KINETIKA KIMIA

by DIAN NOVIANTI, S.Si., M.Pd.

KINETIKA KIMIA
• Termodinamika – apakah suatu reaksi dapat terjadi Kinetika – seberapa cepat suatu reaksi berlangsung • Kinetika kimia adalah suatu ilmu yang membahas tentang laju dan mekanisme reaksi.

Perhatikan data berikut!
Reaksi: 2N2O5(g)  4NO2(g) + O2(g)

LAJU REAKSI DAN KECEPATAN REAKSI
• Kecepatan reaksi (velocity) adalah perubahan konsentrasi molar zat-zat yang bereaksi pada selang waktu tertentu (laju reaksi rata-rata). v = ∆[N2O5]/∆t = [N2O5]1 – [N2O5]2 t2 – t1 • Laju reaksi (speed) adalah perubahan konsentrasi molar zat-zat yang bereaksi pada setiap waktu (laju reaksi sesaat). Perubahan konsentrasi pereaksi atau hasil reaksi dapat diukur setiap saat, misalnya setiap detik, setiap menit, setiap jam, dan seterusnya. r = -d[N2O5]/dt

. Konsentrasi pereaksi Konsentrasi >  kerapatan >  frekuensi tumbukan >  laju > 3. Intensitas radiasi Cahaya atau bentuk energi lainnya yang akan memudahkan tercapainya energi pengaktifan untuk terjadinya reaksi. jumlah donor elektron. dan sebagainya. Luas permukaan Semakin halus bentuk zat yang bereaksi  luas permukaan >  laju > 5. Sifat-sifat pelarut Laju reaksi tergantung dari kepolaran pelarut. Penambahan suatu elektrolit dapat memperkecil atau menaikkan suatu laju reaksi (pengaruh garam). Suhu Suhu >  Ek >  frekuensi tumbukan >  laju > 4. dan demikian pula adanya buffer. viskositas. 6. Katalis Menurunkan energi aktivasi (Ea) 7. Sifat pereaksi Reaktivitas dari pereaksi 2.FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU REAKSI 1.

LAJU REAKSI Reaktan  Produk Laju konsumsi reaktan: r = -d[R]/dt Laju pembentukan produk: r = d[P]/dt .

Nyatakan laju untuk A.d[A]/dt = -1/2 d[B]/dt = +1/3 d[C]/dt = + d[D]/dt Jika laju pembentukan C adalah 2. B.SOAL Untuk Reaksi: A + 2 B 3 C + D r = . dan D! .2 M s-1.

47 M s-1 • d[D]/dt = 1/3 d[C]/dt d[D]/dt = 1/3 d[C]/dt = 1/3 x 2.2 M s-1 = -0.73 M s-1 .Penyelesaian • -d[A]/dt = 1/3 d[C]/dt d[A]/dt = -1/3 d[C]/dt = -1/3 x 2.73 M s-1 • -1/2 d[B]/dt = 1/3 d[C]/dt d[B]/dt = -2/3 d[C]/dt = -2/3 x 2.2 M s-1 = -1.2 M s-1 = 0.

Pereaksi tunggal: aA  produk Pereaksi dua: aA + bB  produk Pereaksi tiga: aA + bB + cC  produk dimana : r = laju reaksi k = tetapan laju reaksi m = orde A n = orde B o = orde C r = k[A]m r = k[A]m[B]n r = k[A]m[B]n[C]o .HUKUM LAJU • Hukum laju menyatakan hubungan laju reaksi dengan konstanta laju dan pangkat dari konsentrasi reaktan.

HUKUM LAJU • Hukum laju didapatkan melalui eksperimen • Orde reaktan tidak terkait dengan koefisien stoikiometri dari reaktan dalam persamaan kimia F2 (g) + 2ClO2 (g)  2FClO2 (g) r = k [F2][ClO2] 1 .

TERMINOLOGI ORDE REAKSI NO(g) + O3(g)  NO2(g) + O2(g) • Persamaan laju hasil eksperimen: Laju = k[NO][O3] • Reaksi dikatakan orde satu terhadap NO dan orde satu terhadap O3 dan secara overall reaksi berorde dua Apakah yang dimaksud dengan orde reaksi? .

ORDE REAKSI • Orde reaksi adalah bilangan yang menyatakan derajat kebergantugan laju reaksi pada konsentrasi reaktan • Orde reaksi selalu didefinisikan dalam hal konsentrasi reaktan (bukan produk) Diskusikan! • Apakah orde reaksi selalu sama dengan koefisien stoikiometri reaksi? • Apakah orde reaksi dapat berupa bilangan pecahan? .

laju reaksi tidak bergantung pada konsentrasi pereaksi. .REAKSI ORDE NOL • Pada reaksi orde nol.

laju reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi pereaksi. .REAKSI ORDE SATU • Pada reaksi orde satu.

. kenaikan laju reaksi sebanding dengan kenaikan konsentrasi pereaksi pangkat dua.REAKSI ORDE DUA • Pada reaksi orde dua.

2 NO2  N2O4 e.bimolekuler . bimolekuler. N2O4  2 NO2 b.unimolekuler . Ada 3 macam: .termolekuler • Manakah yang termasuk reaksi unimolekuler. dan termolekuler? a.MOLEKULARITAS REAKSI • Molekularitas adalah jumlah molekul yang terlibat dalam suatu reaksi. 2 NO + Cl2  2 NOCl d. H2 + I2  2 HI c. O + O2 + N2  O3 + N2 .

PENENTUAN HUKUM LAJU Metode laju awal (metode diferensial) : • Digunakan untuk menentukan orde reaksi • Laju awal diukur di awal reaksi pada beberapa konsentrasi awal reaktan • Metode laju awal (metode diferensial) biasanya digabung dengan metode isolasi • Semua pereaksi dibuat berlebih (sehingga jumlahnya tetap selama reaksi terjadi) kecuali hanya satu komponen dibuat bervariasi Untuk reaksi: A + B  produk r0 = k[A]0m[B]0n .

10 3.8 9.s) 3.10 x x x x x 10-2 10-2 10-2 10-2 10-2 1.Laju Awal serangkaian eksperimen pada reaksi O2 dan NO Konsentrasi reaktan awal (mol/L) O2 1 2 3 4 5 1.60 1.30 3.40 12.60 28.21 6.8 x x x x x 10-3 10-3 10-3 10-3 10-3 Eksperimen .30 1.20 1.30 1.30 2.90 NO x x x x x 10-2 10-2 10-2 10-2 10-2 Laju awal (mol/L.10 2.

SOAL Tentukan persamaan laju dan nilai k dari reaksi: 2A + B  C + D Jika data laju awal. r0 sebagai berikut: .

02 0.025 0.050 x 1/2 = (1/2) x=1 x x .01 = 0.Penyelesaian Orde A r1 = [A]1 r2 [A]2 0.

01 = 0.025 y 1/0.050 0.0025 0.Penyelesaian Orde B r4 = [B]4 r5 [B]5 0.25 = (2) y=2 r = k [A][B] 2 y y .

jika kita ambil set data pertama: -1 -1 -1 -1 2 0.025 mol L )(0.1 mol L ) -4 -2 -1 k = 40 L mol s . Misalnya.Penyelesaian Tetapan laju k dihitung dengan memasukan nilai pada set data yang mana saja dengan menggunakan hukum laju yang sudah ditetapkan.01 mol L s = k(0.

PENENTUAN HUKUM LAJU Metode integrasi: • Digunakan untuk mengevaluasi orde reaksi • Didasarkan pada pengukuran reaksi setiap saat  perubahan konsentrasi terhadap waktu • Data dievaluasi dengan persamaan integral yang dimodifikasi ke dalam bentuk grafik .

a k t [A] = [A]0 .a k 0∫ dt [A] – [A]0 = .REAKSI ORDE NOL Reaksi: aA  produk -1/a d[A]/dt = k [A]0 d[A]/dt = .ak 0 .a k [A] t [A] ∫ d[A] = .a k t ↔ y = b + ax maka  Slope = .

a k t ln [A] = ln [A]0 .a k [A] [A] t [A] ∫ d[A]/[A] = .a k t ↔ y = b + ax maka  Slope = .REAKSI ORDE SATU Reaksi: aA  produk -1/a d[A]/dt = k [A] d[A]/dt = .ak 0 .a k 0∫ dt ln [A] – ln [A]0 = .

a k t 1/[A] – 1/[A]0 = a k t 1/[A] = 1/[A]0 + a k t ↔ y = b + ax maka  Slope = ak 0 .REAKSI ORDE DUA Reaksi: aA  produk -1/a d[A]/dt = k [A]2 d[A]/dt = .a k 0∫t dt [A] ∫ d[A]/[A] – (1/[A] – 1/[A]0) = .a k [A]2 [A] 2 = .

REAKSI ORDE DUA Reaksi: aA + bB  produk -1/a d[A]/dt = -1/b d[B]/dt = k [A] [B] ln [A]/[B] = ln [A]0/[B]0 + k t (b[A]0 .a[B]0) ↔ y = b + ax .

REAKSI ORDE ke-n (n ≠ 1) Reaksi: aA  produk -1/a d[A]/dt = k [A]n 1/[A]n-1 = 1/[A]0n-1 + (n – 1) a k t ↔ y = b + ax .

.WAKTU PARUH Waktu paruh (t1/2) adalah waktu yang diperlukan agar konsentrasi reaktan turun menjadi setengah dari konsentrasi awalnya.

a k t ½[A]0 .a k t½ ½[A]0 = a k t½ t½ = [A]0 2ak .[A]0 = .REAKSI ORDE NOL Reaksi: aA  produk t½  [A] = [A]0/2 [A] – [A]0 = .

REAKSI ORDE SATU Reaksi: aA  produk t½  [A] = [A]0/2 ln [A] – ln [A]0 = .a k t ln [A]/[A]0 = .a k t ln [A]0/[A] = a k t ln [A]0/ ½[A]0 = a k t½ t½ = ln 2 ak .

REAKSI ORDE DUA Reaksi: aA  produk t½  [A] = [A]0/2 1/[A] – 1/[A]0 = a k t 1/½[A]0 – 1/[A]0 = a k t½ 2/[A]0 – 1/[A]0 = a k t½ 1/[A]0 = a k t½ t½ = 1 [A]0 a k .

REAKSI ORDE DUA Reaksi: aA + bB  produk t½ = ln (2 – b[A]0/a[B]0) k(a[B]0 – b[A]0) .

REAKSI ORDE ke-n (n ≠ 1) Reaksi: aA  produk t½ = 2n-1 .1 ak(n -1) [A]0n-1 .

SOAL Bila gas nitrogen pentoksida dilarutkan dalam pelarut karbon tetraklorida (CCl4) pada 45oC maka akan terjadi reaksi dekomposisi dengan persaamaan reaksi: N2O5 = 2NO2 + ½O2 Konsentrasi N2O5 dihitung dari volume gas oksigen yang dibebaskan pada selang waktu tertentu dan diperoleh data berikut: a. Tentukan waktu t½ . Tentukan harga k c. Tunjukkanlah bahwa reaksi tersebut di atas berorde satu b.

t½ = ln 2/ak = 0.0006) = 1155 s .6 a.693/ 1(0.33 -0.85 0.0006 c.1 -0.31 0.65 0.ak  k = 0. ln [A] = ln [A]0 . Garis linear pada grafik membuktikan bahwa reaksi adalah orde satu (R2 = 1) b.a k t slope = .Penyelesaian t (s) 0 319 867 1198 1877 2315 ln [N2O5] 0.

MEKANISME REAKSI Mengukur kecepatan reaksi Merumuskan Hukum Laju Menyusun mekanisme reaksi yang mungkin .

MEKANISME REAKSI 2NO2F(g) • Reaksi: 2NO2 + F2  Hukum laju: r = k[NO2] [F2] Mekanisme reaksi yang diajukan: (1) NO2 + F2 (2) F + NO2  NO2F + F  NO2F • Reaksi di atas berlangsung melalui mekanisme 2 tahap (two-step mechanism) .

MEKANISME REAKSI • Reaksi elementer adalah reaksi sederhana yang hanya berlangsung dalam satu tahap. • Urutan tahap-tahap elementer yang mengarah pada pembentukan produk. • Jumlah tahapan reaksi elementer harus memberikan persamaan yang seimbang untuk reaksi keseluruhan. . disebut sebagai mekanisme reaksi.

INTERMEDIET • Reaksi: 2NO2 + F2  Mekanisme: (1) NO2 + F2 (2) F + NO2 2NO2F(g)  NO2F + F  NO2F 2NO2F(g) 2NO2 + F2  terdeteksi adanya F selama reaksi berlangsung .

• Intermediet selalu terbentuk di awal tahap reaksi elementer dan habis di tahap reaksi elementer selanjutnya. • Intermediet merupakan spesies berenergi rendah dan dapat diisolasi .INTERMEDIET • Intermediet (zat antara) adalah spesi yang muncul dalam suatu mekanisme reaksi tetapi tidak muncul di persamaan reaksi total.

HUKUM LAJU DAN TAHAP ELEMENTER • Hanya untuk reaksi elementer. pangkat-pangkat dalam hukum laju harus berkorespons dengan koefisienkoefisien dalam persamaan setimbang. .

TAHAP PENENTU LAJU • Reaksi: 2NO2 + F2  2NO2F(g) Hukum laju: r = k[NO2] [F2] Mekanisme: (1) NO2 + F2  NO2F + F (lambat) (2) F + NO2  NO2F (cepat) • Tahap penentu laju (rate determining step) adalah tahap paling lambat dari urutan reaksi elementer yang mengarah pada pembentukan produk • Tahap penentu laju harus menyatakan hukum laju yang sama seperti yang diperoleh melalui eksperimen .

c. b. Tahap mana yang merupakan tahap penentu laju . Tentukan intermediet reaksi di atas. Tuliskan persamaan reaksi total. Reaksi berlangsung dalam 2 tahap: (1) NO2(g) + NO2(g)  (2) NO3(g) + CO(g)  NO(g) + NO3(g) NO2 + CO2(g) a.SOAL • Hukum laju yang didapatkan dari eksperimen antara NO2 dan CO yang menghasilkan NO dan CO2 adalah r = k [NO2]2.

Hukum laju yang didapat secara eksperimen adalah r = k[NO2]2 yang mana merupakan hukum laju untuk reaksi elementer tahap 1.Penyelesaian a. (1) NO2(g) + NO2(g)  (2) NO3(g) + CO(g)  NO(g) + NO3(g) NO2(g) + CO2(g) Reaksi total: NO2(g) + CO(g) b. tahap 1 lebih lambat daripada tahap 2 dan sekaligus merupakan tahap penentu laju. Oleh karena itu. . Intermediet: NO3  NO(g) + CO2(g) c.

PENGUJIAN MEKANISME REAKSI • Reaksi: 2 NO(g) + O2(g) 2 NO2(g) memiliki hukum laju: d[NO2]/dt = Kobs [NO]2[O2] Mekanisme yang diajukan:: k1  N 2O2  (1) NO  NO   k2  (2) N 2O2  O2  2 NO2 k3 Intermediet: N2O2 .

PENGUJIAN MEKANISME REAKSI Dari mekanisme reaksi (2): Not acceptable !!!!!! d[NO2]/dt = 2k3[N2O2][O2] Hukum laju ini masih mengandung intermediet Untuk menghilangkan [N2O2] dari ungkapan hukum laju maka digunakan pendekatan mantap (steadystate approximation) Menurut pendekatan ini: d[N2O2]/dt= 0 .

PENGUJIAN MEKANISME REAKSI dN 2O2  0  k1[ NO]2  k2 [ N 2O2 ]  k3[ N 2O2 ][O2 ] dt k1[ NO]2 N2O2  k2  k3[O2 ] r  2k3 [ N 2O2 ][O2 ] k1[ NO]2 r  2k3 [O2 ] k2  k3[O2 ] 2k3k1[ NO]2 r [O2 ]  Jika k2 >>> k3 k2  k3[O2 ] 2k3k1[ NO]2 [O2 ] d[NO2]/dt = Kobs [NO]2[O2] r k2 Hukum laju empirik terpenuhi jika k2 >>> k3 .

jika tahap 2 merupakan tahap penentu laju maka hukum laju harus diturunkan dari reaksi 2: d[NO2]/dt = 2k3[N2O2][O2] Reaksi 1 merupakan reaksi kesetimbangan maka: [ N 2O2 ] k1 K  2 [ NO ] k2 [ N 2O2 ]  K [ NO]2 sehingga r  2k3 [ N 2O2 ][O2 ] r  2k3 K [ NO]2 [O2 ] d[NO2]/dt = Kobs [NO]2[O2] Hukum laju empirik terpenuhi .PENGUJIAN MEKANISME REAKSI Untuk reaksi dan mekanisme yang sama.