Dilema Etika dan Keputusan Etis Bagi Profesi Akuntan

Click to edit Master subtitle style

5/5/12

PENGANTAR  Dalam kehidupan sehari-hari seseorang dihadapkan pada situasi di mana terjadi pertentangan batin yang disebabkan ia mengerti bahwa keputusan yang diambilnya salah. Kondisi ini disebut sebagai dilema etika oleh Aren & Loebbecke (2000) dalam Nuryatno & Synthia (2001). 5/5/12 .

Tentukan siapa-siapa dan bagaimana orang atau kelompok yang dipengaruhi oleh dilema. 2.Ada enam langkah yang dapat digunakan dalam menghindari dilema etika ( Aren & Loebbecke . 3. Indentifikasikan alternatif yang tersedia bagi orang yang harus memecahkan dilema. Indentifikasi isu. 4.isu etika dari fakta yang ada. 2000) yaitu : 1. Identifikasikan konsekuensi yang mungkin . Dapatkan fakta-fakta yang relevan. 5/5/12 5.

5/5/12 .Adanya pedoman ini diharapkan agar individu mudah dalam mengambil keputusan yang paling tepat jika sedang menghadapi dilema etika termasuk dilema etis bagi akuntan di Indonesia.

Kode Etik Akuntan Indonesia adalah pedoman bagi para anggota Ikatan Akuntansi Indonesia untuk bertugas secara bertanggung jawab dan objektif. 5/5/12 .

5/5/12 . Bertanggung jawab 2. 4. Mematuhi prinsip-prinsip profesional dalam menentukan lingkup dan jasa yang akan diberikan. Memihak pada kepentingan masyarakat 3.Prinsip-prinsip etika profesional akuntan 1. Memiliki integritas yang tinggi.

Dari definisi ini jelas terlihat bahwa sebelum keputusan itu ditetapkan diperlukan pertimbangan yang menyeluruh tentang kemungkinan konsekuensi yang bisa timbul sebab mungkin saja keputusan yang diambil hanya memuaskan satu kelompok saja atau sebagai orang saja.Pengambilan keputusan ialah proses memilih suatu alternatif cara bertindak dengan metode yang efisien sesuai dengan situasi. 5/5/12 Tetapi jika kita memperhatikan konsekuensi .

Agen moral (moral agent) adalah orang .Ada tiga definisi dalam memahami model-model dalam pembuatan keputusan-keputusan etis yaitu: 1. Pengertian 2. Isu moral tersebut timbul pada saat ada tindakan seseorang yang mungkin dapat merugikan atau menguntungkan orang lain atau dengan kata lain suatu tindakan atau keputusan pasti memiliki konsekuensi-konsekuensi terhadap orang lain dan pasti melibatkan suatu pilihan atau kemauan dari si pembuat keputusan. Isu moral (moral issue). yang membuat keputusan moral walaupun mungkin orang tersebut tidak 5/5/12 mengenali isu moral tersebut.

Rest’s Model. Ada empat komponen model ini untuk membuat keputusan etis oleh individu. 1991). 5/5/12 .Ada 6 model dalam mengklarifikasikan model keputusan etis (Jones. dimana seorang agen moral dalam membuat keputusan harus mengenali isu moral yang ada. dan bertindak terhadap masalah-masalah moral yang ada. memutuskan untuk menempatkan perhatiannya terhadap masalah-masalah moral di atas masalah yang lain (membentuk pandangan moral atau moral intent). membuat penilaian moral (moral judgment). yaitu: 1.

Penilaian moral dibuat ditahap kesadaran ini yang kemudian dikembangkan oleh faktor-faktor individu dan situasi. ketergantungan lapangan (field dependence) dan kedudukan kendali (locus of control). sedangkan yang termasuk faktor-faktor situasi meliputi 5/5/12 konteks tugas segera (immediate job .2. sebagai person situation interactional model. Trevino’s Model. Dalam hal ini diawali dengan adanya dilema etika yang kemudian berlanjut ke tahap kesadaran (cognition stage). Yang termasuk dalam faktorfaktor individu meliputi kekuatan ego (ego strength).

Keputusan . nilai-nilai. Ferrel & Gresham’s Model. Dalam model ini isu etika atau dilema muncul dari lingkungan sosial atau budaya. Faktor kontingensi yang mempengaruhi si pembuat keputusan (decision-maker) adalah faktor-faktor dari dalam individu itu sendiri yang meliputi pengetahuan.3. dengan membuat sebuah kerangka kerja kontingen (contigency framework) untuk membuat keputusan etis dalam pemasaran. perilaku dan tujuan maupun faktor-faktor dari organisasi yang meliputi kepentingan 5/5/12 orang lain dan kesempatan.

4. organisasi dan pengalaman seseorang mempengaruhi persepsi terhadap keberadaan etis problem. alternatifalternatif tindakan dan konsekuensikonsekuensinya. faktor- faktor lingkungan seperti budaya. industri. Konsekuensinya yang menujukkan pada penilaian pada evaluasi deontologi dan teologi yang kemudian menunjukkan pada penilaian 5/5/12 etis. Persepsi ini sejalan dengan norma deontologis (deontological norm) dan evaluasi terhadap konsekuensinya. Hunt’s & Vitel’s Model dimana. Penilaian mempengaruhi tujuan .

Dua varabel pertama berpengaruh pada sikap etis dan perilaku tidak etis. hasil evaluasi (outcome evaluations). Pada akhirnya 5/5/12 sikap dan norma subjektif menunjukkan . Model ini diawali dengan perilaku umum (behavioral beliefs). norma yang berlaku (normative beliefs) dan motivasi untuk menyetujui (motivation to comply).5. yang mendasarkan pada teori tindakan beralasan (theory of reasoned action) dari Fishbein & Ajzen. Dubinsky and Loken’s Model. Dua variabel yang terakhir berpengaruh pada norma subjektif pada perilaku etis dan tidak etis.

Argumen utamanya ialah pembuatan etika merupakan hal yang kondisional. Intensitas moral ini menjadi penentu yang utama dari model pembuatan keputusan dan perilaku etis (Nuryatno & Synthia. Model yang terakhir atau keenam adalah Issue Contingency Model.6. yang secara keseluruhan disebut intensitas moral. yaitu tergantung atau sesuai dengan karakteristik-karakteristik dari masalah moral itu. 5/5/12 . 2001).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful