PT SUPRA ASPINDO JAYA

Friska Rachelia (0851009) Christine Melisa Gunawan (0851033) Fani Lusiana (0851034) Devi (0851393)

PENDAHULUAN

Disini kami akan menyajikan kasus leasing mesin plastik dimana sebuah perusahaan plastik bertindak sebagai lessee yang memperlakukan transaksi tersebut sebagai operating lease padahal seharusnya capital lease. Kami juga membahas teori yang mendasari perlakuan tersebut. Pembahasan teori kami fokuskan pada konsep Aset, Kewajiban, dan Biaya yang mendasari capital lease. Kami memandang kasus leasing ini menarik, karena seringkali perusahaan memperlakukan capital lease sebagai operating lease dalam rangka melakukan off-balance-sheet financing. Hal ini mengacu pada kenyataan bahwa dalam operating lease, asset sewa maupun kewajiban tak diakui dalam neraca walau banyak manfaat dan risiko kepemilikan yang ditransfer pada lessee. Tentunya hal ini akan merugikan investor maupun kreditor yang menggunakan laporan keuangan perusahaan tersebut.

KASUS

FEDERAL INTERNATIONAL FINANCE Perjanjian Nomor: z4-s-21015-94, Tanggal 28 Agustus 1994 Syarat ²syarat pokok: Lesse Harga Barang Security Deposit Pokok Pinjaman : PT.Supra Aspindo Jaya : 1(satu) unit mesin plastik merk Nanrong M 350 T : Rp.25.000.000,: Rp.165.000.000,: Rp.190.000.000,Barang yang akan di lease

Tingkat Bunga : floating rate (suku bunga mengambang), 20% efektif (in arrears) untuk 6 bulan pertama Jangka waktu lease : 48 bulan Angsuran/bulan : Sesuai dengan jadwal anggaran, peninjauan tingkat suku bunga tiap 6 bulan sekali Denda keterlambatan : 0.1% (satu permil) per hari keterlambatan, sampai setinggi-tingginya 30 hari keterlambatan Biaya Provisi Biaya asuransi Biaya notaris : Rp.195.000,: Sesuai dengan rate dari Asuransi Buana : Rp.100.000,-

Lessee dengan ini menyatakan memilih opsi beli sebesar nilai residu yaitu Rp. 25.000.000

Tgl 28/08/94

Perusahaan ( Operating Lease ) Tidak membuat jurnal

SAK (Capital lease ) Aktiva sewagunausaha 190.000.000

Utang sewaguna usaha 190.000.000 (untuk mencatat kapitalisasi aktiva sewagunausaha) Piutang Kas 25.000.000 (untuk mencatat simpanan jaminan) 25.000.000 (untuk mencatat simpanan jaminan) 25.000.000 Simpanan jaminan Kas 25.000.000

28/09/94

Beban sewa Kas

5.442.027 5.442.027

Utang sewaguna usaha Beban bunga Kas

2.269.027 3.173.000

(untuk mencatat pembayaran angsuran leasing periode 1 bunga 20%/th)

5.442.027 (untuk mencatat pembayaran angsuran leasing periode 1 bunga 20%/th)

28/09/95

Beban sewa Kas

5.570.129 5.570.129

Utang sewaguna usaha Beban bunga Kas

2.767.921 2.802.208

(untuk mencatat pembayaran angsuran leasing periode 13 bunga 21/%th)

5.570.129 (untuk mencatat pembayaran angsuran leasing periode 13 bunga 21%/th)

28/ 08/ 98

Beban sewa Kas

5.765.401 5.765.401

Utang sewaguna usaha Beban bunga Kas

4.941.996 823.405

(untuk mencatat pembayaran angsuran 5.765.401 leasing periode 48, bunga 33%/th) (untuk mencatat pembayaran angsuran leasing periode 48, bunga 33%/th)

Aktiva tetap-mesin Piutang 25.000.000

25.000.000 Utang sewaguna usaha 25.000.000

Simpanan jaminan

(untuk mencatat pemilikan aktiva tetap 25.000.000 mesin dengan simpanan jaminan yang dicatat sebagai piutang) (untuk mencatat pelunasan utang SGU dengan simpanan jaminan)

Aktiva tetap-mesin Akumulasi penyusutan ²SGU

38.000.000 152.000.000

Aktiva sewaguna usaha 190.000.000 (untuk mencatat pemindahan kepemilikan aktiva SGU menjadi aktiva tetap)

TEORI AKUNTANSI YANG MENDASARI JAWABAN

Menurut SAK no 30(1999:30,4) dijelaskan bahwa suatu leasing dapat dikatakan sebagai capital lease apabila dipenuhi semua criteria berikut ini:

1.Penyewaguna usaha memiliki hak opsi untuk membeli aktiva yang disewaguna usahakan pada akhir masa sewaguna usaha dengan harga yang telah disetujui bersama pada saat dimulainya perjanjian sewagunausaha. Bila kita melihat pada perjanjian leasing tersebut, terdapat kriteria adanya hak opsi beli dengan harga yang telah disepakati bersama yaitu sebesar nilai residu. Berarti perjanjian leasing tersebut telah memenuhi kriteria yang pertama. 2. Seluruh pembayaran berkala yang dilakukan oleh penyewaguna usaha ditambah dengan nilai sisa mencakup pengembalian harga perolehan barang modal yang disewaguna usahakan serta bunganya, sebagai keuntungan perusahaan sewagunausaha (full payout lease).Atau dapat dikatakan bahwa nilai tunai dari seluruh pembayaran berkala ditambah dengan nilai tunai dari nilai sisa mencakup pengembangan harga perolehan aktiva sewagunausaha.

28/8/94

ASET DAN KEWAJIBAN

Aktiva SGU didebit. Diakui sebagai asset karena: Memenuhi definisi asset: Memberikan manfaat ekonomi mesin plastik dapat digunakan dalam operasi dan dimanfaatkan untuk mendatangkan pendapatan bagi PT Supra. Dikuasai / dikendalikan oleh entitas PT Supra menguasainya walau tak memiliki. Ini didasari konsep substansi mengungguli bentuk. Berdasarkan perjanjian (by agreement) PT Supra dapat menggunakan mesin tersebut dan mencegah akses pihak lain menggunakan mesin plastiknya. Akibat transaksi masa lalu penandatanganan perjanjian lease. Pengukuran jumlah yang dikeluarkan sampai aktiva siap digunakan present value pembayaran sewa+residual value sejumlah 190juta. Penilaian karena aktiva SGU didepresiasi, maka ia menunjukkan sisa potensi jasa nilai masukan kos historis. Penyajian dan pengungkapan disajikan di sisi debit neraca, diklasifikasikan menjadi asset tetap, dan mengungkapkan merode depresiasi aktiva SGU.

Utang SGU dikredit. Diakui sebagai kewajiban karena: Memenuhi definisi kewajiban: Pengorbanan manfaat ekonomik harus bayar lease payment tiap bulan dengan kas, dan hal ini cukup pasti karena diperkuat kontrak. Keharusan sekarang saat 28/8/94 kalau dipakasakan ditagih, seharusnya PT Supra dapat melunasi sejumlah 190juta, yaitu mencerminkan harga barang jika dibayar tunai. Ini adalah keharusan kontraktual (sesuai kontrak lease). Transaksi masa lalu Pengukuran penandatangan kontrak lease. present value pembayaran sewa+residual value sejumlah 190juta. kontrak lease adalah sah. secara substansi sewaguna adalah

Memenuhi kaidah pengakuan kewajiban: Ketersediaan dasar hukum Ketertentuan substansi ekonomik transaksi pembelian angsuran. Keterukuran nilai kewajiban

sejumlah 190juta.

Penilaian andai 28/8/94 kewajiban harus dilunasi, maka pengorbanan sumber ekonomik adalah 190juta sesuai present value lease payment+residual value nilai diskunan aliran kas masa datang. Penyajian panjang. disajikan di neraca sisi kredit, diklasifikasikan kewajiban jangka

KEWAJIBAN, ASET DAN BIAYA

28/9/94 Utang SGU didebit karena dilunasi dengan pengorbanan manfaat ekonomi, yaitu kas. Utang didebit hanya sejumlah pokok yang dilunasinya. Kas dikredit karena berkurangnya asset (terjadi pengorbanan sumber ekonomik) perusahaan untuk memenuhi kewajibannya yang sudah ditentukan dalam perjanjian sebesar nilai utang yang dibayar per tahunnya dan beban bunga yang dikenakan. Diakuinya biaya bunga pada akhir bulan (tiap pembayaran lease payment) karena biaya ini terjadi seiring berlalunya waktu sejak terjadinya utang. Bukan saat utang baru pertama muncul. Biaya bunga dibebankan menggunakan basis asosiasi alokasi sistematik (seiring berlalunya waktu). 28/9/95 sama dengan 28/8/94

28/8/98 Aktiva tetap-mesin didebit. Diakui sebagai asset karena: Memenuhi definisi asset: Manfaat ekonomi mesin plastic jelas dapat digunakan dalam operasi, dapat ditukarkan, dan menghasilkan pendapatan. Dikuasai/dikendalikan mesin plastic ini. PT Supra bukan hanya menguasai, namun juga secara yuridis memiliki

Kejadian masa lalu yaitu saat masa lease berakhir dan kewajiban talah lunas, sesuai kontrak terjadi transfer kepemilikan pada PT Supra. Pengukuran dalam hal ini, asset tetap hanya menunjukkan sisa potensi jasa dari aktiva SGU yaitu 38juta. Penilaian tiap tahun dilakukan depresiasi, jadi mesin dinilai pada nilai masukan historis (menunjukkan sisa potensi jasa). Penyajian dan pengungkapan disajikan di sisi debit, dibawah aktiva lancar. Pengungkapan yang diperlukan adalah metode depresiasinya. Aktiva SGU dikredit pada akhir masa lease, aktiva SGU ini ditransfer menjadi milik PT Supra, oleh karena itu bukan lagi aktiva sewa guna usaha. Aktiva sewa guna usaha berkurang sebesar harga perolehan yaitu 190juta dikarenakan pemindahan kepemilikan menjadi aktiva tetap sebagaimana yang sudah dijanjikan sebelumnya. Akumulasi penyusustan didebit karena dihapusnya aktiva SGU, maka akumulasi depresiasi yang berhubungan juga harus dihapus sebesar 152juta. Karena penyusutan terjadi baru 4 tahun (28 Agustus 1994 ² 28 Agustus 1998), maka jumlah akumulasi penyusutan menjadi Rp 152.000.000,00 (38.000.000 x 4).

KESIMPULAN

Jadi, menurut kelompok kami, perlakuan yang benar dalam kasus ini adalah capital lease. Karena tujuan akuntansi adalah dapat menghasilkan informasi yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan, maka jika lease secara sustantif adalah pembelian angsuran, tak boleh diperlakukan sebagai sewa-menyewa biasa, sehingga akan menyesatkan pengguna laporan keuangan.

THANK·S
GOD BLESS

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.