Kelainan Kongenital Jaringan Lunak dan Cleft Palate

Kelompok V

Anggota Kelompok
1. M. Reza Abdillah 2. Rangga Diputra 3. Karina Ardiny 4. Cut Gusti Ayu H 5. Wardatul Jannah 6. Nirmala Maulida K 7. Ardian Pradana 8. Ade Ivin D 9. Elliza Wardhani 10. Dinar Prafita 11. Vivi Felicia (101610101018) (101610101022) (101610101023) (101610101036) (101610101037) (101610101038) (101610101064) (101610101065) (101610101066) (101610101068) (101610101069)

Kelainan Kongenital Jaringan Lunak
Kelainan pada jaringan lunak yang ditemukan pada saat bayi dilahirkan. Meliputi: 1. Kelainan Kongenital pada Lidah 2. Kelainan Kongenital pada Mukosa RM 3. Kelainan Kongenital pada Kelenjar Saliva 4. Kelainan Kongenital pada Gingiva

Kelainan Kongenital pada Lidah
1. Makroglosia Makroglosia merupakan suatu keadaan lidah yang mempunyai ukuran lebih besar dari normal. Hal ini terjadi karena otot ± otot lidah mengalami pembesaran. Penyebab dari makroglosia karena radang atau infeksi, kebiasaan buruk yaitu menjulurkan lidah, dan adanya penyakit lain.

Gambaran klinis Makroglosia
1. Ukuran lidah lebih besar daripada ukuran normal 2. Ujung lidah atau tepi lidah melebihi oklusal gigi 3. Adanya lekukan tepi lidah yang menggambarkan bentuk gigi (scallop tongue) 4. Adanya diastema, openbite dan malrelasi rahang. 5. Ukuran papila fungiformis bertambah besar

Geographic tongue
‡ Adanya area merah berbatas jelas, adanya atropi papilla yang bisa disertai dengan hyperkeratosis ‡ Berbeda dengan atropi glositis yang karena defisiensi nutrisi, pada atropi glositis batas tidak jelas ‡ Lokasi berpindah-pindah bisa remisi dan eksaserbasi dengan sendirinya ‡ Keluhan sakit bila atropi sudah parah atau terkena makanan panas dan pedas.

Ankiloglosia
‡ Lidah tidak bisa bergerak karena frenulum lingual terletak di 1/3 anterior lidah ‡ Diagnosis ditegakkan bila ujung lidah tidak bisa menyentuh merah bibir dan adanya kesulitan berbicara

Pembentukan Bibir atas dan palatum
Bibir atas terbentuk pada minggu ke-5 sampai ke-10. Pada minggu ke-5 terbentuk 2 processus, yaitu processus lateral nasal dan processus medial nasal. Proc. Maxillaris mendekati 2 processus tersebut, tapi terpisah pada batas groove yang jelas 2 minggu selanjutnya proc maxillaris bertambah besar ukurannya dan bersamaan dengan itu tumbuh ke arah medial sehingga mendesak Proc. Nasal media Kedua proc tersebut (proc nasal media) bergabung dengan proc maxilla sehingga terbentuk bibir atas

Pembentukan Palatum
Akibat pertumbuhan proc maxillaris ke medial, kedua proc nasal media tidak hanya bersatu pada permukaan, tetapi bersatu pula pada tingkat yang lebih dalam, sehingga membentuk ³Segmen Intermaksilaris´. Segmen ini terdiri dari:
a. Sebuah unsur bibir, membentuk filtrum bibir atas b. Sebuah unsur rahang atas c. Palatum primer yang membentuk segitiga

‡ Palatum sekunder dibentuk dari 2 proc maxillaris, yaitu lempeng palatina . Pada minggu ke-6 arah pertumbuhan miring ke bawah pada arah sis kanan-kiri lidah Pada minggu ke-7 lempeng-lempeng palatina bergerak naik hingga mencapai kedudukan horisontal di atas lidah dan saling menyatu membentuk palatum sekunder. ‡ Palatum sekunder kemudian menyatu dengan palatum primer membentuk palatum yang utuh

Cleft Lip dan Cleft Palate
Etiologi: 1. Genetik 2. Zat-zat Teratogenik yang meliputi: obat antikonvulsan, Radiasi, obat 3. Infeksi (Toxoplasma, Rubella, Sifilis)

Patogenesis
1. Merubah Susunan Gen yang menyebabkan perubahan ekspresi gen ex: Gangguan pada gen yang mengatur perkembangan bibir dan palatum, radiasi yang menyebabkan mutasi gen yang mengakibatkan perubahan ekspresi gen Yang bersifat herediter misalnya ditemukan pada pasien dengan kondisi sindroma trisomi, ex: Down Syndrome, Patau,

2. Gangguan pada perkembangan organ (pembentukan bibir dan palatum)

Ex: 1. efek penggunaan obat antikonvulsan (fenitoin), aspirin, obat antiinflamasi 2. Merokok dan minum alkohol selama kehamilan 3. Infeksi virus atau parasit (Toxoplasma, Rubella, Sifilis

Klasifikasi sumbing bibir menurut Veau:
‡ Kelas I : Takik unilateral pada tepi merah bibir dan meluas sampai bibir. ‡ Kelas II : Bila takik pada merah bibir sudah meluas ke bibir tapi tidak mengenai dasar hidung. ‡ Kelas III : Sumbing unilateral paa mearah bibir yang meluas melalaui bibir ke dasar hidung. ‡ Kelas IV : Setiap sumbing bilateral pada bibir yang menunjukkan takik tidak sempurna atau sumbing yang sempurna

Klasifikasi sumbing palatum menurut Veau :
‡ Kelas I : Sumbing yang terbatas pada palatum lunak. ‡ Kelas II : Cacat pada palatum keras dan lunak dan meluas tidak melampaui foramen insisivum serta terbatas hanya pada palatum sekunder. ‡ Kelas III : Sumbing pada palatum sekunder yang dibagi menjadi komplit dan tidak komplit. ‡ Kelas IV : Sumbing bilateral komplit meliputi palatum lunak dan keras serta prosessus alveolaris pada kedua sisi promaksila.

Klasifikasi menurut lengkap atau tidaknya celah yang terbentuk :
‡ Inkomplet ‡ Celah bibir inkomplet : adalah apabila celah bibir tidak sampai dasar lubang hidung ‡ Celah langitan inkomplet : adalah apabila terdapat celah dari uvula sampai foramen incisivum ‡ Komplet : yaitu celah yang terbentuk dari uvula sampai arcus alveolari (melewati foramen incisivum)

Dampak Cleft Lip dan Cleft Palate
1. 2. 3. 4. Susah menelan Gangguan Pendengaran Maloklusi Susah bicara

TERIMAKASIH

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful