewujudkan pemerataan kesejahteraan masyarakat;
i) Mendorong minimalisasi pembuangan limbah migas ke lingkungan;
j) Meningkatkan kualitas SDM dalam penguasaan teknologi bahan bakar migas dan bahan bakar lain
4.2 Misi
DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI
5. TUJUAN DAN SASARAN
30. Tujuan pengembangan industri migas yang ramah lingkungan adalah untuk mewujudkan penyediaan dan
pemanfaatan bahan bakar migas dan bahan bakar lain dalam mendukung tercapainya pembangunan berkelanjutan.
31. Sasaran yang hendak dicapai adalah:
A. Demand side
· Menurunkan pemanfaatan minyak bumi dalam bauran energi pada tahun 2025 menjadi lebih kecil dari 20%
· Bahan bakar yang memenuhi kriteria Euro 4 pada tahun 2012
· Terwujudnya produk fine chemical dari minyak dan gas bumi pada tahun ....
· Tercapainya penggunaan Bahan Bakar Gas untuk tranportasi umum pada tahun ....
· Pemanfaatan bahan bakar nabati dalam bauran energi pada tahun 2025 minimal sebesar 5%
B. Supply side
· Terwujudnya jaringan gas nasional tahun ..
· Terwujudnya jaringan minyak nasional tahun ..
· Tersedianya Biodiesel, bioetanol dan minyak nabati murni untuk sektor transportasi , industri dan pembangkit
listrik tahun ....
· Terwujudnya swasembada bahan bakar minyak tahun ...
32. Untuk mencapai tujuan dan sasaran pengembangan industri migas yang ramah lingkungan, strategi yang akan
ditempuh adalah:
a) Menetapkan harga energi sesuai dengan keekonomiannya;
b) Mendorong pengembangan infrastruktur migas dan GMB yang berbasis kepada masyarakat;
c) Mendorong pemanfaatan gas flare
d) Memprioritaskan penggunaan Bahan Bakar Nabati (BBN);
e) Menerapkan prinsip-prinsip hemat BBM dan BBG;
f) Membudayakan sikap hidup hemat bahan bakar;
g) Meningkatkan peran stakeholder dalam pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (BBN);
h) Meningkatkan kerja sama di tingkat nasional, regional, dan internasional, terutama dalam rangka akses
informasi, pendanaan, dan alih teknologi;
i) Mendorong penggunaan barang dan jasa dalam negeri di bidang migas dan GMB;
j) Meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang migas dan GMB;
k) Meningkatkan usaha penunjang migas di dalam negeri;
l) Meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi migas dan GMB;
m) Mendorong pengurangan pembuangan limbah ke lingkungan;
6. STRATEGÌ
DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI
33. Kebijakan yang ditempuh untuk mendorong pengembangan industri migas yang ramah lingkungan adalah
mewajibkan pelaku usaha untuk menerapkan kaidah keteknikan yang baik dan prinsip-prinsip efisiensi dalam
penyediaan dan pemanfaatan BBM dan BBG dan menciptakan budaya hemat bahan bakar tersebut pada
masyarakat.
7. KEBÌJAKAN
38. Untuk melaksanakan kebijakan tersebut, ditempuh langkah-langkah berikut:
a. Menyusun kebijakan investasi dan pendanaan dan insentif dalam industri migas dan GMB;
b. Meningkatkan kompetensi sumber daya manusia bidang migas GMB;
c. Menetapkan kebijakan penetapan harga BBM dan BBG;
d. Meningkatkan akses informasi dalam usaha migas dan GMB;
e. Menerapkan standarisasi dan sertifikasi ketentuan pada SNÌ untuk peralatan pemanfaatan dan teknis di bidang
migas dan GMB.
f. Reward and punishment
7.1 Langkah-langkah
, Kebij,,n Invest,si d,n Pend,n,,n
39. Ìnvestasi di bidang minyak dan gas bumi serta GMB perlu terus ditingkatan secara lebih merata dengan memberikan
kesempatan seluas-luasnya kepada kalangan swasta, koperasi BUMN, dan badan usahan milik daerah (BUMD).
40. Kegiatan pengembangan migas dan GMB memerlukan dana yang besar. Untuk itu, perlu diciptakan suatu
mekanisme pendanan yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha di bidang migas dan GMB seperti dana bergulir,
dana jaminan (loan guarantee), pinjaman lunak, dan mikro kredit.
DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI
41. Untuk mendorong investasi di bidang migas dan GMB, perlu adanya beberapa kebijakan, antara lain:
a) Penciptaan iklim investasi yang memberikan rangsangan dalam segi finansial, moneter, dan fiskal;
b) Pemberian insentif investasi berupa mekanisme sistem investasi yang kondusif dan suku bunga rendah;
c) Peningkatan sistem dan mekanisme kemitraan di antara pelaku usaha dalam penyediaan dan pemanfaatan
migas dan GMB.
b Kebij,,n Insentif
42. Pada saat ini, kegiatan di bidang migas, BBN, GMB dan gas flare masih belum menarik. Untuk itu, agar kegiatannya
dapat ditingkatkan, diperlukan adanya berbagai insentif secara adil dan konsisten. Ìnsentif yang diperlukan,
diantaranya, seperti berikut:
a) Pemberian insentif pajak berupa penangguhan, keringanan dan pembebasan pajak pertambahan nilai, serta
pembebasan pajak bea masuk kepada perusahaan yang bergerak di bidang migas dan GMB;
b) Penghargaan kepada pelaku usaha yang berprestasi dalam menerapkan prinsip konservasi energi dan
pemanfaatan BBN;
c) Penghapusan pajak barang mewah terhadap peralatan industri migas dan GMB;
d) Memberikan dana pinjaman bebas bunga untuk bagian enjinering dari investasi pengembangan industri migas
dan GMB
43. Pemberian insentif fiskal dan non fiskal tertentu diatur melalui suatu peraturan pemerintah.
c Kebij,,n H,7, Miny, d,n G,s d,n GMB
44. Salah satu penghambat berkembangnya migas dan GMB secara optimal adalah adanya kebijakan subsidi harga
energi yang selama ini diterapkan. Untuk itu, agar keekonomian migas dan GMB dapat bersaing dengan energi
konvensional, perlu ditempuh kebijakan yang menyangkut harga BBM, BBG, BBN, energi, di antaranya melanjutkan
penghapusan subsidi harga BBM energi secara bertahap dan berencana.
DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI
d Kebij,,n St,nd,7is,si d,n Se7tifi,si
45. Standarisasi, sertifikasi dan akreditasi melalui benchmarking dengan lembaga/ industri unggulan terus dikembangkan
dan ditingkatkan agar dapat meningkatkan daya saing produk dan jasa Ìndonesia. Kebijakan penerapan standar
dengan penandaan dan pelabelan untuk produk teknologi migas dan GMB diterapkan dan disebarluaskan.
46. Tujuan pemberlakukan standar adalah untuk memberikan jaminan akan kualitas produk, baik produk migas dan GMB
energi maupun produk peralatan/ sistem migas dan GMB energi yang diproduksi di dalam negeri ataupun di luar
negeri, yang berhubungan dengan migas dan GMB. Dengan terciptanya standarisasi nasional diharapkan dapat
memberikan rasa aman kepada konsumen, penghematan menyeluruh pada produsen, dan dapat menjadi landasan
pemerintah dalam pembuatan peraturan.
47. Standar Nasional Ìndonesia (SNÌ) migas dan GMB yang menyangkut kesehatan, keamanan, keselamatan dan fungsi
lingkungan hidup diberlakukan sebagai standar wajib. Pemberlakukan standar wajib harus mempertimbangkan
kesiapan produsen, kesiapan lembaga sertifikasi/ laboratorium penguji, prosedur dan mekanisme.
48. Kegiatan standarisasi tidak dapat dipisahkan dari akreditasi dan sertifikasi. Kegiatan sertifikasi mempunyai fungsi
yang penting, terutama untuk memberikan kemudahan dalam pasar global, jaminan kualitas dalam perdagangan
produk dan jasa, dan sebagai alat proteksi bagi masuknya produk bermutu rendah atau tidak memenuhi standar.
e Kebij,,n Penin,t,n Ku,it,s Sumbe7 D,y, M,nusi,
49. Kualitas sumber daya manusia ditingkatkan secara berkesinambungan untuk mengikuti perkembangan yang makin
menuntut kecanggihan teknologi, efisiensi dan produktivitas yang tinggi serta kearifan di dalam menangani
permasalahan migas dan GMB, terutama dalam hal proses penguasaan dan alih teknologi.
50. Peningkatan kualitas sumber daya manusia dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan, baik di dalam maupun di luar
negeri, yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan, penelitian dan pengembangan, dan industri yang terkait.
Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (ÌPTEK) di bidang migas dan GMB perlu ditingkatkan sehingga tenaga-
tenaga tersebut mampu mengembangkan industri migas dan GMB dalam negeri yang tangguh. Selain itu,
profesionalisme sumber daya manusia di bidang jasa dan teknologi migas dan GMB yang mampu bersaing di
pasaran internasional perlu ditingkatkan.
DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI
f Kebij,,n Sistem Info7m,si Mi,s
51. Keberadaan dan fungsi pengeloaan informasi migas dan GMB secara berkesinambungan terus ditingkatkan dan
diterapkan, terutama untuk menciptakan koordinasi yang lebih baik dalam pembangunan migas dan GMB, dan
meningkatkan daya saing.
52. Data dan informasi perlu disusun dan dikelola secara terpadu. Untuk itu perlu diciptakan jaringan pengelolaan data
migas dan GMB (green energy and data management network) yang mampu mengumpulkan, mencatat, dan
menghimpun informasi yang berkaitan dengan migas dan GMB dan unsur yang terkait dengannya. Hubungan dan
koordinasi antara pusat dengan daerah, satu daerah dengan daerah lainnya, diperlukan untuk mewujudkan sistem
informasi yang terpadu.
Kebij,,n Peneiti,n d,n Penemb,n,n
53. Penelitian dan pengembangan di bidang migas dan GMB diarahkan utnuk meningkatkan kemampuan nasional di
bidang penguasaan iptek dalam rangka pengembangan industri yang berkaitan dengan jasa dan teknologi migas dan
GMB melalui kerja sama dengan lembaga atau industri penelitian dan pengembangan unggulan.
54. Pola pendekatan dilaksanakan secara serempak yang dimulai dengan memprioritaskan penelitian dan
pengembangan yang berkaitan dengan:
a) Teknologi migas dan GMB;
b) Penggunaan produksi barang dan jasa dalam negeri (local content)
Melalui kerja sama dengan lembaga atau industri penelitian dan pengembangan unggulan.
Kebij,,n Keemb,,,n
55. Fungsi lembaga yang menangani migas dan GMB perlu diperkuat. Untuk itu diperlukan beberapa kebijakan di
antaranya:
a) Mengembangkan dan memperkuat jejaring migas dan GMB pada tingkat nasional, regional, dan internasional;
b) Menyebarluaskan informasi tentang migas dan GMB, antara lain melalui kampanye, pendidikan dan pelatihan,
dan percontohan;
c) Meningkatkan pemahaman semua jajaran Pemerintah dalam hal sense of urgency dan bersinergi pada dan
antar lembaga Pemerintah dalam penerapan peraturan mengenai migas dan GMB.
DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI
56. Ìnstrumen kebijakan yang perlu ditempuh untuk mendukung pengembangan migas dan GMB adalah peraturan
perundang-undangan, harga migas dan GMB , serta pendidikan dan persuasi.
57. Berdasarkan pengalaman selama ini, instrumen peraturan perundang-undangan yang dapat digunakan adalah
insentif perpajakan, penangguhan pembayaran pajak pertambahan nilai, pembebasan bea masuk peralatan migas
dan GMB, tax holiday, dan kredit lunak.
58. Untuk mendukung pengembangan migas dan GMB, instrumen kebijakan lainnya yang diperlukan adalah harga nergi,
yaitu menerapkan harga migas dan GMB sesuai dengan keekonomiannya dengan mempertimbangkan biaya
lingkungan (externality)
7.2 Ìnstrumen Kebijakan
60. Untuk mengimplementasikan industri migas dan GMB, perlu adanya pengaturan aspek bisnis dan aspek keteknikan
migas dan GMB.
, Reu,si Bisnis
61. Tujuan regulasi bisnis adalah untuk mengimplementasikan industri migas secara komersial yang aman dan akrab
lingkungan. Objek yang diatur dalam pengaturan aspek bisnis adalah konsumen, produsen peralatan energi industri
penunjang, dan pengembang, dan aspek yang diatur adalah yang menyangkut perlindungan konsumen, pengusahaan,
usaha penunjang, dan perlindungan lingkungan.
62. Usaha penyediaan dan pemanfaatan migas dan GMB dapat dilakukan oleh badan usaha BUMN, BUMD, koperasi,
swasta dan perorangan yang memiliki izin usaha. Pelaksanaan usaha harus memenuhi persyaratan teknis yang
ditetapkan oleh menteri teknis, yaitu Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral serta harus memenuhi persyaratan
administratif.
63. Untuk meningkatkan pemanfaatan migas dan GMB, diberikan berbagai kemudahan di antaranya akses kepada
lembaga pendanaan, perolehan informasi untuk keperluan dalam melakukan studi kelayakan investasi, serta prosedur
pelaksanaannya. Untuk meningkatkan pemanfaatan migas dan GMB, untuk jangka waktu tertentu, mendapat perlakuan
khusus yang menguntungkannya.
64. Penegakan hukum dalam regulasi bisnis dilakukan melalui pemberian sanksi baik berupa sanksi administratif maupun
sanksi pidana. Sanksi akan dikenakan pada pelaku usaha penyediaan dan pemanfaatan migas dan GMB yang
melanggar peraturan yang ditetapkan.
7.3 Regulasi
DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI
b Reu,si Keteni,n
65. Tujuan regulasi keteknikan adalah untuk menjamin penyediaan dan pemanfaatan migas dan GMB yang berkualitas
tinggi, aman, andal, akrab lingkungan .
66. Obyek pengaturan keteknikan menyangkut produsen, konsumen, penelitian dan pengembangan, industri dan jasa
penunjang, serta pengembang. Aspek yang diatur adalah standarisasi produk, kompetensi tenaga teknik,
penggunaan teknologi, efisiensi pemanfaatan energi pada peralatan dan pemanfaatan migas dan GMB,
pengoperasian dan pemeliharaan, manajer energi (kompetensi keharusan memiliki manajer energi), konsumen energi
besar, dan konsumen dengan jumlah penggunaan energi tertentu.
67. Penggunaan teknologi migas dan GMB perlu diatur bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi perkembangan
teknologi lokal agar pada waktunya teknologi lokal dapat bersaing dengan teknologi impor dengan memperhatikan
dan mempertimbangkan urgensi serta kepentingan nasional agar kemandirian nasionla dalam konsep pembangunan
berkelanjutan dapat tercapai. Pengaturan dilakukan melalui penyaringan teknologi impor berdasarkan prinsip
kelayakan, keandalan, kandungan lokal, masa operasi, dampak lingkungan, ekonomi, dan sosial.
c Inf7,st7utu7 Tenooi
68. Ìnfrastruktur teknologi mencakup, antara lain sertifikasi personel, sertifikasi produk, sertifikasi badan usaha, dan
pelabelan. Setiap peralan dan pemanfaat migas dan GMB mencantumkan tingkat efisieni pemanfaatan energinya,
seperti pencantuman label efisiensi energi, sehingga konsumen mempunyai pilihan dalam menggunakan dan
memanfaatkan peralatan tersebut yang kebenaran tingkat efisiensinya didadasarkan pada hasil uji laboratorium.
DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI
69. Dalam upaya mewujudkan penyediaan bahan bakar yang berkelanjutan, diperlukan program yang berkesinambungan
dan terarah yang terdiri atas:
1. Program jangka pendek, yaitu program yang pelaksanaannya selesai dalam rentang waktu hingga 5 tahun,
2. Program jangka panjang, yaitu program yang pelaksanaannya selesai dalam rentang waktu 20 tahun.
8. PROGRAM
70. Program jangka pendek meliputi bidang-bidang berikut:
, Invest,si
1. melakukan sosialisasi dan promosi program-program penurunan pembakaran gas flare dan pemanfaatan karbon
dioksida, pemanfaatan Bahan Bakar Nabati kepada lembaga pendanaan, bank-bank dan lembaga penjamin dalam
negeri;
2. Mendorong dan membantu perdagangan karbon dengan CDM untuk membiayai investasi penurunan pembakaran
gas flare dan pemanfaatan karbon dioksida;
3. Mendorong dan membantu realisasi program zero discharge;
4. Meningkatkan produksi migas dengan metode Enhanched Oil Recovery
5. Mendorong dan membantu perdagangang karbon dengan CDM untuk membiayai investasi migas
6. Memberikan bantuan akses pada sumber pendanaan
7. Mempromosikan public private partnership program pemanfaatan BBN
8. Mengupayakan adanya kemudahan dalam hal perizinan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi migas di darat
maupun di lepas pantai
b Insentif
1. Menetapkan regulasi mengenai pemberian insetif, dalam bentuk insentif fiskal (PPN, bea masuk, PPN-BM, dsb)
untuk kegiatan zero flare, pemanfaatan karbon dioksida dan zero discharge;
2. Memberikan insentif investasi dalam kegiatan usaha hilir (terutama pembangunan kilang gas dari sumber
pemanfaatan gas flare).
3. Memberikan dana pinjaman bebas bunga untuk bagian enjineering dari investasi pengembangan BBN dengan
pemanfaatan bahan baku non pangan
8.1 Program Jangka Pendek (5 tahun)
DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI
c H,7, BBM d,n BBG
1. Melanjutkan penghapusan subsidi harga BBM dan BBG secara bertahap;
2. Melanjutkan program konversi minyak tanah ke LPG;
3. Memberikan harga premium bagi energi yang bersumber dari energi terbarukan.
d St,nd,7is,si d,n Se7tifi,si
1. Mendorong penyusunan standard nasional untuk peralatan yang digunakan dalam fasilitas untuk kegiatan
penurunan gas flare, pemanfaatan karbon dioksida dan zero discharge;
2. Mendorong penyusunan standar nasional peralatan dan instalasi kegiatan eksplorasi, produksi dan distribusi
migas dan GMB;
3. Mengupayakan pemberlakuan dan penerapan standar;
4. Melaksanakan sertifikasi peralatan, instalasi dan jasa;
5. Mendorong penyusunan dan pemberlakuan standar kompetensi untuk pelaksana teknis.
5 Sumbe7 D,y, M,nusi,
1. Peningkatan koordinasi internal instansi Pemerintah dalam pelaksanaan Program Nasional BBN;
2. Melaksanakan pelatihan dan pendidikan di dalam dan luar negeri, seminar, workshop, bimbingan teknis dan
lainnya;
3. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam penanganan kegiatan penurunan gas flare, pemanfaatan
karbon dioksida dan zero discharge.
e Info7m,si
1. Sosialisasi pemakaian Bahan Bakar Nabati;
2. Menyusun data base gas flare, karbon dioksida dan air terproduksi dan kegiatan pengurangannya;
3. Menyebarluaskan informasi mengenai kegiatan penurunan gas flare, pemanfaatan karbon dioksida dan zero
discharge melalui media cetak, elektronik, website, pameran dan lain-lain;
4. Melaksanakan seminar dan workshop;
DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI
Peneiti,n d,n Penemb,n,n
1. Pengembangan teknologi biodiesel dengan pemanfaatan bahan baku non pangan
2. Mendorong pengembangan teknologi pemanfaatan gas suar;
3. Memperluas sumber-sumber pendanaan untuk penelitian dan pengembangan teknologi yang aman, efektif dan
efisien di sektor migas dan GMB
4. Mengadakan program kemitraan antara lembaga penelitian dengan industri
Keemb,,,n Mi,s
1. Menciptakan jaringan kerja sama pengembangan kegiatan penurunan gas flare, pemanfaatan karbon dioksida
dan zero discharge pada tingkat nasional dan internasional;
2. Meningkatkan koordinasi antar lembaga pusat dan daerah untuk pelaksanaan program penurunan gas flare,
pemanfaatan karbon dioksida dan zero discharge.
3. Mengurangi hambatan "birokrasi¨ dan meningkatkan hubungan dengan instansi terkait untuk realisasi kegiatan
pemanfaatan gas flare, karbon dioksida dan program zero discharge.;
4. Menciptakan jaringan kerjasama antar stakeholder Migas
i Pen,tu7,n
1. Peraturan Pemberlakuan pengembangan Biodiesel
2. Menyiapkan perangkat peraturan perundang-undangan untuk memacu program penurunan gas flare,
pemanfaatan karbon dioksida dan zero discharge, antara lain:
a. Rancangan keputusan bersama MESDM dan MenKeu mengenai insentif;
b. Rancangan keputusan bersama MESDM dan Men LH mengenai harmonisasi pengaturan program penurunan
gas flare, pemanfaatan karbon dioksida dan zero discharge;
c. Rancangan keputusan MESDM mengenai pemberian penghargaan bagi BU/BUT yang mampu melaksanakan
progam penurunan gas flare, pemanfaatan karbon dioksida dan zero discharge dengan baik dan
berkelanjutan
DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI
71. Program jangka panjang merupakan lanjutan program jangka pendek dan program yang belum dapat dilaksanakan
dalam kurun waktu 5 (lima) tahun, yang meliputi, kewajiban penggunaan teknologi efisien dan ramah lingkungan pada
pengolahan sumber daya migas, komitmen energi efisiensi, dan harga BBM dan Gas. Program jangka panjang
meliputi:
1. Penerapan kewajiban pelaku energi untuk memanfaatkan Bahan Bakar Nabati;
2. Penerapan kewajiban penggunaan teknologi efisien dan ramah lingkungan;
3. Membentuk lembaga pendanaan untuk pembiayaan program konversi ke bahan bakar cair.
8.2 Program Jangka Panjang (sampai dengan 2020)
9. KELEMBAGAAN
72. Kewenangan kelembagaan yang mengatur migas tidak jelas. Kelembagaan yang memegang fungsi penting bagi
implementasi migas dan GMB adalah:
a) Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral selaku otoritas pembuat kebijakan bidang migas;
b) Departemen Keuangan selaku otoritas pembuat kebijakan fiskal;
c) Kementerian Lingkungan Hidup sebagai otoritas pembuat kebijakan bidang lingkungan;
d) Kementerian Riset dan Teknologi esbagai otoritas pembuat kebijakan bidang penelitian;
e) Pemerintah Daerah sebagai otoritas pembuat kebijakan energi daerah;
f) Badan dan pusat penelitian dan pengembangan sebagai pelaku kegaitan penelitian dan pengembangan;
g) Perguruan tinggi dan badan diklat sebagai pelaksana pendidikan di bidang migas dan GMB;
h) Para stakeholders migas dan GMB.
9.1 Kewenangan
DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI
73. Jejaring organisasi bidang migas dan GMB dimaksudkan sebagai upaya perwujudan sinergi dari semua stakeholders
dalam mencapai target program migas dan GMB. Berikut pelaku yang berperan dalam jejaring tersebut adalah:
A Peme7int,
1. Pembuat Kebijakan dan Regulasi:
· Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
c.q. Direktorat Jenderal MÌnyak dan Gas Bumi
2. Badan Pengatur Hilir (BPH Migas)
3. Badan Pelaksana Hulu (BP Migas)
9.2 Jejaring
DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI
B Pe,u Us,, Mi,s d,n GMB
1. BUMN
2. BUMD
3. Swasta
4. Koperasi
B Pe,u Us,,
1. BUMN
2. BUMD
3. Swasta
4. Koperasi
5. Swadaya Masyarakat
6. Lembaga Perbankan
DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI
C O7,nis,si Non-Peme7int, ,nt,7, ,in
DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI
LAMPIRAN
Policy: Energy Nix Target Policy: Energy Nix Target
OÌL
41%
GAS
21%
COAL
35%
GT
1%
HYDRO
2%
OIL
52%
GAS
29%
NRE
4%
COAL
15%
GAS
30%
Renew,be
5%
Biofue
5%
Geote7m,
5%
CTL
2%
OIL
20%
COAL
33%
2005 2005
2025 2025
2025 2025- -BAU BAU
PRESIDENTIAL DECREE NO 5 / 2006 PRESIDENTIAL DECREE NO 5 / 2006
OPTIMIZING ENERGY MIX (ENERGY POLICY) OPTIMIZING ENERGY MIX (ENERGY POLICY)
· · Reduce Oi Dependency Reduce Oi Dependency
· · Mo7e Renew,be Mo7e Renew,be
· · Reduce CO Reduce CO
2 2
Emission Emission
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
2006 2025
P
7
o
s
e
n
t
,
s
e
T,un
T,7et B,u7,n Ene7i
Batubara cair
Biofuel
Panas bumi
Energi lain
Batubara
Gas alam
Minyak bumi
J
u
t
a
J
u
t
a
b
a
r
r
e
|

|

b
a
r
r
e
|

|

t
a
h
u
n
t
a
h
u
n
6hevron Pac|f|c 6hevron Pac|f|c
|ndones|a |ndones|a
6|60 6|60
KKK8 La|nnya KKK8 La|nnya
Peak Peak
1995 1995
Peak Peak
1977 1977
Perkembangan Produks| H|nyak ßum|: 19ôô-2007
30
'III ROADMAP
81 ROADMAP PENGGUNAAN BBM BERSUBSIDI DAN BAHAN BAKAR
ALTERNATIFNYA
Catatan:
- Mulai Oktober 2005 Minyak Solar untuk industri tidak lagi disubsidi
J
u
t
a

K
L
0
10
20
30
40
50
60
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
LGV BBG (Alt Premium) Biopremium PREMÌUM Gas Kota
LPG 3 Kg KEROSENE Biosolar BBG (Alt Solar) SOLAR
PREMIUM
KEROSENE
MINYAK
SOLAR
31
Catatan:
- Mulai Oktober 2005 Minyak Solar untuk industri tidak lagi disubsidi
J
u
t
a

K
L
PREMIUM
KEROSENE
MINYAK
SOLAR
0
10
20
30
40
50
60
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
PREMÌUM KEROSENE SOLAR LGV BBG (Alt Premium)
Biopremium Gas Kota LPG 3 Kg BBG (Alt Solar) Biosolar
PREMIUM
KEROSENE
MINYAK
SOLAR
Rata-rata
Penghem
atan
Penggun
aan BBM
adalah
sebesar
20 juta
KL per
tahun
82 PERKIRAAN PENGHEMATAN PENGGUNAAN BBM
'III ROADMAP
LANJUTAN.
KIGIATAN LSAHA MIGAS
BIRWAWASAN LINGKLNGAN
MINLNJANG PIMBANGLNAN
BIRKILANJLTAN
Memenohi Keselumutun Migus
Permusuluhun
KeIungkuun EnergI
KuuIILus Uduru (Globcl
Wcrminç
su Pencemurun
KonIIIk SosIuI
SosIuI EkonomI MusyurukuL
TeknoIogI PengeIoIuun ¡ImbuI
F
E
E
D
B
A
C
K
Keselumutun
Instulusi
Keselumutu
n Pekerju
Keselumutu
n Lmom
Keselumutu
n
Lingkongun
CREEN O1L AND CAS 1NDUSTRY
PINCIGAHAN
PINANGGLLANGAN PIMLLIHAN
CREEN O1L AND CAS 1NDUSTRY
P7oses ope7,si P7osedu7
Inspesi Penuji,n Pemei,7,,n
pe7,,t,n/ inst,,si/f,siit,s p7odusi
Sumbe7 D,y, M,nusi, Kompetensi d,n
Ku,ifi,si
Pe7,,t,n pen,nu,n,n Pencem,7,n
Tenooi peno, imb,
St,nd,7 d,n Spesifi,si
NCP (Pen,nu,n,n Tump,,n
Miny,) d,n Pen,nu,n,n Ke,d,,n
D,7u7,t
P7o7,m L,nit Bi7u (lue Sky) B,,n
B,,7 T,np, Timb,
Penun,,n B,,n B,,7 R,m,
Linun,n/N,b,ti
Pen,nu,n,n Limb,
4 Limb, P,d,t/B3 3R 7einjesi (ero
discharge)- D7,f Pe7men ESDM
4 Limb, C,i7 Reinjesi (ero discharge)-
Pe7men No 13 t,un 2007 d,n D7,f
Pe7men ESDM
4 Limb, G,s reuse recovery (ero
gas flare) - lue Print (d7,ft) CCS
CDM
B,u Mutu Linun,n
Monito7in d,n Ev,u,si
Rew,7d ,nd punisment
KegiutunLsuhu
Holo Migus
Surve|
Umum]Se|sm|k
Lksp|oras|
Lksp|o|tas|
(termasuk
pengangkutan
crudeţp|paţtonker
truckinq)
Kegiutun Lsuhu
Hilir Migus
Pengoluhun
Penimbonun
Pengungkotun
Niugu
Penotopun Somor
Penotopun pipu
Penotopun Iusilitus
prodoksi[unjongun
{5,91472
Pembongkurun
unjongun
Pembongkurun
instulusi dun
perulutun
Penungunun sisu
buhun kimiu
Pemolihun Luhun:
Rehubilitusi[Revege-
tusi
Penggonuun Ðunu
Juminun
Lingkongun
Monitoring dun
Pemelihuruun
Rew,7d ,nd
punisment
Ev,u,si D,t, Sumbe7 Miny,
d,n G,s
asic Design Inst,,si d,n
Pe7,,t,n St,nd,7 d,n
Spesifi,si
Sumbe7 D,y, M,nusi,
Kompetensi d,n Ku,ifi,si
Studi Linun,n
(AMDAL/UKL-UPL
Sistem M,n,jemen
Linun,n
Sistem M,n,jemen K3
B,,n d,n B,,n Kimi,
R,m, Linun,n
Risk Analysis
Emergency Response Plan
Sistem Pence,,n Limb,
ero gas flare (CDM CCS)
ero discharge, lue Sky,
Renewable Energy( B,,n
B,,7 N,b,ti biofue biooi)
Eonomi Linun,n
U,n j,min,n Linun,n
Rew,7d ,nd punisment
PINCIGAHAN
Tuhup Persiupun
{Pru Kontroksi &Kontroksi
PINANGGLLANGAN
Tuhup Operusi
PIMLLIHAN
Tuhup Pusku
Operusi
F
E
E
D
B
A
C
K
CREEN O1L AND CAS 1NDUSTRY
P7oses ope7,si P7osedu7
Inspesi Penuji,n Pemei,7,,n
pe7,,t,n/ inst,,si/f,siit,s p7odusi
Sumbe7 D,y, M,nusi, Kompetensi d,n
Ku,ifi,si
Pe7,,t,n pen,nu,n,n Pencem,7,n
Tenooi peno, imb,
St,nd,7 d,n Spesifi,si
NCP (Pen,nu,n,n Tump,,n
Miny,) d,n Pen,nu,n,n Ke,d,,n
D,7u7,t
P7o7,m L,nit Bi7u (lue Sky) B,,n
B,,7 T,np, Timb,
Penun,,n B,,n B,,7 R,m,
Linun,n/N,b,ti
Pen,nu,n,n Limb,
4 Limb, P,d,t/B3 3R 7einjesi (ero
discharge)- D7,f Pe7men ESDM
4 Limb, C,i7 Reinjesi (ero
discharge)-Pe7men No 13 t,un 2007
d,n D7,f Pe7men ESDM
4 Limb, G,s reuse recovery (ero
gas flare) - lue Print (d7,ft) CCS
CDM
B,u Mutu Linun,n
Monito7in d,n Ev,u,si
Rew,7d ,nd punisment
KegiutunLsuhu
Holo Migus
Surve|
Umum]Se|sm|k
Lksp|oras|
Lksp|o|tas|
(termasuk
pengangkutan
crudeţp|paţtonker
truckinq)
Kegiutun Lsuhu
Hilir Migus
Pengoluhun
Penimbonun
Pengungkotun
Niugu
Penotopun Somor
Penotopun pipu
Penotopun Iusilitus
prodoksi[unjongun
{5,91472
Pembongkurun
unjongun
Pembongkurun
instulusi dun
perulutun
Penungunun sisu
buhun kimiu
Pemolihun Luhun:
Rehubilitusi[Revege-
tusi
Penggonuun Ðunu
Juminun
Lingkongun
Monitoring dun
Pemelihuruun
Rew,7d ,nd
punisment
Ev,u,si D,t, Sumbe7 Miny,
d,n G,s
asic Design Inst,,si d,n
Pe7,,t,n St,nd,7 d,n
Spesifi,si
Sumbe7 D,y, M,nusi,
Kompetensi d,n Ku,ifi,si
Studi Linun,n
(AMDAL/UKL-UPL
Sistem M,n,jemen
Linun,n
Sistem M,n,jemen K3
B,,n d,n B,,n Kimi,
R,m, Linun,n
Risk Analysis
Emergency Response Plan
Sistem Pence,,n Limb,
ero gas flare (CDM CCS)
ero discharge, lue Sky,
Renewable Energy( B,,n
B,,7 N,b,ti biofue biooi)
Eonomi Linun,n
U,n j,min,n Linun,n
Rew,7d ,nd punisment
PINCIGAHAN
Tuhup Persiupun
{Pru Kontroksi &Kontroksi
PINANGGLLANGAN
Tuhup Operusi
PIMLLIHAN
Tuhup Pusku
Operusi

Related Interests