PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK(PPOK

)
STONIA ELLEN L 20070310084

KASUS
Nama : Ny. T Umur : 80 tahun Tanggal masuk : 21 Januari 2012 • Keluhan utama : sesak napas • Riwayat penyakit sekarang: Pasien datang dengan keluhan sesak napas. Sesak terjadi ± 1 bulan dan semakin memberat akhir-akhir ini. Pilek (-), pusing (-). Sesak didahului oleh batuk yang telah berlangsung selama lebih dari 2 tahun dan kumat-kumatan dan bersifat ngikil. Dahak (+) kental, berwarna putih, tidak berbau. Punggung terasa nyeri ketika batuk. Tidak disertai oleh demam. Badan terasa lemas, nggregesi, kadang-kadang keringat dingin keluar, nafsu makan berkurang. BAK (+) N, BAB (-) 4 hari. Kentut (+). • Riwayat penyakit dahulu: riwayat asma (-) batuk dahak (+) kumat-kumatan, hipertensi (-) DM (-) Riwayat mondok (-) • Riwayat keluarga: • Hipertensi (+) DM (+) alergi (-) asma/mengi (-) gejala yang sama dengan pasien (-) • Riwayat lingkungan • Menggunakan kompor tungku (+) menggunakan obat nyamuk bakar (+)

• • • •

PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan General: Keadaan Umum : Compos mentis, terlihat sesak Vital Sign : TD = 120/70 Suhu = 36 oC Respirasi = 40 x/menit Nadi = 62 x/menit

• Pemeriksaan Sistem : • Kepala Mata : Conjunctiva anemis (-/-) sclera ikterik (-/-) pupil isokor (+/+) Hidung : bentuk normal, sekret (-), nafas cuping hidung (-) Telinga : bentuk normal, sekret (-), nyeri tekan (-) Mulut : bentuk normal, bibir kering (-) sianosis (-) mecucu (-) • Leher Pembesaran limfonodi (-) pembesaran kelenjar tiroid (-)

udem (-) . ruam (-). ictus cordis (+). hepatomegali (-) splenomegali (-) • Kulit Turgor dalam batas normal. barrel chest (+) : sonor (+/+) hipersonor (+/+) : ketinggalan gerak (-) focal fremitus turun : Pulmo : vesikular (+/+) turun. ketinggalan gerak (-). nyeri tekan (-).• Thorak Inspeksi Perkusi Palpasi Auskultasi • Abdomen Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi : gerakan dada simetris. retraksi (+) suprasternal. sianosis (-) • Ekstremitas Akral hangat (+) sianosis (-) CRT <2 detik. wheezing (+) ronki basah kasar (+) Cor : S1S2 regular : flat : bising usus (+) N : timpani (+) pekak beralih (-) : supel.

Darah Rutin AL AE Hb Ht MCV MCH Hasil 24.8 FL 29.0-1.6 % 88.3 mg/dl <37 / < 31 SGPT 33 u/e <42/<32 ↑ .000 / μL 4-5 x 106/μL 12-16 gr/dl 38-47% 85-100 fl 28-31 pg Interpretasi ↑ N N ↓ N N MCHC AT Kimia Darah GDS Ureum Creatinin SGOT 33.23 x 106/μL 12.01 x 103/μL 4.500-11.5 g/dl 447x 103/μL 30-35 g/dl 150-450 x 103/μL N N ↑ N N N 181 mg/dl 38 mg/dl 1.6 gr/dl 37.0 mg/dl 24 u/e <144 mg/dl 10-50 mg/dl 1.7 pg Nilai Normal 4.

DD Brpn. AVL. Bronkhitis. V2-V5 Ro Thorax  Pulmo : corakan bronkovaskuler kasar Sinus costofrenikus lancip COR : CTR <0.Bronkitis kronik (PPOK) DD Asma bronkial .• • • • • ECG  T inversi pada lead I.iskemia antero-septal-lateral .5 Kesan: proses infeksi pada pulmo.Tuberculosis .Diabetes Mellitus . proses spesifik • ASESSMENT .

Methyl prednisolon 2 x 1 ampul Inj. posisi setengah duduk . Ceftriaxon 2 x 1 gr Salbutamol 2 x 2 mg Etaphylin 2 x 1 tab Ambroxol 3 x 1 tab Nebulizer (Ventolin:Flixotid)/8 jam O2 1 lpm.• TERAPI Inf Kaen 3B 20 tpm Inj.

biasanya disebabkan oleh proses inflamasi paru yang disebabkan oleh pajanan gas berbahaya yang dapat memberikan gambaran gangguan sistemik. bersifat progresif.PPOK • Penyakit Paru Obstrutif Kronik (PPOK) adalah penyakit paru kronik yang ditandai oleh hambatan aliran udara di saluran napas yang bersifat progressif nonreversibel atau reversibel parsial. .

• Sedangkan emfisema adalah suatu kelainan anatomis paru yang ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal. tidak disebabkan penyakit lainnya. sekurang-kurangnya dua tahun berturut .turut. disertai kerusakan dinding alveoli. . Bronkitis kronik adalah kelainan saluran napas yang ditandai oleh batuk kronik berdahak minimal 3 bulan dalam setahun.• PPOK terdiri dari bronkitis kronik dan emfisema atau gabungan keduanya.

1. jauh lebih penting dari faktor penyebab lainnya • Riwayat terpajan polusi udara di lingkungan dan tempat kerja • Hipereaktiviti bronkus • Riwayat infeksi saluran napas bawah berulang • Defisiensi antitripsin alfa . umumnya jarang terdapat di Indonesia .etiologi • Kebiasaan merokok merupakan satu .satunya penyebab kausal yang terpenting.

.patogenesis • Komponen-komponen bahan iritan dalam udara merangsang perubahan-perubahan pada sel-sel penghasil mukus bronkus dan silia. silia yang melapisi bronkus mengalami kelumpuhan atau disfungsional serta metaplasia. Selain itu. • Perubahan-perubahan pada sel-sel penghasil mukus dan sel-sel silia ini mengganggu sistem eskalator mukosiliaris dan menyebabkan penumpukan mukus kental dalam jumlah besar dan sulit dikeluarkan dari saluran nafas.

• Ventilasi. terutama ekspirasi terhambat. Timbul peradangan yang menyebabkan edema dan pembengkakan jaringan. Timbul hiperkapnia akibat dari ekspirasi yang memanjang dan sulit dilakukan akibat mukus yang kental dan adanya peradangan.• Mukus berfungsi sebagai tempat persemaian mikroorganisme penyebab infeksi dan menjadi sangat purulen. .

metaplasi sel goblet dan hipertropi otot polos penyebab utama obstruksi jalan napas .• Obstruksi saluran napas pada PPOK bersifat ireversibel dan terjadi karena perubahan struktural pada saluran napas kecil yaitu : inflamasi. fibrosis.

klasifikasi .

Sesak dengan atau tanpa bunyi mengi . lingkungan asap rokok dan polusi udara .Riwayat terpajan zat iritan yang bermakna di tempat kerja . mis berat badan lahir rendah (BBLR). infeksi saluran napas berulang. Anamnesis .Terdapat faktor predisposisi pada masa bayi/anak.Riwayat merokok atau bekas perokok dengan atau tanpa gejala pernapasan .Gambaran klinis a.Riwayat penyakit emfisema pada keluarga .Batuk berulang dengan atau tanpa dahak .

Penggunaan otot bantu napas .• Pemeriksaan fisis PPOK dini umumnya tidak ada kelainan Inspeksi .Pelebaran sela iga .Penampilan pink puffer atau blue bloater .posterior dan transversal sebanding) .lips breathing (mulut setengah terkatup mencucu) .Bila telah terjadi gagal jantung kanan terlihat denyut vena jugularis di leher dan edema tungkai .Barrel chest (diameter antero .Hipertropi otot bantu napas .Pursed .

terdapat ronki dan atau mengi pada waktu bernapas biasa atau pada ekspirasi paksa .suara napas vesikuler normal. atau melemah . sela iga melebar • Perkusi Pada emfisema hipersonor dan batas jantung mengecil.bunyi jantung terdengar jauh . letak diafragma rendah.ekspirasi memanjang . hepar terdorong ke bawah • Auskultasi .• Palpasi Pada emfisema fremitus melemah.

Obstruksi : % VEP1(VEP1/VEP1 pred) < 80% VEP1% (VEP1/KVP) < 75 % . KVP.VEP1 merupakan parameter yang paling umum dipakai untuk menilai beratnya PPOK dan memantau perjalanan penyakit. APE meter walaupun kurang tepat. .Apabila spirometri tidak tersedia atau tidak mungkin dilakukan. VEP1prediksi.Pemeriksaan penunjang 1. dapat dipakai sebagai alternatif dengan memantau variabiliti harian pagi dan sore. VEP1/KVP . tidak lebih dari 20% .Obstruksi ditentukan oleh nilai VEP1 prediksi ( % ) dan atau VEP1/KVP (%). Faal paru • Spirometri Spirometri (VEP1.

15 .20 menit kemudian dilihat perubahan nilai VEP1 atau APE. bila tidak ada gunakan APE meter. . perubahan VEP1 atau APE < 20% nilai awal dan < 200 ml .• Uji bronkodilator .Setelah pemberian bronkodilator inhalasi sebanyak 8 hisapan.Dilakukan dengan menggunakan spirometri.Uji bronkodilator dilakukan pada PPOK stabil .

Hiperinflasi .Diafragma mendat .Hiperlusen .Radiologi Foto toraks PA dan lateral berguna untuk menyingkirkan penyakit paru lain Pada emfisema terlihat gambaran : .Jantung menggantung (jantung pendulum / tear drop / eye drop appearance) Pada bronkitis kronik : • Normal • Corakan bronkovaskuler bertambah pada 21 % kasus .Ruang retrosternal melebar .

Gagal napas kronik stabil .Gagal napas Akut pada gagal napas kronik . Pada PPOK umumnya tidak terdapat kenaikan *)faal paru setelah pemberian kortikosteroid Analisis gas darah Terutama untuk menilai : . pada sebagian kecil PPOK terdapat hipereaktiviti bronkus derajat ringan *) Uji coba kortikosteroid Menilai perbaikan faal paru setelah pemberian kortikosteroid oral (prednison atau metilprednisolon) sebanyak 30 .Pemeriksaan khusus *)Uji provokasi bronkus Untuk menilai derajat hiperektiviti bronkus.50 mg per hari selama 2minggu yaitu peningkatan VEP1 pascabronkodilator > 20 % dan minimal 250 ml.

CT .Radiologi .Scan resolusi tinggi . Ekokardiografi Menilai fungsi jantung kanan .Mendeteksi emfisema dini dan menilai jenis serta derajat emfisema atau bula yang tidak terdeteksi oleh foto toraks polos .Scan ventilasi perfusi Mengetahui fungsi respirasi paru Elektrokardiografi Mengetahui komplikasi pada jantung yang ditandai oleh Pulmonal dan hipertrofi ventrikel kanan.

. Infeksi saluran napas berulng • merupakan penyebab utama eksaserbasi akut pada penderita PPOK di Indonesia. Kadar alfa-1 antitripsin • Kadar antitripsin alfa-1 rendah pada emfisema herediter (emfisema pada usia muda). defisiensi • antitripsin alfa-1 jarang ditemukan di Indonesia.Bakteriologi • Pemerikasaan bakteriologi sputum pewarnaan Gram dan kultur resistensi diperlukan untuk • mengetahui pola kuman dan untuk memilih antibiotik yang tepat.

destroyed lung. • Gagal jantung kronik • Penyakit paru dengan obstruksi saluran napas lain misal : bronkiektasis.DIAGNOSIS BANDING • Asma • SOPT (Sindroma Obstruksi Pascatuberculososis) Adalah penyakit obstruksi saluran napas yang ditemukan pada penderita pascatuberculosis dengan lesi paru yang minimal. .

.

Rehabilitasi .Meningkatkan kualiti hidup penderita Penatalaksanaan secara umum PPOK meliputi : 1.Memperbaiki dan mencegah penurunan faal paru .obatan 3.Mengurangi gejala . Edukasi 2. Obat . Terapi oksigen 4.Tujuan penatalaksanaan : . Nutrisi 6.Mencegah eksaserbasi berulang . Ventilasi mekanik 5.

• Bronkodilator Diberikan secara tunggal atau kombinasi dari ketiga jenis bronkodilator dan disesuaikan dengan klasifikasi derajat berat penyakit. Pemilihan bentuk obat diutamakan inhalasi. Pada derajat berat diutamakan pemberian obat lepas lambat (slow release atau obat berefek panjang (long acting). nebuliser tidak dianjurkan pada penggunaan jangka panjang. .

2 Bentuk inhaler digunakan untuk mengatasi sesak.Golongan antikolinergik Digunakan pada derajat ringan sampai berat. . disamping sebagai bronkodilator juga mengurangi sekresi lendir (maksimal 4 kali perhari). Sebagai obat pemeliharaan sebaiknya digunakan bentuk tablet yang berefek panjang. tidak dianjurkan untuk penggunaan jangka panjang.Macam .Golongan agonis beta . peningkatan jumlah penggunaan dapat sebagai monitor timbulnya eksaserbasi. Bentuk nebuliser dapat digunakan untuk mengatasi eksaserbasi akut.macam bronkodilator : . . Bentuk injeksi subkutan atau drip untuk mengatasi eksaserbasi berat.

Bentuk tablet biasa atau puyer untuk mengatasi sesak ( pelega napas ). ..Golongan xantin Dalam bentuk lepas lambat sebagai pengobatan pemeliharaan jangka panjang. Disamping itu penggunaan obat kombinasi lebih sederhana dan mempermudah penderita. bentuk suntikan bolus atau drip untuk mengatasi eksaserbasi akut. terutama pada derajat sedang dan berat. karena keduanya mempunyai tempat kerja yang berbeda. Penggunaan jangka panjang diperlukan pemeriksaan kadar aminofilin darah.Kombinasi antikolinergik dan agonis beta . .2 Kombinasi kedua golongan obat ini akan memperkuat efek bronkodilatasi.

Bentuk inhalasi sebagai terapi jangka panjang diberikan bila terbukti uji kortikosteroid positif yaitu terdapat perbaikan VEP1 pascabronkodilator meningkat > 20% dan minimal 250 mg. dipilih golongan metilprednisolon atau prednison.Antiinflamasi Digunakan bila terjadi eksaserbasi akut dalam bentuk oral atau injeksi intravena. berfungsi menekan inflamasi yang terjadi.Lini II : amoksisilin dan asam klavulanat sefalosporin kuinolon makrolid bar . Antibiotik yang digunakan : .Lini I : amoksisilin makrolid . Antibiotika Hanya diberikan bila terdapat infeksi.

Antioksidan Dapat mengurangi eksaserbasi dan memperbaiki kualiti hidup. Dapat diberikan pada PPOK dengan eksaserbasi yang sering. digunakan N asetilsistein. terutama pada bronkitis kronik dengan sputum yang viscous. Antitusif Diberikan dengan hati – hati . Mengurangi eksaserbasi pada PPOK bronkitis kronik. tidak dianjurkan sebagai pemberian yang rutin Mukolitik Hanya diberikan terutama pada eksaserbasi akut karena akan mempercepat perbaikan eksaserbasi. tetapi tidak dianjurkan sebagai pemberian rutin.

.

.

.

.

Penatalaksaan berdasarkan gejala .

.

.

• Terimakasih… .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful